SERBA SALAH

AAA

“Ce yang cuo, na yang cuo, ni you wo ce me yang?”

Begini salah, begitu salah, kamu maunya saya bagaimana? (terjemahan bebas)

Begitulah kehidupan di dunia ini. Seolah-olah tak ada hal yang BENAR terjadi pada setiap orang. Ada saja yang dikeluhkan terhadap orang lainnya. Tidak pandang bulu! Mau orang terkenal, orang biasa, atau yang sedang-sedang pun popularitasnya, sama saja, semua sama saja. Perbedaannya cuma ada pada tingkat kekuatan badai komplennya saja. Tapi rasanya tetap saja, sama-sama tak enak. Belum pernah tau ‘kan ada orang yang BAHAGIA karena sehari-harinya dipenuhi oleh keluhan sana sini? Sangat mengganggu mood!

Ketika membaca berita tentang sepatu yang dikenakan oleh Kate Middleton model dan warnanya itu-itu saja, seluruh media ribut. Setidaknya itu yang saya baca di detik.com dan yahoo.com. Tak jarang pula ada orang yang merasa dirinya orang terkenal, dan merasa pantas untuk mengkritik. Seolah-lah mengenakan SEPATU yang sama dalam banyak kesempatan itu adalah sebuah DOSA! Adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak pantas untuk dilakukan. Sebaliknya, Imelda Marcos yang punya hobi koleksi sepatu sampai berlemari-lemari ya tetap dikritik juga. See…? Jadi maunya apa coba? :D Paling juga pada bilang, itu sudah resiko jadi orang terkenal, apa-apa ya dikritisi. Apa iya? Kata saya sih, gak juga tuh!

Sepatu krem yang paling kanan adalah favorit Kate

Dalam beberapa postingan terbaca jelas tentang kritikan terhadap perempuan/laki-laki yang belum menikah di usia yang “dianggap” sudah pantas menikah. Dan herannya, semua menggunakan tolok ukur diri sendiri. Atau dengan semena-mena bilang “pada umumnya” pada usia tersebut sudah harus punya anak 5, misalnya. Tulisan seperti ini biasanya sukses menggalaukan hati perempuan/laki-laki yang masih melajang di usia yang disebutkan “pada umumnya” tadi. Tak jarang pula, para orang tua jadi belok kanan kiri mengupayakan segala cara agar anak mereka mendapatkan jodoh. Tak peduli lagi cara yang diupayakan sudah menyimpang dari kepatutan (standar kepatutan sendiri apa ya tolok ukurnya – bingung sendiri hahaha).

Maksud saya, sebenarnya begini, jika seseorang berkata pada TUHAN (tak peduli agamanya apa), maka sebagai orang yang percaya penuh pada si Pemilik Kehidupan ini, sudah sepantasnya toh manjangin usus sabar sambil si calon mempelai meningkatkan kualitas diri. Bukan hanya si calon mempelai saja lho, di dalamnya termasuk orang tua kerabat handai taulan tanpa kecuali harus berada di dalam frekuensi yang sama mendukung anak yang belum bertemu jodoh. Bahwa belum bertemu jodoh itu bukan suatu kekurangan, bukan aib juga.

Seterusnya akan begitu, nanti pas dapat jodoh, entah kaya atau miskin, entah jelek atau cakep, entah lebih tua atau muda, ya jadi bahan omongan semua. Sudah? Belum! Pasangan menikah ‘diwajibkan’ punya keturunan, apalagi di dalam agama memang dijelaskan bahwa  salah satu niat 2 orang menyatukan diri di dalam mahligai rumah tangga, karena mengharapkan adanya keturunan. Terus, kalau belum dapat keturunan bagaimana dong? Banyak lho pasangan yang ‘dipaksa’ berpisah ataupun memisahkan diri ‘hanya’ karena tak kunjung hadir si buah hati. Terusss saja begitu, tidak ada habisnya.

Terus, maksud postingan ini apa? Hehehe … ini gara-gara saya baca tentang sepatu Kate itu. Bukan mau belain Kate lho. Dia sih gak peduli, tapi berita itu sudah mengingatkan saya (lagi!) bahwa begitulah hidup ini. Bukan (hanya) media yang kurang kerjaan, tetapi memang sudah begitulah sifat dasar manusia. Selalu saja senang mengurusi orang lain. Hanya memang kadarnya pada tiap-tiap orang tentu tidak sama. Ada yang memang menjurus ke kepo, ada yang sedang-sedang saja, dan tentu saja ada yang sama sekali tak peduli.

Kesimpulannya? Sampai kapanpun, seseorang tidak akan bisa memuaskan orang lain sesuai dengan keinginan orang lain. Akan selalu ada yang kurang dan kurang, menimbulkan perasaan serba salah. Tinggal kita bagaimana, mau menuruti orang lain, atau menjalani hidup seperti apa yang dimaui? Tentunya pilihan apapun yang dipilih, mestinya pilihan itu adalah yang berpotensi menuju pada sebuah kehidupan yang membahagiakan lahir dan batin. Setuju dong?

47 Comments

  1. Ya, hidup itu begitulah. Kalo saya egp aja selagi tidak merugikan orang lain.
    Alris recently posted… » Nostalgia

  2. Serba Salah adalah salah satu contoh “masalah” Ni…
    Yg aneh adalah saya tak pernah dengar istilah Serba Benar ya?
    marsudiyanto recently posted… » Masalah

    • serba benar? klo ada orang serba benar, ntar malah dituduh sok sempurna pak :D

  3. hahaha emang sih…
    tapi yang penting ya kitanya aja. jangan diambil pusing, jangan dimasukin ati.
    prinsipnya, anjing menggonggong, Khafilah tetap berlalu kan…
    arman recently posted… » Sebulan Lagi…

    • anjingnya jenis apa Man :P

  4. Hihihi manusia ya… apa-apa jadi bahan omongan. Salah dirasani, bener yo hooh. Trus suka menghakimi orang… ya kayak yang mbak bilang, pake patokan diri sendiri. Itu gak ngenakin…
    Tapi kadang aku pun khilaf suka ngejudge orang :( Duhhh tapi sekarang mau lebih hati-hati hihihi~
    Tebak Ini Siapa recently posted… » See’s Candies Menungguku + Quiz

    • iya Na, emang sering kepleset soal beginian :(

    • klo udah jadi seleb mah, tinggal urut dada aja kali ya Mo

  5. mbak niq apa kabar.. semoga sehat sehat selalu…walah saya lama tak mengikuti cerita mbak niq nieh..maaf banget jarang bisa full bw..ini pas tengah malam aja kinan dah bobo,aku nggak bisa tidur jadi bisa bw bwan..dikantor rodi…ngikutin sih cerita mbak ni yang kelombokkemarin tapi gak sempat ninggalin jejak..
    hmm kalo aku pinginnya kok jadi diri sendiri yah mbak..hidup cuman sekali jadi pinginnya apa adanya nggak pingin nyiksa diri..
    mama-nya Kinan recently posted… » Minta Tolong bantu Voting yah kawans

    • hi mama Kinan, kabarku baik dong, kalian juga sehat2 kan di sana :D
      iya dong, jadi diri sendiri itu lebih nyaman ketimbang harus bertopeng .. eh saya mah pasang topeng juga gak berani ya xixixi

  6. Aku pribadi lebih mengutamakan nyaman daripada harus berpura-pura demi pendapat orang lain. Memang gak mungkin kita menyenangkan semua orang kan ya.
    @zizydmk recently posted… » Phonics Book

    • setuju mbak

  7. lebih baik jadi diri sendiri dan menikmati hidup dengan baik… susah memang untuk tidak menghiraukan apa yang orang bicarakan mengenai kita… tapi harus tetap dan terus belajar…

  8. cita rasa, standart, pola pikir etc..serba berbeda..gak mgk kita meng-iya-kan semua penilaian mereka kan Mbak…be myself saja kalu saya.
    ririe recently posted… » Gerhana Coklat

  9. Bener banget. Kita nggak akan bisa memuaskan semua keinginan orang lain. Kalau begitu caranya, kita tidak akan bisa menjadi diri kita sendiri. Memang orang-orang di sekitar kita tuh suka rempong hehe…
    krismariana recently posted… » Jangan Risau Jika Ada Buku Dibakar

  10. jika kita tau apa yang kita mau.. niscaya akan sedikit mempermudah banyaknya pilihan pilihan yang berseliweran seperti itu dee.. saiia sii gitu kira kira :( maaf klu gag tepat :(

  11. Setujuuuuuu..!!!
    Yang penting orang-orang yang terlibat enjoy menjalaninya, kenapa enggak? Kenapa kita harus ribut ikut campur? :)

    Masih liburan nih, Jeng?
    Dewifatma recently posted… » Polisi Bebas Pungli

  12. setuju akh..:)

    hehehe…jadi inget dibagian galau menggalau, akh.. tapi udahlah, semua udeh ada nyang ngatur keidupan ini, jadi gak usah galau layaww :D

  13. Setujuuuh….. Niq, post ini terasa mewakili aku byanget, hehe…
    eh, kalau lebih memilih nyaman daripada menuruti mode merupakan pelanggaran dari KUHP..maka entah berapa tahun kuharus meringkuk di penjara..haha… *ngasal*
    Mechta recently posted… » Salah Estimasi

    • gpp Bi, gak usah di delete, jarang2 Abi sempat bewe kan hehehe

  14. Begitulah, Mbak. Mengganggap gratis, terkadang orang dengan ringannya berkomentar, termasuk untuk hal yang tidak memerlukan komentar sekalipun.

    Sabar dan menanggapnya sebagai doa adalah jalan yang tepat untuk menanggapi pertanyaan mereka yang bertanya tanpa merasa peduli apakah pertanyaan itu layak diajukan atau tidak.

    Lama nda bersilaturahim, semoga tidak mengurangi rasa ya, Mbak.
    Abi Sabila recently posted… » Don’t Underestimate or Overestimate

  15. barangkali, yang membuat orang ringan berkomentar karena adanya anggapan bahwa untuk komentar tidak perlu bayar, gratis! padahal tidak begitu adanya, apapun yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan, mungkin tidak di dunia tapi kelak di sebuah pengadilan dimana kita tak lagi bisa menghindar apalagi mengelak.

    mengenai pertanyaan-pertanyaan yang karena terlalu sering diajukan hingga membuat tidak nyaman, anggap saja itu doa mbak, sama seperti ketika orang nanya atau tiba-tiba sms ke saya, kapan? sudah dapat apa belum? maka saya tak perlu menjawabnya, kecuali menjadikannya sebagai doa.

    lama……sekali nda silaturahim, semoga tidak mengurangi rasa ya, Mbak. Insya Allah.
    Abi Sabila recently posted… » Don’t Underestimate or Overestimate

  16. Lahhh tadi pagi aku udah komen kok ga muncul komennya >,<

    Hidup kan memang begitu mba, banyak likuliku, suara usil, kritikkritik manis itu salah satu likulikunya. Kudu sabarrrr… :D
    Tapi emang sih ya suka heran sama mereka yg sangat banyak stok perhatiannya, segala urusan orang lain jadi ikut diperhatiin, padahal sih wes tho urus wae urusane dewe :p
    misstitisari recently posted… » Perangko dimanakah kau kini?

  17. Serba salah aku kalau tak setuju, ya udah SETUJU aja dech :)

    Kalau jadi ‘Kate’ aku kirim paket buat yang nulis ini, heheee…

    • hihii mau laaah …

      sstt mbak, postinganmu hari ini menelurkan 1 tulisan di sini, tapi tayang besok hahaha

  18. owh, eMak baru tau sepatu kesayangannya Kate.

    ngeriweuhin urusan orang lain.. eMak pernah digituin dan eMak pun pernah nggituin orang lain.. harus cepat2 insyap ajah, klo orang lain masih begitu ya wis.. yg penting kita jangan..

    #nyaplok bolu pandan yang tinggal sepotong :P
    LJ recently posted… » Kepada Ummi..

    • jiaahh … bolu tinggal sepotong juga dicaplok, si emak meni tega ih hiks

  19. Kapan menikah?
    Kapan punya anak?
    Sudah punya rumah?
    de el el… de el el…

    Ini adalah social pressure yang memang sangat tidak nyaman untuk ditanyakan. Setidaknya diri kita sendiri untuk menahan diri untuk tidak lagi memberikan pertanyaan ini kepada orang-orang di sekitar kita, karena memang sulit untuk mengubah orang lain, ya kan?
    Iman recently posted… » Tepukan Misterius

    • iya *manggut takzim*

  20. saya sangat2 setuju tentang penilaian terhadap pribadi orang ga usah dibesar2kan atau dipermasalahkan. mau pake baju yang itu2 lagi atau pake mobilnya yg itu2 juga ga perlu diurusin.
    Namun kalau untuk penilaian terhadap kinerja manajemen perusahaan yang melayani publik…..boleh khan?
    Masa kita memberikan saran atau protes ke manajemennya ga boleh ya????
    Necky recently posted… » KRL Mania

    • hahaha klo penilaian terhadap kinerja seseorang ataupun perusahaan tentu tidak termasuk dalam bahasan di atas dong mas. wajib malah hukumnya

  21. Iya niQue, menilai orang lain itu kayaknya lebih seru dibandingin menilai diri sendiri…orang nggak ada benernya, pernah juga saya rasakan dan gunjingkan…hehe, padahal apa untungnya juga buat saya?
    :D
    Lebih baik, selalu introspeksi.
    Jadikan kelebihan orang lain sebagai motivasi dan kekurangan mereka kita jadikan sebagai bahan evaluasi diri…setuju juga kan, niQue?

    • setuju banget mbak :D

      seperti kata mbak itu lho, gak sengaja ngrasani orang, ngoreksi orang, as if diri udah paling bener aja ya hiks …

  22. setujuuu sekali s’na … salah satu penyebab kegagalan adalah mencoba menyenangkan semua orang…

    have a nice day :)

    • iya, orang lain senang kita tersiksa ya hehehe

  23. Setujuuuu… cape sendiri dan buang2 waktu + energi kalo harus ‘peduli’ dg keinginan semua orang ya Kak he he
    Orin recently posted… » Day#2 Pagi Kuning Keemasan

    • iya Orin.
      kadang tu gimana ya, mau cuek tapi klo badainya terlalu kenceng yaaaa gak kuat juga kali orang ya hehehe

  24. yahh itulah mbak likaliku hidup, kudu sabar
    kalau dengerin omongan/kritikan orang terus bisa frustasi, dengerin selewat aja ngga apaapa buat jd motivasi supaya lebih baik, tp jgn sampe jadiin beban, malah stres yang ada nanti hihihi
    lagian yahh, jd orang sungguh luber amat perhatiannya, semuasemua diurusin, sampe yg bukan wilayahnya ikut ngurusin :P
    misstitisari recently posted… » Perangko dimanakah kau kini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 48 other subscribers

Recent Posts

No thumbnail available

Bersedekah Atau Menyogok?

May 24th, 2013

Ketika terbangun tadi pagi menjelang siang, entah bagaimana pemikiran ini terlintas di benak saya, b...

No thumbnail available

Antara Hobi Dan Usaha

May 23rd, 2013

Baru-baru ini saya dibuat geleng-geleng kepala ketika membaca komentar orang-orang yang bergabung di...

No thumbnail available

Rasisme Itu Masih Kental, Kawan!

May 22nd, 2013

Suasana hati sedang bagus, saat itu saya sedang belanja keperluang warung di sebuah toko grosir deka...

No thumbnail available

Kisah Mantan Tukang Rumput

May 20th, 2013

Sosoknya mungil, kulitnya legam eh tapi tak selegam warna kulit sodara kita yang dari Papua ding. In...

No thumbnail available

Miliknya Bukan Milikmu

May 20th, 2013

Sana ribu, sini ribut. Semua ribut urusan lahan. Cakepnya lagi, muncul pengakuan kalau mereka sadar ...

Categories