Ketika terbangun tadi pagi menjelang siang, entah bagaimana pemikiran ini terlintas di benak saya, bahwa “kok manusia (saya) seperti menyogok Tuhan dengan bersedekah ya?” Entahlah, kenapa pikiran itu yang pertama kali menguasai kepala saya dan membuat saya merenungkan kebenarannya. Adakah saya telah berusaha menyogok Tuhan agar Dia memberikan kehidupan yang selalu baik sesuai yang saya harapkan? Apakah memang sudah fitrahnya manusia melakukan praktek suap menyuap ini? Atau manusia juga mencari pembenaran atau kosa kata yang lebih pantas didengar selain kata suap menyuap itu tadi, padahal prakteknya 11-12?
Tadi malam, tepatnya tadi pagi sekitar jam 2, saya mendengar berita tentang perampokan yang terjadi di sebuat warnet di daerah Pd.Kelapa. Mengerikan sekali, karena pelakunya tidak lagi menggunakan senjata tajam melainkan BECENG, yang sekali meletus bisa memporak porandakan isi kepala siapapun
Saat itu saya sedang berjaga, dan kondisi warnet penuh atas bawah. Seharusnya sih suami yang berjaga, tapi sepertinya dia kelelahan setelah seharian kami berjibaku melewati kemacetan Jakarta-Sukabumi-Jakarta. Untuk menawar kantuk, saya berjalan-jalan di parkiran di depan ruko. Pas pula pak Hansip lewat sedang patroli naik motor. Karena saya mengangguk tanda menyapa, eh si bapak jadi berhenti, dan kami pun mengobrol. Darinya saya jadi tahu kalau si bapak patroli 2-3 kali sepanjang malam. “Enak dong pak keliling pakai motor, kalau tempo hari pakai sepeda kan capek.” komentar iseng ini sebenarnya. Eh kata si bapak, enak di badan tapi gak enak di kantong, bu. Nah lo? Kok bisa? Rupanya, kata si bapak, dia pribadi yang menanggung bensin motornya. Tidak ada jatah dari kantor. Kaget juga saya, karena saya pernah baca berita kalau RT/RW dapat jatah dari atas. Kata si bapak, jatah itu mah buat pejabatnya, bukan buat operasional RT/RW. Wew! Keknya perlu ngimelin Pak Ahok deh, agar orang-orang kayak Pak Hansip ini dikasi jatahlah, kalau cuma mengandalkan iuran warga, ya susah juga.
Eh saya sudah ngelantur …
Malam tadi, saya merasa telah menyogok Pak Hansip dengan 2 botol kopi
Selanjutnya yang lebih parah lagi
Ketika pengunjung mengantri, akhirnya saya bangunkan suami untuk buka warnet sebelah. Selanjutnya saya menyampaikan peristiwa yang baru saja terjadi di daerah lain. Lalu saya bilang, bukankah sedekah menolak bala? Gimana kalau kita kasih jatah bulanan ke Pak Hansip tadi. Karena ada 5 hansip, ya digilir setiap bulannya agar adil. Suami sih setuju-setuju aja.
Dan entah bagaimana obrolan kami ini membuat saya terbangun dengan perasaan bersalah. Lalu, saya berpikir, apakah jika saya punya usaha yang lebih besar, maka saya pun akan menyogok orang-orang yang lebih kompeten untuk melindungi kelancaran usaha saya? Seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di atas sana? Entahlah …
Atau saya terlalu ketakutan sehingga kehilangan akal sehat sampai beranggapan bahwa bersedekah itu identik dengan menyogok? *istigfar*
Selamat hari Jumat teman, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah, dijauhkan dari segala marabahaya, aamiin!