Bagi yang membaca dengan seksama tulisan saya berjudul : Tidak Biasa, Biasa dan Luar Biasa – pastinya sudah tau dong kalau salah satu hal yang biasa saya lakukan adalah NGITUNG DUIT SETORAN! Kira-kira ada yang bisa membayangkan bagaimana prosesnya saya menghitung uang setoran tidak ya? Atau malah tidak merasa perlu membayangkannya sama sekali? Hehehe ….
Entahlah, postingan ini sepertinya tidak penting, tetapi saya ingin menuliskannya karena rasa ENEG yang demikian mendera setiap melihat tumpukan uang. Maaf, sama sekali tidak bermaksud sombong, tetapi silahkan anda bayangkan bilamana anda di posisi saya setelah saya tuntas berbagi cerita nanti, ok?! Karena jika boleh meminta, saya pun inginnya seperti jaman masih kerja dulu, yang mana uang ditransfer ke rekening, dan jika perlu tinggal mengambil di atm, tentu saja dalam keadaan MULUS. Iyalah, kalau uangnya keriting, tentu tidak bisa lewat mesin atm toh?!
Mari kita mulai saja, apa sih yang membuat saya merasa ENEG melihat tumpukan uang.
Dalam sehari saya pasti menerima 3 tumpukan uang yang jumlahnya tentu saja beragam. Dari masing-masing tumpukan uang itu ada lembaran 1000, 2000, 5000, 10000, 20000, 50000 dan 100000. Selama ini sih yang mendominasi lembaran 1000, 2000, dan 5000. Jika mood sedang bagus, setiap hari uang itu dibereskan, yang kusut dielus-elus sampai licin – bagian ini yang paling melelahkan. Makanya kaum bapak niy, sering sekali suka ngepel uang, atau uang diblusukin aja ke kantong celana, mbok yaaaa dilurus2in gitu lho masukin dompet, kalo rapi pas dibelanjakan, yang nerima juga pastinya senang
Selesai dielus bin luruskan (klo kata saya mah uang kertas itu di rebonding dulu hehehe) barulah disatukan bagian kepala ketemu kepala per 10 lembar baru dilepit jadi satu. Nanti kalau sudah sampai 10lepit maka disatukan lagi menjadi satu lepit senilai 100.ooo. Hal yang sama dilakukan pada semua nominal.

Bisa tidak anda bayangkan jika setoran itu ditumpuk sampai seminggu, karena faktor tidak sempat dan malas datang silih berganti? 3shift x 7 hari = 21 ikat uang yang harus dibereskan. Setelah rapi semuanya, dipikirkan lagi kepada siapa menukarkan nominal 1000 & 2000, lebih sering saya datangi Rm. Padang yang ada di sebelah ruko. Sementara semua koin sudah pasti dilarikan ke ember tempat saya menyimpan uang koin; itupun dipisah-pisah yang 500 sendiri dan 1000 sendiri. Maksudnya, agar nanti pas mau setor ke bank, menghitung tidak salah lagi, tinggal ditumpuk per 50.000 sesuai permintaan bank.
Yang paling menjengkelkan adalah, sudah capek-capek itu mberesi uang yang menurut saya sudah rapi jali, tapi giliran setor ke bank, tellernya langsung pasang muka judes melihat tas kresek hitam yang saya tenteng
Lebih bete lagi raut wajahnya jika saya bawa tentengan sampai 2 tas kresek karena itu artinya uang recehan yang ada di dalamnya *LOL*. Sebetulnya, andai saja teller bank itu tau betapa puasnya saya melihat muka judesnya, saya kira dia akan menyesal dan balik ganti stelan wajahnya menjadi manis semanis madu hehehe
Ya ya ya …. saya pahamlah kenapa dia bete bin judes. Hla wong saya yang punya uang saja sering eneg ya lihat tumpukan uang, bagaimana para teller yang jelas-jelas cuma kebagian ngitung? Ups! Ini bentuk empati saya, sungguh! Tidak ada nada sarkasme di situ. Ini pun baru-baru kok saya menyadarinya. Ketika rasa eneg ini mendera, baru teringat saya, dan merasa wajar jika teller bank itu tidak begitu suka kalau yang datang setor menyetorkan uang recehan dengan nominal dibawah IDR 10.000. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau uang yang ditangan saya nominal 20.000-50.000-100.000 sudah pasti saya setorkan lewat Mesin Setor Tunai, demi menghindari wajah ramah si teller bank
Begitulah sodara-sodara, betapa melelahkannya membereskan uang setoran, walaupun saya tahu, akan lebih melelahkan jika tak ada uang yang mau dibereskan hehehe … Semoga setelah saya posting ini, bisa terminimalisir sedikit rasa eneg ini, karena sesungguhnya saya teramat berharap agar uang setoran bisa langsung disetorkan ke bank, tanpa perlu dirapikan – dielus-elus dan disatukan sesuai nominalnya. Ah, tapi ini cuma ada di alam mimpi, betul?!
Sejauh ini saya belum menemukan cara yang lebih efektif dan lebih efisien untuk membereskan uang kertas ini, sehingga jika ada masukan dari sohiblogger, tentu saya terima dengan tangan terbuka
Nah, curhat saya sudah selesai, kembali ke paragraf 2, sekiranya anda di posisi saya, akankah rasa eneg itu mendera anda?