Max to the Max

Well, saya baru tercerahkan, baru dapat pelajaran penting dari 4 asisten yang cantik dan ganteng-ganteng ini :D Bahwa apa yang menjadi prinsip saya ketika masih kerja, tidak dapat saya terapkan sepenuhnya … atau tepatnya tidak dapat saya harapkan sepenuhnya dari para asisten di sini.

GIVE THE MAX TO GET THE MAX!

Ada yang pernah tau petatah petitih itu? Kalau belum, berarti ini ASLI penemuan saya :D *gaya*

Setelah kejengkelan demi kejengkelan menggalaukan hati dan pikiran saya, kalimat di atas tiba-tiba muncul begitu saja di benak saya, dan dengan demikian saya  nyatakan bahwa saya telah mengubah cara pandang saya terhadap para asisten. Dulu, saya berharap mereka mengeluarkan kemampuan maksimal yang mereka bisa berikan, baru deh saya akan menilai usaha mereka dalam melakukan yang terbaik untuk pekerjaan mereka. Karena cara seperti itulah yang selalu saya terapkan pada diri saya ketika masih mengais sen demi sen di perusahaan orang dulu. Ternyata sekarang hal ini tidak bisa diberlakukan lagi. Sudah KUNO! Sudah harus dimuseumkan! Sudah saatnya diubah!

HOW CAN I EXPECT THE MAX FROM THEM IF I HAVE NOT PROVIDE THE MAX TO THEM????? 

Iya toh? Baiklah, sekarang ini saya sedang mendoktrin otak saya ini agar MEMAKLUMI kekurang sempurnaan mereka dalam menunaikan tugas. Seringnya mereka melupakan binti mengabaikan jobdes yang telah dibuat di awal masuk bekerja pun harus saya tolerir. Itu kalau saya ingin mereka awet bekerja di sini. Jika nanti akhirnya masih tidak betah juga, ya baru deh benar-benar tidak berjodoh. Setidaknya saya sudah melakukan maksimal yang dapat saya lakukan untuk mempertahankan mereka.

Mereka ada untuk MEMBANTU kelancaran usaha yang kami jalankan, sehingga saya harus benar-benar memahami ARTI KATA membantu itu. Jika selama ini saya malah berharap mereka mandiri dan memahami jobdesc yang diberikan dengan baik dan benar, sepertinya saya akan seperti si pungguk yang merindukan bulan di siang bolong. Jika selama ini saya merasa saya sudah memberikan yang paling maksimal kepada mereka, sepertinya saya harus mengoreksi diri.

Tadinya saya kira dengan adanya jobdesc yang jelas dan terinci bahkan sampai timingnya, maka pekerjaan akan terlaksana dengan baik sesuai standar. Tetapi saya salah! Kemudian ketika saya pikir mereka MUNGKIN akan meniru apa yang dicontohkan dari satu pekerjaan, misalnya standar bersih itu seperti apa, dan ternyata tidak berhasil, berarti sekarang saatnya MENDIKTE. Namanya yang MEMBANTU tentu perlu diingatkan setiap waktu; “tolong yang ini dibeginikan ya .. tolong yang itu dibegitukan ya … trus yang ini sudah dinikan? yang itu sudah? ok kalau sudah mungkin kamu boleh mengerjakan yang ini? bisa? Iya, terima kasih yaaa … ” Kira-kira beginilah mungkin yang akan terjadi ke depannya sampai mereka memahami sepenuhnya bahwa jika jobdesc sudah di tangan semestinya sudah tahu apa yang harus dikerjakan tanpa harus diingatkan lagi.

Ok, para asisten ku yang cantik dan ganteng-ganteng, ini saatnya perubahan besar datang, sorry we haven’t provide the MAX while we expect you all provide the MAX. Sungguh tak mungkin ‘kan :D

Saatnya BERUBAAAAAAAHHHHH!!!!

gambar : gugel

*)tema terinspirasi dari minuman MIXMAX sekian persen, tadinya mau dikasi judul MIXMAX tapi akhirnya dapat yang dirasa lebih pas, eh udah pas ‘kan ya? :D  

34 thoughts on “Max to the Max

  1. Kalau dari dalam diri kita sendiri udah mencontohkan yg maksimal orang akan mencontoh apa yg kita lakukan juga ya mbak :D

    • maunya juga ngerjain semua sendirian mba, tapi di sini kan 2 lantai, bisa2 pelanggan ga kelayanan deh, terpaksa membesarkan hati aja
      hla itu bagus doanya, semoga saya dapat kesabaran selangit :D

  2. Pas niQue, pas banget judulnya…hehe, iya…kadang harapan atau tuntutan saya terhadap orang lain juga suka ketinggian, ujung-ujungnya malah jadi kecewa :(

    Sekarang, saatnya berubah!
    Berikan yang terbaik pada orang lain, maka *mudah-mudahan* orang lain juga akan membeikan yang terbaik buat kita…
    :D

  3. iya mbak kalo punya karyawan hrs siap mental…soale belum tentu kerjanya mrk sesuai sprti yg kita harapkan….yg penting mrk betah lah…soale cape juga loch gonta ganti karyawan…kayak bosku nech…..karyawan pada berguguran satu persatu…..meskipun bos punya uang banyak, klo karyawan ngga ada yg betah emang bisa jalan tuch perusahaan? jd hubungan bos sm karyawan hrs seiring sejalan biar perusahaan maju….(ini aku ngomongin bosku loch…abis dah kesel banget lihat sikapnya hehehe…..)

    btw mbak tinggalnya dmn sech? sapi2 itu bener yg di kolong tol pelita… koq egi ngga ketemu sm duo ina yach hehehe……
    nia/mama ina recently posted… » Sapi-un dan kambing-un

    • tuh kan, mama ina yg karyawan bete bin sebel sama bos nya, jangan2 bosnya punya perasaan yg kurleb sama dengan anakbuahnya, jadi aja sebel2an hihihi tergantung siapa yang sadar duluan deh.

      warnetnya di priok, kan udah dipajang disini lokasinya :D jelas ga ketemulah, kan egi sama ina & dd waluh blom kenalan :P

  4. Nik, ni yang diomongin assisten di instana pribadi or dikantor seh, bunda bingung neh. Kalo yang di ktr sih udah kudu ngerti tentang jobdesc dari awal masukknya tah? Kalo yang di istana pribadi, kudu dimonitor, emang, tapi kitanya jangan terlalu demanding-lah, ntar bisa2 tuh asisten2 bisa ngabrit lho. Beri pengarahan dan kepercayaan serta perlakukan mereka dengan baik, gak bossy, hehehehehe………..piiisss niQ. We may do the MAX (smoothly) but do not expect too much the MAX from them. Coba liat deh hasilnya nanti pasti niQ sendiri akan dapat surprise dari mereka karena kelembutan si Boss, hehehehehehe………Bravo niQ-ku.

    • ini para asisten yg di warnet bun :D
      wlo bukan kantoran, karena saya bekas anak kantoran jadi dibikinin jobdesc sama saya, maksud hati sih biar ga usah sering2 diingetin apa2 aja kerjaannya.

      tapi ga jalan juga Bun
      jadi daripada capek hati ya udah deh kami saja yang mengubah pola pandang terhadap kerjasama bilateral ini hihihi

    • tentu tidak dong :D
      justru untuk memaksimalkan,
      hanya saja nyonya bos tidak cuma memantau seperti kemarin2, tetapi langsung terjun bebas gitu loh … hehehe

  5. Waktu punya anak pertama, saya selalu memberikan standarnya saya kepada Nedia. Kalau dia tidak mencapai standar yang ditentukan malah bikin marah2 doank. Alhamdulillah dengan semakin banyaknya umur dan belajar pengalaman dari orang yg lebih tua akhirnya saya menyadari bahwa standar yang saya tetapkan belum tentu menjadi standar orang lain. Kembali ke asisten, saya pernah deal dengan anak dan istri bahwa keberadaan asisten adalah untuk membantu bukannya kita menggantungkan diri kepada asisten….
    Necky recently posted… » Story Pudding: Antara Ibu dan Istri

    • iya mas, semoga dengan mengubah cara pikir saya begini, ke depannya saya lebih bisa toleran terhadap setiap kekurangan para asisten, selama kejujuran tetap mereka junjung tinggi. karena bagaimana bagusnya pun mereka bekerja, tp klo suka ngakal2in bos nya bisa abis juga yang ada kan, seperti miara tikus yg suka nggrogoti hehehe

    • disambung2in aja gpp kok Ti :D

      betul sekali Ti, dan biasanya emang susah menyamakan persepsi karena berangkat dari sudut pandang yang memang berbeda.

  6. kalau harapan terlalu besar dan hasil jauh dari yang kita inginkan kadang kecewa ya, tapi kalau dari awal sudah bisa menerima mudah2antidak kecewa
    Lidya recently posted… » Ben10 Figurin

  7. bener banget Nik, kita harus berubah lebih dulu, sebelum kita mengharapkan orang lain berubah .
    agar tidak selalu kecewa, krn ekspektasi yg diharapkan ternyata gak selalu ada .
    Semoga selalu sukses ya Nik …… :)
    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge