KERUPUK

Bagi penggemar kerupuk, pasti langsung ngeuh dong ngeliat kaleng kerupuk seperti di gambar? Dan tau juga dong berapa harga satuannya jika beli di warung? Umm… bervariasi juga sih, ada yang jual gopek tapi kebanyakan pasti seribuan. Entah dalam postingan yang mana, sepertinya pernah menyinggung soal kerupuk yang dilanggani oleh suami saking doyannya dia sama kerupuk. Ada bagusnya sih, jadi tidak usah repot ndadak beli kerupuk ke warung setiap dia minta kerupuk ketika mau makan. Juga saya ga usah ndadak nggoreng kerupuk karena sesi menggoreng kerupuk itu menyebalkan :D

Mungkin ada yang sudah tahu, mungkin juga belum, jadi saya dengan senang hati mau memberitahu nih kalau harga kerupuk satu kaleng besar itu cuma empat belas ribu perak. Soal rasa, kita boleh milih kok, mau yang putih saja, coklat saja atau campuran? Awalnya kami cuma melanggani satu kaleng kerupuk saja, tetapi rupanya para asisten yang asalnya dari tanah Karo sana suka juga sama kerupuk. Terbukti, kaleng kerupuk yang baru diisi cuma bisa bertahan selama 2-3hari, padahal penjual kerupuk hanya menyambangi setiap minggu. Itu artinya ada hari-hari tanpa kerupuk. Para asisten sih nrimo, alias tidak mencari, tetapi suami saya? Hohoho … memang sih tidak sampai memaksa saya untuk menggoreng kerupuk, tetapi tentu saja patut dipikirkan untuk menambah kaleng kerupuk.

Maka sejak minggu lalu, saya sudah memesan satu lagi kaleng kerupuk kepada si abang tukang kerupuk, jadi kami melanggani 2 kaleng kerupuk dong. Abangnya sampai mesem-mesem, dan katanya ngalahin warteg aja. “Terserah dah bang, daripada pada nyariin kerupuk, bukannya abang juga untung kalau saya melanggani 2 kaleng dan 2 – 2 nya selalu kosong setiap mau diisi?” Hehehe

Ternyata mendapatkan kaleng kerupuk kosong tidak semudah yang saya kira. Si abang sempat menunda menghadirkan 1 kaleng lagi sakign langkanya kaleng kerupuk yang kosong. Dan baru kemarin, kaleng kerupuk yang satu lagi tersedia dan langsung dong diisi sesuai permintaan mau yang COKLAT saja! Jadi kami punya 2 kaleng kerupuk yang isinya 1 1/2 kaleng kerupuk coklat, 1/2 nya lagi warna putih kriwil-kriwil itu lho.

Apa sih bedanya yang coklat dan putih kriwil-kriwil itu, Ni? Sepertinya sih yang coklat lebih gurih yah, apalagi kata si abang itu memang diimpor langsung dari Cirebon. Berbeda dengan yang putih, yang memang mereka goreng sendiri. Well, jangan bicara tentang kesehatan yah, karena pasti langsung mau ngomongin soal minyak bla bla … :D Mari kali ini saja kita menikmati panganan tidak sehat ini hehehe Sempat saya tidak percaya ketika si abang bilang kerupuk coklat diimpor dalam keadaan sudah digoreng dari Cirebon, sehingga saya tanya dong bagaimana membawa kerupuk itu ke Jakarta? Katanya sih pakai truk?

Menurut kalkulasi saya, sepertinya kurang masuk diakal, tapi saya tidak punya bukti, dan tidak sempat mencari fakta yang lain sehingga ya percaya saja deh, yang penting kerupuknya ada walau seringnya kosong karena telat dikirim dari Cirebon, begitu selalu alasan si abang ketika mengisi kerupuk tanpa si coklat. Hitung saja berapa biaya bensin, supir dan sewa truk untuk mengirim kerupuk yang harga beli satuannya tidak sampai 500 perak ini??? Tapi ya sudahlah, tidak penting juga kan :D

Jadi, sohibloger suka kerupuk yang coklat atau putih? Ada yang berlangganan kerupuk juga seperti kami tidak ya? :D  

gambar pasti dari gugel dong :)

Pengalaman Pertama : Menjamu Tamu Jauh

“……., we left tonight. Hope to see you soon.” itu adalah kalimat penutup dari email yang ku terima dari In Mee hari itu. In Mee, adalah seorang Ibu dengan sepasang anak yang sudah menjadi sahabat (maya)ku dalam 2 tahun terakhir. Sebelumnya dia berlibur seorang diri ke Indonesia, tapi kali ini dia datang bersama rombongan kecil. Dia akan mengajak kedua anaknya, dan anak laki-lakinya yang sedang duduk di bangku SMP waktu itu akan mengajak serta 2 orang temannya pula. Selain itu, In Mee juga  mengajak teman perempuannya nya yang punya 1 putri.

Wew …! Saya bakal sibuk kali ini. Jika pada 2 kali kedatangannya sebelumnya hanya mengantar dia seorang berlibur ke beberapa tempat di pulau Jawa, dan tak ada kesulitan yang berarti dong. Tapi kali ini pasti berbeda, semoga saja nanti semuanya bisa berjalan lancar. Hotel dan mobil rental semua sudah dikonfirmasi. Tinggal menanti kehadiran mereka saja. Rumah pun sudah ditata rapi dan bak kamar mandi juga sudah dikuras, sprei sudah diganti, pokoknya semua sudah siap.

Ya, saya harus menata rumah yang baru berapa bulan saya sewa, karena dari seminggu masa liburan mereka, ada rencana menginap di rumah mungil ini karena mereka ingin merasakan sensasi tinggal di rumah penduduk. Sebetulnya saya sangat tidak yakin mereka akan bisa bertahan di rumah yang kondisinya jauh dari bangunan baru. Tapi In Mee bersikeras bahwa semua akan baik-baik saja, dan saya tak perlu terlalu khawatir tentang kenyamanan, apalagi keamanan. Dia juga suaminya begitu percaya bahwa mereka akan aman jika didampingi oleh saya setiap berlibur di Indonesia.

Singkat cerita, keesokan harinya mereka tiba di Jakarta dan kami berlibur bersama. Setelah beberapa hari menginap di hotel, tibalah saatnya mereka boyongan ke rumah saya. Inilah momen yang paling mendebarkan bagi saya. Tak sabar menanti komentar mereka. Dan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak menyenangkan, saya tetap memesan kamar hotel yang akan saya batalkan pabila sahabat saya dan keluarganya ternyata betah.

Ini adalah pertama kalinya saya menerima tamu, tamu asing pula, tidak tanggung-tanggung sekali datang bertujuh pula, wajar dong jika kecemasan melanda diri ini? Cemas akan nyamuk, cicak dan kecoa. Cemas akan udara panas, karena cuma punya kipas. Campur aduk deh rasanya. Ajaibnya mereka santai saja, bahkan excited, apalagi ketika taxi yang kami tumpangi memasuki daerah Warakas. Mereka sibuk bertanya ini itu sepanjang perjalanan dan berulang kali bertanya, “masih jauh rumahnya?” Rupanya mereka sudah tidak sabar untuk melihat rumah mungil saya.

Dalam berkomunikasi kami ada sedikit kesulitan, karena yang fasih berbahasa Inggris cuma In Mee, temannya dan anak-anak itu cuma mengerti sedikit sekali kosa kata dalam bahasa Inggris.  Tiga anak remaja yang ganteng itu lebih lumayan ketimbang 2 putri kecil mereka, yah sepatah dua kata bisalah mereka, tapi kalau sudah panjang-panjang ya In Mee harus siap jadi penerjemah :)

Rumah saya cuma punya 2 kamar tidur, dan 1 kamar mandi; 1 kamar tidur dipakai saya sendiri, yang 1 lagi dipakai duo ibu dan putri kecil  mereka, nah yang ganteng-ganteng itu ditaro di mana? Ya sodara-sodara, ruang tamu disulap jadi tempat tidur mereka, beralaskan tikar dong. Wong saat itu saya belum punya karpet lho :D Tidak ada kelambu juga.Selama 3 hari menginap di rumah saya, menghasilkan bentol-bentol merah di wajah, kaki dan tangan. Yang ketika datang mulus menggemaskan, pas mau pulang jadi bopeng-bopenglah pokoknya. Begitupun, mereka sungguh-sungguh model tamu yang sangat tahu diri, tidak manyun, tidak ngedumel, atau mungkin ngedumel sama mama-mamanya, hanya saja dalam bahasa Korea sehingga saya tidak mengerti … hahaha …

Yang paling heboh adalah ketika anak perempuannya menjerit ketakutan ketika melihat cicak yang merayap dengan santainya di dinding kamar tidur, dinding dapur, dinding kamar mandi, juga di ruang tamu. Mau bagaimana lagi, buat orang Indonesia serumah dengan cicak sudah wajar bukan? Jadilah saya menjelaskan bahwa cicak itu adalah sahabat, karena cicak makan nyamuk, biar kita tidak digigitin nyamuk :D Tetap dong anak kecil itu tidak bisa terima … tapi tidak mungkin juga ‘kan saya bikin aturan baru melarang cicak datang sebelum tamu saya pulang?

Kehebohan yang lain adalah ketika mereka bertujuh mau plesir ke pasar tradisional, dan tidak tanggung-tanggung saya ajak ke Pasar Warakas, yang dari satu pasar ke yang satunya ada kali yang airnya hitam di tengahnya, yang diseberangi dengan getek. Eh ada yang tau getek ‘kan? Mereka begitu excited. Jepret sana jepret sini. Tidak peduli dengan tatapan heran para pedagang di pasar. Dan saya pun jadi ditanyai macam-macam *dikira bawa artis, abis ada 3 abege ganteng sih hahaha* Tapi secara keseluruhan, saya senang bersama mereka, karena mereka bisa menimpali keramahan khas Indonesia di pasar atau dimanapun selama tinggal di rumah saya. Walau tidak paham bahasa masing-masing, tapi senyum manis tak pernah lekang dari bibir merah pemuda ganteng itu. *maaf ya, ingatan saya memang lebih kepada pemuda-pemuda ganteng ini hahaha*

Kami juga menjajal rasa naik angkot, bajaj, juga becak. Justru ketika kami naik taxi kehebohan dan kepanikan baru muncul. Ini terjadi pada hari terakhir, di mana sengaja pulang dari plesir naik taxi, dan taxi itu mau dipakai sekalian nge-drop mereka ke bandara. Karena kami ber-8 terpaksa dong pakai 2 taxi, nah di sinilah masalah timbul. Sudah dari awal supir taxi diberitahu agar konvoi, karena yang tahu jalan cuma saya, eh yang satu nyelonong aja gitu. Alhasil, nyasar ‘kan! Nanya sama penumpang, mana mereka ngerti tinggal di mana, untungnya taxi yang nyasar isinya teman saya, sehingga walaupun dia panik, tapi ingat menelpon saya. Terpaksalah itu supir taxi saya pandu agar sampai ke alamat saya dengan selamat. Penumpangnya? Sudah ketakutanFiuuhhh … sport jantung dah ah :D

Mereka sungguh anak-anak yang manis, satu per satu memberikan bingkisan yang ternyata telah mereka persiapkan untuk saya sebelum berangkat ke Indonesia. Padahal tanpa bingkisan pun hati ini sudah senang melihat mereka bersuka cita selama menghabiskan liburan di Indonesia. Mereka juga meninggalkan bendera Korea yang kecil yang bisa diletakkan di meja karena sudah ada tiangnya, sebagai tanda persahabatan dengan saya.

Jadi, buat kami, saya dan mereka, ini sungguh pengalaman pertama dan mungkin juga yang terakhir yang takkan terlupakan! Sayangnya, hubungan kami, saya dan InMee terputus sejak mereka pindah ke Kanada. Saya juga sudah lupa ceritanya bagaimana kami bisa tidak berhubungan lagi, semua seperti hilang begitu saja diberangus waktu. Dan sekarang, tiba-tiba saya merasakan rasa rindu yang membuncah tapi kemana saya harus mencari?

PS: Kisah nyata ini diikutsertakan dalam kontes Giveaway :P engalaman Pertama-nya Neng Una yang kriwil itu :D

Tetaplah bersamaku, Nurani!

Prihatin! Sedih! Marah! Campur aduk perasaan saya pagi kemarin, setelah melihat polisi jadi-jadian itu (paham ‘kan yang saya maksud dengan polisi jadi-jadian?) – yang jumlahnya lebih dari 20 orang itu – menghancurkan lapak pengusaha bengkel yang berlokasi di bawah jalan tol. Jika dilihat dari letaknya, tidak paham saya alasan mereka melarang mereka mencari nafkah di situ. Tidak ada bangunan permanen yang didirikan, cuma etalase kaca, dan peralatan bengkel seadanya. Tapi yang saya tahu memang bengkel dadakan itu ramai pengunjung, dan kebetulan pula orang yang bekerja di situ rajin nge-net di tempat kami. Entah dia pekerjanya entah pemiliknya. Yang jelas penampilannya rapi dan bersih, tidak terlihat seperti orang yang bergumul dengan oli dalam kesehariannya.

Anehnya, tak jauh dari tempat itu, ada bangunan kokoh dan permanen yang sengaja didirikan oleh yang tidak jadi-jadian, malah jadi markas lho, kayak udah ga ada lahan lain yang lebih pantas untuk dijadikan kantor. Juga ada pengusaha-pengusaha lain yang membuka lapak di sekitarnya, dan mereka tidak diapa-apakan dong! Saya ngedumel tidak keruan, rasanya sungguh tidak enak menjadi saksi ketidak adilan berlangsung di depan mata. Helloo…mereka itu cari makan dengan cara yang halal lhoooo … ??? Jika mencari uang halal saja dikejar-kejar bak penjahat seperti itu, dan sebaliknya jika maling beneran diperlakukan dengan terhormat?

Ok, jika memang mau menertibkan dan mengosongkan lapak atau bangunan yang ada di bawah jalan tol, tapi mbok yao sing adil toh?! Kok ada yang dibiarkan? Ada yang harus diusir? Persyaratannya apa sih agar tidak diusir? Duh, melihat segerombolan manusia jadi-jadian berseragam kecoklatan itu kok mereka seperti mau berperang dengan banyak orang, padahal lapak yang digusur cuma 1 lho????? Serem aja kan, horror ngeliatnya, seolah-olah yang mau diusir itu bak penjahat saja layaknya.

Sudah pergi kemanakah gerangan hati nurani? Takkah lagi tersisa barang secuil? Lalu seperti apakah singgasana hati yang tak lagi bertahtakan tiara NURANI????

Gambar dari sini.

Gratis, Beneran???

Kabarnya di beberapa bagian ibukota ada hujan dan petir? Benarkah? Tapi di sini ga ada lho. Ada sih, tapi lokal :D

Ceritanya medio Oktober kemarin ada perusahaan publisher game on line yang launching game terbarunya di Blitz – MOI, dan mereka mengundang pemilik warnet yang ada di daerah Utara. Excited dong, apalagi ada acara nobar gratis, X-Men pula, ada door-prizenya katanya. Ketika acara nobar usai dapat informasi tentang BILLING SYSTEM untuk warnet yang dikreasi sedemikian rupa dengan tujuan memudahkan teknisi warnet dalam memanage billing, patching game dan lain sebagainya. Kami sempat lost-focus, karena pikiran ini tertuju pada kata doorprize yang ada di undangan, namun sayangnya sampai pulang ga ada tuh pembagian doorprize. Yah sud tak apa, udah nonton gratis, dan pulang pun tidak pakai acara kelaparan :D

Surprisingly, mereka akan memberikan billing tadi secara gratis untuk semua pemilik warnet yang datang sore itu. Keren ga tuh?! Dan dengan memanfaatkan kemampuan bahasa Inggris saya yang patah-patah ini, saya mendapat kesempatan bagus untuk berbincang langsung dengan orang Korea, sepertinya sih pemilik perusahaan billing itu. Jadi tau deh apa kelebihan sistem billing yang mereka promosikan dibandingkan dengan billing yang pernah dan sedang kami gunakan.

Dengan wajah berbinar-binar kami pulang membelah malam. Keesokan harinya, seminggu kemudian, bahkan dua minggu telah berlalu, tetapi tidak ada follow up apapun lagi dari perusahaan billing itu. Sampai kemarin masuk email dari mereka yang mengundang kami kembali untuk datang ke pameran yang mereka adakan di Taman Anggrek awal November minggu depan. Saat itu juga email dibalas dengan menanyakan tindak lanjut janji gratis dan form yang sudah kami tanda tangani sore itu di MOI. But they still insist us to just come!

Beberapa menit yang lalu, salah satu officernya menelpon bermaksud menyampaikan undangan lagi, dan ditanya tentang penawaran gratis itu jadi atau cuma bluffing, dia malah menekankan pentingnya hadir di TA. Menyambarlah petir emosi, karena sebetulnya kami sudah paham kok, wong sudah bicara langsung, sudah dijelasin langsung lho, iki kok malah disuruh denger lagi. Kareppe opo to? Kalau memang tidak jadi gratis yo wes, tinggal bilang saja beres toh!

Fortunately, pada pertemuan yang lalu, kami sempat mengambil foto bersama orang Korea itu, semoga dia masih ingat semua pembicaraan kami, karena saya masih ingat aura kagetnya ketika dengan spontan saya berani bilang software billing yang dia jual kemahalan hehehe .. walaupun kalau mau jujur engga mahal-mahal amat kok dengan semua kemudahan yang ditawarkan sistem billing buatan mereka yaitu  150K per pc, tapi berhubung kami sudah dijanjikan GRATIS lho, mosok mau mbayar? Sudah tanda tangan pula. Cuma apesnya cuma mereka yang pegang tanda tangan kami :(

TRUST is the most important in doing business – begitu kalimat penutup saya di email yang saya kirim ke mereka baru saja, semoga mereka memegang janji yang telah diumbar malam itu, bukan propaganda kosong belaka yang akibatnya tentu kami takkan percaya lagi dengan mereka dan partner yang menggandeng mereka dalam acara itu.

gambar dari gugel dong.

Tentang PERSIAPAN

Ini postingan emak-emak banget :D Setelah membaca postingan mba Imelda tentang frozen vegetables, dan terakhir tentang daun bawang yang katanya lagi mahal di sana, sementara di sini harga daun bawang sih murahlah, 2000 saja dapat segenggam, tapi tetap saja tidak suka melihat daunnya menguning dan tak terpakai karena didiamkan beberapa hari di kulkas.

Demi memenuhi rasa penasaran saya, maka beberapa hari yang lalu saya mengiris cukup banyak daun bawang dan menyimpannya di dalam freezer. Ternyata, saya menyukainya, karena memudahkan banyak pekerjaan. Ketika membuat telur dadar, tidak perlu ndadak ngiris daun bawang lagi, begitu juga urusan memasak lainnya yang membutuhkan taburan daun bawang. Gampang dan cepat!

Jadi ini melulu tentang PERSIAPAN ya?! Sejak rajin nonton acara Masterchef US, saya jadi ngeuh dan lebih memperhatikan pada kata PREPARATION. Sebuah kata dalam keseharian sudah pasti tak asing lagi dong. Apalagi dalam mengerjakan atau melakukan sesuautu sudah pasti akan ada tindakan Preparation a.k.a persiapan terlebih dulu. Setiap aktivitas membutuhkan persiapan, hanya saja ada yang sebentar ada yang lama.

Bahkan melakukan hal terkecil sekalipun, selalunya harus ada persiapan. Semisal mau minum saja pun, berikut adalah persiapannya.

1. kita harus berjalan dapur atau tempat penyimpanan gelas,
2. memilih gelas yang mau dipakai,
3, berjalan ke dispenser
4. Memilih air panas atau dingin?
5. Menekan tombol agar air terisi ke dalam gelas
6. Mengangkat gelas ke arah mulut
7. Menempelkan bibir gelas ke bibir sendiri :D
8. Memasukkan air ke dalam mulut
9. Mengulum air sejenak
10.Menelan air.

See….?! 

Tentu saja tidak semua bisa difrozenkan, tapi setidaknya demi meringkas waktu di dapur, maka mulai minggu ini, saya mengkhususkan 1 hari untuk persiapan bermacam-macam sayuran dan bumbu-bumbu yang sekiranya bisa diolah dan disimpan, dan hari berikutnya tinggal GO SHOW :D Selain meringkas waktu, saya juga menjadi lebih fokus dalam memasak. Masih ingat tentang saya yang lost-focus ‘kan? Hehehe …

Gambar diambil dari gugel dong :) *males turun untuk fotoin daun bawang padahal mau published sekarang :D *

 

Celengan Mamak

Ada apa dengan celengan mamak? Hehehe .. saya mau cerita tentang kegiatan celeng mencelengnya mamak yang rupanya menurun plek pada anak perempuannya ini. Ya, mamak memang paling rajin menabung. Menabung apa saja, ya recehan, ya emas, tentu juga menabung amal kebajikan :) Tapi saya cuma cerita tentang celengan recehan mamak, yang kenangannya masih tersimpan rapi dalam ingatan, dan sepertinya takkan lekang dimakan jaman *halah*.

Mamak paling suka dibelikan biskuit KongGuan, suka bukan karena isinya, tapi suka karena membayangkan bisa mengalih-fungsikan kaleng KongGuan jadi celengan jika isinya sudah kosong. Mamak pasti menyuruh kami lekas menghabiskan isi kaleng biskuit itu agar kalengnya bisa dikuasai oleh mamak. Ya, isinya buat kalian, kalengnya buatku, begitulah kata mamak dulu. Kami sih tidak peduli, wong tidak sabar juga menabung di kaleng sebesar itu, apalagi bisa dibuka tutup, kami tidak yakin bisa awet isinya hehehe

Beda dengan mamak, walaupun kaleng biskuit itu bisa dibuka tutup, tapi mamak tidak pernah tergoda mengambil isinya. Dengan istiqomah mamak terus menyimpan recehannya di sana sampai satu ketika, saya masih ingat waktu itu mamak ingin sekali pulang kampung, dan dengan harap-harap cemas kami membantu mamak menghitung celengan KongGuannya. Taraaaa …. ternyata cukup untuk membeli tiket kapal laut pergi dan pulang, bahkan mamak juga jadi punya uang saku lebih untuk di kampung. Itu adalah salah satu momen paling membanggakan bagi mamak, karena bisa pulang kampung tanpa mengutak-atik anggaran rumah tangga yang dikelolanya dengan sangat baik.

Ya, mamakku memang seorang akuntan yang sangat handal, dalam banyak kesempatan pundi-pundi yang entah disimpan di mana saja oleh mamak berhasil menyelamatkan kebutuhan keluarga setiap dibutuhkan. Ada efek buruknya juga, yaitu kami tidak pernah percaya jika mamak bilang tidak punya uang, karena kami yakin mamak pasti punya simpanan, karena kami juga yakin ‘bukan mamak’ banget deh kalau sampai tidak punya uang simpanan hehehe

Terbukti kok, ketika Kopaja bapak turun mesin dan butuh uang dalam jumlah besar, bapa sudah pusing tujuh keliling karena selama ini taunya di catatan mamak itu uang cuma sekian, tapi mamak dengan santainya mengeluarkan pundi-pundi yang cuma dia seorang yang tahu tempat menyimpannya … hahaha bapa masih terkecoh juga walau sudah belasan tahun menikah dengan mamak.

Saya haqqul yaqin, keranjingan saya menyimpan uang recehan dalam celengan  karena alam bawah sadar saya telah merekam dengan sangat baik kegiatan mamak yang satu ini. Hanya saja, dulu saya tidak yakin akan segiat sekarang :)  Tapi tetap lho, saya belum bisa percaya untuk nyeleng di kaleng biskuit *LOL* kuatir aja ada yang nggerogotin isinya tanpa sepengetahuan saya hahaha … *pelit*

Bagaimana dengan sohibloger? Punya pengalaman yang menakjubkan dengan celengan? Ceritain yuk … :)

 

Gambar dari Gugel.

CELENGAN

Siapa yang masih rajin nyeleng hari gini? *cung*
Terus, kira-kira sekarang punya berapa celengan?
Terus, celengannya bentuknya apa? Terbuat dari apa?
Pernah dapet berapa dari hasil nyelengin recehan itu?

Hari ini saya mau cerita tentang rutinitas saya menyimpan uang di celengan. Sejak kecil saya kenalnya dengan kata NYELENG bukan nabung, tapi saya tahu kok kalau nabung adalah kata sebenarnya dari nyeleng. Saya juga heran kenapa malah akrabnya dengan kata “nyeleng” dan bukan “nabung”. Ajaibnya, buat saya kata ‘nabung’ itu hanya disebut kalau mau menyimpan uang di bank, saya tidak pernah terpleset mengatakan nyeleng jika mau setor uang ke bank begitupun sebaliknya :D *ribet sendiri hahaha*

Saya sudah pernah punya bermacam-macam celengan, dari yang terbuat dari tanah liat, kaleng dan paling sering ya dari plastik. Dulu punya celengan ayam sudah keren, tapi saya masih ingat lho cerita tentang tuyul yang suka mengambil uang jika disimpan di celengan yang terbuat dari tanah liat. Saya sih tidak merasa percaya, tapi anehnya saya tidak pernah cukup punya nyali untuk punya celengan dari tanah liat hahaha aneh ga sih?!

Jaman masih sekolah, punya celengan kaleng bermotif hello kitty dan sejenisnya itu sangat membanggakan, soal isi celengannya banyak atau tidak lain soal, yang penting celengannya keren. Tahukah anda apa yang membuat celengan itu keren selain motifnya? Celengan itu ada GEMBOK-nya!!! Hahaha …

Paling sering tentulah celengan plastik, karena memang paling banyak dijual dan paling mudah ditemukan di pasaran. Dulu pernah punya yang bentuknya ikan dan kucing, yang ketika sudah penuh celengan dan ketika banjir besar tahun 2007, 2 celengan itu raib :( Dalam keadaan penuh sepertinya sih mustahil hanyut ya? Tapi untuk menuduh yang menjaga rumah yang mengambil, kok tidak pantas juga hehehe ….

Dari 3 jenis celengan ini, saya paling suka yang terbuat dari kaleng dan bergembok, karena bisa diisi ulang terus. Sedangkan kalau dari tanah liat atau plastik ‘kan terpaksa dibuang jika isinya sudah diambil. Pernah saya coba menambah celengan plastik agar dapat dipakai lagi, tetapi kok tidak indah dipandang mata ya :D Sampai saya diledek dibilang medit, padahal harga celengan plastik yang besar saja cuma lima ribu perak *LOL*

Sejak itu, saya beli celengan yang biasa saja, yang bentuknya seperti gentong itu lho, dan biasanya saya beli yang paling besar. Sejak di warnet, saya memang dapat recehan setiap hari. Dulu kesannya receh kok sepele yah, seolah tidak berarti banget, tetapi berangkat dari keisengan saya mengumpulkan recehan 100, 200, 500 dan 1000 ternyata hasilnya menakjubkan. Untuk 100 dan 200-an selalunya bisa dipakai buat belanja di minimarket, dan kasirnya dengan senang hati menerima karena memang membutuhkan. Bahkan sering diminta jika saya belanja tapi menggunakan uang kertas. Sepertinya jika mereka melihat wajah saya sudah identik dengan recehan itu ‘kali ya hahaha Sementara untuk pecahan 500 dan 1000 saya bisa mengumpulkan sampai 6jt lho selama 1tahun. Takjub ga? :D

Sekarang saya mulai menabung lagi, 1 sudah penuh, tapi belum saya bongkar, sengaja dibiarkan dulu, rencananya mau dibongkar nanti menjelang bulan Maret, maksudnya sih buat modal jalan-jalan di Bali …*ups* ketahuan deh mau jalan-jalan, dengan catatan itupun kalau warnetnya bisa ditinggal, maksudnya hati saya bisa tenang meninggalkannya ‘gitu.

Celengan tinggal kenangan :)

Deg-degan juga nih menunggu bulan Maret, kira-kira dapat berapa banyak ya nanti dari hasil celeng menceleng ini? Kira-kira bisa mbayar suite room di Bali ga ya *ngayal*. Atau ada yang mau nyumbang recehan agar celengan saya cepat penuh? *ngarep* Atau yang mungkin mau ngasih celengan kaleng yang ada gemboknya? Pasti saya terima dengan senang hati lho :D *edited*

Inspirasi dari Mba Tarry

 

 

Minyak Kedele & MSG

Masih tentang bapa dengan kegiatan memasaknya. Dalam rangka mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi, bapa sudah berpantang menggunakan minyak goreng biasa. Sempat terkecoh juga dengan merk minya goreng B*rco yang mahal itu, eh ternyata setelah dibandingkan Bapa dengan minyak Happy Salad Oil yang terbuat dari kacang kedelai, ternyata beda jauh. Ketika bapa memasak sambal dengan minyak goreng biasa bahkan yang bermerk B*rco sekalipun, dan menginapkan sambal itu di dalam kulkas, maka sambalnya akan keras, harus menunggu beberapa waktu agar bisa mencair.

Nah, sejak menggunakan Happy Salad Oil, terlihat perbedaannya, sambal yang diinapkan dikulkas tetap seperti sebelum dimasukkan kulkas. Ketawa saya mendengarkan bapa yang sedemikian perhatiannya terhadap makanan sehatnya. Bapa juga menerangkan tentang kandungan MSG pada kecap, dan semua penyedap rasa itu, juga bumbu-bumbu instan. Bapa bahkan melarang kami menggunakannya. Ei buseeeettt… :D

Sempat tidak percaya sih, mosok kecap dikasih MSG, dan ketika saya periksa kecap di rumah, ealah beneran ada lho :( ckckck … tapi, tiba-tiba otak saya mencoba mencari pembenaran. Masih wajar ga yah kandungan MSG yang ada di bumbu-bumbu itu? Jika tidak, kenapa diloloskan oleh POM?

Jujur saja, dalam memasak saya masih menggunakan saos tiram, kecap, juga bumbu penyedap, tentu saja dalam jumlah yang sekedarnya. Terkadang saya juga menggunakan bumbu-bumbu instan jika buru-buru atau malas meracik bumbu sendiri. Lalu, jika semua itu membahayakan kesehatan, gimana dong? Bingung juga saya jadinya :(

Ada yang bisa memberi pencerahan?

 

gambar dari sini.

HUKUM RIMBA?

Mau update tentang rumah yang diserobot orang lain itu ah :)

Tak critani kronologisnya dulu yah. Ketika rumah yang saya beli itu banknya dilikuidasi dan sempat terbengkalai selama beberapa tahun, tiba-tiba dapat pemberitahuan bahwa kalau masih menginginkan rumah itu, dipersilahkan untuk meneruskan cicilan atau boleh juga melunasi. Berhubung kondisi rumahnya sudah tak bisa ditempati, perlu renovasi besar-besaran yang artinya butuh dana yang lumayan bikin kantong boncos juga, maka kami putuskan untuk mencicil saja. Bulan Juli kami melihat ke lokasi, tidak ada tanda-tanda orang lain menguasai rumah itu. Bahkan kami sempat terlibat pembicaraan dengan tetangga depan rumah mengisyaratkan bahwa jika memungkinkan kami mau membeli lahan sebelah rumah agar lebih luas.

Dan bulan September kemarin dapat kabar bahwa sudah ada yang rajin datang ke rumah itu, bahkan berangsur-angsur menumpuk bahan bangunan. Tetangga depan rumah berbaik hati menghubungi kami dan menceritakan kejanggalan yang dia lihat. Lalu kami meluangkan waktu untuk menemui si pembeli rumah, dan melihat kelengkapan surat-surat yang dipegangnya. Kami tidak mau berpolemik dengannya, karena sepertinya bapak itu adalah korban dari orang-orang yang merasa bisa mengangkangi hukum sa’enak udelle :(

Beberapa hari setelah postingan ini, kami mendatangi kantor pelelangan negara yang di daan mogot dengan bekal dari kerabat yang mengerti hukum, agar kehadiran kami di sana dicukupkan untuk mengumpulkan informasi saja.

“Kakak tidak usah marah-marah nanti di sana ya. Kalem aja. Kumpulkan saja informasi sebanyak-banyaknya. Kalau kakak marah-marah duluan, biasanya mereka langsung defense.” begitu wejangan adik sepupuku itu.

Memanglah dunia ini panggung sandiwawara. Dalam mencari kebenaran pun sebaiknya bersandiwara, khususnya bagi  saya yang temperamental ini, itu kalau tidak mau  merugikan diri sendiri. Dan saya senang karena misi berhasil dijalankan, walau jadi panas dingin demi mengendalikan darah yang menggelegak. Hampir saja terpancing ketika petugas itu kelihatannya enggan mengeluarkan berkas saya, tapi dengan mempertahankan senyum termanis, saya terus mengumbar kalimat-kalimat diplomatis sampai akhirnya beranjak juga dia mencari berkas itu di lemari besi di belakang kami. Asumsi saya mestinya tak perlu waktu lama, karena nomor berkas sudah tertera di kertas panggilan, dan sempat saya sebutkan tadi. Tapi memang petugas itu sengaja berlama-lama, seperti menguji kesabaran kami.

Kemudian dia kembali dengan map hijau di tangan sambil mempermasalahkan alamat yang berbeda dengan KTP. ealah pak, namanya juga kontraktor ya pindah ke sana ke mari, wajarlah alamat di KTP tidak sama dengan KTP waktu beli rumah ini. Lalu, ketika saya meminta selembar surat saja sebagai bukti bahwa saya memang sedang melakukan pencicilan seperti yang didapatkan teman saya, petugas itu bilang bahwa Kepala Kantornya baru diganti dan kebijakannya sekarang ini tidak bisa lagi mengeluarkan surat apapun. “Kalian cicil saja, pegang buktinya, itu udah cukup kok!”

Baiklah! Kami berpamitan dan di luar kami atur strategi baru. Dan teman saya masuk sendirian menemui petugas itu lagi.

“Maaf ya pak, cuma mau tanya, teman saya tadi sih tidak tahu, kalau rumahnya udah ada yang ngaku beli lho. gimana tuh pak?”

“ya namanya juga udah sekian lama bu, coba tanya temen ibu, sapa tau dia lupa pernah menjual rumah itu ke orang lain. lagian, kalian juga udah punya rumah yang lain, udah sih, ikhlasin aja rumah itu. kasian juga sama yang beli, sekalinya pengen punya rumah kok malah begini.”

“Hlo? salahnya bapak dong kenapa menjual rumah orang ke bapak itu. apalagi bapak tau dia orang susah. kenapa malah nyuruh teman saya yang harus ikhlasin. jadi gimana nih urusannya?”

“terserah, siapa yang duluan melunasi, dia yang dapet rumah itu. gitu aja. lagipula, si pembeli juga udah sah kok menghaki rumah itu karena suratnya dikeluarkan notaris pemerintah. saya kasi tau ya bu, klo pun ibu lunasi, blom jelas juga kok surat2nya.” what??? katanya ini negara hukum. tapi kok siapa cepat dia dapat? hukum rimba dong namanya??? piye to bapak iki :(

“blum jelas gimana pak? hla klo ga jelas ngapain kami disuruh nyicil begini dong? bapak plin plan nih omongannya!” temanku itu mulai tersulut emosinya.

“ya udahlah bu, begitu aja, klo sudah lunas bawa buktinya ke sini.”

Gubrak! Petugas apa preman sih dia? Ucapan apa itu orang disuruh mengikhlaskan rumah yang dibeli dari uang sendiri, yang dulunya boleh ngumpulin seperak dua perak??

Sehari berselang, tiba-tiba komplotan petugas itu menelpon, dan minta maaf, serta minta waktu untuk mengosongkan rumah kami. Dia masih mencari rumah lain untuk diberikan pada pembeli itu sebagai gantinya. Hellooo???? What does it mean??? Terbersit rasa kasihan pada pembeli ini, apalagi orangnya awam hukum banget.

“Bu, tenang aja, saya cuma minta waktu, jadi ga usah rame-rame, rumahnya akan saya kosongkan, jadi rumah itu tetap milik ibu.”

“Ok pak, secepatnya ya, sebelum teman saya itu tau.” begitu teman saya merespon, kami masih berpura-pura kalau saya sebagai pemilik rumah belum mengetahui kejadian ini.

Sekarang kami masih menunggu itikad baik mereka menyelesaikan urusan ini tanpa melibatkan pihak berwajib, tapi jika ucapan kemarin itu sekedar mengulur-ulur waktu saja, yah berarti dengan sangat terpaksa urus-urus deh :(

Doakan kami ya :)

 

gambar dari sini.