KAWIN LARI bukan yang kawin sambil lari-lari lho ya
Sepengetahuan saya tidak ada dalam sejarah yang orang dengan senang hati melakukan kawin lari. Biasanya pilihan kawin lari hanya diambil ketika semua cara telah dicoba dan mentok, atau ada juga yang mengambil jalan pintas ini karena tidak yakin bisa membuat keluarga menerima pasangannya. Perlakuan terhadap pelaku kawin lari juga berbeda-beda, pada umumnya sih dicemooh dan dikucilkan. Sedikit simpati mungkin didapat jika mereka kawin lari karena tidak mendapat restu, padahal kerabat dan sahabat-sahabatnya bisa menerima, biasanya dukungan mudah didapat, tetapi jika kasusnya sudah pakai ‘panjar’ terlebih dulu, nah kalau yang ini agak-agak susah mendapat dukungan. Kecuali dukungan infotainment hehehe … no no .. it’s a joke
Tak jarang ditengah kesulitan satu hubungan sepasang muda-mudi, ada kelakar yang seakan memotivasi mereka untuk bertindak lebih jauh … “nggome, babaken saja nangkih nggoh.” (Udah, bawa kabur (kawin lari aja). Karena memang tidak sedikit hubungan yang akhirnya direstui setelah mereka ‘nangkih’, khususnya yang memang melakukannya karena hubungan yang tidak direstui karena kesenjangan sosial misalnya.
‘NANGKIH‘ itulah istilah yang dipakai orang-orang suku Karo untuk perbuatan kawin lari ini. Prosedurnya pun jelas. Ada SOP yang tidak tertulis bagi orang-orang yang mau kawin lari. Walau beda kasus, tapi SOP nya tetap sama. Entah terpaksa ‘nangkih‘ karena tidak mau dijodohkan oleh orang tua, entah sudah hamil duluan, entah karena orang tua tidak setuju dengan pasangan yang diajukan, maka SOP nya sama saja. Mudah pula! Dan tentu saja murah
Walau tak jarang jatuhnya tetap mahal juga, biasanya ini dilakukan orang tua pihak perempuan dengan menetapkan harga mahar yang tinggi mereka berharap pihak laki-laki akan mundur teratur.
Caranya bagaimana? Begini, saya buatkan ilustrasi agar mudah mencernanya. Sebuah keluarga yang mempunya sepasang putra dan putri, dan yang mau ‘nangkih‘ adalah anak laki-laki; maka dia tinggal membawa perempuan idamannya kepada keluarga dari saudara perempuan bapaknya yang di suku Karo diberi titel ANAK BERU. Nanti mereka yang akan menyelesaikan urusan adatnya, termasuk melobi para orang tua. Merekalah yang akan mengatur segala sesuatunya, termasuk mengupayakan agar mereka diterima kembali oleh keluarga, tentu saja dalam keadaan sudah menikah. Tidak ada jaminan bahwa mediasi yang dilakukan oleh anak beru ini akan sukses lho, karena sering juga malah jadi ketiban pulung, dituduh ikut memuluskan jalannya sepasang muda-mudi yang mau nangkih.
Orang tua saya pernah ‘menampung’ sepasang muda-mudi yang mau nangkih, karena tidak mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak, terutama si lelaki. Posisi mamak yang kakak kandung si lelaki adalah termasuk ANAK BERU, sehingga sewajarnya bersedia mengatur dan melobi pihak-pihak terkait agar merestui niat baik yang mau menikah ini. Tapi waktu itu mentok, kakek nenek saya menolak dengan tegas calon menantu yang diajukan anaknya. Setelah ditelisik, ternyata ada kisah pada masa lalu, mereka pernah bersilang sengketa. Halah! Bagusnya, bapa termasuk yang disegani oleh keluarga pihak perempuan, sehingga melunak jugalah hati orang tua si perempuan dan terjadilah pernikahan itu walau dilaksanakan dalam kesederhanaan. Biasanya suasana pernikahan yang melalui proses nangkih biasanya memang sederhana saja, toh pesta besarnya bisa diadakan kapan saja jika mereka sudah punya dananya satu hari nanti
Begitulah, biasanya pasangan yang berniat nangkih, sudah mengincar kepada siapa mereka akan mengadukan nasib? Pastinya mereka akan mendatangi ANAK BERU yang dianggap berani mengambil resiko. Intinya berani pasang badan dan siap dana hehehe …
Apakah jaman sekarang masih ada orang Karo yang menikah dengan cara nangkih ? Setahu saya sih masih ada, atau malah banyak? Wallahu’alam! Ga sempat juga bikin statistiknya
Well, postingan ini dibuat bukan karena saya ada niat mau nangkihyah
karena saya ‘kan sudah menikah, dan tentu saja tidak melalui proses nangkih itu tadi hehehe
Catatan :
Penulis bukan ahli tentang adat istiadat Karo, sehingga bilamana ditemukan kekurangan informasi dalam tulisan ini, dengan senang hati saya menerima masukan agar bersama kita dapat mendokumentasikan hal-hal berkaitan dengan Karo.
Gambar dari gugel.
kawin lari… apa gak capek? hehehe
tapi takjub bener deh aku, kok ada istilah istilah adatnya segala tentang kawin lari ya
bener bener luar biasa
Elsa recently posted… » Random Pic from Malaysia
Rasanya serem banget ah kalo nikah tanpa direstui kedua orang tua…
Asop recently posted… » Dua Buku Novel Lagi Siap Untuk Dilahap
jd kpengen kawin lari neh., tapi cape ga ya haha.,
cobain aja, tar cape apa engganya lapor sini yak haha
lapor., sy dah nyoba., trnyata cape banget., apalgi kawin larinya ma chetah., cape deh ngejarnya., mnding klo ngejan,ni mah di kejar hahah.,
djawa recently posted… » How to make the menu show hide comments on blogspot
Banyak belajar dari posting ini, niQue…tengkyu ya!
Sebaiknya menikah tak perlu lari2. Akan sangat membahagiakan jika menikah dilaksanakan dengan rapi dan tertib sehingga membahagiakan semua pihak.
Walaupun atlit marathon atau sprinter, seyogyanya tetap melaksanakan pernikahan sambil duduk atau berdiri, tak perlu lari.
Salam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted… » Bintang Bulan Desember
hahahaah … setidaknya klo sampai nekat ada yang mau pake lari2, sudah disediain SOP nya kan Dhe xixixi
Baru tahu adat Karo di sini. Betapa senangnya telah ada SOP, karena ada kemungkinan perkawinan tak disetujui hanya karena ada perselisihan di masa lalu, bukan karena hal yang prinsip.
edratna recently posted… » 3.Menunaikan Rukun Haji: a.Jeddah-Makkah
Oalah adat itu ada juga yang aneh aneh ya hihi~
Karo sama Batak lainnya itu beda ya mbak? :-s
Una recently posted… » Plushstories: Birthday Girl!
sama atau beda ya?
wah kawin lari emang ga cape..kawin sambil duduk juag capenya minta ampun…masih katanya blum pernah ngerasaiin kawin..hihihihi
hampir sama dengan yang pernah saya tulis soal kawin lari di Bugis-Makassar yang namanya Silariang..
iya ya … aku waktu itu udah baca, dan terinspirasi juga cuma tidak langsung dituliskan, makanya sempat mikir kayaknya pernah baca eh ga taunya silariang itu hehehe
Aku jd banyak tau ttg adat istiadat org Karo dari sini mbak… walau jujur aja belom ngendap bgt di otak.. apalagi masalah Beru itu.. kok ribet yak,.. nah nih insya Allah calon adek ipar org Karo.. yah ntar gmn ntar lah.. hehehe…
Lyliana Thia recently posted… » Kontes Menulis Gurindam Muharam
kalo pake ngelobi lagi, berarti gak kawin lari dong? hehehe.
kawin lari kan berarti ya mau direstui atau gak, tetep married…
arman recently posted… » The Hunger Games Book Giveaway!
betul, tapi kawin larinya lebih sopan karena disaksikan yang dituakan, wlo terkadang tetap berlangsung tanpa kehadiran orang tua mereka yang belum ‘rela’ memberi ijin.
Sedikit banyak saya paham adat istiadat Karo dengan membaca posting ini. Selama ini memang sering baca Anak Beru, tapi gak ngerti apa itu, padahal juga pernah tinggal di BB sana, hehehe…
Saya pikir tak bisalah kawin sambil lari, wkwkwkwk….
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
ngapain kawin sambil lari-lari, mendingan kawin sambil tamasya kan? hihihi
well, sedapat mungkin janganlah kawin lari. Biasanya kawin tanpa restu orang tua, tidak akan mulus jalannya. Biasanya loh….
Ikkyu_san recently posted… » Winter
Saya punya Kakak ipar asli pulau lombok. Rumahnya di lombok tengah dan masih keturunan suku sasak.
Di lombok ada juga adat pernikahan seperti Nangkih ini Mbak. Tapi entah apa namanya dan saya sendiri sulit menjelaskan. Pokoknya, modelnya sama lah seperti adat istiadat Nangkih yang dari Karo ini.
Nusantara memang kaya dan keren..!
Masbro recently posted… » Dhila13 Photo Challenge : Inspirasi
Nik, udah harus belajar diplomasi juga dong, jaga2 kalau tiba2 ada yang nyamperin minta dirimu jadi negosiator
monda recently posted… » Menikmati Jakarta Dengan Angkutan Umum Massal
di makassar…lebih parah
kalau soal adat kyk ini
sky recently posted… » Misunderstanding or What?
ga dipungkiri, mungkin ada di sekitar kita yang terpaksa melakukannya, demi cinta *halah
@yankmira recently posted… » Tersenyumlah
aku mau kawin lari tapi sama siapa?
*bertanya pada rumput yang bergoyang*
honeylizious recently posted… » Nujuh Bulanan
nambah kosakata baru, jadi kenal istilah Nangkih.
tapi meskipun kawin lari, tetep ada sopan santunya sepertinya itu yah? karena ada pake acara nyari yg mau jadi anak beru.
Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah melihat langsung orang2 yg ngalamin kawin lari
Mabruri recently posted… » Indahnya Berbagi: Betapa Indah Nikmat Sehat Itu
Walau pun hal ini sudah seperti makan nasi dan garam, namun rasanya kurang pas tanpa ada bumbu dalam penyajiannya.
Seperti itulah kehidupan. Siapa yang memersulit perjalanan kehidupannya; maka dia akan dipersulit kehidupannya sendiri.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
Sedari dulu, yang dilarang itu semuanya ‘Nikmat’
Kaget recently posted… » Membuang Cat Di Atas Aspal
yg pasti kawin lari itu berbahaya karena kalo pasangan tib2 berubah wah…celaka…jadi mau mengadu pada siapa. mau minta tolong sama siapa…
kalo bisa sih, jgn sampai kawin lari deh. selain bikin pusing di kemudian hari, juga cape lho…hi hi hi…
fanny recently posted… » BERI YANG TERBAIK
suka deh tiap kali baca tulisan mbak nik yang bahas budaya orang karo.. menambah wawasan tentang budaya Indonesia
wah…. itu sudah sejak dari dulu yah mbak?
kalau sekarang kayaknya malah banyak yang mirip-mirip kayak gitu ya, itu tuh yang hamil duluan… wkwkwkwk
choirul recently posted… » Selamat Datang di Universitas Terbaik
ah mbak, barusan saya baca infotemen ada si artis remaja yg kawin diam2.. bedanya kawin diam dan kawin lari apa yah donk? sama kan tah?
dhila13 recently posted… » Roker Bekasi Meraung Saat Ujicoba LoopLine KRL Jabodetabek
jiahhh …. bedalah, yang satu diam2 yang satu lari2 hahahaha
serupa tapi tak sama? beda tapi mirip? xixixi
huahahhahahaha.. ho oh. bener Mbak. satunya repot nyekeli jarit, satunya diam tanpa suara

uahahahhaha
ais ariani recently posted… » #12harimenulis #5