Halo, Siapa Namamu?

“Halo, siapa namamu?”

Tak kuduga akhirnya dia menanyakan namaku juga :( Padahal kami sudah berbincang sejak bis ini meninggalkan terminal tadi malam dan sebentar lagi kami akan sampai di terminal Rawamangun. Yah, ini perjalanan yang panjang, dan entah bagaimana kami bisa seperti  tak punya hasrat untuk saling mengetahui nama masing-masing. Seperti tak ingin mengenal satu sama lain. Obrolan kami memang seperti tak ada habisnya. Entah berapa topik sudah yang kami kupas tuntas, itupun rasanya masih banyak yang belum selesai kami perbincangkan. Keterlaluan sekali, ‘kan?

Kupasang muka cemberut, pertanda kesal baru ditanyakannya namaku. Pertanda kumerasa bahwa namaku seakan tak penting baginya, bahwa mengenalku bukan sesuatu yang wajib baginya setelah berjam-jam tadi melantunkan suara tawa yang seirama. Huh! Hei … kenapa pula aku marah padanya? Bukankah akupun bisa menanyakan hal yang sama terlebih dulu? Kenapa pula tak kulakukan? Ah, genit sekali aku ini, baru berbincang sekian jam, sudah berani pasang muka manja begini.

Kuterima uluran tangannya, “Thia.” sahutku sambil tersipu.

“Bisa tersipu juga ya? Kirain mau marah tadi, melihat ekspresi wajahmu ketika kutanyakan namamu tadi.”

Kalau saja kulitku putih, dan kalau saja ini bukan malam hari, pasti dilihatnya rupaku yang sudah seperti kepiting rebus ini. “curang ih … ”

“Curang kenapa?” kau bertanya, entah pura-pura, entah memang benar merasa perlu bertanya.

“Ya curanglah, sudah tau namaku, tapi aku belum tau namamu. Curang ‘kan itu namanya?”

“Kan cuma aku yang tanya namamu, tapi tak ada pertanyaan balik, apa pula yang mau kujawab?” kutau nada suaramu yang menggodaku. Awas yaaa ….

“Ya udah kalau ga mau kasi tau, tapi jangan menyesal ku panggil hai hei saja nanti yaaa … ”

“Hahaha … besar sekali gengsimu, apa susahnya bertanya sih?”

“Ga susah, tapi males aja ngeladenin orang yang sok … huh!”

“Lho? Kok jadi sok? hihihihi … ini niy yang bikin gemes, makanya orang jadi demen godain.”

“Tuh kaaaan … bener cuma mo godain aku aja … aaaa….” sebenarnya ku malu karena telah begitu manja. Orang ini ‘kan baru ku kenal, kok aku sudah manja begini? Waduh … !

“hahaha … hari gini masih ada ya perempuan yang manis manja begini?”

“ya sudah! tak usah saja, siapa juga yang mau tau namamu. aku juga ga peduli. toh nanti setelah di Jakarta, kita juga ga akan saling kenal lagi inilah.” kuputar pandanganku keluar sambil menatap jendela bis yang basah habis diguyur air hujan.

“ga nyesel? ntar nyesel lagi? Ngadu pula sama emaknya? Kan repot aku nanti?”

“Apa pedulimu? ngapain amat lapor sama emakku? Jangan kira mentang-mentang orang sekampung bakal mau aku cerita-ceritain sama emakku. rugi tau.” semakin sewot saja aku meladeninya.

“Ya sudah kalau begitu. hati-hati bengkak pipimu menahan kesal ya hahahaha.”

Benar-benar jengkel kudibuatnya. Ingin kuhajar dia dengan tinjuku ini. Tapi nanti apa kata dunia? Aku ‘kan anak perempuan, dan baru bertemu hari ini dengannya, sudah pula mau meninju wajahnya yang imut-imut itu? Huaaa …

Terminal Rawamangun sudah terlihat jelas, sebentar lagi kami akan berpisah. Dan aku belum tau siapa namanya. Duh! Padahal aku bukan cuma ingin tahu namanya, yang paling penting aku ingin tanya nomor telponnya, alamat emailnya, kalau ada akun fesbuknya sekalian. Tapi sudah terlanjur gengsi, masak mau kujilat lagi ludah yang sudah kubuang tadi sih?

“Salaman dululah kita, kalaupun tak mau tau namaku, tak apa. Siapa tau nanti bertemu lagi, kenalan lagilah kita ya.” dijulurkannya tangannya sebagai tanda perpisahan. Sebagian penumpang sudah mulai turun meninggalkan bis. Perhatianku pun sudah tertuju keluar,  memperhatikan siapa yang menjemputku. Ini masih pagi sekali, emak pasti menyuruh adikku untuk menjemputku. Tapi mana dia ya?

Kuterima salamnya, melengos kutinggalkan dia yang masih menyimpan seringai aneh dibibirnya. Huh! Tergesa ku turun dari bis, dan clingak clinguk, sambil menggerutu, mana sih yang menjemputku?

“Nungguin siapa?” eh dia lagi, tadi udah salam pisah, tapi masih juga ngajak ngobrol.

“Adekku lah.” singkat saja jawabku.

“Udah,  ga usah ditungguin, mending pulang sama aku yuk …”

Ha? Gila kali yaaa … pede bener. Mentang-mentang tadi aku manja manis katanya, dikira mau apa aku pulang sama dia? Keterlaluan! Dikiranya perempuan apa aku ini???

“Ogah! Kenal juga engga, ngajak pulang bareng segala.” Ketus sekali.

“Makanya kenalan dong, dari tadi disuruh namanya nama aja rugi amat sih? Begini keras kepala rupanya perempuan Karo itu ya?”

“Iya, napa? Ga terima?!”

“Gpp sih, cumaaaa ….. masak sih sama impalnya saja segitu galaknya?”

Impal??? Siapa impal siapa?” panik menyerangku tiba-tiba.

“Kita ‘kan impal. Cuma kamu saja tidak tahu aku. Kalau aku ya jelas taulah.”

“Ngimpi ya? Dikira anak kecil apa bisa dibohongin? Pergi sana jauh-jauh, kalau ga mau kuteriakin pencopet.”

“Eh eh … jangan galak-galak kali kam lah Pal, cok kam telpon min dulu mami di rumah, apa betulnya aku ini impalndu?”

Argggghhh….!!! Apa-apaan sih ini???? Setengah tak yakin, ku keluarkan juga telpon genggamku.

“Mak, ada orang yang ngaku-ngaku impalku, satu bis kami tadi dari Jogja, tapi ga mau aku nanya namanya pun.”

“Eh udah kenalan kelen ya. Iya nakku, itu impalndu, sms-an tadi dia sama adekndu, makanya yakin dia itu kam. Memang dia sudah bilang kalau mau ke Jakarta, makanya ku bilang jadual pulangndu.”

“aduhhhhhhh ………kok ga kam bilang-bilang sih mak? Untung ga ku maki-maki dia dari tadi, coba klo sudah sempat pula kutonjok mukanya, apa ga jadi rame?”

“Jangan galak-galak kali nakku, ga laku kam nanti. Ya udah pulang saja kam sama impalndu itu ya, ga bisa adekndu jemput kam soalnya.”

“emang namanya siapa mak? Ga mau aku nanya sama dia ku bilang.” dan dia cengengesan terus mendengarkan percakapanku sama emakku. Kelihatan sekali dia merasa menang. Awas kau ya!

“kam lah yang tanya nakku, itu ‘kan impalndu, gpp lah ya. Udah ya, cepat kelen pulang.”

Tatapanku sudah seperti mau menelannya mentah-mentah, rupanya sekongkol mereka, dibohonginya aku, pura-pura tak dikenalnya aku dari tadi malam. Kurang ajar!!! Tunggu pembalasanku.

“Jadi, kek mana? Masih gengsi kam nanya namaku?”

——

impal = pariban = orang yang boleh jadi jodohnya secara adat
kam = kam
kelen  =kalian

Catatan :

Ini adalah kali pertama saya mengikuti membuat Flash Fiction, katanya sih mestinya cuma 300-500kata, tapi untuk yang pertama ini saya kesulitan untuk mengikutinya, tapi karena FF ini direncakana selama 15hari, semoga sisa 14hari nanti saya bisa lebih baik lagi. Tentu saja seperti yang lainnya, saya juga menerima kritik dan saran. *nyengir geli sendiri*

Gambar diambil dari http://writingmystories.blogspot.com

68 thoughts on “Halo, Siapa Namamu?

  1. Pingback: Pengumuman Giveaway : Kritikmu Semangatku! | nicampereniqué.me

  2. Aku ikutan Krisan-nya ya mbak..?
    Yang pertama… aku pilih ini dulu deh.
    Krisan dariku… :
    Yang pertama, aku suka dengan endingnya yang tak terduga mbak. Tapi ada beberapa yang perlu perbaikan :
    1. Jika deskripsinya dipersingkat, akan terasa lebih maknyus mbak.
    2. Dalam percakapan langsung, rasanya tak pernah terjadi seseorang berkata “gak apa-apa” dengan disingkat menjadi “gpp”. Kalau “EGP” sih dan”OMG” sih sudah familiar disingkat begitu dalam percakapan langsung.
    3. Terus terang, banyak kata yang membuatku sulit memahami artinya (walau pada akhirnya aku menemukan penjelasan dari kata-kata itu di bawah cerita). Mungkin jika semua menggunakan bahasa Indonesia, akan lebih asyik dibaca.

    Emmm… mungkin itu aja Krisan dariku mbak…
    Mau meluncur ke FF yang lain dulu ya? :)
    the others… recently posted… » Ingin disebut Bukan Blogger Semusim

  3. Di dunia nyata kejadian seperti ini amatlah langka, terlebih lagi di dunia barat. Jika seseorang sudah menyebut nama, biasanya lawan bicara akan menyebut nama juga walaupun tidak ditanya.
    Ketika dikau menyebut “Thia”, umumnya lawan bicara akan memperkenalkan dirinya ” Saya Athi”. Jadi tak perlu ditanya dulu baru memperkenalkan dirinya karena hal itu sudah seperti etika dalam pergaulan.

    Jaman sekarangpun tak ada salahnya cewek memperkenalkan diri, apalagi jika sudah ngobrol lama. ” Eh mas, kayaknya gak asyik ngobrolnya jika kita belum saling mengenal.Nama Saya Niken, mas Keni kan ya ?”. Mungkin si cowok akan menjawa : ” Yeeee…jangan nuduh donk, saya Kendi, you know”. Dijamin obolan akan semakin gayenk asal jangan ngomongin saya lho.

    Salam sayank selalu
    Pemilik Restoran Suroboyo recently posted… » Rice Bowl Family Restaurant Surabaya

  4. Ini yang pertama kali sudah kubaca sejak kemaren2. jadi langsung ajah… :D

    KRITIK :
    1. Terlalu banyak dialog.
    2. Karena banyak dialog, jadinya berkesan panjang. Padahal sebenarnya gak panjang2 amat.
    3. Masih kita temukan kata2 yang disingkat, contoh “Gpp” (kalo koment sy disingkat2 jangan dikritik ya, Mbak… :D )

    SARAN : Dimasukkin kalimat2 “puitis” dikit biar ada “feel”nyah. Btw, secara keseluruhan sungguh luar biasa. Tanpa kalimat2 bersayap pun Mbak Niq mampu membuat FF ini bercita-rasa.
    Haris Samaranji recently posted… » Award : Pertama Saya… (katrox !!!)

  5. Ceritanya asik… Hehehe
    KriSan nya apa yaaaa, aku jg lg blajar buat fiction nih mba
    Malah jd meguru deh :-)
    Hmmm… Mgkn bahasa nya aja yg kurang puitis mba, kayak mas ari tunsa bilang.. Thank you
    maria lia recently posted… » ME TIME at dawn

  6. - Yang fiksi ini memang terlalu panjang, mungkin karena banyak percakapannya sehingga ketika dibaca seperti bukan sebuah flash fiction, tapi seperti kejadian nyata, terlalui detail
    - kurang bahasa cerpennya. masih kurang puitis :D

    maap ini kata-kata junior ;)
    ari tunsa recently posted… » Es Batu

  7. niQue, baru pertama kali ikutan FF aja udah bagus gini koq. Tinggal ayo ikutan Kontes, Lomba or Audisi, gitu. Alur cerita bagus, tapi, ada tapinya ya (hehehehe….kayak yang ahli aja mau kasih komentar): itu lho diusahakan jangan 80@ berisi dialog kalleee…… Itu aja koq. Kalo dibuat dalam bentuk Narasi lebih unik nih (dialog dikit aja). Idenya cemerlang niQue. Bener kata Una ini kayak cerita non-fiksi.
    yati rachmat recently posted… » Situ Cipondoh Harus Diperjuangkan!

  8. Pingback: Giveaway : Kritikmu Semangatku | nicampereniqué.me

  9. impal itu sepupu kan yak mbak? klo gak salah pernah juga denger dari teman siregar.. hehehe..

    mbak menurut aku klo FF ini kepanjangan.. biasanya aku baca 3-4 paragraf aja..

    • betul Niee, emang ini super duper kepanjangan, kemarin itu remnya blong jadi kebablasan deh hehehe …

      iya Niee impal itu sepupu, jelasnya nanti saya tuliskan lagi deh di sini :)

    • iya mba, lebih tenar PARIBAN, sebenarnya tentang IMPAL sudah lama njogrok di draftbox, cuma blom mood nuntasinya, semoga setelah ini deh hehehe

    • hahaha hebat!!! bisa jadi pertanyaan menjebak juga buat saya yang masih simpen nama asli yak hahahaha

      *nerima salamnya tapi tetep mingkem* hahahaha

    • huahahaha maap ya klo buat pembaca kecewa, tentu saja itu bukan pengalaman, murni karangan semata dong ah, namanya juga fiksi, nanti di fiksi berjudul DAG DIG DUG baru ada kejadian yang saya alami sendiri :P

  10. Ni hebat…
    Tiap keinginannya langsung diwujudkan.
    Kemarin saya baca Ni “rasan2″ mau bikin, ternyata langsung bikin dan langsung publish…
    ————————
    Ini sich ada 1.000 kata Ni…
    marsudiyanto recently posted… » Setengah dan Satu

    • barusan dari sana mba, tapi ga nemu tempat ngepostin di sana :( emang mba akin udah post di sana?

      eniwe thanks infonya ya mba, untuk judul FF#2 nya :)

    • hehehe thanks to Mba Akin, abis dari rumah mba akin tuh tadi dapet idenya hihiih ga tau bisa kelar juga … *peluk2 yg bawa berkah neh*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge