Ketika membaca tulisan Mba Mechta yang ini, saya pun lalu teringat pada sebuah keluarga di mana seorang ayah begitu menyayangi anak-anaknya. Memang sih, semua ayah juga pasti menyayangi anak-anaknya, tetapi cara ayah yang satu ini sangat tidak biasa dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
———————-
Sebut saja si Fulan, anak pertamanya yang perempuan, yang sejak kecil punya prestasi akademik yang cemerlang. Setiap pengambilan rapot selalu membuatnya tersenyum lebar dan bangga, anak perempuannya juara kelas lagi dan lagi. Kebanggan yang teramat pantas karena dia merasa pendidikannya yang tak sampai SMA itu bisa mencetak anak yang cerdas.
Dikuliahkannya anaknya dengan harapan nanti si anak punya modal yang cukup untuk bersaing d
engan manusia-manusia lain di masa depan. Bahkan persiapan itu telah dirancangnya ketika si anak masih di berseragam biru, sudah dikursuskannya bahasa Inggris, kemudian komputer. Tapi apa yang terjadi ketika si anak lulus kuliah? Berkarirkah dia? Sayangnya, tidak!
Anak itu memang punya prestasi akademik yang bagus, tapi tidak diiringi pertumbuhan psikologis yang sepadan. Anaknya tidak percaya diri sehingga kesulitan beradaptasi di dunia kerja. Sampai satu hari, si anak memilih seorang pria untuk dijadikan suaminya. Sebetulnya, sebagai orang tua, mereka tidak setuju, tapi melihat si anak begitu bersemangat, diantarnya juga si anak ke pelaminan.
Berhubung sang menantu tidak bekerja, maka keluarlah sejumlah uang dari kocek si ayah memodali si menantu untuk berusaha. Sampai satu ketika, anak menantunya menjual usaha itu dan menggunakan uangnya untuk pulang ke kampun. Ketika kembali ke Jakarta, keduanya sudah tidak punya apapun lagi. Lagi-lagi si mertua turun tangan, setiap mereka datang selalu disambut dengan tangan terbuka. Setiap kesulitan selalu dibantu jalan keluarnya.
Sampai satu hari biduk rumah tangga mereka tidak terselamatkan lagi, dan perceraian pun tak terelakkan. Sudah bisa diduga, sang ayah kembali menjadi malaikat pelindung yang tak pernah letih sayapnya merangkul anak cucunya. Anak perempuan dan 3 anaknya ditampung di rumahnya, diberi pekerjaan untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan, sang ayah sempat menawarkan si anak untuk mencobaa usaha apa yang sekiranya berkenan di hatinya, nanti si ayah akan memberikan modal. Anak perempuannya menolak tawaran itu mentah-mentah, dengan alasan sudah betah di tempat kerja yang sekarang. Si ayah masih berusaha, karena memanglah sebaiknya si anak punya usaha agar lebih mapan hidupnya, yang sudah pasti takkan cukup jika hanya mengandalkan gaji semata.
Sikap si anak perempuan ini tentu saja menuai protes dari anak si ayah yang lain. Semua merasa sikap si anak sulung sudah keterlaluan. Tak ubah bak benalu hidupnya, begitulah adik-adiknya membuat perumpamaan. Tapi si ayah, masih saja tetap merasa punya andil besar sehingga anak sulungnya seperti itu.
“Dulu, seharusnya ketika dia baru lahir, saya melangsungkan satu acara adat besar-besaran agar tersiar berita tentang kelahirannya. Menurut perhitungan primbon, maka kelahirannya itu memang harus digembar gemborkan ke seantero negeri, seharusnya ada suara petasan bersahut-sahutan, agar sukses hidupnya. Tapi ayah mertua saya punya pendapat lain, cukuplah dengan memotong hewan berkaki empat, tak perlu suara petasan itu. Padahal efek suara petasan dan suara lenguhan sapi yang dipotong, tentu saja beda. Akan lebih banyak orang yang mendengar suara petasan daripada suara lenguhan sapi. Maka, saya masih sanggup menerima semua kekurangan dia sampai hari ini. Semampu saya, akan saya payungi hidupnya. Walaupun sering juga saya jengkel, karena dia begitu keras kepala, tidak bisa diajari, egois pula. Tapi dia anak saya, dan tak mungkin saya membiarkannya berputus asa. Apalagi sampai tak makan dan terpaksa tinggal di bawah kolong jembatan. Tak mungkin saya bisa setega itu. Kalian pun nanti, akan berbuat hal yang sama kepada anak-anak kalian. Jika anak-anak kalian sudah besar nanti, kalian akan memahami keputusan dan sikap saya ini.”
Begitulah si ayah menanggapi anak-anaknya yang lain, yang merasa si ayah terlalu memanjakan si anak sulung. Menurut mereka, si anak sulung mesti dibiarkan mandiri, mencari penghidupannya sendiri. Toh, banyak kok janda-janda yang bisa bangkit, dan bukannya berlindung di bawah ketiak orang tuanya. Mending kalau dia anak tahu diri, tapi malah ngelunjak begitu, untuk apa sebenarnya si ayah berpedih-pedih untuk terus memayungi anak dan cucu-cucunya? Parahnya lagi, si anak sulu sama sekali tak pandai menjalin rasa dengan saudara-saudara sekandungnya. Sifat iri hatinya begitu dominan, sehingga sejak kecil tak pernah akur dengan saudara perempuan dan saudara laki-lakinya.
“Sebagai orang tua, selama saya masih hidup, semampu saya akan saya bantu dia. Tapi jika saya tidak ada nanti, dan jika kalian sudah muak dengan sikapnya, terserah kalian, apakah masih mau membantunya atau tidak. Ayah takkan berkecil hati. Ayah pun tahu seperti apa dia sama saudara-saudaranya. Memanglah dia sudah hidupnya tak beruntung, juga sangat tak tahu diuntung, tak tahu diri pula, tetapi begitupun, dia tetap anakku. Anak yang kubesarkan sejak kecil. Anak itu, seperti bibir dan hidung, sampai kapanpun keduanya tak dapat dipisahkan. Bau mulut busuk atau wangi, si hidung tetap ada di sana membaui keduanya.”
Terdiamlah anak-anaknya yang lain menyimak penuturan sedih ayah mereka. Penuturan yang sebetulnya sulit diterima, karena anak-anak yang lain punya pemahaman yang berbeda. “Kami tahu ayah sayang sama dia, juga anak-anak ayah yang lain. Tetapi, tahukah ayah bahwa cara ayah ini sangat tidak mendidik? Dia jadi serba enak terus meminta tolong kepada ayah. Terus begitu, sampai setua itu pun dia tak juga mandiri. Mau sampai kapan? Jika ayah memang betul sayang padanya, justru sekarang saatnya ayah harus mendidik dia. Mengusir dia dari rumah ini, menyuruhnya mencari pekerjaan yang bisa membuatnya mapan. Daripada menumpang di sini pun dia malah membuat ayah stres. Tak ada tenggang rasanya sama sekali pada ayah. Seolah-olah ayah itu cuma atm berjalan buat dia. Siapa tahu jika dia mandiri, justru dia akan menemukan jalan suksesnya?!”
Si ayah serta merta menimpali anak-anaknya. “Dia pun pernah minta ijin pergi dari rumah ini, mau pergi bersama anak-anaknya, tapi tidak saya ijinkan, karena tujuannya ke tempat yang saya tahu dia tidak akan sanggup tinggal di sana”
“Bagaimana ayah tahu dia takkan sanggup dan tidak berkembang tinggal di sana? Memangnya ayah ini Tuhan? Biarkan dia menentukan jalan hidupnya, biarkan dia menyerahkan semua pada Tuhan, kalau nanti sudah begitu tetap dia terpuruk, barulah ayah ulurkan tangan untuk membantunya.” desak anak-anaknya lagi.
“Jika saat itu dia sudah hancur, apa saya tidak lebih susah lagi? Apa tak semakin panjang saya mesti mengulurkan tangan? Apa tak semakin dalam saya harus merogoh kocek? Sudahlah, tak usah kalian repot, saya ayahnya, saya lebih tahu apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya. Toh ini hanya akan berlangsung sampai sisa waktu saya habis.”
Tentu saja anak-anak yang lain tetap tidak terima, cuma di dalam hati, karena percuma jika diteruskan. Sang ayah sudah berketetapan hati. Tak mudah meruntuhkan gunung karang di hatinya. Cuma bisa berharap, si anak sulunglah yang lebih tahu diri, bukan malah memanfaaatkan kelemahan hati si ayah.
————
Dari kisah di atas, bagaimana menurut sohiblogger? Sudah tepatkah cara si ayah dalam menunjukkan rasa sayangnya pada anaknya? Tidakkah dengan caranya itu sama saja dia menggali lobang kematian untuk anaknya? Wajarkah rasa bersalah tentang tidak dilakukannya penyambutan secara adat ketika si anak sulung lahir dan perasaan itu terus menggerogoti si ayah sampai akhir hayat di kandung badan? Bagaimana pula sebaiknya adik-adik si anak sulung menyikapi keadaan ini? Kiranya sudi berbagi ya
Si ayah over perlindungan. T e r l a l u… kata bang haji Rhoma. Sebaik dorong anak untuk mengambil tanggungjawab terhadap diri sendiri sambil memberikan pertolongan yang pantas.
Alris recently posted… » Kopi Ternikmat di Dunia
Nike …
Tanpa bermaksud menghakimi semua …
saya rasa kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua …
entah itu sebagai anak … maupun sebagai orang tua …
sebuah pelajaran yang namanya cinta …
bahwa cinta itu tidak selalu berarti meng-iya-kan
Saya mengerti maksud si Ayah
dan … Saya pun mengerti mengapa si Anak itu menjadi begitu.
Yang saya harapkan adalah … semoga semua bisa berjalan kearah yang lebih baik … tetap penuh cinta … cinta yang sebenarnya …
Cinta ayah kepada anaknya …
dan … yang juga penting … Cinta anak kepada keluarga besarnya … termasuk pada Ayahnya …
Jika si Anak cinta ayahnya …
Jika si Anak cinta saudara-saudaranya …
saya rasa dia akan mau berubah …
salam saya Nike
(I like this post Nik …)
(ini sepertinya akan menjadi kandidar nine post from friends saya di tahun 2012 ini)
nh18 recently posted… » karsini # 26 : RUANG PEMBANTAIAN
Om Trainer emang bijaksana banget deh
Tapi Om
kasihlah sikit pencerahan agar saudara2 si anak Sulung bisa punya sedikit pemahaman untuk menerima cinta tak bersyarat si ayah pada anak sulungnya, apalagi si anak sulung tak menunjukkan sikap yang bisa ditoleransi oleh saudara2nya secara pandangan UMUM. Please?
Kalau melihat cerita diatas,memang agak sulit untuk memutuskan apakah si anak sulung tetap tinggal dan membuat saudara2 lainnya kurang nyaman,atau membiarkan anaknya itu pergi dan masih belum ada kejelasan akan adaptasi yang nantinya harus dirasakan oleh si sulung.
Mungkin sang ayah terlalu khawatir bila si sulung akan gagal lagi,Tapi kalau si sulung sudah kerja bukankah sedikit banyak bisa membantu mbak.
grandchief recently posted… » Barca menang di Kandang Leverkusen,Lyon hanya menang tipis
Kalau baca percakapan si bapak dan anak2nya di atas sih ngertiin maksud dari keduanya.. Si bapak ada benernya, si adik2nya juga. Yang musti berubah menurutku bukan si bapak, tapi si anak sulung. Cara merubahnya? nah itu dia selama nulis ini juga masih belum tau… *agak ga bantu yaaaa* Tapi memang pada akhirnya harus dia yang sadar dan berubah sih..
Oh iya, pertanyaaan… “Fasilitas” yang si bapak kasih ke anak sulung, dirasakan juga oleh adik2nya yang lain ga? atau dari kecil si sulung selalu mendapat yang lebih bagus dari adik2nya?
bebe recently posted… » Dear Little Birdie
Dari yang saya tahu sih, semua anaknya menerima perlakuan sama, hanya saja hasil akhirnya yang beda; sehingga adik2 si anak sulung merasa iba pada si ayah karena ketergantungan si anak sulung.
Si ayah paham kok soal memberi KAIL, dan anaknya yang lain ya diberi kail, dan mau pula, beda dengan si anak sulung, dikasih kail dia nolak, jadi mau tak mau ya diempani terus deh … *duh bahasa diempani kok ga enak yah
*
oh, kalau sama fasilitasnya menurutku berarti bukan salah asuhan, emang anak sulungnya aja yang sifatnya jelek. Karena toh adik2nya baik2 saja dan tau diri..
Apalagi kali ini bukan cuma masalah si sulung aja, tapi ada cucu2nya (Si sulung udah punya anak kan?) Jadi rasa melindungi si bapak rasanya pasti lebih tinggi lagi..
Ya seperti yang aku bilang tadi, si sulung harus mau berubah.. kalau saat dia mulai belajar dewasa adalah saatnya sang bapak sudah ga ada.. ya berarti itu memang pilihannya dia..
bebe recently posted… » Dear Little Birdie
yaaa semoga si anak sulung itu dapat hidayah terus berubah ya Be
judul postingannya cocok banget tuh mba… “kasih yang menjerumuskan’.
Saya sependapat dengan saran dan protes dari adik2 si sulung (eh btw, aku juga terlahir sbg anak sulung lho. hehe) terhadap ayah mereka. Bahwa semakin mengulurkan bantuan, kasih sayang dan perhatian berlebihan spt itu justru akan membuat si sulung semakin buta mata hatinya. Semakin manja dan tidak akan pernah mampu menghadapi pahit getir kehidupan. Okelah disaat si ayah masih ada, nah kalo ayahnya telah tiada, akan ambruklah dia.
Kalo aku jadi adik-adik si sulung, aku akan coba minta bantuan kerabat (yang dihormati oleh si ayah, misalnya abangnya, kakaknya) untuk memberikan masukan kepada si ayah, membuka mata hatinya, agar mampu melihat resiko ke depan jika sikap memanjakan dan melindungi ini terus dilanjutkan.
Mungkin masukan dari kerabat yang dihormati, yang lebih tua darinya, akan lebih gampang diterima akal sehat dan mata hatinya dibandingkan protes atau saran dari anak-anaknya…
Soalnya kasian si sulung kalo terus dibiarkan mendapatkan kasih sayang menjerumuskan seperti ini…
oya, mungkin kalo aku jadi adik si sulung, aku akan rembug dengan saudara2 lainnya untuk menyidangkan si sulung, hahaha… dudukkan dia, bicara baik2 bahwa adik-adiknya prihatin dengan kehidupannya, tapi si kakak juga harus punya kemauan untuk mengubah nasib dan sikap, jangan hanya bergantung pada bantuan si ayah… kalau masih bandel juga, mungkin layak si kakak ini mendapatkan kecaman dari adik-adiknya. Agar dia tahu diri, bahwa bukan hanya dia saja anak si ayah, tapi mereka juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari si ayah..
ih, kok aku malah jadi mengubah alur cerita ya mba? huahuahua… maap…
hahaha … disidang yah?
melihat hubungan mereka yang tidak akur sejak lama, susah tuh menyidangkan si anak sulung, wong peran si anak sulung sudah pindah ke si anak tengah, jadi dah ga dianggep tuh si anak sulung mba.
gpp mba, memang tulisan ini butuh komentar panjang lebar kok
mungkinkah sikap si ayah itu sebagai penebus rasa bersalahnya karena telah ‘salah didik’ sehingga menghasilkan anak seperti itu ?..ah, tak tahu juga ya…yg jelas, itu salah satu kasus yg dapat kita jadikan pelajaran ya Nik…
betul mba, saya memang bermaksud demikian, sebagai calon orang tua, pengalaman orang lain bisa menjadi pelajaran berharga, agar saya tidak mengalaminya nanti.
terkadang pikiran orangtua dan anak memang bisa berbeda Mbak, apa yang dipikir anak baik belum tentu bisa diterima orangtua, apa yang dipikir orangtua terbaik belum tentu si anak suka
mudahmudahan si sulung dan anakanaknya bisa tetap survive nantinya ketika waktu si Ayah habis, jg bisa akur sama saudarasaudaranya
misstitisari recently posted… » Surat Untuk Sahabat
harapan kita, saya sebagai penonton demikian adanya mba.
kl ngomongin soal ayah… saya diam aja dah
Syamatahari recently posted… » #12 Aku Ingin Terbang
Napa Sya?
Salam kenal ya…mampir setelah ngintip di warung blogger…tulisannya menarik…numpang komentar ya, manusiawi sekali kalau si ayah mengharapkan si sulung berhasil, apalagi dia anak perempuan, yang tentu amat disayangi, tapi tentu kurang bijak jika terus menopang hidup si sulung tanpa mengijinkan dia untuk berusaha….seorang ayah plus juga seorang kakek tidak sampai hati membiarkan cucunya terlantar (apalagi sampai 3 orang)…yang mesti sadar diri, mestinya ya si sulung untuk dapat merangkul adik2nya dan berusaha untuk mandiri serta menolak bantuan2 ayah
saya kira pun semestinya demikian mba, cuma yaaa kenyataannya tidak begitu
saat segala sesuatunya dipersiapkan
kadang mental malah jadi lemah
justru lebih kuat orang orang yang serba kurang
termotivasi untuk bertahan hidup kayaknya itu yang terkuat
rawins recently posted… » Kangen Pulang
memang orang yang serba kurang lebih tangguh kok dalam menghadapi hidup, mungkin karena sejak kecil sudah ditempa oleh keadaan.
wahh pelik sekali masalahnya mbak nique~
anak sulung yang diharapkan malah …. ugh
Maya recently posted… » Cinta ♥ Datanglah!
begitulah Maya
Tidak selalunya anak sulung menjadi teladan ya.
Terkadang saya juga sampai mmikirkan hal ini, meskipun belum pada waktunya.
Dan sudah barang tentu tidak mengerti apa yang seharusnya dilakukan.
Butuh belajar dari sahabat2 yg sudah berkeluarga mungkin, ya, itu yang saya lakukan.
16 September recently posted… » Alhamdulillah, Sah
saya juga blum waktunya, belum punya momongan hehehe tapi harus belajar, setidaknya dari pengalaman orang lain pasti ada yg kita bisa ambil hikmahnya.
memang nggak mudah ya menjadi ornag tua, menjadi anak juga
andia ortu nggak bsia membagi rata kasih sayangnya ujung ujungnya pasti ada rasa iri, dan itu wajar sekali
aku ndak bisa membayangkan andai jadi ayah atau anak itu, sama sama berat
Ely Meyer recently posted… » Dibohongi
saya pun menyadarinya begitu mba Ely, tidak mudah menjadi keduanya, dan juga tidak mudah berada di posisi saudara2nya tentu saja.
Pertanyaannya ‘berat’ neh Mbak. yg saya tahu, memberikan kebahgiaan pada anak bukan berarti harus memberikan semua yg diinginkannya ataupun membiasakan dengan hal-hal yg justru akan membuat anak tdk bisa mandiri…selebihny ikutan menyimak ya..
ririe khayan recently posted… » (Serunya) Jalan Pintas
hehehe kan dah banyak postingan ringan di sini mba, sekali2 berat boleh yaaa
saya pun masih menyimak kok mba, sama2 yuk
manusiawi jika si ayah mempunyai perasaaan spt itu, krn terlalu sayangnya dia shg kekhawatiran2 thdp nasib anak sulungnya kedepan, membuat dia memutuskan ttp membantu hingga akhir hidupnya.
karena perlu diakui, orangtua sajalah yg bs menerima kelebihan dan kekurangan kita, dan mengerti tabiat dan kelakuan kita, mknya dia bersikap spt itu saya rasa.
Jika saya ada diposisi anak2 yg lain, pasti sgd geram jg , tp perlu dimengerti perasaan orang tua sgd beda dg perasaan kita anak2nya, betul kata si ayah kita akan merasakan hal yg sama stlh kita punya anak kelak, selagi msh bs melindungi anak2nya, apapu akan dilakukan, wlw itu mgkn akhirnya menjerumuskan si anak menjad anak yg manja, ga mandiri dan lainya.
in pernah mimi rasakan, gmn tdk enaknya menjadi anak kedua, semua yg abang saya lakukan dan minta pasti diutamakan, bencinya saya dg sikap ortu . tp stlh punya anak, baru saya rasakan jg hal srupa padaanak sulung saya ??? salahkah saya ??? saya rasa tdk , karena itu manusiawi saya hidup dimasa skrg tp saya saya sadar krn sya mendengar , melihat dan membaca bahwa tindakan saya perlu penyeimbang, memberi rasa yg sama thdp anak2 saya yg lain, adalah solusinya.
kaga tau dah nyambung apa engga, tp mimi koq y maklum dg sikap si ayah,,,maaaaaaf
mimi radial recently posted… » ….EDISI NDESO…
wah, Mimi malah pernah merasakan kakak sulung seperti di kisah itu ya?! Ga kebayang juga rasanya berada di posisi seperti Mimi.
“Sebagai orang tua, selama ………………….
Mengutip sedikit. sikap sang ayah tidak menjerumuskan, orang tua tidak rela melihat anaknya menderita. Kebanyakan sang anak yang salah mengartikan kasih sayang tersebut.
Ayah hanya ingin memberikan pelajaran yang salah dicerna oleh si sulung dan anak yang lain
salam dari pamekasan madura
Citro Mduro recently posted… » Membuat Halaman Contact Me Inbos To Draft Post
sepertinya begitu ya Cak
dan sebagai penonton, saya pun belajar banyak dari kisah keluarga ini.
Ceritanya panjang niq..jadi terbawa suasana,.
Si Ayah terlalu banget ampe segitu sayangnya ama si Sulung,gimana nanti kalo ga ada Ayah..Cara Ayah yang salah memeberikan kasih sayang,tidak mendidik ..
Aku anak sulung loh,tapi di cuekkin aja sama Mama dan Bapak,hiks..tapi berkat didikan beliau yang super cuek,aku jadi mandiri deh ..
Nchie recently posted… » Penjaga Webe’s Blog
saya belum jadi orang tua, jadi masih mereka-reka, apakah sikap si ayah memang terlalu, atau wajar adanya.
walaupun, jika dipikir dengan akal sehat, ya emang keterlaluan hiks ..
beruntung ya mba Hanie karena dididik jadi anak mandiri
Anak kurang ajar yang tidak tahu diuntung, sebaiknya dijadikan umpan buaya saja.
Sayang bapak over dosis, seharusnya si bapak memberikan ketegasan, berkeluarga, berarti sudah siap dengan segala resikonya. Tidak ada orang tua yang mau melihat anaknya menderita (kecuali orang tua edan), tetapi sayang berlebihan justru membuat si anak tidak mandiri dan pada akhirnya menyulitkan orang tua itu sendiri.
Bagi kasih sayang merata kepada semua anak.
hahaha … *ops*
Klo si anak sulung jadi umpan buaya, yang ngurusin anak2nya siapa dong nanti om pakde mas?
Si ayah dalam kisah ini memang luar biasa sepertinya, ada 1 kisah lagi tentang dia, nanti saya posting terpisah
Berat dan bener berat mbak…ketika semua upaya yang dilakukan si Ayah..dari membiaya dan memberikan modal semuanya itu berbuah kekecewaan, tambah tingkah si sulung yang kurang menyambut adik-adiknya..sebagai adik-adiknya tentu merasa dianak tirikan oleh si ayah.
Tapi ayah tentu tidak ingin melihat anaknya menderita, alasan tertentu yang membuatnya demikian, tidakkah dia ingin mewujudkan pesan ibunya? sehingga dia berusaha yang terbaik untuk anak hingga akhir hidupnya, dan kemudian biar si anaklah yang menentukan kemudian. Namun singkat, saya pribadi kurang setuju dengan sikap si ayah. siapa tau setelah ia meninggal malah menjadi perang saudara?
Budi Arnaya recently posted… » Bukan Mawar, Tetapi Melati
menurut pengamatan saya, perang saudara mungkin bisa mereka hindari, tapi kemungkinan besar si anak sulung akan jadi anak terbuang, karena tak pernah bisa akrab dengan saudara2nya sendiri.
Harusnya anak sulung tersebut bisa menjadi pengganti sang ibu, tapi nyatanya justru menjadi perusak.
Yang saya tahu sih, si anak sulung TIDAK PERNAH berperan sebagai layaknya anak sulung tuh om pakde mas
perusak? hmm…memang dia tak juga pernah bisa jadi pemersatu di antara saudara2nya.
*ikut nelongso*
rasanya setiap orangtua menginginkan anaknya tidak terbelit masalah, apalagi masalah finansial. Karena toh faktanya kita butuh uang untuk mempertahankan kehidupan.
Saya pun pernah menemui sepasang orangtua yang justru tega anaknya tersiksa lahir batin dikarenakan egonya dalam mempertahankan martabat keluarga.
Tapi ya itulah kehidupan, semakin keras kita diperas ujian dan cobaan semakin banyak sari pelajaran yang kita petik..
nandini recently posted… » Cinta itu Sederhana Saja
Kekhawatiran sang ayah sangat bisa dimaklumi. Banyak orangtua yang demikian sayangnya. Ketiga pihak: ayah, anak sulung, dan anak-anak lain yang kontra seharusnya lebih berbijak. Ayah memberi pelajaran yang dapat membuat si sulung mandiri, anak sulung lebih tahu dir apalagi di usia seperti harusnya lebih matang, dan anak-anak lain yang kontra juga gak semestinya terlalu kontra hingga berkesan tak ambil pusing …
elfarizi recently posted… » Tentang Ikan
Wuooooohhh.. berrrraaaatttt..
Orang tua saya sejak kecil membiasakan kami saling berbagi sih, Nik, kami enam bersaudara tapi kompak, jadi susah juga membayangkan gimana rasanya ada dalam kejadian seperti di atas. Tapi mungkin juga itu sebagai wujud penyesalan si ayah yang sebetulnya hati kecilnya sadar bahwa si sulung seperti itu juga karena kesalahan beliau dalam mendidik dan membesarkannya.
Namanya orang tua, nggak ada yang tega begitu saja ‘membuang’ anaknya yang sudah begitu terpuruk, ya nggak sih?
Mumpung masih ada kesempatan, justru alangkah baiknya kalau saudara-saudara si sulung juga ikut merangkul kakaknya. Kasih sayang itu punya dampak besar, lho
della recently posted… » Untung atau Rugi?
di paragraf 9 diterangkan bahwa si sulung ini dominan sekali sifat iri bin dengkinya, sehingga sama tak pernah bisa seia sekata dengan saudara2 kandungnya. Kebaikan seperti apapun yang ditawarkan adik2nya, pasti disambut sinis olehnya.
Jadi bagaimana bisa merangkul kalau hubungan sudah tidak harmonis? Iya kan? *prihatin*
Nyerah deh kalau gitu
della recently posted… » Untung atau Rugi?
Terlepas dari semua itu, sangat umum sekali orang tua “Me-nomor Satu-kan” anak pertama, karena biasanya anak pertama itu ibarat “TAMU” jauh yang kedatangannya sangat dinantikan & diharapkan. Jadi komentarnya saya sambung besok lagi ya …
Salam
MyeMDi recently posted… » Pertanyaan Seorang Teman
ok lah, ditunggu besok di sini, di channel yang sama yah … jangan sampai lupa lho
Sebenarnya kasus yang kamu lempar ini cukup berat Niq, haduh saya gak bisa banyak berkomentar, mungkin satu saja seyogya-nya “Kasih itu tidak Menjerumuskan” TAPI “Kasih itu Menuntun”, gitu aja ya Niq hehehe … ppiiiisss
MyeMDi recently posted… » Pertanyaan Seorang Teman
Jadi, ini kisah nyata ya mbak…?
Cukup membingungkan juga ya….seorang ayah pasti ingin selalu melihat putrinya bahagia ya……tapi, mungkin memang sudah salah sejak awal deh. Si anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang Pe de, tentunya ini ada sebab akibat di masa kecilnya donk…..entah karena terlalu di manjakan, atau terlalu di kerasin, atau selalu di turuti semua maunya, atau memang tidak di beri kebebasan bersosialisasi dengan lingkungannya atau karena orang tua yang kelewat over protektif sama anak juga bisa bikin anak jadi nggak pe de an lho.
Tapi, semua sudah terjadi, menyesal juga tak ada gunanya. mestinya 2 pihak ini harus bertemu lagi, bicara lagi dari hati ke hati…..dan sodar-sodara yang lain sih sebaiknya juga jangan terlalu memojokkan, harusnya mereka bisa merangkul si sulung ini untuk segera keluar dari masalahnya.
Kalo pendapat saya sih begitu mbak niq…….rumit juga ya kisah ini…..jadi terbawa serius nih…..hehe….ayo ah senyum dulu untuk mengurangi keseriusan ini….hehe…salam kenal mbak niq…
Mami Zidane recently posted… » Tas kain vs kantong kresek
Untuk rasa sayang, kayaknya wajar..tp si ayah terlalu memanjain anaknya..sekali2 harusnya anaknya di tegasin. biar bisa mandiri.
melly recently posted… » Varian Baru Soto Jamur
hmmm….
karena sudah menyandang status sebagai orangtua, saya juga tidak bisa menyalahkan penuh sang ayah. siapapun itu, tak ada orangtua yang ingin melihat anaknya menderita.
tapi saya bandingkan dengan diri saya sendiri, dulu waktu memutuskan menikah muda, ada terdengar suara-sauar (bukan dari ayah) tapi dari keluarga lain bahwa keputusan saya itu hanya akan menambah beban orangtua karne masih kuliah dan blum punya pekerjaa. tapi saya dan suami berjanji tidak akan pernah menyulitkan orangtua kami masing2 dengan niat suci itu dan alhamdulillah, Allah punya kuasa. Kami bersyukur tak pernah memberatkan orangtua sepanjang perjalanan pernikahan kami. Untuk meminta uang saja meski sedikit rasanya beraaaaaat mba. Alhamdulillah Allah selalu ,memberi rezeki dari arah tak terduga sehingga kami tak perlu merepotkan orangtua jika sedang butuh.
buat saudara2nya, saya yakin mereka juga tidak salah. Tapi sebagai anak, dalam memberikan perngartian kepada orang tua juga kepada kakaknya harus dengan cara yang bijak. kalaupun ternyata keingina kita tidak bisa dilakukan oleh sang ayah dengan alasannya yang kuat, kita hanya bisa mendoakan agar si kakak sadar. bahwa tak selamanya si ayah yang terus melindingunya akan hidup bersamanya.
ridha alsadi recently posted… » Belajar Membuat Blog Foto Anak
wah rada berat yach mbak masalahnya…orangtua memang begitu mbak…persis kayak ibuku…saking sayangnya sama anak sulungnya, jadinya malah memanjakan bukan mendidik…akhirnya setelah ibuku udah ngga ada…baru anaknya sadar….dan akhirnya skrang dia mau berusaha…mgkin dalam kasus yg mbak tulis itu….sang Bapak ingin seperti itu…selama dia masih hidup akan mati2an melindungi anaknya…supaya nanti kalo sdh ngga ada…sang bapak “merasa” sudah menunaikan kewajibannya sebaik mgkin……
nia/mama ina recently posted… » Hadiah Dari Sahabat
tepat sekali mba Nia,
ketika anak2nya yang lain bilang, bagaimana nanti si anak sulung jika ayahnya meninggal?
Ya terserah adik2nya, kalau adik2nya mau menolong saudaranya seperti yang saya lakukan ya bagus, tidakpun ya bagus. Paling tidak saya tidak ada lagi di dunia ini melihat dia hidup sengsara.
kalau sudah punya anak mungkin kita bisa lebih memahami ketetapan hati sang ayah… Kalau saya pribadi, saya cendrung akan membuat anak-anak saya mandiri diatas kaki mereka sendiri. Tapi saya tahu pula bahwa anak-anak tidak pernah jadi dewasa bagi orang tua mereka.. Semandiri-mandirinya sang anak, adakalanya orang tua merindukan sang anak untuk meminta pertolongan mereka seperti saat kita masih kecil dan beranjak besar dulu. Apalagi jika sang anak nyata-nyata tidak bisa mandiri, maka orang tua lebih tidak mau ambil pusing melihat anaknya sengsara. Lebih baik sang anak kembali dinafkahinya tapi hidupnya jelas daripada luntang lantung diluar tanpa kejelasan.. Itu membuat batin orang tua jauh lebih sakit…
Goiq recently posted… » Review Hotel Bukit Randu Lampung
begitulah yang saya dengar penuturan si ayah.
katanya begini:
kalianpun karena belum ada di posisi saya, bisa kalian bicara begini begitu.
coba nanti kalian jadi ayah, sanggup tidak kalian melihat/mendengar anak kalian tidak makan misalnya? Sementara kalian makan beras yang sekilonya saja sampai Rp 15.000? Anak dengan orang tua itu, seperti bumi dengan manusia, bumi selalu menampung segala jenis manusia, mau baik atau jahat, tak ada yang ditolaknya.
sulit dijawab mbak, disatu sisi orang tua pasti tidak mau melihat anaknya susah, tapi disi lain kurang mendidik. mungkin diberikan suatu untuk usaha sendiri ya
di paragraph 6 sudah saya terangkan bahwa si ayah sudah menawarkan anaknya untuk membuka usaha sendiri, tapi dia tidak mau mba.
waduuuuhh,,,, berat juga prtanyaannya bu.. hehee
pintar secara akademik saja saya rasa kurang cukup untuk bisa bersaing dalam mnjalani kehidupan ini. Karena tidak smua diukur dengan kemampuan akademik, namun perlu juga keterampilan dan tentu saja jiwa sosial yang tinggi. Karena kita hidup bermasyarakat, dan tidak bisa hidup sendiri.
Sebagai orang tua hendaknya juga jangan terlalu memanjakan, atau jangna terlalu gampang mmberikan bantuan lah istilahnya. Ajarkan anak untuk mncoba mandiri, namun tidak juga spenuhnya melepaskannya. Cukup dipantau dan dibimbing saja.
Mabruri recently posted… » Saya ingin di sini saja
Kisahnya agak sulit diterima oleh nalar, terutama penyebab mengapa sang ayah sedemikian membela si sulung…
Ini kisah nyata atau fiksi mbak?
Iman recently posted… » Hot Issue : Android CDMA Berlayar 4 Inci Murah
Kisah nyata mas Iman.
ank sulung biasanya jadi panutan, ini kok begini yah….
aduh si bapak sayang banget sama dia, jadi bingung
jiah al jafara recently posted… » Episode Baru
saya juga bingung kok
kalo seorang ayah begitu itu wajar
tidak ada hubungannya dengan adat, sehingga bisa mengubah pribadi seseorang
namun, tindakan ayah itu memang sedikit salah, namun lebih banyak salahnya terletak pada anak perempuannya itu yang tak kunjung mengerti pengorbanan si ayah
kalo itu sih menurutku
johnterro recently posted… » John Terro in Japanese World 2012 UNAIR Surabaya
wah…perkara orang tua mbak, saya no comment aja deh
cuma klo saya jadi anak sulung itu, ya harusnya introspeksi diri lah… mana ada sih orang yang selama hidupnya bergantung mulu sama orang lain, sekalipun itu orang tuanya sendiri
apapun yang terjadi, harus tetep bisa mandiri
kalau bisa melakukan sendiri alangkah lebih baik tidak meminta bantuan orang lain
puch recently posted… » celoteh sudut lemari #3
pertanyaan yang susah nik… hehe
karena emang kita gak bisa nge-judge parenting style orang lain. kita gak di posisi dia.
emang secara umum sih ya caranya ‘salah’ ya. sengaja gua kasih tanda kutip karena sebenernya parenting itu gak ada yang salah atau benar. ya emang idealnya kita gak ngasih ikan ke anak, tapi ngasih kail nya.
tapi balik lagi gak semua anak sama kan. mungkin emang pada umumnya anak yang dikasih kail akan lebih baik. dia bisa belajar mencari ikannya sendiri jadi gak tergantung ama orang tua nya.
tapi gak bisa dipungkiri kalo ada anak2 yang emang berkebutuhan khusus (gua gak tau ya anak di cerita lu itu sebenernya termasuk berkebutuhan khusus atau gak… btw, anak berkebutuhan khusus bukan selalu gak pintar dalam akademis) yang kalo dikasih kail tetep gak akan bisa nyari ikan, malah mungkin kailnya bisa melukai dirinya sendiri.
jadi balik lagi… jawaban gua sih… gua gak tau. apakah itu salah atau benar… tapi gua mendoakan moga2 itu yang terbaik buat mereka sekeluarga…
arman recently posted… » Love Is…
wah, saya menyimak komentar teman teman blogger dulu hehe, bagi saya ini perkara pelik
jarwadi recently posted… » Musim Layanan Cloud Drive
Aku bisa paham kenapa si Bapak berkeputusan seperti itu. Dari pembicaraan dengan anak-anaknya kelihatan si Bapak juga sudah mengerti mengenai bagaimana perangai buruk si sulung. Dengan budaya ketimuran di Indonesia *karna si Bapak masih mempercai simbol-simbol Jawa*, si Bapak masih menganggap anak sulungnya adalah tanggung jawabnya, dan sebisa mungkin ditolong, walaupun anak-anaknya yang lain memprotes.
Chita recently posted… » My eBook Giveaway Announcement
Aku pikir, yang paling membutuhkan perhatian saat ini adalah si Bapak. Harus ada seseorang yg membenturkannya pada realita, bahwa dia telah merusak kehidupan anaknya sendiri dengan label paling mulia yaitu kasih sayang. Menurutku ini bukan kasih sayang tapi semacam obsesi, semacam penyakit kejiwaan, yang timbul dari rasa bersalah. Rasa bersalah yg tak menurut tempatnya pula. Begitu si Bapak pulih kesehatan batinnya, baru membantu anak sulungnya..
Evi recently posted… » Sesaat Sebelum Malam Jatuh
satu pencerahan dari mba Evi
jadi si ayah harus ‘bebas’ dulu dari rasa bersalah
baru mengurusi anak sulungnya ya?!
Pertama-tama saya bisa bilang Nasi menjadi Bubur….Kalau bisa dibilang salah mendidik koq adik2nya tidak seperti si sulung?? Mungkin sebaiknya si sulung diberikan pengertian terus dan terus. Nah sebagi seorang Ayah (di agama kita) sudah jelas tanggung jawabnya si anak ada padanya. Saya setuju kalau sang ayah bilang, biar bagaimanapun dia adalah tanggung jawabnya (azab akhirat lebih dia takutkan dari pada azab dunia). Kalau saya bisa memahami sang ayah karena punya pengalaman yg mirip. Maka dari itu, saya mencoba memahami orang tua kami saat kita menjadi orang tua. Saya jadi teringat saat masih sekolah, orang tua saya selalu mati2an memberikan yang terbaik untuk kebutuhan sekolah. Apakah semua anak2nya lulus dan berhasil??? tentu saja belum tentu karena kembali kepada karakter dan pribadi si anak masing-masing.
Bagi saya saya solusinya adalah anak2 lainnya mendukung secara penuh apa yang sang ayah lakukan. Ikhtiar dengan membawa si sulung ke psikolog untuk merubah perilakunya ditambah dengan doa kepada sang Maha Menentukan yakni Allah agar si sulung mendapatkan hidayah untuk menjadi lebih baik.
Tidak ada maslah yang tidak dapat diselesaikan. Persoalannya ada di waktu dan kesabaran kita menghadapinya. Kalau ada yg bilang “elo mah ga ngalamin sendiri sih?” coba deh simak dan baca bagaimana kisah2 rasul pendahulu kita saat mendapat masalah2nya….dan menyelesaikannya…Yang utama adalah Ikhtiar…sisanya kita serahkan kembali kepada Sang Maha Memutuskan
Necky recently posted… » Bangga Sebagai Anak Bangsa
sorry nique kalau kepanjangan…
Necky recently posted… » Bangga Sebagai Anak Bangsa
gpp mas
terima kasih urun pendapatnya.
disini saya juga gak setuju dengan sikap si Ayah
walau bagaimanapun jg anaknya harus bisa berusaha sendiri karena dia sudah dewasa, sudah memiliki tanggung jawab sendiri
sikap ayahnya hanya akan membuat dia malas dan manja, kasihan nt kalau ayahnya udah gak ada
Corat – Coret [Ria Nugroho] recently posted… » 1st Time Lucky Mandi
iya Ria, sya pikir pun begitu.
Saleum,
menurutku sih kesalahan si Bapak ini terlalu ‘lembek’ dalam mendidik anaknya. Hati bapak itu lembut sperti perempuan sehingga lebih mengutamakan perasaan sehingga menutupi kebenaran yang sebenarnya. Sedikit keras pada anak tentu akan lebih baik guna membangkitkan rasa tanggung jawab anak pada hidupnya sendiri sehingga ada keinginan untuk mandiri. Kurasa tak ada hubungannya dengan pesta adat kelahiran kok mbak. Memang ada tuh seorang yang berbeda dalam sebuah keluarga besar.
Heudeeeh… berat banget nih ceritanya.
dmilano recently posted… » Haji Balun
kenapa begitu ya Bang? Kuperhatikan pun dalam keluarga2 biasanya memang ada 1 yang beda, tapi ada juga yang perfect semua ya
*edisi halaman tetangga lebih ijo rumputnya*
senangnya punya mertua yang royal begitu hohohoho. mmm…. tapi kenapa bapak Fulan begitu memanjakan anaknya ya…..? keterbatasan fulan membuat bapak “iba”. Mungkin dari sisi bapak beranggapan seperti yang tertulis diatas, hanya….. cara merangkul anak-anaknya sudah melebihi porsi orang tua terhadap anak (dewasa, matang)yang harusnya dilatih mandiri. harusnya Bapak Fulan lepaskan saja anak-anaknya, semampu apa ia bertahan tanpa harus berlindung dibawah ketiak bapak, nah… si Bapak membantunya dengan mengarahkan, mendorong untuk maju……………Kalau mau minta uang? ooooo tunggu dulu, beri bukti nyata dulu. Ibaratnya kalau orang mau tanam modal pasti lihat prospek usahanya dulu khan………..
sejauh yang saya pahami, sikap si ayah kurang benar.
terlalu membiarkan anaknya bergantung pada dia, kasih sayang yang diberikan terlalu “vulgar” sehingga sedikit demi sedikit mengikis kepercayana diri si anak untuk bisa mandiri.
sekarang sudah agak susah, apalagi si anak sudah lama hidup enak dalam payung ayahnya..
iPul dg. Gassing recently posted… » The Battle Of Britain
menurut saya, sikap ayah dalam mendidikan anak tergolong protetif berlebihan, yang seharusnya diambil adalah mendidik secara demokratif (bukan demokrat loh hhh). Maksudnya begini, ketidak percayaan orang tua akan kemampuan anak dalam menjalankan hidup menyebabkan orang tua selalu merasa was-was akan kehidupan anaknya, sehingga apapun akan dilakukan untuk mengatasi pemikirannya. Dan akibat dari semua ini adalah si anak selalu merasa ada yang memayungi dan menimbulkan kekurang percaya diri. Parahnya jika si anak memiliki perasaan iri, dengki dan kurang tenggang rasa, maka semua ini akan memperburuk keadaan. Jadi, kita sebagai orang tua sepatutnya belajar dan selalu belajar bagaimana mengantarkan anak-anak kita menuju kedewasaannya sesuai dengan perkembangan yang dialami si anak. Dan teladan bagaimana cara membimbing anak dan keluarga, adalah kehidupan Baginda Rasululloh SAW
Saya garis bawahi kalimat yang ini karena 3 sifat itu sudah mendarah daging pada si anak sulungnya itu lho Pak.
wah, susah deh nique. aku pikir memang sejak semula salah ortunya. kalau anak banyak dimanja kadang nggak bisa mandiri. ada saatnya orang tua itu membiarkan anak-anaknya belajar mandiri dan hanya melihat dari jauh, menolong seperlunya. tapi ya namanya orang tua, kadang nggak tega sama orang tua.
krismariana recently posted… » Ke Mana Saja Kalau Ke Jogja?
Hmmm…
Bapaknya niatnya apik tapi hasilnya ga apik.
Mbuh mbak mau komen opo…
Eh ngomong2, hidung dan mulut keduanya tak bisa dipisahkan. Mau busuk wangi, tetep aja hidung bisa membauinya. Bau mulutku mambu jare ibuku, tapi sok sok aku ra ngambu ki mbak…
Una recently posted… » My Second Giveaway: Ingin Ke Mana?
Saya membacanya pelan pelan. Maklum, cita cita saya kan menjadi calon Bapak yg keren Mbak, hehe..
Wah, ndak kroso mbaca ini. Setelah selesai baca baru sadar kalo tulisannya panjang. Tulisan yg hangat dan inspiratif.
Tentang benar salah, tergantung darimana kita menilainya. Tapi kalau saya boleh berandai andai, andai saja sang Ayah dulu memberi kesempatan pada buah hatinya (si sulung) untuk melangkahkah kakinya pada arah yg dia inginkan sendiri, pasti hasilnya akan berbeda. Tapi sudah ah, saya nggak mau berandai andai hehe.
Yang bisa saya petik, ada baiknya orang tua membantu anaknya agar bisa membantu dirinya sendiri.
Ohya, barusan saya mampir di blognya Mbak Mechta, ternyata ini saling terinspirasi ya Mbak, haha.. keren
masbro recently posted… » Mengapresiasikan Karya Mbak NiQue
menurut aku seh tindakan ayahnya ada benar salahnya.. gak bisa diukur deh mbak bener banget atau salah banget.. ya namanya juga hubungan ayah dan anak kan yak..
niee recently posted… » SKANDINAVIA – Negeri Peri