Setelah beberapa topik menghilang dari daftar hasrat nge-blogku, akhirnya di pagi yang masih buta ini hasrat itu dipuncaki oleh kasus Gayus. Sulit sekali menahan diri untuk tidak ikut-ikutan terseret pada arus kasus yang belakangan begitu menggetarkan dunia perhukuman Indonesia, kalau tidak malu disebut tsunami. Sesungguhnya, orang awam sudah tahu persis permainan ini, permainan yang kotornya tidak ada perbandingan lagi, karena sudah lebih kotor dari najis sekalipun.
Soal sogok menyogok? Korupsi? Ah, sudah basi! Sama basinya dengan pemimpin manapun yang setiap kampanya menyuarakan perang terhadap korupsi tapi ketika dia masuk ke dalam lingkaran kekuasaan maka hasratnya untuk memerangi korupsi itu (kalau pernah ada lho) menghilang begitu saja. Bahkan aku pun tidak yakin tetap mengingat dosa jika dihadapkan pada kekuasaan dan tumpukan uang. Manusiawi! Hati nurani? Dosa? Toh, di dunia ini hati nurani tidak bisa membeli kemewahan, sementara dosa??? Ah gimana nanti aja, wong masuk neraka – surga saja belum ketahuan kok. Jadi selagi ada kesempatan alangkah baiknya memanfaatkan segala yang ada demi menghidupi anak cucu sampai turunan yang ke 100 jika mungkin.
Ini semua sudah seperti lingkaran setan. Dan aku sendiri sudah mengetahuinya sejak puluhan tahun yang lalu, ketika di depan mataku, di dalam kehidupanku sendiri hukum bisa diputarbalikkan kebenarannya, dan tidak tanggung-tanggung orang yang berperan ‘mengirim’ kami ke Jakarta ini kemudian justru menjadi pemimpin tertinggi di satu angkatan untuk satu provinsi. Hebat? Tentu saja!
Tapi apatisme yang ada di dalam diri ini bukan semata karena peristiwa pribadi belaka, semua yang terjadi di luar sana justru semakin memperkuat apa yang yang sudah ku tahu sedari usia masih belasan dulu. Bahwa HEPENG MANGATUR NAGARON (pinjam bahasa Ibu-nya Gayus boleh dong! wong lagi mbahas dia kok). Bahwa uang dapat mengatur segalanya menjadi sesuai apa yang kita inginkan. Tidak percaya? Coba saja, dari hal paling kecil. Belum pernah? Coba deh, pasti ketagihan.
Aku pernah mencobanya di lahan parkiran, pasti pada pernah dong ke parkiran yang kalau dilihat pakai mata sendiri tidak ada celah untuk menyempilkan mobil sebesar APV, tapi uang Rp 10.000,- bisa dengan sukses menempatkan mobil itu di tempat yang aman dan dijamin tidak lecet. Itu baru awal, nanti pas keluar berikan lagi Rp 10.000,- dijamin keluarnya juga bakal bisa duluan walau untuk itu akan diiringi musik klakson yang membahana seantero parkiran
Bagaimana dengan Gayus? Kasusnya berkaitan dengan korupsi bukan sih? Jadi tidak yakin karena kasusnya berlapis, itu menurut aku lho. Korupsi artinya bergelimangan uang. Uang apa tadi? Mangatur nagaron ‘kan? Nah, walaupun beritanya Gayus dimiskinkan, memangnya ada yang yakin kalau dia sudah menyerahkan semua uang tadi??? Tidak ada yang disisakan???? Percaya? Sekelas Gayus lho??? Aku mah tidak percaya pisan, apalagi ini masih di Republik Indonesia, di mana uang dalam bentuk apapun bisa diselip di sana sini. Jadi wajar saja jika Gayus masih bisa mendapatkan apapun yang inginkan termasuk jalan-jalan ke luar negeri, yang mana orang seperti aku ini pasti akan berpikir puluhan kali sambil mengumpulkan uang sekian tahun lamanya untuk mewujudkan keinginan jalan-jalan tadi.
Tidak usah diliput media pun, ketika dikabarkan Gayus masuk penjara, sudah terbayangkan kok suasana kamarnya seperti apa, kemewahan yang dipindahkan ke sebuah tempat bernama penjara, yang mana dia harus menerima dimasukkan ke sana, demi keamanannya sendiri atau mungkin agar tidak terlalu mencolok dipandang mata. Soal urusan keluar masuk penjara bagaimana? Yaelah, kan HEPENG MANGATUR NAGARON, jadi ya selama ada stok uang atau ada orang yang selalu menambah stok uangnya walaupun dia di penjara, ya tentu saja tidak masalah toh?!
Bagaimana dengan PASPOR berwajah mirip Gayus bernama Sony Laksono? Baidewe, Laksono kok mengingatkan sama nama petinggi juga ya hehehe … maaf pak Laksono, aku jangan dimarahi lho, nama Laksono belum di hak patenkan toh? Weks … ! Ok, kepala kantor imigrasi berkilah tidak tahu menahu soal tuduhan bahwa paspor aspal itu dikeluarkan oleh KI JakTim. Masuk di akal kok. Beliau itu kan KEPALA KANTOR IMIGRASI, kalau kepala kantor ‘kan bukan orang yang mengurusi berkas satu per satu. Dia cuma kebagian menandatangani paspor, itu menurut pikiranku, soalnya aku males banget mau lihat paspor sendiri untuk memastikan siapa sih yang menandatangani paspor, apakah kepala kantor atau ada kepala bagian tertentu??? Nanti deh kalau lagi tidak males liat-liatnya
Proses pembuatan paspor itu sendiri, baik yang diwakili oleh kaum calo ataupun oleh keluarga ataupun oleh yang bersangkutan sendiri, nantinya kan diperiksa oleh beberapa orang tuh. Seingatku waktu mengurus paspor pakai calo dulu yah, setelah menyerahkan KTP + KK kepada si calo, maka aku lihat dia mengisi formulir, memasukkan semua data + formulir tadi ke dalam sebuah map dan menyerahkannya kepada orang yang notabene disebut sebagai orang dalam tadi. Lalu aku disuruh pulang, dan disuruh datang lagi besok untuk pengambilan foto. Nah, besok itu, begitu datang digiring ke dalam sebuah ruangan yang penuh sesak oleh manusia yang antri untuk difoto. Setelah itu selesai, pulang dan tunggu saja besok paspor akan diantar oleh calo. Biayanya? Jangan ditanya, Rp 600.000,-, tiga kali lipat dari biaya normal. Mahal? Iyalah! Kok mau? Iyalah, males soalnya berhadapan dengan antrian yang tidak adil dunia akhirat. Ooo gitu, jadi uang ekstra itu cuma untuk menghindari antrian?? Bukan karena ada data yang dipalsukan? Ya jelas, gara-gara antrian yang tidak adil, wong yang mbayar normal itu berkasnya ya ditumpuk menggunung, tapi kalau lewat calo ya langsung diproses karena diserahkan hand to hand ke orang yang mengurus di dalam. Jadi wajar toh kalau harganya beda?
Dalam proses ini, aku mau memperjelas saja, ada berapa orang siy yang sebenarnya terlibat? Orang pertama : calo pasti tau dong kalau itu GAYUS, wong mirip pisan. Orang kedua : pejabat imigrasi yang menerima berkas, masak tidak bisa mengenali itu GAYUS? Orang ketiga : tukang foto! Tukang foto kan kudu ngeker-ngeker tuh biar mukanya Gayus pas di kotak segi empat di kameranya, masak iya engga ngenalin juga???? Terus rambutnya yang berantakan itu, dibiarin???? Wong waktu aku difoto aja, jilbab yang sudah lepek ini aja masih disuruh buka pertama, tapi karena tidak mau disuruh tarik ke belakang agar jidat bisa terlihat jelas kata tukang foto. Terus ketika Gayus difoto??? Ga perlu ya jidatnya terlihat
Orang terakhir adalah orang yang menandatangani paspornya, masak iya tidak bisa mengenali itu wajah Gayus yang beritanya semua media mempertontonkan wajah gantengnya.
Atau bisa jadi proses di atas tidak dijalani oleh Gayus? Bisa jadi paspornya langsung jadi berdasarkan pesanan? Kalau berdasarkan pesanan berarti sudah permainan tingkat tinggi, artinya cuma antar petinggi saja itu bisa dilakukan. Ini lebih masuk di akal menurutku. Prosesnya cepat, dan bawahan juga tidak berani tanya-tanya, wong yang ngasi orderan si bos kok. Tapi kita tunggu saja pengakuan Gayus bagaimana caranya dia mendapatkan paspor itu. Apakah betul lewat calo, atau berdasarkan pesanan?
Kasus demi kasus membelit Gayus, tumpang tindih, dan bisa jadi membuat bingung pemeriksa. Mau periksa yang mana dulu? Soal penggelapan pajak ‘kah? Soal keluar masuk penjara seenaknya? Soal paspor aspal sehingga bisa jalan-jalan ke luar negeri? Semua berada di dalam satu lingkaran yang melibatkan banyak orang dan instansi, dan sejauh ini apakah prosesnya sudah maksimal? Menurutku siy prosesnya meniru pola hidup kura-kura, pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru, berharap semua orang akan lupa, seperti melupakan cerita tentang ditutupnya pengusutan rekening gendut kaum gendut. Begitu terus, entah sampai kapan.
Jadi, apa urusannya denganku sehingga aku merasa perlu menulis ini? Tidak ada! Kecuali aku gregetan bin sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa. Sebatas itu thok! Buat Gayus-ers, jangan marah ya, jangan pula gara-gara aku menulis begini, besok blog-ku disuruh tutup pula. *grin*
Weks, waktu Subuh sudah datang, baiknya tulisan ini disudahi, saatnya berdoa agar besok tidak ditimpuki *keGRan kalau tulisannya bakal dibaca Gayus-ers*
Bicara tentang warna, baru tau klo ternyata warna-warna pilihanku mempunyai arti yang bagus