Terus terang, ketika berangkat nonton film ini saya belum baca resensi sama sekali. Cuma tahu kalau film ini bercerita tentang penduduk yang hidup dan tinggal di perbatasan. Sedikit terbayang kisah yang saya baca di buku BATAS yang membosankan yang pernah saya tulis di sini. Ternyata, setelah nonton film TANAH SURGA … KATANYA ini, cerita film ini lebih bisa menguras air mata.
Untung saja tadi bapa menolak ketika kami ajak turut serta. Bapa sudah tidak sanggup menonton yang sedih-sedih katanya. Pantaslah, kalau di tivi ditayangkan soal kebakaran, korban kecelakaan pesawat seperti SUKHOI tempo hari, dan beberapa hari ini tentang kecelakaan orang-orang yang mudik, maka lebih baik dimatikannya saja tivi itu. Lebih suka bapa berdiam dalam sepi. #eh jadi ngelantur saya
Sebetulnya, tadi rada maksain mau pergi nonton, apalagi sudah malam, kami baru masuk jam 21.25. Memaksakan diri karena Egi ingin nonton film ini setelah dia lihat di tivi bolak balik bilang mau ditayangkan. Tapi ternyata, film ini kurang cocok untuk Egi. Dia belum bisa mencerna film ini dengan baik. Walaupun film ini diperuntukkan bagi SEMUA UMUR, tapi tetap saja paling tidak yang sudah duduk di kelas 4 SD ke atas kali yah. Bagusnya, niy bocah bisa anteng dan gak ketiduran pula. Mungkin, karenan sudah diwanti-wanti kalau ketiduran lagi, takkan diajak nonton film lagi hehehe
Kembali tentang film TANAH SURGA … KATANYA.
Walau selama ini sudah tahu bagaimana perjuangan saudara-saudara sebangsa setanah air yang tinggal di perbatasan, tetapi tetap saja merinding saya selama film berlangsung. Bayangkan saja, anak-anak sekolah yang tidak mengenal lagu kebangsaan kita INDONESIA RAYA? Lalu, bagaimana mereka lebih ‘percaya’ pada uang Ringgit ketimbang rupiah? Mereka merasa negeri jiran jauh lebih ramah pada mereka.
Ngilu rasanya ketika melihat perbatasan, yang ke Malaysia jalannya diaspal, tapi yang ke Indonesia sebaliknya. Malah untuk bisa sampai ke kampung penduduk harus melewati hutan dan menyusuri sungai. Sepanjang menonton saya pun berpikir, apa sih yang bisa saya lakukan dari sini? Hanya berdoa, sepertinya. Berdoa agar pemerintah negeri ini tak lagi sibuk memperkaya diri sendiri. Jangan nanti ketika tak lagi mampu mempertahankan negeri kepulauan ini, barulah disulut-sulut lagi aura nasionalisme setiap orang.
Tak kepalang sedih ketika melihat bendera merah putih dijadikan tatakan jualan di negeri jiran. Dan oleh Salman, sang pemeran utama, dengan uang hasil jerih payahnya, yang baru saja dia belikan kain sarung untuk mengganti kain sarung kakek Hasyim yang sudah sobek, lalu ditukarkannya satu dari dua sarung yang dibelinya dengan bendera merah putih agar orang itu tak lagi menggunakan bendera itu sebagai tatakan. Adegan itu tampak begitu nyata.
Dan saya pun mungkin akan berlaku sama dengan Haris, ayah Salman, yang memilih mengais rejeki di negeri jiran ketimbang terus hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan di negeri sendiri. Tak ada guna bicara tentang nasionalisme ketika perut sendiri keroncongan bukan? Ketika masa depan anak sendiri menjadi tak jelas?
Apapun yang terjadi
Jangan sampai kehilangan cinta pada negeri ini!
Itu adalah kalimat penutup yang sempat saya baca ketika film usai. Makjleb! Dan kalimat itu menjadi perenungan sendiri sepanjang perjalanan pulang. Sungguh sangat tak yakin, bisa mempertahankan cinta pada negeri ini jika ada kesempatan untuk berpaling dan mensejahterakan diri dan keluarga. Sangat tak yakin!
Seperti tak yakinnya saya bisa seperti dr. Anwar yang karena tak sanggup bersaing dengan dokter-dokter di kota, sampai mau praktek di pedalaman. Ah, sepatutnya saya acungi jempol deh semua dokter atau pun pelayan masyarakat yang rela berjibaku dengan segala keterbatasan untuk mengabdi pada masyarakat di pedalaman. Membayangkannya saja, saya tak sanggup.
Yeah, Indonesia adalah TANAH SURGA … KATANYA … tapi pada kenyataannya, Indonesia hanyalah surga bagi segelintir orang. Dan tanah surga itu cuma ada di lagu KOLAM SUSU yang di film ini justru jadi lagu favorit anak-anak yang tinggal dan sekolah di perbatasan. Berharap sih, para petinggi itu mau meluangkan sedikit waktunya menonton film ini. Dan jauh lebih baik menonton film ini bersama-sama ketimbang nonton film apa itu tempo hari? Ayat-ayat cinta bukan? Ah, lupa saya
Kira-kira, mungkin gak ya satu hari nanti, Indonesia benar-benar menawarkan surga bagi rakyatnya?

Saya mah tetap cinta Indonesia, negaranya juga. Kalo pemerintahannya yang sekarang gaklah..
Alris recently posted… » Nostalgia
memang sunguh keterlaluan.
Sepertinya memang wajib militer perlu di adakan.
hahahaha
mohamad rivai recently posted… » Membuat kacamata lebih keren, pengen?
emang klo ada WAMIL, mau daftar?
bagus ya ceritanya?jadi pengen nonton..
aku juga dulu sebelum nikah hobi banget nonton..tapi sejak nikah, susah banget ajakin suami buat nonton di bioskop..katanya lebih enak nonton di rumah bisa sambil tiduran..hehehe
Tita Okti recently posted… » I’m Back…
Nasionalisme mungkin sesuatu yang mewah untk saudara kita di perbatasan itu ya Mba Nique..
Dani recently posted… » Kisah Sedih
namanya juga “katanya”,masih kabur…
Ah, belum sempat nonton film ini
Daerah perbatasan itu ndak jelas siapa yang harus ngurus, saling lempar tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah. Padahal daerah perbatasan itu perlambang kedaulatan negara dan memiliki potensi yang besar di bidang sosial ekonomi.
Ah, saya jadi terinspirasi untuk menuliskan masalah ini.
Anyway, selamat lebaran ya Mba Nique, selamat berbagi kebahagiaan dan kebersamaan. Maafin kalau ada salah
“Tak ada guna bicara tentang nasionalisme ketika perut sendiri keroncongan bukan?” telak sekali teh, sangat dekat dengan realita …
Wong Cilik recently posted… » Warna warni kesulitan
Saya mencintai negeri Indonesia, tapi tidak dengan negaranya (pemerintahnya)
)
DV recently posted… » Harga. Bagaimana mereka memberi harga?
saya juga gak cinta blas sama pemerintahnya mas
Met Lebaran ya Nique, maafin andai ada salah kata selama ini
Ely Meyer recently posted… » I Miss You So Much !!
Indonesia sudah punya surga, hanya saja penawaran itu belum dibuat oleh pemerintah dan segala pemangku kekuasaan, padahal permintaan setiap saat ada
arif recently posted… » Dani Pedrosa Menang di Indianapolis
Sepuluh jari tersusun rapi, bunga melati pengharum hati, comen terkirim pengganti diri, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN di hari yang suci nan fitri ini saya selaku admin bisonl.info mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H, MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN bagi yang merayakan hari kemenangan
jadi penarasan nih pengen nonton tanah surga…katanya.
uyoyahya recently posted… » Malas Sahur Mendera di Akhir Ramadhan
Belum nonton filmnya


Jadi mupeng pengen nonton mbak, semoga aja bisa terlaksana.
Tapi kapan ya? Lha film Di Timur Matahari aja baru masuk Jayapura beberapa hari yang lalu, apalagi film baru seperti ini, wkwkwkwk…
Nasib tinggal di ujung timur Indonesia
Zippy recently posted… » Asik Mudik, Lebaran Unik
Semoga saja mbak, karna bagi saya Indonesia itu sangatlah berharga. sebenarnya ini adalah tugas kita. harus mulai dari kesadaran sendiri, lalu bangun kesadaran orang lain. *Untuk yang udah enak di luar negri, yuk kembali dan bangun negara ini*
Semoga saja, suatu saat nanti Indonesia benar-benar sejahtera
BTW, aku juga lagi asyik-asyiknya nonton film yang bergenre pendidikan dan Budaya. kayak film yang satu ini. xixixiixixi
farizalfa recently posted… » Bubarkan Blogger Pusako di Rumah Bundo Adel
saya pikir mereka yang mengais rejeki di negeri luar sana bukan berarti tanpa nasionalisme. Buktinya mereka masih mengirimkan biaya untuk pendidikan anak-anak mereka di negeri tercinta ini.
Tapi apakah para pejabat mau nonton filmnya ya????
Eiya bener, pemerintah suruh nonton film itu aja kali ya…
Kayaknya kok apik mbak film-e…
Kapan2 tak nonton…
Tebak Ini Siapa recently posted… » Seminggu di Semoya
ini filmnya dedy mizwar ya mbak? filmnya kayaknya bagus ya. belum ada film yang mengangkat isu masyarakat di perbatasan indonesia-malaysia.
Ilham recently posted… » 1st Anniversary
baru liat film aja sudah begitu ya..?
gimana kalo ikut kemari melihat dengan mata kepala sendiri
kalimantan memang lebih pantas memisahkan diri ketimbang jadi perahan nkri…
rawins recently posted… » Seting Domain DotCom di Bloger
waduh film kayak gini nih yang bisa bikin nangis…. kelihatannya filemnya bagus ya nih…. mau nonton ah…
wah … belum bis ajawab pertanyaannya Nique
rasanya benar apa yg kamu uraiakan di atas, kemakmuran di negeri kita hanya buat segelintir org yg sering nggak malu malu memamerkannya selagi yang lain mungkin masih belum bisa makan teratur sehari harinya
Ely Meyer recently posted… » …………….. ?
kok aku baca blog ini jadi semakin tertarik nonton filmnya yah?
maksudnya… aku lagi butuh disuntikkan lagi rasa cinta tanah airku ke darah pesimisku sebagai pemuda bangsa (ini serius loh)
ais ariani recently posted… » makna merdeka dari si drama Queen
Tanah kita adalah tanah surga bagi segelintir orang saja….menyakitkan. jadi penasaran tuh dengan film
jie wahyu recently posted… » Hypnosis Sederhana
Momen penayangannya pas dengan HUT RI…
Realitanya lah yang nggak pas dengan kalimat yang selama ini terlalu di’jleb’kan bahwa Indonesia itu Tanah Surga, tapi pada kenyataannya yg bisa merasakan hanya sebagian saja.
Met Jaga Toko Ni…
marsudiyanto recently posted… » Mudik Berisik
pertama, gue senang bisa hadir lagi di sini. Gue setuju! banyak rakyat Indonesia yang hanya mencintai Kekayaan Negerinya untuk kepentingan pribadinya. gak ada lagi Jiwa Nasionalisme. semuanya berjuang untuk memerdekakan dirinya sendiri. Tak ada lagi persatuan dan kesatuan bangsa ini untuk membela Negaranya seperti para pejuang kita dahulu. Sediiiiihhhhh..!!
Bung Penho recently posted… » Back To Blog Without Read More
berarti pembangunan disini belum merata ya
Lidya recently posted… » Arduino Leonardo Dari Mas Dewo
wah .. aku yg telat ya…
baru aja tadi pagi dengar iklan radionya. kalian udah nonton duluan
kurasa daerah perbatasan sediki demi sedikit mulai diperhatikan. tentu tak bisa sekaligus karena garis perbatasan kita kan minta ampun panjangnya
komentar Niee itu bukti positifnya bukan?
MS recently posted… » Kincir Air
Aaah…saya sering sedih mbak kalau nonton film2 begini
di satu sisi ingin membantu tapi di sisi lain kemampuan saya terbatas
Esti Sulistyawan recently posted… » Tiga Puluh Enam
baca ini aja udah bikin nyesek, Niq..
udah bener Bapa gak usah nonton..
klo Egi gpp ikut nonton, kelak lakukan sesuatu..
#egi pun nanya: kelak itu apa, bundo..?
LJ recently posted… » cerita anak SMA sungguhan: Lingkar Blogger Pusako
Tadi sebenarnya mau komen masalah pemerintah yg lambat menangani perbatasan.. tapi ya sudahlah.. yg akan komen seperti itu pasti banyak..
Sekarang mau komen apa yg sudah dikerjakan pemerintah utk perbatasan saja.. terutama di kalbar.. jadi gubernur besertq bupati skrg lagi proses pembangunan sekolah besar besaran di perbatasan.. ini aku tahu dr cerita temen temen prajabatan kemaren yg ngajar dan praktek (dokter) diperbatasan.. pintu negara yg tadinya cuma 1 sekarang sudah menjadi 4.. pembangunan jalan digalakkan, akses akses dipermudah.. ada program pemerintah utk membuat rumah sakit bergerak (yg bisa dipindah) di perbatasan..
Ya.. usahanya udah ada deh.. aku harap seh percepatan aja.. mungkin akan lebih cepat kalau hasil hutan dan tambang ketiga propinsi di kalimantan gak dikirim ke pulau jawa sehingga harga disini gak mahal dan harga di pulau jawa aja yg dimahalkan setuju banget saya *uhuk* *kabur*
jika ditanya mungkin atau tidak maka sudah seharusnya saya menyatakan mungkin. tinggal bagaimana kita mendapatkan pemimpin yang amanah dalam mengatur rakyat serta mengelola aset negara. kemudian rakyat yang semakin dewasa dalam mengambil keputusan maupun mengembangkan kepentingan publik yang lebih baik.
pututik recently posted… » Menghindari Banned Massal Adsense
Kayaknya setelah membaca pisting ini aku gak perlu nonton Mb Niq. Ikut Bapa saja, sfh gak kuat melihat yg sedih2. Dan pulangnya aku gak bakalan terhibur kok, pasti marah..
evi recently posted… » Sukses Kehidupan
Ya itulah realita di perbatasan, di sini kita bisa melihat bahwa fasilitas dan “kasih sayang” negara hanya mampir di daerah-daerah pusat, daerah-daerah lainnya seperti dianaktirikan..
iya, terasa sekali memang njomplangnya
ngomongin tentang perbatasan dan kemiskinan, jadi teringat tulisan di kompas, 3 agustus 2012. di hal 36, seorang relawan sosial di bogor barat mengatakan, “kalau mau lihat kemiskinan tidak perlu jauh2 ke ntt. disini saja yang dekat dengan jakarta”. yang dimaksudkan adalah kampung2 miskin di perbatasan bogor – tangerang. yaitu di kampung pasir madang, kecamatan tenjo, kabupaten bogor.
saya trenyuh membaca tulisan itu sambil berharap pemerintah bisa memberi perhatian.
entah suatu kebetulan atau tidak, perbatasan selalu identik dengan kemisikinan. baik itu perbatasan negara yang jauh dari jakarta, seperti yang digambarkan dalam film diatas atau pun perbatasan yang dekat dengan jakarta seperti pada tulisan di kompas itu.
sepertinya film nya dan ulasannnya menginspirasi. walau saya belum menontonnya.
kamal recently posted… » Pulang Kampung yuk
lalu ditukarkannya satu dari dua sarung yang dibelinya dengan bendera merah putih agar orang itu tak lagi menggunakan bendera itu sebagai tatakan.
Dari penuturan Nike ini saya bisa membayangkan betapa tajamnya film ini …
Kebetulan tadi pagi (tepatnya kemarin pagi) dalam perjalanan saya ke Kantor saya mendengar Talk Show dengan bintang tamu Deddy Mizwar dan Sutradara film ini … membahas film ini sekaligus promosi …
Saya harus nonton film ini …
Saya sudah terlanjur terlahir sebagai Orang Indonesia …
Saya rasa saya wajib berbuat sesuatu … untuk Indonesia …
Kedengarannya mungkin idealis … tetapi saya tidak punya pilihan lain …
Tidak banyak mungkin yang bisa kita lakukan … tetapi kita mulai saja dari hal yang bisa kita lakukan … sekecil apapun itu …
Dan kita juga tidak melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan … sebisa kita …
Thanks for resensinya yaa ..
salam saya Nik
nh18 recently posted… » TENTANG MANNERS (LAGI)
Di bumi Kalimantan yang kaya raya, masih ada yg hidup di bawah garis kemiskinan. Astagfirullah…
Bener Kak, semoga para pejabat negeri ini mau meluangkan waktu untuk menonton film ini spy mrk tidak sibuk mengurus perut diri sendiri dan kelompoknya.. #geram
ya kita cuma bisa berharap ya nik… moga2 ya someday indonesia bener2 bisa jadi tanah surga. bukan sekedar ‘katanya’…
arman recently posted… » Walaupun…