<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nicampereniqué.me</title>
	<atom:link href="http://nicamperenique.me/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nicamperenique.me</link>
	<description>Life and love story of mine...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Feb 2012 01:08:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nanti Juga Bisa</title>
		<link>http://nicamperenique.me/2012/02/nanti-juga-bisa.html</link>
		<comments>http://nicamperenique.me/2012/02/nanti-juga-bisa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 01:08:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nique</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nicamperenique.me/?p=4076</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nanti juga bisa.&#8221; begitu kalimat yang paling sering diucapkan bapa dulu waktu masih kecil. Kalimat itu akan terus diulang bapa kalau kami masih membandel. Dan biasanya itu pas kami menonton satu acara di tivi. Melekat mata kami seperti tak mau &#8230; <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/nanti-juga-bisa.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href=" http://nicamperenique.me/2012/02/nanti-juga-bisa.html">&#8220;Nanti juga bisa.&#8221;</a></strong> begitu kalimat yang paling sering diucapkan bapa dulu waktu masih kecil.</p>
<p>Kalimat itu akan terus diulang bapa kalau kami masih membandel. Dan biasanya itu pas kami menonton satu acara di tivi. Melekat mata kami seperti tak mau lepas. Padahal sudah masuk waktu belajar di malam hari. Masa itu, kesal sekali hati kami. Pastilah ya, apalagi itu film bagus, dan kami pikir nanti-nanti tidak akan tayang lagi. Dan waktu itu kami memang yakin, kalau film itu tidak akan tayang lagi.</p>
<p><em>&#8220;Dikira bapa kita bodoh kali ya, mana mungkin film bagus ini akan tayang lagi beberapa tahun ke depan.&#8221;</em></p>
<p>Bertahun-tahun kami meyakini apa yang ada dalam pikiran kami. Sampai kepada hal bersenang-senang pun, kalimat itu sering dilontarkan bapa.</p>
<p><em>&#8220;Nanti juga bisa senang-senang itu. Yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar! Tidak usah mikir macam-macam.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Nanti juga bisa pacaran itu, yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Nanti juga bisa &#8230;. nanti juga bisa &#8230;..&#8221;</em> Sampai bosan kami mendengarnya. Sudah pasti kami tirukan kalimat yang sama jika bapa sudah mulai mengulangi kalimat ini. Benar-benar bosan.</p>
<p><span id="more-4076"></span></p>
<p>Sampai kami sudah dewasa dan mulai memahami pengertian dari kalimat bapa itu. Dan sepenuhnya saya mengakui, bahwa apa yang kata bapa bisa dilakukan nanti memanglah benar-benar bisa dilakukan nanti. Film-film yang jaman masih kecil itu tayang, ketika kami sudah besar ternyata terus tayang ulang dan ulang di tivi. Juga perkara plesir ke banyak tempat, setelah besar dan punya uang sendiri, justru lebih leluasa bepergian, sesuka hati, tak ada yang melarang lagi.</p>
<p>Apakah bapa sudah menyimpan kalimat ajaibnya itu setelah kami dewasa dan satu per satu menikah? BIG NO!</p>
<p>Ketika kakak perempuan saya menikah dan punya anak, sering bapa melontarkan kalimat itu lagi. Kapan? Itu terjadi ketika dia pergi ke satu acara dan meninggalkan anaknya di rumah kami. Memang sih ada om dan tantenya, tapi &#8216;kan anak balita itu tetap saja mencari induknya. Maka keluarlah kalimat sakti bapa; <em>&#8220;Nanti juga bisa ke acara itu. Memangnya kalau kamu gak hadir, acara itu bubar? Acara itu gak jalan? Jangan samakan langkahmu seperti langkah adekmu yang masih gadis. Nomor satukan anakmu.&#8221;</em></p>
<p>Masing-masing keluarga pasti berbeda-beda cara orangtuanya mendidik anak-anaknya, dan beginilah cara orang tua saya mendidik saya. Betapa pentingnya kita memahami dan membuat skala prioritas yang mau kita kerjakan. Bukan berarti setelah menjadi berkeluarga, lalu cuma boleh mengurusi anak. Silahkan saja berkegiatan, tetapi tempatkanlah segala sesuatunya sesuai porsinya. Kalau sekarang belum bisa, yakinlah kalau nanti juga bisa. Saya ingat dan saya camkan, tapi kira-kira nanti kalimat ini cukup sakti untuk anak-anak saya kelak tidak ya? <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nicamperenique.me/2012/02/nanti-juga-bisa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tugas Sekolah</title>
		<link>http://nicamperenique.me/2012/02/tugas-sekolah.html</link>
		<comments>http://nicamperenique.me/2012/02/tugas-sekolah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 10:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nique</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>
		<category><![CDATA[tugas sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[warnet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nicamperenique.me/?p=4090</guid>
		<description><![CDATA[Ibu-ibu &#8230; bapak-bapak, punya anak yang duduk di bangku SD? SMP? Atau mungkin sudah SMA? Sering tidak anak-anak mengeluh tentang tugas sekolah yang membuat mereka kleyengan tujuh keliling? Jangan-jangan emak dan bapak sibuk nge-blog, malah ga tau ya kesulitan anak-anak? &#8230; <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/tugas-sekolah.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu-ibu &#8230; bapak-bapak, punya anak yang duduk di bangku SD? SMP? Atau mungkin sudah SMA? Sering tidak anak-anak mengeluh tentang tugas sekolah yang membuat mereka kleyengan tujuh keliling? Jangan-jangan emak dan bapak sibuk nge-blog, malah ga tau ya kesulitan anak-anak? Bisa jadi anak-anak ga cerita karena merasa bisa menyelesaikan sendiri. Jangan-jangan orang tuanya   cuma mau tau beres karena telah membekali sejumlah uang untuk biaya print tugas-tugas itu. Silahkan  deh diingat-ingat <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tulisan ini masih ada kaitannya dengan postingan saya <a title="PRIHATIN" href="http://nicamperenique.me/2012/02/prihatin.html">sebelumnya</a>,  tujuannya tidak lebih tidak bukan, agar semua pihak, ya pelajarnya ya gurunya ya orang tuanya, mau introspeksi ke dalam.   Guru pun  bisa lebih bijak dalam memberikan tugas, dan lebih jeli lagi mencari cara mengajari anak-anak didiknya, kalau bisa diminimalisirlah itu tugas prant print. Biar sama-sama kita mendukung gerakan  GO GREEN.</p>
<p>Para murid juga   mau lebih menyimak tugas-tugas yang diberikan para guru. Orang tua?   Mulailah masuk ke dalam dunia anak-anakmu, jangan cuma tahunya memberi uang dan uang. Bila perlu protes tuh guru kalau ngasi tugasnya ga masuk di akal. Masak anak SD disuruh cari kliping di internet? &#8216;Kan itu jelas2 merepotkan orang tua,   hla wong anak-anak itu  saja belum   tahu kok  cara mengerjakannya. 99% saya yakin anak  SD mengandalkan orang lain untuk mengerjakan tugas kliping seperti ini. Terus, manfaatnya apa?  Lalu, gambar2 tadi, yang sudah dicetak rapi itu  nggo opo???  Buat alas duduk? Yakin  100%  saya, kalau semua kliping itu akan berakhir nasibnya di tong sampah, cuma menunggu waktu saja, padahal  yang mengerjakannya sudah pontang panting lho. Simak saja beberapa kejadian berikut ini.</p>
<p><span id="more-4090"></span></p>
<p><!--more--></p>
<p><span style="text-decoration: underline; color: #0000ff;"><strong>ANAK SD</strong></span></p>
<p>Serombongan anak-anak SD, kelas 3 atau  4?  masuk ke warnet dan menyewa komputer untuk   30menit. Riuh rendah suara mereka mengerjakan tugas. Sepertinya ada 1 anak yang  sudah mengerti  cara mengerjakan tugas yang diberikan guru.  Satu &#8216;ditangkep&#8217; untuk ditanyai <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>&#8220;kamu  ga ngerjain tugas?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;bikin bu, itu lagi rame-rame.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Tapi kok cuma 1 orang aja yang ngerjain?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Kan minta tolong bu, dia yang bisa.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Kenapa kamu ga bisa? Temen sekelas kan? Kok dia bisa?&#8221;</em> Dia nyengir sambil pergi. Tinggallah saya yang bengong  tidak dapat jawaban.</p>
<p>Datang emak sama anaknya yang masih SD. Minta tolong dicarikan berita SEA GAMES, minta tolong karena dia ga ngerti   cara nyarinya.</p>
<p><em>&#8220;Kenapa harus ibu yang ngerjain?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Anak saya blum bisa mba.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Bukannya kamu sudah diajari sama guru di sekolah, maka gurunya ngasih tugas?&#8221; si anak cuma diam mengkeret saya tanyai begitu. Lanjut saya &#8220;tadi siang ramai  teman2mu yang  ngerjain tugas itu, kenapa kamu tidak  ikutan mereka? Kan enak tuh ngerjain sama2.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Itu dia bu, anak saya pemalu,    maunya sama mamanya aja.  Padahal mamanya aja engga ngerti, makanya niy   bu, minta tolong ya.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Maaf bu, ini  tidak mendidik anak, lebih anak ibu suruh ndeketin temennya yang bisa, minta diajarin.  Dengan begitu anak ibu dapat untung 2 lho,   tugas selesai, diapun bisa mengakrabkan diri sama teman. Bukannya ngandalin mamanya.&#8221;</em>  sambil saya tatap tajam si mama.  Tapi tidak mempan,    masih terus dinegonya.</p>
<p><em>&#8220;Ya udah,   ibu aja yang diajari ya, biar besok-besok  bisa mbantu anak sendiri. Gimana?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Udah deh, ibu aja, kan cepet, saya mah ngertian bu.&#8221;</em> keukeuh emaknya juga ga mau.   Tapi saya lebih keukeuh lagi.</p>
<p><em>&#8220;Ya udah gini aja, besok datangi saja sekolahnya, bilang ke gurunya kalau anak ibu belum ngerjain tugas itu karena anak ibu tidak tahu cara mengerjakannya,  dan bilang warnet yang ibu datangi juga tidak mau mengerjakannya. Beres   toh?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;wah ya repot bu, mana  mau tau gurunya. Yang penting mereka diserahi tugas yang disuruh. Itu saja.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ya udah, ibu cari warnet lain saja ya, karena saya tidak mau mengerjakannya, kecuali ibu mau diajarin, saya ajarin deh.&#8221;</em> sama-sama mangkel, si  emak nyeret anaknya pergi sambil ngedumel. Bodo amat deh <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>ANAK SMP</strong></span></p>
<p>Anak SMP masih dengan seragam biru putihnya, masuk bersama seorang yang diaku kakaknya.  Si anak SMP duduk di kursi sebelah, mainin hape, sementara si kakak sibuk nyari tugas si adek,  klak klik klak klik, jadi dan cetak deh.</p>
<p><em>&#8220;kok bukan adeknya yang ngerjain?&#8221;   penjaga warnet usil nih   <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>&#8220;ga bisa dia bu. daripada lama ngajarin, mending saya aja biar cepet.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Emang kamu pasti terus sempat?   Kan itu ga ndidik adik kamu lho. Enak ya punya kakak  seperti kamu.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Sebenernya sih males bu, tapi biasa,  nyokap ngomel di rumah, sangkanya saya ga peduli sama adek.   Ya udahlah, saya kerjain aja. Lu denger tuh, lain kali tugas kerjain sendiri. Gua bilang juga apa.&#8221; </em> eh malah ngomelin adeknya.</p>
<p><em>&#8220;Iya lho, lain kali, boleh sama kakak, tapi kamu yang kerjain. Mosok kakak ngerjain, bukannya kamu liatin, malah maenan hape. Kapan mau bisanya?&#8221;</em> bener-bener usil kan saya, pake nasihatin anak orang segala hahaha  Jelas si anak SMP manyun, mukanya ditekuk seribu.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>ANAK SMA</strong></span></p>
<p>Beberapa pasang anak SMA masih dengan seragam abu-abunya, nyewa komputer 1jam.</p>
<p><em>&#8220;Bu, nanti bisa ngeprint sekalian &#8216;kan?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Bisa,  nanti save aja di my document, ibu ambil dari sini. Diatur settingannya  ya biar ibu tinggal print aja.&#8221;</em> saya mengingatkan begitu, karena rata-rata mereka ngasi data mentah,   akhirnya saya sering harus mengalah daripada masih berantakan dicetak, nanti kalau disuruh ulang   kan sayang juga toh?!  Sayang kerta sama tintanya itu   <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />   Walau mereka bayar, tetap saya tidak rela kertas  terbuang percuma, apalagi kesalahannya bisa diantisipasi.</p>
<p>Satu anak teriak begini :<em> &#8220;bu, print ya&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Emang udah di save? Namanya apa? Kok saya lihat di foldernya belum ada file terbaru.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Loh udah kok bu.  Liat aja.&#8221; </em>alamak, disuruhnya   pulak awak ngeliat ke   kompinya. Cam betul aja <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <em><br />
</em></p>
<p><em>&#8220;berarti belum benar cara kamu nge-savenya.  coba lagi, kalau sudah benar, pasti muncul di sini.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Sudah bener kok, bu. Ga tau deh kok ga muncul.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Tidak mungkin. Coba niy  save di flashdisk,  muncul apa tidak.&#8221; </em> Sambil saya serahkan flashdisk yang memang sering dipinjamkan ke klien.</p>
<p><em>&#8220;Udah niy bu.&#8221;</em> buru-buru saya periksa.</p>
<p><em>&#8220;Hla? Apa judulnya? Kok belum ada yang baru saya lihat?&#8221;</em> saya mencurigai anak ini tidak mengerti cara menyimpan file.</p>
<p><em>&#8220;Udah kok bu. udah kan ya?&#8221; </em>    nyari pembelaan temannya, tapi temannya mengangguk ragu.</p>
<p><em>&#8220;Sini, lihat niy, kalau kamu ngesave  caranya bagaimana? Kamu pilih dulu ga tempat  mau nyimpan filenya. My document atau di flashdisk ini? Atau otomatis klik save saja?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Iya bu, emang klik save doang.&#8221;</em> polos   ceritanya.</p>
<p><em>&#8220;Ealah &#8230; sini liat, begini niy cara ngesave file. Guru kalian di sekolah emang ga ngajarin? Atau jangan2 pas guru ngajarin pada sibuk maenan hape sih.&#8221;</em> ngomelin anak orang itu selalu berhasil membuat ngantuk saya hilang&#8230; hahaha</p>
<p><em>&#8220;Sudah, bu.&#8221; </em>  datang lagi si anak sambil nyerahin flashdisk.</p>
<p><em>&#8220;Mana datanya? Word ato  Excel?&#8221; </em> bingung saya karena tak ada file terbaru.</p>
<p><em>&#8220;waduh udah kok bu, sini deh, ibu lihat aja sendiri.&#8221;</em> eh ngelunjak jadinya <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Saya paling males tuh nyamperin student yang lagi bikin tugas,  tapi ini mau tak mau sampering juga deh.</p>
<p><em>&#8220;Coba ibu mo lihat kamu cara ngesavenya.&#8221;</em> mulailah dia beraksi &#8230; eh eh &#8230; ini kok yang di save masih di browser???</p>
<p><em>&#8220;Kamu mau cetak begini aja? Masih mentah langsung dicetak? Ga dikopi dulu ke word?&#8221; m</em>untab lagi saya. Wong itu mesti di-copas dulu tulisan dan gambarnya, edit sana sini, baru deh diprint. Ini kok  langsung dari   browser mau dicetak?</p>
<p><em>&#8220;Ga ngerti saya bu caranya.&#8221;</em> Melas niy ceritanya.  Biasalah, anak perempuan jagonya merengek  &#8216;kan.</p>
<p><em>&#8220;Hla? Sudah SMA ga ngerti cara copas tulisan ke Word?  Terus selama pelajaran TIK, belajar apa aja neng? Sini ikut ibu, lihat saya kasi tahu caranya.&#8221;</em> sambil saya berjalan ke arah meja sendiri.</p>
<p><em>&#8220;udah sih ibu aja yang copasin biar cepet. &#8221; tuh kan keluar  kurang ajarnya.</em></p>
<p><em>&#8220;Klo ibu yang kerjain,  terus buat apa kamu setorin tugas. Mending aja jujur sama gurunya klo kamu ga ngerti. SEkarang mau saya ajari apa tidak? Nanti bilang sama gurumu ya, saya minta sebagian gajinya, karena saya yang ngajarin kamu di sini  hehehe &#8230; &#8220;</em> biar jangan terlalu tegang saya ajak guyon juga sih.  Dan saya ajari bagaimana mengcopy  file dan di-paste ke wordd.  Bolak balik dia, tapi tidak apa, karena itu lebih baik toh, besok-besok dia jadi bisa sendiri deh.</p>
<p><em>&#8220;Makanya ya neng,  kalau guru nerangin tuh, diperhatikan, disimak.  Udah tuh guru capek nyerocos, eh  kalian tetap ga paham. Percuma deh.&#8221; </em> mereka cengar cengir aja dinasehati seperti itu.</p>
<p>Jadi pertanyaan saya untuk para guru, sebenarnya apa sih esensinya menyuruh anak-anak ini mencari klipingan lewat internet?  Mencari gambar-gambar pahlawan. Mencari contoh alat-alat musik. Mencari gambar-gambar idola. Mencari gambar mata uang. Dan masih banyak lagi, yang cuma ngabisin tinta,  yang cuma ngabisin kertas.  Padahal ini sudah jaman  teknologi canggih, kenapa ya para guru tidak terima setoran softcopy saja? Bukankah itu lebih menghemat kertas dan tinta? Jangan bilang warnet diuntungkan karena tugas ini, karena saya tidak begitu happy lho mencetak tugas mereka yang saya tahu persis akan bernasib buruk di tong sampah pada akhirnya. Bukan saya sok mau mendengung-dengungkan itu   gerakan go green dan semacamnya. Tapi, karena memang saya sungguh-sungguh tidak paham,  apa sebenarnya yang diinginkan para guru dengan memberikan tugas itu?</p>
<p>Jaman saya dulu, kliping ya cari koran bekas, dikerjakan sendiri. Koran bekas toh banyak yang jual. Jadi tidak terbuang percuma juga koran-koran lama itu &#8216;kan? Atau, kalau  memang ingin mengenalkan internet pada anak-anak,   ya mbok diajari di sekolah saja. Kalaupun di sekolah belum ada internet misalnya, ya udah, kerjasamalah sama warnet, giringlah anak-anaknya ke sana, ditemani, dibimbing, tentu ini lebih manfaat ketimbang anak-anak itu berkeliaran sendiri. Yang ada,  mereka ngerjain tugasnya nyuruh teman, eh dia sendiri malah asyik nge-youtube atau nge-game.</p>
<p>Sepertinya saya memang terlalu rempong ya mengurusi hal-hal seperti ini, sementara orang tua dan guru saja tidak peduli, mungkin? Bahkan ada lho orang tua yang bicaranya tidak enak,<em>  &#8220;Klo begini yang untung &#8216;kan warnet   bu, jadi ada pemasukan.&#8221;</em> Iya sih, ada pemasukan, tapi tidak sebanding dengan stresnya saya melihat anak-anak ini misuh-misuh sendiri, iya kalau tidak merepotkan saya, tapi kebanyakan merepotkan saya.<strong><em> Apa saya melamar saja jadi guru TIK mereka ya? *wink*</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nicamperenique.me/2012/02/tugas-sekolah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PRIHATIN</title>
		<link>http://nicamperenique.me/2012/02/prihatin.html</link>
		<comments>http://nicamperenique.me/2012/02/prihatin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 15:49:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nique</dc:creator>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[smk]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>
		<category><![CDATA[tugas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nicamperenique.me/?p=3929</guid>
		<description><![CDATA[Prihatin! Itulah yang saya rasakan ketika berada dalam situasi seperti dialog di bawah ini. Tak habis pikir saya, apa sih yang dikerjakan para remaja ini ketika guru TIK mereka cuap-cuap di depan kelas? Apa sih yang ada di benak mereka, ketika &#8230; <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/prihatin.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prihatin! Itulah yang saya rasakan ketika berada dalam situasi seperti dialog di bawah ini. Tak habis pikir saya, apa sih yang dikerjakan para remaja ini ketika guru TIK mereka cuap-cuap di depan kelas? Apa sih yang ada di benak mereka, ketika diberikan tugas oleh para guru di sekolah?</p>
<p><em>&#8220;Bu, bisa print ga?&#8221;</em> nadanya songong bin ketus.</p>
<p><em>&#8220;Bisa &#8230;&#8221;</em> sambil saya julurkan tangan meminta flashdisk. Tentu saja tak lupa seulas senyum manis disertakan dong <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>&#8220;ya udah tolong print in bu.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;ok, mana flashdisknya?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;ga ada.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;loh? terus datanya masih harus dicari? klo gitu, ya cari dululah.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;saya sibuk bu, makanya mo minta diprintkan.&#8221;</em> makin tinggi nada suaranya.</p>
<p>&#8220;<em>ibu lebih sibuk lagi &#8230; hehehe, kerjain sendiri aja dong. tuh temen-temenmu pun lagi ngerjain. kamu yang dikasi tugas, kenapa ibu yang mengerjakan?&#8221;</em> mencoba mencairkan suasana.<span id="more-3929"></span></p>
<p>Anak perempuan tanggung itupun berlalu dari hadapan saya dengan rupa yang sinis. Kesinisan yang menuai miris di hati saya. Sempat panas juga hati ini dibuatnya. Anak jaman sekarang, apa sudah tak mengenal sopan santun lagi ya? Apa dikiranya, karena dia punya segepok uang, lalu dia bisa bersikap seenaknya pada orang lain, yang notabene jelas-jelas lebih tua daripadanya? Hmm &#8230;</p>
<p>Seorang anak laki-laki dari sebuah SMK terkenal masuk. Dijulurkannya satu flashdisk, sambil bilang mau print. Kami pun mulai memilih file yang mau diprint. Menunggu hasil print selesai, percakapan berikut terjadi.</p>
<p><em>&#8220;Bu, terima pesanan tugas-tugas gitu ga?&#8221;</em> pertanyaan yang hampir memancing emosi saya lagi. Mungkin pengaruh kecapekan berjaga terus kurang lebih 18jam sehari membuat saya gampang emosi.</p>
<p><em>&#8220;Tentu saja tidak mau. Yang sekolah itu saya atau kalian? Memangnya di sekolah guru kalian ga kira-kira apa kalau ngasih tugas? sampai mau disuruh orang lain yang mengerjakan?&#8221;</em> merepetlah saya jadinya kan, tapi karena dia pun bertanya sopan, repetan saya tetap diiringi senyum dong.</p>
<p><em>&#8220;Iya sih bu, cuma kadang ga sempat gitu.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Sekarang ga sempat itu kenapa? Kalian pasti sukanya menunda-nunda, iya kan? Tar sok tar sok, gitu kan? Jangan gitu dong, percuma guru ngasi tugas klo kemudian yang mengerjakan orang lain.&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Iya sih, Bu. Tapi &#8216;kan ibu dapat uang juga.&#8221;</em> cengengesan dia berkata seperti ini. Tapi kalimatnya itu bikin saya muntab. Untung ingat itu anak orang, huh!</p>
<p><em>&#8220;Iya juga ya, saya dapat uang. Kira2 berapa sih yang kalian mampu bayar untuk menyuruh saya? Entah ya kalau di warnet lain, kalau di sini, kamu bayar juta pun saya tidak terima lho. Karena saya punya beban moral jika mengerjakan tugas kalian itu. Dan kamu, lain kali hati-hati berbicara ya, tak semua orang yang ijo matanya sama uang, dan saya tersinggung jika kamu pikir bisa membayar kami. Masih kecil aja sudah merasa uang bisa berkuasa yaaa &#8230; ckckckck&#8221;</em> kesal sekali saya dibuatnya.</p>
<p><em>&#8220;Maaf bu, ya &#8216;kan siapa tau &#8230; hehehe.&#8221;</em> huh! masih cengar cengir dia. Kukethak nanti kepalanya, baru tahu rasa dia, di hati dowang itu <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sepertinya dia tau saya kesal, sehingga dipuji-pujinyalah hasil print-an yang baru selesai. Dibandingkannya dengan hasil print di rumah dan warnet di dekat rumahnya, tapi tidak membuat suasana hati saya membaik. Sudah terlanjur kesal dan miris. Beginikah sosok putra bangsaku? Kepada pemuda seperti inikah negeri ini akan dititipkan? Duh Gusti! Dan saya yakin, orang tua anak tadi pastilah bukan seorang blogger, karena jika orangtuanya blogger, pasti anaknya tidak akan malas mengerjakan tugas, tul tak iye? <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nicamperenique.me/2012/02/prihatin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pisau Bermata Dua</title>
		<link>http://nicamperenique.me/2012/02/pisau-bermata-dua.html</link>
		<comments>http://nicamperenique.me/2012/02/pisau-bermata-dua.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 22:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nique</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cermin]]></category>
		<category><![CDATA[bata]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata]]></category>
		<category><![CDATA[mulutmu harimaumu]]></category>
		<category><![CDATA[pisau bermata dua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nicamperenique.me/?p=3835</guid>
		<description><![CDATA[Permainan kata-kata tidak sama dengan permainan pedang-pedangan Ditusuk pedang sungguhan sakitnya bisa diobati asal jangan kena jantung ya susahlah karena biasanya pasti mati yah, tapi kalau masih ditusuk sama pedang-pedangan ya aman. Sementara kalau ditusuk sama kata-kata? Kata-kata itu tajamnya &#8230; <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/pisau-bermata-dua.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Permainan kata-kata tidak sama dengan permainan pedang-pedangan <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Ditusuk pedang sungguhan sakitnya bisa diobati asal jangan kena jantung ya susahlah karena biasanya pasti mati yah, tapi kalau masih ditusuk sama pedang-pedangan ya aman. Sementara kalau ditusuk sama kata-kata? Kata-kata itu tajamnya seperti silet, dan tak jarang pula diibaratkan bak <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/pisau-bermata-dua.html">pisau bermata dua</a>. Karena luka yang disebabkan oleh kata-kata hanya waktulah yang bisa menyembuhkannya.</p>
<p><span id="more-3835"></span></p>
<p>Saya mau ambil contoh komen saya sendiri, iyalah kalau komen orang lain malah bisa salah juga saya menerjemahkannya <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Komen ini saya skrinsut dari rumahnya Kak Monda.</p>
<p><a href="http://nicamperenique.me/wp-content/uploads/2012/01/skrinsut.png"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3836" title="skrinsut" src="http://nicamperenique.me/wp-content/uploads/2012/01/skrinsut-300x75.png" alt="" width="300" height="75" /></a></p>
<p>Ketika menuliskan komentar ini, yang terlintas di dalam benak saya adalah :<span style="color: #008000;"><strong> puisi sebagus ini, cocok banget jika dicetak di stiker terus dibagi-bagiin ke mobil-mobil yang lewat, entah pas kampanye apalah, yang pasti berkaitan dengan lingkungan hidup dan sejenisnya.</strong></span></p>
<p>Tetapi di lain kesempatan, tak sengaja saya membaca ulang komen itu, diresapi dan saya coba mengucapkannya dengan intonasi yang berbeda dengan yang pertama, maka saya sendiri menangkap kesan negatif dan bisa ditafsirkan sebagai berikut :<span style="color: #ff0000;"><strong> puisi lingkungan begini kok mau ikutan kontes, pantesnya cuma dicetak di stiker terus ditempelin dah tuh di mobil-mobil.</strong></span></p>
<p>Kira-kira dalam benak Kak Monda dan pembaca lain, masuk kategori yang mana ya komen saya itu? *<em>curious</em>*</p>
<p><em>Well</em>,  itu baru dari saya seorang, semakin banyak mengucapkannya dengan gaya bahasanya sendiri maka sangat mungkin memberi pemahaman yang berbeda pula. Bagaimanapun, ini menjadi satu pembelajaran penting  buat saya, agar lebih cerdas memilih kata, agar tidak tercipta kalimat ambigu, wong bahasa lisan saja bisa disalahpahami, apalagi bahasa tulisan &#8216;kan? <img src='http://nicamperenique.me/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dunia maya, dunia penuh kata-kata, dan kata-kata itu bak pisau bermata dua, yang pabila tidak ingin dilempar bata, maka hati-hatilah dalam memilih kata, apalagi ada pepatah lama bilang: <a href="http://bintangtimur.blogdetik.com/2012/01/29/mulutmu-harimaumu/">mulutmu harimaumu!</a>  huehuehue &#8230; Eits ingat kata BATA, jadi ingat kalau saya belum menyelesaikan mbaca <span style="color: #0000ff;"><em>bukunya Ajahn Brahm tentang si cacing, adakah sohiblogger yang sudah baca buku itu? </em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nicamperenique.me/2012/02/pisau-bermata-dua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penantian</title>
		<link>http://nicamperenique.me/2012/02/penantian.html</link>
		<comments>http://nicamperenique.me/2012/02/penantian.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nique</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontes]]></category>
		<category><![CDATA[html]]></category>
		<category><![CDATA[penantian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nicamperenique.me/?p=3924</guid>
		<description><![CDATA[PENANTIAN&#8230; Penantian panjang itu Tlah menguras banyak airmata sebanyak lantunan doa-doa panjang dari dirinya juga para handai taulan Penantian panjang itu ada karena Dia sedang bermain denganmu adakah sabar selalu di hati? adakah iman membentengi diri? Penantian panjang itu Akankah &#8230; <a href="http://nicamperenique.me/2012/02/penantian.html">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="background: url('http://nicamperenique.me/wp-content/uploads/2012/02/sick2.jpg') repeat center; color: fff; height: 470px;">
<p style="text-align: center; text-shadow: 1px -1px 1px #fff,2px 2px 3px #000; color: #91330b;">PENANTIAN&#8230;</p>
<p style="text-align: center; text-shadow: 1px -1px 1px #fff,2px 2px 3px #000; color: #91330b;">Penantian panjang itu<br />
Tlah menguras banyak airmata<br />
sebanyak lantunan doa-doa panjang<br />
dari dirinya juga para handai taulan</p>
<p style="text-align: center; text-shadow: 1px -1px 1px #fff,2px 2px 3px #000; color: #91330b;">Penantian panjang itu<br />
ada karena Dia sedang bermain denganmu<br />
adakah sabar selalu di hati?<br />
adakah iman membentengi diri?</p>
<p style="text-align: center; text-shadow: 1px -1px 1px #fff,2px 2px 3px #000; color: #91330b;">Penantian panjang itu<br />
Akankah berujung bahagia?<br />
Entah sesaat entah kekal<br />
Semoga tidak berbuah sesal</p>
</div>
<p>&#8220;Ungkapan <a href="http://marsudiyanto.net/ungkapkan-dengan-html.html">Anti Biasa</a>, Ungkapan Dengan HTML&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nicamperenique.me/2012/02/penantian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

