Ini postingan terakhir setelah 6 hari berturut-turut menjadikan permen cantikku ini jadi bintang utama di rumah maya ini
Iyalah ya, kalau bukan Biudanya yang menyediakan lahan narsis buat permennya, siapa lagi coba? Secara mama Egi bukan tipe mama yang suka on line pula hehehe … Mungkin karena sehari-harinya Egi melihat mama dan biudanya bekerja, sehingga Egi pun sering berkhayal seolah-olah sedang bekerja, dan menghitung uang adalah yang paling disukainya. Dari sekian pekerjaan perempuan, Egi cuma tidak suka ke pasar, karena bau yang tidak sedap itu. Bersih-bersih sudah pasti suka, makanya Egi tahu bagaimana cara mendapatkan ijin bermain, cukup dengan memunguti sampah bungkus jajanan di bilik-bilik komputer itu, pasti deh Biuda mau kasih ijin dengan senang hati hehehe …
Kalau sudah bekerja, sudah bermain, belajar ya tetep harus dilakoni, kalau tidak mau nanti biudanya marah-marah dan kasih skors tidak boleh main selama seminggu. Hiyyy takut!
Dua hari yang lalu, Egi diajak nonton film ‘Hafalan Shalat Delissa’, sempat kuatir dia akan numpang tidur di bioskop, tapi ternyata tidak. Mungkin karena sudah bertambah besar ya. Hanya saja, sangat tidak menyenangkan menonton dengan Egi, karena dia ternyat cerewet sekali. Tidak bisa menikmati film itu dengan khidmat. Dia rajin sekali memeriksa mataku memastikan apakah ada airmatanya atau tidak, ketika dia melihat adegan sedih di film. Lalu dia akan berkata : “Ga usah sedih biuda, itu ‘kan cuma boong-boongan, percaya ma Egi.”
Lain waktu dia bertanya : “tsunami itu apa?” Tapi begitu dijelaskan, dia menyahut, tapi yang di film itu bohongan ‘kan. Ketika dijelaskan itu pernah terjadi, parahnya dia tetap tidak percaya. Rupanya di kepalanya sudah terekam bahwa semua yang di film itu ya buatan – karangan manusia, sehingga dia tidak mau percaya – larut dalam alur ceritanya. Entahlah, berharap sih bisa berubah kalau lebih besar lagi nanti
Tentang filmnya sendiri sih, biasa saja yah, adegan kaki Delissa yang terpotong sangat mengganggu karena usaha mereka menyembunyikan potongan kaki di balik rokok itu GAGAL. Egi saja sampai bertanya : “kenapa kakinya ditekuk begitu?” Saya bahkan berpikir, jika sulit membuat kakinya dibebat sehingga tidak kentara begitu, kenapa tidak memilih kemalangan yang lain? Kenapa harus kaki yang diamputasi? Tapi ya sudahlah, toh saya juga tidak bisa menikmati film itu, karena Egi yang tidak bisa diam
Menunggu pesanan datang, mau aja disuruh berpose seram hahaha eh itu pegang pisau dan garpu bukan Biuda yang ajarin lho, inisiatif Egi aja, biar tambah seram katanya. Hahaha … Kalau gayanya sudah begitu, maka tidak heran dong kalau dia sanggup menghabiskan 2 slice besar pizza
Akhirnya tuntas juga, besok Egi akan memulai usianya yang baru – ENAM TAHUN, padahal rasanya baru kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Semoga keinginannya untuk masuk SD tidak maju mundur lagi
semoga bisa mengurangi manja dan cengengnya, semoga bertambah rajin belajar, dan semua doa yang baik-baik untuk permen cantikku ini.
Selamat menyambut Tahun Baru 2012, semoga semua pengharapan yang baik dikabulkan Tuhan untuk kita semua, aamiin!