Kuliner

Late Brunch @Woku-Woku

Masih cerita tentang makanan. Dan hari ini kami sempat melarikan diri untuk sarapan dan makan siang yang sangat terlambat. Yep, baru makan siang jam 3 sore aja gituh :( Lagi-lagi warung tetangga belum ada yang buka, sehingga hunting-lah tempat makan baru. Dan hari ini kami menyasarkan diri ke WOKU-WOKU yang menjual makanan khas Menado.

Read More

Kentang Goreng

Dua hari ini tak ada tulisan baru yang tayang di sini, padahal di draft-box sudah ada tulisan lanjutan tentang Karo, tetapi entah kenapa, kurang mood menayangkannya, sehingga lebih membiarkan 2 hari sepi tanpa hidangan apapun. Semoga ini tidak ada kaitannya dengan keputusan saya berhenti memasak untuk para asisten yang punya rencana mudik dalam beberapa hari ini *siap-siap kerja rodi lagi deh*.

Read More

Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting

Bulan Agustus benar-benar bulan istimewa, setelah minggu lalu saya menjajal keberanian saya memasak JONG LABAR untuk pertama kalinya, and now, here we go! Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting dipersembahkan dengan penuh kasih untuk orang terkasih yang sedang berulang tahun (maksudnya suami saya LOL). Tumpeng adalah makanan yang saya baru kenal bentuknya sejak menjejakkan kaki di ibukota ini. Selama di Medan cuma kenalan sama nasi (ketan) kuning yang dibagi-bagikan apabila ada yang khatam Qur’an. Dan asesorisnya pun sederhana sekali, ada serundeng atau unti saja.

Read More

Perjalanan Cinta si Jong Labar

Sabtu kemarin telah menjadi satu dari sekian hari terheboh yang pernah saya jalani. Setelah sebelumnya di kepala ini cuma ada TAHU ISI + sambal kacang, eh tiba-tiba saya berpikir rasis :D Secara gitu lho, tahu isi mah sudah biasa, bukan?! Selain berpikir rasis, saya juga jadi narsis, karena kepengin pamer jajanan khas Karo buatan sendiri. Aneh bin ajaib, kok yang muncul di kepala saya adalah JONG LABAR? Makanan yang pernah saya makan duluuuuu banget, dan tidak pernah mencoba membuatnya seumur hidup.

Berhubung Ann adalah juga orang Karo, saya berharap dia pernah posting tentang Jong Labar di sana, eh tapi kok saya tidak menemukan jejaknya sama sekali ya? Hiks…. tanya ke Mamanya si abang, tapi kok tidak yakin ya? Hmm … sempat mau beli Cimpa yang sudah jadi saja, Cimpa yang rasanya mirip Kue Bugis ini memang khas Karo juga. Tapi kok kurang afdol ya jika bukan buatan sendiri? :D Pada saat yang bersamaan saya sedang berbalas pesan di fesbuk dengan Eda Jumia Lely Bukit. Aha! Ini dia malaikat penolong saya :D Serta merta dong saya tanyakan cara membuat Jong Labar dan harus cepat, karena saya mau kirimkan buat seorang sahabat dari negeri jauh hari itu juga. Sudah bisa membayangkan kehebohannya belum? :D

Tidak sampai satu jam dalam penantian, resep sudah tayang di blog si Eda. Secepat kilat saya berangkat ke pasar, pede sih karena kemarin baru beli 2 bongkol jagung dan saya tahu kalau si abang punya stok banyak. Betul ‘kan?! Walau ke pasar sudah siang, ternyata jagungnya masih banyak, semua ada di satu pasar, ya daun pisang, gula merah dan kelapa setengah tua. Wah, mestakung nih, ada niat dan semuanya tersedia begitu mudahnya.

Walau ini pengalaman pertama saya memasak Jong Labar, tapi pede aja tuh, jadi bagi yang mengira foto tampak belakang itu karena ketidak-pedean saya, salah besar tuh xixixi … Seperti biasa, tidak kontes tidak masak, pasti selalu ada kehebohan di belakang layar. Dan kali ini kehebohan datang dari si panci kukus :D Saya itu punya beberapa panci kukus, yang kecil, sedang dan besar, lengkap! Tetapi, kok saringnya tidak satupun yang kelihatan???? Huaaa…. panik dong! Hla, ini adonan sudah setengah jadi, terus kalau tidak ada panci kukusnya, gimana dong??? Huhuhu … sudah mau nangis aja deh. Jadi sodara-sodara, tiba-tiba dapu kecil saya itu jadi centang perenang karena semua perabotan dibongkar demi mencari keberadaan si saring panci. Hihihi … untung ketemu satu, dan itu saring panci yang paling besar dong …ampun deh, tapi tidak apa, masih bagus ketemu, daripada tidak, makin bingung dong saya? :P

Oya, kehebohan lain muncul, ini adonan kenapa jadi berair ya? Ngukus tester, eh pas mateng hlo kok penampakannya tidak seperti yang diharapkan ya? Hmm … sepertinya saya harus berimprovisasi menambahkan terigu nih untuk menyatukan semua adonan ini. Baru saya tahu dari Mamanya si abang bahwa jenis jagungnya beda dengan yang di kampung kami sana, di sana jagungnya tidak seberair jagung manis. Oh, ga tau juga sih saya :D Baiklah, dikukus lagi dong tester dengan tambahan terigu tadi, voilaaaaaaa…………jadi juga hihihi … senang dong saya.

Improvisasi saya yang lain adalah semua bahan tidak ditimbang sesuai anjuran masterchef, jadi semua pakai takaran rasa-rasa :D Masalahnya karena saya tidak punya timbangan kue, hla wong saya tidak pernah masak kue, buat apa beli timbangan, iya kan? Bisa mubazir :D *padahal mah pelit hahaha* Jadi beginilah bahan yang saya sediakan untuk 60 bungkus Jong Labar.

13 bongkol jagung manis besar-besar
1/2kg gula merah
1/2 butir kelapa setengah tua
terigu, garam dan lada hitam secukupnya

Daun pisang untuk membungkus, jangan lupa di’lulus’ terlebih dulu, agar mudak ketika membungkus adonannya.

Cara Membuat :

Iris kasar jagung manis, dan sisir daging jagung yang masih tersisa pada bongkol *sayang klo disisain, apalagi yang tersisa di bongkol itu justru sarinya lho :D ga mo rugi.com*; iris gula merah dan masukkan ke dalam adonan jagung dan kelapa; jika terlalu berair boleh tambahkan terigu secukupnya, terakhir tambahkan garam dan lada hitam.

Setelah dibungkus, kukus selama +/- 30menit.

Dan inilah penampakan dari Jong Labar yang dibuat penuh cinta untuk dipersembahkan untuk sahabat yang juga sedang menjamu para sahabatnya dengan cinta :D

Bahan Dasar untuk membuat Jong Labar

Jong Labar siap santap!

Apakah kehebohan sudah usai? Tentu saja belum! Dan episode baru dimulai dalam menempuh perjalanan ke satu tempat yang saya tidak terlalu yakin menempuhnya dengan motor. Kok motor? Ya, harus motor kalau mau cepat, ini Jakarta bung, Sabtu sore itu sangat rawan macet. Lagipula, kalau naik motor malah mesra toh? *ganjen hahaha* Perjuangan kami sepenuhnya disponsori oleh GPS dari S-Galaxy Mini yang tak jarang membuat saya dan suami adu argumen, gara-gara GPS nya terlalu pintar menemukan jalan-jalan tikus, yang saya tidak pernah tahu, dan tentu saja saya tidak mau melewatinya, sementara suami maunya patuh mutlak pada si GPS . Sejujurnya sih, memang harus patuh sama si GPS agar bisa tiba di tujuan dengan cepat dan selamat. Tapi memang susah kalau disuruh memilih antara GPS dan istri hahaha Masih bagus suami tidak meninggalkan saya di jalan hihihi

Jika ketika urusan belanja tadi begitu gampang, tidak berbanding lurus dengan perjalanan kami, karena sempat 2x mengalami ban kempes :D Hahahaha …. ampun dah ah! Seru pisan euy! Akhirnya perjalanan cinta itu tuntas juga, alhamdulillah …. :D

Last but not least, terima kasih buat Eda Jumia Lely Bukit untuk resepnya, terima kasih untuk mba Imelda yang bersedia mencicipi masakan saya, terima kasih buat yang berani menjajal makanan yang pastinya baru ketemu hari itu hehehe  senang melihat Uda Vizon jadi model si Jong Labar, juga senang melihat Jong Labar jadi tamu istimewa di beberapa foto itu :D … Semoga tidak ada yang sakit perut yaaaaa :D  

Read More

Ndadak Reuni

Niat banget niy mau nge-blog :D Maksain bangun setelah sedari jam 10 tepar, batuk masih menyerang, pusing ikutan invasi, perut rasanya ga karuan, kumplit deh pokoknya. Obat diminum, terus baluran minyak angin cap kapak, terus tidur deh. Ngarep siy suami ngelongok kek barang semenit dua, tapi dicuekin tuh :D dia masih sibuk berkutat dengan kabel dan pernak pernik lainnya mberesin renovasi warnet di lantai 2. Sambil nunggu jatuh tidur yang sebenar-benarnya, di kepala sudah bersliweran apa aja yang mau ditulis nanti. Kayaknya aku lagi terkena euforia ngeblog niy, semoga aja bisa konsisten terus sampai tahun depan datang lagi.

Read More

Tauco Terong

terung terongGara-gara ke pasar, dan ngeliat 2 jenis bahan masakan ini, bikin aku pengen masak sayur TAUCO TERONG. Tambah lagi, inget di kulkas masih ada TAUCO asli dari Medan yang ku bawa sendiri pas mudik April kemarin.

Terong ini biasa disebut TERONG TELUNJUK. Dan yang disebelahnya bunga kecombrang.

asam patikalaKlo yang satu ini, namanya ASEM PATIKALA. Tapi klo orang Karo bilang namanya ACEM CIKALA *awas kebolak jadi cilaka yak LOL*. Bahan yang ini biasanya selalu disertakan hampir di setiap masakan orang Karo yang bersantan. Lebih manteb dari sekedar asam kandis ataupun cuka. Dan jelas pula, tidak ada bahan kimianya, toh?! Hehehe …. Asem patikala ini merupakan buah yang dihasilkan dari satu pohon, yaitu pohon KECOMBRANG. Pohon ini mirip dengan pohon kelapa, karena hampir semua bagian tumbuhan ini dapat digunakan. Batang, buah, dan bunga, klo daunnya, aku belum tau bisa dipakai buat apa :P

Read More
12

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 50 other subscribers