Halimun, Apa Kabarmu?

Mumpung semangat masih membara, selagi ingatan sudah disegarkan, maka sebaiknya saya menuntaskan apa yang telah dimulai,  cerita tentang di Halimun akan saya lanjutkan agar tidak jadi jerawat dan bisul  ’kan? :)

Arti bangga menjadi anak negeri sungguh saya temukan di Halimun, dan suasana penuh kekeluargaan dan kebergotong-royongan sangat kentara di desa ini. Bagaimana tidak, upacara usai tidak membuat semua orang bubar jalan dan langsung pulang ke rumah, melainkan berkumpul bersama di Imah Gede untuk menyantap beranek ragam hidangan yang telah siap santap yang disediakan oleh Sesepuh Desa Cipta Gelar, Abah Anom namanya.

IMAH GEDE - rumah tempat berkumpul.

Suasana makan bersama usai upacara di Imah Gede

Suasana makan bersama di sini sempat saya terkesima, karena formasi duduk orang Karo pun persis seperti ini bila makan bersama. Cuma kalau di Tanah Karo pasti lebih heboh sih, hehehe karakter orang-orangnya sih yang lebih membuat heboh. Penduduk Cipta Gelar ‘kan memang anteng-anteng, bicarapun pelan-pelang hehehe jadi suasana tetap terjaga kekhidmatannya. Dan makan di sini WAJIB menggunakan tangan (biasanya tetamu saja yang menggunakan sendok dan garpu) , tapi ini benar strict, tidak diperkenankan mengangkat piring melainkan harus tetap meletakkannya di lantai.

Acara makan bersama usai, maka saatnya bermain :) Semua warga berkumpul di depan Imah Gede, dimana sudah ada sebatang pohon pinang siap dijajal kelicinannya. Jenis permainan ini sih banyak yah kita temukan di mana-mana termasuk di ibukota, juga masih ada beberapa permainan lainnya yang melibatkan banyak anak-anak. Meriah deh pokoknya :D

Pohon pinang siap dipanjat, berlokasi di depan Imah Gede

Menjelang sore permainan baru usai,dan penduduk sudah kembali ke rumah mereka masing-masing, kembali pada rutinitas sehari-hari. Dan, kami? Tentu saja rugi jika hanya berdiam diri, sehingga kami pun menjelajah perkampungan sebelum senja benar-benar turun.

Bayangkan jalanan ini jika diguyur hujan :( Susah dilewati hiks ...

Suasana padepokan di kala senja

Oya, biasanya di tempat terpencil seperti ini, tidak dapat dipungkiri bahwa suasana magis dan cerita-cerita tentang hal-hal berbau gaib pasti banyak sekali. Nah, di sebelah Imah Gede ada sebuah pondok yang di ada tulisan Leuit si Jimat. Sempat saya mengira bahwa pondok ini berisikan jimat-jimat dari segala macam deh, eh ternyata saya salah dong, karena pondok ini adalah lumbung padi :D Iya, tempat menyimpan  padi. Untung saja saya cepat mengetahui hal ini sehingga saya tidak perlu ketakutan tidak jelas.

Lumbung Padi

Nah, jika kita sudah melihat lumbung padinya, belum afdol jika belum melihat dapur umumnya dong. Unik sih tempatnya, apalagi semuanya masih tradisional gitu, jangan bayangkan magic com di sini, tapi saya suka karena kebersihannya sangat terjaga. Bahkan dapur menjadi salah satu tempat favorit untuk berkumpul karena tempatnya yang hangat, sementara di sini ‘kan dingin sekali.

Dapur tradisional tempat memasak untuk semua orang yang tinggal di Imah Gede, termasuk para tetamu

Jika sedang mengalami sesi galau, saya sungguh merindukan tempat ini, untungnya tidak berani pergi sendiri ke sini, karena medannya masih berat. Ah, bagaimana ya kabarnya Desa Cipta Gelar setelah 4 tahun tidak pernah ke sana? Berita terakhir yang saya dengar bahwa Abah Anom telah berpulang di tahun yang sama di usia yang belum mencapai 50tahun itu, dan kasepuhan secara otomatis pucuk pimpinan menjadi tanggung jawab anak laki-laki pertama Abah Anom, Ugi namanya. Usianya berkisar 20-an, mudah sekali ya, tetapi karena sudah jadi sesepuh ya dipanggilnya Abah Ugi. Setelah itu, saya tidak pernah mendengar apapun lagi tentang Desa Cipta Gelar, hiks .. kangen euy! Halimun, apa kabarmu?

Rasanya tak salah saya berterima kasih pada trio Nia, Lidya dan Pakde yang menggelar kontes Bhakti Pertiwi, karena mengingatkan saya pada momen ini, momen yang sangat pantas untuk dituliskan agar kelak tak lekang dalam ingatan. Alhamdulillah! Baidewe, adakah di antara temans bloggerr  yang sudah pernah ke sana juga ‘kah?

50 thoughts on “Halimun, Apa Kabarmu?

  1. Pernah dengar nama desa ini, dan pernah lihat di tv acara seren taon (benar gak ya tulisannya)yang diadakan di desa adat ini. Mudah-mudahan desa ini tetap bertahan sebagai desa adat.

  2. Alhamdulillah pernah kesana waktu jamannya kuliah dulu Mbak…
    menyenangkan sekali!
    naik turun gunung sampe di air terjun *he.. air terjun apa yah namanya .. lupa!* hehe

    walau 3 hari nggak mandi… aku kangen masa2 itu! :-D

  3. pakde ini merasa indonesia banget, karena lahir juga di indonesia, bahkan cinta dengan indonesia , tetapi sayang….pakde tidak pernah melihat indonesia seutuhnya, maksuk pakde pakde hanya tahu surabaya saja he he he…

    • hehehe … saya juga bisa kluyuran waktu itu krn masih gadis ‘De, sekarang mah kemana2 juga terbatas langkahnya.
      saya ke surabaya udah, nyampe lamongan, baru itu aja sih, blom ke yang lain2.

  4. Dulu sering juga main ke Sukabumi (tempat wisata dan bumi perkemahannya) Tapi kok gag mudeng ya kalo ada tempat sebagus itu.

    Setelah melihat dan membaca cerita ini, sungguh jadi tertarik buat main kesana.

    Salam.. .

    • oya? wah, sayang sekali :D
      eh tapi saya tau tempat itu juga karena teman2 ding, waktu diceritain juga kurang percaya, tapi begitu sampai di sana, subhanallah ….
      sok atuh berangkat hehehe

  5. ***Langsung buka GoogleEarth untuk mencari dimana posisi Halimun***
    Koq gak nemu ya, emang itu di propinsi Sumut ya ???

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • tentu saja terbuka untuk umum, yang penting semua tamu harus mengikuti tata krama yang mereka jalani sehari2 :)

      cuma medan ke sana tidak disarankan untuk perempuan hamil hehehe …
      selain itu mah, sok weh, saya yang jalannya sering mogok aja nyampe juga, cuma yang paling nyampenya paling belakangan hihihihii

  6. Wah pengalaman yang menarik dan berkesan mbak..:) Indah…eh kayaknya saya pernah lihat liputan tentang halimun ini di stasiun tv juga tentang abah anom..:)

  7. wah, bagus2 picnya mba.
    itu yang jalanan, persis sekali sama jalanan menuju kampung halaman almarhumah ibu saya di sulawesi tengah sana. kalau hujan, masyaAllah, amat sangat berbahaya.
    Halimun tadi saya pikir apaan mba, hehe

    • betul, boleh tuh yang minat langsung ke halimun. mumpung sedang tidak musim hujan nih. eh tapi ga tau deh di sana yah, bisa juga pas hujan, ga tentu2 juga kan..

  8. kenangan di halimun begitu indah ya Nik, dgn kebersamaan yg msh kental sekali :)
    itu si jalanan kok ya mirip sama kubangan pastinya kalau hujan, seyem ya Nik :(
    salam

    • banget bun, waktu naik itu pas baru kelar hujan, waduh sport jantung deh ….
      pokoke klo pas hamil 3bulan dijamin luntur kayak baju diwantekin hiks

  9. Jiaaah >_< ane tau halimun di jabar mbakeee.. hihihihi..

    Maksudnya gara2 sy tinggal di medan pas kecil sy jd total lupa masa kecil sy camping dan hiking sama bapak saya di halimun..

    Skrg sih tmpt ini terkenal jd tempat latihan motor2 touring sama kampus2 buat baksos.. :D

  10. Hai Halimun, apa kabar?
    Saya baik, cuma sedang melamun.
    Loh kok melamun?
    Karena makan ketimun.
    Ada apa dengan Ketimun?
    Membawaku melamun di halimun

    • idihh ketauan ya ga dibaca bae2 :P

      itu adanya di SUKABUMI, dekat pelabuhan ratu pal. puncak gunung halimun :D
      labo nyasar pal, tapi ersura kin ku je, entah je nari kari maka jumpa ras senina ndu ndai teiku hahahah

        • ooo sentabi pal, ku tulis bas tulisen si pertama, me erkaiten ia.

          th.2008 aku ikut kan upacara i kabanjahe, tapi lain nanamna pal :(

  11. “Bayangkan jalanan ini jika diguyur hujan :( Susah dilewati hiks”

    di Brebes terutama di Sirampog masih banyak yang kaya gitu bu.. hihihi, pemerintahnya kurang perhatian nih, makanya lebih mending buat jalan kaki saja, pake motor eman2 motornya.. hehehe

    Seru banget acaranya ya

    • oh maap … kirain jalan menuju gunung doang yang begitu hiks
      tapi di sana itu disediain mobil offroad sih sama pinisepuhnya
      cuma yaaa keterbatasan penumpang juga kali ya maka penduduknya milih jalan kaki.

  12. hehehe… sewaktu saya tinggal di medan dulu masih kecil saya sudah kesini… terus terang saya LUPA total tentang halimun >_<

    seru juga nih jalan2 kesana… seru ya mbak?

  13. wah belum pernah ke sana mbak.
    Tapi syukur deh bisa baca keterangannya di sini. itu lumbung padi kok namanya agak serem gitu, kalau namanya imah padi mungkin lebih pas mungkin ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge