Curhat

Ssttt… Harap Tenang!

Baru pulang nih. Langsung mau curhat. Ini tentang kejadian di bioskop tadi. Mungkin karena besok adalah hari libur, itu bioskop udah kayak apa tau deh. Penuh sama manusia yang mau nonton. Sebenarnya sudah janji sama diri sendiri untuk tidak nonton film pas bioskop penuh. Biasanya ada saja yang aneh-aneh deh. Tapi tadi kami lupa kalau besok itu hari libur. Kadung sudah di bioskop, ya sudahlah, mau pulang juga tanggung. Apalagi poster Jackie Chan begitu menggoda, serasa dipanggil-panggil gitu buat ngeliatin dia beraksi :D

Read More

Tetanggaku Tukang Hutang (3)

Sudah bosan? Saya harap belum :-) Mumpung saya berlibur, bolehlah curhatan ini mengisi postinga terjadual hehehe … Bagi yang baru datang ke sini lagi, ada baiknya menyimak curhatan yang ke satu dan dua terlebih dulu, agar lebih mudah mencerna curhatan ketiga ini :)

Tak berapa lama dari kejadian di penjual nasi rames, satu hari datanglah penjual gado-gado dan karedok hendak menukar uang receh. Dia pun termasuk penjual yang sering dititipi uang oleh si penjual mie ayam untuk dibayarkan kepada penagih dari bank keliling itu. Dan sejak istri si penjual mie ayam mudik, maka diapun ikut kena getahnya kebagian wajah kecut si penagih. Tak mau berpanjang kata, saya cuma tersenyum sambil menyerahkan uang yang mau ditukarkan.

Lalu, katanya begini, “uang yang di mbak udah dikembalikan belom?” Saya menggeleng, dan masih tersenyum. Ok, jangan bingung. Jika dengan penjual nasi rames saya berdusta, tapi tidak dengan ibu ini. Sejak menjadi tetangganya, saya memang bersimpati tingkat tinggi padanya. Salut melihat kegigihannya membesarkan 5 orang anak seorang diri, sementara suaminya pergi entah kemana dengan perempuan lain. Posturnya jauh lebih ceking dibandingkan ibu penjual mie ayam. Menurutnya, sewaktu mau meminjam ibu penjual mie ayam bercerita padanya kalau mau meminjam uang pada saya. Namun sempat dicegah, “apa enak minjam sama tetangga, walaupun kita tahu dia baik? Saya saja yang lebih sering berinteraksi dengannya, tidak berani lho minjam uang.’

Terus terang, saya sedih melihat keadaan ini. Kalau boleh memutar waktu, ingin rasanya tak memberi pinjaman saja. Sungguh, saya tak ingin dikenal sebagai tetangga yang baik dan mau meminjamkan uang. Karena faktanya saya TIDAK SUKA meminjamkan uang. Namun begitu, saya jadi memikirkan tetangga sekeliling saya. Di sela-sela waktu menjaga warung sendiri, pikiran saya berkelana, memikirkan setiap kemungkinan. Kenapa si penjual mie ayam sampai punya hutang pada begitu banyak bank keliling? Belum lagi dengan para tetangga? Ibu penjual gado-gado bercerita tentang kisah penjual mie ayam dengan para tetangga, yang rata-rata sudah tidak percaya dengannya gara-gara suka meminjam uang tapi tidak suka mengembalikannya.

Saya perhatikan kehidupan penjual mie ayam, yang hidup terlihat bersahaja dengan 2 anak laki-lakinya. Interaksi saya dengannya terjadi karena dia sering menyambangi anak-anaknya yang sering jadi penonton di sini. Sekali dua, ibu ini sempat menyampaikan niatan anaknya yang baru duduk di kelas 1 SMP untuk bekerja membantu apa saja di warung saya. Tapi mau disuruh kerja apa? Yah, sekedar mengutip sampah sih bisa saya mintakan, tapi paling upahnya main gratis, bukan sejumlah uang. Jika yang diharap pekerjaan permanen, mana mungkin bisa saya berikan? Karena usia kelas 1 SMP itu masih tergolong anak-anak yang berangkat remaja, belum bisa diberi tanggung jawab yang besar.

Sebetulnya, hati saya penasaran, buat apa sih uang segitu banyak pinjam dari bank keliling? #kepo# Tapi saya harus menahan diri untuk tidak bertanya. Sebab jika sampai saya terlibat ke dalam, bisa-bisa hati saya makin tercuri lebih dalam lagi. Kelemahan saya adalah mudah jatuh kasihan pada orang lain. Terutama yang punya anak banyak, seperti ibu penjual gado-gado itu.

Sampai hari ini, sejak saya tidak beli apa-apa lagi dari para tetangga, sedikitnya saya tidak usah berbasa-basi soal hutang menghutang ini. Resikonya, saya jadi agak repot untuk urusan mengisi perut. Mesti keliling menjelajahi penjual makanan di lokasi lain. Ada baiknya sih, jadi ada variasi. Yang repot kalau rasa malas menderas, paling aman sih pesan nasi padang per telpon. Aih, berasa di penjara saja jadinya :D Tak apalah ya, saya yakin (tepatnya berharap) bergulirnya waktu akan memberi perubahan suasana antar bertetangga. Semoga para tetangga pun dimudahkan rejekinya, sehingga bisa terlepas dari himpitan hutang. Aamiin!

Read More

Tetanggaku Tukang Hutang (2)

Melanjutkan cerita saya tentang Tetanggaku Tukang Hutang, tentang bagaimana saya bisa tahu kalau si istri pinjam sana sini tanpa sepengetahuan suami. Sempat sih saya berpikir, mungkin saja suaminya tahu tapi pura-pura tidak tahu. Namanya suami istri, bisa saja berbagi tugas. Istrinya yang pinjam, tapi dipakai bersama, cuma kalau keluar suami pura-pura tidak tahu demi menghindari tanggung jawab. Ini otak saya sedang bersangka buruk. Dan pikiran buruk ini cuma di tulisan ini saja, tidak saya sampaikan pada siapapun yang mengenal si penjual mie ayam apalagi tetangga.

Jadi sebenarnya bagaimana saya bisa tahu? Tepatnya diberitahu. Satu hari saya sedang membeli nasi rames yang berjualan di sebelah apotik. Saya melihat si penjual nasi rames sedang kasak kusuk dengan seorang anak muda berjaket kulit. Gayanya keren tapi wajahnya kusut. Karena sedang mengantri, saya mencomot sepotong tahu dan mulai mengeluarkan suara kriuk-kriuk. Tiba-tiba, si penjual nasi menggamit tangan saya, dan berbisik: “mbak, mbok aku dipinjami tambahan modal.” Saya cuma tersenyum, bersikap seolah-olah bisikannya tak terdengar jelas.

Si ibu kembali sibuk melayani pembeli, juga anak muda tadi. Saya dengar dia menyuruh si pemuda mendatangi saja si penjual mie ayam, karena sejak pagi istri si penjual mie ayam pulang kampung dan tidak menitipkan uang cicilan padanya. Anak muda menyahut kalau dirinya ditolak mentah-mentah oleh sang suami, katanya tidak tahu menahu urusan utang itu. Intinya sang suami tidak pernah tahu kalau istrinya punya pinjaman, sehingga dia tidak mau membayar sepeserpun.

Dan si penjual nasi rames pun nyerocos. “Gitu tuh, istrinya minjem sana sini, tapi suaminya gak pernah tahu. Yang repot ya kami-kami yang dititipi buat mbayar ke penagih-penagih, Giliran dia gak titip duit, jadi repot deh. Padahal ada kali 20-an bank keliling yang dia pinjam. Kebayang toh repotnya ngadepin mereka. eh katanya, mbak juga ngasih dia pinjam toh? Mbok saya juga dipinjami mbak. Saya juga butuh sekali buat tambahan modal. Bayangin suami kerja di pelabuhan, itupun kalau ada kerjaan saja. Mana anak saya 5, masih sekolah dan kecil-kecil semua. Butuh duit banyak setiap hari. Bisa ya mbak, pinjam uangnya. Dua ratus ribu saja!”

Salah tingkah saya dibuatnya. Walau dia kira suaranya pelan, saya kok yakin pembeli yang lain pun dengar ucapannya. Tanpa pikir panjang saya merangkai dusta, ah menyesal sebenarnya, saya harus berbuat dosa untuk hal sekecil ini :( “maaf bu, salah kali, saya mah gak pernah minjemin uang.” Tapi apa coba jawabnya? “ih si mbak gitu deh. Dia cerita kok klo situ orangnya baik, dan gak pelit. Tolongin ya mbak.” Menggeleng, sambil tersenyum. Cuma itu yang saya lakukan.

Ketika pesanan saya sudah dibungkus, segera saya mencelat dari hadapannya. Dan sejak hari itu, saya belum menjejakkan kaki lagi di sana. Takut ditagih untuk meminjamkan sejumlah uang. Hati saya sedang kesal sekesal-kesalnya, kenapa si penjual mie ayam jadi menambah kerepotan saya. Sudahlah saya ikhlaskan uang yang dipinjamnya, sudah pula saya harus memeras otak bagaimana menolaknya dengan halus, eh sekarang ketambahan daftar orang yang harus pandai-pandai saya menebar kata agar tidak sakit hati ketika keinginannya tidak tercapai.

Sejujurnya, berada dalam keadaan seperti sekarang ini sangat tidak saya inginkan. Namun saya paham juga, masalah itu ada yang diciptakan sendiri, ada yang datang dari orang lain. Sekuat apapun saya menjaga agar tak muncul masalah dari saya dengan para tetangga, tetap saja bisa muncul dari orang lain. Walau bukan pemicunya, tapi kok jadi berasa saya pemeran utama dari permasalahan ini hiks … Apakah sesi curhat saya sudah selesai? Belum lho, tunggu seri ke-3 nya :(

Read More

Horeee… Danamon Oye!!!

Sesuai niatan saya, hari Kamis mau menjajal kebijakan BRI kemarin, dan Danamon dalam hal setoran KOIN. Tetapi mendadak suami sakit, sepertinya lambungnya atau masuk angin. Gak jelas deh! Bikin riweh sejak subuh :D Sudah kebat kebit misi tak bisa dijalankan pagi ini. Tapi kegiatan merapikan koin ke dalam plastik per 50.000 tetap saya lakukan. Ditingkahi acara mengurusi suami yang minta dikeroklah, dipanasi pakai handuk panaslah … ogo’an kata urang Sunda :D

Read More

Sebaiknya Setor KOIN Kemana?

Apakah penataan di atas ini masih kurang rapi?

Sepertinya cerita perseteruan antara nasabah dengan bank takkan ada akhirnya, kecuali pihak bank mau mencari solusi. Simak saja keluhan pembaca yang saya skrinsut dari situs detik.

Keluhan Nasabah yang menyetorkan koin

Read More

Legal Size

Pagi-pagi udah gerimis aje, jadi weh becek di mana-mana. Kasihan sama para asisten, kudu ekstra kerjanya :) Pagi ini terbangun karena cuaca yang panas, kaget lihat AC kok mati? Lihat komputer masih menyala, persis posisinya seperti ketika ditinggal tidur. Selidik punya selidik, rupanya suami yang mematikan. Sengaja! Biar bangun katanya. Rupanya, dia tak bisa tidur karena nyeri di sekujur badan. Bentolan sampai ke telapak kaki dan tangan. Susah napak, katanya. Tapi kok bela-belain ke kamar sebelah matiin AC coba? :P Ini hari ke-3 dia diserang cacar air, kata mbak Imelda bisa 2 mingguan. Gawat, aku kerja sendirian dong? Urusian suami sama urusin usaha? Jangan sampai ikutan sakit aja deh! 

Read More
12345...

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 50 other subscribers