Firasat?

Pagi-pagi mau ke pasar, datang seorang laki-laki mengaku dari Binmas/Pokdar mau mendata warnet, sempat tidak curiga. Tapi melihat penampilaannya yang mengenakan celana sedengkul, jadi weh menanyakan mana surat tugasnya? Eh tidak ada katanya. Kok bisa? Dan yang membuat saya semakin bertanda tanya saya melihat di nomor 1 dan 2 adalah warnet besar di Sunter. Lalu ketika saya tanya arah mana dia datang, sebetulnya dia sudah melewati setidaknya 4 warnet. Sehingga saya menanyakan kenapa warnet yang dia lewati tidak didata sebelum ke tempat kami? Jawabnya : nanti ke sana kok bu. Loh? Kenapa begitu? Pendataan tidak berlanjut karena saya bersikeras menanyakan surat tugasnya.

Wira wiri ke kiri dan ke kanan, eh dipanggil sama asisten, katanya ada lagi yang datang mau mendata seperti yang tadi. Sekarang saya langsung menanyakan surat tugasnya, apalagi dia mengaku dari P*lres setempat. Kasusnya sama, di form yang saya lihat itu kami adalah warnet ke-3. Ada apa ini?  Ketika saya tanya tujuan pendataan ini, katanya cuma mendata saja. Kok gitu? Dimana-mana kalau pemerintah mendata, seperti petugas dari kelurahan pernah mendata, maka dia menunjukkan surat tugasnya. Ini mengaku dari P*lres, tapi katanya lupa bawa surat tugas? Nah lo? Dia menunjukkan surat tanda pengenal dia sebagai seorang P*lisi. Saya catat saja nama dan nomor anggotanya. Oknum yang ini rada ngotot menanyakan siapa pemiliknya, dan spontan saya sebutkan nama sepupu yang berseragam sama dengannya.

“Oh, ini yang tugas di Koja ya bu?”

“Bukan pak, di komdak, bapak cari aja nama itu. pasti terdaftar, karena dia salah satu lulusan terbaik ketika era cang ato mau berakhir. mungkin saat ini dia melihat bapak lewat cctv itu, mungkin juga tidak. nanti saya beritahukan nama bapak ke dia, agar tau menghubungi bapak di kesatuan mana.”

“ya bu.” dan tanpa ba bi bu dia langsung pamit.

Dan saya? Gondok! Walaupun sekarang tidak ada apa-apa, otak saya langsung mikir macam-macam. semoga kekuatiran yang bersliweran di kepala ini adalah sesuatu yang tidak akan menjadi kenyataan. Bagaimana tidak? Ketika pertanyaannya adalah berapa orang yang bekerj di sini *penanya pertama*, pikiran saya langsung waspada jangan-jangan ini geromboloan perampok yang sedang memata-matai. Naudzubillah …

Di saat yang bersamaan, dapat telpon dari teman memberitahukan bahwa rumah yang di Tangerang kok ada penghuni baru? Padahal saya tidak pernah menjual rumah itu kepada siapapun. Wong saya sedang mengumpulkan uang untuk membangun rumah itu. Memang sih rumah itu sempat kosong, tapi ‘kan tidak berarti pak er we setempat berani memalsukan tanda tangan saya dengan membuatkan surat kuasa dan menjual rumah saya itu. Duh! Jadi makin cupet aja niy kepala rasanya.

*tarik napas dalam-dalam* 

Saya mencoba mensugesti diri sendiri bahwa apa yang sedang terjadi dan akan terjadi, entah itu yang buruk sekalipun, saya pasti bisa melaluinya, sebagaimana saya melalui hal-hal baik yang diberikan Tuhan sebelum ini. Saya kuat karena Tuhan memberi kekuatan, yang penting saya bisa menahan diri untuk bersabar menyelesaikan urusan ini dengan kepala dingin.

*tarik napas dalam-dalam lagi* 

Fiuuhh….! Semoga apapun ini adalah firasat yang baik, aamiin! It’s still a good Friday, isnt it? :)

CATATAN BAPA

Dari kemarin suami ingin ke rumah bapa, di sana ada mesin jahit dan suami mau pinjam pakai. Tapi karena wiken itu warnet antriannya pasti panjang, maka baru tadilah kami menyempatkan diri ke sana. Baru sekian menit duduk, rupanya bapa mau pergi mengambil ban Kopajanya yang sudah selesai divulkanisir. Sambil menunggu bapa kembali, mulailah penyakit iseng saya kambuh, tangannya iseng nggeratak kertas/buku yang bertebaran di sekitar tempat tidur bapa. Tentu saja saya harus hati-hati karena tidak mau ketahuan juga kalau sudah ngegeratak hahaha dan mau tau apa yang saya temukan?

Pengalaman tadi tidak akan timbul kembali sebagaimana ditemukan! Seperti kesempatan yang tidak datang 2 kali, bukan?

Bapa adalah guru bagi saya! Papan tulis ini berisikan catatan jadual perawatan Kopaja satu-satunya milik bapa. Ganti oli mesin dan lain-lain itu semua terjadual rapi, dan bapa tidak pernah menunggu sampai satu onderdil rusak baru diganti, semuanya diganti pada waktunya, dalam keadaan rusak atau tidak, ya harus diganti. Oleh karenanya, jarang sekali Kopaja bapa tidak beroperasi karena rusak. Supir dan montirnya suka jengkel sendiri, karena biasanya mereka bekerja dengan orang lain untuk memperbaiki yang rusak. Tapi dengan bapa tidak sempat rusak sudah harus diganti :D

Cara ini bagus sekali, sehingga saya pun mengadopsinya untuk warnet, walaupun tidak sepenuhnya saya ikuti. Kami menyediakan cadangan harddisk, dan lain-lain, agar setiap saat rusak sudah ada gantinya, tidak perlu ndadak belanja dulu. Berbeda dengan bapa, yang sangat mengikuti aturan pakai. Misalnya : kekuatan kanvas rem itu 4bulan, maka 4 bulan mendatang rusak atau tidak ya harus diganti.

Menurut supir dan montir, sepanjang karir mereka, baru bertemu juragan model bapa saya ini, aneh katanya. Tapi bapa tidak sakit hati, toh yang merasakan keuntungannya bapa, daripada sampai rusak baru dibetulkan? Jadi pencegahan lebih baik daripada memperbaiki, kira-kira begitulah pegangan bapa.

Terus terang, ketika mulai menggeratak, tidak benar-benar ngegeratak sih, wong buku-buku itu menggeletak di dipan tempat bapa menonton tivi sama sekali tidak menduga akan menemukan tulisan ini di antara lembaran buku telpon lusuh milik bapa. Tulisannya bisa dibaca jelas ‘kan? Dan membaca tulisan ini pun perasaan saya jadi campur aduk tidak jelas. Rupanya dalam kesendirian bapa, ada juga saat-saat di mana dia bernostalgia sendiri, mengingat-ingat perjalanan hidupnya.

Apalagi membaca tulisan :“…………..adi ku inget2, reh tangisku”  = jika ku ingat-ingat, datanglah tangisku. Penasaran juga, apa yang membuat bapa ingin menangis? Perjalanan hidupnya? Bisa jadi, karena memang penuh onak dan duri.

 

Gambar rumah di atas saya ambil di papan tulis di rumah bapa yang digambar oleh si abang, dan tulisan REJA di sebelahnya itu adalah tulisan bapa saya. Memang bapa berencana untuk membelikannya rumah. Sejak bapak si abang berpulang, bapa merasa bertanggung jawab untuk menyediakan tempat berteduh bagi 2 cucunya itu, apalagi ibunya juga masih bertahan dalam kesendiriannya sudah 5tahun ini. Semoga saja, Tuhan memberi waktu yang cukup untuk bapa agar tercapai cita-citanya, aamiin!

Jadi, jika satu hari berkesempatan menyambangi rumah bapa saya, jangan kaget ya jika menemukan 2 papan tulis besar di ruang tamunya hehehe … jika 1 papan tulis untuk mencatat jadual ganti ini itu, maka papan tulis satu lagi isinya rupa-rupa, ada nama-nama orang yang meminjam uangnya, ada kata-kata mutiara karangan dia sendiri, terkadang ada juga komentar bapa tentang isu yang sedang hot di dalam negeri :D

Saat ini bapa sedang giat-giatnya menulis tentang silsilah keluarga besar kami, dan saya sudah membaca berlembar-lembar hasil tulisannya, semoga bapa berkesempatan menuntaskannya, aamiin!

Itulah oleh-oleh saya dari rumah bapa kemarin, kira-kira ada tulisan apalagi besok di papan tulis bapa ya?! :D

Masih tentang Giveaway

Alhamdulillah yah, Jumat kemarin (saya menulis episode ini hari Sabtu 17/09) – rumah internet yang baru sudah beroperasi, sesuai rencana banget, sesuatu banget ‘kan :P Belakangan ini, sering banget menemukan kata-kata khas milik penyanyi seksih ituh di beberapa blog dan beberapa status. Hebat juga dia yah, bisa jadi trendsetter hehehe …

Pada postingan saya kali ini adalah memberitahukan para sohibloger bahwasanya kerajinan tangan hasil karya ayah mertua saya yang mana sudah saya janjikan waktu itu di sini sudah njogrok sejak Lebaran. Hanya saja, kesibukan yang bertubi-tubi membuat saya tega tak menggubris kehadiran  mereka.

Ada tempat air mineral gelas dari bambu, tempat buah dari lidi, tudung saji dari bambu, jumlahnya  : 10. Semua ini hendak saya bagikan pada beberapa sohibloger yang kategorinya suka-suka saya, jadi keputusan ini tidak boleh diganggu gugat, apalagi sampai didemo. Tidak boleh itu ya :D Maka, berikut ini adalah nama-nama sohibloger yang kiranya sudi mengirimkan alamatnya ke inbox saya agar hari Senin nanti pengirimannya dapat diproses.

1.Kenapa Pak Mars?

Karena dia adalah bapak saya di dunia maya ini, yang sosoknya justru sudah lebih dulu ‘temenan’ sama suami dari jaman kapan tau deh. Selain itu, Pak’e jugalah yang bersemangat mendukung saya menyelenggarakan giveaway ini dengan cara ANTI BIASA khas Pak’e. Pastinya beberapa blogger sudah bisa menebak toh, ketika giveawaynya muncul seperti kemarin itu?!

2. Kenapa Pakde Cholik?

Karena dia adalah komandan BlogCamp yang unik dan sangat murah hati; murah hati berbagi ilmu, memberi kail, dan tentu saja hadiah hehehe yang mana saya sudah mendapatkan 3kali. Alhamdulillah yah :D

3. Kenapa Imelda?

Karena dia TOP GUEST STAR di blog  ini sampai hari ini :D Dan tentu saja, dialah blogger pertama yang saya berkesempatan untuk KOPDAR hehehe …

4.Kenapa Om Trainer?

Karena hari ini dia berulang tahun hehehe sebenarnya karena dengannya saya dapat memaknai betapa berartinya menit-menit yang berlalu selama 30menit. Sekaligus trainer ter-narsis :P yang juga jadi trendsetter, tuh buktinya kata-kata made in om Trainer banyak beredar juga ‘kan, sampai-sampai ada yang jadi judul malah :D

Saya pede habis bin tersanjung karena menemukan nama saya 2x di blogroll om trainer : Nike’s Dance dan Nique’s Picture. Berarti sedemikian istimewanya nicamperenique itu buat si om, iya kan .. iya kan? hihihi…

5. Kenapa Indobrad?

Karena blogger kawanua eh ambon manise inilah sosok yang secara tidak disadarinya telah memotivasi saya untuk terus menulis di masa-masa nubie banget dulu. Dia yang rajin mampir dan berkomentar, walaupun belakangan namanya hilang dari top 10 guest star, tapi saya maklum karena blognya sendiri juga jadi jarang update belakangan.

Dia pasti tidak pernah menyadari bahwa kehadirannya di sini dan komentar-komentarnya telah menumbuhkan semangat untuk terus menulis, you are blessed Om Brad :)

6.  Kenapa Daeng Gassing?

Seleblog satu ini juga bikin saya ge-er terketer-keter :D karena dia tulis begini di salah satu postingannya :  “Kalau ada pertanyaan, maka ada dua orang yang paling ingin saya temui di dunia nyata. Nic dan Giewahyudi. Kenapa ? Karena mereka berdua adalah pengunjung setia blog ini.” Untung saja setiap bewe saya pasti dalam keadaan duduk, coba jika berdiri, pingsan ‘kali? :D

7. Kenapa Abi Sabila?

Karena dia telah berusaha keras untuk memahami tulisan saya yang berjudul Kisah si Peuyeum :D Menghargai usaha Abi-nya Sabila yang ngoprek blog saya sejauh itu, dan tentu saja komentarnya tentang tulisan ini sangat mengena di hati :)

Niat hati sih ingin berbagi dengan semua peserta Giveaway kemarin, namun apa daya tangan tak sampai hehehe …

Akhir kata, terima kasih yang sedalam-dalamnya bagi persahabatan yang telah terjalin sampai hari ini, terima kasih atas pengertian para sahabat untuk membiarkan saya tetap tampak belakang selamanya? Hehehe …. dan yang namanya ada di atas, tolong kirimkan alamatnya via email yaaa …

 

Catatan : ckckck parah bener ya saya, mengumpulkan mood menyelesaikan satu tulisan aja butuh berapa hari tuh, tepat 10 hari ya hari ini? ampun dah ah!

Hot Weekend

Seorang sahabat tiba-tiba datang kemarin malam, dan minta ditemani ke salon langganannya yang berlokasi di Rusun Sindang. Agak heran juga, jauh-jauh dari komplek Citra Raya Cikupa kok mengejar ‘tukang potong’ rambut sampai ke tempat yang saya sendiri belum pernah ke situ, padahal jaraknya tidak terlalu jauh. Rupanya ini tukang potong favorit dia, yang entah berapa kali pindah tempat tapi dia selalu mengejar kemanapun sang tukang potong berada. Kerennya, kalau mau potong rambut pasti janjian dulu :D

Berhubung dia masih belajar menyetir mobil, jadi dengan senang hati saya pun ditenteng serta. Sebetulnya sudah ada pertanda awal, sahabat itu mau putar balik dan mau melewati jalan Yos Sudarso saja, karena saat itu malam minggu yang biasanya di beberapa perempatan pasti macet! Tapi karena keasyikan mengobrol jadilah terlupakan dan benar saja, perempatan pertama yang kami temui sudah stuck. Macet! Tidak jalan. Terlihat seorang pria berdiri di tengah jalan berusaha mengurai kemacetan. Mobil kami mau belok kanan, dan saya lihat ada mobil yang juga mau belok ke arah kami. Dan jika salah satu tidak mengalah maka akan menambah panjang kemacetan, sehingga karena moncong mobil kami sudah mengambil separuh jalan, maka saya berinisiatif turun dan mencoba meminta toleransi mobil yang mau belok ke arah kami untuk memberi jalan.

Jreeenggg…! Pada momen inilah kisah ini bermula sesungguhnya :D Seorang perempuan di balik kemudi Avanza bersama anak kecil yang duduk di jok tengah. Saya ketuk pintu kaca sambil memajang senyum termanis. Sebelumnya sudah sempat melihat pertanda buruk, ketika ibu itu melihat lambaian tangan sahabat saya meminta diberi jalan, tapi ibu itu malah melengos pura-pura tak melihat. Mungkin dia tidak mengira kalau perempuan berjilbab yang duduk di sebelah sahabat saya mau turun dari mobil :D

“permisi mba, maaf ya, tolong beri jalan, soalnya kalau pun mba maju, malah tambah macet lho, karena moncong mobil kami sudah malangin jalan.”

“ga bisa mundur.” ketus gitu :(

“masih ada semeter kok mba di belakang, saya liatin deh, coba mundur aja dulu.”

“ga bisa! suruh mobil belakang itu mundur dulu.”

“ok.”

Masih dengan senyum mengembang *kecentilan* saya menghampiri mobil hitam yang disupiri seorang bapak.

“pak, maaf ya, bisa mundur sendikit, biar ibu di depan bisa mundur juga. please?”

“itu kan masih ada semeter, suruh mundur aja dia. klo saya ga bisa mundur, tuh ada motor.”

“masalahnya ibu itu ga mau mundur klo bapak ga mau mundur. sekarang saya akanminta motor itu pindah jalur, dan bapak tolong mundurin mobilnya nanti yaaa…”

” ya udah.”

Jadilah saya tukang parkir dadakan. Motor-motor yang mau nyempil di antara mobil-mobil itu dienyahkan, dan berhasil. Kembali dong saya ke avanza silver itu.

“Mba, silahkan mundur, di belakang masih ada semeter lebih.”

Dicuekin lho saya! Pura-pura tidak dengar. Padahal jelas-jelas saya mengetuk kaca mobilnya. Karena dia tidak merespon, sementara suara klakson sudah bersahut-sahutan maka saya mengetuk kaca mobilnya lebih keras dari sebelumnya. Masih tidak direspon juga, tentu saja saya ulangi lagi, baru deh dibuka kacanya.

“ada apa!!”

“lho? tadi kan mba minta saya nyuruh mobil belakang mundur dan bapak itu sudah mundur lho. jadi sekarang tolong mba yang mundur. ini kalau eyel-eyelan ga bakal kelar-kelar. lagipula apa susahnya sih mundur sedikit, toh setelah mobil itu lewat, mba juga bisa belok kanan kan?”

Ibu muda itu memundurkan mobilnya, tapi cuma sedikit. Ya sudahlah, yang penting sudah ada ruang untuk berbelok. Untungnya saya tidak langsung pergi ketika mobil sahabat itu bisa berbelok, karena saya menguatirkan sahabat saya tidak mengantisipasi bemper si avanza, maklum baru menyetir. Benar saja, cuma sekian inci lagi bemper avanza hampir berciuman dengan pintu kanan mobil sahabat. Dan saya minta ibu muda itu mundurin mobilnya lagi dong.

“mba, nanggung amat sih mundurinnya. lagi dong, tuh masih lebar kok di belakang. nanti kena nih bempernya.”

Boro-boro mundur eh malah melotot tidak senang ke arah saya. Tak ayal emosi naik juga menghadapi perempuan satu ini.

“Eh mba, denger ga sih! tolong mundurin mobilnya. nanti kalau lecet mobilnya pasti jadi panjang nih urusan.”

“lu ga usah teriak-teriak.”

“Hla? Dari tadi ngomong bae2 kaga digubris. Ngkali aja situ budeg makanya mesti diteriakin. buktinya nih langsung nyaut dan melotot gitu. emang baru bawa mobil ya? kok ga ngerti sih diaturin begini? klo mau menang sendiri, bikin jalan sendiri, jadi kaga perlu toleransi sama orang lain. tehe!!!”

Mulutnya sudah mangap mau menyahut, tapi bapak yang mobilnya persis di belakang avanza sudah berdiri di samping saya dan tak kalah galaknya menyuruh dia mundur. Bagus ‘kan! Dibentak bapak-bapak baru patuh, heran! Tapi tetap saja sih dia menyahut.

“abis nyuruh orang mundur pake teriak-teriak bla bla bla ….”

Sayangnya saya sudah tidak berhasrat untuk menyahut, males juga ‘kan berantem sama orang budeg :D lagipula mobilnya sudah lepas dari macet, saatnya melanjutkan perjalanan toh  hehehe … bye bye kemacetan :D

Ini ceritaku, mana cerita weekend-mu? :D

 

Gambar diambil dari Google.

Connecting Door

Cerita tentang connecting door-nya Om Trainer mengingatkan saya pada kejadian 2007 saat mana saya plesiran dengan beberapa teman ke pulau Sumatera. Betul-betul itu connecting door bikin masalah deh! Gara-gara connecting door pertemanan diantara kami pun sempat vakum karena jadi saling menyalahkan dan berakhir tidak enak.

Rangakian perjalanan kami dari Jakarta sudah diatur sedemikian rupa, langsung ke Danau Toba – Berastagi – Medan – Jakarta.  Setelah menikmati Danau Toba beberapa hari, maka kami beranjak menuju Berastagi. Karena ada 2 teman yang harus segera kembali ke Jakarta, maka mobil yang kami sewa harus mengantar mereka ke Medan, tapi sebelumnya mengantarkan kami ke hotel di Berastagi terlebih dulu. Mengingat perjalanan ke Medan nantinya akan melewati kampung kelahiran saya, maka saya pikir mau ikut mobil ke Medan, dan nanti turun duluan di Pancur Batu. Ketika mobil itu kembali lagi ke Berastagi, saya akan ikut lagi, sehingga dengan demikian saya menghemat waktu tanpa perlu menyediakan waktu khusus sekedar menyambangi keluarga.

Tapi apa mau dikata, baru juga menjejakkan kaki di rumah Bapatua di PcB, tiba-tiba teman yang sudah di Berastagi menelpon dengan panik, memberitahukan kamar yang didapat ternyata ada connecting door-nya. Yang membuat panik sebetulnya karena ada orang yang mencoba masuk melalui pintu itu. Tanpa ba bi bu mereka check out dan meminta saat itu juga mobil dikirim kembali ke Berastagi. Saya juga ikut panik sih, walau Berastagi bukan kampung saya, tetapi karena saya orang Medan, jadi merasa bersalah tidak ada di saat teman-teman menghadapi masalah. Lalu, saya mencoba menelpon pak supir agar segera menjemput saya dan langsung cabut ke Berastagi.

Tunggu punya tunggu, kenapa pak supir belum datang juga ya? Saya coba telpon eh tidak menyahut. Aduh! Semakin panik deh. Bapatua juga ikut repot, mencoba mendatangi keluarga pak supir yang memang tetangganya, mencari tahu siapa kira si pak supir mampir ke rumahnya dulu. Nihil! Saya mencoba menelpon 2 teman yang di Berastagi juga tidak direspon. Kalang kabut! Bingung!

Menjelang tengah malam kelihatan mobil pak supir melewati rumah Bapatua, dan alangkah kagetnya saya ketika mengetahui rupanya 2 teman saya sudah diantar ke salah satu hotel di Medan, dan………………..mereka marah lho sama saya! :( Berhubung sudah malam, saya pikir besok saja menyusul teman-teman, karena jika dipaksakan berangkat, kasihan juga sama pak supir yang sama sekali belum istirahat sejak berangkat dari Danau Toba subuh tadi.

Pagi-pagi sekali saya diantar Pak Supir ke tempat teman-teman menginap, dan sedih sekali rasanya ketika mengetahui kedua teman saya marah besar. Saya tahu kesalahan saya adalah mengubah rencana mengikuti mobil ke Medan, tetapi bukankah itu juga atas persetujuan mereka. Toh, dari Jakarta pun sudah masuk dalam agenda saya untuk menyambangi keluarga sekedar ‘say hi’. Akibatnya sampai Jakarta  kami bertiga lebih banyak berdiam diri, kecuali mereka berdua tentunya masih mengobrol. ‘Kan yang disebelin saya hehehe jadi saya sih yang tidak diajak ngobrol tepatnya. Sedih? So pasti! Tapi mau gimana lagi?!

Tadinya kami merupakan teman perjalanan yang solid, dan gara-gara kejadian itu, kami jadi tidak pernah plesiran bersama lagi, padahal sebelumnya sudah merencanakan ke Bromo setelah dari Medan. Ya sudahlah, setidaknya saya lega, setelah sekian bulan saling mendiamkan, akhirnya kami berbaikan lagi, alhamdulillah yaaah :)

Jadi kalau HARUS TIDAK ADA CONNECTING DOOR-nya untuk Om Trainer, maka peraturan itu juga berlaku bagi saya :D

 

Gambar diambil dari mba gugel!

TAUGE

TAUGE!

Siapa yang tak pernah makan tauge? Ada? Enak ‘kan? Hehehe …

Ndadak dangdut eh ndadak pengen nulis tentang tauge, gara-gara tauge sudah menyita satu jam lebih cuma untuk memisahkan ekor tauge demi agar penampakan masakan tumis tauge tahu menjadi cantik! Iya, cantik! Perhatikan saja, jika tauge yang masih ada ekornya dimasak, keliatannya kok rada gimana gitu. Coba bandingkan dengan tauge yang sudah disiangi, seperti ada nilai lebih gitu deh :D

Perkara siang menyiangi inilah yang membuat saya rada enggan masak tauge, kecuali tauge cuma dijeburin ke dalam adonan bakwan, sok weh, sabodo teing kalaupun penampakannya jadi gimana gitu. Biasanya kalau saya kangen sama tauge, ya beli aja di warung sebelah, dua ribu perak sudah cukup untuk dimakan sendiri.

Tapi sesekali pengen juga ‘kan makan tauge masakan sendiri?! Maka hari ini saya putuskan menu makan siang tadi adalah TUMIS TAUGE TAHU. Sempat saya menegakan hati untuk membiarkan ekor panjang si tauge, tapi semakin saya menatap ekor tauge semakin gatal tangan ini untuk menyianginya. Daaan … acara siang menyiangi dimulai. Satu jam berlalu tanpa terasa. Tangan mulai pegal, peluh sudah memenuhi dahi. Tiba-tiba suami masuk ke dapur, rupanya sudah lapar :( Jam dilirik .. ops … sudah mau jam 2???? Ampun dah!

“A, bantuin atuh nyiangin taugenya, tinggal sedikit nih, teteh udah pegel banget.”

“Mana?”

“Nih … yang udah dibuang ekornya taro di mangkok yang ini yah.”

Saya mengambil mangkok satu lagi dengan maksud masing-masing pegang satu mangkok. Tapi apa yang terjadi? Tauge yang masih ada ekornya itu disatukan dengan tauge yang sudah bersih.

“emang kenapa kalau makan ekor tauge? mau-maunya capek cuma buangin ekor tauge.”

“tapi kan penampakannya jadi ga cantik. liat aja tuh bedanya.”

“yang penting RASA, bukan penampakan. udah deh, laper nih.”

Tauge berEKOR

Tauge tanpa ekor

Hihihi … demi penampakan yang cantik rupanya ada yang kelaparan. Kasihan hahaha … rupanya kekuatan bubur semangkok yang tadi pagi sama-sama kami lahap untuk sarapan yang terlambat sudah habis tenaganya. Maka, buru-buru deh ditumis tauge yang setengah cantik itu, tak sampai 10menit siap disantap dong.

Tumis Tauge Tahu

Nah, ketika memikirkan lauk, hampir saja saya lost focus lagi. Ada ikan asin peda, yang saya tahu sangat cocok jika dipadukan dengan tumis tauge tahu, tetapi saya melihat ada adonan bakwan jagung sisa kemarin. Emak-emak pelit pasti akan memilih menggoreng bakwan ketimbang ikan asin dong, ‘kan ikan asin bisa menunggu besok, dan ga bakal basi tentunya. Senang juga, ketika mengambil keputusan dengan cepat hehehe Iya lho, lost focus ini sesuatu banget buat saya :D

Jadi sohibloger, kalau makan TAUGE, suka yang bersih atau masih ada ekornya yah? :D

 

Foto : mbah gugel – foto sendiri ga jelas gara2 blitz nya mencolok :(

Lost Focus

“Sebentar ya neng, ibu ambilkan jepitan kertas di sebelah.”

Dan saya melangkah ke ruko sebelah dengan maksud mengambil paper clip untuk menjepit bon belanja untuk disimpan oleh si asisten yang baru.Entah bagaimana, saya malah nguplek di dapur, membereskan lemari penyimpanan, terus membereskan  2 box besar berisi berkas-berkas dari perusahaan lama. Saat mengerjakan itu semua, saya lupa blas soal asisten yang sedang menunggu saya. Malah kepala saya sibuk memikirkan berkas ini mau diapakan? Kalau dibuang, bisa-bisa disalah gunakan, kalau dibakar, mau bakar di mana? Dengan begitu untuk sementara saya pindahkan semua ke dalam karung. Selesai!

Saya kembali ke asisten dengan lenggang kangkung, dan disambut dengan pandangan heran oleh si asisten yang menanyakan soal paper clip. Serta merta saya kabur lagi ke sebelah dan kali ini benar-benar langsung mengambil paper clip. Done!

Ada ayam yang sudah dipotong kecil-kecil. Ada ayam potongan pas untuk ayam goreng. Ada tempe. Ada tahu. Ketika di pasar, rencananya mau masak ayam goreng saja yang gampang. Tetapi ketika ayam sedang diungkep, entah apa yang terjadi, tiba-tiba ayam potongan kecil-kecil itu sudah diracik bumbu teriyaki. Siap dengan bawang bombay yang sudah diiris tipis. Tiba-tiba saya tersadar, sebenarnya saya ini mau memasak apa????

Ada wortel. Sawi putih. Sawi ijo. Kol. Kembang kol. Baso. Niatnya mau masak capcay. Eh tiba-tiba saya merebus ayam potongan kecil, lalu masakan sop pun siap disantap, tentu saja tanpa sawi putih dan sawi ijo.

Lain waktu, ada telor yang sudah direbus. Ada tahu yang sudah digoreng. Ada kentang yang sudah digoreng. Maunya sih masak semur eh tau-tau jadinya telor balado saja, dan 2 bahan lainnya langsung masuk kulkas.

Atau kentang yang sudah diolah, maksudnya mau masak perkedel, eh tau-taunya masak ayam goreng mentega dan kentang yang sudah digoreng itu dijadikan hiasan di pinggir piring yang di tengahnya ayam goreng mentega.

Pernah malah semua bahan yang dibeli di pasar diolah semua, dan tempe yang sudah dipotong kecil-kecil beserta bumbunya masuk ke kulkas lagi; bakwan yang sudah diadoni masuk kulkas lagi, dan ini niat awal mau mengerjakan stok barang, eh tau-tau malah menulis di blog hehehe …

Kira-kira, ada tidak ya yang pernah mengalami seperti yang saya alami ini? Apa ya namanya? Lost focus? Saya sudah kuatir tingkat tinggi nih, jika begini terus bisa-bisa besok ketika punya anak, maksud hati mau menyuapi anak, eh malah dimandiin, bahaya ‘kan?

Spooky Penghalang Rejeki?

Sesiangan tadi saya lumayan heboh gegara tetangga ruko sebelah bercerita tentang hal-hal gaib yang dialaminya sejak menghuni ruko itu selama 4 tahun. Lumayan seram sih buat saya, apalagi saya tidak pernah dan sangat tidak ingin mengalami satu pun dari peristiwa yang dialaminya *komat kamit baca naudzubillahmindzalik*. Saya sudah menjadi tetangganya hampir 3 tahun ini, tapi baru tadi dia punya kesempatan untuk cerita lumayan panjang dan lumayan bikin bulu kuduk saya merinding disko.

Kepala juga jadi cenat cenut, engga tau juga apa hubungannya, tapi yang jelas saya tidak merasa senyaman sebelum mendengar ceritanya. Bisa jadi saya terpengaruh ceritanya, sehingga menimbulkan aura negatif di sekitar saya? Dan saya tidak bermaksud menyalahkan si tetangga, karena sayalah yang seharusnya lebih bisa mengontrol diri sendiri, iya toh?!

Konon kata si tetangga ruko yang baru saya sewa dan ruko yang dia tempati itu ada penghuni gaibnya, berbeda dengan ruko yang saya sewa terlebih dulu, katanya ruko itu ‘bersih’. Saya sih tidak punya kemampuan melihat bersih atau tidaknya satu tempat, tetapi sejak menyewa ruko itu sejak 2009 lalu, teman yang saya percayakan untuk mengurusnya sempat sih cerita-cerita yang tidak lazim, sampai bertindak jauh mencari penangkal segala, tanpa sepengetahuan saya. Dan semuanya sudah saya buang ketika menemukannya tanpa sengaja di beberapa tempat, alhamdulillah sampai hari ini tidak pernah merasakan, melihat atau bermimpi yang buruk tentang tempat itu. Alhamdulillah juga, usaha juga berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti.

Ketika mengambil ruko yang di sebelahnya, saya sih tidak terpikirkan soal bersih membersihkan. Ya, sekedar syukuran mau menempati ruko sebagai tempat usaha yang baru, tentu saja kami lakukan. Sekedarnya saja, tidak ada sesuatu yang khusus. Doa yang dipanjatkan pun doa biasa, bukan doa penangkal makhluk gaib atau sejenisnya.

Sudah menjadi kebiasaan orang tua, bahwa untuk mengetaui satu tempat itu baik-baik saja ya coba saja tidur, apakah nanti bermimpi buruk atau tidak. Biasanya sih kalau tempat itu memang ada penghuni gaibnya yang jahat, pasti tidurpun tidak tenang dan akan bermimpi buruk. Alhamdulillah yah, saya tidak mimpi apapun, biasa-biasa saja :D  Malah pernah, di Bekasi suami yang mimpi buruk, hanya saja tidak diceritakannya agar istrinya tidak rewel, jadi saya tidak terganggu dengan lingkungan yang baru.

Kembali soal tetangga ruko sebelah, katanya dia sudah 3x menemukan benda-benda aneh ketika dia memanggil orang untuk membersihkan tempatnya. Lalu, saya tanya, bagaimana bisa tahu kalau tempatnya itu ada penghuni jahatnya? Katanya, dari rumah dia semangat tingkat tinggi untuk bekerja, tetapi sampai di tempat itu, dia berubah jadi malas, auranya negatif selalu. Belum lagi, order yang mandeg, 4 bulan tidak ada pemasukan sama sekali. Saat itulah dia menemukan batu giok yang berwujud bayi dibungkus kulit ular yang diartikan bayi itu ‘kan bawaannya tidur dan ular itu hidupnya melata. Dia juga menunjuk pohon ceri yang tumbuh di halaman tetangga sebagai tempat tinggal si makhluk gaib.

Tak ayal saya ciut juga, saya ‘kan tipe orang yang gampang terpengaruh dan membicarakannya dengan adik dan suami, plus teman di negeri jauh :D Kata adik dan suami sih, wajarlah tempatnya ada makhluk lain yang menempati, wong di ruko itu tidak ada yang menempati. Memang ruko itu fungsinya dijadikan gudang, dan ada kantor kecil, yang didatanginya kalau perlu saja. Tepatnya lebih sering kosong dan gelap. Berbeda dengan ruko kami yang selalu penuh orang dari pagi sampai malam. Hmm… iya juga sih! Bisa diterima akal saya argumen adik dan suami :D

Bagaimana soal makhluk gaib sebagai penghalang datangnya rejeki? Yang mungkin dikirim orang karena ada yang kurang senang dengan keberhasilan seseorang? Wallahu’alam! Hanya Tuhan yang maha tahu, yang jelas saya sih sampai hari ini seringnya mengalami kemudahan, memang tidak selalu seperti yang diinginkan, tetapi selama yakin sudah berusaha dengan sepenuh daya upaya, sisanya mah terserah Tuhan aja deh. Bukan begitu, sohibloger? :D

Kampuh Itu Sarung

Pucuk dicinta ulam pun tiba! Sudah lumayan lama saya ingin menuliskan tentang SARUNG yang oleh orang Karo disebut KAMPUH. Selalunya tertunda oleh banyak alasan, tapi kali ini tentu saja harus tuntas dong, apalagi tenggat waktunya pun sudah dekat sekali.  Bahkan sempat juga ingin menjadikan KAMPUH khas Karo untuk hadiah giveaway, tetapi kesulitan mendapatkannya langsung dari Medan.

Bersarung atau erkampuh, bukan hal baru bagi saya. Sejak lahir sampai beberapa tahun awal tinggal di Jakarta terus merantau ke Jogja, kampuh terus menemani keseharian saya. Yap, orang tua yang masih kolot mewajibkan anak perempuannya untuk erkampuh di rumah, terutama jika sedang ada tamu di rumah. Tidak sopan memamerkan betis, begitu kata Bapa saya. Bukan karena Bapa sok religius, karena Bapa yang muallaf itu malah belum paham soal menutup aurat bagi anak perempuan. Jadi semua karena adat kebiasaan, anak perempuan ya harus pakai sarung.

Bahkan ketika mandi pun menggunakan sarung – erbasahen – begitu istilahnya. Jadi tidak ada istilah mandi telanjang bulat :D Sebetulnya saya pahami mandi erbasahen ini dulu karena mandinya di tempat terbuka, di pancuran  misalnya, atau sungai? Sehingga wajar saja sih harus menggunakan sarung. Tetapi kami ‘kan mandi di kamar mandi di rumah, masak harus erbasahen juga? Well, sewaktu masih kecil sih masih patuh, tetapi lama kelamaan, ketika yakin tidak ada yang akan mengintip di kamar mandi, dan tentu saja Bapa pun tak mungkin mengintip dong, sehingga kebiasaan erbasahen pun pelan tapi pasti kemudian ditinggalkan.

Selain itu, sarung juga kerap berubah fungsi menjadi penutup kepala – ertudung – yang dibentuk sedemikian rupa menutupi kepala sehingga terhindar dari sinar matahari. Kebanyakan perempuan yang ke ladang pasti menggunakan sarung untuk menutupi kepala mereka ketika bekerja di ladang.

Gara-gara kebiasaan bersarung ini pula ketika awal-awal tinggal di Jakarta, saya sempat dikira berasal dari Madura :D ketika sedang berbelanja di pasar.  Mungkinkah karena kulit saya yang warnanya sawo kematengan ini ya?! Dan belakangan saya baru tahu bahwa perempuan Madura pun terbiasa menggunakan sarung rupanya. No wonder then :D

Orang Karo juga punya ciri khas sarung tersendiri, dari coraknya saya bisa mengetahui itu sarung orang Karo atau bukan. Walau saya penggemar sarung, terhitung juga jumlah sarung yang saya beli sendiri. Dulu sih seringnya dibelikan mamak, tapi pernah juga saya dikirimi sarung oleh Bibiuda – adik perempuan Bapa – yang mana sarung itu dikirim dengan seuntai doa agar sang keponakan lekas bertemu jodoh :D Bibi saya yang lain sih  menghadiahi keponakannya dengan perhiasan teriring doa yang sama, tetapi Bibiuda saya bilang mampunya cuma memberi sarung, jadi yang dikirim ya sarung deh hehehe …

Like mother like daughter! Dulu saya sering melihat Mamak senang sekali bersarung di rumah, walaupun kami sudah hijrah ke Jakarta. Habis mandi ya sarungan, mau tidur ya sarungan – dan cara bersarungnya bukan yang dibelitkan di pinggang lho, tapi di dada, seperti di foto di bawah ini. Sebetulnya saya sedang mencari foto mamak yang menggunakan sarung tetapi susah menemukannya dari stok ribuan foto tanpa nama itu :D Dan kebiasaan itu menurun plek ke saya, untungnya suami tidak protes hahaha …. tentu saja gaya bersarung yang dibelitkan di dada tidak berlaku pabila ada tamu di rumah dong :P

 

Tulisan ini disertakan pada giveaway Berbagi Cerita Tentang Sarung yang diadakan oleh Kaka Akin.

Catatan:

Sebenarnya kurang sreg pas published ini karena foto-foto subjek yang memakai sarung entah sedang di mana keberadaannya hiks …. tapi demi cinta saya pada mba Akin maka published aja deh, secara waktunya juga sudah mepet gini. Semoga berkenan ya mba :)