DAG DIG DUG

Antrian yang panjang di ruang tamu ini sebenarnya sudah menciutkan hatiku. Hampir saja kuberanjak pergi jika tak ingat betapa ku sudah tak sanggup menahan diri di perusahaan yang sekarang. Kukuatkan hatiku, sambil mensugesti diri bahwa bisa saja ini rejekiku, maka aku harus bertahan sampai benar-benar tahu ditolak atau diterima nanti.

Kuperhatikan beberapa sosok perempuan yang penampilannya sangat rapi dan harum mewangi, sungguh menciutkan hati perempuan-perempuannya yang berpenampilan sekedarnya sepertiku. Dengan resah kupegangi map biru berisi ijasah dan surat lamaranku. Dalam diam hatiku tak henti-hentinya melafazkan doa yang baru kemarin diajari seorang teman. Katanya doa itu sangat manjur jika dibacakan saat melamar pekerjaan seperti ini. Sebetulnya ada serangkaian doa, dan tahap satunya sudah kulakukan menjelang tidur tadi malam. Wallahu’alam. Sungguh kutak tahu kebenarannya, tapi daripada diam melamun tak jelas, bukankah lebih baik kuberdoa saja?

Sepertinya giliranku masih lama, sekuat tenaga kuusahakan tenang. Mencoba menebar senyum, berharap menuai sebuah sinyal untuk memulai sebuah perbincangan ringan. Namun mereka pun sepertinya sama tegangnya denganku, sehingga yang keluar hanyalah senyum kekakuan. Lewat jam makan siang, giliranku tiba juga akhirnya. DAG DIG DUG jantungku, sambil melangkah tegak menuju ruangan personalia.

Hentakan yang kuat semakin merajalela menghantam dinding jantungku, tanganku dingin sekali padahal suhu ruangan itu sejuk saja. Aku mencoba menarik nafas, aku terlalu tegang dan ini tidak baik. Perempuan itu, yang menjabat sebagai personalia menyambut uluran tanganku dan kami bersalaman. Dan tangan kirinya menerima map yang kusodorkan. Kemudian mata dan jarinya sibuk memperhatikan lembaran yang kusertakan didalamnya. Kudengan dia berdehem. Perbincangan pun dimulai, diawali percakapan yang umum yang sebetulnya bisa dibacanya dari curriculum vitae yang sudah ada didalam map itu.

“Kapan bisa mulai bekerja?” tak keruan rasanya mendengar pertanyaan ini. Serasa sudah pasti akan diterima.

“Secepatnya bu, tetapi saya mohon pengertiannya memberi waktu untuk serah terima di perusahaan yang lama, sedikitnya 2minggu, bisa bu?”

“hmm … tidak bisa lebih cepat? Karena kami butuh cepat lho.”

“Saya mengerti bu, tetapi jika saya yang mau berhenti dari sini, tentu ibupun pasti tidak suka jika saya berhenti mendadak. Saya mohon ibu beri saya waktu.”

“ya sudah, nanti kami hubungi lagi kalau begitu.” sungguh bukan kalimat itu yang ingin kudengar darinya. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Dia berdiri dan mengulurkan tangannya, sambil tersenyum.

“Terima kasih kesempatannya,bu.” dengan langkah gontai kutinggalkan ruangan berdinding kaca itu.

DAG DIG DUG begitulah detak jantungku terasa sampai di rumah. Sampai seminggu kemudian, entah darimana datangnya ide nekat itu, kuberanikan diri menelpon Ibu personalia itu. Yeah … sekedar menanyakan saja, bagaimana nasibku. Kalau memang ditolak, biarlah kudengar kepastian itu dari mulutnya.

“selamat sore bu, ini saya-Linda, yang tempo hari sudah diwawancarai, kira-kira saya diterima tidak ya bu?”

“oh … kamu, Linda, kebetulan kamu menelpon, saya dari tadi pagi sibuk, padahal saya memang mau menelpon kamu.”

Semakin tak jelas irama jantungku, dag dig dug dag dig dug dan kedua telapak tanganku pun ikut bereaksi suhunya menjadi dingin seperti es, “jadi bagaimana, bu?”

“ya, kamu diterima, dan manfaatkan waktu 2 minggu itu baik-baik di sana ya.”

“Bener bu? saya diterima??? Aduhhh terima kasih ya bu, terima kasih sekali.”

“ya ya … jangan lupa sempatkan datang ke sini Sabtu besok untuk menandatangani acceptance letter-mu ya.”

“Iya bu, sekali lagi terima kasih, selamat sore.”

DAG DIG DUG … terus begitu irama jantungku, senang tiada tara, membayangkan suasana kantor yang baru, meninggalkan semua kesumpekan di sini. Semoga di sana, masa depanku bisa lebih cerah lagi. Semoga!

 

Catatan: 

Kritik dan sarannya sangat dihargai, karena saya ‘kan baruuuuuuuuuu banget dalam penulisan fiksi seperti ini. 
Jika ada kesamaan/kemiripan nama, tentu bukan kesengajaan :D  
Cerita murni karangan saya, tapi sedikit-sedikit adalah yang diadopsi dari pengalaman sendiri :)  

55 thoughts on “DAG DIG DUG

  1. Alhamdulillah… udah tak baca semua ;)
    dan pada akhirnya teteplah yang ini sbg favorit saya… aneh ya :D

    Berikut alasan lanjutannya, Mbak :

    1. FF yang kedua ini saya merasakan *weleh… nggaya* aura “orisinalitas”, yah sangat orisinil. FF selanjutnya terasa banget Mbak Niq menggebu2 sehingga terlalu terpengaruh dengan tulisan2 atau karya orang lain.

    2. FF lainnya walaupun mungkin ada yg bilang so sweet, romantic, etc etc, (termasuk saya kali ya), namun jujur saya kurang merasakan “ketulusan” dalam berkarya. Yah sebagai manusia biasa emang kita akan bangga dan bahagia jika ada yang bilang “kereen!”, namun hal itu bukan alasan utk melepas naluri penulis utk menulis dengan hati, tulus tanpa ambisi untuk mendapat applaus. Memberikan yang terbaik dan bermanfa’at itulah yang lebih membahagiakan, bukan tepuk tangan

    Selamat berkarya Mbak Niq, saya tunggu loh sebuah buku diterbitkan dengan Author : Nicampernique… jangan lupa entar kasih foto dan tandatangannya juga… :D

    Ditunggu loh buku “Mimpi Sejuta Dolar” ituh *
    eh ge-er akyuuu
    Haris Samaranji recently posted… » About Me : Pentingkah ?

    • hihiihihhi …. tetep yah pilih DAG DIG DUG

      aamiin … cepet diaminkan biar beneran bisa nerbitin buku yang berkualits yang tentunya idenya orisinil semua dong.

      terima kasih ya :D

  2. Ini nih, Mbak yang PALING BERKESAN, menurut sayaaa…

    Top deh, alurnya, pilihan katanya, endingnya, natural enggak mengada2 namun sanggup memotivasi pembaca untuk tetap optimis, berfikir praktis, dan selalu mensyukuri hidup.

    Apalagi pada saat “aku” menjawab dengan diplomatis, “Saya mengerti bu, tetapi jika saya yang mau berhenti dari sini, tentu ibupun pasti tidak suka jika saya berhenti mendadak. Saya mohon ibu beri saya waktu.”

    Woowww, sungguh memukau.
    Proporsional dan profesional, semua dibalut dengan pilihan kata yang membumi. Benar benar membuat DAG DIG DUG. (eh… emangnya nulisnya huruf kapital semua yah ? @.@)
    Samaranji recently posted… » Award : Pertama Saya… (katrox !!!)

    • hihihii sudah siap Bu menerima resiko diketawain
      lagian yahene kok baru niat nulis … golek pekoro toh? xixixi
      suwun yo Bu udah ke sini lagi :D

  3. kalau ingin fokus pada dagdidugdug, maka cukuplah dieksplor saat wawancara saja atau saat menunggu info diterima tidaknya, karena disini saya belum menemukan rasa dagdid dug itu, kurang mengaduk emosilah, maaf kalau terlalu pedas kritikannya
    narno recently posted… » Inilah Kisah (Re Post)

  4. Pingback: Giveaway : Kritikmu Semangatku | nicampereniqué.me

  5. Seperti telor diujung tanduk, harus cepat-cepat check up dokter dulu Mba,

    Sambal pedas bloleh juga
    Keripik pedah boleh juga

    He….x99
    Mantaps….!

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  6. hahaha.. saya pernah mengalami sebagian kisah ini. memang fiksi lebih enak bersumber dari pengalaman pribadi, lbh gampang dimodifikasi dan berkreasi :D
    salam
    tunsa recently posted… » Begadang

  7. Karena saya belum bisa bikin fiksi, jadi gak ada kritik Mbak Nique, selain pujian bahwa usahanya luar biasa. Paling2 setting yg map biru itu, emang sekarang masih ada ya orang cari kerja bawa-bawa map biru, hijau atau merah? Hehehe..Sukses ya Mbak
    Evi recently posted… » Cabe Rawit Organik, Ngobrol Yuuk

  8. Pingback: [#15HariNgeblogFF] Daftar tulisan [2] Dag dig dug! « Philophobia

  9. Dag Dig Dug belalang kuncup :D
    Bagus kok mbak cerita fiksinya, apalagi berdasarkan pengalaman pribadi.
    Saya mana bisa :D
    Btw, kalo saya seperti orang tsb, saya juga bakalan dag dig dug, gak bakalan tenang nungguin kabar, baik itu kabar baik / buruk :D
    Zippy recently posted… » Hari Sejuta Pohon

  10. wah, udah gabung dengan kelompok penulis pro nih. aku nulis ngandalin intuisi banget… menterjemahkannya kayak ngobrol biasa dari ilham. belum bisa pake yang puitis puitis

    • he? penulis pro? ga tau saya pun klo mereka udah penulis pro :D bener2 spontan, ga ditelisik dulu malah mereka siapa2 aja hahaha …

      puitis? tulisan saya puitis? alamaaak :D

    • bukan kontes mba, tapi lagi pada belajar nulis heheh saya ding yg belajar, klo yang lain mah klo ga salah udah ada yg penulis beneran :D

    • ini lebih sadis lho ha ha ha ha

      Kritik itu kan kayak pil kina, pahit api menyehatkan.
      kalau pujian itu kayak es cendhol, manis tapi bikin sakit gula…

      salam

  11. alhamdulillah Linda akhirnya diterima :D

    saya juga baru belajar bikin FF mbak. :D biasanya kalau sok2 bikin puisi sukanya panjang lebar dan njlimet,.. hahah
    ~Amela~ recently posted… » Dag Dig Dug

  12. Bukan nyindir saya karena Kontes Blog Foto Anak2 kan ya (GR abis)

    Sebagai pembuat fiksi pemula ini sudah starting point yang lumayan. Namun endingnya datar2 saja.
    Coba buat ending yang membuat pembaca terpana, tertawa,ternganga atau pinksan nduk karena sungguh tak diduga.
    Fiksi begini jarang bisa lolos di majalah atau koran
    (kabuuuuuuuuuur….)

    Ayo..engkau pasti bisa.

    Salam sayank selalu
    Pakde Cholik recently posted… » Kontes Unggulan : Membangun Blog Foto Anak-Anak

    • hihiihih … tunggu besok ada iklan gratis untuk Kontes itu ya Dhe

      makasi kritiknya Dhe …
      ini baru langkah awal, nubie banget, pastinya mau mengasah kemampuan biar lebih gape lagi bikin fiksi hehehe

  13. Ihiiy, mbak Nique bikin cerita fiksi nih.. wah pasti itu pengalaman deg2an yang hampir semua orang alami kalau ngelamar kerja yah mbak.. hehehe..

    sip mbak.. nice story.. :thumbsup:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge