Ini Pun Akan Berlalu!

Tadi pagi saya (merasa) sedang berkeluh kesah. Sejenak meragu, pantaskah? Jangan sampai saya jadi orang yang tak pandai bersyukur. Saya tak ingin Pemilik Semua Yang Dititipkan pada kami ini mengambil semuanya. Masak begini saja sudah misuh-misuh? Masih dikasih lho itu, gimana kalau ga dikasih (rejeki)? Apa ga lebih parah misuh-misuhnya? *istigfar*

Sekilas perkenankan saya menggambarkan keadaan kami sekarang ini. Pasangan suami istri mengelola 2 ruko yang dijadikan tempat nge-game dan nge-net, yang tadinya direwangi 4 asisten, sekarang tinggal 1. Itupun tadi pagi dia bilang sakit, jadi terpaksa alpa. Tinggallah saya dan suami, yang sampai mau ke toilet pun tidak tenang, karena tak bisa berlama-lama. Begitu pun makan, tidak bisa menikmat butir demi butir nasi yang disuapkan ke mulut, asal sudah kenyang saja, asal tidak sakit saja. Masak begitu sih? Terus ini mencari (uang) memang buat apa? Tapi ini ‘kan cuma sementara, ya pasti sementara. Besok lusa pasti akan dapat asisten lagi. Seperti yang sudah-sudah, pasti dapat lagi. Iya ‘kan? Masalahnya cuma satu, BERSABAR! Daripada dapat asisten juga kayak miara tikus curut yang suka mreteli?

Sedikit cerita tentang asisten yang minta mudik kemarin, ternyata ngemplang barang/uang warung sampai sakjuto luwih. Miris tenan yo! Ga sempat muring-muring, ga sempat nesu-nesu. Cuma bisa tersenyum lesu.  Huaaa …. ga ding, saya tidak menangis, beneran ga nangis lho hehehe…. Berusaha memaklumi, walau tetap saja ga berhasil :D

Tiba-tiba saya teringat, judul tulisan di buku Si Cacing-nya Ajahn Brahm, katanya INI PUN AKAN BERLALU! Ya, ini pun akan berlalu. Kelihatannya berat, pastilah. Berulang kali saya sugestikan diri, ini pun akan berlalu! Toh yang sudah-sudah juga begitu. Begini baru hidup namanya, masa senang, masa susah, masa manis, masa getir, harus silih berganti.

“Saat-saat yang buruk pun tidak memerlukan waktu lama untuk berlalu. Lalu ketika saat-saat yang menyenangkan tiba, dia menikmatinya, tetapi tanpa terlalu semborono. Sekali lagi dia akan mengingat, “ini pun akan berlalu”, dan terus lanjut bekerja, tanpa menggampangkan hal yang menyenangkan itu. Saat-saat yang indah biasanya juga tak akan bertahan lama-lama”

Jadi, saya terimalah keadaan ini, sebagai bentuk syukur saya pada apa yang telah diberikanNya :)

UANG

Bagi yang membaca dengan seksama tulisan saya berjudul : Tidak Biasa, Biasa dan Luar Biasa – pastinya sudah tau dong kalau salah satu hal yang biasa saya lakukan adalah NGITUNG DUIT SETORAN! Kira-kira ada yang bisa membayangkan bagaimana prosesnya saya menghitung uang setoran tidak ya? Atau malah tidak merasa perlu membayangkannya sama sekali? Hehehe ….

Entahlah, postingan ini sepertinya tidak penting, tetapi saya ingin menuliskannya karena rasa ENEG yang demikian mendera setiap melihat tumpukan uang. Maaf, sama sekali tidak bermaksud sombong, tetapi silahkan anda bayangkan bilamana anda di posisi saya setelah saya tuntas berbagi cerita nanti, ok?! Karena jika boleh meminta, saya pun inginnya seperti jaman masih kerja dulu, yang mana uang ditransfer ke rekening, dan jika perlu tinggal mengambil di atm, tentu saja dalam keadaan MULUS. Iyalah, kalau uangnya keriting, tentu tidak bisa lewat mesin atm toh?!

Mari kita mulai saja, apa sih yang membuat saya merasa ENEG melihat tumpukan uang.

Dalam sehari saya pasti menerima 3 tumpukan uang yang jumlahnya tentu saja beragam. Dari masing-masing tumpukan uang itu ada lembaran 1000, 2000, 5000, 10000, 20000, 50000  dan 100000. Selama ini sih yang mendominasi lembaran 1000, 2000, dan 5000. Jika mood sedang bagus, setiap hari uang itu dibereskan, yang kusut dielus-elus sampai licin – bagian ini yang paling melelahkan. Makanya kaum bapak niy, sering sekali suka ngepel uang, atau uang diblusukin aja ke kantong celana, mbok yaaaa dilurus2in gitu lho masukin dompet, kalo rapi pas dibelanjakan, yang nerima juga pastinya senang :) Selesai dielus bin luruskan (klo kata saya mah uang kertas itu di rebonding dulu hehehe) barulah disatukan bagian kepala ketemu kepala per 10 lembar baru dilepit jadi satu. Nanti kalau sudah sampai 10lepit maka disatukan lagi menjadi satu lepit senilai 100.ooo. Hal yang sama dilakukan pada semua nominal.

Bisa tidak anda bayangkan jika setoran itu ditumpuk sampai seminggu, karena faktor tidak sempat dan malas datang silih berganti? 3shift x 7 hari = 21 ikat uang yang harus dibereskan. Setelah rapi semuanya, dipikirkan lagi kepada siapa menukarkan nominal 1000 & 2000, lebih sering saya datangi Rm. Padang yang ada di sebelah ruko. Sementara semua koin sudah pasti dilarikan ke ember tempat saya menyimpan uang koin; itupun dipisah-pisah yang 500 sendiri dan 1000 sendiri. Maksudnya, agar nanti pas mau setor ke bank, menghitung tidak salah lagi, tinggal ditumpuk per 50.000 sesuai permintaan bank.

Yang paling menjengkelkan adalah, sudah capek-capek itu mberesi uang yang menurut saya sudah rapi jali, tapi giliran setor ke bank, tellernya langsung pasang muka judes melihat tas kresek hitam yang saya tenteng :D Lebih bete lagi raut wajahnya jika saya bawa tentengan sampai 2 tas kresek karena itu artinya uang recehan yang ada di dalamnya *LOL*. Sebetulnya, andai saja teller bank itu tau betapa puasnya saya melihat muka judesnya, saya kira dia akan menyesal dan balik ganti stelan wajahnya menjadi manis semanis madu hehehe

Ya ya ya …. saya pahamlah kenapa dia bete bin judes. Hla wong saya yang punya uang saja sering eneg ya lihat tumpukan uang, bagaimana para teller yang jelas-jelas cuma kebagian ngitung? Ups! Ini bentuk empati saya, sungguh! Tidak ada nada sarkasme di situ. Ini pun baru-baru kok saya menyadarinya. Ketika rasa eneg ini mendera, baru teringat saya, dan merasa wajar jika teller bank itu tidak begitu suka kalau yang datang setor menyetorkan uang recehan dengan nominal dibawah IDR 10.000. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau uang yang ditangan saya nominal 20.000-50.000-100.000 sudah pasti saya setorkan lewat Mesin Setor Tunai, demi menghindari wajah ramah si teller bank :D

Begitulah sodara-sodara, betapa melelahkannya membereskan uang setoran, walaupun saya tahu, akan lebih melelahkan jika tak ada uang yang mau dibereskan hehehe … Semoga setelah saya posting ini, bisa terminimalisir sedikit rasa eneg ini, karena sesungguhnya saya teramat berharap agar uang setoran bisa langsung disetorkan ke bank, tanpa perlu dirapikan – dielus-elus dan disatukan sesuai nominalnya. Ah, tapi ini cuma ada di alam mimpi, betul?!

Sejauh ini saya belum menemukan cara yang lebih efektif dan lebih efisien untuk membereskan uang kertas ini, sehingga jika ada masukan dari sohiblogger, tentu saya terima dengan tangan terbuka :D Nah, curhat saya sudah selesai, kembali ke paragraf 2, sekiranya anda di posisi saya, akankah rasa eneg itu mendera anda?

What should I do with this feeling?

Sabtu kemarin, akhirnya semua menjadi jelas. Bertemu dengan si pembeli dan perantaranya, dan mereka minta maaf karena memang telah mengambil langkah yang salah. Serta merta rasa iba menguasai hati ini. Lupa sudah dengan masalah yang sebelumnya. Apalagi si pembeli memang murni korban, walaupun mpet sama si perantara yang dengan bangga mengaku telah berhasil mengangkangi 6 rumah milik orang lain yang entah dimana pemilik sesungguhnya.

Rumah ibu adalah rume ke-7, eh kok ya saye apes, padahal 6 rume nyang lainnye ampe sekarang kaga perne nongol nyang punye bu.”

Saya tatap tepat di matanya, dia menunduk, malukah dia? Masih punya? “Makanya jangan lagi pak, ‘kan kasihan kalau yang jadi korban seperti bapak ini. Mana udah ngarep2 punya rumah sendiri, eh sekarang malah kisruh. Bagusnya sih bapak-bapak ini memilih jalan damai, ga kebayang saya kalau eyel2an.”

“Kaga dong bu, kita tau salah kok.” matanya tetap tak berani menatap mata saya. Continue reading

Masih Tentang Bang Thoyyib eh Aqua

Kisah ini adalah kisah nyata, begitu adanya, tanpa dilebihkan apalagi dikurangi. Senin kemarin acara misuh-misuh semakin ditingkatkan, hotline dan facebooknya Aqua saya hubungi semua, juga mengirimkan email keluhan yang alamatnya ada di Aqua Menyapa. Dan alhamdulillah, di hari ke-4, sekarang hari Kamis, pasukan pengiriman Aqua tiba di tempat kami dengan selamat tak kurang suatu apapun :D Sepertinya Pak Sutikno yang bagian pengiriman ini sudah tahu saya sudah mblenger dengar kata hari Jumat, maka digantinya jadual ke rumah kami menjadi hari KAMIS saja. Oklah kalau begitu, Kamis juga siapa takut :D *sumringah*

Well, 3 hari kemarin memang hari-hari yang sukses membuat tensi saya naik, dan tak habis pikir bagaimana ya perusahaan sebesar Aqua mempekerjakan SDM yang sama sekali tidak bisa bersikap sebagai  wakil perusahaan mereka, samasekali tak ada sense of belonging terhadap perusahaan tempat mereka bekerja. Bagusnya, karena memang membutuhkan, saya tidak lekas patah arang, tidak langsung menerima begitu saja ketika menerima telpon dengan kalimat AQUA TIDAK BISA MENGIRIM LAGI KE AREA ANDA!!!

Panas kuping, panas hati mendengar kalimat itu, tapi saya tahu akan percuma jika berdebat dengan seseorang yang tidak paham tentang dunia marketing yang pastinya tidak paham juga bagaimana menjaga hubungan baik dengan pelanggan, walau pelanggan baru dengan pesanan yang sedikit seperti saya. Tentunya, pengalaman bekerja sebagai orang distribusi dan marketing juga membuat saya tahu jalur komunikasi yang tepat agar mendapatkan jalan keluar yang memuaskan pula.

Halo Aqua dan Sehat Aqua – keduanya sangat membantu. Saya juga melampirkan denah lokasi tempat ini dengan memberikan link yang bisa dilihat dari google-maps. Begitupun, ada kejadian lucu, tapi tidak saya tertawakan karena tidak baik menertawakannya, bisa saja memang orang tersebut kurang familiar dengan google maps. Seseorang yang menelpon saya sore kemarin, mengatakan bahwa lokasi saya di Belezza sebelah mana? eh? Kok Belezza? Saya jadi terbayang lokasi Belezza, walau baru satu kali ke sana waktu mba Imelda di Jakarta, dan memang jalan di belakang Belezza itu termasuk kecil untuk ukuran mobil Aqua yang lumayan besar itu, tapi lokasi saya ‘kan bukan di Belezza?

“Bapak sudah klik link yang saya kirim di Sehat Aqua? Karena lokasi kami bukan di Selatan, melainkan di Utara pak, sangat dekat dengan depo kalian yang di Pulogadung itu.”

“Bos saya sudah lihat bu, makanya saya yang disuruh menangani dan Belezza memang area saya. Sehingga tadi saya telusuri, tapi anak buah saya tidak ada yang punya masalah dengan pelanggan.”

“Tentu saja, karena yang bermasalah adalah pelanggan yang di Utara. Padahal link itu semestinya tidak salah lho pak, ini saya terima telpon sambil on line pun, dan tetap saja link itu saya klik dan menunjukkan lokasi kami? Jadi bagaimana ini, akan bapak yang menyelesaikan, atau orang lain yang lebih berkompeten di Utara sini?”

“Iya bu, saya akan forward ke kolega saya yang di Pulogadung, si anu dan si anu. Saya akan berikan nomor telpon mereka ke ibu, dan ibu bisa menghubungi mereka.”

“Silahkan pak, dan saya akan menunggu telpon dari mereka saja. Saya tidak akan mendahului menghubungi mereka, karena saya tidak mau mereka menyuruh saya cerita ulang kronologisnya. Jika memang jam kantor sudah bubar, toh besok pagi pun masih bisa kami tunggu. Menunggu buat saya lebih baik daripada nanti menambah daftar kejengkelan saya. Apalagi saya tahu, masalah kalian ‘kan bukan dengan kami saja, saya pastikan orang-orang tersebut tidak akan langsung ngeuh dengan permasalahan saya, kecuali mereka mendapatkan informasi dari bapak, tentunya bapak akan memberikan brief-story, untuk memperjelas keadaan.”

“Baik bu, terima kasih.”

Percakapan kami sore kemarin kurang lebih seperti itu, nada-nada keras tentu saja ada, karena memang saya tidak puas dengan alasan pemutusan berlangganan yang sangat sepihak dan tanpa alasan. Maka saya sempat tanyakan, apa sih yang menjadi dasar bagi  Aqua untuk memPHK pelanggannya?

“Ada 2 hal bu, 1) karena pelanggan punya outstanding tagihan; 2) karena pelanggan pindah alamat tanpa pemberitahuan, dan itu otomatis by system.”

“Jadi tidak ada individu yang berkompeten untuk memPHK pelanggan seperti saya, misalnya?”

“Tidak ada, bu.”

“Jadi bapak bisa dong clear-kan fitnah yang dikatakan supir Aqua yang mengatakan dia diancam orang ketika mengirim barang ke sini? Di facebook juga sudah saya tulis lho, kalau mobil CocaCola saja 2-3 dalam sebulan mengirim barang ke lokasi ini, apakah menurut kalian mobil Aqua lebih besar dibandingkan dengan truk CocaCola??? Dan perlu dicatat, pengiriman pertama sudah terjadi, dan mereka tidak ada masalah ‘kan?”

“Iya bu, ini pasti ada miskomunikasi di internal kami, karena pengirim pesanan pertama beda orang dengan pengirim pesanan selanjutnya.”

“Well, saya kira, jika masalah internal bapak, maka saya tak bisa ikut campur, toh?”

“Betul bu, ini memang masalah internal kami, nanti kami selesaikan dari dalam ya bu. Sekarang ini saya langsung mengirimkan email kepada yang terkait agar masalah ibu lekas tertangani dengan baik.”

Dan pagi ini, ketika pengiriman datang, saya langsung tanya siapa drivernya, dan ternyata Pak Sutikno. Tentu dong saya penasaran, siapa sih yang berani mengancam dia?

“Ini pak Sutikno? Seperti apa ciri orang yang mengancam bapak tempo hari?”

“Bukan di sini kok bu, di sebelah sana, saya diomelin katanya bikin macet.”

“Diomelin apa diancam? Beda lho itu pak. Karena apa yang bapak laporkan ke kantor itu yang dijadikan alasan untuk memPHK kami sebagai pelanggan.”

“Iya toh bu? Saya tidak tahu bu, tapi saya lapornya memang diomelin, bukan diancam.”

“Ok, tapi kalau bapak ngirim ke sini, dan ada yang berani ngancam, kasi tau saya ya pak, karena saya yakin, kalau di sini takkan ada itu yang ancam mengancam, udah ga jaman main palak di daerah sini.”

Entahlah, entah supir yang bohong entah orang kantor yang salah menerjemahkan omongan pak supir, yang jelas masalah sudah clear dan (semoga) air Aqua mengalir lancar setiap minggu eh Kamis ke rumah kami. Tak ngombe sek yoo … ben ra watuk hehehe

Misuh-misuh Gara-gara Komen Tentang Autis

Masih hangat berita tentang ketidakcerdasan seorang Olga dalam melempar joke di depan publik, dan entah udah berapa postingan yang saya baca tentang pentingnya kehati-hatian dalam melontarkan joke dalam tulisan, dan hari ini, di sebuah tulisan yang informatif itu justru saya membaca komen seorang blogger membawa-bawa kata AUTIS.

Pantaskah seseorang yang tenggelam dalam dunia maya melalui gadget di genggamannya, yang tampak ketawa sendiri dan dipanggil cuek saja itu disamakan dengan seorang penderita AUTIS??? Pantaskah?

Sepengetahuan saya, orang-orang yang asyik dengan gadgetnya itu memang sering ketawa sendiri, dan mungkin saja cuek ketika dipanggil, tapi mestikah kemudian dianggap seperti penderita AUTIS? Memangnya salah apa anak-anak/orang-orang yang menderita  AUTIS?

Mungkin saya saja yang terlalu sensitif pagi ini, mungkin karena terlalu banyak membaca berita yang membuat hati sesak dan komentar itu menjadi pamungkasnya. Dan saya meledak dalam amarah sendiri, akhirnya misuh-misuh sendiri. Dalam pandangan saya, seorang blogger itu mestinya sudah lebih well-educated, karena saya kira dia pasti sudah wira-wiri membaca tulisan teman-temannya yang lain tentang apa yang patut dan apa yang tidak. Ok, ini memang terjadi di blog orang lain, dan semestinya saya tinggal balik badan dan tak perlu mengurusinya, tapi seperti saya bilang, momen itu tadi momen pamungkas, saya terlepas kontrol dan tak bisa menahan jari-jari untuk tidak mengoceh. Ini memang satu langkah mundur, tapi saya tidak bisa memutar waktu untuk mengembalikan komentar saya yang semoga tidak membuat seseorang itu tersinggung.

Well, sudah cukup lama saya menahan diri, tapi hari ini, sepertinya saya memang harus melepas cerita ini, tentang seseorang yang menderita autis sejak lahir. Memang dia bukan anak saya, tapi dia sudah seperti anak saya, karena saya dan ibunya bersahabat sangat baik, dan tak jarang pula kami berbagi waktu untuk menjaga dan merawat anak bungsunya itu. Saya juga menjadi saksi bagaimana sang ibu mengejar kereta api paling pagi dari Bekasi menuju Kramat, tempat terapi untuk anak bungsunya. Dan itu dilakukannya lebih dari 2tahun, 3x dalam seminggu, yang hasilnya boleh dilihat hari ini anak itu sudah jauh lebih baik, dia juga mampu beradaptasi dengan sekelilingnya dengan baik, bahkan sanggup mengikuti pelajaran di sekolah normal.

Rio namanya, yang satu malam berkunjung ke rumah saya bersama ibunya, menatap nanar ke akuarium dan tidak menoleh ketika dipanggil. Saat itulah kami merasakan ada yang tidak beres dengannya, tapi waktu itu kami masih mencurigai indera pendengarannya. Baru kemudian diketahui tentang AUTISME yang untungnya belum akut. Sosoknya yang ngganteng, kulitnya yang bersih, bahkan berbeda dengan 2 kakaknya. Tutur bahasanya pun halus, dan sangat peka. Dia tidak bisa mendengar suara keras, saya bahkan kerap diperingatkannya :”tante, ngomongnya pelan saja, Rio dengar kok tante bicara.” Sering saya merasa malu jika diingatkan seperti itu, tapi dia belum paham kalau saya kadang memang gregetan karena kesulitan memberitahunya ini itu. Tak jarang kami juga dibuatnya terharu biru dalam kalimat yang diucapkannya, yang bahkan 2 kakaknya tak pernah meluahkan rasa hatinya kepada orang dewasa seperti yang dilakukannya.

Saya adalah pahlawan baginya, hanya karena saya bertengkar dengan pramusaji sebuah resto pizza di Bekasi. Waktu itu dia ingin sekali makan pizza, makanan yang sangat jarang dia minta *sehari-harinya dia lebih suka makan tempe, sehingga kami selalu berusaha memberikan makanan lain yang jarang sekali dimintanya*, waktu itu menjelang saat berbuka puasa. Saya paham antrian panjang, tapi Rio tidak bisa mengerti itu, dia cuma mau pizza. Lalu saya bilang ke pramusajinya agar dibuatkan saja pizzanya, jadi nanti kalau pas dapat duduk ‘kan bisa langsung makan, tidak perlu menunggu lagi. Kalaupun tidak dapat duduk ya udah akan kami bawa pulang saja, yang penting dibuatkan dulu. Entah apa yang merasuki si pramusaji, dia berkeras  menyuruh kami baru memesan kalau sudah dapat duduk saja. Parahnya lagi Rio maunya makan di dalam, tidak mau takeaway. Saya membujuk pramusajinya memberikannya 1 kursi saja, tanpa meja, nanti biar kami pegani piring pizzanya, pun tidak diperkenankan. Tak sanggup lagi menahan emosi, batallah puasa saya sore itu, karena terpaksa membentak si pramusaji yang sangat tidak toleran menurut saya. Kami toh tidak minta satu meja, cuma satu kursi lho, dan jika dia mau sedikit saja berempati, dia pasti bisa mengusahakannya, karena ada kok meja yang kursinya 4 tapi orangnya cuma 2. Jadi ini masalahnya dia mau membantu atau tidak, cuma itu!

Rio mulai menangis saking kepengennya, dia kira saya pelitl dan berkata : “Tante Ni pelit sekali sih, Rio ‘kan jarang minta apa-apa, ini cuma minta pizza, kenapa tidak dibelikan?” Dan pramusaji itu tidak ambil peduli demi mendengar perkataannya, saya yang jadi seperti orang gila menggeret si mba pramusaji agar bicara langsung sama Rio, kenapa dia tidak mau memberi 1 kursi saja. Tapi begitulah, memang susah menyentuh hati yang beku, ibunya membopong Rio pergi dari tempat itu, dan setengah mati kami membujuknya agar memilih makanan lain. Dan Rio tetap bilang, “Rio cuma mau pizza, mama!” Kami pulang tanpa pizza, kami pulang dengan iringan tangis Rio.

Saya sempat berpikir, kalau saja saya bilang ke mbaknya, kalau Rio anak autis, bisa jadi dia memberikan keistimewaan, mungkin karena tidak dicoba. Tapi saya pikir, saya tidak mau juga melakukan itu, karena kami tidak mau orang lain mengasihaninya, toh seorang anak yang bukan autis pun wajar ‘kan mendapat keistimewaan? Saat itu pelajaran lain buat saya adalah UANG tak berarti apapun kala kita bertemu dengan orang yang tak punya hati! Buat apa uang segepok, tapi apa yang diinginkan tak juga bisa dibeli?

Ah sudahlah, semoga besok-besok saya lebih bisa menahan diri, toh yang autis juga banyak, bukan cuma Rio, dan saya perlu menjaga hati agar tak cepat tersinggung bila membaca joke-joke yang tak pantas sekalipun. Ya sudahlah …

Jika Karyawan Hamil?

Masih hangat pembahasan tentang masa cuti melahirkan yang dikehendaki karyawan di blog-nya Om Gie, dan entah kenapa sejak membaca tulisan itu membuat saya terus memikirkan apakah mungkin saya mau memberikan cuti sampai 6bulan? Dan pagi ini saya sudah menemukan solusinya, karena tempat tinggalnya di dekat sini, mungkin cuti penuh 3bulan sudah cukup, selanjutnya dia bisa memberi ASI secara rutin kepada anaknya pada jam-jam tertentu. Hal ini mudah baginya karena jarak tempuh yang dekat.

Tetapi, pagi ini saya terima SMS, dia minta ijin tidak masuk, sudah berapa hari ini memang saya sudah mulai kuatir karena melihat kondisinya yang tidak fit. O iya, saya ‘kan belum pernah hamil, jadi tidak tau kondisi orang hamil muda seperti apa. Karyawan ini baru ketahuan hamil tadi pagi, dari kemarin-kemarin sih dia sudah curiga, tetapi kemudia saya paksa untuk beli testpack agar pasti hamil atau tidaknya. Nah, tadi pagi sudah positif hamil tuh. Pertanyaan saya buat ibu-ibu yang sudah pernah hamil, mulai rewel dan mual-mualnya itu kapan sih? Ada yang bilang setelah 3bulan-an, apa benar begitu? Share dunk :D

Kemudian saya berpikir, jika kondisinya lemah selama 3bulan pertama ini, apa gerangan tindakan saya? Memberi ijin setiap merasa sakit? Saya mencoba berempati, andaikan saya di posisi dia, bagaimana? Sementara kondisi di sini pun tidak kelebihan orang, artinya pas, kalau tidak mau mengaku kurang. Jadi kalau ada karyawan yang sakit seperti ini, maka itu artinya saya dan suami yang harus bergiliran sebagai back-up.

Bukan cuma lagu yang ada cenat cenutnya, kepala saya juga mulai cenat cenut, karena karyawan yang hamil ini adalah satu-satunya karyawan yang sangat saya andalkan sampai hari ini. Sudah dicari asisten buat dia sebulan ini, tapi kualitasnya beda, suksesornya butuh waktu yang lebih lama untuk menjadi seperti dia. Ok, saya juga harus mengerti dan menerima keadaan asistennya, saya terus menerus mengingatkan diri agar bisa menerima kenyataan bahwa kemampuan adaptasi setiap orang berbeda-beda.

Sekarang saya sedang berdiskusi dengan hati nurani dan akal sehat, tindakan apa gerangan yang akan saya ambil apabila  pada 3bulan pertama kehamilannya ini rewel dan kondisi fisiknya lemah, saya harus bagaimana? Merumahkannya harus menjadi alternatif terakhir, karena bagaimana pun saya sangat teramat tergantung padanya. Jika saya harus bertoleransi terhadap kemampuannya bekerja, misalnya sehari masuk dua hari tidak, bagaimana?

Ada yang mau bantu berbagi saran? Soalnya baru ini punya karyawan yang hamil :D

Nobody’s perfect, so?

Ada yang sudah baca berita pagi ini? Sudah menjadi kebiasaan saya setiap pagi menyambangi portal berita, dan pertama kali  pasti saya membaca judul berita / artikel dari atas sampai ke bawah; baru saya memilih kira-kira topik mana yang akan dibaca. Pagi ini, seperti tersengat listrik rasanya (bukan lebay karena memang pernah merasakan disengat listrik kok) ketika membaca : Kader *** juga manusia.

Saya tak berkeinginan bersumpah serapah di sini, karena kemarin melepaskan kata M****T di jalan saja saya sudah diplototin sama suami, andai saya bales sih, saya bakal menang, wong mata saya lebih ‘belok’ ke mana-mana dibanding suami, tapi sejurus saya memang menyadari tidak baik bersumpah serapah, dan akhirnya saya memilih jurus diam hehehe tapi saya boleh dong mencari pembenaran? Eh ga boleh ya? Tapi gini kasusnya, ketika kami mau masuk parkiran motor, yang di depan pintu masuknya itu ada sederet mobil diparkir, sehingga kami terkaget ketika tiba-tiba ada motor nyelonong dari lawan arah dalam kecepatan sedang, sementara kami dalam kecepatan pelan. He???? Gila ga tuh, masak keluar dari pintu masuk, ini logikanya di mana coba? Andai suami tidak melototin saya karena bilang M****T kepada biker itu, pasti penjaga parkirnya kena semprot juga, karena membiarkan motor lewat dari  pintu masuk, tak mau tau siapapun orang itu! Kecerobohan mereka membahayakan nyawa orang lain, apakah mereka menyadari itu??? Sikap permissif untuk hal seperti ini, menganggap remeh melanggar peraturan, yang membuat peraturan kemudian cuma jadi penghias belaka.

Ah, saya jadi ngelantur ‘kan :( Biker itu juga manusia, tetapi apakah sikapnya itu boleh ditolerir??? Pejabat publik itu jelas memang manusia, lalu sikapnya itu boleh ditolerir? Apalagi sampai dewan tertinggi di partainya sampai merasa perlu membuat pernyataan : Kader juga manusia? Ckckck …miris ya!

Justru kalau memang manusia, dari sebuah partai yang sejak munculnya sangat medok dan kental racikan religinya, menurut hemat saya, hal memalukan tersebut tidak sepatutnya terjadi. Eh?! Saya bersyukur karena tidak pernah menjadi simpatisan dari partai manapun, dan ketika saya menuliskan ini pun bukan dalam kapasitas saya untuk menilai partai a atau b lebih baik, tidak sama sekali! Hanya saja, tolong deh,  masak iya begitu sih? Ampun biyuuuung…..

Enough! Bicara tentang pembenaran pada kalimat : biker juga manusia; pejabat juga manusia; artis juga manusia’ bla bla bla … terusssssss kalau manusia kenapa? Boleh melakukan hal-hal yang tidak pantas gitu?????? Saya tidak bermaksud sok suci, dan saya mengakui memang manusia itu gudangnya salah dan khilaf, seperti saya yang kemarin sudah salah melihat orang – menjuteki orang yang tak bersalah; lalu apakah bisa ditarik garis lurus untuk menyamakan kekhilafan saya dengan pejabat itu? Sama-sama khilaf ‘kan?  Maaf, saya kok tidak bisa terima  ya kalau dibilang sama, iya kami sama-sama manusia, iya kami sama-sama khilaf, tapi kasusnya berbeda toh? Atau saya pun sedang mencari pembenaran terhadap kekhilafan saya?

Baiklah, saya mencoba membersihkan hati ini dengan mencoba melihat kasus ini dari sisi positifnya sajalah.  Hmm, pasti kekhilafannya itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada pejabat itu, agar dia  berhenti membohongi publik. Ya, ini pasti bentuk kasih sayang Tuhan pada rakyat Indonesia untuk lebih mempunyai kesadaran agar agama tidak dijadikan alasan untuk memilih partai yang dikira dapat mewakili suaranya, maksud saya kesamaan agama tidak bisa dijadikan jaminan toh.

No doubt that  nobody is perfect, tetapi dalam ketidaksempurnaan itu sejatinya setiap individu dapat mengedepankan akal sehatnya dalam berkata dan berbuat.

Salah Orang

Pagi-pagi sudah terjadi insiden yang sangat memalukan yang  membuat saya merasa malu sekali, dan sampai detik ini saya belum berhenti merutuki diri sendiri atas kebodohan dan kecerobohan yang baru saja saya lakukan. Alasan berikut saya sampaikan tanpa bermaksud mencari kambing hitam karena sedari awal saya sudah mengakui bahwa secara keseluruhan ini adalah semata-mata kesalahan saya.

Di luar hampir terang, belum jam 6pagi, yang ambil paket begadang juga belum bubar. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan bilang mau ambil paket 1jam. Serta merta memori saya mengingatkan bahwa orang ini adalah orang yang tidak usah diterima nge-net di sini daripada bikin masalah. Lalu tanpa senyum saya berkata :

“maaf nih, yakin mau nge-net? Nanti kalau koneksinya dudul, ga marah-marah?”

Dengan kalem dia bilang : “ga pa pa bu. Sekalian beli voucer game on line ya bu.”

Masih dengan jutek saya layani permintaannya. Sambil blogwalking, saya menunggu reaksi dia selanjutnya. Eh, kok dia anteng ya? Ngapain ya ini orang? Saya curiga dia macam-macam, bisa jadi karena saya terlalu parno dengan sikap negatif klien yang karena tidak suka sama warnet tertentu bisa mencelakai, sehingga saya memerlukan untuk memeriksa aktivitasnya. Eh normal kok, dia sedang maen game. Ya sudah, saya jadi ikut-ikutan anteng blogwalking.

Lewat setengah jam, tahu-tau dia muncul di depan saya dan bilang voucer game nya tidak bisa digunakan. Saya yang sudah mangkel sama orang ini sedari dia datang, langsung saya sahuti dengan jutek tingkat tinggi, ya sudah tinggalkan saja nanti kami ajukan klaimnya, tapi refund baru bisa dilakukan jika sudah dapat konfirmasi dari publisher. Dengan kalem dia bilang mau mencoba lagi saja sekali lagi.Tidak berapa lama terdengar suaranya bilang berhasil bu, saya tadi salah memasukkan kodenya. Saya cuma tersenyum tapi tidak manis :P

Kok ada sesuatu yang tidak pas ya? Saya mencoba mengingat-ingat orang yang saya pikir adalah klien ini, dan tiba-tiba saya meragu, jangan-jangan klien ini bukan orang itu???? Orang itu yang saya maksud adalah  seorang klien yang pernah nge-net di sini beberapa waktu yang lalu,  di saat kondisi warnet yang sedang penuh, sementara koneksi yang memang kurang stabil sejak tsunami di Jepang (menurut provider yang kami gunakan-bukan speedol tentu saja-biasanya yang mengakses fesbuk cukup menggunakan koneksi lokal,tapi sejak tsunami di Jepang ada masalah di-apanya gitu saya kurang jelas sehingga akses fesbuk terpaksa dialihkan ke jaringan internasional, sementara jatah bandwith untuk koneksi internasional jelas lebih sedikit ketimbang koneksi lokal).  Orang itu kemudian marah-marah karena dia tidak sukses bermain poker, dan meminta uang dikembalikan. Tapi saya bersikeras tidak mau mengembalikan, karena toh jika tidak puas sekarang, nanti bisa digunakan lagi waktunya alias waktu bisa disimpan untuk beberapa hari ke depan. Apalagi, dari sekian puluh klien yang sedang OL, dia sendiri yang mengeluh, padahal permasalahan sudah disampaikan sedari awal. Memori saya bekerja keras membandingkan rupa kedua orang ini, dan ternyata mereka seperti serupa pada awalnya tapi yang jelas klien pagi ini bukan orang itu.

Maluuuuuuuuu sekali dan tentu saja rasa bersalah menguasai diri, langsung saya datangi biliknya dan meminta maaf. Saya merasa harus menceritakan apa yang terjadi, dan meminta maaf berulang kali. Terima kasih Tuhan, saya beruntung klien ini bukan tipe yang mengerti dijutekin, dengan senyum polosnya dia bilang memang dia buka orang itu karena dia tidak pernah main poker. Duh, Gusti! Walau dia bilang dia memaafkan saya, tapi saya merasa tidak tuntas begitu saja, saya merasa sudah begitu jahat. Orang lain yang berulah, dia yang terkena imbasnya, sangat tidak pantas toh?!

Jarang-jarang saya salah orang seperti ini, entah efek kurang tidur, atau efek kecemasan yang mendera. Ya sodara-sodara, sejak tadi malam kecemasan tingkat tinggi mendera berkaitan dengan preman mabok yang saya ceritakan kemarin, dia datang dan mengancam suami saya bahkan dia mondar mandir terus di depan warnet. Ditambah lagi informasi dari penjual gado-gado di samping ruko bahwa preman mabok itu baru keluar dari prodeo dan pastinya sedang mencari mangsa baru untuk dikerjai. Doooh….!!! Sementara untuk lapor polisi kok rasanya ga bakal ditanggapi, pasti polisi juga males ngurusin hal remeh temeh seperti ini. Saya kemudian mencoba menenang-nenangkan hati dengan berdoa semoga dia cukup mabok dan tak sanggup untuk sliweran lagi di sekitar sini, semoga dia terus tertidur dan melupakan kami.

Itulah yang terjadi sebelumnya sampai klien yang ini mendapat perlakuan yang sangat tidak pantas dari saya. Sungguh, saya tidak sedang mencari pembenaran terhadap sikap saya yang tidak pantas pada klien itu, dan saya cukup beruntung karena klien itu tidak terlalu peduli terhadap kejutekan saya. Semoga saja dia tulus ketika dia berkata tidak apa-apa, ya semoga!

Benci tapi Butuh!

Setahun yang lalu dia datang ke warnet ini dan sejak itu dia menjadi pelanggan kami. Kedatangannya yang pertama itu dia sempatkan menawari kami untuk menjadi agen laundry yang dia kelola. Oh, ternyata dia pengusaha laundry yang katanya nomor 1 terbaik. Saat itu sebenarnya saya sudah berulang kali minta persetujuan suami untuk membuka usaha laundry kiloan hanya saja gagal terus. Alasan suami sih agar saya tidak terlalu sibuk *sigh* Jadi sempat ada pikiran kok seperti dejavu begini ya?!

Hari itu kami mengobrol panjang lebar, dia bahkan bercerita kalau dia pernah buka usaha warnet tapi pengguna internet belum semarak sekarang, sehingga dia memutuskan beralih ke urusan cuci mencuci tadi. Saya sendiri memang melihat prospek usaha ini sangat bagus, terlebih daerah ini dipenuhi karyawan pabrik yang hampir semuanya perantau, dan tentunya sudah kehabisan tenaga untuk urusan cuci-cuci dihantam sistem kerja yang shift-shit-an itu. Saya sudah menghitung dari jumlah karyawan yang ribuan itu, jika 10% nya saja menjadi pelanggan tetap laundry yang dikelola pastinya dapat hidup. Ah, khayalan saya semakin melambung jauh :D

Berhubung membuka usaha laundry gagal di urusan perizinan domestik, maka saya mencoba melobi suami untuk memberi ruang sekedar menjadi agen laundry yang ditawarkan oleh klien tadi. Lagi-lagi, saya harus menelan pil pahit dong alias proposal saya ditolak mentah-mentah dan masih dengan alasan yang sama. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus mengasah amunisi untuk satu hari nanti siap ditembakkan lagi :D

Si klien rajin berkunjung bahkan dia pun menjadi pelanggan tetap warnet ini, dan kemudian menjadi member agar mendapatkan tarif yang ramah kantong. Sebenarnya saya sudah menggunakan jasa laundry sejak mengurusi warnet ini, hanya saja saya belum menggunakan jasa laundry si klien. Untuk pindah ke lain hati, kok masih ragu, apalagi belum mengetahui kualitas laundry dia. Pepatah yang berkata tak kenal maka tak sayang, betul adanya.

Sampai waktu Lebaran tiba, laundry yang saya pakai libur hampir 2minggu, saya kelabakan dong?! Sangat tidak mungkin menumpuk cucian kotor selama itu, bisa-bisa terpaksa sediain budget lebih untuk beli baju baru :D Bisa jadi saat yang tepat sudah tiba, ketika saya mengetahui kalau laundry si klien ini ternyata hanya libur pas hari Lebaran saja! Weitsss… mantab dong? Boleh dicoba niy. Apalagi katanya ada fasilitas jemput-antar. Makin suka deh. Cuma 2hari pula prosesnya. Padahal laundry yang biasa saya pakai membutuhkan waktu 4hari, dan harus antar-ambil sendiri. Repot!  Urusan antar-ambil saja bisa terjadi perang di rumah karena penyakit malas dan ogah sering menyerang suami, sementara untuk mengambil sendiri saya tidak sanggup karena berat dan harus ngangkot. Yang ada malah saya jadi ngotot pengen belajar motor :D

Eh, masih juga belum rela rupanya untuk mencobai laundry dia, karena tertarik sama laundry yang baru buka persis di depan warnet. Tapi pada kencan pertama itu saja sudah membuat saya memutuskan tidak ada kali kedua, karena baju yang tertukar dan kondisi yang bau apek. Sepertinya belum kering betul sudah dikemas ke dalam plastik.

Akhirnya, cucian kotor kami berlabuhlah ke laundry si klien. Rasanya tidak fair karena mencobai orang lain mau, tapi kok mencoba jasa mereka ogah?! Sementara si klien masih rajin menggunakan jasa warnet ini, bahkan betah menghabiskan separuh waktunya untuk bermain game favoritnya.

Ok, kencan pertama sukses. Cucian diambil, dan 2hari kemudian cucian bersih sudah disetor balik. Padahal katanya karena libur lebaran mungkin cucian akan telat disetor balik eh ternyata tidak tuh. Senangnya pula ketika mengetahui proses cuci di laundry itu dikerjakan per customer sehingga sangat kecil kemungkinan tertukar cucian dengan orang lain. Bagusnya lagi, kami tidak menemukan tag-tag yang membuat kain rusak yang selama ini disematkan oleh laundry yang lain sebagai penanda cucian itu adalah milik pelanggan A misalnya.

Selanjutnya kami pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap si klien. Pertengkaran soal ambil antar cucian kotor pun menghilang dari peredaran. Hasil cucian yang maksimal pun berbanding lurus dengan harga yang 20% lebih mahal dari laundry yang lain. Ada harga ada kualitas dong?!

Tapiiiiiiiii……………..bulan madu di antara kami tidak berlangsung lama. Janji setor cucian bersih 2hari, jadi mundur sampai seminggu. Mulai jengkel. Pertama masih enak ‘komplain’ langsung ke si klien, dan cucian langsung diantar setelah si klien menelpon anak buahnya. Dua kali tiga kali seperti itu, kok saya jadi pekewuh juga ya untuk menyampaikan hal yang sama terus kepada si klien. Lagipula dia datang ke warnet ini kan sebagai pelanggan, saya kok merasa tidak fair buat dia ketika dia mau having fun dengan game kesayangannya, kok saya malah komplain?!

Sejak itu saya komplain langsung ke orang yang mengambil-antar cucian. Bahkan sempat saya beri ultimatum, jika memang tidak sanggup memberi pelayanan seperti dulu lagi, ya sudah kami berhenti saja. Eh tidak mempan lho?! Masih juga begitu terus. Andai saja saya menemukan laundry lain dengan kualitas yang kurang lebih sama, sangat pasti saya akan pindah ke lain hati. Sampai bingung sendiri mau bagaimana ya?

Pernah satu kali saya tidak tahu kalau si klien sedang berkunjung dan ternyata dia mendengar ocehan saya terhadap karyawannya. Saya sempat merasa tidak enak *aneh ya saya yang dirugikan tapi kok saya yang merasa tidak enak coba?* tapi melihat dia yang menanggapi ocehan saya dengan santai *kalau tidak mau bilang cuek*, perasaan sungkan tadi ikut raib seketika.

“Emang udah berapa hari cuciannya, mba?”

“sudah seminggu, mas.” gelagapan karena kaget.

“masak sih? coba saya tanya ke orang saya.” langsung terjadi komunikasi antara dia dan karyawannya. Lalu begini katanya.

“tunggu aja mba, ntar lagi juga datang.”

Helloowww…..? Tadi saya udah ngoceh dan dia tenang sekali menghadapinya, seolah-olah keterlambatan yang sudah sering saya keluhkan ini bukan hal penting untuk ditanggapi. Tidak berselang lama cucian bersih datang, cucian kotor di ambil, dan kepergian sang kurir diiringi pesan saya untuk mengantarkan kembali sesuai janji, paling telat ya 3hari deh. Itu batas toleransi saya.

Si klien yang mendengar pesan saya cuma mesem-mesem yang bikin darah mendidih. Tapi namanya butuh, mau bagaimana lagi???

Sampai satu ketika, saya lagi jengkel karena cucian bersih belum diantar padahal udah seminggu, eh pas si klien datang. Tanpa ba bi bu nyerocos deh.

“Mas, laundry-nya lagi ramai banget ya?”

“Biasa aja mba, emang kenapa?”

“Itu … biasa deh, soal anterin cucian bersih, udah seminggu lebih. saya juga udah tanya2 terus, tapi boro2 ditanggapi mas. Padahal dulu kan janjinya cuma 2hari, sekarang udah seminggu aja masih aja ga dianterin. Maksud saya, kalau emang rame, ya udah saya ambil deh, ga pa pa namanya saya yang butuh ini.” saya munafik, sebetulnya saya mau marah-marah, tapi berhubung dia sedang berkunjung sebagai klien jadi deh ngomongnya menye-menye begitu.

“Masak sih? Coba saya telpon ya.”

Saya menyimak percakapannya dengan anak buahnya.

“ini cucian warnet belom dianter?”

“……………”

“hla? katanya blum ini.”

“mba, udah dianter kok, cek lagi deh, siapa tau mba nya ngga ngeliat pas datengnya.”

“jiaahhh mas, mosok kalau udah dianter cucian kotor masih di sini, kan biasanya juga barter. Liat aja sendiri tuh, di kotak tempat naro cucian ga ada cucian bersih kan?” mulai jengkel.

“ini katanya belum diantar. di situ ada ga cuciannya?”

“……………”

“ya udah antar sekarang, saya sedang di warnet sini.”

Tidak sampai 10menit si kurir datang cengar cengir.

“maaf bu, saya kira sudah diantar sama rekan yang lain.”

“ya udah, ini cucian terakhir deh, saya mau lihat bisa antar dalam waktu 2 hari apa tidak. klo tidak, ya ga pa pa, saya ngerti kok laundry kalian laris sehingga pelanggan yang punya cucian sedikit seperti saya jadi nomor sekian.”

“maaf bu, 2hari lagi saya antar.”

“janji?”

“iya bu.”

Itu kejadian 1minggu yang lalu, janji ditepati setelah saya ingatkan via sms. Dan sudah seminggu ini cucian bersih belum diantar juga, saya sudah hubungi juga, tapi tidak direspon. Sangat dilematis! Kalau pemilik laundry itu bukan klien warnet ini, maka sudah pasti saya akan bebas bicara dan langsung pindah ke lain hati.

Saya jadi berpikir sendiri, semoga saja apa yang menjadi pemikiran saya ini bukanlah bentuk judgement sentimen terhadap dia, tetapi memang saya betul-betul heran, bagaimana si klien ini begitu pede untuk go franchise sementara kualitas pelayanannya seperti sekarang ini??? Bahkan anehnya ketika saya menanyakan kenapa harga member yang diberikan kepada saya  jauh lebih mahal daripada harga di paket-paket yang sudah di upload di situs resminya, dengan enteng dia menjawab : oh itu baru di upload aja, belum dirilis. Wew!

Yang paling bikin saya munek-munek (ini bahasa mana ya?) adalah ketika dia dengan teganya menghempaskan mouse ketika koneksi dudul yang mengakibatkan dia keluar dari game yang sedang dia mainkan. Sakiiiiiiiiiit rasanya di hati ini, jadi teringat cucian yang ngadat2 pelayanannya. Belum lagi   ketika koneksi tidak juga membaik, dia bisa lho ngeloyor pergi dengan membanting pintu. Jedeeerrrr!!! Duh! *ngelus dada* Tidak jarang ketika koneksi dudul, saya berdoa agar dia tidak usah datang hari itu. Atau ketika koneksi dudul  dan saya melihat motornya dari jauh, langsung saya minta suami untuk cegat dia agar mengurungkan niatnya nge-net karena koneksi dudul. Bete-nya dia sering tidak percaya, sehingga tetap saja on line dan ujung-ujungnya saya sudah bisa tebak.

Ok, fine! Take it or leave it! :D Saya berharap bisa semudah itu. Tapi kenyataannya tidak. Sampai hari ini saya masih berusaha menahan diri menghadapi satu klien ini, saya masih memikirkan cara yang elegan untuk menyampaikan betapa saya tidak bisa menerima hempasan mouse dan pintu jika dia sedang kesal.

Semoga setelah tulisan ini di-publish, tiba-tiba saya dapat wangsit LOL