Kotak ajaib itu mempertemukan kami, disanalah pertama kali aku mengenal sosoknya dalam sebuah perbincangan ringan di sebuah ruang diskusi. Saat mana sekumpulan orang-orang terpelajar itu, yang beberapa di antara mereka bahkan sedang di luar negeri menuntaskan S2 atau S3 mereka, bersepakat mengatakan bahwa tak ada lagi gadis yang perawan di ibukota ini. Sebagai gadis yang tinggal di Jakarta, dan yakin masih perawan, serta merta saya protes dengan lantang, bahwa saya tidak terima pendapat yang menggeneralisir karena saya percaya masih banyak kok gadis yang perawan di ibukota ini, salah seorang saya tentu saja
Monthly Archives: August 2011
Pesan Kaleng
Siapa yang rajin bertandang ke rumah LittleUsagi, pasti pada mahfum kalau di sana akan sering mendapatkan tulisan penuh kegalauan. Dan saya akan selalu ingat, ketika satu postingan di antara yang galau-galau itu dia menulis satu topik yang serius dari apa yang sedang terjadi saat itu, ternyata menuai satu kritik pedas dari seseorang yang tidak cukup jantan untuk menayangkan namanya di sana. Mungkinkah si pengirim pesan seorang betina, sehingga wajar saja jika dia tidak cukup jantan?
Saya masih ingat bagaimana dengan entengnya saya berkomentar di status Sang Putri dengan mengatakan kurang lebih begitulah resiko seseorang yang akan jadi penulis terkenal. Adanya pengirim pesan kaleng – ya saya mengkategorikan pengirim pesan tanpa nama sama saja dengan pengirim pesan kaleng – harus dianggap sebagai ajang penempaan mental, karena jika satu hari kelak dia menjadi penulis terkenal, kritikan lebih pedas pasti datang bertubi-tubi. Bisa jadi ketika itu Putri berpikir “doh orang ini enak saja menasehati gw kek gitu, blom tau dia kalau satu hari ngerasain?”
Dan hari ini, saya kebagian jatah menerima pesan kaleng juga, setelah satu tulisan saya yang dianggap pantas menang oleh blogdetik dianggap sebagai tulisan yang tidak berbobot oleh seseorang yang mengatasnamakan dirinya sebagai “blogdetik ngablogburit watch – bnw”.
Dalam kesempatan ini perkenankan saya membuat pengakuan yang sejujurnya bahwa saya bukan karyawan blogdetik, saya juga tidak punya keluarga yang bekerja di sana, kalau kenal satu dua orang mungkin, tetapi itupun belum pasti apakah orang yang saya kenal itu memang bekerja di sana, atau sekedar aktif sliweran di kantor detik.
Kejadian ini membuat saya mengingat kejadian beberapa tahun silam, ketika saya mengawali karir sebagai seorang sekretaris, di saat mana kemampuan mengetik saya menggunakan komputer masih sangat minim, dan ketika selesai dites saya bersikap nothing to loose saja, jika memang rejeki, pasti Tuhan akan membuka jalan, begitu yang ada di benak saya. Dan seperti ketiban duren runtuh rasanya, ketika perusahaan itu menghubungi saya dan mengatakan bawah saya diterima bekerja di sana.
Selang beberapa lama, saya menemukan arsip hasil tes saya waktu itu, dan lagi-lagi saya terkesima melihat hasil ketikan yang hampir sempurna yang saya yakini bukan saya pelakunya. Sempat saya cari tanya kepada penguji yang saat itu sudah menjadi rekan sesama sekretaris, dan mereka menjawab tidak tahu. Mengetahui hal ini kemudian saya berusaha memacu diri untuk meningkatkan kualitas diri agar seseorang yang telah mendukung saya tanpa saya ketahui dapat merasa bangga, bahwa dia telah tidak salah memilih seseorang untuk dia bantu. Saya selalu berusaha menjadi seorang sekretaris yang dapat diandalkan dan lagi-lagi pada akhirnya sayalah orang yang menuai buah manis dari kerja keras saya, walau tujuan awal adalah untuk membuat seseorang yang tak saya kenal itu bangga.
Mungkinkah ada seseorang di blogdetik sana melakukan hal yang sama, memenangkan tulisan saya karena merasa mengenal saya? Tapi jika berpikir demikian, saya kok seperti orang yang dengan sengaja telah merendahkan kredibilitas orang-orang di balik layar blogdetik? Dan cepat saya enyahkan pikiran buruk itu, karena niat awal saya mengikuti kontes di sana adalah untuk tujuan mengasah diri, dan jika menang maka itu merupakan bonus semata. Hampir saja tadi saya terpancing untuk mengomentari komentar itu, tetapi suami bilang tidak perlu, malah debat kusir nanti. Lebih baik ditulis saja di blog. Dan saya yakin kali ini takjub melihat istrinya manut dan patuh
Di akhir tulisan ini, saya bersyukur karena pada akhirnya saya bisa tersenyum, hilang sudah gundah gulana tadi karena teringat pada tulisan berjudul SUSAH = SENANG, aiiih … duhai angin malam, tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada si pengirim pesan kaleng, karena dia maka tulisan baru hadir di blog ini setelah beberapa hari vakum
Gambar di cover diambil dari sini.
Huru Hara Masak Tumpeng
Tidak urusan kontes tidak urusan masak, selalu saja ada huru hara di sini. Mungkin ini bisa jadi peringatan bagi para pria single dalam mencari istri, agar mencari istri yang kalem dan lemah gemulai, karena kalau punya istri seperti saya yang baterainya merk terkenal sehingga greng terus sepanjang hari, bersiaplah punya energi dua kali lipat agar tidak semaput hihhii*apaan coba?*
Sejak informasi tentang Kontes Tumpeng Ngetril61 tayang di BlogCamp, itu pula saya sibuk memikirkan tumpeng jenis apa yang akan saya buat. Setelah seharian keliling 3 pasar mencari cetakan tumpeng yang kecil dan tidak ketemu, saya hampir patah arang. Pandangan saya beralih pada semua perabotan di dapur, mencari-cari yang bentuknya kira-kira menyerupai kerucut. Malangnya, tidak ada satupun yang bisa dikerucutkan.
Ketika memasuki tanggal 16 kegalauan saya makin memuncak. Sebenarnya ini momen yang tepat, masak tumpeng dan hasilnya bisa dinikmati banyak orang, tetapi saya belum menemukan cetakannya huhuhuh …. akhirnya fokus ke acara barbekyu dulu aja deh *tsaaah padahal mah bakar-bakaran biasa hihiih* dalam rangka merayakan ulang tahun suami dan ulang tahun pernikahan kami yang ke-2.
Sesi galau mencari cetakan tumpeng masih berlanjut sampai kemarin, dan akhirnya saya menapak tilas lagi perjalanan saya ke setiap toko di pasar Sunter, dan akhirnya saya menemukan ide untuk membuat tumpeng bertingkat saja, sehingga saya membeli 2 cetakan, dan ujungnya saya buatkan dari daun yang di isi nasi
Tadinya cuma 2 tingkat, 3 dengan ujungnya, tapi kok kurang tinggi ya, sehingga cetakan kedua saya isi lagi setengahnya jadi deh 4 tingkat hehehe …
Masak tumpeng ini memang serba galau deh
Maklum chef amatiran memang begini kali yah
Sebelumnya saya sudah menuliskan semua masakan yang akan ikut tayang bersama si tumpeng, dan rencana awal adalah : nasi, telor semur, sambel teri kacang, ayam goreng, acar karo, tempe/tahu goreng, ikan gabus asin, dan sambel tomat. Tetapiiiiiiii………. ketika acara masak memasak dimulai, lost focus bener dah
Pertama 12 butir telur direbus, rencananya mau masakin semur sekalian untuk asisten dan duo bocil yang memang ngefans banget sama masakan semur saya
Tahu dan kentang sudah siap menemani telur untuk disemur bersama-sama. Tapi, melihat telur asin yang masih hangat itu kok saya jadi tergoda untuk pakai telor asin saja yaaa Ya udah deh, semua bahan semur dikirim ke kulkas
Lalu mempersiapkan mie goreng, ini pas banget juga karena adek Egi sudah rikwes mie goreng sedari pagi untuk menu buka puasanya. Lagipula, meniru tradisi temans saya yang orang Cina mewajibkan ada mie goreng dalam perayaan ulang tahun, katanya sih agar panjang umur seperti panjangnya mie hehehe…
Mie goreng selesai, tempe buncis orek dalam porsi besar akhirnya saya pilihkan sebagai menu makan malam para asisten. Langsung deh telur rebus dan teman-temannya masuk kulkas semua. Edisi galau berlanjut antara memilih AYAM GORENG atau AYAM KUNGPAO? Kalau ayam goreng sih sudah siap, tinggal goreng saja, tetapi saya ingin menampilkan tumpeng yang berbeda, karena selama ini saya pasti menemukan ayam goreng di setiap tumpeng
Dan ketika saya melihat daging ayam dada di freezer, hmm … tiba-tiba saya terpikir untuk membuat ayam kungpao saja. Langkahh pertama langsung goreng kacang tanah dulu, agar tidak berubah pikiran lagi
Begini memang dilemanya kalau bahan masakan banyak, jadi malah bingung sendiri.
Oya, terus kok bisa inget sama ACAR KARO? Tadinya mau masak URAB, tapi kok ribet ya? Kenapa tidak sekalian memperkenalkan acar karo saja? Pasti belum banyak yang tahu. Apalagi selama 2 tahun menikah, belum sekalipun saya membuatkan acar karo untuk suami, jadi momennya pas ‘kan? Dan alhamdulillah, suami ternyata suka banget sama acar karo ini hhehehe …
Lewat jam 5 saya memulai kehebohan ini, dan target jam 7malam semua sudah harus selesai, karena acara rutin sudah menunggu di Trans Tv jam 7.30 (BBI hihiih), dan saat itu sudah hampir setengah delapan, hiks … meleset dari target yang ditentukan, untungnya semua bahan sudah, tinggal menghias. Tumpengnya sih sudah dibuat dari tadi, karena saya memanfaatkan nasi yang masih panas agar lebih mudah dibentuk. Dan ketika asesoris siap pada posisinya, kehebohan baru muncul ketika mengambil gambar si tumpeng. Rasanya kok tidak sreg sama hasil foto dari dua kamera hape :( Dan lampu emergency ikut mengambil peran sebagai lighting pendukung agar hasil foto bisa lebih maksimal, seperti yang sudah tayang ini.
Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting akhirnya tayang, terus siapa yang makan nasi tumpengnya? Kami dong hihihi … sok romantisan dehhh … nasi tumpengnya dibawa ke kamar, dinikmati berdua deh, alhamdulillah, habis lhooo … hahaha .. padahal tadi suami sudah makan duluan gara-gara ngeces duluan sama si ayam kungpao. Ckckck … ini efek lapar atau memang enak yaaa hahaha … Dan, ketika sedang menyantap nasi tumpeng ini, baru deh saya ingat itu ikan gabus asin belum saya goreng dong huhuhu …. sambal tomatnya juga? Kok bisa lupa sih sama mereka hiks …
Walau sudah ada foto tumpeng yang tayang, saya mau berbagi fotonya lagi boleeeh dong
Yang jelas, setelah makan nasi tumpeng, kami tidak sanggup lagi makan sahur hahaha … asli kenyang banget!!! Sungguh ini pengalaman yang menyenangkan, jika Pakde tidak membuat kontes memasak tumpeng, entah kapan saya baru akan menjajal kemampuan membuatnya, padahal ternyata mudah, walau capek yah, lain kali, saya sudah pastikan akan membuatkan nasi tumpeng saja untuk keponakan yang berulang tahun, daripada beli kue tart yang mahal itu kan? Hehehe … *tante pelit*
Wes ah, huru haranya sekian saja … sekarang saya mau jalan-jalan dulu
Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting
Bulan Agustus benar-benar bulan istimewa, setelah minggu lalu saya menjajal keberanian saya memasak JONG LABAR untuk pertama kalinya, and now, here we go! Tumpeng Ngetril61 Ala Nde Iting dipersembahkan dengan penuh kasih untuk orang terkasih yang sedang berulang tahun (maksudnya suami saya LOL). Tumpeng adalah makanan yang saya baru kenal bentuknya sejak menjejakkan kaki di ibukota ini. Selama di Medan cuma kenalan sama nasi (ketan) kuning yang dibagi-bagikan apabila ada yang khatam Qur’an. Dan asesorisnya pun sederhana sekali, ada serundeng atau unti saja.
Tantangan dari yang berulang tahun kali ini benar-benar menguras kemampuan saya yang sangat terbatas ini, tapi setidaknya saya sudah berjuang keras untuk menayangkan sosok tumpeng perdana yang saya beri nama TUMPENG NGETRIL61 ALA NDE ITING. Dijamin nasi tumpeng seperti ini tiada duanya di dunia ini. Jika tak percaya, silahkan cari setiap anda sedang berwisata kuliner, bahkan di gudangnya kuliner yang enak-enak sekalipun, dijamin takkan ada deh. Apalagi ini tumpeng termasuk tumpeng prihatin, menyesuaikan dengan keadaan negara yang lagi krisis ya
Yuk intip apa saja yang ikut tayang bersama si tumpeng
nasi
mie goreng
telor asin
acar karo
ayam kungpao
tempe buncis orek
Cara Membuatnya:
Nasi
- 150 gr beras
- 200 ml santan 1/2 kelapa
- 1 btg serai, geprek
- 1/2 buah jeruk nipis
- 1 lbr daun pandan, ikat
- 1 lbr daun jeruk
- 1 sdt garam
- Terus terang, saya memasaknya menggunakan magic.com
sehingga semua bumbu dimasukkan sekaligus setelah beras dicuci bersih. Setelah nasi tanak, lapisi cetakan tumpeng dengan daun pisang agar nasi tidak lengket di cetakan. Padatkan nasi ke dalam cetakan supaya hasilnya tidak pecah.
- Siapkan piring yang telah dilapisi daun pisang, dan balikkan cetakan tumpeng dan atur lauk pauk di sekelilingnya.
Mie Goreng
- Rebus 1 bungkus mie instan, lalu lumuri minyak agar tidak lengket.
- Iris tipis 1 siung bawang putih dan 2 siung bawang merah
- Tambahkan segenggam tauge
- Iris besar 1/2 batang daun bawang
- Orak arik telor 1 butir
- Panaskan 1 sdm minyak sayur, masukkan bawang putih dan bawang merah, setelah kuning masukkan daun bawang, tauge dan telor orak arik, tambahkan lada, kecap dan saos serta bumbu instan yang sudah tersedia pada sebungkus mie instan, aduk rata.
- Siap disajikan!
Telur Asin
- Impor dari kampungnya Mabruri *LOL*
Acar Karo
- Potong segitiga 1/2 buah nenas
- Potong segitiga 1/2 buah timun ukuran sedang
- Iris kecil 3 buah cabai merah, 6 siung bawang merah
- Masukkan semua bahan, tambahkan sedikit cuka, garam dan gula putih secukupnya dan aduk-aduk hingga rata, diamkan sejenak, acar siap disajikan.
Ayam KungPao
- Potong dadu daging ayam 1 ekor bagian dada saja yang telah diungkep agar empuk, kemudian lumuri dengan saos tiram, diamkan +/- 15menit.
- Potong besar 1 batang daun bawang, 1 buah bawang bombay, 1 buah paprika dan 3 siung bawang putih.
- Iris besar 2 buah wortel.
- Goreng kacang tanah 1/2 ons
- Tumis bawang putih dan bawang bombay dengan 3sdm minyak sayur, masukkan paprika dan daun bawang, lalu masukkan daging ayam dan wortel sekaligus. Tambahkan air, lada dan garam secukupnya. Setelah matang, angkat dan taburi kacang tanah.
- Siap disajikan!
Tempe Buncis Orek
- Tempe diiris kecil, lalu digoreng kering menjadi 1 mangkok.
- Iris 2 siung bawang putih, 5 siung bawang merah, potong kecil cabai hijau besar 15 buah, tomat ukuran sedang 1 buah, 1 lembar daun salam, potong kecil bunsi menjadi 1/2 mangkok.
- Tumis bawang merah dan bawang putih dengan 2sdm minyak sayur, masukkan cabai dan tomat, tambahkan kecap dan saos tiram secukupnya, masukkan 1 batang daun bawang dan garam secukupnya, lalu masukkan tempe dan buncis sekaligus. Aduk rata, dan hidangan siap disajikan!
Bagi yang berminat mencicipi, silahkan datang sekarang, mumpung tumpengnya masih utuh hehehe ….
*) Nde Iting itu panggilan kesayangan untuk perempuan Karo yang disesuaikan dengan nama keluarga yang disandangnya, dan karena saya beru Ginting, maka secara otomatis panggilannya menjadi Nde Iting;jadi bagi yang selama ini terheran-heran ketika saya memanggil Lely dengan NDe Karo karena dia Beru Bukit
Pemenang Giveaway 2nd Wedding Anniversary
Jreng … jreng!
Perhelatan yang kita adakan selama dua puluh dua hari berakhir juga, sungguh saya sangat terharu melihat respon temans sekalian, sehingga peserta mencapai 63 orang *speechless*. Sungguh di luar dugaan kami! Terima kasih dan semoga ke depannya kita tetap dapat menjalin tali silaturahim yang sudah terjalin ini lebih baik lagi, aamiin!
Kami juga bersyukur dan sibuk meng-aamiin-kan setiap doa demi kelanggengan rumah tangga yang baru seumur jagung ini, masih panjang jalan kami, dan ada yang bilang perjalanan ke sananya sudah pasti tidak lebih mudah, pasti onak dan durinya akan lebih tajam, tapi kami pasti bisa jika kami mau memperpanjang sabar *ini sih saya* dan saling percaya.
Sungguh bukan pekerjaan mudah memilih HANYA 2 pemenang dari masing-masing kategori, dan sebagai orang yang biasa heboh seperti saya, tentu saja kali ini juga dong kasak kusuknya berisik banget hehehe … Tapi alhamdulillah, kehebohan tidak terjadi ketika kami memilih QUOTE yang paling OK buat kami, mungkin karena perasaan yang mengharu biru, atau mungkin karena suasana menunggu perpindahan waktu dari tanggal 15 ke 16 tadi malam
Well, pasti temans sudah tidak bersabar ‘kan ya ingin tahu siapa yang mendapatkan hadiah dari kami
Terima kasih yang spesial pake teh manis dan nasi goreng untuk Om Trainer yang telah membantu saya menyampaikan pengumuman ini
Bagi temans yang ingin tahu apakah nomor yang disebutkan Om Trainer itu adalah milik anda, silahkan cek di daftar di bawah ini. Bagi yang beruntung, harap kirimkan alamat yang jelas ya boleh ke email ([email protected]) boleh juga ke fesbuk, mana yang lebih memudahkan temans saja.
Akhir kata, saya sampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk Bapak saya yang antibiasa itu yang sudah sangat berbaik hati sudi meluangkan waktu, pikiran dan tenaganya demi teralisasinya giveaway ini. Sungguh antibiasa, bahkan gara-gara komennya yang antibiasa, beberapa teman jadi salah memilih jawaban hehehe … ya, dengan segala hormat saya akui bahwa terselenggaranya giveaway ini sepenuhnya karena beliau *menjura*. Mungkin beberapa temans sudah bisa menebak siapa gerangan di balik layar, ya iyalah … saya mah boro-boro bisa bikin begitu
Sampai bertemu di perhelatan berikutnya ya
1. BAHA ANDES – http://b1b2kombonganandes.blogspot.com
2. MASBRO – http://www.acacicu.com
3. TIARA PUTRI – http://luphsetsuna.blogspot.com
4. JUMIALELY – http://jumialely.com
5. ARMAN – http://armantjandrawidjaja.wordpress.com
6. BUNDA LILY – http://bundadontworry.wordpress.com
7. MANDOR TEMPE – pabriktempe.wordpress.com
8. OM LOZZ – http://essip.blogspot.com
9. BANGAU PUTIH – http://bangauputih.info
10. ASOP – http://asopusitemus.com
11. ZAN – http://zaninsurgent.blogspot.com
12. NENG TARRY – http://tarryholic.blogspot.com
13. SOFYAN – sofyandiary.blogspot.com
14. MABRURI S – http://mabrurisirampog.wordpress.com
15. DJANGAN PAKIES – www.djanganpakies.com
16. PAKDE SULAS – www.pakdesulas.blogspot.com
17. LIDYA FITRIAN – http://www.fitrian.net
18. KAKAKIN – http://try2bcoolnsmart.wordpress.com
19. LYLIANA THIA – http://thegreenpensieve.com
20. IRNI IRMAYANI – http://irniirmayani.com
21. NENG AIS – http://marsitariani.wordpress.com
22. IAM – http://zonaiam.com
23. MAS JIIR – http://masjiir.wordpress.com
24. ABI SABILA – www.abisabila.com
25. AMELA – http://pagi2buta.wordpress.com
26. KURNIASEPTA – http://kurniasepta.blogspot.com
27. MECHTA – http://mechta.blogdetik.com
28. DEY – http://keluargadeyfikri.blogspot.com
29. FITRI – http://rayafr.blogdetik.com
30. DAENG IPUL – http://daenggassing.com
31. ORIN – http://rindrianie.wordpress.com
32. PUTERIAMIRILLIS – http://puteriamirillis.blogspot.com
33. BANG ASWI – http://aswi.blogdetik.com
34. OM TRAINER – http://theordinarytrainer.wordpress.com
35. MAS NECKY – http://sentilan.blogspot.com
36. BAYU – http://oioisquad.blogspot.com
37. SIBAIR – http://sibair.net/
38. BUNDOSAR – http://advertiyha.blogdetik.com
39. SUSINDRA – http://blogsusindra.blogspot.com/
40. MAMA KINAN – http://artyakinanthi.wordpress.com
41. AAN – http://aanssubhan.wordpress.com
42. BUNDA YATI R – http://goodcrab-personal.blogspot.com
43. KAK MONDA – http://mondasiregar.wordpress.com
44. MOOD – http://jejaklalu.blogspot.com
45. BUNDIT – http://alumongga.wordpress.com
46. DIEKA – http://dieka2501.web.id
47. AMING – http://aming-ma.com
48. RIZKI FEBRIANI PUTRI – http://watakushi-q2.blogspot.com/
49. CARDIO TRAINER – http://topcardiotrainer.com
50. OMMAN – www.rayahang30.wordpress.com
51. ABRUS – www.abrussiano.wordpress.com
52. YSALMA - http://ysalma.wordpress.com/
53.SUGENG HANDOYO - http://genksukasuka.wordpress.
55.JURAGAN MIE JANDA - http://elharis.blogdetik.com
56. VITA - www.aufalatifah.blogspot.com
57.BATAVUSQU - http://zipoer7.wordpress.com/
58.ZIPPY - http://narzis.net
59. SUGENG - http://sgharjono.wordpress.
60. PRICRIMBUN -
61. IMELDA C - http://imelda.coutrier.com
62. WIENLOLA - http://wienolala.net/
63.JULIE – http://gerhanacoklat.wordpress.com
Perjalanan Cinta si Jong Labar
Sabtu kemarin telah menjadi satu dari sekian hari terheboh yang pernah saya jalani. Setelah sebelumnya di kepala ini cuma ada TAHU ISI + sambal kacang, eh tiba-tiba saya berpikir rasis
Secara gitu lho, tahu isi mah sudah biasa, bukan?! Selain berpikir rasis, saya juga jadi narsis, karena kepengin pamer jajanan khas Karo buatan sendiri. Aneh bin ajaib, kok yang muncul di kepala saya adalah JONG LABAR? Makanan yang pernah saya makan duluuuuu banget, dan tidak pernah mencoba membuatnya seumur hidup.
Berhubung Ann adalah juga orang Karo, saya berharap dia pernah posting tentang Jong Labar di sana, eh tapi kok saya tidak menemukan jejaknya sama sekali ya? Hiks…. tanya ke Mamanya si abang, tapi kok tidak yakin ya? Hmm … sempat mau beli Cimpa yang sudah jadi saja, Cimpa yang rasanya mirip Kue Bugis ini memang khas Karo juga. Tapi kok kurang afdol ya jika bukan buatan sendiri?
Pada saat yang bersamaan saya sedang berbalas pesan di fesbuk dengan Eda Jumia Lely Bukit. Aha! Ini dia malaikat penolong saya
Serta merta dong saya tanyakan cara membuat Jong Labar dan harus cepat, karena saya mau kirimkan buat seorang sahabat dari negeri jauh hari itu juga. Sudah bisa membayangkan kehebohannya belum?
Tidak sampai satu jam dalam penantian, resep sudah tayang di blog si Eda. Secepat kilat saya berangkat ke pasar, pede sih karena kemarin baru beli 2 bongkol jagung dan saya tahu kalau si abang punya stok banyak. Betul ‘kan?! Walau ke pasar sudah siang, ternyata jagungnya masih banyak, semua ada di satu pasar, ya daun pisang, gula merah dan kelapa setengah tua. Wah, mestakung nih, ada niat dan semuanya tersedia begitu mudahnya.
Walau ini pengalaman pertama saya memasak Jong Labar, tapi pede aja tuh, jadi bagi yang mengira foto tampak belakang itu karena ketidak-pedean saya, salah besar tuh xixixi … Seperti biasa, tidak kontes tidak masak, pasti selalu ada kehebohan di belakang layar. Dan kali ini kehebohan datang dari si panci kukus
Saya itu punya beberapa panci kukus, yang kecil, sedang dan besar, lengkap! Tetapi, kok saringnya tidak satupun yang kelihatan???? Huaaa…. panik dong! Hla, ini adonan sudah setengah jadi, terus kalau tidak ada panci kukusnya, gimana dong??? Huhuhu … sudah mau nangis aja deh. Jadi sodara-sodara, tiba-tiba dapu kecil saya itu jadi centang perenang karena semua perabotan dibongkar demi mencari keberadaan si saring panci. Hihihi … untung ketemu satu, dan itu saring panci yang paling besar dong …ampun deh, tapi tidak apa, masih bagus ketemu, daripada tidak, makin bingung dong saya?
Oya, kehebohan lain muncul, ini adonan kenapa jadi berair ya? Ngukus tester, eh pas mateng hlo kok penampakannya tidak seperti yang diharapkan ya? Hmm … sepertinya saya harus berimprovisasi menambahkan terigu nih untuk menyatukan semua adonan ini. Baru saya tahu dari Mamanya si abang bahwa jenis jagungnya beda dengan yang di kampung kami sana, di sana jagungnya tidak seberair jagung manis. Oh, ga tau juga sih saya
Baiklah, dikukus lagi dong tester dengan tambahan terigu tadi, voilaaaaaaa…………jadi juga hihihi … senang dong saya.
Improvisasi saya yang lain adalah semua bahan tidak ditimbang sesuai anjuran masterchef, jadi semua pakai takaran rasa-rasa
Masalahnya karena saya tidak punya timbangan kue, hla wong saya tidak pernah masak kue, buat apa beli timbangan, iya kan? Bisa mubazir
*padahal mah pelit hahaha* Jadi beginilah bahan yang saya sediakan untuk 60 bungkus Jong Labar.
13 bongkol jagung manis besar-besar
1/2kg gula merah
1/2 butir kelapa setengah tua
terigu, garam dan lada hitam secukupnya
Daun pisang untuk membungkus, jangan lupa di’lulus’ terlebih dulu, agar mudak ketika membungkus adonannya.
Cara Membuat :
Iris kasar jagung manis, dan sisir daging jagung yang masih tersisa pada bongkol *sayang klo disisain, apalagi yang tersisa di bongkol itu justru sarinya lho
ga mo rugi.com*; iris gula merah dan masukkan ke dalam adonan jagung dan kelapa; jika terlalu berair boleh tambahkan terigu secukupnya, terakhir tambahkan garam dan lada hitam.
Setelah dibungkus, kukus selama +/- 30menit.
Dan inilah penampakan dari Jong Labar yang dibuat penuh cinta untuk dipersembahkan untuk sahabat yang juga sedang menjamu para sahabatnya dengan cinta
Apakah kehebohan sudah usai? Tentu saja belum! Dan episode baru dimulai dalam menempuh perjalanan ke satu tempat yang saya tidak terlalu yakin menempuhnya dengan motor. Kok motor? Ya, harus motor kalau mau cepat, ini Jakarta bung, Sabtu sore itu sangat rawan macet. Lagipula, kalau naik motor malah mesra toh? *ganjen hahaha* Perjuangan kami sepenuhnya disponsori oleh GPS dari S-Galaxy Mini yang tak jarang membuat saya dan suami adu argumen, gara-gara GPS nya terlalu pintar menemukan jalan-jalan tikus, yang saya tidak pernah tahu, dan tentu saja saya tidak mau melewatinya, sementara suami maunya patuh mutlak pada si GPS . Sejujurnya sih, memang harus patuh sama si GPS agar bisa tiba di tujuan dengan cepat dan selamat. Tapi memang susah kalau disuruh memilih antara GPS dan istri hahaha Masih bagus suami tidak meninggalkan saya di jalan hihihi
Jika ketika urusan belanja tadi begitu gampang, tidak berbanding lurus dengan perjalanan kami, karena sempat 2x mengalami ban kempes
Hahahaha …. ampun dah ah! Seru pisan euy! Akhirnya perjalanan cinta itu tuntas juga, alhamdulillah ….
Last but not least, terima kasih buat Eda Jumia Lely Bukit untuk resepnya, terima kasih untuk mba Imelda yang bersedia mencicipi masakan saya, terima kasih buat yang berani menjajal makanan yang pastinya baru ketemu hari itu hehehe senang melihat Uda Vizon jadi model si Jong Labar, juga senang melihat Jong Labar jadi tamu istimewa di beberapa foto itu
… Semoga tidak ada yang sakit perut yaaaaa
THR dari Pedagang Telur
Tidak sanggup saya jika harus menahan kisah ini sampai besok, oleh karenanya biar deh satu hari saya menayangkan dua postingan. Tadi pagi, setelah saya menuntaskan kisah 30 menit yang saya lalui bersama duo seleblog di Pacific Place sana, tak lupa berpamitan pada Nchie dan Lely serta bapak saya kalau saya mau ke pasar dulu, meninggalkan mereka yang sedang seru-seruan di Warung Blogger.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10, dan bersama suami berangkat deh ke pasar terdekat. Berikut ini adalah urutan cara saya berbelanja di pasar, dan hampir selalu sama. Dimulai dari yang lokasinya paling depan sebagai berikut.
1. Pedagang telor – pesan 2kg yang kecil-kecil (biar isinya banyak hahaha),
2. Pedagang ayam – pesan 2 ekor dan minta dipotong besar-besar untuk digoreng, 1 ekor potong kecil-kecil untuk ayam goreng mentega, semur atau sambal balado.
3. Pedagang bumbu dan sayuran yang letaknya di pojokan, belanja macem2 deh, kalau tadi beli jeruk nipis, daun bawang, tomat, wortel, dan kentang.
4. Ada pedagang ikan cuek mau nutup, padahal iseng nanya, udah abis bu? Ketika dijawab, belum neng, saya jadi merasa wajib beli, 10rb lagi.
5.Liat kulit lumpia di salah satu pedagang yg dilewati, beli 2, harganya beda gopek dari yang biasa
6. Tukangbumbu jadi beli bumbu ayam ungkep.
7. Tukang tempe dan sayuran, beli tempe dan tahu, toge, sawi putih (sawi dibeli karena mata ijo liat daun yg ijo
)
8. Liat tukang lele masih ada, beli sekilo
Sudah itu saja, saatnya pulang dan mampir lagi di pedagang ayam dan telor ambil pesanan. Eh, pas di pedagang telor, ibunya sedang mematut diri dengan sepotong baju batik, saya pun sambil lalu bilang “wah, jadi nih lebaran ya bu.” Eh eh .. apa ini? Saya disodori baju batik lho? Mlongo dong saya, dan bertanya: “ini buat saya, bu?” Ibu itu menyahut sambil bertanya: “nggih, asmanipun sinten?”
Asli, saya pulang seperti anak kecil yang baru dijajani sama ibunya. Senaaaaaaang sekali! Sungguh tidak saya kira akan mendapatkan hadiah dari pedagang telur, walaupun memang saya ini sangat setia belanja di sana, dan tentu saja saya tidak pernah menawar seperak pun. Mau naik mau turun harga telor ya belanjanya selalu 2kg. Tapi saya tetap merasa surprise ketika menerima sepotong baju itu. Anda penasaran? Ini penampakannya hehehe …
Kira-kira nanti saya dapat bingkisan lagi tidak ya dari supplier minuman, atau voucer game on line? Hahaha jadi ngarep gini …. Bagaimanapun, pemberian ini sudah mencerahkan hari saya, sama sekali tidak masalah harga atau kualitas barang yang diberikan, tetapi ini melulu tentang perhatian, penghargaan; dan jika hari ini seorang Pedagang Telur telah menghargai kehadiran saya di tokonya sedemikian rupa, sepatutnya saya memikirkan penghargaan apa kiranya yang akan saya berikan kepada pelanggan saya yaaaa ….. *elus-elus dagu*
30 Menit Saja!
Cerita ini sebetulnya masih satu rangkaian dengan cerita tentang Kopdar plus plus yang diadakan Senin lalu, hanya saja cerita ini muncul karena rekayasa dari seleblog Imelda Miyashita. Sttt … pada saat mengawali cerita ini tiba-tiba terngiang di telinga saya intonasi mba Imelda menyebutkan kata Miyashita di depan kantor bank yang melarang orang tua untuk terlibat, dan kami sudah mengatakan bahwa 2 anak hanya mengerti bahasa Jepang, tetapi petugas di sana seperti kurang percaya, sehingga tetap keukeuh melarang anak didampingi orang tuanya. Dan seperti yang sudah diduga, harus dong Mrs. Miyashita masuk ke dalam untuk menuliskan nama KAI *LOL* sungguh momen ini membuat kami terpingkal-pingkal. Ada yang perhatikan tidak, cara kita mengucapkan Miyashita beda lho dengan cara orang yang bisa berbahasa Jepang mengucapkannya : D
Ketika sedang heboh-hebohnya mengawal 7 anak dan keponakan itu, apalagi saat itu sudah menjelang lunch time, tiba-tiba mba Imelda berbisik seolah ada yang rahasia
”bisa ga nanti kita keluar sebentar saja tanpa suamimu?”
Serta merta saya menyahut : “Tentu saja bisa. emang ada apa ma?”
“mau ketemuin kamu dengan seseorang, boleh kan?”
“bolehlah … hahaha … gpp kok mba, pasti mau ketemu sama om trainer ya?”
“hahaha … padahal dia ga tau lho klo yang mau saya ketemuin itu kamu lho.”
“klo di sini dan di waktu yang mepet ini sudah pasti itu om trainer, bener kaaaan?”
“hahahaha iyaa … ”
Giliran saya yang kasak kusuk sama suami, nitipin 7 keponakan karena emak-emak mau keluar sebentar. Suami saya memang baik dah, soalnya tidak banyak tanya mau apa dan ngapain, langsung jawabnya IYA. Sip, misi berjalan lancar hehehe Niatannya dengan mba Imelda kami akan meminta om trainer untuk menebak siapa gerangan saya. Hihihi … kesannya kok saya ini blogger yang misterius sangat yak!
Eng ing eng….. kami pun keluar, dan dari kejauhan saya melihat sosok itu berjalan dengan gayanya khas, persis seperti yang saya bayangkan *lho?* ahahaha … maksud saya persis seperti yang saya lihat di foto-fotonya; dan begitu jarak di antara kami semakin dekat tanpa perlu komandi kami segera berjabat erat.
“Om Trainer ‘kan?” begitu celetuk saya.
“iya … ” wajahnya masih bingung dong.
“sering juga lho mampir ke blog buat komen-komen.” kata mba Imelda
Saya dan mba Imelda tertawa-tawa dong meminta si om menebak siapa gerangan perempuan yang berdiri di depannya. Tetapi memang cuma dengan 1 kata sudah bisa ditebak, jadi kurang seru juga sih. Begitu mba Imelda bilang blogger misterius, langsung ketebak deh.
“cuma 2 pilihannya antara choco atau nike.”
Meledaklah tawa kami, ketika om Trainer bilang, “Pasti Nike yaaa.” Hahahaha …. ketahuan juga 
Rupanya om Trainer berpatokan sama jilbab yang saya kenakan, diperhatikan dari avatar saya katanya hihihi Rupanya menurut om trainner ketika kopdar di Bandung, nama saya sering disebut-sebut hihihi … ada-ada saja yaaa …
Well, 30 menit adalah waktu yang sangat teramat singkat bagi 3 orang, dan terus terang dalam 30menit itu saya kok tidak merasa bertemu orang baru, lebih seperti bertemu teman lama yang baru ketemu lagi. Mungkin karena saya tipenya ‘grece’ juga mungkin karena kejujuran kami dalam menulis selama ini, sehingga ketika bertemu sosok aslinya tidak merasa ada kecanggungan lagi. Sayang sekali waktu begitu sempit, satu hari nanti harus diulang lagi.
Dalam kesempatan ini, saya merasa perlu meminta maaf karena baru bisa menampilkan foto tampak belakang, sepertinya saya tidak tega membiarkan mas Mandor Tempe sendirian yang ‘takut’ sama kamera *cari alibi*, so nantilah, jika waktunya tepat, mungkin ada kesempatan bagi saya untuk memajang foto diri. Saya tahu mungkin sedikit tidak nyaman, tetapi untuk saat ini adanya begini, harap memaklumi ya
Saya sangat menghargai kecekatan Om Trainer yang sudah terlebih dulu menayangkan cerita yang diberi judul STANDING KOPDAR di rumahnya, dan terima kasih buat mas Necky yang tadi sudah mengingatkan saya. Inilah akibat dari menunda-nunda, entar-entar eh kebablasan hehehe …
Gambar di ambil dari rumah Om Trainer
It takes two to tango!
Kemarin salah seorang anggota keluarga berpulang dengan sangat mendadak. Nandenguda – begitulah saya memanggil almarhumah, mengalami gejala pusing dan lemas hampir sebulan, tapi penyakit itu tidak ditanggapi dengan serius sehingga dirasa cukup mendatangi dokter praktek biasa. Dan ketika dibawa ke rumah sakit eh kok sudah komplikasi??? Mengagetkan! Saya jadi teringat tulisan ini, dan memang ketika membaca tulisan ini 2 hari yang lalu, saya sempat terpikir siapakah yang akan berpulang di antara anggota keluarga kami di bulan suci ini?
Sejujurnya hadirnya bulan Ramadhan, seringkali menciutkan hati ini. Bukan saya tidak bersuka cita karena berkesempatan bertemu Ramadhan, tetapi sedikit trauma karena Mamak berpulang saat Ramadhan tiba. Jadi di dalam benak ini, setiap Ramadhan datang, entah bagaimana pasti terpikir tentang kematian. Sehingga ketika kabar duka ini tiba menjelang siang kemarin, bagaimana saya tidak tercekat? Ternyata saya masih saja belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap untuk berita duka semacam ini.
Nandenguda ini, adalah istri dari Bapauda saya, yang merupakan sepupu Bapak, karena ibu mereka bersaudara kandung. Tali kekerabatan ini masih sangat dekat sebenarnya, tetapi memalukan sekali mengakui kenyataan bahwa tidak ada inisiatif dari masing-masing untuk saling mendekatkan diri. Bukan karena ada perselisihan, tetapi entahlah, sepertinya kesibukan masing-masing memberangus hasrat kebersamaan masing-masing, sehingga kemudian jarak seringkali dikambing-hitamkan. Padahal Depok itu ‘kan bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja ‘kan? Begitu juga sebaliknya.
Tapi begitulah kehidupan di tanah perantauan ini, masing-masing hanya berbagi cerita ketika ada yang menikah atau meninggal seperti kemarin. Akibatnya waktu setengah hari pun dirasa tak cukup untuk mengurai semua cerita selama kedua sepupu itu tidak bertemu. Bahkan saat-saat Lebaran pun tidak dianggap sebagai sesuatu momen yang tepat untuk berkumpul, karena lagi-lagi, masing-masing disibukkan oleh keluarga besar mereka sendiri.
Adalah sesuatu yang memalukan ketika saya harus mengakui bahwa saya tidak mengenali satu pun dari 6 sepupu saya itu, padahal kami semua sudah berkeluarga, dan sudah sepatutnya saling mengenal lebih baik lagi, karena ketika orang tua kami berpulang satu hari nanti, tali kekerabatan ini tidak ikut dikubur bersama jasad orang tua kami. Harus ada yang berinisiatif merekatkan hubungan ini, tetapi siapa? Saya? Belum apa-apa saya sudah pesimis merasa tak mungkin bisa melakukannya.
Para orang tua kami pun sepertinya sudah pasrah jika di masa depan anak cucu mereka tidak akan saling mengenal lagi. Sepasrah Bapauda itu setiap kali anak-anaknya menolak untuk menemani orang tua mereka ketika diajak serta mendatangi sanak keluarga dalam setiap kesempatan. Memang saya masih ingat, ketika ada yang menikah atau meninggal di dalam keluarga kami, Bapauda dan Nandenguda selalu datang berdua saja. Berbeda dengan kami yang tidak cukup tega menolak perintah orang tua untuk turut serta, yeah … alasan Bapa dan Mamak agar kami mengenal anggota keluarga yang lain. Belakangan frekuensi Bapa menghadiri pertemuan-pertemuan semakin jarang, selain karena kondisi kesehatan, juga karena Mamak sudah tidak ada. Kami memang perhatikan jika dulu setiap Lebaran kami boyongan mengunjungi keluarga-keluarga yang di Jakarta, sejak Mamak tidak ada, semua tidak ada lagi. Kegiatan terhenti di rumah Bapa, menemani Bapa di rumah, kecuali kami yang mudik.
“It takes two to tango” kalau salah satu tidak mau tidak bisa terjadi sebuah rangkaian tarian indah, begitu kata mba Imelda. Tiba-tiba kalimat ini begitu saja muncul di benak saya ketika orang tua kami mengeluhkan bagaimana anak-anak mereka tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya. Ah entahlah ….