Cerita Sedih: September Kelabu

Sejak kami hijrah ke Jakarta, dan sejak saya mampu membeli tiket pesawat, sejak 2003 saya jadi rajin mudik.  Acara mudik ke Medan semakin lancar saja, apalagi sejak AirAsia banting harga. Tahun 2005, tepatnya bulan Agustus, saya mudik dan menghabiskan sedikitnya satu minggu di kampung halaman. Berhubung orang tua di Jakarta, dan setiap mudik sudah pasti saya tinggal di rumah Bapatua di daerah Simpang Tuntungan.

Acara mudik kali ini, saya lebih banyak tinggal di rumah Bapatua, dan kami berbagi banyak cerita, terutama tentang silsilah keluarga. Dalam banyak kesempatan googling, saya tahu ada marga Munte yang disematkan dibelakang nama orang berkebangsaan Norwegia. Sehingga saya penasaran, apakah ada kaitan Munte Ginting dengan Munte Norwegia. Menurut Bapatua sih, tidak ada kaitannya, dan dari obrolan itu, saya mendesak Bapatua untuk membantu saya mendata silsilah keluarga,  dan Bapatua setuju, sehingga kami mengatur waktu untuk berangkat ke gugung. Gugung itu adalah sebutan kami untuk Tanah Karo.

Sayangnya, pada mudik kali ini saya tidak membawa handycam, dan menurutku handycam pastinya sangat penting demi memudahkan dokumentasi napak tilas kami nanti. Selain itu, saya perlu pulang juga sebentar, seminggu cukuplah untuk memastikan para karyawan mengerjakan pekerjaannya dengan benar, walaupun setiap hari ada komunikasi melalui telpon dan email, tetap saja lebih tenang rasanya pulang dulu.

Baru beberapa hari di Jakarta, Bapatua menelpon memberitahukan akan mengirimkan berkas lamaran kerja sepupu yang terlupa dibawa. Kebetulan ada teman yang membutuhkan karyawan, jadi saya pikir mau dimasukkan dulu berkasnya, kalau memang mau diinterview baru deh nanti sepupuku ke Jakarta.

Dan hari itu tanggal 5 September 2005, Bapatua berangkat ke Padang Bulan bermaksud mengirimkan berkas melalui TIKI. Sebelum berangkat, Bapatua masih sempat menelpon saya. Rupanya itulah percakapan kami yang terakhir, karena tidak sampai setengah jam kemudian, musibah itu merenggut nyawa Bapatua untuk selamanya. Ketika mengetahui beritanya di tivi saya masih tidak terpikir kalau salah satu korbannya adalah Bapatua. Sampai ada telpon dari Medan memberitahukan kalau Bapatua belum pulang ke rumah sampai sore. Semua cemas, semua berdoa agar Bapatua sedang pergi ke rumah saudara dan keasyikan ngobrol sampai lupa pulang. Namun, kecemasan semakin meningkat ketika malam tiba dan Bapatua belum pulang juga. Tak pernah seperti ini, kata Nandetua. Besar dugaan, jangan-jangan Bapatua adalah salah satu korban pesawat Mandala yang jatuh?

Hampir tengah malam, anak Bapatua yang sedang coas di Bogor minta dicarikan tiket pulang ke Medan. Untungnya saya mengikuti berita dan mengetahui bahwa Mandala menyediakan tiket gratis untuk keluarga yang terkena musibah. Walau belum pasti, tapi kami meyakinkan pihak Mandala bahwa Bapatua sedang melintasi jalan menuju Padang Bulan dan waktunya persis dengan kejadian jatuhnya pesawat Mandala.

Sebetulnya jatah yang disediakan Mandala cuma untuk 2 orang, pas untuk 2 anak Bapatua, satu yang di Bogor satu lagi di Bandung. Tapi entah bagaimana, entah kasihan mendengar suara tangisan saya di telpon, akhirnya kami diberi jatah 4 tiket, sehingga saya dan Bapa bisa berangkat menemani adik sepupu. Saya tak dapat melukiskan perasaan ketika melihat jenasah-jenasah yang gosong dan bergelimpangan di pelataran rumah sakit Adam Malik. Masing-masing keluarga berkelompok saling menguatkan sambil bertangisan. Kedatangan kami pun demikian, Nandetua serta merta memelukku erat. Tak kuasa lagi menahan tangis ini, teringat semua kenangan bersama Bapatua. Teringat saya bagaimana almarhum memperhatikan sarapan saya, membelikan makanan yang saya mau, termasuk repot membelikan lauk untuk makan siang, walau akhirnya tidak saya makan juga, karena saya memang tidak makan ikan mayung.

Terbayang juga ketika masih SMP dulu, dan harus belajar Matematika, sehingga setiap Sabtu saya pasti dibonceng sepeda ke rumahnya. Masih lekat dalam ingatan, ketika Bapatua menegur keras seorang siswa laki-laki karena mengancam akan mengguna-gunai saya dengan lembaran rambut panjang saya yang dicabutnya dengan paksa. Tak lupa juga ketika kami mendaki gunung Sibayak, dan Bapatua terpaksa ikut mengawal, karena tanpanya ijin dari Bapa tidak keluar. Bapatua sudah saya anggap sama dengan Bapa kandung sendiri.

Nandetua dan kerabat yang lain sudah menyerah, merasa tidak mengenali lagi Bapatua yang mana di antara jenasah itu. Mereka tinggal berharap pada kami berempat, terutama pada Bapa, yang adik kandungnya. Satu per satu kami perhatikan, sambil terus berdoa, memohon agar Tuhan memberi kami petunjuk, agar kami tidak salah membawa jenasah pulang. Akhirnya, kami mampu dan yakin memilih satu dari sekian jenasah, yang menurut kami sangat mirip dengan Bapatua, kami yakinkan diri memang inilah dia.

Benarlah kata orang bijak, kebaikan seseorang dapat terlihat ketika dia meninggal. Tenda yang didirikan di depan rumahnya tak muat menampung sekian banyak orang yang melayat. Ucapan belasungkawa datang dari segala penjuru, semua siswa, mantan siswa, kolega, kerabat dan handaitaulan semua tumpah ruah. Sampai kering airmata ini dan tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk sekedar menebar senyum bagi pelayat yang datang.

Buat saya, pupuslah sudah harapan menelusuri silsilah keluarga kami. Tak ada lagi yang bisa diminta mengantarkan dan menjembatani saya menghubungi orang-orang yang berkaitan dengan keluarga kami. Bapa sendiri juga bilang, memang Bapatualah orang yang paling tepat, selain ingatannya pun masih kuat, catatannya pun lebih lengkap.

Satu hal yang paling tragis menurut kami, Bapatua itu paling takut naik pesawat, setiap ke Jakarta pasti hanya mau naik bis. Selain itu, selama hidupnya Bapatua telah banyak mengobati orang yang terkena luka bakar, baik ringan maupun parah. Juga mengobati orang yang patah tulang, dan masih banyak lagi. Ya, Bapatua yang pendidik itu juga berprofesi sebagai seorang tabib. Sekeliling rumahnya penuh oleh tanaman layaknya apotek hidup. Semua orang bilang tragis, karena almarhum dipanggil Tuhan dengan cara terbakar oleh pesawat yang terbakar. Kami menganggap inilah misteri Tuhan, cuma Dia yang tahu bagaimana hal-hal tersebut bisa saling bertentangan.

Sudah 6 tahun berselang, kenangan tentang Bapatua tetap melekat sampai kapanpun. Dia juga sangat berjasa untuk kelangsungan pendidikan saya selama SMP dulu, semua gratis, sekolahpun mendapat perlakuan istimewa dari para guru, sungguh menyenangkan! Dan sekarang, saya cuma bisa mengirim doa tulus, agar almarhum diberi tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Baik. Aamiin!

Hikmahnya?

  • Tak perlu takut berlebihan akan sesuatu, terutama jika berkaitan dengan kematian, karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan akan memanggil kita;
  • Cara berpulang seperti ini memang sangat memilukan, tetapi siapa sangka, ada kejutan manis yang walau tetap tak sebanding dengan nyawanya, yaitu kompensasi yang diberikan Mandala, mampu membiayai kuliah anak-anak yang ditinggalkannya, termasuk membiayai seorang anak yang invalid sejak lahir.
  • Manusia selalunya cuma bisa berencana, namun tetap saja Tuhan yang menentukan.

Nique berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi olehJeng Soes-Jeng Dewi-Jeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

59 thoughts on “Cerita Sedih: September Kelabu

  1. kisah sedih, bagaimanapun ceritanya, tetap akan setia melekad di ingatan sepanjang masa ya kak… turut berduka atas kepergian bapatua mba Nique, semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan Yang Maha Baik, amien.

    Sukses untuk kontesnya ya kak Nique…. :-)
    alaika recently posted… » “oh, dia sudah lama meninggal!”

  2. Maaf mak cebong 2 baru datang…..oh ternyata waktu kejadian pesawat mandala jatuh itu keluarga mbak nique ada yg kena…duhh merinding bacanya…pasti sedih sekali yah waktu mencari jenazahnya…smoga bapatua mendapat tempat terbaik disisiNya….

    terimakasih mbak nique atas partisipasinya…sdh tercatat sbg peserta….

    wahh template baru nech….keerenn
    Mak Cebong 2 recently posted… » Alhamdulillah….

    • eh ada bu juri yang dateng …

      iya mba, terima kasih doanya

      template baru di tahun yang baru :D
      setelah capek direngekin, akhirnya diganti juga sama suami hehehe

  3. Mak Cebong 3 dataaanngg :-)

    Sedih banget gw bacanya Mba. Apalagi proses pengenalan mayat. Jadi kalo ga bisa ngenalin keluarganya gimana dong? Apa asal bawa ajah yang ada disitu or pulang dengan tangan hampa

    Semoga Bapatua udah tenang dan bahagia disana. Amien

    Thanks atas partisipasinya Mba. Masih ada 2 kategori kalo mo disapu bersih :-)
    Mak Cebong 3 recently posted… » Happy 4th Anniversary, Suamikyu

  4. Satu yang saya yakin adalah orang baik itu akan dikenang oleh banyak orang. Soal bagaimana seseorang itu menemui ajal memanglah rahasia Ilahi yang tak dibagi. Semoga menang ya Nique.
    Alris recently posted… » Kopi Ternikmat di Dunia

  5. betul mba, insya Allah untuk yang terbaik.

    hehehe simple ya? lama niy mba memperjuangkannya, perlu sogokan kesungguhan posting baru dikasi template yg seger gini sama suami :D

  6. yah itulah rahasia hidup, saya mala gak bisa komen banyak, “narik napas dulu”, mungkin sama seperti yang lain Tuhan sudah merencanakan segalanya.

    Btw, saya tertarik soal gunung sibayak, bagaimana rupanya dia mba, ceritain dong “ngarep”
    stupid monkey recently posted… » Frau dan Saya

  7. Turut sedih saya, Jeng, memang misteri ya. Beliau takut naik pesawat dan ternyata Tuhan memanggilnya justru dengan cara itu.
    Namun tentunya almarhum seudah mendapat tempat yang layak di sisi Nya. Amien.
    chocoVanilla recently posted… » Fitting Room

  8. Kematian memang tidak perlu ditakutkan. Yang perlu kita khawatirkan itu adalah, ketika ajal menjelang, apakah kita dalam kondisi siap menghadapNya? Maka dari itu, jaganlah menunggu masa tua untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Sebab, ajal tidak mengenal usia..

    Semoga Bapatua diampuni segala dosanya dan ditempatkan di sisiNya yang paling mulia ya Mb Nique..
    vizon recently posted… » manisnya ubi ungu, manisnya cinta istri

  9. Ammiiinnn …
    Ammiinnn Nike …

    Jadi ceritanya Bapatua itu terkena imbas dari jatuhnya pesawat Mandala ya Nik …
    dan betul kata kamu … ini adalah Misteri NYA … we never know …

    Semoga Bapatua tenang di sana

    Salam saya Nik

  10. saya turut berduka mbak,ketika itu saya juga di medan dan mengikuti peristiwa itu,namun semua takdir allah tidak bisa dirubah smoga bapaktua mendapat tempat yang baik disisiNya,smoga sukses untuk kontesnya…:)
    alkahfi recently posted… » Lelaki tua itu sudah tiada

  11. saya ikut berduka cita ya,pada saat itu saya juga masi di medan dan mengikuti peristiwa itu,tapi kembali lagi semua takdir allah dan tidak bisa diubah,smoga tabah yang ditinggalkan,amin,sukses untuk kontesnya ya..:)
    alkahfi recently posted… » Lelaki tua itu sudah tiada

  12. berasa banget sedihnya kehilangan orang yang kita sayangi dan kita hormati ya mbak… apalagi banyak kenangan bersama beliau…

    thanks for sharing mbak Nique… terkadang nggak mudah menceritakan pengalaman sedih, tapi selalu ada pelajaran yang bisa diambil…

    do’a kami untuk beliau, semoga bahagia disisiNya.. amin…

  13. untungya sekarang Mandala dah bubar. #loh, apa hubungannya..

    pasti sedih kehilangan Bapatua, siapapun itu. namun kenangannya masih melekat dan jadi memori indah disetiap orang.
    kisah sedih disertai makna yang diambil, semoga menang!

    • iya mba, memilukan banget deh.
      tapi yg lebih pilu lagi keluarga2 yg sama sekali tidak bisa mengidentifikasi keluarga mereka :(

  14. Ahhh memang kita tidak bisa tahu bagaimana kita akan mati ya. Mengenali jenazah saudara/keluarga dalam kondisi mengenaskan itu yang tak tertahankan :( Kalau di Jepang pasti pakai pemeriksaan DNA.
    Ikkyu_san recently posted… » Gurume

    • Gw juga sedih pas nulis ini Man
      entah kenapa juga milih cerita ini, tiba2 teringat aja sih. Mungkin efek kangen juga kali yah

  15. Benar mbak NiQ, Tuhan memang selalu punya rencana lain. Dan memang itulah yang terbaik, rencanaNya ;)

    Bapatua itu kakak bapaknya mbak NiQ yaa?? *mudah-mudahan tebakan saya bener* hehehe

    Sukses kontesnya ya,mbak. Saya suka theme blognya yang ini deh :lol:
    Mama Rani recently posted… » Ribetnya Mengeja Angka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge