Entah kenapa bergetar juga hati saya membaca postingan Neng Iqoh tentang Bekasi pun bergerak. Seperti dejavu juga ketika kemarin saya sempat berbincang dengan seorang anak yang biasa datang nge-net dan sudah dikontrak bekerja di salah satu supermarket terkenal itu. Dia cerita tentang gajinya yang lumayan, bahkan bisa mencapai 2jt / bulan sudah termasuk lembur, tapi belum termasuk meal-allowance. Mendengar ini saja saya tercengang, karena ternyata gaji mereka lumayan banget, membuat saya mengaca, dan merasa tak mampu jika harus membayar gaji para asisten seperti itu di sini. Saya jadi berhitung berapa kiranya pendapatan supermarket itu sehingga mampu menggaji karyawannya sebesar itu, apalagi dengan jumlah karyawan yang tidak sedikit.
Memang saya pun sadar bahwa usaha kami tentu tak sebanding jika dibandingkan dengan sebuah pabrik atau supermarket, tapi pada dasarnya sebagai pemilik kami pun ingin memberikan lebih kepada para asisten. Andai saja semua biaya bisa ditekan, tentu saja keinginan itu bisa diwujudkan. Tapi masalahnya, listrik yang menjadi andalan utama isunya saja sudah santer akan naik lagi tahun ini sebesar 10%, itu artinya biaya listrik yang setiap bulan saja kami keluarkan sekitar 6jt per bulan, berarti akan mencapai angka 7jt per bulan. Beruntung uang sewa ruko belum naik, mudah-mudahan the landlord pegang janji baru akan menaikkan sewa ruko tahun 2015 sesuai surat perjanjian yang sudah ditanda-tangani bersama. Entah bagaimana kalau dia ingkar janji, naudzubillah
Masih untung untuk biaya koneksi bulan ini dapat yang lebih murah dengan media Fiber Optic yang lebih canggih, sehingga bisa meminimalkan frekuensi koneksi yang ambekan, jadi sudah saling tambal sulam saja dengan naiknya biaya listrik.
Lalu, membayangkan para buruh yang berdemo, membayangkan para asisten mogok kerja karena menuntut gaji yang lebih, saya jadi mencoba berempati jika saya yang jadi pengusaha yang punya pabrik itu, bagaimana ya?
Saya pernah dulu bekerja di sebuah perusahaan supplier alat-alat marine, yang pemiliknya punya modal pas-pasan, sehingga sering tidak punya uang untuk membayar gaji karyawannya tepat waktu. Tapi saya lihat karyawannya banyak juga yang awet dan mau berjuang bersama si bos, walau pada akhirnya bangkrut juga, tapi karyawannya jadi bisa buka usaha sendiri dengan ilmu yang didapat selama bekerja di sana. Saya sendiri cuma sempat bekerja 1 tahun di perusahaan itu, memang sengaja saya pas kan 1 tahun, agar dapat surat rekomendasi tanda saya sudah bekerja di sana untuk menjadi bekal bekerja di perusahaan lain. Selama 1 tahun itu, terhitung sekali saya menerima uang gaji pada akhir/awal bulan. Paling banter disuruh kasbon. Tapi karena posisi saya pun masih baru, benar-benar baru di dunia kerja, saya terima saja, karena buat saya ada perusahaan yang mau terima saya saja, saya sudah bersyukur. Merasa lebih beruntung bila dibandingkan dengan teman-teman yang bekerja di pabrik-pabrik konveksi yang menurut cerita mereka supervisornya sering ‘kejam’ apalagi jika dibandingkan dengan yang masih menganggur.
Entahlah, mungkin memang para buruh itu perlu berdemo ya, semoga sih niatnya lurus, dan semoga pihak pemilik pabrik pun serius dan tulus mau berbagi, tapi percayalah, mengelola sebuah usaha itu tidak gampang, dan jangan pula melihat atau berhitung dari segi keuntung yang diterima pihak pengusaha, karena banyak resiko yang harus ditanggung, contoh saja kami ini, memang benar ada keuntungan yang kami dapatkan setiap bulan, tetapi keuntungan itu tak bisa semena-mena kami gunakan untuk ini itu, karena tetap harus menganggarkan lagi untuk mengantisipasi jika ada komputer yang rusak dan perlu diganti komponennya atau malah harus ganti yang baru. Terus saja begitu.
Terus terang saja, kami di sini baru bisa menggaji para asisten itu kotor Rp 900.000,- per 10jam kerja. Saya tahu ini tidak manusiawi, oleh karenanya kami tidak pernah mau menerima karyawan yang sudah punya keluarga, walaupun pernah juga dianggap kejam karena walau sudah punya keluarga ada juga yang ingin bekerja walau digaji serendah itu. Tapi nurani kami berkata, bahwa dia tidak akan serius bekerja, karena harus memikirkan cara mendapatkan uang untuk menutupi kekurangan dana yang diperlukan anak istrinya. Sedikit berbeda dengan yang masih bujangan dan baru lulus, uang yang diperlukan masih sebatas buat senang-senang saja, belum merasa perlu menabung untuk ini itu. Makanya kami pun sadar tidak bisa punya asisten yang awet wet wet … !
Ah, jadi galau begini gara neng Iqoh hiks … mari kita akhiri saja sesi galau ini yang disponsori oleh angin puting beliung yang berdesing-desing diluar sana, sampai merusak dinding pembatas yang menempel di kanopi kami
gambar : www.sven-s.com
oh jelas pengusaha itu sulit kedudukannya. Orang luar hanya memihak buruhnya. Padahal tidak semua pengusaha itu konglomerat kan?
Paling susah deh urusan perburuhan itu, dan terus terang perburuhan yang tidak menentu di Indonesia (pendidikan/sdm nya yang berkualitas rendah) membuat byk penanam modal Jepang takut-takut. Aku kebagian translate surat-surat dan peraturannya aja ikut pusing
Ikkyu_san recently posted… » Kami dan Diksi
Walah tak kira galau apa.
Pukpuk…
Una recently posted… » Menang, Award, dan Pacar Baru
sama, gak mau punya karyawan yg udah berkeluarga. krn biasanya suka menuntut lebih, padahal utk kantor notaris kecil gak mungkin kasih gede. apalagi order nya juga gak selalu ada.
fanny recently posted… » WAKTU PAPI MERAYU MAMI
Hiks… saya tersadar berkat posting-an ini, Mbak…
Selama ini kalau mendengar berita buruh demo minta kenaikan upah, saya selalu melihat dari sudut pandang para buruh aja. Tapi saya lupa melihat dari sudut pandang pengusaha.
Asop recently posted… » [Buku] The Novelist oleh Dean Koontz
nique…makanya sekarang ini susah cari asisten rumah tangga yang mau digaji 500rb meskipun itu penghasilan pasti yang didapat oleh dia tanpa ada pengeluaran untuk bayar kontrakan, listrik, transportasi dan makan. Padahal kalau mereka mau berpikir dengan jelas….bisa menghitung2 dengan mudah
Necky recently posted… » Belajar Dan Belajar
yep, itu sebabnya aku masih tetep jadi nanny buat 2 ponakanku hehehe
set dah, udah gajinya gede tapi koq masih demo ya.. padahal jelas-jelas diatas UMR banget..
dan gaji yang dikasih ke karyawanmu juga udah lumayan itungannya, 10 jam 900 ribu.. hmm bisa jadi setiap bulan mengantongi banyak juga.
aah kayaknya kudu ada trainning tentang mensyukuri nikmat deh. #halah
Gaphe recently posted… » Turun Gunung Dan Menginap Di Kampung Adat Senaru
khusus asisten di sini sih gaji segitu plus rokok gratis
tempat tinggal sudah disediakan. sabun cuci odol sudah tersedia. yaaah klo dia irit mah -500rb bisa ditabung. kebutuhannya kan cuma pulsa dan makan saja. apalagi mereka jarang keluar, karena memang jatah liburnya cuma diambil pas mudik nanti.
hmmm … bingung juga ya, jadi pengusaha resikonya tinggi, jadi pegawai juga sama, mungkin jalan yang terbaik untuk saat ini adalah bisa mensyukuri ada yang sekarang sudah dimiliki, masalah demo dan kurangnya gaji/pendapatan, gak akan ada abisnya mba, sebagai manusia sudah menjadi watak kalau serba kekurangan, “maaf lho kalo sok tahu”
stupid monkey recently posted… » Pengaruh Rank, Review Alexa Bagi Situsmu
menilik dari kata2 “tidak pernah mau menerima karyawan yang sudah punya keluarga” <– pantes aja jaman2 dulu awal2 kerja di tanya hal yg seperti ini,, hehe agar gajinya cukup
hehehe iyalah, kan pusing juga klo sampai anak istri orang ga makan padahal tenaga suaminya dipake
kok sama ya, di kampungku sini juga lagi kenceng anginnya, rumah kayak didobrak dobrak dr luar
btw, tertarik nggak sekarang ikut chatting di tempatnya stupid monkey ?
Ely Meyer recently posted… » Splinder Importer Now Available
berarti merata angin dan hujannya niy mba Elly
ups … chatting? sekarang? Sudah telat ya? Tadi disambi nonton tivi
emang serba salah ya ngegaji orang. Maju kena mundur kena ….maksudnya ya gimana gitu … ^_^
Mugniar recently posted… » (Celana) Mama Bau !
saya skrg bekerja sbg karyawan di perusahaan swasta. demo buruh adalah hal yang wajar asal tanpa kekerasan. menurut saya jika sudah tidak cocok, kita kan ada pilihan,,cobalah mencari perusahaan lain.
Yups,,benar banget untuk mengelola sebuah usaha itu tidak gampang. tp beruntung udah mempunyai usaha dan karyawan. kalo masalah gaji sie,,saya gak bisa comment,,sensitive..hehehehe
Disilah letak peran serta pemerintah sebagai penengah yang dapat memberikan solusi bagi kedua belah pihak dalam menghadapi kenaikan upah minimum di setiap tahunnya. Semoga dari kedua belah pihak antara pekerja dan pengusaha memilki jalan terbaik untuk kepnetingan bersama demi kelangsungan usaha dan pekerjaan si pekerja.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
Wah, keren ya skala usahanya. Memberikan pengertian kepada karyawan memang hal yang sulit,pembukuan yang terbuka dan manajerial uang kas yang tepat mungkin bisa membantu. Jadi, intinya yang penting semua sudah dilakukan sesuai dengan koridor yang benar, mungkin bisa menjadi solusi.
Rubiyanto recently posted… » Mengintegrasikan IDM (Internet Download Manager) dengan Firefox
kemarin tuh emang parah banget bak macetnya,mamaku dari bekasi mau pulang kecikampek sampai 3 jam. dari ruah padahal jam 6 pagi loh
Makanya bos-ku memilih pindah ke malaysia, katanya disana biaya listrik, sewa de el el murah meriah mencret…!
Dewifatma recently posted… » My Pikun Boss
Memang dilematis teh. Tidak mudah memang mencari solusi yang tepat agar tidak ada yang merasa dirugikan di kedua belah pihak. Subjektivitas dan keegoisan harus dikurangi atau mungkin dihilangkan.
Yang jelas …
saya agak bingung juga …
naikkin 30% …
disetujui …
lalu di protes
lalu turun lagi
lalu di demo …
Yang jelas …
menurut saya … menaikkan 30% itu perlu putar otak yang luar biasa … yang sangat luar biasa …
Salam saya
nh18 recently posted… » SABUN MANDI
akan lebih mumet lagi jika kelak penggunaan bensin di Jawa dihentikan dan harus ganti pertamax, ini jelas akan memumetkan pengusaha karena akan nambah biaya dan kenaikan gaji.
900rb/bln kalau buat tinggal di kampung, sudah lebih dari cukup bu.. Berasnya nanem sendiri di sawah, sayuranya juga..
Ya, mudah2an dengan bertahap, bisa menyelesaikan kegundahan yang sedang dialami.. semuanya butuh proses, usaha & doa.
Mabruri recently posted… » (Bukan) Uang Palsu
wahh… bukannya it’s so last year iia ‘galau’ itu..?!?!? 2012 tu taunnya ‘sendu’
:p hueeheheheh..
genial recently posted… » Untuk Indonesia
Aneh juga ya, biasanya baca tulisan karyawan yang curcol galau, eh, ini pengusahanya.
isnuansa recently posted… » TV Layar Datar LG Targetkan Pertumbuhan 50%
aneh ya mba? Perasaan saya sering curcol deh
bukan baru x ini
maklum pengusaha ecek2 emang gini
jangan dibandingkan sama pengusaha kaliber konglomerat
mungkin curhatan mereka udah beda hehehe
tapi inilah bentuk bahwa pengusaha pun taknya lupa pada kewajiban
cuma masalahnya, mo ngasi apa klo yg mo dikasihpun sudah terbatas?
duh mbak jangan galau ya? *freepukpuk
honeylizious recently posted… » Hidup tanpa Televisi
tetep galau nungguin pengumuman PLN tentang persentase kenaikan tarif listrik tahun ini hiks
Saya baru mengalami di bos yang sekarang gajian gak tau tanggalnya. Tapi saya tetap masuk kerja, nunjukin walau terlambat gajian saya tetap kerja bertukang.
*@bos: kapan gajiannya bos? udah tanggal 12 nih….
Alris recently posted… » Kopi Ternikmat di Dunia
iya bang, sing sabar ya, tak doaken biar bosnya cepet2 dapet duit buat bayar gajian kalian.
ah sedih kalo begini yaaa kak…dilema..disatu sisipemilik modal bingung dg harga2 kebutuhan perusahaan yg naik,,di sisi lain pekerja juga butuh dinaikkan…muter2 gitu aja…moga cepet terhalau galaunya yaaa…
semoga sukses selalu dan bisa menaikkan gaji asistennya tanpa didemo… he he
tumben aku ketigax disini…
Saleum,
Jika demo tersebut murni atas dasar kemanusiaan sih tidak apa – apa mbak, namun yang sering kita dengar yakni ada yang “menunggangi” aksi tersebut dan kata nenek itu berbahaya….
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Nostalgia Masa Ronda
ternyata memang tidak gampang ya jadi pengusaha ?
beban pikirannya jadi berlipat2 dibanding karyawan..
semoga saja penghasilannya pun jadi berlipat-lipat..:D
eh..ini tumben saya dapat pertamax..
=))
iPul dg Gassing recently posted… » Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender