Bangga Menjadi Anak Negeri di Halimun

Dulu, upacara bendera buat saya hanyalah satu kegiatan rutin yang wajib diikuti, yang siapa berani mangkir  maka pasti akan mendapat hukuman. Belasan tahun saya mengikuti upacara bendera tetapi tak satupun yang meninggalkan kesan mendalam. Jiwa ini seperti terus mencari sebuah makna dari ritual seremoni itu.

Hingga satu hari, teman-teman dari satu komunitas mengajak saya melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu merayakan ulang tahun kemerdekaan republik yang ke-62 ini di tempat yang terpencil, jauh dari keramaian dan kebisingan ibukota yaitu di Desa Cipta Gelar, yang terletak di lereng Gunung Halimun, Sukabumi. Sempat saya berpikir, haruskah sampai ke puncak Halimun? Bukankah perjalanan ke sana itu terjal dan saya sudah gentar melihat medan yang harus dilewati. Entahlah, di tengah keraguan saya terus  mengikuti langkah teman-teman.

Dan, adaapa ini? Di kaki gunung kami ‘disambut’ oleh penduduk yang sedang berpawai obor, yang merupakan tradisi penduduk setempat setiap menyambut hari kemerdekaan republik ini. Unik sekali, hmm. Berada di Desa Cipta Gelar, saya sungguh merasa terlempar dari peradaban modern, karena di desa adat ini segala sesuatunya masih sangat tradisional.

Lihatlah kami yang perempuan diwajibkan mengenakan kain sarung selama tinggal di sana, dan bagi kaum prianya wajib membebat kepala dengan sepotong kain. Dalam suasana seperti ini, takjub juga saya bagaimana perangkat desa ini mengatur penyelenggaran sebuah perayaan kemerdekaan sedemikian rupa, sesuatu yang tidak pernah saya temui di ibukota, yang biasanya cuma mengadakan perlombaan antar RT, tetapi ketika tanggal 17-nya tidak terlihat keterlibatan masyarakat dalam sebuah upacara resmi.

Beginilah penampilan rombongan tamu sebagai peserta upacara

Setelah menginap semalam, pagi-pagi sekali kami sudah bersiap untuk menjadi peserta upacara hari itu, dan tentu saja tetap mengenakan sarung bagi kaum perempuan, membebat kepala untuk laki-lakinya.

Gapura Perayaan 17-08-2007 yang sederhana

Abah Anom beserta istri, perangkat desa dan paskibra.

Abah Anom sebagai Inspektur Upacara

Sepengingat saya pelaksanaan upacara itu sendiri sama dengan yang pernah saya alami ketika masih duduk di bangku sekolah, hanya suasanannya saja yang berbeda. Dan hari itu, menatap merah putih bergerak pelan menggapai langit biru diiringi lagu Indonesia Raya.

Konduktornya adalah anak perempuan Abah Anom.

Kaum Ibu yang menjadi peserta upacara.

Kaum bapak yang juga menjadi peserta upacara.

Sejenak saya mengedarkan pandangan dan melihat setiap orang di sana ikut menyanyikan lagu kebangsaan ini dengan penuh semangat tetapi khidmat dan khusyuk. Terik matahari tak dihiraukan sama sekali. Dalam kekhusyukan itu tanpa terasa air mata sudah membasahi pipi, rasa haru menyeruak di dada, sesak sekali rasanya. Baru kali ini saya merasakan sensasi yang seperti ini, rasa-rasa baru saja mengalami kemerdekaan hari itu. Duh, Gusti, kenapa baru sekarang dan di tempat terpencil ini baru kutemukan rasa ini? Terima kasih, Tuhan, terima kasih desa Cipta Gelar, di sini baru kurasakan arti bangga menjadi anak negeri.

Sang Saka Merah Putih berkibar gagah berani menggapai angkasa biru.

Dan menatap SANG MERAH PUTIH menjulang ke langit biru, ah rasa bangga  ini begitu  membuncah, belum pernah sebangga ini saya menatap Merah Putih berkibar seperti yang saya rasakan saat itu. Terlebih lagi melihat partisipasi masyarakat desa, tua, muda, perempuan, laki-laki juga anak-anak, semua bersatu di lapangan. Kemudian saya berkhayal seandainya seluruh penduduk negeri ini, memaknai kebersamaan ini seperti apa yang kami rasakan di sini, seandainya para petinggi itu memaknai perayaan kemerdekaan ini tidak semata-mata seremonial belaka, bisa jadi keadaan negeri ini akan jauh lebih baik dari sekarang.

Empat tahun sudah berlalu, dan rasa itu masih ada di dada ini. Mari tundukkan kepala sejenak, demi menghormati para pahlawan yang telah mendahului kita, dan menjadikan ketangguhan para pejuang itu menjadi tauladan, agar kita pun tetap bangga menyanyikan lagu Indonesia Raya, tetap bangga menjadi orang Indonesia,  dengan segala kekurangan yang ada pada Republik ini.

Dirgahayu Indonesiaku, kami pasti mampu mempertahankan keutuhanmu selamat hayat masih di kandung badan. MERDEKA!

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwii yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, dan Abdul Cholik.


Sponsored By :

http://www.kios108.com/
http://halobalita.fitrian.net/
http://topcardiotrainer.com/
http://littleostore.com/

56 thoughts on “Bangga Menjadi Anak Negeri di Halimun

  1. Terakhir merasakan upacara bendera sewaktu sekolah menengah atas. Kalau tidak dihayati kayaknya upacara bendera hanya semacam kewajiban. Saya malah merasakan getaran nasionalisme dan kebanggaan ketika tim PSSI mengalahkan tim sepakbola Malaysia.

  2. Mantap ide tulisannya…wah bener bener beda nuansa upacaranya yah..:) tidak membosankan..khidmat..terlihat dari photo photonya..pesertanya nggak harus berseragam :) ..
    semoga menang yah mbak

  3. dengan momen2 seperti inilah terkadang rasa nasionalisme kita kembali dibangkitkan… indonesia memang indah dalam keragaman dan dalam kebangsaan…

  4. upacara bendera… hmmm… tak lupa membawa coklat di kantong baju… dan menyembunyikan walkman di dalam kemeja sekolah :lol: pasang earphone dari dalam baju sampai ketelinga… hehehhe… gak kerasa upacara udah kelar…

    bener2 gak patriotik… contoh buruk nih… :lol:

  5. Perayaan kemerdekaan yang unik sekali. Saat ini, di manapun rasanya sulit menemukan perayaan yang memadukan unsur adat istiadat dan nasionalis. Nama gunungnya memang Halimun yak? :)

    Salam kenal dari Jombang

  6. Menakjubkan ya Mbak, menikmati hari kemerdekaan negeri di tempat yang seperti itu. Saya dulu juga sempat upacara 17 Agustus di puncak gunung, indah sekali.

  7. Wih..nasionalismenya kerasa banget ya mbak :D
    Keren deh, pengen sekali2 ikut upacara bendera di daerah pedalaman :D
    Seru kayaknya, apalagi pake baju adat begitu :D

  8. hihiihi…jadi inget dulu waktu sekolah, paling males kalau ada upacara bendera,
    trus cari akal gimana caranya supaya gak usah ikut :P

    dan, lucu nya , sebenarnya sih terharu Nik, ketika menghadiri upacara bendera 17 agustus di negeri orang, tepatnya di kedutaan RI di eropa…
    duh, sampai terisak2 dan baru menyadari betapa cintanya aku dgn negeri ini sekaligus dgn benderanya :)
    ( jadi curcol) :)

    Sukses ya Nik diacara ini :)
    salam

    • saya sempat mengira saya yang lebay karena terisak pas upacara di halimun itu, eh ternyata bunda juga mengalami ya?
      aneh ya bun, kenapa justru tidak begitu ketika menjalaninya secara rutin ya …

      gpp bun, curcol blom bayar kok di sini hehehe makasi ya bun

  9. wihhh makin seru aja persaingan giveway. semua di baca keren keren. hmmm siapa yang dapat hadiah nya. eh gw pengen ikutan juga ahh. hehehe. wahh upacara. mengingatkan jaman sma jadi pasukan pengibar bendera

  10. mungkin saya harus ke desa cipta gelar itu sekali2 karena setiap upacara di sekolah sama sekali jiwa nasionalisme saya gak keluar.. malahan males ikut upacara

  11. Nique…ini pas kapan….
    Kayaknya asyik banget ya….merayakan kemerdekaan, mengerek bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan syahdu.

  12. Dulu pas KKN di desa yg cukup terpencil di Sumatera Selatan, saya juga ngerasain acara “17-an” di sana. Dan rasanya memang lebih khidmat, entah kenapa, hehe….

    • iya kak, beruntung sekali,
      dan ketika tahun berikutnya aku coba ikut 17-an di Kabanjahe dengan harapan akan mendapat sensasi yang sama,
      tapi sedihnya tidak … padahal di kampung sendiri ya …. beda sih soalnya :(

    • seru sekali … 2jam naik perahu motor?
      tapi ke halimun mah … kudu jalan kaki hiks ….
      ada sih mobil offroad tapi mahal sewanya hehehe …

      iya bang, nti tak inguk2 ya award nya, haturnuhun pisan :)

  13. orang2 yg jauh dari keramaianlah justru yg benar2 menghargai dan memaknai arti kemerdekaan yang sesungguhnya….

    Sudah lama juga saya ga ikut upacara setiap Agustusan… :(

  14. Seru sekali ya mba.
    jadi kangen waktu kecil dulu, doeloe setiap malam 17/8 andes pada keliling desa sambil memukuli kentongan, bawa obor dan bernyanyi lagu kemerdekaan.

    moga menang ya mba.

  15. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikel sudah lengkap….
    Siap untuk dinilai oleh tim Juri….
    Salam hangat dari Jakarta…..

  16. Aih, baca ini saya jadi kangen upacara bendera lagi. terakhir dulu ya pas SMA.. bahkan kuliah pun tidak ada upacara bendera. ckckck..

    salut, bisa ikut merasakan upacara di Halimun.

    saya belom pernah kesono malahan.

    sukses buat kontesnya yaa ^^

    • sensasi itu baru saya dapatkan justru ketika mengikuti upacara jauhhhh dari masa usia sekolah ….

      blom ke sana? sok atuh … :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge