Virus Konsumerisme

Ini cerita tentang seseorang yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah menengah swasta yang cukup bergengsi di pinggiran Jakarta. Dia seorang istri dan ibu seorang anak perempuan. Kehidupan mereka biasa saja, mempunyai sebuah rumah yang cicilannya masih beberapa tahun lagi, suami tidak bekerja dan sehari-hari bertugas mengantar jemput istri dan anak semata wayangnya.

Cerita ini saya tulis, terkait dengan perasaan ‘tidak enak’ yang beberapa kali diucapkannya yang kemudian berbuah tanya dalam benak saya: “benarkah semata tidak enak atau malah GENGSI?” Pertanyaan yang sama tentu saja lebih saya utamakan pada diri sendiri, karena acapkali ter(di)posisikan dalam kondisi demikian yang mana pada saat pengambilan keputusan seringkali tidak dapat dilakukan melalui pemikiran yang mendalam alias spontanitas semata.

“saya (terpaksa) membeli peralatan tupperware ini, karena didesak-desak oleh seorang rekan guru setiap ada pertemuan. Sekali dua menolak sih saya lakukan, tapi setelah itu seringnya jadi TIDAK ENAK HATI juga, apalagi dia bilang “ga usah pusing soal bayarnya, bu, toh nanti kan ada uang sampingan, tinggal dicicil dari uang itu aja, jadi bukan mengambil dari gaji ibu ‘kan, punya barang, dan bayarnya pun tidak mengurangi uang masuk bulanan”; sungguh membuat hati ini benar-benar tidak enak. apa yang dia sampaikan bisa diterima akal sehat saya….”

“sehingga akhirnya kamu membeli dengan mencicil juga?”

“iya … “

“apakah lebih mahal dari harga diluaran?”

“engga sih, justru dikasih diskon, jadi terasa ringan.”

“ya klo begitu sih mungkin tidak apa2 ya. emang sih saya dengar, di antara guru2 itu seringnya banyak yg jadi penjual, nah kita yg sekarang mau memposisikan diri sebagai konsumen terus atau juga melakukan hal yang sama, jadi tidak cuma melulu mengeluarkan uang, tapi juga mengambil kesempatan yg sama, berharap saja orang lain melakukan hal yg sama seperti dirimu, awalnya membeli karena merasak ‘tidak enak hati’? “

“ah repot … gpplah … toh emang perlu juga sama barang2nya.”

“oya? biasanya kalau satu orang sudah berhasil menawarkan 1 produk, pasti guru yg lain akan menawarkan produk lain, bener ga?”

“Iya sih, ada guru lain yang menawarkan produk kosmetik …..”

“dan harganya juga lumayan kaan …?” entah kenapa saya jadi rajin menyela :D

“iya sihhh tapi ‘kan emang perlu juga, apalagi boleh mencicil mbayarnya.”

“dan mbayar cicilannya diambil dari uang sampingan itu tadi?”

“iya … masih cukup kok.”

“jika masih cukup, terus kenapa dong kamu masih minjam uang dari orang tuamu? dalam jumlah yang besar pula?”

“uang sampingan itu kan kecil, sedangnya saya butuh jumlah besar dalam waktu yg dekat, jadinya minjem deh.”

“hmm begitu ya. terima saran atau obrolan ini harus kita sudahi?”

“emang mo kasi saran apa?”

“gini lho, emang sih mungkin menurutmu uang sampingan itu kecil, tapi jika cukup untuk mencicil 2 produk yang saya tau harganya ajaib2 juga, sepertinya kisarannya pasti antara 200-300rb, yang mana klo jumlah segitu kamu tabung, setahunnya terkumpul sekitar 2-3jt, bukan?”

“iya sih, tapi klo nabung gitu ‘kan lama. kapan punya barangnya dong.”

“hehehe …” saya cuma nyengir dan mengalihkan pembicaraan pada topik yang lain.

Rupanya memang begitulah sudah gaya hidup sekarang ini ya, banyak pasangan yang tidak merasa perlu untuk menghitung apakah uang masuk mereka sudah seimbang dengan uang yang dikeluarkan? Dan menurut hemat saya, jika pasangan ini berhitung dengan cermat, cicilan-cicilan itu bisa ditiadakan kok, dan mengutamakan menabung, daaan mungkin saja tidak perlu merepotkan orang tua dengan meminjam uangnya ‘kan?

Virus konsumerisme ini memanglah virus yang dahsyat, dan saya percaya virus ini tidak hanya menular di lingkungan para guru, tapi juga hampir di setiap lini atau profesi, paling rentan ya emang kaum perempuan apalagi yang sudah jadi ibu. Momennya pun beragam, bisa di arisan, atau saat mengantar anak sekolah, pengajian, organisasi sosial lainnya, dimana saja pasti ada. Dan semua kembali pada individu masing-masing, sebagai penjual wajar dong mereka menawarkan plus membujuk rayu calon pembeli, nah tinggal sebagai calon pembeli yang harus mawas diri. Dengan mawas diri, berarti seseorang punya antibodi yang bagus, sehingga selalu bijak sebelum melakukan satu transaksi dengan berpedomankan : “membeli yang kita butuhkan bukan yang ditawarkan  yang kita inginkan” !

 

64 thoughts on “Virus Konsumerisme

  1. ahhh untungnya aku ngga pernah tergoda untuk nyicil barang2 kayak gitu…prinsip aku lebih baik ngga punya barang daripada punya barang tp boleh ngutang hehehe….kata mamah dedeh kan kalo punya uang beli, ngga punya uang ya udah diem…..
    nia/mama ina recently posted… » Keliling Kota

  2. nyambung… *disambit panci*

    Tapi emang tawaran ibu2 itu kadang ganas yah…nolaknya pun musti mutusin urat tega. karena seringnya barangnya tuh sebenernya kita gak butuh tapi jadi dibutuh-butuhin karena rasa nggak enak kalo gak beli…

    Oh…dan gue paling ilfil liat orang yang beli tas/kosmetik/fashion items pake cicilan… -___-” *melipir sebelom digampar*

  3. Lah kita malah kebalik…:P

    gue sama SN paling suka manfaatin 0% installment dari kartu kredit kalo lagi beli barang yang lumayan bikin tongpes (mostly are electronics & furniture…disini furnitur mahal booook). Soalnya lumayan berasa bayarnya.

    Contohnya pas kemaren ganti AC. Disini ACnya bukan 1-an kayak di indo, tapi beneran SPLIT. Jadi 1 outdoor unit + (1/2/3/4) Indoor. Kalo 1 indoor unit rusak, musti ganti semua. Di rumah gue, kita pake system 3. Sekali ganti kena $3000. Duitnya sih *thanks god* ada…tapi kan nyesek keluar segitu banyak sekaligus. Untung bisa 0% installment. Cash-flow gak kacau :D

    Beli by installment harusnya bukan karena ga punya cash untuk bayar full. Tapi lebih untuk cash-flow management. Kalo secara cash ga cukup…kita ga bakal beli barang itu. Even by installment. Kecuali beli rumah ye…hahahahahaha *itu mah emang HARUS nyicil*.

    So far it works. Dan gue gak pernah sih beli barang-barang dapur/kosmetik pake installment
    si.tukang.nyampah recently posted… » Our Little Hyena!

  4. Nike …
    ini bener banget …
    kalau menurut saya … mungkin ini tidak murni konsumerisme saja …
    ini lebih kearah … menjaga keharmonisan … (yang celakanya salah penerapannya …)

    serba nggak enak untuk menolak tawaran teman …

    Ini juga terjadi … kalau kita lagi reunian … atas nama pertemanan … atas nama solidaritas masa lalu … (apa lagi dulu suka dikasih contekan … atas nama balas budi dsb) … banyak teman yang nggak enak jika ada teman lain yang menawarkan … asuransi … MLM … dan yang sejenisnya

    Salam saya
    nh18 recently posted… » PR SEBELAS

  5. hmm, jadi inget mbak, ceramah jumat minggu lalu. ustadzhanya bilang begini: “setiap barang yg ada di rumah kita itu akan dimintai pertanggungjawabannya. apakah benar2 sudah dimanfaatkan dg baik ataukah hanya teronggok saja”. itu menjadi tausiyah bagi saya dan semua kita agar tak mudah membeli barang dikala blm butuh. yah maklum ibu2 ya mbak, mudah tertarik barang yang kinyis2, hehe. salam ya mbak.
    Puteriamirillis recently posted… » Not Weekly Photo Challenges: Memasak dan Berkebun

  6. Yaaa… itulah kaum hawa. Sama seperti saya, selalu seperti itu. Yang sebenernya belum dibutuhkan, malah menjadi barang kepemilikan. Padahal belinya juga dengan sangat maksa.
    asti recently posted… » Ayam Bumbu Andaliman

  7. Menurut pengamatan saya, ada satu lagi kaum yg rentan terserang virus konsumerisme, yakni para lulusan SMA atau perguruan tinggi yg masih single dan baru saja bekerja (menerima gaji), hehe….
    Ditter recently posted… » Belajar Dari Pencopet

  8. virus ini memang sudah lama terkenal. harus dituntut kebijakan kita dalam mengelola pengeluaran kita. sekarang cobalah menabung dengan mengikuti simpanan berjangka, sehingga kita bisa mengatur keuangan dengan baik. nah di BRI sekarang ada Simpedes IMPIAN, kita dấpat menabung secara tetap minimal 100000setiap bulannya. minimal 12bln dan max 240 bln. jadi kita lebih bisa merancang pengeluaran lebih baik lagi.(numpang promosi pal…….hahahaahahah)

  9. Mudah2an ntar aku gak jadi ibu2 sprt itu deh.. malahan aku mau mulai usaha yg bisa dikerjakan sebagai sampingan pns.. apa yak kira2? *lah jadi curhat* hahaha..

    Tapi emang aku termasuk kalangam cewek yg gak konsumtif loh mbak.. bs aku nemenin teman yg belanja.sampe ratusan ribu ke mall tanpa.aku tertarik satu.barangpun utk membelinya.. :D

  10. hehehe… kayaknya mending punya barang seadanya daripada nyicil… alhamdulillah smpe skrg blm pernah beli-beli yg ditawarin rekan2… abis emang harganya “lebih” LOL…
    Lyliana Thia recently posted… » PR Kenangan SMP

  11. Soal beli membeli barang saya gak pernah nyicil, takut ntar jadi beban kalo gak punya duit. Eh, pernah ding, nyicil kreditan sepeda motor yang sekarang jadi teman setia kemanapun saya ngelayap. Diluar itu gak ada deh….
    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

  12. godaan keinginan itu sangatlah menyerang kita dengan bertubi-tubi. salah satunya kartu kredit dan kredit tanpa agunan (kalau saya maunya kredit tanpa angsuran…hehehehe). Begitu masuk perangkap susah keluarnya ….
    Necky recently posted… » Hati Hati Berbicara

  13. Niiiiiiique….
    itu bener banget…sebagai emak emak aku sering banget merasa terjebak dalam situasi yang kayak gitu lho…rese banget…

    Tapi untunglah para ibu ibu di seputaran komplek mana pun tahu kalo aku GAK pernah mau nyicil apapun itu yang namanya PERABOTAN DAPUR.Gila ajah cuman panci doang harganya 800 rebu? males bok…gak bakalan dipake juga…hihihi…

    tupperware pun cuman punya satu set doang, karena emang butuh buat makan siang Kayla di sekolah.

    Nah kalo kosmetik, aku justru lebiih concern sama jenis perawatan daripada polesannya…
    jujur aku pake bedak yang murah ajah…tapi aku punya beberapa cream pelembab dan night cream yang bagus dan emang rada mahal sih…tapi aku ngerasanya worth it ajah, karena aku pake bukan karena gengsi, tapi karena berasa nyaman banget makenya…pada akhirnya balik lagi ke niat kan…

    *lho malah curhat*
    Bibi Titi Teliti recently posted… » Dear Pahlawanku – Surat untuk Miss Oprah Winfrey

  14. virus itu emang ganas. apalagi kalo udah ke mal. wah mesti pake masker, mbak. hehee. btw, saya juga suka gak enak hati sama temen2 yg jualan. kadang gak butuh sih tapi krn kasian jadi beli. duh duh..itu namanya virus apa ya?
    fanny recently posted… » DETIK TERAKHIR

  15. Syukurlah saya gak terlalu konsumerisme eda, Turangndu paling pantang kalo ngutang, termasuk sama keluarga. Sederhana itu lebih baik. berapa ada begitulah dicukupkan.

    Masalah tawar menawar, memang sudah kebiasaan disekolahan begitu, termasuk siswa dan orang tua siswa datang menawarkan segala produk cicilan,termasuk menjadi anggota beberapa produl M*M……
    jumialely recently posted… » Kontes SEO di Century 21 Gak Pake Ribet

  16. alhamdulillah, mel ga kalap kalau sama barang-barang, lagian ga pingin punya utang.. walau dicicil kan tetep aja utang,. hehehe

    • aku sudah mampir tadi malam begitu postingan itu tayangan, hanya saja blom sempat ninggalin jejak hehehe makasi infonya yaaa

  17. “membeli yang kita butuhkan bukan yang ditawarkan or yang kita inginkan” !

    kata2 ini sangat perlu disimak n dicerna..

  18. emang susah menahan diri dari virus konsumerisme ya… tapi ya emang harus bisa self control biar kantong gak jebol… :)

    kadang2 konsumerisme perlu juga sih, karena toh kita juga harus menikmati hidup kan ya… dan menikmati hasil jerih payah kerja kita sendiri… tapi ya asal jangan kebangetan sampe besar pasak daripada tiang aja… :)
    arman recently posted… » A Promise

  19. Saleum,
    setahu saya yang namanya virus tetap meninggalkan beban yang harus ditanggung dan diterima oleh pemakainya. dan saya setuju dengan kalimat yang mbak Nique tulis diakhir cerita : “membeli yang kita butuhkan bukan yang ditawarkan yang kita inginkan” !

    saleum dmilano
    dmilano recently posted… » Aku Selamat Karena Cinta Mereka

  20. benar Nik, virus ini menyebar kemana2 dikalangan ibu2, baik dikompleks perumahan, di arisan tman2, di kantor ,pokoknya benar2 mewabah deh :(

    dulu juga aku sempat membeli yg diinginkan bukan yg dibutuhkan,
    sekarang ,alhamdulillah, aku sudah bisa memilih dan memilah…

    jadi, antibodi nya dah mantap deh, gak bakal gampang kena ‘rayuan’ …hahahaha… :D :D
    salam
    bunda lily recently posted… » Tetap ‘Hidup’ Meski Sibuk

  21. Kadang nique aku miris loh lihat kehidupan di Jakarta. Ini orang-orang jalan-jalannya ke mall, yang penuh godaan. Itu gajinya seberapa besar ya?
    semisal aku makan siang dgn teman-teman jaman SMA, sekali makan 100rb. Padahal di Tokyo duit segitu bisa makan untuk 1 hari satu keluarga loh. Dan teman-temanku itu sering sekali makan di luar. Atau emang aku yang salah kali ya punya teman-teman kaya-kaya hahaha
    Ikkyu_san recently posted… » Guru SD

    • mbsk Em…jurang perbedaan di Indonesia tepatnya di Jakarta sangat-sangat lebar. Kalau sampean makan yg sekali 100rb, mungkin kalau keluar mall masih bisa makan dengan hanya keluar uang dibawah 10rb….tinggal mau beli yang mana ….hehehe
      Necky recently posted… » Hati Hati Berbicara

      • Nah makanya mas Necky…aku lebih senang justru diajak pergi ke tempat yang 10rb gitu, yang murah dan enak. Masalahnya NGGA ADA yang mau ngajak. Pan aku ngga tau tempat-tempat gituan. Makanya aku seneng banget waktu diajak makan buryam sama temen SMP ku di barito. Makan dalam mobil…bener2 cuma makan trus dianter pulang hehehe.
        Jadi, kalau aku mudik, mau diajak kemana nih mas??? (NGarep.com)
        Ikkyu_san recently posted… » Allt Gott

    • mbak, kalau lagi jalan-jalan ke mal, aku biasanya pilih makan di kantin yg biasa dituju oleh para pekerja mal. harganya lebih miring. dan kalau makan di mal itu aku kadang suka sayang uangnya. soalnya rasanya seringnya biasa saja, hehehe. kan eman-eman, sudah mahal, rasanya biasanya pula hehehe

      • Saya mengiyakan Kris …
        Kadang kalau lagi travelling dan tidak terikat protokoler …
        saya suka ngacir ke kantin karyawan hotel atau koperasinya … makanannya murah-murah …
        hehehe

          • boleh mestinya mba, tapi kudu sama orang yg kerja di situ klo ga salah.
            pernah beberapa x makan di kantin BPPT thamrin, udah kayak fudkot aja di sana :D

        • di gading ada tuh kantin karyawan, tp blom mampir ke situ.
          tp klo yg di kerfur cawang udah, lumayan deh di situ .. mayan panas hahaha

  22. Nique, dulu saya rentan terhadap ajakan orang. Tapi dari dulu aku NO WAY dengan cicilan. Jadi pun kalau beli aku beli cash. Sekarang, udah jadi ibu sadis deh hahaha.

    But sesungguh meskipun kita tidak mencicil barang2 yg ditawarkan sekeliling kita, dengan memakai kartu kredit saja, kita sedang mencicil. Dan aku paling anti membeli barang di luar keperluan RT memakai kartu kredit. Atau kalau memang untuk keperluanku pribadi, seperti waktu aku jalan-jalan di Jakarta, SEMUA aku bayar pakai kartu kredit dari uang pribadiku. Satu kosmetikpun tidak pernah aku beli pakai uang gaji suami ;) )
    Karenanya aku beralih merek dari produk perancis yang mahal, ke produk massal Jepang yang paling murah :D Dan aku tidak malu kok pakai yang murah ;)
    Ikkyu_san recently posted… » Guru SD

    • soal kosmetik, sekarang malah saya cuma ke perawatan aja mba, mungkin karena tidak beraktivitas di luar seperti mba ya jadinya bisa, seneng aja budget kosmetik bisa ditabung heheeh klo pun masih ada cuma bedak+lipstik udah itu ajah

  23. Saya juga beberapa kali beli barang karena tidak enak hati niQue, dan biasanya barang-barang yang dibeli dengan alasan itu pasti tidak optimal pemanfaatannya *karena jengkel pas belinya…hehe*

    :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge