Nanti Juga Bisa

“Nanti juga bisa.” begitu kalimat yang paling sering diucapkan bapa dulu waktu masih kecil.

Kalimat itu akan terus diulang bapa kalau kami masih membandel. Dan biasanya itu pas kami menonton satu acara di tivi. Melekat mata kami seperti tak mau lepas. Padahal sudah masuk waktu belajar di malam hari. Masa itu, kesal sekali hati kami. Pastilah ya, apalagi itu film bagus, dan kami pikir nanti-nanti tidak akan tayang lagi. Dan waktu itu kami memang yakin, kalau film itu tidak akan tayang lagi.

“Dikira bapa kita bodoh kali ya, mana mungkin film bagus ini akan tayang lagi beberapa tahun ke depan.”

Bertahun-tahun kami meyakini apa yang ada dalam pikiran kami. Sampai kepada hal bersenang-senang pun, kalimat itu sering dilontarkan bapa.

“Nanti juga bisa senang-senang itu. Yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar! Tidak usah mikir macam-macam.”

“Nanti juga bisa pacaran itu, yang penting sekarang, tugas kalian belajar, belajar, belajar!”

“Nanti juga bisa …. nanti juga bisa …..” Sampai bosan kami mendengarnya. Sudah pasti kami tirukan kalimat yang sama jika bapa sudah mulai mengulangi kalimat ini. Benar-benar bosan.

Continue reading

Tugas Sekolah

Ibu-ibu … bapak-bapak, punya anak yang duduk di bangku SD? SMP? Atau mungkin sudah SMA? Sering tidak anak-anak mengeluh tentang tugas sekolah yang membuat mereka kleyengan tujuh keliling? Jangan-jangan emak dan bapak sibuk nge-blog, malah ga tau ya kesulitan anak-anak? Bisa jadi anak-anak ga cerita karena merasa bisa menyelesaikan sendiri. Jangan-jangan orang tuanya   cuma mau tau beres karena telah membekali sejumlah uang untuk biaya print tugas-tugas itu. Silahkan  deh diingat-ingat :)

Tulisan ini masih ada kaitannya dengan postingan saya sebelumnya,  tujuannya tidak lebih tidak bukan, agar semua pihak, ya pelajarnya ya gurunya ya orang tuanya, mau introspeksi ke dalam.   Guru pun  bisa lebih bijak dalam memberikan tugas, dan lebih jeli lagi mencari cara mengajari anak-anak didiknya, kalau bisa diminimalisirlah itu tugas prant print. Biar sama-sama kita mendukung gerakan  GO GREEN.

Para murid juga   mau lebih menyimak tugas-tugas yang diberikan para guru. Orang tua?   Mulailah masuk ke dalam dunia anak-anakmu, jangan cuma tahunya memberi uang dan uang. Bila perlu protes tuh guru kalau ngasi tugasnya ga masuk di akal. Masak anak SD disuruh cari kliping di internet? ‘Kan itu jelas2 merepotkan orang tua,   hla wong anak-anak itu  saja belum   tahu kok  cara mengerjakannya. 99% saya yakin anak  SD mengandalkan orang lain untuk mengerjakan tugas kliping seperti ini. Terus, manfaatnya apa?  Lalu, gambar2 tadi, yang sudah dicetak rapi itu  nggo opo???  Buat alas duduk? Yakin  100%  saya, kalau semua kliping itu akan berakhir nasibnya di tong sampah, cuma menunggu waktu saja, padahal  yang mengerjakannya sudah pontang panting lho. Simak saja beberapa kejadian berikut ini.

Continue reading

PRIHATIN

Prihatin! Itulah yang saya rasakan ketika berada dalam situasi seperti dialog di bawah ini. Tak habis pikir saya, apa sih yang dikerjakan para remaja ini ketika guru TIK mereka cuap-cuap di depan kelas? Apa sih yang ada di benak mereka, ketika diberikan tugas oleh para guru di sekolah?

“Bu, bisa print ga?” nadanya songong bin ketus.

“Bisa …” sambil saya julurkan tangan meminta flashdisk. Tentu saja tak lupa seulas senyum manis disertakan dong :)

“ya udah tolong print in bu.”

“ok, mana flashdisknya?”

“ga ada.”

“loh? terus datanya masih harus dicari? klo gitu, ya cari dululah.”

“saya sibuk bu, makanya mo minta diprintkan.” makin tinggi nada suaranya.

ibu lebih sibuk lagi … hehehe, kerjain sendiri aja dong. tuh temen-temenmu pun lagi ngerjain. kamu yang dikasi tugas, kenapa ibu yang mengerjakan?” mencoba mencairkan suasana. Continue reading

Salah Transfer

Tulisan ini adalah oleh-oleh dari blogwalking kemarin, berbekal pengalaman Mba Alaika yang kesalahan transfer yang jumlahnya bisa buat beli 1 unit IPAD 2. Saya juga pernah mengalaminya, memang deh kemudahan yang diberikan ebanking itu bisa juga merugikan. Bukan salah siapa-siapa, melainkan diri sendiri yang kurang teliti atau terlalu cepat dalam mengerjakan sesuatu.

Dalam kasus saya, faktornya adalah terlalu buru-buru dalam mengerjakan proses transferan yang ditugasi oleh bos untuk membayarkan sejumlah uang ke rekening supplier. Tapi waktu itu saya mencoba menenangkan diri, karena rekening penerima adalah supplier juga, dan sudah punya hubungan yang baik. Hanya saja, hubungan baik pun rupanya tidak menjamin uang bisa kembali.

Saat itu juga langsung lho saya telpon si penerima uang, jawabannya? Panjang dan berbelit-belit. Padahal jika ada itikad baik, saya kira mudah saja kok. Kita sebagai pemilik rekening pas taulah apa akan ada uang masuk atau tidak. Dan kalaupun ada, pasti sudah tau juga jumlahnya berapa. Sehingga jika ada sejumlah yang tak tahu juntrungannya yang masuk, pastilah itu bukan uang kita ‘kan?

Tapi itulah namanya kalau sedang tidak beruntung, si penerima sama sekali susah diajak bekerjasama. Diajak bertemu pun tak mau, padahal dia sempat  mengakui sudah menerima uangnya, dan pihak bank pun sudah memastikan kalau transaksi yang kami lakukan sukses.

Pelajaran mahal banget deh saat itu, sehingga menjadi lebih berhati-hati jika hendak bertransaksi via ebanking. Baru-baru ini suami hampir juga melakukan kesalahan transfer, karena keadaan yang hectic, rencana mau transfer untuk pembayaran koneksi kok malah mengisi saldo akun penjualan game on line. Untungnya, akun itu milik sendiri, andai saja masuknya ke rekening orang lain seperti pengalaman saya? Bakal nangis bombay deh :(

Jadi saran saya, demi menghindari kesalahan transfer, sebaiknya sih tidak usah deh di-save itu pemilik rekening yang biasa kita transfer. Memang sih agak repot karena setiap bulan harus memasukkan lagi setiap mau ada bayar-bayar, tapi pilih mana, repot atau salah transfer? Atau jika mau melakukan kegiatan transfer-transfer sebaiknya didampingi oleh orang lain, agar bisa saling mengingatkan. Atau lagi ya meningkatkan kehati-hatian, tidak usah buru-buru, dan memperhatikan dengan cermat nomor rekening yang dipilih.

Bagaimana dengan sohibloger, pernah mengalami kesalahan transfer yang mungkin berakibat fatal?

Jajanan Favorit

Jajanan favorit setiap orang pasti ada, entah 1 atau 2 macam, tak terkecuali saya dong. Belanja jajanan favorit biasanya dilakukan banyak orang di minimarket dekat rumah, atau banyak juga yang melakukannya sekalian belanja bulanan. Saya, belanja jajanan favorit dulu memang menggabungkannya sekalian belanja bulanan, tapi sejak punya snack corner di tempat usaha ini, maka sejak itu pula sangat jarang saya membeli jajanan favorit di minimarket atau supermarket.

Kenapa? Alasannya : MAHAL!!! Tidak percaya? Silahkan dicek sendiri, dan bersiaplah menerima kenyataan pahit ini :D Sebut saja Momogi kesukaan Bibi Titi Teliti, dengan uang 500 perak sudah dapat 1 di snack corner saya, tapi jika beli Momogi di minimarket, seingat saya harganya sekitar 600-700 perak. Khusus momogi, favorit saya adalah rasa jagung bakar atau keju.

Sama halnya dengan snack lain yang terkenal namanya seperti Chitato, Cheetos dan Qtela. Tiga-tiganya saya suka, tapi tentunya ada yang paling disuka dong, yaitu Cheetos rasa Jagung Bakar (tetep pilih ini hehehe). Kalau sudah makan ini, langsung lupa sama kandungan MSG-nya. Sementara untuk produk Qtela, saya suka dengan yang keluaran terbaru yaitu Qtela Tempe. Mirip banget rasanya dengan jajanan tempe goreng yang dibeli di Bandung itu, yang biasanya dijual bareng selai pisang yang digoreng itu lho.

Ada jajanan yang lebih murah lagi tapi enak? Tentu saja ada :D Yaitu PILUS! Sampai hari ini saya baru mengenal 2 rasa pilus, yang tawar dan yang pedas. Sebagai penyuka sambal, pastinya saya suka Pilus yang pedas dong. Apalagi jika dicemil pas makan bakso atau mie ayam. Lengkap banget dah!

 
Masih ada lagi untuk kelas coklat murah, seperti chocolatos, dan fonnut. Tapi untuk fonnut, cukup 1x saja mencobainya, dan engga ketagihan sama sekali. Beda dengan chocolatos, bisa lupa diri dibuatnya, jadi harus ingat-ingat kalau itu dipajang buat dijual, bukan untuk saya makan hehehe

Apakah saya setiap hari memakan jajanan favorit itu? Tergantung sih! Walaupun tinggal comot, tetapi sering lupa juga. Kecuali saya yang duduk di kasir, karena para asisten tidak ada seperti sekarang, minimal 1 bungkus pasti masuk juga sih ke perut. Kadang sekaligus semuanya, cheetos + pilus + chocolatos, kadang pilus saja, atau cheetos saja. Kadang-kadang tidak makan satupun sama sekali.

Entahlah, saya susah sekali melepaskan diri dari jajanan ini. Sangat berbeda dengan minuman kemasan yang murah meriah itu, seperti Teh Gede, Ale-ale, Granita dan lain-lain lagi deh mereknya banyak banget. Cukup sekali icip, saya yakin tidak akan pernah mencoba lagi :D Terlalu manis buat saya hehehe dan bisa konsisten lho. Pokoknya kalau untuk minuman AIR MINERAL masi the best deh!

Ini tentang jajanan favorit saya, apakah sohiblogger  juga punya jajanan favorit kelas murah meriah begini? :D

 

JNE: Paket Melangsing Dari Pontianak Ke Jakarta

Sejak kenal yang namanya ekspedisi, entah itu namanya TIKI, JNE, KANTOR POS, belum pernah mengalami barang kurang, kalau hilang sudah mengalami dengan Kantor Pos, sampai sekarang charge HP Samsung yang dibeli suami via Ebay itu tak kunjung tiba.

Ini bukan sembarang cerita, dan bukan curhat tanpa bukti, karena kisah ini terjadi nyata, bahkan masih hangat lho. Kira-kira 2 jam yang lalu saya terima paket pesanan dari Pontianak, iya, saya beli snack talas setelah melihat tayangannya di TV. Ketika kotaknya datang, sedikit heran, kotaknya kok kempes yah? Terus lakbannya kok berantakan begini yah? Tapi saya berpikir, mungkin buru-buru sehingga seperti ini. Untungnya saya punya kebiasaan mengambil gambar paket yang datang, termasuk paket kali ini.

penampakan paket pas datang (25-01-2012)

Pesanan saya adalah sebagai berikut :

1. 1kg talas pedes
2. 1kg talas rasa keju
3. lempok
4. bonus dodol + teh aloe vera

Ketika kotaknya saya buka, heran dong, kok cuma ada 1 bungkus talasnya? Satu lagi mana? Akhirnya saya tanya deh si Neng Manis yang telah membantu saya memesankan barang-barang ini, dan benar saja, seharusnya ada 2 bungkus talas di dalam.

Lalu, saya menimbang barang-barang yang saya terima, isinya total cuma ada 2.6kg, padahal di resinya berat barang 4kg. Itu artinya ada selisih 1.4kg. Itu artinya ada barang yang hilang? Kok bisa? Hmm …

Lalu, saya mau komplen dong saya yang punya JNE, buka situsnya maintenance, telpon ke cabang, tidak ada yang angkat. Telpon ke pusat sama saja, pulsa telpon habis 30menit lebih selama saya menuliskan ini masih belum diangkat, jadi telponnya sudah masuk, tapi masih menunggu operator angkat. Masak sih saya harus datangi kantornya seperti mba Susi yang langsung piknik di PLN karena mati listrik???

JNE, bagaimana niy pertanggung jawaban kalian? Saya minta diganti pulsa nelpon, diganti talasnya, sama rasa malu teman saya yang jadi kesal berlipat-lipat karena bantuannya jadi cacat deh gara-gara JNE tidak profesional. Berharap sih ada JNE yang baca dan menanggapi keluhan ini, karena tinggal ini satu-satunya cara yang saya tahu, selain mengirimkan keluhan via SURAT PEMBACA DETIK.COM.

 UPDATE 27JAN
09.09 : Kemarian janji P.Uli dari JNE mau kasih kepastian sebelum jam 12.00, tapi sampai detik ini, no calls at all! Hebat ‘kan?!

10.51 : Kurir yang antar barang kemarin datang, dan menanyakan lagi barang yang hilang. Masih tanya, jadi ibu maunya bagaimana? hadeh hadeh …. ya maunya barangnya ada dong, sesuai kiriman ajah, ga usah dilebihin pastinya jangan dikurangin juga :D

Beda Umur

Tulisan Pak Mars tentang BEDA UMUR dengan istri satu-satunya yang dinikahinya sampai hari ini, membuat saya ingin menuliskan tentang kenyataan bahwa telah terjadi salah kaprah yang parah di masyarakat kita tentang beda umur yang ideal bagi pasangan yang akan menikah. Saya katakan salah kaprah karena seringnya pasangan yang beda usia banyak disikapi seolah-olah melakukan dosa besar yang pantas dihujat, dihina dan dipermalukan sesuka hati.

Kisah tentang Pak Mars yang menyunting murid kesayangannya, membuat saya teringat pada kisah guru SD saya dulu, yang perbedaan usianya sampai belasan tahun, yang mana guru pria ini jauh lebih muda dari yang perempuan. Yang perempuan adalah guru merangkap kepala sekolah merangkap pemilik sekolah merangkap penilik sekolah :D Perempuan super deh pokoknya, yang kalau masih ingat tulisan saya yang ini, kami memanggilnya Ibu Kacamata.

Dulu, sering saya dengar bisik-bisik para ibu yang mengantar anaknya sekolah, dan bisik-bisik itu tetap sama bunyinya ketika saya sudah duduk di bangku SMP. Awet ya? Hehehe …

“Bodoh kali lah pak guru itu ya, kok maulah dia sama Ibuk itu, padahal ‘kan dia itu ganteng, pasti dia ngincar duit ibu ajalah.”

“ah paling juga bentar lagi mereka cere, mana bisa awet klo kek gitu tuanya perempuannya.”

“ibuk itu pun ga tau dirilah, kayak ga ada lagi aja laki-laki lain yang bisa dijadikan suami, kok kawin dia sama pak guru yang masih muda kek gitu.”

Dan masih banyak bisik-bisik yang sebetulnya tak pantas didengar anak kecil seperti saya waktu itu. Sempat pula saya berpikir, iya ya, Pak Guru itu ganteng, tinggi pula, pinternya ga usah ditanya, tapi kok dia mau ya sama ibuk kacamata? Bisik-bisik yang saya dengan sukses membuat saya berpikir dan memperhatikan pasangan tidak biasa itu. Tanpa sengaja saya jadi seperti menunggu akhir dari pernikahan mereka. Sampai saya mudik tahun 2009 kemarin, saya dengan sengaja mendatangi sekolah saya tersebut dan saya menemukan Pak Guru sedang berbenah seorang diri. Saya melihat sendiri, betapa dia tetap setia sampai akhir, sampai ibu kacamata berpulang ya tetaplah itu istrinya. Sayangnya saya lupa menanyakan apakah dia sudah menikah lagi atau belum, setidaknya dia – mereka sudah mementahkan bisik-bisik para ibu dan orang yang ada di sekitar mereka. Semua bungkam dengan sendirinya. Saya salut sangat terhadap mereka, yang hubungannya tak goyah cuma karena bisik-bisik tetangga. Tetap setia sampai akhir hayat dikandung badan. Tetap bersama walau tak hadir seorang anakpun di antara mereka. Bahkan, dengan rendah hati mereka mengadopsi sepasang anak, yang tetap diasuh dengan kasih sayang oleh Pak Guru walau Ibu KacaMata telah berpulang.

Mungkin mereka adalah segelintir (atau kebanyakan?) pasangan yang beda umur tapi berhasil menjalani kehidupan rumah tangga samara, dan saya rasa, saya harus ingat baik-baik, bahwa tak perlulah menghakimi orang lain dalam hal apapun, karena pada kenyataannya masing-masinglah yang lebih tahu tentang apa yang sedang dan akan mereka jalani. Bukan begitu? :)

Nawar Kok Nemen Sih?

Pertempuran Kecil di Pagi Hari  yang tayang Jumat pagi di markas BlogCamp, mengingatkan saya pada kejadian minggu yang lalu di sebuah pasar tradisional di Tangerang sana. Jadi sebelum menyambangi rumah yang hampir disabotase orang itu, si teman yang menjemput saya minta ijin mampir ke pasar dulu untuk belanja mingguan. Maklumlah, ibu-ibu pekerja ‘kan memang harus mempersiapkan segala sesuatunya agar pas hari kerja tidak direpotkan lagi sama urusan belanja.

Baru beberapa menit berbelanja, saya mulai diliputi perasaan rikuh. Apa pasal? Itu lho, teman saya ini kalau nawar itu nemen deh, bingung juga saya. Akhirnya saya memilih menjauh dengan alasan mau lihat-lihat, padahal sih sakjane saya itu tidak tega saja. Dan nyangsanglah saya di penjual bumbu yang tadi sudah kami belanjakan sejumlah uang di sana.

Percakapan ringan dimulai dari jahe impor yang sudah mulai kisut, penampakan jahe impor yang sangat bersih dan gemuk, jangan bandingkan jahe lokal yang bertanah-tanah dan kurus. Tapi saya lihat pembeli masih setia dengan jahe lokal tuh, alhamdulillah yah :)

“Mba temennya ibu yang tadi?”

“Iya, bu, kenapa?”

“ihhh temennya kalau belanja gitu deh, nawarnya ampunnn …”

“eh? masak sering begitu?”

“iya selalu begitu. padahal kita juga ngasih harganya ga keterlaluan kok, wong penjual lainnya banyak, sudah mau mampir aja kita udah seneng, mosok dimahalin.”

“yaahhh begitulah bu, namanya juga emak-emak, umumnya kan emang senengnya nawar toh heehehe …”

“Iya mba, nawar sih boleh cuma ya jangan nemen gitu lhoo…”

Saya berlalu sambil tersenyum. Membayangkan proses belanja tadi. Beli cabe 2000, minta dicampur, sudah dibungkusi eh langsung nyomot cabe keriting dan bilang tambahin dong … eh kurang niy, 2000 lagi deh, begitu lagi, sukanya nambahin sendiri hehehe di tukang sayur ya gitu, sukanya nambahin sendiri …

Saya tidak membela pedagang dan menyalahkan emak-emak yang model begini, karena emang kudu ada emak-emak model begitu, agar emak-emak yang belanjanya seperti saya, yang ga rewelan, yang ga suka nawar, bisa lebih dihargai sama si pedagang. Ngenes aja ‘kan kalau emak-emak seperti saya ini, masih juga dibohongi timbangannya, atau kualitas barangnya, atau harganya dimahalin.

Eh bicara tentang kualitas barang, jadi inget 1 dus jeruk ponkam yang saya beli di supermarket, saya pikir ‘kan kalau sudah didusin mestinya barangnya bagus, jadi saya tidak bongkar lagi, wong udah rapi, tinggal tenteng, tapi pas sampai di rumah itu jeruk dibongkar suami ketemu aja gitu yang busuk hehehe … ampon dah ah, masih untung sih isinya manis semua, coba kalau sebaliknya? Udah busuk, asem pula, wew … tergantung amal perbuatan kali ya hihihi

Jadi emak-emak sejagat raya, saya himbau niy yaaa … kalau pas belanja tuh, nawar ya boleh, cuma itu tadi .. inget, jangan nemen! Kalau mereka jualannya ga untung, gimana bisa mereka tetep jualan? Iya ‘kan? Yang wajar-wajar aja deh, berbagi rejeki gitu … :)

 

Kerupuk Getas

Pertama baca tentang Kerupuk Getas ya pas Arman komen di sini. Radar otak saya langsung sibuk searching mencari wujud Kerupuk Getas itu seperti apa gerangan. Apalagi kalau katanya enak dimakan dengan mie instan berkuah … hmm … pasti saya kenal. Tapi setelah beberapa lama kok gambarannya belum tampak juga ya?

Terpaksalah saya andalkan jasa Mang Gugel, dan keluarlah gambar dibawah ini.

sumber : google

Nyengir sendiri saya, hlaaa wong itu kerupuk favorit saya sih, cumaaaaaaaaaa saya tidak pernah tahu namanya *mringis malu* Asal cemilan ini dari Bangkapun baru ngeuh, parah banget ‘kan? Kemana aja coba saya selama ini? huh!

Tidak apalah, setidaknya sekarang saya tahu nama kerupuk ini. Jadi besok kalau saya makan baso, dan mau kerupuk ini, tidak lagi bilang : “bang kerupuk yang bulet2 itu mana ya?” hehehe itulah nama kerupuk itu selama ini. Abang penjual baso juga tidak pernah meralat kesalahan nama yang saya buat. Mana juga dia peduli ya? Huehuehue ….

Ok, sekarang pertanyaan mendasar, siapa yang mau mengirimi saya Kerupuk Getas ini? hihihi …. ga enak yang kalimat penutupnya? Hahaha biarin ah, sekali-sekali ga enak boleh dooooong ……….. :D