Kemarin salah seorang anggota keluarga berpulang dengan sangat mendadak. Nandenguda – begitulah saya memanggil almarhumah, mengalami gejala pusing dan lemas hampir sebulan, tapi penyakit itu tidak ditanggapi dengan serius sehingga dirasa cukup mendatangi dokter praktek biasa. Dan ketika dibawa ke rumah sakit eh kok sudah komplikasi??? Mengagetkan! Saya jadi teringat tulisan ini, dan memang ketika membaca tulisan ini 2 hari yang lalu, saya sempat terpikir siapakah yang akan berpulang di antara anggota keluarga kami di bulan suci ini?
Sejujurnya hadirnya bulan Ramadhan, seringkali menciutkan hati ini. Bukan saya tidak bersuka cita karena berkesempatan bertemu Ramadhan, tetapi sedikit trauma karena Mamak berpulang saat Ramadhan tiba. Jadi di dalam benak ini, setiap Ramadhan datang, entah bagaimana pasti terpikir tentang kematian. Sehingga ketika kabar duka ini tiba menjelang siang kemarin, bagaimana saya tidak tercekat? Ternyata saya masih saja belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap untuk berita duka semacam ini.
Nandenguda ini, adalah istri dari Bapauda saya, yang merupakan sepupu Bapak, karena ibu mereka bersaudara kandung. Tali kekerabatan ini masih sangat dekat sebenarnya, tetapi memalukan sekali mengakui kenyataan bahwa tidak ada inisiatif dari masing-masing untuk saling mendekatkan diri. Bukan karena ada perselisihan, tetapi entahlah, sepertinya kesibukan masing-masing memberangus hasrat kebersamaan masing-masing, sehingga kemudian jarak seringkali dikambing-hitamkan. Padahal Depok itu ‘kan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja ‘kan? Begitu juga sebaliknya.
Tapi begitulah kehidupan di tanah perantauan ini, masing-masing hanya berbagi cerita ketika ada yang menikah atau meninggal seperti kemarin. Akibatnya waktu setengah hari pun dirasa tak cukup untuk mengurai semua cerita selama kedua sepupu itu tidak bertemu. Bahkan saat-saat Lebaran pun tidak dianggap sebagai sesuatu momen yang tepat untuk berkumpul, karena lagi-lagi, masing-masing disibukkan oleh keluarga besar mereka sendiri.
Adalah sesuatu yang memalukan ketika saya harus mengakui bahwa saya tidak mengenali satu pun dari 6 sepupu saya itu, padahal kami semua sudah berkeluarga, dan sudah sepatutnya saling mengenal lebih baik lagi, karena ketika orang tua kami berpulang satu hari nanti, tali kekerabatan ini tidak ikut dikubur bersama jasad orang tua kami. Harus ada yang berinisiatif merekatkan hubungan ini, tetapi siapa? Saya? Belum apa-apa saya sudah pesimis merasa tak mungkin bisa melakukannya.
Para orang tua kami pun sepertinya sudah pasrah jika di masa depan anak cucu mereka tidak akan saling mengenal lagi. Sepasrah Bapauda itu setiap kali anak-anaknya menolak untuk menemani orang tua mereka ketika diajak serta mendatangi sanak keluarga dalam setiap kesempatan. Memang saya masih ingat, ketika ada yang menikah atau meninggal di dalam keluarga kami, Bapauda dan Nandenguda selalu datang berdua saja. Berbeda dengan kami yang tidak cukup tega menolak perintah orang tua untuk turut serta, yeah … alasan Bapa dan Mamak agar kami mengenal anggota keluarga yang lain. Belakangan frekuensi Bapa menghadiri pertemuan-pertemuan semakin jarang, selain karena kondisi kesehatan, juga karena Mamak sudah tidak ada. Kami memang perhatikan jika dulu setiap Lebaran kami boyongan mengunjungi keluarga-keluarga yang di Jakarta, sejak Mamak tidak ada, semua tidak ada lagi. Kegiatan terhenti di rumah Bapa, menemani Bapa di rumah, kecuali kami yang mudik.
“It takes two to tango” kalau salah satu tidak mau tidak bisa terjadi sebuah rangkaian tarian indah, begitu kata mba Imelda. Tiba-tiba kalimat ini begitu saja muncul di benak saya ketika orang tua kami mengeluhkan bagaimana anak-anak mereka tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Ah entahlah ….
Saya ikut dukacita. Memang benar, hubungan silaturahmi tidak harus terkubur dengan meninggalnya para tetua.
Mbak, sama nih…
aku sama sepupu2 jg kok ngerasa jauh ya…
apa krn gaya hidup?
mudah2an Allah memudahkan niat orang2 yg ingin menyambung silaturahmi…
turut berduka cita yah Mbak Nique…
Oiya turut berduka cita ya …semoga amal ibadahnya di terima Allah SWT.
Kalo kata orang jawa “kepaten obor” tidak mengenal saudara satu sama lain, entah karena kesibukan atau karena kurang akrab / silahturahmi yang kurang lengkap dalam memperkenalkan anggota keluarga masing masing.
Btw, kok pusing pusing ternyata komplikasi ya? serem …
Turut berduka yah Mbak atas berpulangnya Nandenguda-nya Mbak nik,
dan aku kaget waktu baca Mbak Nik gak kenal sama sepupu-sepupu itu, tapi mungkin di keluargaku juga akan ada masanya kek gitu yah kalau kami semua sudah berkeluarga?
ini karena sepupu-sepupu saya dan kakak-adik saya yang berkeluarga mash bis adihitung pake jari, jadi kalau kumpul keluarga kami semua masih bis aakrab satu sama laen, walapuun… ada beberapa yang tidak begitu akrab..
begitulah, sepupu kandung saja ada yang saya tidak kenal karena ketika kami berangkat ke Jakarta mereka masih kecil2, dan kami jarang pulang, mereka pun tidak ke jakarta2, jadi gimana ketemunya coba? Asli saya mah ngaku weh
makanya saya jadi keranjingan ngumpulin para keponakan, mereka ‘kan sepupu kandung, tak usahain biar ngerasa seperti adik kakak kandung.
*
butuh effort luarbiasa, dan juga dana yang tidak sedikit mengumpulkan 9 ponakan hehehe …
tapi ada kepuasan tersendiri, karena saya tidak mau mereka seperti kami-kami ini *tanpa bermaksud menyalahkan orang tua kami yang tidak memfasilitasi kami dulu
Duluuu…orang Jawa suka dibilang “mangan ora mangan kumpul” karena seringnya ada acara kekeluargaan. Dan seperti pohon pisang, keluarga besar menyatu, pekerjaan tak terlalu berjauhan karena seringnya nyaris punya bidang yang sama.
Namun kemudian, sejalan dengan perkembangan, banyak anak-anak yang kuliah jauh di luar kota…bekerja jauh dari orangtua, bahkan juga di LN. Jadi sekarang banyak yang tak saling mengenal lagi antar saudara karena jauhnya jarak, cuti terbatas, kesibukan rumah tangga dll.
iya ya bu
yang malu itu klo pas kedukaan seperti kemarin, ngaku keluarga dekat, tapi nanya yang mana anak2 almarhumah
Selesai baca langsung mencoba meningat nama-nama sepupu dekat dan failed..
betapa pentingnya arti sebuah silaturahmi ya bu.
Sayapun spertinya sedang merasakan hal itu, dimana hubungan silaturahmi kalau tidak adanya saling ketemu ataupun berkunjung, mungkin baru sampai tahap ke cucu saja sudah tidak saling kenal.
Makanya saya pun sedang mencoba, insya Allah akan terus menyambung silaturahmi dengan kelaurga dengan mengunjungi semuanya, yg pertama dngan bertanya-tanya siapa2 saja keluarga2 kita dan ada dimana mereka.
Dan mengenai kematian, itu kehendak Allah dan tak bisa kita pungkiri. Turut berdoa untuk almarhumah
duh, Nik…………..bunda banget ini, krn jarang banget kumpul2 sama family.
dan, ketemu kalau ada pernikahan atau kematian saja
deketnya cuma dgn adik2 dan sepupu thok
habis, mau gimana lagi ya?
jarak yg jauh dijakarta dgn segala kemacetan nya yg jubile jubile, juga kayaknya waktu liburan kok ya lebih enak jika dinikmati dgn keluarga aja
salam
kalau saya cenderung lebih dekat dengan keluarga pihak ibu mbak Ni, jadi keluarga dari pihak abah jadi hapal ala kadarnya saja..
Untungnya saya selalu ada acara keluarga besar tahunan..
Meski kadang lupa nama saudara yang jauh..
Klo di keluarga besar saya (diantara bulik/bude/om dll), saya dituntut untuk mengunjungi keluarga, klo ga datang semua membicarakan, padahal anak2 mereka sendiri juga begitu, malah tidak pernah mengunjungi sekalipun. Saya meskipun tdk sering, masih mau mengunjungi keluarga…
Saya jadi inget tahun lalu, saya nonton acara tipi Tukul yang mudik ke Padang, tempat asal istrinya. Tukul gak kenal sama sekali (atau dia lupa) semua sodara dan kerabat istrinya!
iya loh…nyokap bokap gue tuh keluarga besar semua, dan sebagian besar keluarga bokap gue nggak kenal…karena bokap jarang banget kumpul sama kakak/adeknya.
sampe-sampe pas lagi kumpul, ada yang gue panggil koko & cici…taunya mereka keponakan gue!!! wkwkwkwkwkwk
Beberapa hari yang lalu ibu dari kawan saya (yg sudah saya anggap ibu sendiri) juga berpulang. Kita ambil sisi positifnya aja Mbak. Berpulang di bulan yang indah, bukankah itu indah..
Saya sendiri juga nggak mengenal semua keluarga. Entah, mungkin karena jarak atau karena memang jarang bertemu. Soalnya di keluarga saya tidak ada moment pertemuan keluarga. Bahkan di hari raya. Tidak seperti orang tua saya yang mengenal mereka lebih dekat. Akhirnya, saya berinisiatif sendiri untuk gerilya silaturrahmi ke pihak keluarga..
Saya juga begitu Nik …
Jujur …
saya adalah orang yang paling malas kalau disuruh ikut acara arisan atau pertemuan keluarga besar …
Sebab … entah mengapa saya tidak comfortable disana …
Tetapi alhamdulillah …
Walaupun tidak dekat-dekat benar …
Saya mengenal semua sepupu saya …
baik dari Bude-bude (dari pihak ibu) …
Maupun Pak Lik – Bu Lik … di pihak Bapak
Salam saya Nike
memang pertemuan keluarga adalah wadah yg tepat untuk saling mempererat silaturahmi itu….
saya rasa sebaiknya kita buang rasa ego kita jauh2 agar kita saling mendekatkan diri, jujur aja saya juga punya keluarga kayak gitu karena sudah merasa sukses mereka jauh dari kita, tp kalo dalam kesusahan baru mendekat lagi…
saya mohon maaf kalo koment saya ngga enak di hati mbak nique, tp kebanyakan begitulah realitanya…
Salam hangat dari Medan
ya begitulah klo sdh di sibukkan dgn kehidupan msg2, moment lebaran sebenarnya paling tepat untuk silaturrahim dan halal bi halal
waktu mudik nanti biasanya aku mulai mengingat2 anggota keluarga dari suami, bukan keluarga inti biasanya lebih sulit
kalau di kami buat arisan 3 bulanan, atau pengajian, tapi memang para abg masih belum bisa nyampur, biarpun mereka semuanya ikut ke pertemuan itu,
pastilah lambat laun kita tak akan bisa saling mengenali semua keluarga karena jumlahnya pasti sudah membengkak ya
nah, generasi saya sih udah antipati banget dengan segala sesuatu yang berbau arisan kak
mungkin karena orang tua juga tidak antusias ya???
tp arisan keluarga sgt powerful loh
Tidak akan ada yang tahu kapan manusia berpulang, tapi jika sudah waktunya ya tidak bisa dielakkan.
Kadang orang tua saya menelepon dan berkata bahwa ada sanak keluarga – yang saya tidak terbayang bagaimana hubungannya dengan keluarga saya – meninggal dunia.
Orang mesti bertemu untuk tahu, dan pertemuan hanya ada jika ada perjodohan, jika manusia tidak saling berjodoh, maka bertemu-pun rasanya tidak mungkin.
betul juga ya, semua tergantung jodohnya, karena toh terjadinya satu pertemuan karena kehendakNya ya …
ak juga gg kenal banyak sama keluarga besar, cuma hapal sama keluarga inti aja yang deket2
memang harus ada inisiatif untuk memulai ya, kalau enggak ya kapan lagi begitu
nah yang mau inisiatif ini yg kaga ada hehehe
Iya ya Kak, kadang sibuk sendiri2 dg keluarga masing2 ya..
betul sekali Orin, wong yang sekandung aja belum tentu setiap bulan bertemu lho