Sengaja tidak pasang harapan tinggi-tinggi sama film ini, padahal saya tahu biasanya ALENIA bikin film selalunya yaaa lumayanlah. Tapi berhubung baru nonton AMBILKAN BULAN dan membaca tulisan Arman tentang BRAVE, yang mana hampir saja saya memboyong 2 ponakan untuk menonton film BRAVE namun akhirnya saya batalkan. Makasi ya Man resensinya. Ogah saya keluar duit, terus udahannya masih harus capek menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang bakal keluar dari mulut 2 bocah kecilku
Dan kali ini saya nonton sendirian dulu, kalau makanan, saya cicipi dulu, kalau enak baru saya boyong mereka. Ternyata? Filmnya BAGUS!!!
Kalimat spontan Lia istri Maikel yang bilang : “Gimana mereka gak minta merdeka kalau begini?” Suka banget sama kalimat spontan yang pastinya saya pun akan melontarkan kalimat yang sama, jika untuk 2 karung beras harus merogoh kocek dalam banget sampai Rp 1.5jtan. Ckckck … katanya Indonesia tanah yang agraris yang kaya, tapi kenapa emas yang digrogoti dari bumi Papua tidak bisa ditukarkan dengan beras Jawa yang enak juga rasanya??? Sungguh tidak adil toh?!
Apalagi sosok GURU yang begitu diidam-idamkan anak-anak berambut keriting ini tak kunjung datang, kabarnya sedang berlibur ke Papua. ENAM BULAN lamanya! Takjub yah! Saya kira Bang Ale sudah survey dulu sebelum membuat film ini, sehingga saya percaya bahwa faktanya pun pasti demikian. Tak ada listrik membuat mereka bergantung pada benda bernama AKI demi bisa menjaga kelangsung hidup benda bernama HENGPON. Ckckcck …
Saya seperti berkaca demi melihat sosok LIA yang shocked ketika mendapati rumah tanpa toilet. Saya jadi teringat ketika mudik tidak bisa lepas dari air mineral botolan
Gimana coba kalau sampai harus terdampar di pedalaman Papua sana? Belum lagi adat istiadat yang sudah tidak cocok lagi dengan jamannya, namun masih berusaha dipertahankan, walau harus mempertaruhkan lebih dari satu nyawa.
Penduduk lokal yang masih belum sepintar orang kota, malah jadi bulan-bulanan, yang ditipu dengan lembaran uang kertas palsu. Pikiran saya langsung melayang, betapa menyedihkannya jika hal itu benar-benar terjadi di sana. Ketika mereka begitu bersemangat menjual hasil panen ataupun ternak, namun ketika hendak membelanjakan uang tersebut, tapi mereka ditolak mentah-mentah karena uangnya ternyata PALSU! Tega benar ya orang-orang itu
Memang sudah jadi hukum alam ya bahwa yang bodoh akan selalu menjadi sasaran orang-orang yang lebih pintar, tetapi kemana perginya HATI NURANI? Sudah tidak ada lagikah? Ah!
Selain gregetan, film ini juga bikin saya beberapa kali tertawa lepas
Bukan menertawakan dialek Papua yang sangat khas tetapi memang lucu melihat anak-anak yang masih polos yang mengambil peran dalam film ini. Sebut saja Thomas yang begitu desperate ngarep dikasih kacamata juga, hanya karena mengiri pada Mazmur yang diberi kacamata karena memang matanya tak bisa melihat dengan jelas. Belum lagi melihat Mazmur yang selalu melarikan diri setiap melihat bayangan bu Dokter, saking takutnya disuntik lho itu.
Tapi film ini juga membuat saya mengurai airmata pada akhirnya, ketika Mazmur dengan gagah berani bernyanyi di tengah-tengah orang-orang dewasa yang sedang berperang. Perang saudarapun terhenti dan semua terduduk seperti menafakuri pada apa yang baru saja terjadi. Lagu yang indah, yang saya tak paham artinya, tapi entah bagaimana bisa merasuk sukma begitu dalam, dan menggerimisi kedua pipi ini.
Saudara-saudaraku di Papua, bersabarlah, semoga kelak hadir seorang pemimpin di negeri ini yang tak lagi menomor sekiankan kalian. Yang akan peduli terhadap kelangkaan semua bahan pokok yang begitu mudah di dapat di tanah Jawa ini. Sebagai makhluk Tuhan kita boleh terus berharap pada hal-hal yang baik, karena yang buruk itu tak usah diharapkan pun pasti juga datangnya. Semoga kedamaian dan kesejahteraan selalu dilimpahkan Tuhan di bagian paling ujung bumi pertiwi ini, amin! Di Timur Matahari akan tetap setia bersinar setiap pagi!
Saya nonton film ini..sendirian pula…hehehe…
Dan terharu biru, memang Papua indah sekali. Saya beberapa kali ke Jayapura, mengajar di Bank Papua. Kota lain yang pernah saya datangi Sorong dan Wamena…..dan alamnya sungguh indah.
enny recently posted… » Risk Based Audit: Bisakah meningkatkan internal control perusahaan?
kalau aku nontin film beginian ngu tv nayangin mbak ~_~
ehhh aku baru tahu kalau itu produksinya Alenia Film, pantesann mengupas bumi Papua
belum sempet nonton nih mbak nique
misstitisari recently posted… » Ini Ceritaku Mana Ceritamu?
Selamat pagi sahabat tercinta,
Dengan hormat diberitahukan bahwa sahabat merupakan salah satu penerima tali asih dalam rangka Gebyar Hari Berdiri BlogCamp 2012.
Silahkan menyimak pengumumannya di http://abdulcholik.com/2012/07/10/gebyar-hari-berdiri-blogcamp-tali-asih-untuk-sahabat/
Salam hangat dari Surabaya
pakde bisa aja mbangunin macan tidur hehehe *lari ke tkp*
waah aku malah belom nonton
Goiq recently posted… » Harris Hotel Batam Center
Kalau ada yang traktir, saya mau nonton
.
Cahya recently posted… » Reconsidering The Happy Death – Euthanasia
Saya belum nonton film ini, Nique. Tapi istri dan anak-anak sudah. Mereka nonton sewaktu saya masih di Curup. Karena mumpung liburan, maka ketika mereka bilang mau nonton itu, saya izinkan saja. Setelah itu, mereka cerita, kalau filmnya memang bagus banget…
Film-film Alenia memang patut diacungi jempol. Mereka konsisten dengan dunia anak dan Indonesia Timur.. Dan semua filmnya digarap serius, sehingga meninggalkan inspirasi yang tidak sedikit bagi kita..
Kalau ada kesempatan, saya juga mau nonton film ini, semoga masih diputar..
vizon recently posted… » blog dan toko online
Orang2 Papua yang menduduki jabatan di pemerintahan mestinya malu jika di sana lambat majunya. Jangan sampai mereka justeru jalan2 ke Jakarta saja deh donk.
Otonomi daerah kan itu tujuannya.
Hayooo orang Papua bangun daerahmu.
Salam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted… » Kesabaran Itu Perlu Dilatih
Menurut posting yang saya beca disalah satu situs, kekayaan Papua itu luar biasa. Dari bagi hasil kekayaan alamnya saja bisa memakmurkan penduduknya. Masalahnya adalah ketidak adilan.
Alris recently posted… » Nostalgia
Ikut mengamini doamu, Niq… Setelah sekian puluh tahun merdeka, ternyata pemerataan itu belum sepenuhnya
mechta recently posted… » Belajar Peka, yuuk…
Temen yang pernah mengajar di bimbel bahasa Inggris di Papua cerita, disana keinginan belajar dan maju terasa kuat yang terbukti dari murid yang tak pernah sepi. Sayangnya keinginan ini kurang didukung infrastruktur yang ada dan entahlah, terasa ada pembodohan jadinya dengan kondisi yang ada.
Amiin buat doanya Mba agar suatu saat ada pemimpin dengan hati nurani di Indonesia tercinta ini.
Dani recently posted… » Weekly Photo Challenge: Fleeting Moment
konon menurut temen saya yg panjang lebar cerita soal papua (dia orang Papua) disana keinginan untuk belajar gak ada mba, soalnya mereka sudah terlajur dimanjakan oleh alam, itu sih kl soal pendidikannya lho, tetep seh, kudu ke sono kl mau tau langsung mah
eh, nyambung gak seh sama cerita diatas, hihihihi … bodo ah :p
stupid monkey recently posted… » God Bless America Okeh Gak ya …
Selalu menyedihkan kalo melihat kondisi saudara2 kita di papua ya Kak, tapi belom bs ngapa2in juga
Orin recently posted… » Weekly Photo Challenge : Fleeting Moment
Menurut pendapat saya …
Ada tiga hal mengenai film ini Nik … yang sempat saya fikirkan …
1. Logistik :
Saya tidak bisa membayangkan … bagaimana tingkat kesulitan pembuatan film ini … terutama dibidang logistiknya … shooting di alam asli yang hanya dijangkau oleh pesawat perintis Susy Air
2. Laura Basuki
Bukan karena cantik … bukan karena elok …
Namun saya sangat pujikan akting Laura Basuki disini … Pas Banget memerankan tokoh Mama Vina. Tidak lebay … tidak berlebihan tetapi jelas sekali menggambarkan bahwa dia perlu “penyesuaian” yang “keras dan drastis” di lingkungan kampung halaman suaminya.
3. Sentilan …
Ada banyak sekali sentilan yang di besut Ale disini …
Dan biang onarnya … (uang palsu dsb) … ternyata pendatang … !!!
Semoga Papua menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang …
Memperbaharui sikap mental pun juga perlu proses
Salam saya
nh18 recently posted… » JALAN TIKUS
film film nya alee selalu bercerita tentang anak anak di timur sana.
penasaran pengen nonton
semoga weekend, ini bisa nonton
Di Timur Matahari Semarang ada Robinson dan Masjid Baiturohman
marsudiyanto recently posted… » Ngintip
hahak
antemi
Pakde Cholik recently posted… » Kesabaran Itu Perlu Dilatih
Mbak niq ndak bisa lepas dari air mineral, lha kalau ndak ada air mineral terus piye?
Niar Ningrum recently posted… » Rujak Es Krim
ga tau niy niar
smp hr ini msh teratasi. kan slm ini blm ke plosok2. sejauh2nya saya peegi, slalu ada yg jual air.mineral sih. klo perjalanan jauh, sblm smp ke kampung, biasa ingat beli btl besar hehehe
Membaca judul Di Timur Matahari, saya teringat dengan satu sinetron berjudul sama yang diperankan oleh Cok Simbara dan Marissa Haque ( kalau nda salah ingat ) yang ditayangkan TVRI tahun 90 an. Sebelum liat posternya, saya pikir sinetron ini akhirnya difilmkan, tapi pas liat posternya langsung ngeh kalau film ini tentang saudara-saudara kita di timur sana. Menyedihkan memang nasib mereka di sana, semoga tak perlu menuntut merdeka,tapi pemerintah memperhatikan mereka, jangan jadi pemerintah yang ‘durhaka’, mengakui sebagai anaknya tapi ditelantarkan, kurang diperhatikan.
Abi Sabila recently posted… » Membangun ‘Menara’ Sabila #2
Amin..
Pernah rencana mau nonton pas liburan sama Olive..
Cuma belom aja..pada sibuk masing2 tuuh..
jadi penasaran…
Nchie Hanie recently posted… » Dua Bintang
Wahhh…. jadi kepengen nonton.
Kemaren senen batal karena ponakan lebih milih nonton Ambilkan Bulan
Brarti hari ini harus pertimbangkan lagi. Mau nonton The Amazing Spiderman ato Di Timur Matahari ya?
@bangsaid recently posted… » Minum Susu itu Sehat, Minum Susu itu ‘Gaya’!
sy udah ntn the amazing spiderman, tp krg greget yah
klo bw anak2 $ih mending jangan, krn adegan kissing hehehe
bagus ya filmnya.. kemaren ini baca di blog lain katanya filmnya kurang bagus. hehee.
tapi film emang masalah selera ya nik… bisa beda2 tiap orang…
arman recently posted… » Emma’s Birthday Giveaway
wah saya pernah tinggal disana….. kalau lihat disana maunya marah marah saja.. sebel dengan kondisinya…. semoga mereka sabar ya…. begitu doa kita… sampai nanti datang pemimpin yang benar
applausr recently posted… » Menjadi Orang tua dan Anak….
hmmm nunggu DVD nya deh
Ikkyu_san recently posted… » I Love Yokohama
Aku belum nonton ini nih…
Thanks reviunya mbak… dadi tambah kepengen nonton…
Una recently posted… » Addicted to Instagram!
beberapa part di dalam film ini pernah saya alami dalam sebagian hidup saya ..aki, gak ada toilet..but it was so long ago…kalau di era sekarang dan di bumu timur matahari terbit yg kaya logam mulia namun kehidupannya miris banget spt dalam gambaran film tersebut…saya pun akan bisa bilang ” gimana gak ingin merdeka jika kayak gitu…”
ririe recently posted… » The True Friend
Bagus Nique.. review yang menarik.
dulu waktu eMak masih imut pernah juga ada film ‘di timur matahari’.. bagus filmnya.
selamat menonton wat krucil bamboo river..
LJ recently posted… » Dia, lelaki itu..
sayang sekali ya papua selalu terbelakangkan padahaldisana banyak potensi2 yang harus digali
Lidya recently posted… » Penangkaran Rusa