Permainan kata-kata tidak sama dengan permainan pedang-pedangan
Ditusuk pedang sungguhan sakitnya bisa diobati asal jangan kena jantung ya susahlah karena biasanya pasti mati yah, tapi kalau masih ditusuk sama pedang-pedangan ya aman. Sementara kalau ditusuk sama kata-kata? Kata-kata itu tajamnya seperti silet, dan tak jarang pula diibaratkan bak pisau bermata dua. Karena luka yang disebabkan oleh kata-kata hanya waktulah yang bisa menyembuhkannya.
Category Archives: Cermin
Kisah si “Peuyeum”
“…….kenapa *peuyeum* buah tangan seorang `Insinyur` lebih bisa dihargai *orang* daripada buatan seorang pengangguran? pdhl hasilnya sama aja…..”

Begitu teks yang ditulis swami di Plurk.
Hmm… tidak seperti biasa niy, kok swami bikin ‘status’ kek gitu yah….
Mungkin akan ada segelintir orang yang paham, karena lagi2 ini masalah apresiasi.
Sempat menjadi perbincangan yang hangat pagi tadi sambil menyantap sarapan nasi uduk yang gurih dan enak ditemani teh tawar yang panas.
“A, baca deh ini …. tadinya pengen tth kasi komentar bla bla … “
“Bikin aja … “
“He? Aa ga marah klo tth tulis begitu?”
“Engga, bikin aja.”
Swamiku yang pendiam dan tidak banyak bicara, sehingga sulit bagiku mengartikan diamnya, marahkah dia? Sampai aku membaca statusnya yang di Plurk itu, maka mengertilah aku. Tapi aku batal mengomentari (lagi) status seseorang itu, tepatnya siy menunda, karena tidak mau meninggalkan jejak negatif hehehe … (2010 ini pengennya positif2 aja deh).
Cuma rupanya status seseorang itu meninggalkan kesan yang mendalam (kekecewaan) bagi swami sehingga menuliskan seperti itu di Plurk. Ya sudahlah,selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan?! Begitu pula kali ini, ‘feeling’ istri mungkin tidak selalu benar, tetapi mungkin patut dipertimbangkan. Seseorang itu memang tidak tau bagaimana ‘hectic’nya swamiku, namun masih menyempatkan diri (tepatnya memaksakan diri) untuk menyanggupi dan menyelesaikan permintaan teman-teman yang sangat dia hargai.
Tetaplah berbuat baik, walau terkadang harus menuai kecewa