KAWIN LARI?

KAWIN LARI bukan yang kawin sambil lari-lari lho ya :) Sepengetahuan saya tidak ada dalam sejarah yang orang dengan senang hati melakukan kawin lari. Biasanya pilihan kawin lari hanya diambil ketika semua cara telah dicoba dan mentok, atau ada juga yang mengambil jalan pintas ini karena tidak yakin bisa membuat keluarga menerima pasangannya. Perlakuan terhadap pelaku kawin lari juga berbeda-beda, pada umumnya sih dicemooh dan dikucilkan. Sedikit simpati mungkin didapat jika mereka kawin lari karena tidak mendapat restu, padahal kerabat dan sahabat-sahabatnya bisa menerima, biasanya dukungan mudah didapat, tetapi jika kasusnya sudah pakai ‘panjar’ terlebih dulu, nah kalau yang ini agak-agak susah mendapat dukungan. Kecuali dukungan infotainment hehehe … no no .. it’s a joke :D

Tak jarang ditengah kesulitan satu hubungan sepasang muda-mudi, ada kelakar yang seakan memotivasi mereka untuk bertindak lebih jauh … “nggome, babaken saja nangkih nggoh.” (Udah, bawa kabur (kawin lari aja). Karena memang tidak sedikit hubungan yang akhirnya direstui setelah mereka ‘nangkih’, khususnya yang memang melakukannya karena hubungan yang tidak direstui karena kesenjangan sosial misalnya.

NANGKIH‘ itulah istilah yang dipakai orang-orang suku Karo untuk perbuatan kawin lari ini.  Prosedurnya pun jelas. Ada SOP yang tidak tertulis bagi orang-orang yang mau kawin lari. Walau beda kasus, tapi SOP nya tetap sama. Entah terpaksa ‘nangkih‘ karena tidak mau dijodohkan oleh orang tua, entah sudah hamil duluan, entah karena orang tua tidak setuju dengan pasangan yang diajukan, maka SOP nya sama saja. Mudah pula! Dan tentu saja murah :D Walau tak jarang jatuhnya tetap mahal juga, biasanya ini dilakukan orang tua pihak perempuan dengan menetapkan harga mahar yang tinggi mereka berharap pihak laki-laki akan mundur teratur.

Caranya bagaimana? Begini, saya buatkan ilustrasi agar mudah mencernanya. Sebuah keluarga yang mempunya sepasang putra dan putri, dan yang mau ‘nangkih‘ adalah anak laki-laki; maka dia tinggal membawa perempuan idamannya kepada keluarga dari saudara perempuan bapaknya yang di suku Karo diberi titel ANAK BERU. Nanti mereka yang akan menyelesaikan urusan adatnya, termasuk melobi para orang tua. Merekalah yang akan mengatur segala sesuatunya, termasuk mengupayakan agar mereka diterima kembali oleh keluarga, tentu saja dalam keadaan sudah menikah. Tidak ada jaminan bahwa mediasi yang dilakukan oleh anak beru ini akan sukses lho, karena sering juga malah jadi ketiban pulung, dituduh ikut memuluskan jalannya sepasang muda-mudi yang mau nangkih.

Orang tua saya pernah ‘menampung’ sepasang muda-mudi yang mau nangkih, karena tidak mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak, terutama si lelaki. Posisi mamak yang kakak kandung si lelaki adalah termasuk ANAK BERU, sehingga sewajarnya bersedia mengatur dan melobi pihak-pihak terkait agar merestui niat baik yang mau menikah ini. Tapi waktu itu mentok, kakek nenek saya menolak dengan tegas calon menantu yang diajukan anaknya. Setelah ditelisik, ternyata ada kisah pada masa lalu, mereka pernah bersilang sengketa. Halah! Bagusnya, bapa termasuk yang disegani oleh keluarga pihak perempuan, sehingga melunak jugalah hati orang tua si perempuan dan terjadilah pernikahan itu walau dilaksanakan  dalam kesederhanaan. Biasanya suasana pernikahan yang melalui proses nangkih biasanya memang sederhana saja, toh pesta besarnya bisa diadakan kapan saja jika mereka sudah punya dananya satu hari nanti :)

Begitulah, biasanya pasangan yang berniat nangkih, sudah mengincar kepada siapa mereka akan mengadukan nasib? Pastinya mereka akan mendatangi ANAK BERU yang dianggap berani mengambil resiko. Intinya berani pasang badan dan siap dana hehehe …
Apakah jaman sekarang masih ada orang Karo yang menikah dengan cara nangkih ? Setahu saya sih masih ada, atau malah banyak? Wallahu’alam! Ga sempat juga bikin statistiknya :P

Well, postingan ini dibuat bukan karena saya ada niat mau nangkihyah :D karena saya ‘kan sudah menikah, dan tentu saja tidak melalui proses nangkih itu tadi hehehe

Catatan :
Penulis bukan ahli tentang adat istiadat Karo, sehingga bilamana ditemukan kekurangan informasi dalam tulisan ini, dengan senang hati saya menerima masukan agar bersama kita dapat mendokumentasikan hal-hal berkaitan dengan Karo.

Gambar dari gugel.

33 thoughts on “KAWIN LARI?

  1. Sebaiknya menikah tak perlu lari2. Akan sangat membahagiakan jika menikah dilaksanakan dengan rapi dan tertib sehingga membahagiakan semua pihak.

    Walaupun atlit marathon atau sprinter, seyogyanya tetap melaksanakan pernikahan sambil duduk atau berdiri, tak perlu lari.

    Salam hangat dari Surabaya
    Pakde Cholik recently posted… » Bintang Bulan Desember

    • iya ya … aku waktu itu udah baca, dan terinspirasi juga cuma tidak langsung dituliskan, makanya sempat mikir kayaknya pernah baca eh ga taunya silariang itu hehehe

    • betul, tapi kawin larinya lebih sopan karena disaksikan yang dituakan, wlo terkadang tetap berlangsung tanpa kehadiran orang tua mereka yang belum ‘rela’ memberi ijin.

  2. Sedikit banyak saya paham adat istiadat Karo dengan membaca posting ini. Selama ini memang sering baca Anak Beru, tapi gak ngerti apa itu, padahal juga pernah tinggal di BB sana, hehehe…
    Saya pikir tak bisalah kawin sambil lari, wkwkwkwk….
    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

  3. ngapain kawin sambil lari-lari, mendingan kawin sambil tamasya kan? hihihi

    well, sedapat mungkin janganlah kawin lari. Biasanya kawin tanpa restu orang tua, tidak akan mulus jalannya. Biasanya loh….
    Ikkyu_san recently posted… » Winter

  4. Saya punya Kakak ipar asli pulau lombok. Rumahnya di lombok tengah dan masih keturunan suku sasak.
    Di lombok ada juga adat pernikahan seperti Nangkih ini Mbak. Tapi entah apa namanya dan saya sendiri sulit menjelaskan. Pokoknya, modelnya sama lah seperti adat istiadat Nangkih yang dari Karo ini.
    Nusantara memang kaya dan keren..!
    Masbro recently posted… » Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi

  5. Walau pun hal ini sudah seperti makan nasi dan garam, namun rasanya kurang pas tanpa ada bumbu dalam penyajiannya.

    Seperti itulah kehidupan. Siapa yang memersulit perjalanan kehidupannya; maka dia akan dipersulit kehidupannya sendiri.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

  6. yg pasti kawin lari itu berbahaya karena kalo pasangan tib2 berubah wah…celaka…jadi mau mengadu pada siapa. mau minta tolong sama siapa…

    kalo bisa sih, jgn sampai kawin lari deh. selain bikin pusing di kemudian hari, juga cape lho…hi hi hi…
    fanny recently posted… » BERI YANG TERBAIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge