Sabtu kemarin telah menjadi satu dari sekian hari terheboh yang pernah saya jalani. Setelah sebelumnya di kepala ini cuma ada TAHU ISI + sambal kacang, eh tiba-tiba saya berpikir rasis
Secara gitu lho, tahu isi mah sudah biasa, bukan?! Selain berpikir rasis, saya juga jadi narsis, karena kepengin pamer jajanan khas Karo buatan sendiri. Aneh bin ajaib, kok yang muncul di kepala saya adalah JONG LABAR? Makanan yang pernah saya makan duluuuuu banget, dan tidak pernah mencoba membuatnya seumur hidup.
Berhubung Ann adalah juga orang Karo, saya berharap dia pernah posting tentang Jong Labar di sana, eh tapi kok saya tidak menemukan jejaknya sama sekali ya? Hiks…. tanya ke Mamanya si abang, tapi kok tidak yakin ya? Hmm … sempat mau beli Cimpa yang sudah jadi saja, Cimpa yang rasanya mirip Kue Bugis ini memang khas Karo juga. Tapi kok kurang afdol ya jika bukan buatan sendiri?
Pada saat yang bersamaan saya sedang berbalas pesan di fesbuk dengan Eda Jumia Lely Bukit. Aha! Ini dia malaikat penolong saya
Serta merta dong saya tanyakan cara membuat Jong Labar dan harus cepat, karena saya mau kirimkan buat seorang sahabat dari negeri jauh hari itu juga. Sudah bisa membayangkan kehebohannya belum?
Tidak sampai satu jam dalam penantian, resep sudah tayang di blog si Eda. Secepat kilat saya berangkat ke pasar, pede sih karena kemarin baru beli 2 bongkol jagung dan saya tahu kalau si abang punya stok banyak. Betul ‘kan?! Walau ke pasar sudah siang, ternyata jagungnya masih banyak, semua ada di satu pasar, ya daun pisang, gula merah dan kelapa setengah tua. Wah, mestakung nih, ada niat dan semuanya tersedia begitu mudahnya.
Walau ini pengalaman pertama saya memasak Jong Labar, tapi pede aja tuh, jadi bagi yang mengira foto tampak belakang itu karena ketidak-pedean saya, salah besar tuh xixixi … Seperti biasa, tidak kontes tidak masak, pasti selalu ada kehebohan di belakang layar. Dan kali ini kehebohan datang dari si panci kukus
Saya itu punya beberapa panci kukus, yang kecil, sedang dan besar, lengkap! Tetapi, kok saringnya tidak satupun yang kelihatan???? Huaaa…. panik dong! Hla, ini adonan sudah setengah jadi, terus kalau tidak ada panci kukusnya, gimana dong??? Huhuhu … sudah mau nangis aja deh. Jadi sodara-sodara, tiba-tiba dapu kecil saya itu jadi centang perenang karena semua perabotan dibongkar demi mencari keberadaan si saring panci. Hihihi … untung ketemu satu, dan itu saring panci yang paling besar dong …ampun deh, tapi tidak apa, masih bagus ketemu, daripada tidak, makin bingung dong saya?
Oya, kehebohan lain muncul, ini adonan kenapa jadi berair ya? Ngukus tester, eh pas mateng hlo kok penampakannya tidak seperti yang diharapkan ya? Hmm … sepertinya saya harus berimprovisasi menambahkan terigu nih untuk menyatukan semua adonan ini. Baru saya tahu dari Mamanya si abang bahwa jenis jagungnya beda dengan yang di kampung kami sana, di sana jagungnya tidak seberair jagung manis. Oh, ga tau juga sih saya
Baiklah, dikukus lagi dong tester dengan tambahan terigu tadi, voilaaaaaaa…………jadi juga hihihi … senang dong saya.
Improvisasi saya yang lain adalah semua bahan tidak ditimbang sesuai anjuran masterchef, jadi semua pakai takaran rasa-rasa
Masalahnya karena saya tidak punya timbangan kue, hla wong saya tidak pernah masak kue, buat apa beli timbangan, iya kan? Bisa mubazir
*padahal mah pelit hahaha* Jadi beginilah bahan yang saya sediakan untuk 60 bungkus Jong Labar.
13 bongkol jagung manis besar-besar
1/2kg gula merah
1/2 butir kelapa setengah tua
terigu, garam dan lada hitam secukupnya
Daun pisang untuk membungkus, jangan lupa di’lulus’ terlebih dulu, agar mudak ketika membungkus adonannya.
Cara Membuat :
Iris kasar jagung manis, dan sisir daging jagung yang masih tersisa pada bongkol *sayang klo disisain, apalagi yang tersisa di bongkol itu justru sarinya lho
ga mo rugi.com*; iris gula merah dan masukkan ke dalam adonan jagung dan kelapa; jika terlalu berair boleh tambahkan terigu secukupnya, terakhir tambahkan garam dan lada hitam.
Setelah dibungkus, kukus selama +/- 30menit.
Dan inilah penampakan dari Jong Labar yang dibuat penuh cinta untuk dipersembahkan untuk sahabat yang juga sedang menjamu para sahabatnya dengan cinta

Bahan Dasar untuk membuat Jong Labar

Jong Labar siap santap!
Apakah kehebohan sudah usai? Tentu saja belum! Dan episode baru dimulai dalam menempuh perjalanan ke satu tempat yang saya tidak terlalu yakin menempuhnya dengan motor. Kok motor? Ya, harus motor kalau mau cepat, ini Jakarta bung, Sabtu sore itu sangat rawan macet. Lagipula, kalau naik motor malah mesra toh? *ganjen hahaha* Perjuangan kami sepenuhnya disponsori oleh GPS dari S-Galaxy Mini yang tak jarang membuat saya dan suami adu argumen, gara-gara GPS nya terlalu pintar menemukan jalan-jalan tikus, yang saya tidak pernah tahu, dan tentu saja saya tidak mau melewatinya, sementara suami maunya patuh mutlak pada si GPS . Sejujurnya sih, memang harus patuh sama si GPS agar bisa tiba di tujuan dengan cepat dan selamat. Tapi memang susah kalau disuruh memilih antara GPS dan istri hahaha Masih bagus suami tidak meninggalkan saya di jalan hihihi
Jika ketika urusan belanja tadi begitu gampang, tidak berbanding lurus dengan perjalanan kami, karena sempat 2x mengalami ban kempes
Hahahaha …. ampun dah ah! Seru pisan euy! Akhirnya perjalanan cinta itu tuntas juga, alhamdulillah ….
Last but not least, terima kasih buat Eda Jumia Lely Bukit untuk resepnya, terima kasih untuk mba Imelda yang bersedia mencicipi masakan saya, terima kasih buat yang berani menjajal makanan yang pastinya baru ketemu hari itu hehehe senang melihat Uda Vizon jadi model si Jong Labar, juga senang melihat Jong Labar jadi tamu istimewa di beberapa foto itu
… Semoga tidak ada yang sakit perut yaaaaa