Menjaga Silaturahmi

AAA

Pernahkah kita memperhatikan atau menyadari, ketika memberikan ucapakan selamat pada yang berulang tahun, kebanyakan isi ucapannya adalah “semoga diberi panjang umur yang barokah, sehat selalu dan murah rejeki (dan didekatkan jodohnya bagi yang masih single! :D)”. Lumrah banget ‘kan ucapan yang seperti ini. Bahkan hampir kehilangan makna saking lumrahnya. Padahal, kata-kata dalam ucapan itu adalah yang paling didamba hampir semua orang yang masih hidup di dunia ini. Kalau ada yang sebaliknya, itu pasti karena dia sudah jenuh dan ingin lekas menjajal kehidupan di dunia yang lain :D

Lalu, kenapa pula tiba-tiba saya membahas hal ini? Tak lain tak bukan, karena pada pertemuan bersejarah kemarin *lebay*, di mana bapaku berkesempatan lagi bertemu dengan Biudanya (adek kakekku dari bapa), meluncurlah satu kisah tentang ucapan/doa untuk yang berulang tahun yang menginspirasi tulisan ini. Bahwa di satu masa entah kapan, seorang kenalan bapa curhat, setiap ulang tahun anak-anaknya mereka berdoa seperti di atas itu. Hingga satu hari tinggallah orang tua itu berdua saja di rumahnya, dan mulai mengeluh. “Bertahun-tahun kami  mendoakan mereka agar panjang umur sehat selalu dan murah rejeki eh ketika itu tercapai kami malah sengsara karena ditinggal berdua saja di rumah besar ini. Walau setiap bulan dikirimi uang, tetap saja kami kesepian.” Mendengar kisah ini, nenekku yang biasa kami panggil ITING langsung menambahkan, mestinya doa itu ditambahkan “dan mereka tetap bersama kami sampai ajal menjemput.” Meledaklah tawa kami … spontan! Karena jarang atau bahkan hampir tak pernah orang berdoa demikian. Sebab orang tua juga percaya bahwa anak-anak itu macam anak panah yang bisa melesat tak tentu arah, tapi bisa juga diam di tempat menemani busurnya.

Dan dalam perjalanan pulang, hal ini masih menjadi pembahasan kami. Legaaaaa rasanya ketika bapa bilang, “saya beruntung karena kalian tinggal di dekat saya di sini.” Terharu! Jarang-jarang kami merasakan hal ini, selama ini bapa terlalu mandiri buat kami. Rupanya, kehadiran kami yang sebentar-sebentar sliweran di dalam kesehariannya itu sangatlah berarti baginya. “Saya gak bisa bayangin kalau harus hidup seperti nenekmu itu, berlimpah harta, tapi sendirian dalam sepi. Anak cucunya jauh di perantauan semua, sementara fisiknya pun tak lagi mampu menjelajah tempat tinggal anak-anaknya secara rutin.” Maka membatinlah saya, pantas saja bapa sering tidak begitu antusias mendengar rencana-rencana kami untuk pindah ke luar Jakarta. Tapi bapa pun tidak mau berterus terang kalau ingin di usia senjanya tetap dikelilingi anak cucunya. Berarti juga, walau bapa sering mengatakan tidak tahan berisik ketika cucu-cucunya kumpul, tetap saja keberisikan cucu-cucunya itu telah menjadi doping yang begitu kuat baginya untuk terus mempertahankan kualitas hidupnya demi kesehatan yang prima yang berujung pada pengharapan agar diberi umur yang panjang dalam keadaan sehat.

Bagi saya, pertemuan keluarga kemarin memang sangatlah bersejarah. Sebetulnya antara bapa dan nenekku ini terakhir bertemu itu sekitar 2 tahun yang lalu, hanya saja bagi mereka kurun waktu itu terasa begitu lama. Ditambah lagi kemarin kami menyertai bapa sehingga suasananya persis seperti di rumah kami waktu di kampung dulu. Kami – cucu-cucunya yang sudah lebih dari 20tahun tak pernah bersua dengannya. Entahlah bagaimana kami bisa ‘mengabaikannya’ selama ini, padahal ketika di kampung dulu, nenek ini termasuk yang rajin menyambangi rumah kami. Sepertinya kehidupan di Jakarta telah menggilas rasa kepedulian kami padanya. Dan saat ini, tinggal nenek ini yang hidup dari trah keluarga besar bapa.

Mengharukan sekali melihat bapa dan iting saling menuntun begitu turun dari mobil, berjalan perlahan memasuki rumah Bitengah – anaknya nenek yang tinggal di Depok. Sampai di dalam rumah pun keduanya tetap saling bergenggaman tangan. Bagi orang Karo, bagi seorang nenek seperti iting ini, bertemu dengan permennya yang juga tinggal satu-satunya ini sangatlah terasa istimewa. Istilahnya, serasa bertemu bapa dan saudara laki-lakinya saja layaknya. Apalagi mereka bisa bertemu dalam keadaan ‘cawir metua’. Lalu keduanya saling berbagi cerita dan semuanya cerita jaman duluuuuu banget. Anehnya, cerita jadul masih lengket dalam ingatan, sementara nama cucunya (adikku) yang ketika kami berangkat ke Jakarta masih kecil banget, bolak balik ditanya karena nenek sudah pikun.

Semoga yang kemarin bukanlah pertemuan terakhir bagi mereka, juga bukan pertemuan terakhir bagi kami. Sudah sepatutnya kami memanjangkan tali silaturahmi secara berkesinambungan, agar kelak antar anak cucu masih saling kenal. Tidak lagi seperti kemarin, antar cucu-cucunya merasa asing satu sama lain, padahal sama-sama merasa sayang pada nenek yang tinggal satu-satunya ini.

Ah, Jakarta-Depok tidak sejauh Medan-Jakarta, tapi kesibukan dan kemacetan Jakarta selalu menjadi alasan renggangnya sebuah silaturahmi. Memalukan sekali yah :( Harus ada yang memulai, harus ada yang mau repot, agar hubungang kekeluargaan ini tetap terjalin dengan baik, insya Allah akan dimudahkan, aamiin :)

Mau pajang foto bapa dan nenek ahhh … :D

 

bapa dan iting

bapa dan iting

24 Comments

  1. silatur rahmi manjangkan usia

  2. Salam silaturrahmi

  3. entah kenapa tapi kalau aku bercita-cita kalau punya anak dia harus merantau. Jangan hanya di Pontianak aja, gak akan berkembang deh, makanya aku sedari sekarang ingin menyiapkan kemandirian semasa tua. Tapi gak tahu juga seh ntar pas udah tua berubah fikiran atau gak
    niee recently posted… » 4 Hari di KL (Landuri ~ 4)

    • Nenek di dalam bahasa Karo adalah NINI, tapi untuk nenek yang langsung (masih ada pertalian darah), kami lebih suka memanggilnya dengan penggalan berunya (family name).

      Yang biasa dipanggil Iting karena dia beru Ginting
      Sementara yang beru Tarigan (seperti mamak saya), kami memanggilnya dengan Tigan
      Begitu seterusnya :) Tapi ada juga yang mencampurnya Ni Iting atau Nek Iting. Semua boleh dan senang2nya lidah saja hehehe

    • ooh gitu.. dan beru adalah marga yak? hehehe nambah perbendaharaan kata bahasa daerah lain nih

  4. apa? postingan terakhir tanggal 12 Mei? ckckckck ada apa dengan dirimu?
    #eh

    hahahaha..lama tak berkunjung ke sini
    iPul Gassing recently posted… » Ada Blok Di Dalam Blog

    • ada apa denganku? Lagi jenuh aja kali hehehe
      emang lagi males blas tau deh kenapa bisa begitu.

      iya ih, ini napa nyasar kemari lagi? :P

  5. Jadi ingat sama emakku yang lagi melepas rindu dikampung, beliau kangen kampungnya, anaknya cucunya pada dirantau :(.
    ysalma recently posted… » Tips Menjual Rumah Sendiri

    • seperti Iting itu dong, dia tinggal di Medan tanpa anak cucunya :(

  6. sepertinya orang tua di mana-mana sama, ya. mereka suka kalau dikelilingi anak cucu. tapi seringnya, anak cucunya yang nggak bisa terus-terusan menemani.
    krismariana recently posted… » Sebuah Catatan (Sebelum Dibuang)

    • iya ya mbak, pada sibuk urusan masing2 hiks

  7. mungkin kalo saya udah tu ananti mulai mengerti hidup ini.
    eh tapi aq nggak suka di ucapin panjang umur jwe :D

    yang ada malah umurnya buat hidup berkurang :D
    mohamad rivai recently posted… » Kacamata Gratis Buat Kamu

  8. semua tergantung niat sih sebenarnya pal, kalo memang udah niat, macat, jarak, cuaca sepertinya bukan menjadi penghalang, kadang itu hanya dijadikan alasan saja. Aku sendiri mungkin karena ortu udah ndak ada, jadi memang agak jarang pulang ke Pancur, alasan ya itu tadi….sibuuk..
    yadiebarus recently posted… » MASALAH

  9. ga usah jauh2 nique, gw sama keponakan yg tinggal di sebelah rumah aja belum tentu tiap hari ketemu,. seminggu sekali aja udh bagus kalee??? makanya kalau kita ga niatin silahturahmi dengan sepenuh hati…niscaya semuanya cuma jadi wacana doank deh….:0(
    Necky recently posted… » Mendapat Kemudahan

  10. Betul Niq… kadangkala kesibukan kita menjadi alasan terhambatnya silaturahmi.. ah, padahal mestinya tak boleh begitu ya… hm, jadi makin semangat mengantar ibu ke jakarta minggu depan, sekedar bersilaturahmi dengan bagian dari keluarga besar yg lama tak bersua…
    Mechta recently posted… » [Berani Cerita #11] Kembalinya Cincin Ibu

    • iya mbak, mana kesibukan itu gak ada abisnya ya :(

  11. Jadi ingat ibu. Meski kadang ngomel, tetapi beliau sungguh sayang pada DnB. Meski cucu ibu ada 23, namun DnB adalah kesayangan ibu, karena mereka yang selalu cium pipi ibu, menemani ibu di kamar, dan bercerita pada ibu. Bahkan satu-satunya cucu yang diperbolehkan tidur di kamar ibu. Padahal saya hanya berstatus anak angkat di keluarga ibu.
    Tak terbayang sedihnya ibu karena selama 5 tahun saya pernah jauh dari ibu. Tapi kami telah bersama sekarang. Serumah karena niat kami mengabdi dan membahagiakan ibu yang sudah sepuh. Memberi cahaya di kala senja. :)
    Susindra recently posted… » Cara Membuat Mawar Dari Kain Flanel

    • iya mbak, ternyata kehadiran anak cucu itu SESUATU banget ya bagi orang tua yang sudah sepuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 33 other subscribers

Recent Posts

No thumbnail available

Kampung Koruptor

April 10th, 2014

Di Medan sana, ada sebuah kampung namanya SUNGGAL. Sahibul hikayat, ini cerita dari bapa saya bahwa ...

No thumbnail available

Takut Tekor

March 26th, 2014

Setelah seminggu ini tenang-tenang memantau pegawai yang baru dikirim dari kampung, tiba-tiba tadi m...

Tips Bagi Penjual On-Line

Tips Bagi Penjual On-Line

March 19th, 2014

Keponakanku Attar akan 40 hari tanggal 21 Maret nanti. Biasa deh, ada acara 40 hari, gunting rambut ...

Daftar Donatur Untuk Pelatihan Kreasi Flannel @Sinabung, Tanah Karo

Daftar Donatur Untuk Pelatihan Kreasi Flannel @Sinabung, Tanah Karo

March 4th, 2014

Melanjutkan tulisan tentang rencana memberikan pelatihan padat karya pada saudara-saudara kita yang ...

Akhir Pekan Bersama Egi dan Adek Attar

Akhir Pekan Bersama Egi dan Adek Attar

March 3rd, 2014

Sudah lama ya tidak ada cerita tentang permen cantikku. Padahal ada aja sih ulahnya yang bikin haru ...

Categories

%d bloggers like this: