Tetaplah bersamaku, Nurani!

Prihatin! Sedih! Marah! Campur aduk perasaan saya pagi kemarin, setelah melihat polisi jadi-jadian itu (paham ‘kan yang saya maksud dengan polisi jadi-jadian?) – yang jumlahnya lebih dari 20 orang itu – menghancurkan lapak pengusaha bengkel yang berlokasi di bawah jalan tol. Jika dilihat dari letaknya, tidak paham saya alasan mereka melarang mereka mencari nafkah di situ. Tidak ada bangunan permanen yang didirikan, cuma etalase kaca, dan peralatan bengkel seadanya. Tapi yang saya tahu memang bengkel dadakan itu ramai pengunjung, dan kebetulan pula orang yang bekerja di situ rajin nge-net di tempat kami. Entah dia pekerjanya entah pemiliknya. Yang jelas penampilannya rapi dan bersih, tidak terlihat seperti orang yang bergumul dengan oli dalam kesehariannya.

Anehnya, tak jauh dari tempat itu, ada bangunan kokoh dan permanen yang sengaja didirikan oleh yang tidak jadi-jadian, malah jadi markas lho, kayak udah ga ada lahan lain yang lebih pantas untuk dijadikan kantor. Juga ada pengusaha-pengusaha lain yang membuka lapak di sekitarnya, dan mereka tidak diapa-apakan dong! Saya ngedumel tidak keruan, rasanya sungguh tidak enak menjadi saksi ketidak adilan berlangsung di depan mata. Helloo…mereka itu cari makan dengan cara yang halal lhoooo … ??? Jika mencari uang halal saja dikejar-kejar bak penjahat seperti itu, dan sebaliknya jika maling beneran diperlakukan dengan terhormat?

Ok, jika memang mau menertibkan dan mengosongkan lapak atau bangunan yang ada di bawah jalan tol, tapi mbok yao sing adil toh?! Kok ada yang dibiarkan? Ada yang harus diusir? Persyaratannya apa sih agar tidak diusir? Duh, melihat segerombolan manusia jadi-jadian berseragam kecoklatan itu kok mereka seperti mau berperang dengan banyak orang, padahal lapak yang digusur cuma 1 lho????? Serem aja kan, horror ngeliatnya, seolah-olah yang mau diusir itu bak penjahat saja layaknya.

Sudah pergi kemanakah gerangan hati nurani? Takkah lagi tersisa barang secuil? Lalu seperti apakah singgasana hati yang tak lagi bertahtakan tiara NURANI????

Gambar dari sini.

45 thoughts on “Tetaplah bersamaku, Nurani!

  1. aku tau…aku tau tempat itu…oohh jadi tempatnya mbak nique di daerah situ yachh…yang di kolong tol pelita juga banyak yg digusurin mbak…tp penjual sapi itu ngga yach heheheh……..
    nia/mama ina recently posted… » PR Sekolah Dasar

  2. Ketidakadilan buat mencari mata pencaharian selalu jadi dilema, dilema antara pembuat keputusan, pelaksana di lapangan dan orang-orang yang harus ditertibkan…
    :(

  3. ya gak beda jauh dg FPI yg mengobrak abrik warteg pada saat bulan puasa. padahal hak setiap orang utk makan di warteg tsb. Tapi mereka yg mengamuk gak keruan. Aneh sekali…dan pemerintah seolah tak berdaya menghadapi mereka.
    fanny recently posted… » FORGIVE ME, LORD….FOR PREJUDICE

    • aku juga ga heran kok pal
      cuma mo sampai kapan????
      ku rasa ini bukan kebijakan pemerintah, ya kebijakan pemerintah menyangkut ttg keberadaan mereka, tapi soal tindakan spt kemarin, menurutku itu sudah ‘personal’ :(

  4. Mungkin memang itu tugas satpol pepeh, nungguin warung kakilima ramai, lalu serbu dan hancurkan tanpa perasaan. Lha, apa salahnya kasih tau, kasih waktu untuk pindah. Jangan ujug-ujug udah rame baru bertindak. Kasian…
    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

    • entahlah mba, pengen juga sih kapan2 ngobrol sama salah satu mereka, cuma nantilah saya perlu menetralisir rasa ini, tlanjur jijik ngeliat mereka :(

  5. koq mereka ga mau mengambil pengalaman beberapa waktu yang lalu sih?…yang kejadiannya dekat juga dengan rumah nique. Dulu mereka sampai ada yg meninggal padahal kalau mereka mau ngomong baik2 meangnya ga bisa? saya lihat di pasar minggu, masih sopan2 bahkan mereka membantu membereskan barang milih penjual yang notabenenya banyak orang tua
    Necky recently posted… » Serba Serbi Mendidik Anak

    • ga tau deh mas.
      tp kemarin itu kan cuma 1 doang yg dikebiri, dan mereka yakin ga bakal ada perlawanan wong mereka rame2 gitu
      bener2 udah kayak mo ada perang aja saking ramenya :(

    • nah itu, repot klo plesir mulu si Nurani :(

      musyawarah? Brur, ku rasa ada permainan di sana kemarin, krn sudah jelas kok klo kantor yang bukan jadi2an itu permanen dan tdk mungkin mereka hancurkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge