REBU

Sejatinya bersatunya dua insan di dalam sebuah mahligai rumah tangga akan menyatukan keluarga besar kedua belah pihak. Yang tadinya cuma punya sepasang orang tua, maka setelah menikah  bertambah pula sepasang lagi, yang sepatutnya diperlakukan sama santunnya. Jika tadi beradik kakak ada 4 orang, maka akan bertambah pula sejumlah saudara kandung plus ipar dari keluarga pasangan sang pengantin. Begitulah yang saya pahami dari buku/novel/majalah yang saya baca.

Namun, sejak kecil pula saya telah dihantui oleh kegamangan yang sebenarnya tidak perlu, sayangnya saya baru menyadarinya sekarang, karena bagaimanapun setiap suku punya adat istiadatnya masing-masing, dan bagaimana pengimplementasiannya dalam keseharian tentunya diserahkan sepenuhnya pada kehendak masing-masing. Adat istiadat jika dijalankan baik, jika tidak pun tidak ada yang memaksa.

Tapi inilah bukti dangkalnya cara berpikir saya dulu :) Demi mengetahui bapa saya tidak boleh berbicara dengan nenek dari mamak (Ni Karo – begitu kami memanggilnya), dan mamak pun tidak boleh berbicara langsung dengan kakek dari bapa (bolang Iting begitu kami memanggilnya), ditambah lagi bapa tidak boleh bicara langsung dengan istri-istri dari saudara laki-laki mamak. Istilahnya dalam bahasa Karo adalah REBU. Aduh! Ribet! Tidak suka! Apa-apaan ini?! Orang menikah mau menambah saudara, ini kok malah dilarang bicara? Bahkan jika terpaksa mau bicara pun harus menggunakan media lain, termasuk benda mati sekalipun.

Sering saya terkekeh geli mendengar Bolang Iting menyampaikan pesannya kepada mamak melalui kami cucu-cucunya, yang kalau kami tidak ada, maka kehadiran kami boleh diwakili oleh kursi/meja/tembok atau apalah yang ada di dekat mereka :D Kira-kira seperti berikut cara mereka berdialog.

“O Rudi .. bilang sama mamak ya, kopi sama gula bolang sudah habis.” (padahal cucunya itu masih bayi merah dan belum bisa bicara lho.)

“Bilang sama bolangmu itu Rudi, suruh ambil aja gula kopinya di warung Mak Ijah, nanti mamak yang bayar ke sana.”

Beranjaklah Bolak Iting ke warung Mak Ijah mengambil gula kopi dan langsung bablas pulang. Mereka saling mendengar suara masing-masing, tetapi begitulah adat, mereka tidak boleh bicara langsung, harus pakai perantara. Pernah dengan iseng saya mempertanyakan, bagaimana kalau urgent? Entah hanyut di sungai misalnya? atau ada kebakaran? Kalau tidak boleh bicara langsung, tentu saja tidak boleh juga bersentuhan, nah bagaimana tuh menyelamatkan yang hanyut, sementara yang ada di situ cuma ‘rebu’annya? Untungnya ada pengecualian jika keadaan darurat ternyata diperbolehkan, tentu saja tetap tanpa bertukar cakap, m isalnya sudah ditolong ya sudah, begitu saja :D

Jadi, inilah salah satu sebabnya mengapa dalam banyak kesempatan berdoa pada Yang Punya Hidup agar tidak menjodohkan saya dengan orang Karo. Apa enaknya coba jika saya tidak boleh bicara sama bapak mertua, dan suami saya tidak boleh bicara dengan istri-istri saudara laki-lakiku??? Tidak enak blas! Mengingat bapa masih memegang teguh adat, saya sudah kuatir kalau di rumah kami akan diterapkan secara ketat adat yang satu itu, tetapi bagusnya tidak :D Walaupun, tetap saja bapa hanya bicara yang perlu-perlu saja dengan menantu perempuannya, tidak ada canda tawa, apalagi ledek-ledekan. Jika mereka bicara, suasananya terkesan formal deh. Suamiku juga bicara sama ipar-iparku, tapi seperti bapa juga, bicaranya yang penting-penting saja, tidak ada acara berbagi cerita atau ngobrol berdua saja. Untung 2x suami yang bukan orang Karo pun bisa menerima kondisi ini, mungkin didukung oleh sifat pendiamnya ‘kali ya :D

Dan sudah semakin banyak keluarga orang Karo yang tidak lagi patuh pada adat yang satu ini, khususnya yang tinggal di kota besar. Sepertinya sih tinggal menunggu waktu saja akan kepunahannya. Jika di kampung, terakhir saya mudik 2009 itu masih banyak yang mempertahankan adat ini, walaupun ada juga yang berani mbalelo :D Mungkin karena resikonya tidak terlalu berat ya, paling juga diomongin orang/tetangga/keluarga yang tidak suka “itulah klo orang sudah modern, adat udah ga dianggap lagi sama mereka, suka-sukanya aja ngobrol sama mantunya.” kira-kira seperti itulah paling komentar orang.

Pernah juga terlintas pikiran konyol di benak saya tentang REBU ini, ketika mulai marak berita ipar berselingkuh dengan iparnya, mertua dengan menantu; lalu saya pikir bagus juga orang Karo punya adat seketat ini, sehingga para ipar yang notabene dianggap ‘orang luar’ tidak bisa memadu kasih, karena komunikasi di antara mereka dibatas *LOL* konyol sekali ‘kan?? Apa juga hubungannya coba? Ngawur deh pokoknya. Suka mengarang sendiri sih, makanya jadi begitu mikirnya hehehe

Sejauh ini sih saya baru mengetahui orang Karo yang punya adat seperti ini, tapi bisa saja ada suku lain yang punya adat yang mirip dari sekian ribu suku yang ada di Indonesia ini ‘kan? Hanya saja bisa jadi saya yang belum tahu, atau jangan-jangan ada sohiblogger yang pernah tahu ada adat seperti ini di suku lain?

Gambar dari gugel, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan isi postingan, hanya tulisannya yang pas dengan isi postingan ini :D

27 thoughts on “REBU

  1. Banyak batasan-batasan yang nggak boleh dilanggar ya, niQue…bener lo, saya nggak nyangka kalo adat istiadat itu bisa punya banyak batasan. Tentunya hal itu dibuat demi kebaikan…
    :)

  2. Sepanjang yang saya tahu, dulu dikampung saya hubungan dengan ipar laki memang dibatasi. Misal kalau bertemu di jalan salah satu pasti akan menghindar. Itu terjadi sewaktu saya masih kecil. Saya ingat Bapak saya pernah mengajak jalan melingkar untuk menghindar karena didepan ada kakak laki-laki ibu mengambil jalan yang sama. Tapi itu duluuuuu… sekarang mah sama ipar malah kadang main sepakbola bersama. Tiap suku dan jaman memang ada aturannya.
    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

  3. Ora ilok, sering dulu orang tua mengatakan seperti itu, misalnya untuk melarang anaknya duduk didepan pintu seperti yang dicontohkan Pak Dhe Cholik. Akan lebih diperhatikan apabila diimbuhi kata-kata ‘ora ilok’ seolah akan ada bala yang bakal ditanggung bila diacuhkan. Padahal setelah ditelusuri, ora ilok itu bukan sebuah ‘kutukan’ tapi kata lain dari ora elok ( tidak elok, tidak pantas ).

    Tidak semua adat itu jelek, juga tidak semuanya bagus. Ambil yang bagus dan sejalan dengan agama, tinggalkan yang buruk dan menyimpang dari agama. ( sepakat dan sependapat dengan mas Lozz Akbar )

  4. Ooh ternyata seperti itu ya adatnya orang Karo mbak.. baru tau aku ttg Rebu ini… hmm.. adat2 di Indonesia emang kadang ribet… kadang unik… org Jawa juga ribet… hehehe… yah apa mgkn boleh dipilah pilih mana yg akan dilestarikan ya.. :-D
    Lyliana Thia recently posted… » Kontes Menulis Gurindam Muharam

  5. Adat istiadat itu biasanya bertabrakan dengan logis tidak logis. Bukan berarti adat yang turun temurun itu tidak logis lho. Hanya saja (mungkin) cara penyampaiannya saja yang dianggap tidak logis.. Tapi terlepas dari itu semua, bagaimanapun ada banyak yang bisa kita petik dari kearifan lokal..

    Gara gara kenal mbak niQue, saya jadi sedikit demi sedikit tahu budaya Karo yang indah..
    Masbro recently posted… » Ada Gerhana Coklat di Pagi Pagi Buta

  6. wah ribet juga ya mbak adat nya. tapi pasti ada sesuatu dibalik itu kali ya, ya seperti perselingkuhan itu. tapi ya tetep kembali ke agama aja ya. hehehe

  7. nenek moyang kita dulunya tidak menghendaki terjadinya hal2 negatif terjadi antara kela dan mami, begitu juga dengan turangku. sehingga REBU diterapkan jaman dahulu. Kita di jaman modern ini, memang kurang menyetujui hal tersebut, karena anggapan kita terlalu kuno, namun sebenarnya bila kita mampu menjalankannya, tentunya perselingkuhan antar keluarga tidak akan pernah terjadi.

  8. wah,, ketat sekali ya aturannya..
    berarti kalau kumpul keluarga besar sepi yaa.. soalnya si A ga boleh bicara dengan B, C tidak boleh bertegur sapa dengan D… terkotak2 jadinya

  9. adat istiadat indonesia memang sangat kaya, ada baik ada juga kurang baiknya…

    hendaknya kita generasi muda mengadopsi yg baik2nya saja….

  10. Ya begitulah namanya adat nduk. Ada sifat “jaga-jaga, kewaspadaan nasional,dll”. Selain dibentengi dengan agama juga dibentengi dengan adat.

    Kadang adat ada yang kurang pas bagi kita, misalnya ” jangan beli apa-apa pada hari Senin”, atau” Pada hari Selasa jangan keluar rumah sebelum jam 12.00″
    Lha,kumaha tae..eh eta ?

    Larangan orangtua juga bisa di logikakan, misalnya ” Anak gadis jangan duduk di tengah pintu (apalagi kalau lupa pakai cd), nanti yang mau nglamar balik-bakul”. Logikanya : “menghalangi lalu lintas manusia maupun barang”

    Ya kita harus bermain macan (manis dan cantik)dalam menyikapi adat.

    Salam hangat dari Surabaya
    Pakde Cholik recently posted… » Kontes Old & New ~ Belanja Secara Online

  11. ya ampuuuuun …. mungkin orang luar akan berpikir duh adat ini oldefo banget. Peninggalan animisme dinamisme. Tapi ya mungkin orang dulu sudah punya firasat akan terjadi penyimpangan seperti jaman sekarang maka dibuat seperti itu ya? Ntah lah
    Ikkyu_san recently posted… » Mellow

  12. hehee emang kadang adat2 itu banyak yang bikin ribet ya. tapi ya namanya juga adat istiadat.. kadang orang2 tua masih mematuhi ya…

    mungkin juga emang adat gak boleh ngomogn itu dulu dibikin untuk menghindari terjadinya perselingkuhan? :D siapa tau… :D
    arman recently posted… » Our Thanksgiving Weekend

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge