Setahun yang lalu dia datang ke warnet ini dan sejak itu dia menjadi pelanggan kami. Kedatangannya yang pertama itu dia sempatkan menawari kami untuk menjadi agen laundry yang dia kelola. Oh, ternyata dia pengusaha laundry yang katanya nomor 1 terbaik. Saat itu sebenarnya saya sudah berulang kali minta persetujuan suami untuk membuka usaha laundry kiloan hanya saja gagal terus. Alasan suami sih agar saya tidak terlalu sibuk *sigh* Jadi sempat ada pikiran kok seperti dejavu begini ya?!
Hari itu kami mengobrol panjang lebar, dia bahkan bercerita kalau dia pernah buka usaha warnet tapi pengguna internet belum semarak sekarang, sehingga dia memutuskan beralih ke urusan cuci mencuci tadi. Saya sendiri memang melihat prospek usaha ini sangat bagus, terlebih daerah ini dipenuhi karyawan pabrik yang hampir semuanya perantau, dan tentunya sudah kehabisan tenaga untuk urusan cuci-cuci dihantam sistem kerja yang shift-shit-an itu. Saya sudah menghitung dari jumlah karyawan yang ribuan itu, jika 10% nya saja menjadi pelanggan tetap laundry yang dikelola pastinya dapat hidup. Ah, khayalan saya semakin melambung jauh
Berhubung membuka usaha laundry gagal di urusan perizinan domestik, maka saya mencoba melobi suami untuk memberi ruang sekedar menjadi agen laundry yang ditawarkan oleh klien tadi. Lagi-lagi, saya harus menelan pil pahit dong alias proposal saya ditolak mentah-mentah dan masih dengan alasan yang sama. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus mengasah amunisi untuk satu hari nanti siap ditembakkan lagi
Si klien rajin berkunjung bahkan dia pun menjadi pelanggan tetap warnet ini, dan kemudian menjadi member agar mendapatkan tarif yang ramah kantong. Sebenarnya saya sudah menggunakan jasa laundry sejak mengurusi warnet ini, hanya saja saya belum menggunakan jasa laundry si klien. Untuk pindah ke lain hati, kok masih ragu, apalagi belum mengetahui kualitas laundry dia. Pepatah yang berkata tak kenal maka tak sayang, betul adanya.
Sampai waktu Lebaran tiba, laundry yang saya pakai libur hampir 2minggu, saya kelabakan dong?! Sangat tidak mungkin menumpuk cucian kotor selama itu, bisa-bisa terpaksa sediain budget lebih untuk beli baju baru
Bisa jadi saat yang tepat sudah tiba, ketika saya mengetahui kalau laundry si klien ini ternyata hanya libur pas hari Lebaran saja! Weitsss… mantab dong? Boleh dicoba niy. Apalagi katanya ada fasilitas jemput-antar. Makin suka deh. Cuma 2hari pula prosesnya. Padahal laundry yang biasa saya pakai membutuhkan waktu 4hari, dan harus antar-ambil sendiri. Repot! Urusan antar-ambil saja bisa terjadi perang di rumah karena penyakit malas dan ogah sering menyerang suami, sementara untuk mengambil sendiri saya tidak sanggup karena berat dan harus ngangkot. Yang ada malah saya jadi ngotot pengen belajar motor
Eh, masih juga belum rela rupanya untuk mencobai laundry dia, karena tertarik sama laundry yang baru buka persis di depan warnet. Tapi pada kencan pertama itu saja sudah membuat saya memutuskan tidak ada kali kedua, karena baju yang tertukar dan kondisi yang bau apek. Sepertinya belum kering betul sudah dikemas ke dalam plastik.
Akhirnya, cucian kotor kami berlabuhlah ke laundry si klien. Rasanya tidak fair karena mencobai orang lain mau, tapi kok mencoba jasa mereka ogah?! Sementara si klien masih rajin menggunakan jasa warnet ini, bahkan betah menghabiskan separuh waktunya untuk bermain game favoritnya.
Ok, kencan pertama sukses. Cucian diambil, dan 2hari kemudian cucian bersih sudah disetor balik. Padahal katanya karena libur lebaran mungkin cucian akan telat disetor balik eh ternyata tidak tuh. Senangnya pula ketika mengetahui proses cuci di laundry itu dikerjakan per customer sehingga sangat kecil kemungkinan tertukar cucian dengan orang lain. Bagusnya lagi, kami tidak menemukan tag-tag yang membuat kain rusak yang selama ini disematkan oleh laundry yang lain sebagai penanda cucian itu adalah milik pelanggan A misalnya.
Selanjutnya kami pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap si klien. Pertengkaran soal ambil antar cucian kotor pun menghilang dari peredaran. Hasil cucian yang maksimal pun berbanding lurus dengan harga yang 20% lebih mahal dari laundry yang lain. Ada harga ada kualitas dong?!
Tapiiiiiiiii……………..bulan madu di antara kami tidak berlangsung lama. Janji setor cucian bersih 2hari, jadi mundur sampai seminggu. Mulai jengkel. Pertama masih enak ‘komplain’ langsung ke si klien, dan cucian langsung diantar setelah si klien menelpon anak buahnya. Dua kali tiga kali seperti itu, kok saya jadi pekewuh juga ya untuk menyampaikan hal yang sama terus kepada si klien. Lagipula dia datang ke warnet ini kan sebagai pelanggan, saya kok merasa tidak fair buat dia ketika dia mau having fun dengan game kesayangannya, kok saya malah komplain?!
Sejak itu saya komplain langsung ke orang yang mengambil-antar cucian. Bahkan sempat saya beri ultimatum, jika memang tidak sanggup memberi pelayanan seperti dulu lagi, ya sudah kami berhenti saja. Eh tidak mempan lho?! Masih juga begitu terus. Andai saja saya menemukan laundry lain dengan kualitas yang kurang lebih sama, sangat pasti saya akan pindah ke lain hati. Sampai bingung sendiri mau bagaimana ya?
Pernah satu kali saya tidak tahu kalau si klien sedang berkunjung dan ternyata dia mendengar ocehan saya terhadap karyawannya. Saya sempat merasa tidak enak *aneh ya saya yang dirugikan tapi kok saya yang merasa tidak enak coba?* tapi melihat dia yang menanggapi ocehan saya dengan santai *kalau tidak mau bilang cuek*, perasaan sungkan tadi ikut raib seketika.
“Emang udah berapa hari cuciannya, mba?”
“sudah seminggu, mas.” gelagapan karena kaget.
“masak sih? coba saya tanya ke orang saya.” langsung terjadi komunikasi antara dia dan karyawannya. Lalu begini katanya.
“tunggu aja mba, ntar lagi juga datang.”
Helloowww…..? Tadi saya udah ngoceh dan dia tenang sekali menghadapinya, seolah-olah keterlambatan yang sudah sering saya keluhkan ini bukan hal penting untuk ditanggapi. Tidak berselang lama cucian bersih datang, cucian kotor di ambil, dan kepergian sang kurir diiringi pesan saya untuk mengantarkan kembali sesuai janji, paling telat ya 3hari deh. Itu batas toleransi saya.
Si klien yang mendengar pesan saya cuma mesem-mesem yang bikin darah mendidih. Tapi namanya butuh, mau bagaimana lagi???
Sampai satu ketika, saya lagi jengkel karena cucian bersih belum diantar padahal udah seminggu, eh pas si klien datang. Tanpa ba bi bu nyerocos deh.
“Mas, laundry-nya lagi ramai banget ya?”
“Biasa aja mba, emang kenapa?”
“Itu … biasa deh, soal anterin cucian bersih, udah seminggu lebih. saya juga udah tanya2 terus, tapi boro2 ditanggapi mas. Padahal dulu kan janjinya cuma 2hari, sekarang udah seminggu aja masih aja ga dianterin. Maksud saya, kalau emang rame, ya udah saya ambil deh, ga pa pa namanya saya yang butuh ini.” saya munafik, sebetulnya saya mau marah-marah, tapi berhubung dia sedang berkunjung sebagai klien jadi deh ngomongnya menye-menye begitu.
“Masak sih? Coba saya telpon ya.”
Saya menyimak percakapannya dengan anak buahnya.
“ini cucian warnet belom dianter?”
“……………”
“hla? katanya blum ini.”
“mba, udah dianter kok, cek lagi deh, siapa tau mba nya ngga ngeliat pas datengnya.”
“jiaahhh mas, mosok kalau udah dianter cucian kotor masih di sini, kan biasanya juga barter. Liat aja sendiri tuh, di kotak tempat naro cucian ga ada cucian bersih kan?” mulai jengkel.
“ini katanya belum diantar. di situ ada ga cuciannya?”
“……………”
“ya udah antar sekarang, saya sedang di warnet sini.”
Tidak sampai 10menit si kurir datang cengar cengir.
“maaf bu, saya kira sudah diantar sama rekan yang lain.”
“ya udah, ini cucian terakhir deh, saya mau lihat bisa antar dalam waktu 2 hari apa tidak. klo tidak, ya ga pa pa, saya ngerti kok laundry kalian laris sehingga pelanggan yang punya cucian sedikit seperti saya jadi nomor sekian.”
“maaf bu, 2hari lagi saya antar.”
“janji?”
“iya bu.”
Itu kejadian 1minggu yang lalu, janji ditepati setelah saya ingatkan via sms. Dan sudah seminggu ini cucian bersih belum diantar juga, saya sudah hubungi juga, tapi tidak direspon. Sangat dilematis! Kalau pemilik laundry itu bukan klien warnet ini, maka sudah pasti saya akan bebas bicara dan langsung pindah ke lain hati.
Saya jadi berpikir sendiri, semoga saja apa yang menjadi pemikiran saya ini bukanlah bentuk judgement sentimen terhadap dia, tetapi memang saya betul-betul heran, bagaimana si klien ini begitu pede untuk go franchise sementara kualitas pelayanannya seperti sekarang ini??? Bahkan anehnya ketika saya menanyakan kenapa harga member yang diberikan kepada saya jauh lebih mahal daripada harga di paket-paket yang sudah di upload di situs resminya, dengan enteng dia menjawab : oh itu baru di upload aja, belum dirilis. Wew!
Yang paling bikin saya munek-munek (ini bahasa mana ya?) adalah ketika dia dengan teganya menghempaskan mouse ketika koneksi dudul yang mengakibatkan dia keluar dari game yang sedang dia mainkan. Sakiiiiiiiiiit rasanya di hati ini, jadi teringat cucian yang ngadat2 pelayanannya. Belum lagi ketika koneksi tidak juga membaik, dia bisa lho ngeloyor pergi dengan membanting pintu. Jedeeerrrr!!! Duh! *ngelus dada* Tidak jarang ketika koneksi dudul, saya berdoa agar dia tidak usah datang hari itu. Atau ketika koneksi dudul dan saya melihat motornya dari jauh, langsung saya minta suami untuk cegat dia agar mengurungkan niatnya nge-net karena koneksi dudul. Bete-nya dia sering tidak percaya, sehingga tetap saja on line dan ujung-ujungnya saya sudah bisa tebak.
Ok, fine! Take it or leave it!
Saya berharap bisa semudah itu. Tapi kenyataannya tidak. Sampai hari ini saya masih berusaha menahan diri menghadapi satu klien ini, saya masih memikirkan cara yang elegan untuk menyampaikan betapa saya tidak bisa menerima hempasan mouse dan pintu jika dia sedang kesal.
Semoga setelah tulisan ini di-publish, tiba-tiba saya dapat wangsit LOL