Mau Tidak Mau Ngamuk Juga

Hari ini, dengan perasaan campur aduk, saya berangkat ke kantor P*N di Sunter. Apa pasal? Tak lain tak bukan karena sudah 4 minggu ini, setiap minggu listrik pedhot antara 1-2jam. Luarbiasanya lagi, padamnya tepat pada hari Jumat atau Sabtu atau Minggu. Sudah juga bukan rahasia umum jika 123 ditelpon jawabannya klise, saya maklum karena memang begitulah SOP yang diajarkan pada mereka. Kata ‘maaf’ pun bolak balik diucapkan mungkin dengan maksud menenangkan hati para pelanggan, tapi sayangnya bukan itu yang saya ingin dengar melainkan kejelasan tentang kerusakan apa dan di mana, dan berapa lama bisa dibereskan. Tulisan tentang P*N entah sudahyang ke berapa termasuk tulisan ini, dan sesungguhnya saya sudah muak tingkat tinggi tapi seperti bibir dibawah hidung, tak bisa mengelak kemanapun pergi, ya si bibir tetap saja akan ada di tempatnya. *perumpamaan yang aneh ya? Tapi begitulah bapa saya selalu mencontohkan  bila menghadapi kasus seperti ini :D *

Well, daripada saya kena stroke karena marah-marah sama operator 123, lagipula jarak ruko ke kantor P*N cuma butuh 15menit dengan kendaraan roda dua, tentu lebih baik saya lampiaskan marah ini kepada orang yang berkompeten di sana, bukan?! Begitu memasuki gedung P*N, insiden pertama dengan satpam. Jelas-jelas saya lihat dia klik layanan tambah daya, dan jelas pula saya katakan bahwa saya perlu bicara dengan customer service dan bukan mau tambah daya, tapi dia bilang, “sama saja, bu.” Tapi nyatanya? Begitu duduk dan mengutarakan duduk permasalahannya, petugas langsung bilang salah kamar, karena semestinya saya ke ruang yang satu lagi dan ada orang khusus yang menangani tentang keluhan gangguan. Jelas, si satpam kena semprot!

Keluar gedung belok kanan, ada tumpukan sendal/sepatu di depan pintu masuk, dan ada tulisan HARAP MEMBUKA SENDAL/SEPATU. What??? Ini tempat suci apa ya sampai harus buka sepatu/sendal segala?? Oh my my … ! Melongok ke dalam, ada 2 petugas di dalam, dan demi melihat wajah saya, salah seorang langsung menyapa.

“ada apa bu?”

“ini ruang gangguan?”

“iya bu. masuk saja.”

Lalu saya masuk, tentu saja membuka sendal terlebih dulu, dan saya sengaja tak mau langsung duduk melihat tempat duduk yang tersedia persis ada di meja yang ada monitor, jadi kalau berbicara dengan orang di depannya maka ada monitor jadi perantara kami, yang tentu saja akan membuat percakapan tidak nyaman. Sementara untuk menggeser kursi ke meja kosong di sebelahnya, tak ingin saya lakukan kecuali petugas ini mempersilahkannya. Melihat saya berdiri mematung, petugas laki-laki ini menyadari dan mempersilahkan saya untuk menggeser kursi ke meja yang kosong sehingga bisa bicara face to face-lah kami berdua, eh ada suami saya ding di sebelah :D

Setelah saya beberkan permasalahannya, dengan cool dia menjelaskan sebab musabab pemadaman dadakan yang membuat saya jengkel setengah mati itu. Terus terang, jika yang menghadapi saya tadi adalah petugas yang arogan, atau bersikap cuek, atau mungkin lebih galak lagi, bisa-bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan *bukan mendramatisir lho* Sehingga, pada akhirnya saya bersyukur petugas ini menghadapi saya dengan kepala dingin.

Sejujurnya pula, saya harus menahan kuat untuk tidak membanding-bandingkan kinerja mereka dengan apa yang dialami oleh Mba Imelda di Jepang sana. Tapi secara tersirat saya sempat bilang begini.

“Saya tau ini masih Indonesia, dan saya tau percuma memberi contoh jika di negara A begini dan begitu. Tetapi mau sampai kapan begini? Kalian tidak mau terima claim kerusakan barang elektronik kami ‘kan? Kalian juga tidak mau keluar duit untuk bayar SMS pemberitahuan. Kalian juga tidak mau repot bikin pengumuman di tivi seperti yang orang sana itu lakukan. Kalian anggap apa dong pelanggan ini? Sementara kalian mau kami membayar tagihan tepat waktu. Atau begini saja, kita tawar menawar. Saya bersedia kok pemadaman dadakan sejam sehari, tapi ijinkan juga saya membayar tagihan berjuta-juta itu, dengan cara mencicil, saya punya 100rb hari ini ya saya bayar segitu, besok berapa lagi, terus begitu sampai lunas, pasti tidak mau ‘kan? Jangan mau menang sendiri dong. Masak bapa saya yang orang kampung itu, tau cara mengantisipasi bagaimana agar onderdil mobilnya itu diganti tanggal sekian agar tidak sampai mobilnya mogok. Kantor ini kan isinya insinyur master dan doktor, masak iya sih kalah sama bapak saya, sehingga tidak bisa menjadualkan penggantian spare-part yang rusak????? Apalagi ini sudah terjadi 4 minggu berturut-turut, masak sih butuh segitu lama untuk memutuskan mengganti spare-part yang menjadi penyebab padamnya listrik????”

“Bukan spare-part saja permasalahannya, bu, tetapi keadaan alam … “

“Eh pak, soal force major, ga usah dibilang juga kami paham. Memangnya kami pernah komplen kalau listrik padam pas hujan deras? Walaupun mungkin tetap saja ada ilmunya, tapi karena ilmu saya blum sampai, maka saya m aklumi. Sekarang anda sendiri bilang kalau alat itu rusak karena memang harus diganti, hla kenapa harus nunggu rusak baru diganti?”

“Bukan begitu bu, kami kan harus mempelajari secara cermat, jangan sampai salah. banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Saya kasih contoh seperti di rumah ibu kan ada mcb utama, lalu di dalam pasti ada beberapa mcb lagi, nah jika listrik padam, tentu mcb utama ikut mati padahal kerusakan belum tentu di sana. begitu juga gardu kami, banyak sekali faktor penyebabnya”

“Itu urusan internal anda, saya tahunya saya sudah bayar listrik, dan selebihnya saya tidak mau tau. tapi saya juga tau, kalau spareparet anda itu cepat rusak karena overloaded misalnya. Gimana engga? Kalian kan menghitung berdasarkan watt per rumah yang terdaftar, padahal yang tidak terdaftar bisa-bisa lebih besar dari itu bebannya. Dan yang tidak terdaftar itu enak banget mbayarnya cuma seuprit, sementara kami yang semuanya resmi harus mbayar mahal, tapi pelayanan yang didapat sama. Lagipula ini jaman udah canggih, pengumuman bisa dilakukan dengan banyak cara, apalagi keputusan untuk mengadakan perbaikan itu tidak dilakukan secara dadakan toh?”

“Iya bu, kami sudah memutuskannya sejak minggu lalu. Soal listrik colongan itu bukan bagian kami, ada bagian khusus jika ibu mau laporkan.”

“ahhh … sudah deh, saya sudah tau kok ngomongin ini akan mentok, padahal sudah jadi rahasia umum kok ini. kalau memang kalian mau bener, sana ke lapangan, periksa semua warnet dan saya berani garansi kalian akan menemukan banyak warnet yang listriknya tidak normal. Tidak perlu ‘kan saya mengajari anda teknisnya bagaimana? Masalahnya anda mau atau tidak, itu saja.”

“Terus kalau sudah tau sejak minggu lalu, kenapa diam saja? Di daerah itu banyak tempat usaha, apa tidak pantas mendapatkan selebaran dari kalian jika memang mau mengadakan pemadaman berjam-jam? Perumahan aja tidak terima ada pemadaman dadakan terus, apalagi tempat usaha?”

Setelah melampiaskan semua yang menyesakkan dada, si petugas akhirnya memberikan nomor telponnya agar lain kali tidak perlu lagi menghubungi 123 yang menjengkelkan itu. Tapi saya tetap saja ketus dan berkata “sebenernya ya agak percuma saya terima nomor ini, toh anda tidak mungkin standby 24jam di sini ‘kan? Tetap saja saya akan terpaksa menghubungi 123. Sebaiknya kalian pikirkan bagaimana cara berkomunikasi dengan pelanggan kalian agar tidak panjang yang mengantri di depan ruangan ini.”

“Jadi estimasi pemadaman ini berapa jam?”

“estimasi 3jam, bu. tapi bukan patokan ya bu.”

“Eh pak, sudah jelas itu estimasi, saya juga paham bisa lebih bisa kurang. tapi karena ini kantor P*N, maka saya kasih lebih aja agar tidak kecewa kalau tidak terang juga rumah saya. Terakhir, tolong training operator kalian itu agar lebih bisa menghadapi pelanggan, dan tak perlu mengumbar kata maaf bolak balik karena itu malah menjengkelkan. Selamat siang!” Langsung balik badan, dan masih sempat dengar petugas itu menyahut “baik bu, kami akan sampaikan nanti.”

Duhh, ga tau ya, saya itu udah enek pengen muntah mendengar kata ‘maaf’ – ‘ditampung’ – ‘disampaikan’ .. beneran deh, hampir tadi mau balik badan lagi begitu dengar kata ‘disampaikan’, tapi ya sudahlah, sudah siang, lama-lama di sini nanti malah para asisten tidak makan siang, kalau mereka sakit, saya juga ‘kan yang repot (walaupun sudah bakal repot karena ternyata pada minta mudik Natal ini hiks tidak sesuai perjanjian awal niy huaaa *curcol*).

Maka berlalulah saya tetap dengan wajah tanpa senyum, jutek abis deh pokoknya, bener-bener dalam kondisi senggol bacok. Huh!  Untung saja, tidak sampai 10menit kemudian hawa dingin menerpa, bukan dingin angin tapi dingin ac Mall of Indonesia hehehe … saya refreshing dulu, ‘kan habis marah-marah, jadi boleh belanja bulanan dong :D

Ok, sekian ngedumelnya, pokoknya adegan di atas tidak boleh ditiru dan dicela ya hehehe …

56 thoughts on “Mau Tidak Mau Ngamuk Juga

  1. Sebenarnya gak ngerti juga dengan kondisi P*N ini.. katanya kurang uang terus buat membeli ini atau memperbaiki itu.. tapi bonus tahunannya besar bener tuh pegawainya.. setahu aku.. bonus itu dipake dr sisa uang tahunan yg ada.. berarti klo berlebih mending utk dipake buat peralatan kan yak.. bukan memuaskan nafsu pegawainya.. >_<

  2. Yang berjiwa legowo buat melayani paling satu dalam sejuta kaleee. Bank aja yang butuh duit dari nasabahnya kadang judes, apalagi ini perusahaan setrum yang jelas-jelas dibutuhkan orang banyak, pastinya jual alasan dong, hahaha…Tapi sayang alasannya udah basi.
    Alris recently posted… » Malas

  3. pemadaman listrik di Indo itu saya kira emang disengaja.
    di negara lain tidak seperti itu kok, mau padam aja dikasih pemberitahuan, itupun beberapa tahun cuma sekali.
    Erwin recently posted… » Ghibah

    • nah itu maksud sya mba, pemberitahuan itu kan semestinya bin wajib buat mereka
      tapi kok sepertinya menyepelekan sekali huh

  4. Saya yakin petugas penerima keluhan pelanggan pasti gajinya gede, karena mereka dibayar utk diomelin orang.
    Atau jangan-jangan mereka robot yay…

    Tampilan blog-nya bagus banget
    21inchs recently posted… » MENGHARGAI ORANG TUA

  5. hehee.abis marah malah jadi belanja toh. haha…wah ke sunter…jiaaah deket dg rumahku tuh. btw, MOI juga gak jauh2 amat kok.hehee ‘maksud lo apa sih fan?’ ga cuma mau kasih tau aja, ternyata marah2nya deket daerah saya juga toh. kan bisa ngebantuin omelin tuh. wakkkkk
    fanny recently posted… » WE CAN’T ESCAPE

  6. Satpamnya mungkin masih baru kali Mb, atau baru dipindahkan kebagian tsb atau yang paling parah sok tau.
    YAng perlu ditumbuhkan kepada sebagian bangsa kita adalah rasa memiliki dan tanggung jawab Mb.
    ded recently posted… » BELACAN TOBOALI

  7. Hasil pengamatan saya kasus2 seperti banyak dijumpai dimana-mana, di desa maupun di kota.

    Kita mau membayar sesuatu saja kadang harus jengkel dulu, tapi kalau telat kena denda.

    Mereka yang bergerak di bidang jasa/pelayanan seharusnya bekerja secara profesional plus bermoral. Jika tidak lebih baik serahkan swasta.

    Tilpun di rumah emak juga putus dan malas ngurus karena putas-putus. Kalau putusnya sih gak apa=apa, tapi putasnya itu lho.

    Semoga para atasan segera bangkit dari kursinya untuk cek kinerja bawahannya secara berkala dan berlanjut.

    Salam hangat dari Surabaya
    Pengamat Sosial recently posted… » Kontes Old & New ~ Belanja Secara Online

  8. hahahhaha.. serem ih kalau mbak nik marah2..
    tapi untungnya petugasnya tenang ya mbak, kalau sama-sama juteknya bisa lempar2an staples tuh nanti.. hahahha

  9. wah serem marahnya! tapi memang kudu dimarahi tuh petugas hihihi. kalau menurutku benar apa kata mbak imelda. orang-orang di sini maunya dilayani. jadi belum bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan.

  10. bener juga kata Opa Brad, baca postingannnya aja udah ikutan emosi, konon nganter ke sana yak
    :D

    tapi kebayang loh gemana juteknya kamu Mbak, *hloh?!?
    sama kek telkom kemaren pas aku ngurus telpon rumah kontrakan lama, aku ampek berkali2 dateng ke kantornya. eh dia bilang udah DISAMPAIKAN (kata favorit pelayanan aku rasa) ke bagian jaringan.

    ya udah, untung bukan telpon sendiri, aku tinggal aja. hahahahaha.
    ais ariani recently posted… » #12HariMenulis #8

    • waduh apalagi itu … air ngalir cuma 1-2jam, dah gitu keluarnya kayak kencing kucing pula huaaaa panik dah
      mo ngapa2in susah, tapi klo di komplek sih dulu, developernya ngirim mobil tangki, tinggal kitanya nampungin pake ember
      repotnya klo yg kerja, susah dah, karena ga ada orang yg di rumah wat nampungin kan :(

  11. Allhamdulillah disini hampirgak pernah mati mbak.
    kasus sendal aku punya cerita mbak. kesalah satu klinik dekat rumah ortu masa alas kaki haurs dilepas tapi aku keukeuh gak mau, waktu ditegur aku bilang aja dirumah sakit besar dan lebih bagus aku gak pernah lepas alas kaki kok :-D . ih oot bgt ya komennya

    • yang pasti tetap menahan agar mata tidak mendelik bin melotot dong Na :D
      jadi cukup meninggikan suara, dan menjaga pikiran tetap terkontrol, agar tidak bicara ngawur. gengsi dong udah ngamuk2 eh salah ngomong pula :P

  12. lho aku baca postingan ini dr atas sampe bawah kok jadi ikut jengkel ya ?

    mnrtku mungkin krn PLN di tanah air itu msh dipegang pemerintah, nggak ada rivalnya jd tenang2 saja mereka, mau nggak mau khan penduduk juga pakai mereka

    kalau di sini listrik sdh diserahkan ke swasta, jadi rakyat bisa milih yg mana yg terbaik, mau mengecewakan langganan ? ya goodbye, gulung tikar mereka, jadi selama ini rasanya blom pernah ada listrik mati di tempat saya
    Ely Meyer recently posted… » Menikmati Kemerdekaan …..

  13. Ya, ini adalah permasalahan yang ada sejak dulu hingga sekarang. Ketika banyak kerjaan dan listrik padam, harus tertunda sehingga kerjaan makin menumpuk.

  14. haduh..ada yang marah-marah nih..calm down yah mba..hehehe…
    sebagai staf kehumasan di instansi tempat saya bekerja, kayaknya saya harus banyak belajar dari sini deh..
    soalnya jawaban “maaf”, “ditampung”, dan “disampaikan” memang jawaban standar yang seharusnya kami sampaikan, atau mungkin lebih tepatnya gak tau mau menyampaikan apa lagi.. jadi harusnya bersikap seperti apa yah mba? :)
    muamdisini recently posted… » Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

  15. Nggak nyela niQue, dan mudah-mudahan saya juga nggak terpaksa melakukan hal itu…hoho, saya juga orangnya gampang naik kalo lihat sesuatu yang nggak pas apalagi kalo dikasih sejuta alasan yang nggak masuk akal…
    Sip, sip…udah tenang kan sekarang?
    Mari kita belanja :P

    • yang baca CAPEK
      yang nulis CAPEK
      yang ngedumel CAPEK
      tapi daripada kena stroke cuma mengelus dada
      biar deh senam mulut dan jantung 1/2 jam :D
      abis itu kan udah lega
      daripada cuma ngedumel tanpa sasaran
      mana sodap bah :D

  16. jadi inget kemarin, istri saya beli headset resmi buat hape Nedia di counter resmi *G. Karena ga bawa hape-nya akhirnya salah beli. Waktu mau dituker dengan membawa hape-nya ditolak mentah2. Wal hasil saya menyuruh istri (krn saya ada di kantor) untuk ngomong sama managernya aja kalau masih ga bisa. Sekalian titip pesan aja kalau ga bisa di tuker yah siap2 aja akan ada ceritanya di blog atau di surat pembaca…..hehehehe. Akhirnya dapat juga di tuker deh…*ga jadi buat ceritanya deh*
    Necky recently posted… » Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

  17. saya gak ikut mengadu saja ikutan capek baca tulisan pengaduan ini, hehehe..
    yahh..begitulah, sama seperti TE*K*M, saya sering dibikin jengkel. ni malah sekarang dari PD*M, masa biasanya bayar cuman 200ribu, bulan ini tagihannya sampe 2 juta, tadi juga ngomel di telpon, dan benar saja, PERCUMA.
    Tapi abis marah2 aku gak ke Mall nih :(
    tunsa recently posted… » Ayo Ngeblog: Saya Juga Ngeblog

  18. Yang sering kuamati di sini, banyak pake asterix (*) untuk menyamarkan identitas ya? hehehee…..

    Aku setuju dengan Imel, dan sejauh yang kutahu dari pengalamanku tinggal di Australia, kekurangan kita cuma satu, bukan dari kaya/miskinnya alam tapi lebih pada kualitas dan mentalitas bangsa…

    Entah gimana… tapi kupikir semua orang bertanggung jawab karena semua anak bangsa .. termasuk aku, kamu dan kita semua :)
    DV recently posted… » Why should i get married?

  19. ngerti banget Nique… masiiih jauh soal pelayanan di Indonesia. Ini semua karena :
    1. Semua ngga mau jadi “pelayan”, maunya jadi boss semua. Padahal kalau di sini boss pun NYAPU di JALAN UMUM! Berjas juga naik sepeda.
    2. Sense of belonging. (Hampir) semua tidak mempunyai rasa memiliki pada perusahaan dia bekerja. Jadi dia tidak mendedikasikan kemampuan dirinya untuk perkembangan diri, perusahaan dan ….. negara.
    3. pendidikan akhlak hanya di permukaan. Tidak dijalankan
    dll, dll…. yang membuatku kemarin di kelas bahasa Indonesia menyadari bahwa Indonesia yang sekarang masih jauh dari jaman Meiji di Jepang (1867). sedih…..
    Ikkyu_san recently posted… » Christmas Shopping

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge