SKTM, Wani Piro?

Sudah pada tau SKTM? Sudah dong ya? Kalau belum, hm …sungguh terlalu! *becanda ding* Soalnya saya juga baru kok kenalan sama yang namanya SKTM. Bagi yang belum tahu, SKTM itu adalah Surat Keterangan Tidak Mampu bagi masyarakat Indonesia yang ingin mendapatkan pengobatan di rumah sakit tertentu.

Fasilitas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sekarang ini rupanya sudah dibagi 2, begitu menurut pihak rumah sakit yang Bapa saya datangi. Ada surat GAKIN dan satu lagi ya SKTM itu. Awalnya niatan bapa memeriksakan matanya di Jakarta Eye Centre (JEC), karena memang penasaran sama mata kirinya yang di bola hitamnya ada bintik putih yang kian hari kian membesar. Setelah sempat divonis oleh rumah sakit besar di Salemba kalau ada urat yang putus dan tidak bisa diapa-apain lagi mengingat usia bapa yang sudah sepuh, bapa sempat menjajal pengobatan alternatif di Gunung Sahari. Dan hasilnya NOL, padahal itu mbayare ga murah rek :D Tapi inilah bukti bapa saya itu tipe orang yang pengen sembuh tapi ngeyelan hehehe … anaknya ga percaya, tapi bapa yang punya duit ya dia tetep pergi dong.

Nah, berangkat dari saran anak perempuannya ini, JEC pun disambangi, ketemu dokter Ginting di sana, sengaja cari yang sama-sama Gintingnya biar murah terjamin, maksudnya sudah pernah berobat di situ jadi sudah yakin diagnosa dia selama ini belum pernah meleset. Dan prasangkat kami bahwa mata bapa itu kena katarak, dibenarkan oleh dr.Ginting, dan  mengingat biaya operasi di JEC itu mahal untuk ukuran kantong bapa, disarankannya agar bapa pergi ke Persahabatan. Betul saja, di sana biaya operasi cuma separuh harga dari JEC.

Terus urusan apa sama SKTM? Itu dia, di Persahabatanlah pertama kalinya bapa mengetahui perihal SKTM, karena dokter yang menanganinya menyarankan, agar operasinya nanti pakai SKTM saja. Gampang kok mengurusnya, sengaja pula dibuatkannya skema alur pengurusan SKTM. Sempat sih bapa bilang, kalau dia bukan orang miskin tapi bukan orang kaya juga. Terus dijelaskanlah kalau ada fasilitas untuk keluarga misikin (GAKIN) dan ada SKTM itu.  Melihat skema itu gampang, bapa pun tertarik. Mulailah diurusnya dari RT-RW-Kelurahan dan Puskesmas. Semua dikerjakan sendiri nih, ceritanya tidak mau merepotkan anak. Padahal anaknya ya malu kalau melihat bapanya keluyuran di rumah sakit sendirian, apa kata dunia coba? :D Setiap pulang dari rumah sakit, kami pasti mendatangi bapa mendengarkan ceritanya tentang pengalaman mengurus SKTM. Tak jarang kami jadi jengkel, karena pernah harus mengantri sampai 3jam, sampai loket itu sudah mau tutup, sepertinya bapa tidak dengar ketika dipanggil. Yang bikin jengkel adalah, ketika bapa berdiri di dekat loket, eh malah disuruh duduk saja sama petugas, padahal bapa lihat yang lain juga mengerubungi loket. Tapi demi kepatuhan sama petugas, menurutlah si bapa, makanya jadi jengkel berlipat ketika namanya dipanggil tidak mendengar. Jika bapa jengkel apalagi kami? Dan lagi-lagi kami bilang, makanya bapa mau diantar. Tapi tetap saja ditolak :(

Sebetulnya saya sudah pesimis wktu bapa cerita mau mencoba saran dari rumah sakit. Saya sudah menduga akan ditolak begitu melihat rumah bapa, yang walaupun tidak mewah, setidaknya dari beton semua. Menurut teman yang sudah pernah mengurus itu, yang di-approve hanya yang jika tempat tinggalnya setengah beton. Poin ke-2 yang saya yakini membuat permohonan bapa akan ditolak adalah, soal penghasilannya. Bapa bilang kalau dia mengelola 1 kopaja untuk penghidupan dia sendiri, tidak ada yang menjadi tanggungannya lagi. Wawancara ini dilakukan petugas puskesmas, makanya saya ketawa-ketawa saja bilang ke bapa, jangan kaget ya kalau ditolak. Lalu bapa bilang, kalau ditolak ya tidak apa-apa. Hasilnya? Disetujui lho itu SKTM! Dan prediksi saya mentah semua, bikin bapa jadi terkekeh-kekeh deh.

Sampailah di hari-H, penentuan tanggal operasi, dan kali ini bapa minta diantar, biar tidak salah mendengarkan prosedur menjelang operasi nanti, begitu kata bapa. Apalagi memang harus hati-hati, karen bapa pernah operasi jantung, dan terakhir ini dokter jantungnya bilang kalau mau operasi apapun, obat yang untuk jantung harus distop dulu setidaknya seminggu sebelum operasi, karena jika tidak bisa fatal, karena obat itu membuat darah bapak lebih cair (?). Dan selama seminggu menjelang operasi, obat-obatan yang disuruh minum sama dokter harus dicermati, dan untuk ini bapa minta didampingi, takut salah minum, tentu saja kami senang dong kalau bapa minta tolong.

Tetapi ada yang mengganjal dari semua proses ini, yaitu ketika ada petugas satu bagian (yansos?) kalau tidak salah memanggil bapa masuk ke dalam ruangan dan TIDAK BOLEH didampingi, walau oleh anaknya sekalipun. Rupanya terjadi negosiasi di dalam sana. Bapa bercerita, dia ditanya mampu mbayar berapa? Kira-kira seperti berikutlah dialog di antara mereka.

Petugas : mau bayar berapa pak?

Bapa: memang masih bayar pak?

Petugas : ya bayar dong, mampunya berapa?

Bapa : aturannya berapa pak?

Petugas : ya semampunya bapa aja.

Bapa : saya ikutin aturan saja pak.

Petugas : bapak ini kok berbelit-belit, masak ga tau mau mbayar berapa? kira2 saja dibandingkan mbayar biaya operasi normal?

Bapa : saya tidak bisa mengira2 pak, kalau ada aturannya ya saya bayar.

Petugas : 500.000 keberatan tidak?

Bapa : ada aturannya tidak pak?

Petugas : bapak ini mau dioperasi tidak? Kalau mau ya bayar 500.000 itu.

Bapa : ada kwitansi pak?

Petugas : tidak ada. jadi mau bayar apa tidak?

Bapa : kalau tidak ada segitu, bagaimana pak?

Petugas : itu udah minimal, jadi harus bayar segitu.

Dan berpindahtanganlah uang 500.000 tanpa kwitansi ke tangan si petugas. Sayangnya, kejadian itu tidak bisa didokumentasikan, dan tak ada saksi kecuali berlaku saksi dari korban dowang. Sampai di luar ruangan, bapa ceritalah ke si adik bungsu yang mengantar, tapi anaknya disabar-sabari dulu biar tidak mengamuk di tempat :D Mendengar cerita ini membuat saya ingat lagi cerita tentang teman yang operasi kista di RSCM tahun lalu, diapun melalui jalur SKTM dan mbayarnya memang segitu juga, jadi sepertinya memang sudah ada peraturan tidak tertulis jumlah bayaran yang harus dibayar oleh pasien.

Well, ini pengalaman berharga, setidaknya ketika mengurus SKTM sendiri bapa tidak mengalami kesulitan berarti, dan hari ini (Senin, 30Jan12) jadualnya mata bapa dioperasi. Semoga berjalan lancar dan mata bapa bisa melihat lagi seperti sediakala. Jika urusan mata beres, lanjut deh ngurusin prostatnya :) Doakan ya teman :)

UPDATE: 
Operasinya berjalan lancar, tinggal pemulihan saja, semoga tidak ada komplikasi dengan yang lainnya :)

 

Salah Transfer

Tulisan ini adalah oleh-oleh dari blogwalking kemarin, berbekal pengalaman Mba Alaika yang kesalahan transfer yang jumlahnya bisa buat beli 1 unit IPAD 2. Saya juga pernah mengalaminya, memang deh kemudahan yang diberikan ebanking itu bisa juga merugikan. Bukan salah siapa-siapa, melainkan diri sendiri yang kurang teliti atau terlalu cepat dalam mengerjakan sesuatu.

Dalam kasus saya, faktornya adalah terlalu buru-buru dalam mengerjakan proses transferan yang ditugasi oleh bos untuk membayarkan sejumlah uang ke rekening supplier. Tapi waktu itu saya mencoba menenangkan diri, karena rekening penerima adalah supplier juga, dan sudah punya hubungan yang baik. Hanya saja, hubungan baik pun rupanya tidak menjamin uang bisa kembali.

Saat itu juga langsung lho saya telpon si penerima uang, jawabannya? Panjang dan berbelit-belit. Padahal jika ada itikad baik, saya kira mudah saja kok. Kita sebagai pemilik rekening pas taulah apa akan ada uang masuk atau tidak. Dan kalaupun ada, pasti sudah tau juga jumlahnya berapa. Sehingga jika ada sejumlah yang tak tahu juntrungannya yang masuk, pastilah itu bukan uang kita ‘kan?

Tapi itulah namanya kalau sedang tidak beruntung, si penerima sama sekali susah diajak bekerjasama. Diajak bertemu pun tak mau, padahal dia sempat  mengakui sudah menerima uangnya, dan pihak bank pun sudah memastikan kalau transaksi yang kami lakukan sukses.

Pelajaran mahal banget deh saat itu, sehingga menjadi lebih berhati-hati jika hendak bertransaksi via ebanking. Baru-baru ini suami hampir juga melakukan kesalahan transfer, karena keadaan yang hectic, rencana mau transfer untuk pembayaran koneksi kok malah mengisi saldo akun penjualan game on line. Untungnya, akun itu milik sendiri, andai saja masuknya ke rekening orang lain seperti pengalaman saya? Bakal nangis bombay deh :(

Jadi saran saya, demi menghindari kesalahan transfer, sebaiknya sih tidak usah deh di-save itu pemilik rekening yang biasa kita transfer. Memang sih agak repot karena setiap bulan harus memasukkan lagi setiap mau ada bayar-bayar, tapi pilih mana, repot atau salah transfer? Atau jika mau melakukan kegiatan transfer-transfer sebaiknya didampingi oleh orang lain, agar bisa saling mengingatkan. Atau lagi ya meningkatkan kehati-hatian, tidak usah buru-buru, dan memperhatikan dengan cermat nomor rekening yang dipilih.

Bagaimana dengan sohibloger, pernah mengalami kesalahan transfer yang mungkin berakibat fatal?

Giveaway: Cool ‘n Smart Blogger

Ada perhelatan di rumah maya Kakaakin, blogger yang punya slogan Try to be Cool ‘n Smart. Nah, di ulang tahun blognya yang ke-3, dia yang selama ini sudah mencoba untuk menjadi  blogger yang cool dan smart, justru ingin tahu pendapat blogger lain tentang kriteria blogger yang cool dan smart itu seperti apa sih?!

Demi meramaikan perhelatan ini, jadilah saya bermenung-menung seperti apa gerangan blogger yang cool dan smart itu ya. Dan tiba-tiba muncul ilham ini di kepala saya bahwa seorang blogger yang cool dan smart itu adalah blogger yang  pintar dan berwawasan luas, yang dengan kerendahan hati mau  berbagi informasi yang berguna dengan blogger lainnya. 

Ssttt … sebenarnya itu bukan ilham yang muncul secara tiba-tiba di otak saya, melainkan merupakan kesimpulan yang saya buat sendiri dari hasil pembicaraan saya mewawancari seorang blogger yang menurut saya dia cukup cool dan smart. Siapa lagi kalau bukan suami sendiri dong hahaha … bayangkan pembicaraan ini dalam konteks yang serius melalui chatbox antar ruko alias rukonya sebelah-sebelahan :D

Teteh : Kira-kira menurut aa, seperti apa sih blogger yang cool dan smart itu?

Aa : cool di sini bukan berarti dingin cuek, tapi selalu menyajikan informasi2 keren dan berguna, smart juga berarti pinter dan berwawasan luas.

Teteh : ih, klo cool yang dingin itu ‘kan kulkas Aa, dan kulkas itu tipenya memang cuek. Diisi apa aja diem, engga pernah protes hehehe … ya iyalah, ada-ada aja si aa. terus gimana lagi?

Aa : udah gitu aja. 

Teteh : ha? Singkat amat jawabannya. Mbok diperjelas panjang lebar, kenapa sih? Ngirit amat.

Aa : udah ah :P  

Teteh : eh malah melet dia. ya udah deh, kalau memang cuma begitu.

Dan chatbox ditutup.

Sejak saya kenal blogger yang satu ini, dan karena memang mencari recehannya dari blog, dia rajin mencari informasi-informasi baru melalui forum-forum yang berkaitan dengan monetizing blog baik forum luar maupun dalam negeri. Oleh-oleh dari forum-forum itulah yang dibaginya melalui blog ataupun langsung one by one. Kalau istilah dia sih lebih enak saling berbagi, sehingga pintarnya sama-sama, karena kalau pintar sendiri itu malah engga enak, katanya. Dan inilah bentuk kerendahan hatinya, menurut saya. Yen tak pikir-pikir iya juga sih, apa enaknya kalau kelihatan pintar sendiri, apalagi sampai sok keminter? Hehehe …

Pastinya saya sangat setuju dengan pendapat suami di atas, walau kenyataan yang saya lihat sendiri, banyak lho blogger yang pintar, tetapi jauh dari sifat cool. Entahlah, saya tidak mau fokus juga sih pada istilah cool ini karena terkadang penilaian seseorang ‘kan subjektif sekali ya, apalagi ada faktor tak kenal maka tak sayang. Blogger A begitu karena mungkin dulu ketika dia menapak untuk sampai pada pencapaian yang sekarang, dia merasa melewati perjuangan berdarah-darah sendirian, sehingga ketika sudah di tangga atas, jadi agak diirit-irit ilmunya. Tetap sih dibagi, bisa dibaca jelas di blognya, tapi tidak dilakukannya secara gamblang dan total. Dan pada akhirnya saya menyadari, memang ilmu itu mahal. Sisi positifnya, dari clue yang disampaikannya di blognya, bagi yang penasaran pastinya akan giat mencari tahu lebih dalam lagi. Saya sendiri, jujur, ketika meminta Pakde Cholik menghadiahi buku Mimpi Sejuta Dollar itu karena blogger itu menuliskan bahwa buku itu highly recommended. Mengikuti jejak orang yang sudah kelihatan berhasil itu tidak dosa ‘kan? LOL

Sebagai penutup saya mau mengucapkan SELAMAT ULANG TAHUN yang ke-3 untuk blognya mba Akin, semoga awet menulisnya, dan tetap  tinggi semangat berbaginya.

“Artikel ini disertakan pada Cool and Smart Blogger Giveaway yang diadakan oleh KakaAkin”

Jajanan Favorit

Jajanan favorit setiap orang pasti ada, entah 1 atau 2 macam, tak terkecuali saya dong. Belanja jajanan favorit biasanya dilakukan banyak orang di minimarket dekat rumah, atau banyak juga yang melakukannya sekalian belanja bulanan. Saya, belanja jajanan favorit dulu memang menggabungkannya sekalian belanja bulanan, tapi sejak punya snack corner di tempat usaha ini, maka sejak itu pula sangat jarang saya membeli jajanan favorit di minimarket atau supermarket.

Kenapa? Alasannya : MAHAL!!! Tidak percaya? Silahkan dicek sendiri, dan bersiaplah menerima kenyataan pahit ini :D Sebut saja Momogi kesukaan Bibi Titi Teliti, dengan uang 500 perak sudah dapat 1 di snack corner saya, tapi jika beli Momogi di minimarket, seingat saya harganya sekitar 600-700 perak. Khusus momogi, favorit saya adalah rasa jagung bakar atau keju.

Sama halnya dengan snack lain yang terkenal namanya seperti Chitato, Cheetos dan Qtela. Tiga-tiganya saya suka, tapi tentunya ada yang paling disuka dong, yaitu Cheetos rasa Jagung Bakar (tetep pilih ini hehehe). Kalau sudah makan ini, langsung lupa sama kandungan MSG-nya. Sementara untuk produk Qtela, saya suka dengan yang keluaran terbaru yaitu Qtela Tempe. Mirip banget rasanya dengan jajanan tempe goreng yang dibeli di Bandung itu, yang biasanya dijual bareng selai pisang yang digoreng itu lho.

Ada jajanan yang lebih murah lagi tapi enak? Tentu saja ada :D Yaitu PILUS! Sampai hari ini saya baru mengenal 2 rasa pilus, yang tawar dan yang pedas. Sebagai penyuka sambal, pastinya saya suka Pilus yang pedas dong. Apalagi jika dicemil pas makan bakso atau mie ayam. Lengkap banget dah!

 
Masih ada lagi untuk kelas coklat murah, seperti chocolatos, dan fonnut. Tapi untuk fonnut, cukup 1x saja mencobainya, dan engga ketagihan sama sekali. Beda dengan chocolatos, bisa lupa diri dibuatnya, jadi harus ingat-ingat kalau itu dipajang buat dijual, bukan untuk saya makan hehehe

Apakah saya setiap hari memakan jajanan favorit itu? Tergantung sih! Walaupun tinggal comot, tetapi sering lupa juga. Kecuali saya yang duduk di kasir, karena para asisten tidak ada seperti sekarang, minimal 1 bungkus pasti masuk juga sih ke perut. Kadang sekaligus semuanya, cheetos + pilus + chocolatos, kadang pilus saja, atau cheetos saja. Kadang-kadang tidak makan satupun sama sekali.

Entahlah, saya susah sekali melepaskan diri dari jajanan ini. Sangat berbeda dengan minuman kemasan yang murah meriah itu, seperti Teh Gede, Ale-ale, Granita dan lain-lain lagi deh mereknya banyak banget. Cukup sekali icip, saya yakin tidak akan pernah mencoba lagi :D Terlalu manis buat saya hehehe dan bisa konsisten lho. Pokoknya kalau untuk minuman AIR MINERAL masi the best deh!

Ini tentang jajanan favorit saya, apakah sohiblogger  juga punya jajanan favorit kelas murah meriah begini? :D

 

JNE: Paket Melangsing Dari Pontianak Ke Jakarta

Sejak kenal yang namanya ekspedisi, entah itu namanya TIKI, JNE, KANTOR POS, belum pernah mengalami barang kurang, kalau hilang sudah mengalami dengan Kantor Pos, sampai sekarang charge HP Samsung yang dibeli suami via Ebay itu tak kunjung tiba.

Ini bukan sembarang cerita, dan bukan curhat tanpa bukti, karena kisah ini terjadi nyata, bahkan masih hangat lho. Kira-kira 2 jam yang lalu saya terima paket pesanan dari Pontianak, iya, saya beli snack talas setelah melihat tayangannya di TV. Ketika kotaknya datang, sedikit heran, kotaknya kok kempes yah? Terus lakbannya kok berantakan begini yah? Tapi saya berpikir, mungkin buru-buru sehingga seperti ini. Untungnya saya punya kebiasaan mengambil gambar paket yang datang, termasuk paket kali ini.

penampakan paket pas datang (25-01-2012)

Pesanan saya adalah sebagai berikut :

1. 1kg talas pedes
2. 1kg talas rasa keju
3. lempok
4. bonus dodol + teh aloe vera

Ketika kotaknya saya buka, heran dong, kok cuma ada 1 bungkus talasnya? Satu lagi mana? Akhirnya saya tanya deh si Neng Manis yang telah membantu saya memesankan barang-barang ini, dan benar saja, seharusnya ada 2 bungkus talas di dalam.

Lalu, saya menimbang barang-barang yang saya terima, isinya total cuma ada 2.6kg, padahal di resinya berat barang 4kg. Itu artinya ada selisih 1.4kg. Itu artinya ada barang yang hilang? Kok bisa? Hmm …

Lalu, saya mau komplen dong saya yang punya JNE, buka situsnya maintenance, telpon ke cabang, tidak ada yang angkat. Telpon ke pusat sama saja, pulsa telpon habis 30menit lebih selama saya menuliskan ini masih belum diangkat, jadi telponnya sudah masuk, tapi masih menunggu operator angkat. Masak sih saya harus datangi kantornya seperti mba Susi yang langsung piknik di PLN karena mati listrik???

JNE, bagaimana niy pertanggung jawaban kalian? Saya minta diganti pulsa nelpon, diganti talasnya, sama rasa malu teman saya yang jadi kesal berlipat-lipat karena bantuannya jadi cacat deh gara-gara JNE tidak profesional. Berharap sih ada JNE yang baca dan menanggapi keluhan ini, karena tinggal ini satu-satunya cara yang saya tahu, selain mengirimkan keluhan via SURAT PEMBACA DETIK.COM.

 UPDATE 27JAN
09.09 : Kemarian janji P.Uli dari JNE mau kasih kepastian sebelum jam 12.00, tapi sampai detik ini, no calls at all! Hebat ‘kan?!

10.51 : Kurir yang antar barang kemarin datang, dan menanyakan lagi barang yang hilang. Masih tanya, jadi ibu maunya bagaimana? hadeh hadeh …. ya maunya barangnya ada dong, sesuai kiriman ajah, ga usah dilebihin pastinya jangan dikurangin juga :D

Perjalanan Nicamperenique

Dari obrolan singkat dengan mba Imelda kemarin malam, saya jadi teringat kalau perjalanan blog ini bukan baru satu tahun, tetapi sudah memasuki TIGA tahun, tepatnya 2 tahun 2 bulan (thanks to Pak Mars yang sudah memberikan koreksi :D ). Ya, pertama sekali menulis itu mulai bulan Desember 2009, jadi semestinya ulang tahun blog ini setiap bulan Desember ya? Aduh, saya benar-benar lupa deh. Soalnya sempat berganti-ganti sih, awalnya di blogspot, pindah ke .com, baru deh di sini yang awet. Bahkan yang .com sudah raib entah kemana, biasalah suami lupa mbayari jatah tahunannya.

Setelah mememperhatikan index, saya jadi ngeuh kalau konsistensi saya dalam dunia tulis menulis baru benar-benar stabil pada tahun 2011. Bayangkan saja, saya cuma mampu menulis sebanyak 9 kali di tahun 2009 dan 39 tulisan di tahun 2010. Barulah pada tahun 2011, saya menuai banyak tulisan, sebanyak 271!  Masih kurang banyak sih jika dibandingkan dengan banyaknya jumlah hari dalam setahun, tapi saya kira sebagai pemula sudah bolehlah :D Setidaknya pencapaian ‘kan sudah sampai 75% tuh :D *mencari pembenaran*

Dalam satu tahun ini, sudah banyak sekali hadiah yang saya kumpulkan, entah karena menang beneran, entah karena kebaikan si kaleng susu, entah karena kebaikan hati seseorang yang sudah tak perlu lagi disebut namanya, banyaaaak banget, dan hasilnya? Saya jadi punya HUTANG!!! Hutang apa hayoooo …. ?

Hutang me-review buku-buku yang saya terima. Mari kita simak judulnya, semoga saya masih ingat tanpa melihat bukunya.

1. Semilir Cinta Untuk Ayah – Pakde Cholik – sudah selesai dibaca!

2. Muhammad – mas Kahfi

3. The Moneyless Man – Kang Yayat

4. Mimpi Sejuta Dollar – Pakde Cholik

5. Mozaik – tentang pecahan kecil hidup – Mba Tarry

6. Habibi & Ainun – Pakde Cholik

Dari 6 buku ini, cuma yang no.1 yang tipisnya tidak bikin mata melotot :D Sementara buku yang no.2 itu tebalnya ampun deh  hahaha …. padahal saya sudah janji untuk me-review. Ampon dah ah!

Selain hadiah buku-buku di atas,  saya juga pernah disenangkan oleh mba Fanny karena penulis kumcer “Jerawat Cinta” dan “Ngakak Sejenak” ini pada tanggal 22 Desember 2011, dan sekarang saya nyatakan bahwa tulisan di sana itu sebagai kado terindah yang baru saya sadari sekarang. Payah ya, ulang tahun blog sendiri bisa tidak hapal begini? Ckckck ….

Sudah? Beluuuumm … masih ada lagi niy, saya ‘kan pernah cerita yah kalau saya lost contact sama In Mee sahabat Korea saya itu, eh kok ya dikirim Tuhan seorang teman maya baru yang menggantikannya, sudah pada bisa tebak dong siapa perempuan ini? Hehehe …. dia memang perempuan Indonesia, tapi udah Jepang banget, jadi yaaa saya anggap 11-12 deh sama In Mee apalagi panggilan mereka pun mirip toh? *maksa banget ya? Hahaha* Walaupun, harus saya akui, dua-duanya cantik, hanya yang satu kurus langsing khas perempuan Korea di film-film, tapi kalau yang satu lagi yaaa … 11-12 sama saya deh hahaha … sampai hari ini sih kami merasa banyak kemiripan, semoga saja persahabatan yang telah dijalin dengan niatan baik ini bisa awet dan langgeng yah.

Sudah? Belum dong ah! Sungguh tak disangka-sangka kalau di dunia blogging saya pun kemudian berteman dengan orang-orang asli Karo, seperti Eda Lely, Ann, Yadie Baroos, dan Pricrimbun. Ajaibnya, dengan Pricrimbun sebetulnya malah sudah lama berteman di facebook, hanya saja kami tak saling mengetahui kalau kami menggeluti dunia yang sama, yaitu dunia blogging :D Bertemu dengan orang satu suku, kok terasa sesuatu banget yah, padahal ya gak ngapa-ngapain juga, cuma sensasinya itu agak-agak gimana gitu deh hihihi *lebay*.

Selain itu, dengan bangga saya juga mau pamer warung tempat nongkrong saya yang baru yaitu Warung Blogger, sudah pernah juga sih saya tulis di sini. Facebook yang sudah saya tinggalkan, akhirnya disentuh lagi karena pengen ikutan nongkrong, ngupi eh ngeteh sambil ngemil pisang goreng. Dan inilah aku tanpamu saya sekarang, sambil merangkai kata, saya juga sempatkan nongkrong menjalin silaturahmi dengan teman-teman blogger di WeBe, begitu nama tenarnya ‘kan yah? :D

Memasuki tahun ke-3 mengenal dunia blogging, awal tahun ini saya menjajal nyali untuk menulis fiksi di sini, yang saya sendiri akui masih mentah banget, masih perlu banyaaaaaaaaaaaaak banget belajar, dan saya masih berharap bisa menulis novel satu hari nanti? Doakan saya teman hehehe Pada saat menuliskan ini, di facebook ada kata-kata Pakde yang makleb banget deh tentang niat, minat, bakat dan tekat, yang saya pikir tepat sekali, namun sayangnya saya merasa hanya berbekal MINAT dowang. Saya masih harus meluruskan niat dan menguatkan tekat, bagaimana dengan bakat? Saya pernah baca, bahwa jika niat ada dan tekat kuat, moga-moga sih bisalah hehehe …

Oya, masih ada satu hal penting yang harus saya perbaiki, yaitu minat saya terhadap blogging itu sendiri, tidak semata-mata menulis thok seperti yang selama ini saya lakukan. Banyak guru hebat yang saya kenal, tapi saya masih terlalu malas belajar. Padahal saya sudah sering merasa malu hati sama Bunda Yati, yang usianya udah kemana-mana itu tetapi semangat belajarnya mengurusi blognya sendiri sangat patut saya acungi jempol.

Akhirnya, saya harus jujur bahwa dunia saya telah berubah banyak sejak mengenal blogging, terutama uji nyali mengikuti kontes. Soal percaya diri saya memang rada parah, merasa tulisan saya jelek dan tidak layak dibaca orang banyak itu masih belum hilang tuntas. Sungguh saya  beruntung punya orang-orang yang telah berbaik hati untuk terus mendukung saya sampai hari ini, salah satunya Pak Guru dari planet Mars hehehe….. TERIMA KASIH yang tak terhingga bagi semua sohiblogger yang tak sanggup saya menyebutkan namanya satu per satu dalam kesempatan ini, yang telah menjalin pertemanan dengan saya sampai hari ini, dan telah rajin dan setia menyambangi tulisan-tulisan saya di sini, sampai meluangkan waktu untuk meninggalkan komentar yang telah menjadi dopping yang mengalahkan narkotik sekalipun dalam memicu adrenalin saya untuk terus menulis.

Tabik!

Protes Itu Membunuhku

Memiliki keponakan yang banyak, apalagi umurnya sebaya, sangatlah tidak mudah menempatkan diri menjadi tante/biuda/aunty yang setiap keputusannya diterima dengan suka cita. Baru-baru ini, salah satu keponakan yang pastinya juga disayang dong, sudah mulai gencar menunjukkan protes atas sikap pilih kasih saya, menurut dia.

Melihat video-video abang Reza dan adek Egi di banyak tempat yang menyenangkan juga menurut dia, sebut saja Pasir Mukti, Snow Bay, TMII, Ragunan, dan Ancol membuat anak adikku yang bernama Abil ini menggalau. Protes dilayangkan secara terbuka, dan langsung pada yang bersangkutan, di depan semua sepupunya yang lain, yang menatap Abil dengan terkesima seperti tidak paham abang yang satu ini sedang protes apa sih? :D

“Ini pada pergi berempat aja? Biuda, kila, Reza dan Egi?? Mana seruuu …. enak tuh pergi rame2 biuda.”

Kami tertawa mendengar ini. Lalu …

“Besok abang ‘kan masih libur ya Biuda, gimana kalau kita pergi ke Taman Mini, misalnya, kan abang Abil belum pernah ke sana.”

“ya boleh aja, abang pergilah sama bapak dan ibu. jangan sama biuda lagi. boncoslah biudanya klo semua mau jalan-jalan sama biuda.”

“Lho? Abang maunya sama biuda. Lagian Reza juga pergi sama biuda, kenapa abang ga boleh?”

“Bukan gitu bang, abang ‘kan lebih seru kalau pergi sama ibu bapak dong, ada adek Daffa juga. Coba deh nanti ngomong sama bapak ya.”

“Ahh…biuda pelit. Maunya ajak Reza doang. Abang ga pernah diajak. Klo diajak cuma ke taman doang. Nonton bioskop aja lebih sering ngajak Reza. Pilih kasih niy biuda.”

Makjleb!!! Aduh, ini protes beneran toh? Kirain cuma iri-irian biasa. Bagaimana ini? Padahal, bukan bermaksud pilih kasih, tidak sama sekali. Hanya saja, memang abang Reza dan Egi lebih sering ditinggal dengan kami, sejak tidak ada bapaknya, apalagi sejak tidak ada nannya, jadi ya otomatis saja mereka sering diajak-ajak. Sementara kalau mau mengajak ponakan yang lain, pikiran saya toh mereka punya orang tua yang lengkap, yang bisa mengajak anak-anak mereka kapan saja mereka mau.

Kadang-kadang sih saya memboyong mereka semua, tapi tentu paling juga 1-2 kali dalam setahun. Dan sudah pasti harus siapkan budget yang lumayan besar yah. Dan akhirnya, saya keluarkan jurus ngeles terbaik sedunia saat ini :D

“Ya udah gini aja, biuda akan ajak siapapun yang bisa masuk 3besar pada kenaikan kelas 3 nanti. Tempatnya boleh pilih sendiri. Gimana?”

“Ah, biuda mah curang. Kalau gitu mah, udah pasti abang ga bisa ikut lagi deh. Abang ‘kan ga pernah bagus nilainya.” Mecucu dia :D

Lhooo…..makanya abang Abil belajar dong dari sekarang. Dulu itu Reza ke Pasir Mukti juga karena dapat nilai bagus. Jadi itu hadiahnya.”

“Pokoknya biuda ga adil. Pilih kasih.” Mulai ngambek beneran dia. Tinggallah saya yang mati kutu, dan merasa menyesal mengajak mereka menonton video-video hasil besutan ketika Reza dan Egi liburan. Hiks … ternyata menjadi orang yang adil itu tidak mudah ya sodara-sodara ….

Sebagai penutup postingan ini, saya tampilkan dua ponakan yang beda umur cuma 7bulan, dan sekarang mereka belajar di sekolah yang sama, cuma beda jam masuknya aja hehehe …. mari, saya perkenalkan dengan senang hati – namanya Athallah Nabil Ginting

Reza dan Abil - pamer duit goceng dari Biuda hasil lomba lari

Beda Umur

Tulisan Pak Mars tentang BEDA UMUR dengan istri satu-satunya yang dinikahinya sampai hari ini, membuat saya ingin menuliskan tentang kenyataan bahwa telah terjadi salah kaprah yang parah di masyarakat kita tentang beda umur yang ideal bagi pasangan yang akan menikah. Saya katakan salah kaprah karena seringnya pasangan yang beda usia banyak disikapi seolah-olah melakukan dosa besar yang pantas dihujat, dihina dan dipermalukan sesuka hati.

Kisah tentang Pak Mars yang menyunting murid kesayangannya, membuat saya teringat pada kisah guru SD saya dulu, yang perbedaan usianya sampai belasan tahun, yang mana guru pria ini jauh lebih muda dari yang perempuan. Yang perempuan adalah guru merangkap kepala sekolah merangkap pemilik sekolah merangkap penilik sekolah :D Perempuan super deh pokoknya, yang kalau masih ingat tulisan saya yang ini, kami memanggilnya Ibu Kacamata.

Dulu, sering saya dengar bisik-bisik para ibu yang mengantar anaknya sekolah, dan bisik-bisik itu tetap sama bunyinya ketika saya sudah duduk di bangku SMP. Awet ya? Hehehe …

“Bodoh kali lah pak guru itu ya, kok maulah dia sama Ibuk itu, padahal ‘kan dia itu ganteng, pasti dia ngincar duit ibu ajalah.”

“ah paling juga bentar lagi mereka cere, mana bisa awet klo kek gitu tuanya perempuannya.”

“ibuk itu pun ga tau dirilah, kayak ga ada lagi aja laki-laki lain yang bisa dijadikan suami, kok kawin dia sama pak guru yang masih muda kek gitu.”

Dan masih banyak bisik-bisik yang sebetulnya tak pantas didengar anak kecil seperti saya waktu itu. Sempat pula saya berpikir, iya ya, Pak Guru itu ganteng, tinggi pula, pinternya ga usah ditanya, tapi kok dia mau ya sama ibuk kacamata? Bisik-bisik yang saya dengan sukses membuat saya berpikir dan memperhatikan pasangan tidak biasa itu. Tanpa sengaja saya jadi seperti menunggu akhir dari pernikahan mereka. Sampai saya mudik tahun 2009 kemarin, saya dengan sengaja mendatangi sekolah saya tersebut dan saya menemukan Pak Guru sedang berbenah seorang diri. Saya melihat sendiri, betapa dia tetap setia sampai akhir, sampai ibu kacamata berpulang ya tetaplah itu istrinya. Sayangnya saya lupa menanyakan apakah dia sudah menikah lagi atau belum, setidaknya dia – mereka sudah mementahkan bisik-bisik para ibu dan orang yang ada di sekitar mereka. Semua bungkam dengan sendirinya. Saya salut sangat terhadap mereka, yang hubungannya tak goyah cuma karena bisik-bisik tetangga. Tetap setia sampai akhir hayat dikandung badan. Tetap bersama walau tak hadir seorang anakpun di antara mereka. Bahkan, dengan rendah hati mereka mengadopsi sepasang anak, yang tetap diasuh dengan kasih sayang oleh Pak Guru walau Ibu KacaMata telah berpulang.

Mungkin mereka adalah segelintir (atau kebanyakan?) pasangan yang beda umur tapi berhasil menjalani kehidupan rumah tangga samara, dan saya rasa, saya harus ingat baik-baik, bahwa tak perlulah menghakimi orang lain dalam hal apapun, karena pada kenyataannya masing-masinglah yang lebih tahu tentang apa yang sedang dan akan mereka jalani. Bukan begitu? :)

Nawar Kok Nemen Sih?

Pertempuran Kecil di Pagi Hari  yang tayang Jumat pagi di markas BlogCamp, mengingatkan saya pada kejadian minggu yang lalu di sebuah pasar tradisional di Tangerang sana. Jadi sebelum menyambangi rumah yang hampir disabotase orang itu, si teman yang menjemput saya minta ijin mampir ke pasar dulu untuk belanja mingguan. Maklumlah, ibu-ibu pekerja ‘kan memang harus mempersiapkan segala sesuatunya agar pas hari kerja tidak direpotkan lagi sama urusan belanja.

Baru beberapa menit berbelanja, saya mulai diliputi perasaan rikuh. Apa pasal? Itu lho, teman saya ini kalau nawar itu nemen deh, bingung juga saya. Akhirnya saya memilih menjauh dengan alasan mau lihat-lihat, padahal sih sakjane saya itu tidak tega saja. Dan nyangsanglah saya di penjual bumbu yang tadi sudah kami belanjakan sejumlah uang di sana.

Percakapan ringan dimulai dari jahe impor yang sudah mulai kisut, penampakan jahe impor yang sangat bersih dan gemuk, jangan bandingkan jahe lokal yang bertanah-tanah dan kurus. Tapi saya lihat pembeli masih setia dengan jahe lokal tuh, alhamdulillah yah :)

“Mba temennya ibu yang tadi?”

“Iya, bu, kenapa?”

“ihhh temennya kalau belanja gitu deh, nawarnya ampunnn …”

“eh? masak sering begitu?”

“iya selalu begitu. padahal kita juga ngasih harganya ga keterlaluan kok, wong penjual lainnya banyak, sudah mau mampir aja kita udah seneng, mosok dimahalin.”

“yaahhh begitulah bu, namanya juga emak-emak, umumnya kan emang senengnya nawar toh heehehe …”

“Iya mba, nawar sih boleh cuma ya jangan nemen gitu lhoo…”

Saya berlalu sambil tersenyum. Membayangkan proses belanja tadi. Beli cabe 2000, minta dicampur, sudah dibungkusi eh langsung nyomot cabe keriting dan bilang tambahin dong … eh kurang niy, 2000 lagi deh, begitu lagi, sukanya nambahin sendiri hehehe di tukang sayur ya gitu, sukanya nambahin sendiri …

Saya tidak membela pedagang dan menyalahkan emak-emak yang model begini, karena emang kudu ada emak-emak model begitu, agar emak-emak yang belanjanya seperti saya, yang ga rewelan, yang ga suka nawar, bisa lebih dihargai sama si pedagang. Ngenes aja ‘kan kalau emak-emak seperti saya ini, masih juga dibohongi timbangannya, atau kualitas barangnya, atau harganya dimahalin.

Eh bicara tentang kualitas barang, jadi inget 1 dus jeruk ponkam yang saya beli di supermarket, saya pikir ‘kan kalau sudah didusin mestinya barangnya bagus, jadi saya tidak bongkar lagi, wong udah rapi, tinggal tenteng, tapi pas sampai di rumah itu jeruk dibongkar suami ketemu aja gitu yang busuk hehehe … ampon dah ah, masih untung sih isinya manis semua, coba kalau sebaliknya? Udah busuk, asem pula, wew … tergantung amal perbuatan kali ya hihihi

Jadi emak-emak sejagat raya, saya himbau niy yaaa … kalau pas belanja tuh, nawar ya boleh, cuma itu tadi .. inget, jangan nemen! Kalau mereka jualannya ga untung, gimana bisa mereka tetep jualan? Iya ‘kan? Yang wajar-wajar aja deh, berbagi rejeki gitu … :)