Setelah koma sejak 16 Agustus yang lalu, hari ini pengen nge-blog lagi. Hari-hari kemarin sepertinya begitu sulit membangun mood untuk menulis. Entah kenapa
Dengan begini, komitmen menulis setiap hari sudah jelas-jelas tak tercapai alias GAGAL!!! Masih ada 3bulan ke depan, mungkinkah bisa konsisten??? Kita lihat saja nanti
Hari ini menulis tanpa kejelasan juga. Bingung mau menulis tentang apa, saking banyaknya hal-hal yang memenuhi kepala ini. Kehidupan rumah tangga, terus seputar pekerjaan sehari-hari, tentang kakak dan adik-adik, juga para keponakan, semua sudah mewarnai hari-hari, campur aduk – mengaduk emosi menjadi beragam rasa.
O iya, sesi rupa-rupa ini mungkin paling tepat berbagi cerita tentang terapi yang ku ikuti sudah 4 kali sampai minggu kemarin. Adalah bapakku yang menyarankan untuk mengikuti terapi ini karena kakiku yang bengkak ga jelas sudah 2x dalam setahun ini. Selain bengkak, betis pun seperti kayu kerasnya. Tempat yang disarankan, dan tempat yang sudah dicobai sendiri oleh bapakku namanya ATFG-8. Bagi penggemar acara kesehatan di salah satu tivi swasta pasti tau dan familiar deh dengan pengobatan alternatif yang satu ini. Bapak juga menyarankan agar sekalian terapi untuk mendapatkan keturunan. Haiyaahh … rupanya diam-diam bapak mengharap cucu dari kami. (Ya iyalah, wlo cucu sudah banyak, tetep aja kaleeee
)
Tidak menunggu lama, saat itu juga di depan Bapak, aku telpon ATFG-8 untuk menentukan jadual terapi. Tentunya menyesuaikan dengan jadual waktu senggang di warnet tempat kami bekerja, maka pilihan waktu adalah hari Selasa. Kenapa Selasa?
Karena biasanya game favorit gamers saat ini yaitu Point Blank, pastinya sedang maintenance sehingga sangat sedikit gamers yang sowan ke warnet.
Terapi pertama, bersama suami tapi yang diterapi aku saja. Biasalah, suamiku itu adalah orang yang merasa paling sehat sedunia, jadi dia menganggap tidak perlu ikut terapi. Entah dasar pertimbangan apa, dia mau juga ikut terapi pada sesi ke-2 minggu berikutnya. Hasil dari terapi pertama lumayan, badan jadi lebih ringan, dan tentunya kaki yang bengkak sudah normal kembali. Tetapi hasil dari terapi ke-2 dan ke-3 oleh terapis yang berbeda dari yang pertama, koq mengecewakan ya?! Bukannya merasa lebih ringan dan segar, tetapi sebaliknya, bawaannya juga ngantuuukkk terus
Dan ketika terapi ke-4 kemarin, ada insiden yang tak mengenakkan. Gegara suami yang bangunnya susah, gegara nyariin helm yang keberadaannya entah di mana, jadi aja jam 8 masih di rumah. Nelpon ke ATFG-8 minta ditunggu, eh malah dapat jawaban yang menjengkelkan.
“Mas, maaf ya sepertinya kami datang terlambat. Tolong ditunggu ya.”
“Wah, maaf bu, jam 9 sudah penuh.”
“Iya saya tau, saya juga tidak minta ganti jadual dan saya juga tidak telat setiap terapi pak. Mohon toleransinya saja.”
Pastinya udah geradak geruduk tuh biar bisa cepet sampai di tempat terapi. Persis 15 menit dari jam 8 sudah duduk di depan administrasinya. Nah ini yang langsung bikin sewot.
“Maaf bu, karena datang terlambat jadi diterapinya seadanya saja, waktunya tidak bisa sama dengan yang sudah2.”
“Maksudnya?”
“Iya, jadi jam 9 terapi sudah harus selesai.”
Duh, aku gagal lagi untuk jadi orang yang sabar
Karena tanduk langsung berdiri dan para setan langsung bikin gerah. Apalagi saat itu aku sebetulnya juga sedang komplen tentang terapis yang menangani aku di minggu ke-2 dan ke-3, dan aku minta terapis yang pertama menangani. Katanya, terapis yang pertama itu sedang mudik. Jadi yang tersisa cuma ada dia dan seorang perempuan. Dan jika dia yang ‘megang’ suami, maka mau tak mau terapis perempuan itu (lagi!) yang menangani aku. Di tambah lagi katanya, kali ini kami diberi kamar terpisah, dan ketika ku tanya, emang kamar yang buat pasutri itu kenapa??? Dia tidak bisa menjawab. Dan belum selesai urusan ini, di saat yang sama, ada telpon masuk, dan dia lebih mementingkan telpon masuk itu ketimbang menyelesaikan urusan dengan ku. Hhhh… Menurut ilmu etika yang aku tahu siy, telpon masuk bisa disuruh menunggu, dan harus mendahulukan tamu yang ada di depan mata.
Tanpa bisa menyembunyikan rasa jengkelku lagi, maka yang keluar sudah kalimat2 tak sedap untuk didengar.
“Mas sendiri yang bilang waktu untuk kami terbatas, mbok ya o langsung diurus, mosok mentingin telpon masuk? Mosok orang di telpon jauh lebih pantas dihargai ketimbang pasien di depan mata???”
Eh si mas mas itu masih mencoba menyahut tapi tidak jadi begitu melihat kilat marah di mataku. Serta merta dia memanggil terapis perempuan itu dan mempersilahkan kami masuk ke ruangan yang biasa dipakai untuk pasangan. What the hell … aarrgghhh …
Aku jadi mengomel sendiri, ini tempat orang berobat atau apa siy? Klo ini tempat orang berobat, bukankah semestinya mereka, para terapis itu bisa menjaga emosi pasiennya. Apakah tempat berobat sekarang ini sudah sama dengan game centre??? Yang klo udah dapat jatah 1jam, dipakai atau tidak waktunya, setelah 1jam itu hangus menurut mereka, maka kita otomatis tidak bisa main lagi??? Jadi kesembuhan bukan menjadi prioritas buat mereka ya? Ah menyedihkan sekali kalau betul begitu
Sungguh deh, selama terapi kali ini sangat tidak nyaman rasanya. Jadi aja mengingat-ingat tindakan yang dilakukan pada sesi yang lalu, kuatir ada bagian yang terlewatkan. Dan memang hampir saja itu terjadi, sampai aku mengingatkan, kok belum diginiin mba? Biasanya sebelum diginiin, kan tahap ini dulu. Iya, bu setelah ini. Waksss…. Pinter juga si mba terapis ngeles.
Baiklah, mungkin ini terapi yang terakhir, image bagus dan menjanjikan yang disampaikan bapak, luntur tur tur. Engga banget deh klo tempat berobat seperti itu. Bukannya tambah sehat, yang ada malah nambah penyakit
So, bye bye ATFG-8, semoga saja P.Gondo pemilik pengobatan alternatif ini lebih memperhatikan SDM nya agar ATFG-8 tidak kehilangan pasiennya dengan cara seperti ini.