Cerita Blogwalking (lagi!)

Hampir semua blogger pasti pernah blogwalking, termasuk saya. Belakangan saya sudah lebih bisa mengatur waktu sedemikian rupa untuk mampir ke blog teman-teman. Kehidupan saya yang hampir 24jam di dalam kotak berukuran 4x10m  sejak setahun terakhir ini, lumayan mendapat warna baru dari kegiatan blogwalking tadi. Awal-awal blogwalking dulu, cuma baca-baca terus pergi menjelajah ke blog yang lainnya. Belum berani ninggalin jejak :D

Semakin ke sini, sudah mulai berani, eh malah dapat kunjungan balasan. Ah senangnya! Ini adalah kali ke-2 saya menulis tentang kegiatan blogwalking, yang pertama bisa dibaca di sini.  Dampak blogwalking pun beragam. Ada yang membuat saya semakin semangat menulis, tapi ada pula yang membuat saya menjadi minder.

Tulisan seperti apa siy yang bikin minder? :D Bisa minder juga toh? Hehehe … Itu lho, tulisan yang isinya bagus, gaya menulisnya juga keren, dan tentu saja topiknya pun bervariasi, apalagi kalau isinya ulasan-ulasan wow … salut deh. Saya minder karena setiap berusaha menulis yang model ulasan-ulasan begitu kok tidak pernah selesai ya :( Maksudku begini, seperti halnya orang lain, pastinya saya juga punya pandangan tersendiri terhadap kasus yang menimpa Ayu Azhari vs anak2nya; atau kasus LPI – PSSI; atau masalah TKW/I. Ketika saya cuma berdiam diri memikirkan semua itu, saya merasa kalau dituangkan dalam tulisan pasti menarik (minimal buat saya!), tetapi ketika saya mulai duduk di depan komputer seperti sekarang ini, baru juga satu kalimat, udah stuck, di otak udah selesai, tapi tangan kalah cepat. Padahal, kemampuan mengetik saya menggunakan sepuluh jari dan merem pun bisa ngacir. Aneh ‘kan?

Lalu ada tulisan yang justru memberi inspirasi untuk menulis, salah satunya tulisan BEING A MOM – nya Bibi Titi Teliti. Ketika membaca tulisannya, di dalam hati saya berkomentar : “kapan yaaa saya mengalami pengalaman Bibi ini? Kira2 nanti saya sanggup tidak ya menghadapi kerepotan seperti yang dihadapi Bibi ini? blabla bla…”  Tetapi ketika selesai membaca tulisannya, dan ketika mau meninggalkan jejak tiba2 saja teringat, eh saya juga kan bisa menuliskan versi ini dengan judul yang berbeda misalnya : BEING AN AUNTY! hahahaha … jangan bilang saya tidak kreatif ya, karena saya yakin ceritanya pasti berbeda … *ya iyalah wong pelakunya juga beda hahaha* Boleh nyontek ya Bi? :D

O iya, ada satu lagi yang membawa dampak positif untuk urusan perBLOGan, yaitu sejak saya mampir ke blognya Stephen Siregar, sekarang saya sudah mulai aktif lagi menulis di blog yang sejak awal memang menggunakan Bahasa Inggris, bahkan blog ini lahir lebih dulu daripada blog yang berbahasa Indonesia ini.  Namanya juga sama, sama-sama Nicamperenique, cuma bedanya yang versi English pakai dot com, sementara yang versi Indonesia menggunakan dot me. Mengenai isi tulisannya, tentu saja berbeda, jadi bukan versi translate lho

I’m so lucky, mengawali tahun baru dengan semangat baru, semoga dapat terus menjaga semangat ini :)

Seberapa Pedulikah Kita?

Senang sekali mempunyai kebiasaan bangun pagi, jadi semakin kaya rasanya karena punya banyak waktu untuk memulai aktifitas tanpa dikejar-kejar rutinitas lainnya. Dan pagi ini saya jadi berkesempatan untuk mampir ke blognya mas Vavai kemudian menemukan tulisannya tentang ‘minimalis’ yang kemudian saya terjemahkan sebagai penghematan dalam banyak lini kehidupan.

Seringkali memang kita tidak menyadari bahwa perubahan itu harus kita mulai dari diri sendiri. PLN memang salah karena tidak menjaga jumlah pasokan listrik pada pelanggannya, tapi apakah kita sebagai pengguna listrik tidak punya andil dalam menghabiskan pasokan listrik untuk hal-hal yang mubazir? Apalagi tak jarang saya mendengar ada kalimat seperti ini: “yaelah, yang penting kan gw bayar setiap watt yang gw pake!” Saya tidak akan menggurui orang lain, tapi ingin koreksi ke dalam. Apakah saya sudah menghemat listrik di rumah?

Saya harus mengakui dengan jujur bahwa saya BELUM berhasil mendisiplinkan diri untuk menghemat listrik. Terutama listrik yang digunakan oleh laptop + PC di rumah. Masalahnya cuma karena malas menghidupkan kembali :( Jadi tak jarang, laptop + PC hidup secara bersamaan padahal pemiliknya tidur pulas. Bahkan, karena sambungan koneksi utamanya ada pada PC, padahal yang paling sering digunakan adalah laptop, maka sangat sering PC dalam keadaan ON tapi mubazir tidak digunakan. Memalukan, bukan???

Namun, di sisi lain, saya merasa sudah mulai bisa berhemat karena kalau malam sebelum tidur, saya ingat untuk mematikan dispenser. Senang sekali bisa mengurangi ‘suara-suara’ ketika mematikan dispenser. Perhatikan deh, semua elektronik itu mempunyai suara sendiri lho. Keadaan di rumah jauh lebih ketika kita mematikan sebagian elektronik.

Perihal lain yang sampai saat ini masih mengganggu saya dan belum saya temukan solusi tepatnya adalah penggunaan plastik untuk menampung sampah basah maupun kering. Jika sampah tidak diwadahi di plastik, kasihan sama yang ‘ngangkut’, jorok dan ‘blepetan’. Bahkan, saking kasihannya sama mas-mas yang tugasnya setiap 2hari sekali mengangkut sampah dari bak setiap rumah di komplek ini, saya pernah memarahi seorang pemulung yang kedapatan sedang ‘ngoprek2′ sampah yang sudah dibungkus plastik nan rapi. Pemulung memang tidak akan menemukan apapun di kantong plastik sampah saya, karena saya selalu memilah-milah sampah kertas (kotak dari kertas rupanya sasaran pemulung juga) dan botol plastik bekas minuman. Walau sesudahnya saya jadi ‘takut’ akan diisengi oleh pemulung tersebut, karena saya seringkali membiarkan barang-barang tergeletak di halaman belakang, termasuk mesin cuci :D

Kira-kira, apalagi yang bisa kita hemat dalam keseharian ya?