Sudah pada tau SKTM? Sudah dong ya? Kalau belum, hm …sungguh terlalu! *becanda ding* Soalnya saya juga baru kok kenalan sama yang namanya SKTM. Bagi yang belum tahu, SKTM itu adalah Surat Keterangan Tidak Mampu bagi masyarakat Indonesia yang ingin mendapatkan pengobatan di rumah sakit tertentu.
Fasilitas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sekarang ini rupanya sudah dibagi 2, begitu menurut pihak rumah sakit yang Bapa saya datangi. Ada surat GAKIN dan satu lagi ya SKTM itu. Awalnya niatan bapa memeriksakan matanya di Jakarta Eye Centre (JEC), karena memang penasaran sama mata kirinya yang di bola hitamnya ada bintik putih yang kian hari kian membesar. Setelah sempat divonis oleh rumah sakit besar di Salemba kalau ada urat yang putus dan tidak bisa diapa-apain lagi mengingat usia bapa yang sudah sepuh, bapa sempat menjajal pengobatan alternatif di Gunung Sahari. Dan hasilnya NOL, padahal itu mbayare ga murah rek
Tapi inilah bukti bapa saya itu tipe orang yang pengen sembuh tapi ngeyelan hehehe … anaknya ga percaya, tapi bapa yang punya duit ya dia tetep pergi dong.
Nah, berangkat dari saran anak perempuannya ini, JEC pun disambangi, ketemu dokter Ginting di sana, sengaja cari yang sama-sama Gintingnya biar murah terjamin, maksudnya sudah pernah berobat di situ jadi sudah yakin diagnosa dia selama ini belum pernah meleset. Dan prasangkat kami bahwa mata bapa itu kena katarak, dibenarkan oleh dr.Ginting, dan mengingat biaya operasi di JEC itu mahal untuk ukuran kantong bapa, disarankannya agar bapa pergi ke Persahabatan. Betul saja, di sana biaya operasi cuma separuh harga dari JEC.
Terus urusan apa sama SKTM? Itu dia, di Persahabatanlah pertama kalinya bapa mengetahui perihal SKTM, karena dokter yang menanganinya menyarankan, agar operasinya nanti pakai SKTM saja. Gampang kok mengurusnya, sengaja pula dibuatkannya skema alur pengurusan SKTM. Sempat sih bapa bilang, kalau dia bukan orang miskin tapi bukan orang kaya juga. Terus dijelaskanlah kalau ada fasilitas untuk keluarga misikin (GAKIN) dan ada SKTM itu. Melihat skema itu gampang, bapa pun tertarik. Mulailah diurusnya dari RT-RW-Kelurahan dan Puskesmas. Semua dikerjakan sendiri nih, ceritanya tidak mau merepotkan anak. Padahal anaknya ya malu kalau melihat bapanya keluyuran di rumah sakit sendirian, apa kata dunia coba?
Setiap pulang dari rumah sakit, kami pasti mendatangi bapa mendengarkan ceritanya tentang pengalaman mengurus SKTM. Tak jarang kami jadi jengkel, karena pernah harus mengantri sampai 3jam, sampai loket itu sudah mau tutup, sepertinya bapa tidak dengar ketika dipanggil. Yang bikin jengkel adalah, ketika bapa berdiri di dekat loket, eh malah disuruh duduk saja sama petugas, padahal bapa lihat yang lain juga mengerubungi loket. Tapi demi kepatuhan sama petugas, menurutlah si bapa, makanya jadi jengkel berlipat ketika namanya dipanggil tidak mendengar. Jika bapa jengkel apalagi kami? Dan lagi-lagi kami bilang, makanya bapa mau diantar. Tapi tetap saja ditolak
Sebetulnya saya sudah pesimis wktu bapa cerita mau mencoba saran dari rumah sakit. Saya sudah menduga akan ditolak begitu melihat rumah bapa, yang walaupun tidak mewah, setidaknya dari beton semua. Menurut teman yang sudah pernah mengurus itu, yang di-approve hanya yang jika tempat tinggalnya setengah beton. Poin ke-2 yang saya yakini membuat permohonan bapa akan ditolak adalah, soal penghasilannya. Bapa bilang kalau dia mengelola 1 kopaja untuk penghidupan dia sendiri, tidak ada yang menjadi tanggungannya lagi. Wawancara ini dilakukan petugas puskesmas, makanya saya ketawa-ketawa saja bilang ke bapa, jangan kaget ya kalau ditolak. Lalu bapa bilang, kalau ditolak ya tidak apa-apa. Hasilnya? Disetujui lho itu SKTM! Dan prediksi saya mentah semua, bikin bapa jadi terkekeh-kekeh deh.
Sampailah di hari-H, penentuan tanggal operasi, dan kali ini bapa minta diantar, biar tidak salah mendengarkan prosedur menjelang operasi nanti, begitu kata bapa. Apalagi memang harus hati-hati, karen bapa pernah operasi jantung, dan terakhir ini dokter jantungnya bilang kalau mau operasi apapun, obat yang untuk jantung harus distop dulu setidaknya seminggu sebelum operasi, karena jika tidak bisa fatal, karena obat itu membuat darah bapak lebih cair (?). Dan selama seminggu menjelang operasi, obat-obatan yang disuruh minum sama dokter harus dicermati, dan untuk ini bapa minta didampingi, takut salah minum, tentu saja kami senang dong kalau bapa minta tolong.
Tetapi ada yang mengganjal dari semua proses ini, yaitu ketika ada petugas satu bagian (yansos?) kalau tidak salah memanggil bapa masuk ke dalam ruangan dan TIDAK BOLEH didampingi, walau oleh anaknya sekalipun. Rupanya terjadi negosiasi di dalam sana. Bapa bercerita, dia ditanya mampu mbayar berapa? Kira-kira seperti berikutlah dialog di antara mereka.
Petugas : mau bayar berapa pak?
Bapa: memang masih bayar pak?
Petugas : ya bayar dong, mampunya berapa?
Bapa : aturannya berapa pak?
Petugas : ya semampunya bapa aja.
Bapa : saya ikutin aturan saja pak.
Petugas : bapak ini kok berbelit-belit, masak ga tau mau mbayar berapa? kira2 saja dibandingkan mbayar biaya operasi normal?
Bapa : saya tidak bisa mengira2 pak, kalau ada aturannya ya saya bayar.
Petugas : 500.000 keberatan tidak?
Bapa : ada aturannya tidak pak?
Petugas : bapak ini mau dioperasi tidak? Kalau mau ya bayar 500.000 itu.
Bapa : ada kwitansi pak?
Petugas : tidak ada. jadi mau bayar apa tidak?
Bapa : kalau tidak ada segitu, bagaimana pak?
Petugas : itu udah minimal, jadi harus bayar segitu.
Dan berpindahtanganlah uang 500.000 tanpa kwitansi ke tangan si petugas. Sayangnya, kejadian itu tidak bisa didokumentasikan, dan tak ada saksi kecuali berlaku saksi dari korban dowang. Sampai di luar ruangan, bapa ceritalah ke si adik bungsu yang mengantar, tapi anaknya disabar-sabari dulu biar tidak mengamuk di tempat
Mendengar cerita ini membuat saya ingat lagi cerita tentang teman yang operasi kista di RSCM tahun lalu, diapun melalui jalur SKTM dan mbayarnya memang segitu juga, jadi sepertinya memang sudah ada peraturan tidak tertulis jumlah bayaran yang harus dibayar oleh pasien.
Well, ini pengalaman berharga, setidaknya ketika mengurus SKTM sendiri bapa tidak mengalami kesulitan berarti, dan hari ini (Senin, 30Jan12) jadualnya mata bapa dioperasi. Semoga berjalan lancar dan mata bapa bisa melihat lagi seperti sediakala. Jika urusan mata beres, lanjut deh ngurusin prostatnya
Doakan ya teman
UPDATE:
Operasinya berjalan lancar, tinggal pemulihan saja, semoga tidak ada komplikasi dengan yang lainnya