HUKUM RIMBA?

Mau update tentang rumah yang diserobot orang lain itu ah :)

Tak critani kronologisnya dulu yah. Ketika rumah yang saya beli itu banknya dilikuidasi dan sempat terbengkalai selama beberapa tahun, tiba-tiba dapat pemberitahuan bahwa kalau masih menginginkan rumah itu, dipersilahkan untuk meneruskan cicilan atau boleh juga melunasi. Berhubung kondisi rumahnya sudah tak bisa ditempati, perlu renovasi besar-besaran yang artinya butuh dana yang lumayan bikin kantong boncos juga, maka kami putuskan untuk mencicil saja. Bulan Juli kami melihat ke lokasi, tidak ada tanda-tanda orang lain menguasai rumah itu. Bahkan kami sempat terlibat pembicaraan dengan tetangga depan rumah mengisyaratkan bahwa jika memungkinkan kami mau membeli lahan sebelah rumah agar lebih luas.

Dan bulan September kemarin dapat kabar bahwa sudah ada yang rajin datang ke rumah itu, bahkan berangsur-angsur menumpuk bahan bangunan. Tetangga depan rumah berbaik hati menghubungi kami dan menceritakan kejanggalan yang dia lihat. Lalu kami meluangkan waktu untuk menemui si pembeli rumah, dan melihat kelengkapan surat-surat yang dipegangnya. Kami tidak mau berpolemik dengannya, karena sepertinya bapak itu adalah korban dari orang-orang yang merasa bisa mengangkangi hukum sa’enak udelle :(

Beberapa hari setelah postingan ini, kami mendatangi kantor pelelangan negara yang di daan mogot dengan bekal dari kerabat yang mengerti hukum, agar kehadiran kami di sana dicukupkan untuk mengumpulkan informasi saja.

“Kakak tidak usah marah-marah nanti di sana ya. Kalem aja. Kumpulkan saja informasi sebanyak-banyaknya. Kalau kakak marah-marah duluan, biasanya mereka langsung defense.” begitu wejangan adik sepupuku itu.

Memanglah dunia ini panggung sandiwawara. Dalam mencari kebenaran pun sebaiknya bersandiwara, khususnya bagi  saya yang temperamental ini, itu kalau tidak mau  merugikan diri sendiri. Dan saya senang karena misi berhasil dijalankan, walau jadi panas dingin demi mengendalikan darah yang menggelegak. Hampir saja terpancing ketika petugas itu kelihatannya enggan mengeluarkan berkas saya, tapi dengan mempertahankan senyum termanis, saya terus mengumbar kalimat-kalimat diplomatis sampai akhirnya beranjak juga dia mencari berkas itu di lemari besi di belakang kami. Asumsi saya mestinya tak perlu waktu lama, karena nomor berkas sudah tertera di kertas panggilan, dan sempat saya sebutkan tadi. Tapi memang petugas itu sengaja berlama-lama, seperti menguji kesabaran kami.

Kemudian dia kembali dengan map hijau di tangan sambil mempermasalahkan alamat yang berbeda dengan KTP. ealah pak, namanya juga kontraktor ya pindah ke sana ke mari, wajarlah alamat di KTP tidak sama dengan KTP waktu beli rumah ini. Lalu, ketika saya meminta selembar surat saja sebagai bukti bahwa saya memang sedang melakukan pencicilan seperti yang didapatkan teman saya, petugas itu bilang bahwa Kepala Kantornya baru diganti dan kebijakannya sekarang ini tidak bisa lagi mengeluarkan surat apapun. “Kalian cicil saja, pegang buktinya, itu udah cukup kok!”

Baiklah! Kami berpamitan dan di luar kami atur strategi baru. Dan teman saya masuk sendirian menemui petugas itu lagi.

“Maaf ya pak, cuma mau tanya, teman saya tadi sih tidak tahu, kalau rumahnya udah ada yang ngaku beli lho. gimana tuh pak?”

“ya namanya juga udah sekian lama bu, coba tanya temen ibu, sapa tau dia lupa pernah menjual rumah itu ke orang lain. lagian, kalian juga udah punya rumah yang lain, udah sih, ikhlasin aja rumah itu. kasian juga sama yang beli, sekalinya pengen punya rumah kok malah begini.”

“Hlo? salahnya bapak dong kenapa menjual rumah orang ke bapak itu. apalagi bapak tau dia orang susah. kenapa malah nyuruh teman saya yang harus ikhlasin. jadi gimana nih urusannya?”

“terserah, siapa yang duluan melunasi, dia yang dapet rumah itu. gitu aja. lagipula, si pembeli juga udah sah kok menghaki rumah itu karena suratnya dikeluarkan notaris pemerintah. saya kasi tau ya bu, klo pun ibu lunasi, blom jelas juga kok surat2nya.” what??? katanya ini negara hukum. tapi kok siapa cepat dia dapat? hukum rimba dong namanya??? piye to bapak iki :(

“blum jelas gimana pak? hla klo ga jelas ngapain kami disuruh nyicil begini dong? bapak plin plan nih omongannya!” temanku itu mulai tersulut emosinya.

“ya udahlah bu, begitu aja, klo sudah lunas bawa buktinya ke sini.”

Gubrak! Petugas apa preman sih dia? Ucapan apa itu orang disuruh mengikhlaskan rumah yang dibeli dari uang sendiri, yang dulunya boleh ngumpulin seperak dua perak??

Sehari berselang, tiba-tiba komplotan petugas itu menelpon, dan minta maaf, serta minta waktu untuk mengosongkan rumah kami. Dia masih mencari rumah lain untuk diberikan pada pembeli itu sebagai gantinya. Hellooo???? What does it mean??? Terbersit rasa kasihan pada pembeli ini, apalagi orangnya awam hukum banget.

“Bu, tenang aja, saya cuma minta waktu, jadi ga usah rame-rame, rumahnya akan saya kosongkan, jadi rumah itu tetap milik ibu.”

“Ok pak, secepatnya ya, sebelum teman saya itu tau.” begitu teman saya merespon, kami masih berpura-pura kalau saya sebagai pemilik rumah belum mengetahui kejadian ini.

Sekarang kami masih menunggu itikad baik mereka menyelesaikan urusan ini tanpa melibatkan pihak berwajib, tapi jika ucapan kemarin itu sekedar mengulur-ulur waktu saja, yah berarti dengan sangat terpaksa urus-urus deh :(

Doakan kami ya :)

 

gambar dari sini.

22 thoughts on “HUKUM RIMBA?

  1. Pingback: Bubur dan Mie Ayam | nicampereniqué.me

  2. Pingback: What should I do with this feeling? | nicampereniqué.me

  3. Hiiih… Gemes jg ya baca penjelasan petugas itu… Gmana coba maksudnya dia… Aku jg pernah hampir kena mbak, rumah kami mau dijual sama yg ngontrak.. Gila aja.. Memanng pasti yg beli gak mdpt hak.. Tp kasian nantinya, kalau uangnya dibawa kabur… Hari gini msh ada org yg kadalin org lain ya… Gak takut Tuhan apa ya… *walah jd ikutan emosi*

    Semoga masalahnya cepat selesai mbak Nique

  4. Dulu juga ada tetangga saya yang dimain-mainkan oleh tengkulak semangka. Janjinya dibayar A riouah tetapi begitu semangka dibawa hanya dibayar B rupiah dengan alasan semangka kurang laku.

    Ketika orang itu datang lalu saya bisiki ” sampeyan mau tak panggilkan orang sekampung atau menantu saya yang di polsek “.

    Orang itu keder, langsung mbayar penuh. Enak aja, mau ngapusi orang kampung yang sudah susah payah nanam semangka.

    salam hangat dari Surabaya.
    Pakde Cholik recently posted… » Book Review :Crush

  5. Ngeri banget, ternyata penipuan itu ada dimana-mana…petugas yang plin-paln itu juga bikin saya geleng-geleng kepala…halo, halo…mau dibawa kemanakah Indonesia ya, niQue?

    Smoga semua urusannya berjalan lancar!
    :D

  6. Kantor pelelangan negara? *tutupmuka* *malu*
    masih saudara sepupu sama intansi saya..

    tapi memang sih mbak, masih ada oknum-oknum yang belum tereformasi, aduh, semoga oknum2 tersebut cepet insyaf deh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge