Kentang Goreng

Dua hari ini tak ada tulisan baru yang tayang di sini, padahal di draft-box sudah ada tulisan lanjutan tentang Karo, tetapi entah kenapa, kurang mood menayangkannya, sehingga lebih membiarkan 2 hari sepi tanpa hidangan apapun. Semoga ini tidak ada kaitannya dengan keputusan saya berhenti memasak untuk para asisten yang punya rencana mudik dalam beberapa hari ini *siap-siap kerja rodi lagi deh*.

Well, ini postingan ringan, postingan emak-emak banget pula :D   tentang saya yang sedang mencoba menghidangkan kentang goreng yang murah meriah tapi maunya bercita rasa restauran fast-food itu. Demi menghemat budget karena para ponakan rajin nyambangi buliknya setiap wiken, pakai acara menginap pula :D Sudah itu, maunya juga tidak menggunakan bahan seperti tawes dan lain-lainnya yang dapat mengeraskan si kentang. Maka belajarlah saya pada bu guru Imelda yang telah begitu berbaik hati berbagi pengalamannya dengan saya melalu gtalk. Berikut ini penampakannya, silahkan menikmati :)

Kentang yang baru selesai dipotong-potong

Hasil penggorengan pertama, kemudian didiamkan sejenak

Hasil penggorengan kedua sebelum tahap finishing

Kentang Goreng siap disantap

Soal rasa, bolehlah, lagipula ‘kan ada bumbu instan itu toh? Atau kalau mau sederhana bisa pakai garam saja. Tapi, letoynya ini lho? Kenapa tidak bisa garing seperti kentang yang dijual resto fastfood itu? Atau seperti kentang yang sudah difrozen yang selalu tersedia di supermarket itu? Apa yang salah? Apa??? :D

Hasil ini tentunya saya laporkan pada suhu Imelda, dan mungkinkah hasil seperti ini disebabkan perbedaan jenis minyak yang kami gunakan? Karena menggoreng kentang harus menggunakan minyak yang banyak, tentu saja saya merasa sayang menggunakan minyak jagung yang mahal itu :D jadilah saya menggunakan minyak goreng biasa alias minyak kelapa. Tapi jika perbedaannya ada pada minyak, sepertinya saya tidak mau mencoba lagi hahaha soalnya harga minyak dan harga kentangnya lebih mahal minyaknya kemana-mana, toh tidak setiap hari juga mau makan kentang ‘kan. Jadi kalau belanja bulanan, tetaplah beli kentang frozen itu hehehe

Ada yang punya pengalaman masak kentang goreng yang hasil akhirnya tidak letoy tapi menggunakan minyak kelapa? Mau dong dibagi infonya :)

 

Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting

Bulan Agustus benar-benar bulan istimewa, setelah minggu lalu saya menjajal keberanian saya memasak JONG LABAR untuk pertama kalinya, and now, here we go! Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting dipersembahkan dengan penuh kasih untuk orang terkasih yang sedang berulang tahun (maksudnya suami saya LOL). Tumpeng adalah makanan yang saya baru kenal bentuknya sejak menjejakkan kaki di ibukota ini. Selama di Medan cuma kenalan sama nasi (ketan) kuning yang dibagi-bagikan apabila ada yang khatam Qur’an. Dan asesorisnya pun sederhana sekali, ada serundeng atau unti saja.

Tantangan dari yang berulang tahun kali ini benar-benar menguras kemampuan saya yang sangat terbatas ini, tapi setidaknya saya sudah berjuang keras untuk menayangkan sosok tumpeng perdana yang saya beri nama TUMPENG NGETRIL61 ALA NDE ITING.  Dijamin nasi tumpeng seperti ini tiada duanya di dunia ini. Jika tak percaya, silahkan cari setiap anda sedang berwisata kuliner, bahkan di gudangnya kuliner yang enak-enak sekalipun, dijamin takkan ada deh. Apalagi ini tumpeng termasuk tumpeng prihatin, menyesuaikan dengan keadaan negara yang lagi krisis ya :D

Yuk intip apa saja yang ikut tayang bersama si tumpeng :D

nasi
mie goreng
telor asin
acar karo
ayam kungpao
tempe buncis orek

Cara Membuatnya:

Nasi

- 150 gr beras
- 200 ml santan 1/2 kelapa
- 1 btg serai, geprek
- 1/2 buah jeruk nipis
- 1 lbr daun pandan, ikat
- 1 lbr daun jeruk
- 1 sdt garam

- Terus terang, saya memasaknya menggunakan magic.com :D sehingga semua bumbu dimasukkan sekaligus setelah beras dicuci bersih. Setelah nasi tanak, lapisi cetakan tumpeng dengan daun pisang agar nasi tidak lengket di cetakan. Padatkan nasi ke dalam cetakan supaya hasilnya tidak pecah.

- Siapkan piring yang telah dilapisi daun pisang, dan balikkan cetakan tumpeng dan atur lauk pauk di sekelilingnya.

Mie Goreng 

- Rebus 1 bungkus mie instan, lalu lumuri minyak agar tidak lengket.
- Iris tipis  1 siung bawang putih dan 2 siung bawang merah
- Tambahkan segenggam tauge
- Iris besar 1/2 batang daun bawang
-  Orak arik telor 1 butir
- Panaskan 1 sdm minyak sayur, masukkan bawang putih dan bawang merah, setelah kuning masukkan daun bawang, tauge dan telor orak arik, tambahkan lada, kecap dan saos serta bumbu instan yang sudah tersedia pada sebungkus mie instan, aduk rata.
- Siap disajikan!

Telur Asin

- Impor dari kampungnya Mabruri *LOL*

Acar Karo

- Potong segitiga 1/2 buah nenas
- Potong segitiga 1/2 buah timun ukuran sedang
- Iris kecil 3 buah cabai merah, 6 siung bawang merah
- Masukkan semua bahan, tambahkan sedikit cuka, garam dan gula putih secukupnya dan aduk-aduk hingga  rata, diamkan sejenak, acar siap disajikan.

Ayam KungPao

- Potong dadu daging ayam 1 ekor bagian dada saja yang telah diungkep agar empuk, kemudian lumuri dengan saos tiram, diamkan +/- 15menit.
- Potong besar 1 batang daun bawang, 1 buah bawang bombay, 1 buah paprika dan 3 siung bawang putih.
- Iris besar 2 buah wortel.
- Goreng kacang tanah 1/2 ons
- Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan 3sdm minyak sayur, masukkan paprika dan daun bawang, lalu masukkan daging ayam dan wortel sekaligus. Tambahkan air, lada dan garam secukupnya. Setelah matang, angkat dan taburi kacang tanah.
- Siap disajikan!

Tempe Buncis Orek

- Tempe diiris kecil, lalu digoreng kering menjadi 1 mangkok.
- Iris 2 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, potong kecil cabai hijau besar 15 buah, tomat ukuran sedang 1 buah, 1 lembar daun salam,  potong kecil bunsi menjadi 1/2 mangkok.
- Tumis bawang merah dan bawang putih dengan 2sdm minyak sayur, masukkan cabai dan tomat, tambahkan kecap dan saos tiram secukupnya, masukkan 1 batang daun bawang dan garam secukupnya, lalu masukkan tempe dan buncis sekaligus. Aduk rata, dan hidangan siap disajikan!

Bagi yang berminat mencicipi, silahkan datang sekarang, mumpung tumpengnya masih utuh hehehe ….

 

*) Nde Iting itu panggilan kesayangan untuk perempuan Karo yang disesuaikan dengan nama keluarga yang disandangnya, dan karena saya beru Ginting, maka secara otomatis panggilannya menjadi Nde Iting;jadi bagi yang selama ini terheran-heran ketika saya memanggil Lely dengan NDe Karo karena dia Beru Bukit :D

Perjalanan Cinta si Jong Labar

Sabtu kemarin telah menjadi satu dari sekian hari terheboh yang pernah saya jalani. Setelah sebelumnya di kepala ini cuma ada TAHU ISI + sambal kacang, eh tiba-tiba saya berpikir rasis :D Secara gitu lho, tahu isi mah sudah biasa, bukan?! Selain berpikir rasis, saya juga jadi narsis, karena kepengin pamer jajanan khas Karo buatan sendiri. Aneh bin ajaib, kok yang muncul di kepala saya adalah JONG LABAR? Makanan yang pernah saya makan duluuuuu banget, dan tidak pernah mencoba membuatnya seumur hidup.

Berhubung Ann adalah juga orang Karo, saya berharap dia pernah posting tentang Jong Labar di sana, eh tapi kok saya tidak menemukan jejaknya sama sekali ya? Hiks…. tanya ke Mamanya si abang, tapi kok tidak yakin ya? Hmm … sempat mau beli Cimpa yang sudah jadi saja, Cimpa yang rasanya mirip Kue Bugis ini memang khas Karo juga. Tapi kok kurang afdol ya jika bukan buatan sendiri? :D Pada saat yang bersamaan saya sedang berbalas pesan di fesbuk dengan Eda Jumia Lely Bukit. Aha! Ini dia malaikat penolong saya :D Serta merta dong saya tanyakan cara membuat Jong Labar dan harus cepat, karena saya mau kirimkan buat seorang sahabat dari negeri jauh hari itu juga. Sudah bisa membayangkan kehebohannya belum? :D

Tidak sampai satu jam dalam penantian, resep sudah tayang di blog si Eda. Secepat kilat saya berangkat ke pasar, pede sih karena kemarin baru beli 2 bongkol jagung dan saya tahu kalau si abang punya stok banyak. Betul ‘kan?! Walau ke pasar sudah siang, ternyata jagungnya masih banyak, semua ada di satu pasar, ya daun pisang, gula merah dan kelapa setengah tua. Wah, mestakung nih, ada niat dan semuanya tersedia begitu mudahnya.

Walau ini pengalaman pertama saya memasak Jong Labar, tapi pede aja tuh, jadi bagi yang mengira foto tampak belakang itu karena ketidak-pedean saya, salah besar tuh xixixi … Seperti biasa, tidak kontes tidak masak, pasti selalu ada kehebohan di belakang layar. Dan kali ini kehebohan datang dari si panci kukus :D Saya itu punya beberapa panci kukus, yang kecil, sedang dan besar, lengkap! Tetapi, kok saringnya tidak satupun yang kelihatan???? Huaaa…. panik dong! Hla, ini adonan sudah setengah jadi, terus kalau tidak ada panci kukusnya, gimana dong??? Huhuhu … sudah mau nangis aja deh. Jadi sodara-sodara, tiba-tiba dapu kecil saya itu jadi centang perenang karena semua perabotan dibongkar demi mencari keberadaan si saring panci. Hihihi … untung ketemu satu, dan itu saring panci yang paling besar dong …ampun deh, tapi tidak apa, masih bagus ketemu, daripada tidak, makin bingung dong saya? :P

Oya, kehebohan lain muncul, ini adonan kenapa jadi berair ya? Ngukus tester, eh pas mateng hlo kok penampakannya tidak seperti yang diharapkan ya? Hmm … sepertinya saya harus berimprovisasi menambahkan terigu nih untuk menyatukan semua adonan ini. Baru saya tahu dari Mamanya si abang bahwa jenis jagungnya beda dengan yang di kampung kami sana, di sana jagungnya tidak seberair jagung manis. Oh, ga tau juga sih saya :D Baiklah, dikukus lagi dong tester dengan tambahan terigu tadi, voilaaaaaaa…………jadi juga hihihi … senang dong saya.

Improvisasi saya yang lain adalah semua bahan tidak ditimbang sesuai anjuran masterchef, jadi semua pakai takaran rasa-rasa :D Masalahnya karena saya tidak punya timbangan kue, hla wong saya tidak pernah masak kue, buat apa beli timbangan, iya kan? Bisa mubazir :D *padahal mah pelit hahaha* Jadi beginilah bahan yang saya sediakan untuk 60 bungkus Jong Labar.

13 bongkol jagung manis besar-besar
1/2kg gula merah
1/2 butir kelapa setengah tua
terigu, garam dan lada hitam secukupnya

Daun pisang untuk membungkus, jangan lupa di’lulus’ terlebih dulu, agar mudak ketika membungkus adonannya.

Cara Membuat :

Iris kasar jagung manis, dan sisir daging jagung yang masih tersisa pada bongkol *sayang klo disisain, apalagi yang tersisa di bongkol itu justru sarinya lho :D ga mo rugi.com*; iris gula merah dan masukkan ke dalam adonan jagung dan kelapa; jika terlalu berair boleh tambahkan terigu secukupnya, terakhir tambahkan garam dan lada hitam.

Setelah dibungkus, kukus selama +/- 30menit.

Dan inilah penampakan dari Jong Labar yang dibuat penuh cinta untuk dipersembahkan untuk sahabat yang juga sedang menjamu para sahabatnya dengan cinta :D

Bahan Dasar untuk membuat Jong Labar

Jong Labar siap santap!

Apakah kehebohan sudah usai? Tentu saja belum! Dan episode baru dimulai dalam menempuh perjalanan ke satu tempat yang saya tidak terlalu yakin menempuhnya dengan motor. Kok motor? Ya, harus motor kalau mau cepat, ini Jakarta bung, Sabtu sore itu sangat rawan macet. Lagipula, kalau naik motor malah mesra toh? *ganjen hahaha* Perjuangan kami sepenuhnya disponsori oleh GPS dari S-Galaxy Mini yang tak jarang membuat saya dan suami adu argumen, gara-gara GPS nya terlalu pintar menemukan jalan-jalan tikus, yang saya tidak pernah tahu, dan tentu saja saya tidak mau melewatinya, sementara suami maunya patuh mutlak pada si GPS . Sejujurnya sih, memang harus patuh sama si GPS agar bisa tiba di tujuan dengan cepat dan selamat. Tapi memang susah kalau disuruh memilih antara GPS dan istri hahaha Masih bagus suami tidak meninggalkan saya di jalan hihihi

Jika ketika urusan belanja tadi begitu gampang, tidak berbanding lurus dengan perjalanan kami, karena sempat 2x mengalami ban kempes :D Hahahaha …. ampun dah ah! Seru pisan euy! Akhirnya perjalanan cinta itu tuntas juga, alhamdulillah …. :D

Last but not least, terima kasih buat Eda Jumia Lely Bukit untuk resepnya, terima kasih untuk mba Imelda yang bersedia mencicipi masakan saya, terima kasih buat yang berani menjajal makanan yang pastinya baru ketemu hari itu hehehe  senang melihat Uda Vizon jadi model si Jong Labar, juga senang melihat Jong Labar jadi tamu istimewa di beberapa foto itu :D … Semoga tidak ada yang sakit perut yaaaaa :D  

Ndadak Reuni

Niat banget niy mau nge-blog :D Maksain bangun setelah sedari jam 10 tepar, batuk masih menyerang, pusing ikutan invasi, perut rasanya ga karuan, kumplit deh pokoknya. Obat diminum, terus baluran minyak angin cap kapak, terus tidur deh. Ngarep siy suami ngelongok kek barang semenit dua, tapi dicuekin tuh :D dia masih sibuk berkutat dengan kabel dan pernak pernik lainnya mberesin renovasi warnet di lantai 2. Sambil nunggu jatuh tidur yang sebenar-benarnya, di kepala sudah bersliweran apa aja yang mau ditulis nanti. Kayaknya aku lagi terkena euforia ngeblog niy, semoga aja bisa konsisten terus sampai tahun depan datang lagi.

Ini cerita tentang hari Minggu, hari ke-2 di bulan Januari 2011. Dan hari ini menjadi hari Minggu yang istimewa, tentu saja by accident. Hampir 2 minggu belakangan ini, ruang warnet di lantai 2 sedang direnovasi, maksudnya siy biar ada suasana baru sekalian bisa nambah beberapa PC lagi. Dari format lesehan, setengah ruangan dirombak jadi duduk di kursi. Ketika meja sudah selesai, kursinya blum ada. Model kursi yan diinginkan siy udah ada, karena waktu  itu aku juga yang mesenin untuk warnet adikku. Sebetulnya mau diantisipasi sejak sebelum libur tahun baru, tapi bingung mau ditaro di mana ya kursi2 itu nanti? Sejak kemarin nelpon toko kursi eh ga disaut-sautin, sepertinya siy mereka masih libur. Jadi hari ini, kupikir mau lihat-lihat di Ace Hardware (AH), sapa tau ada sale dengan harga terjangkau.

Cuaca mendung, biasanya cuaca begitu bikin orang males pergi, tapi aku tetep semangat tuh, pengen cepet-cepet punya kursi baru. Atau memang kaum perempuan begitu ya, begitu ada kesempatan belanja *apapun itu*, jadi semangat aja bawaannya hehehe .. Keliling-keliling di AH ngiler banget dah ngeliatin barang-barang bagus yang bertebaran di sana. Sayangnya harganya juga pada bagus-bagus alias muahalll. Nyari kursi yang diidamkan kok ga ada ya, yang mirip siy banyak, tapi harganya itu, 2x lipat dari harga kursi yang diinginkan. Huaaa … batal aja deh beli kursinya, daripada ntar sakit gigi pas bayarnya ‘kan?! Berharap aja tuh toko kursi besok udah buka, terus berharap lagi mereka mau ngirimin the same day atau mungkin besoknya.

Hari belum juga sore, mosok mau pulang? :D Keliling lagi ah, sapa tau ada yang nyangkut. Eh beneran nyangkut di Mr. Pancake. Ga  tau tuh kok tiba-tiba pengen nyobain. Sebenernya siy tertarik sama pancake karena produknya engga pake minyak, aku kan lagi musuhan sama segala sesuatu yang berkaitan sama minyak sejak batuk-batuk. Duduk di pojokan, strategis banget buat mantau sekeliling. Ketika mempelajari buku menu, aku berada dalam dilema, antara Hill Top Soup vs Fruit Salad Pancake. Kok dua-duanya merangsang banget pengen dipesan. Tapi takut juga kalau porsinya besar, ntar klo ga abis, gimana? Kalau tadi berdua suami siy ga pa pa, bisa maksain suami yang abisin hehehe .. Ku putuskan untuk konsisten, tadi dari awal kan niatnya mau nyobain Pancake yang diproduksi tanpa minyak itu, so here we go … Fruit Salad Pancake.

Rasanya? Yummyyyy…..!!! Satu porsi tandas, tapi kok rasanya blum nampol ya? Hmm … kayaknya ada kesempatan wat nyobain Hill Top Soup klo gin siy. Ok, here we go. Hill Top Soup terhidang setelah menunggu 20menitan. Ga tau juga kenapa lama bikinnya, padahal saat itu ga terlalu rame. Rasanya? Jujur kecewa, ga seperti harapan, miskin isi (jamur+ayam suwirnya berenang saking dikitnya), terlalu banyak susunya, rotinya juga terlalu lembek. Itu menurutku lho, Mr.Pancake jangan somasi aku dan bilang njelekin produknya lho yaaa :D Jadi hari ini terpaksa mbuang makanan, karena udah mual duluan dan sungguh tak sanggup untuk maksain diri ngabisin soupnya.

Yang bikin hari Minggu ini istimewa adalah ketemuan dengan 2 sahabat lama yang dulu hang out hampir setiap minggu, tapi sejak aku melepas predikat single sejak taon lalu, kok susahhhh banget wat ngatur pertemuan dengan mereka. Istimewa karena ketemunya engga pake dirancang dari jauh-jauh hari. Spontan aja, eh malah bisa terlaksana hohoho. Berhubung kedua sahabat ini penggemar kopi, harus pintong deh, ga tanggung-tanggung lagi pintongnya, wlo masih di seputaran gading juga siy. MKG3 jadi tujuan, starbuck jadi inceran, tapi sayangnya FULL pisan euy. Jadi aja keliling nyari tempat yang cocok buat duduk berlama-lama sambil ngerumpi tapi ga perlu nguras kantong wat makan :D Lagian perutnya udah pada ga muat klo diisi yang berat-berat.

The Excelso jadi pelabuhan terakhir kami. Persis ada sofa buat bertiga yang tersisa. Ga bener-bener tersisa siy, kami harus menunggu juga sambil orang yang udah duluan duduk di situ minggat. Seperti tadi di Mr.Pancake, karena tenggorokan belum bersahabat, klo tadi  mesen Java Hot Tea,  maka di sini terpaksa mesen English Tea. Sempat ngiler sama sandwichnya, tapi kok perut masih full ya? Emang blom rejeki niy.

Pertemuan ini beneran seperti reuni, seru karena dadakan, seru karena banyak cerita yang harus dibagi. Sebetulnya kami juga ngarep ada seorang sahabat lagi bisa gabung, tapi kesian banget deh dia masih harus ngantor aja gitu? Plis deeeh … Begitulah perempuan kalau sudah ngumpul, matahari udah ngumpet dari tadi aja ga berasa, sampai masuk sms dari suami.

Mau pulang jam berapa neng?

Waduh! Udah malam toh?? Xixixi … Mereka yang masih single langsung mahfum klo temennya udah ditungguin di rumah, langsung deh siap-siap bubar jalan.  Baiklah, mari kita sudahi hari ini, tidak lupa membeli oleh-oleh buat suami, daripada tar ga dibukain pintu? Hahaha …

Btw, Jen? Shan? Kok tumben ya kali ini pada lupa foto-foto??? Aku siy emang udah tobat dari narsis akut bahkan cenderung anti kamera sekarang, tapiiii … kalian ga mungkin dong kena virus anti kamera??? Pasti karena keasyikan ngobrol ya hahaha … ok next time ya ladies, ketemu lagi, seperti janji tadi, klo ketemu lagi satu hari nanti, masing-masing udah punya buntut :D Ku doa in deh agar kalian berdua disegerakan punya pasangan :) What a day !

Tauco Terong

terung terongGara-gara ke pasar, dan ngeliat 2 jenis bahan masakan ini, bikin aku pengen masak sayur TAUCO TERONG. Tambah lagi, inget di kulkas masih ada TAUCO asli dari Medan yang ku bawa sendiri pas mudik April kemarin.

Terong ini biasa disebut TERONG TELUNJUK. Dan yang disebelahnya bunga kecombrang.

asam patikalaKlo yang satu ini, namanya ASEM PATIKALA. Tapi klo orang Karo bilang namanya ACEM CIKALA *awas kebolak jadi cilaka yak LOL*. Bahan yang ini biasanya selalu disertakan hampir di setiap masakan orang Karo yang bersantan. Lebih manteb dari sekedar asam kandis ataupun cuka. Dan jelas pula, tidak ada bahan kimianya, toh?! Hehehe …. Asem patikala ini merupakan buah yang dihasilkan dari satu pohon, yaitu pohon KECOMBRANG. Pohon ini mirip dengan pohon kelapa, karena hampir semua bagian tumbuhan ini dapat digunakan. Batang, buah, dan bunga, klo daunnya, aku belum tau bisa dipakai buat apa :P

tauco terongTiga bahan diatas, akan menjadi seperti yang difoto jika ditambahkan : CABE IJO KERITING, BAWANG PUTIH & MERAH, TOMAT, SERAI, SANTAN, dan tentu saja TAUCO.
Cara memasaknya gampang sekali:
Pertama tumis bawang merah + putih, setelah berwarna kuning, masukkan cabe ijo keriting, bunga kecombrang, tomat, asam patikala bersamaan, setelah itu masukkan santan encer sekaligus dengan terongnya. Jangan terlalu lama, karena klo lodoh engga enak lagi, kira2 sudah menyatu semua, masukkan tauco dan santan pertama. Aduk merata, dan angkat.

Mudah sekali bukan? *gaya bu Sisca* xixixii ….

Ketika dicoba, wew … rasanya maknyussss… sayang swamiqu tidak suka, katanya rasanya aneh. Iya siy, buat yang belum biasa, wangi bunga kecombrang emang terasa aneh. Tapi aku tetap berhasil kok memaksanya memakan nasi bersama kuahnya saja hahaha …

Ok, nantikan resep masakan lainnya yaaa…

Pulut Durian

Malam terakhir di 2009 sudah dilewati. Tak ada yang khusus, semua biasa saja. Kecuali 2 keponakan yang hadir di ‘rumah’, malam tahun baru kali ini dilewati tetap dengan agenda mengumpulkan recehan. Lagipula, untuk bepergian, rasanya males juga, sudah kebayang macet yang menggila seperti tahun2 sebelumnya.

Malam 31 Desember juga akan selalu menjadi malam yang khusus sejak 4tahun yang lalu, sejak si cantiq Egidia lahir. Tadi malam pun dia ada di sini, dan sempat protes kenapa tidak ada KEHEBOHAN menjelang hari ulang tahunnya. Karena keadaan pula yang membuatku lupa membeli kembang api dan trompet. Trompet siy masih mudah dicari, tapi kembang api? Hmm…Akhirnya Egi dan si abang diboyong aja ke lantai 2 dan menonton kembang api dari sana. Untungnya mereka tetap bisa menikmatinya.

Malam tahun baru, rencananya mau bikin barbeque, tapi kondisiku tidak memungkinkan untuk hunting ikan dan lain2nya. Masih untung ada tukang sate yang tetap berjualan, sehingga sate ayam pun menjadi menu spesial malam tadi. O iya, ada menu spesial lainnya ding, yaitu PULUT DURIN. Makanan ini khas dari Medan, khususnya orang Karo. Inipun dadakan juga masaknya.

Menjelang sore, sepupunya swami sms klo dia mangkal berjualan durian di depan Islamic Centre Kramat, Jakut. Dari situ jadi pengen bikin PULUT DURIN, sebenernya ini rencana akal-akalan agar aku tetap boleh nyicipin durian hehehe …. lagian, siapa suruh ngelarang aku makan durian. Dan karena niatnya dadakan, jadi mencari santan dan gulanya pun ndadak pula. Lagi-lagi masih untung ada tukang kelapa dan tukang beras ketan yang buka, padahal itu sudah menjelang maghrib. Yah, masih rejekilah namanya, iya ‘kan?! :P

pulut durian

Sebetulnya niat bikin tulisan perdana di tahun 2010 udah sejak tadi, tapi karena keburu ngantuk, jadi maunya bubu bentaran, eh kok ya kebablasan. Gpp deh, lebih baek telat daripada engga sama sekali ‘kan? Salah satu resolusi di 2010 adalah NGE-BLOG tiap hari, dan harus bisa KONSISTEN.

So, sampai besok lagi yah….