“The Blind Side”

THE BLIND SIDE adalah salah satu film kisah nyata yang paling ingin saya tonton sejak  saya tahu kisah ini di internet. Begitu penasaran ingin melihat sosok Leigh Ann yang telah menyelamatkan dan menjadi sosok yang begitu dominan dalam perjalanan menuju suksesnya seorang Michael Oher. Leigh Ann, perempuan borju yang berlimpah uang dan kasih sayang ini, memanfaatkan dengan sangat baik apa yang sudah dan sedang dimiliki. Caranya berbagi kasih dengan spontan, begitu menginspirasiku.

Pertemuan Leigh Ann sekeluarga dengan Michael Oher yang saat itu sedang terlunta-lunta di satu malam yang dingin, menjadi titik awal kehidupan yang baru bagi Michael Oher. Memboyong Oher kerumahnya mereka yang besar dan mewah sepertinya adalah perbuatan yang sangat berani, yang saya sendiri pun belum tentu berani melakukannya. Apalagi melihat sosok Oher yang tinggi besar, begitu mengintimidasi.

Setelah menginap malam itu, Oher beranjak pergi pagi-pagi sekali. Dia cukup tahu diri dengan merapikan alas dan selimut bekas dia tidur semalam. Dan menemukan kerapian sofa yang ditinggalkannya meninggalkan kesan yang mendalam pada Leigh Ann. Demi menyadari Oher telah pergi, dia mengejar dan mengajaknya kembali, agar mereka bisa bersama-sama merayakan hari Thanksgiving.

Sudah soal kerapian yang mengesankan, kini soal kesantunannya di saat makan pun mencuri perhatian Leigh Ann. Di saat anggota keluarga yang lain menyantap makanan mereka di depan tivi sambil menonton acara futbol favorit keluarga ini, Oher duduk manis seorang diri di meja makan. Demi melihat momen ini, serta merta Leigh Ann mematikan tivi dan menata meja, dan memaksa suami dan putra putrinya untuk makan di meja makan, tentu saja mengawalinya dengan doa.

Dua momen ini begitu membekas di hati Leigh Ann, sehingga ketika seorang teman borjunya berkomentar bahwa dia telah mengubah kehidupan seorang anak kulit hitam, maka dengan lugas dia menimpali : “bukan aku yang mengubah kehidupannya, tapi justru Oher yang telah membawa perubahan baik ke dalam hidupku.” Tentu saja pernyataan ini sulit diterima akal sehat teman-temannya, bahkan aku pun baru menyadari :“iya ya, jika bukan karena Oher, mungkin keluarga ini tidak menikmati makan di meja makan dalam suasana yang penuh kekeluargaan.” Menyentuh sekali!

Begitulah, kehidupan baru seorang Oher mulai ditulis, kelemahannya dalam mencerna pelajaran menjadi perhatian Leigh Ann, yang sejatinya memang ibu-ibu banget. Perempuan ini terlalu sempurna, dia seperti malaikat saja. Perhatiannya, kasih sayangnya, melimpah ruah. Hati yang penuh kasih memang mudah tersentuh, tapi dia tidak cengeng, juga tidak setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, dia pasti menuntaskan apa yang telah dimulainya.

Melihat sosok Oher yang tinggi besar, dia pun diarahkan untuk menekuni permainan futbol, tetapi sifat melindunginya yang 98% itu membuatnya kesulitan untuk tampil garang di lapangan. Lucu sekali melihat adegan di mana seorang pelatih yang sudah teriak-teriak mangkel karena lagi-lagi Oher tidak melakukan bagiannya dengan baik, namun ketika Leigh Ann turun tangan, maka Oher pun bermain apik. “Anggaplah mereka ini keluargamu yang harus kau lindungi, jaga dia dan dia agar tidak diseruduk lawan.”

Michael Oher & Leigh Ann Tuohy (foto diambil dari www.myhero.com)

Saya juga memuji anak-anak Leigh Ann, terutama yang perempuan, yang walau hidupnya jadi terusik karena celaan teman-temannya di sekolah karena keberadaan Oher, dia malah tak peduli, dia justru menunjukkan rasa persaudaraannya dengan Oher. Ya, dia dan adiknya menganggap Oher sebagai kakak tertua mereka. Luar biasa!

Menurutku, Leigh Ann telah berhasil memanfaatkan rejeki yang berlimpah yang Tuhan berikan padanya dengan sangat baik, menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Seperti inilah sosok seorang Ibu yang bisa mencetak anak-anak masa depan, dia bisa membagi waktu dengan baik, antara suami, anak-anak dan kehidupan sosial mereka.

Kejadian yang juga menguras air mata :D adalah ketika mobil yang dikendarai Oher bersama SJ, anak bungsu Leigh Ann, kecelakaan, mobil yang baru dibeli itu hancur. Dalam bayanganku, pasti Oher akan diusir setelah ini *khayalan tingkat tinggi*, tapi saya kecewa karena Leigh Ann hanya mengurusi kedua anaknya. “Kenapa tanganmu?” tanya Leigh Ann pada Oher. “Aku menahan kantung udara itu, agar tidak mengenai SJ.” Leigh Ann tak mampu lagi berkata-kata.  Terbukti dia tidak membeda-bedakan kasihnya antara kedua anak itu. Padahal dia bisa saja marah atas kecerobohannya yang bisa saja merenggut nyawa salah satu ari mereka, dan saya belajar satu hal, kenapa harus meributkan apa-apa yang belum tentu akan terjadi? Dan keributan seperti itu seringkali kita terpaksa menyakiti orang lain pula?!

Sambil menonton film ini saya jadi berandai-andai, jika ratusan orang kaya di bumi pertiwi ini mau punya hati seperti Leigh Ann, mungkin masa depan ratusan anak telah terselamatkan. Dan bukan tak mungkin, sekian puluh dari sekian ratus anak itu, mempunyai potensi yang luar biasa. Ah, saya jadi merasa seperti bermimpi di siang bolong, tapi setidaknya, saya tahu, bukan tanpa alasan Tuhan mengarahkan jari saya untuk meng-klik channel ini agar saya menonton film ini, pertama karena Tuhan tahu betapa desperatenya saya ingin nonton film ini :D , kedua Tuhan mau mengajari saya agar menjadi seorang perempuan dan ibu yang punya hati seperti Leigh Ann, ketiga Tuhan seperti mau bilang menyayangi anak .itu tidak harus menunggu punya anak dulu kok hehehe  Insya Allah, aamiin!

So, sudahkah kita berbuat baik hari ini? :)

Gambar diambil di sini.

47 thoughts on ““The Blind Side”

  1. Sudah belum ya?
    Rahasia ah…

    NiQue, saya belum nonton film itu. Yapi saya ngerti dan bisa ngebayangin banget gimana menyentuhnya film ini…kepedulian, selalu membuat saya tersentuh…

  2. Membaca bocoran cerita film itu saja bikin saya terharu, apalagi nonton filmnya mewek kali, :)
    Salut buat Leigh Ann.
    Alris recently posted… » Malas

    • terutama yang no.3 ya mba :D
      memang sebagai manusia, yang paling bijak yang bisa kita lakukan adalah pandai2 membaca pesan Tuhan :D

  3. gua juga suka ama film ini… bagus banget dan sangat inspiratif.

    tapi gua juga kayaknya belum bisa kayak begitu. serem juga gak sih kalo ternyata kita nolongin orang tapi ternyata orang itu jahat? yah bukannya negative thinking, tapi harus waspada juga kan ya… hehehe
    arman recently posted… » Weekend Snapshots

  4. Salah satu film drama yang saya suka. Adegan favorit adalah ketika si Oher duduk bersama mereka dalam satu meja makan. Dan si ibu (Leigh Ann) berkata, maukah kau bergabung di keluarga ini? Si Oher mengernyitkan alisnya, lalu bilang, “Ow, kukira aku sudah bergabung..”

    Adegan yang sederhana, tapi maknyoos..
    Masbro recently posted… » Memetik Cinta

    • nonton deh mba, bagus kok
      siap2 aja terharu biru
      tapi pelajarannya manteb
      ah pengen sayalah pokoknya jadi ibu seperti Leigh Ann :)

  5. really love this movie. berkali-kali nonton,selalu kagum sama aktingnya Sandra Bullock dan yang jadi Oher.
    Jarang juga bisa melihat Hollywood membuat film dengan tokoh berlatar belakang Kristiani dengan image yang baik. Mereka lebih sering membuat film yang nyindir-nyindir tokoh berlatar belakang Kristiani dengan image uptight,ketinggalan jaman, malah cenderung racist dan meremehkan kelompok di luar mereka.
    Then again, we have to thank to Leigh Ann, for being such a nice role model. She shows how a real Christian should be.
    Aside from the Christianity issue, menurut gue, inti dari cerita ini adalah tanpa memandang latar belakang orang,kalau memang membutuhkan pertolongan, ya harus kita tolong.Dan yang paling penting sih enggak terlalu cepat berprasangka saat berhadapan dengan orang yang baru kita kenal.

    • waaaa aku baru 1x Bun, makanya jadi termehek2 gini

      aamin, semoga ya Bun diberi kesempatan untuk mencetak anak2 seperti Oher :)

  6. Saya belum pernah nonton film ini, namun segala deskripsi yang mbak Nique tuliskan di atas – dari plot, karakter, dan sebagainya – terasa mirip banget dengan apa yang pernah saya baca di buku novel The Passage. Mungkin ada hubungannya ya, akan segera saya cek :D
    Alkadri recently posted… » Signifikan

      • Saya sudah baca, dan ternyata benar. Keduanya sangat amat mirip. Kisahnya sama-sama seorang ibu -ibu suburban yang baik hati, yang mengundang seorang pria kulit hitam datang ke rumah, dipekerjakan, dst. dst. Tapi bedanya, di The Passage si pria kulit hitamnya malah membunuh si ibu. Dengan kejam. :(

        Untuk lengkapnya, baca bukunya deh mbak. Dijamin nggak rugi :P
        Alkadri recently posted… » Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

        • kirimin dulu dong bukunya biar saya baca :D

          mirip tapi beda :D karena Oher tidak dipekerjakan lho sama Leigh Ann, dia benar2 mendapatkan hak layaknya seorang anak kandung.
          beda banget kan? :P

  7. Awww.. kayaknya touching banget nih film. wajib harus dan kudu nonton nih, tapi poin yang paling penting itu yaa jangan menilai orang dari sampul luarnya, seperti jangan menilai buku dari pakaiannya kan?

    dan yang pasti, kasih sayang ibu -atau wanita, yang selalu mendukung bakalan jadi hal yang memotivasi juga untuk berbuat baik..

    kalo dikasih rating 1-10, kamu kasih berapa Nique?
    Gaphe recently posted… » Harus Bangga Berbahasa Indonesia Donk!!

  8. udah liat film ini :D iya kereeen :D suka sama aktingnya Sandra Bullock.
    Memang belum tentu semua orang mau mengajak menginap seseorang tak dikenal, tinggi besar apalagi punya anak perempuan, tapi si ibu ini positive thinking :D
    Tiara Putri recently posted… » Sssht … The Chronologies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge