Pagi-pagi mau ke pasar, datang seorang laki-laki mengaku dari Binmas/Pokdar mau mendata warnet, sempat tidak curiga. Tapi melihat penampilaannya yang mengenakan celana sedengkul, jadi weh menanyakan mana surat tugasnya? Eh tidak ada katanya. Kok bisa? Dan yang membuat saya semakin bertanda tanya saya melihat di nomor 1 dan 2 adalah warnet besar di Sunter. Lalu ketika saya tanya arah mana dia datang, sebetulnya dia sudah melewati setidaknya 4 warnet. Sehingga saya menanyakan kenapa warnet yang dia lewati tidak didata sebelum ke tempat kami? Jawabnya : nanti ke sana kok bu. Loh? Kenapa begitu? Pendataan tidak berlanjut karena saya bersikeras menanyakan surat tugasnya.
Wira wiri ke kiri dan ke kanan, eh dipanggil sama asisten, katanya ada lagi yang datang mau mendata seperti yang tadi. Sekarang saya langsung menanyakan surat tugasnya, apalagi dia mengaku dari P*lres setempat. Kasusnya sama, di form yang saya lihat itu kami adalah warnet ke-3. Ada apa ini? Ketika saya tanya tujuan pendataan ini, katanya cuma mendata saja. Kok gitu? Dimana-mana kalau pemerintah mendata, seperti petugas dari kelurahan pernah mendata, maka dia menunjukkan surat tugasnya. Ini mengaku dari P*lres, tapi katanya lupa bawa surat tugas? Nah lo? Dia menunjukkan surat tanda pengenal dia sebagai seorang P*lisi. Saya catat saja nama dan nomor anggotanya. Oknum yang ini rada ngotot menanyakan siapa pemiliknya, dan spontan saya sebutkan nama sepupu yang berseragam sama dengannya.
“Oh, ini yang tugas di Koja ya bu?”
“Bukan pak, di komdak, bapak cari aja nama itu. pasti terdaftar, karena dia salah satu lulusan terbaik ketika era cang ato mau berakhir. mungkin saat ini dia melihat bapak lewat cctv itu, mungkin juga tidak. nanti saya beritahukan nama bapak ke dia, agar tau menghubungi bapak di kesatuan mana.”
“ya bu.” dan tanpa ba bi bu dia langsung pamit.
Dan saya? Gondok! Walaupun sekarang tidak ada apa-apa, otak saya langsung mikir macam-macam. semoga kekuatiran yang bersliweran di kepala ini adalah sesuatu yang tidak akan menjadi kenyataan. Bagaimana tidak? Ketika pertanyaannya adalah berapa orang yang bekerj di sini *penanya pertama*, pikiran saya langsung waspada jangan-jangan ini geromboloan perampok yang sedang memata-matai. Naudzubillah …
Di saat yang bersamaan, dapat telpon dari teman memberitahukan bahwa rumah yang di Tangerang kok ada penghuni baru? Padahal saya tidak pernah menjual rumah itu kepada siapapun. Wong saya sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah itu. Memang sih rumah itu sempat kosong, tapi ‘kan tidak berarti pak er we setempat berani memalsukan tanda tangan saya dengan membuatkan surat kuasa dan menjual rumah saya itu. Duh! Jadi makin cupet aja niy kepala rasanya.
*tarik napas dalam-dalam*
Saya mencoba mensugesti diri sendiri bahwa apa yang sedang terjadi dan akan terjadi, entah itu yang buruk sekalipun, saya pasti bisa melaluinya, sebagaimana saya melalui hal-hal baik yang diberikan Tuhan sebelum ini. Saya kuat karena Tuhan memberi kekuatan, yang penting saya bisa menahan diri untuk bersabar menyelesaikan urusan ini dengan kepala dingin.
*tarik napas dalam-dalam lagi*
Fiuuhh….! Semoga apapun ini adalah firasat yang baik, aamiin! It’s still a good Friday, isnt it?