Masih ingat tentang cerita tilang saya pada postingan ini? Sengaja saya pending karena mau diceritakan tersendiri berikut penyelesaiannya. So, here we go
Setelah para suami memasuki pelataran parkir KOMDAK tempat peserta funbike berkumpul, kami para istri segera menuju Ancol. Nah, di sini masalahnya bermula. Teman saya sedang malas menyetir mobil, sehingga mau tak mau saya yang menyetir, padahal SIM sedang tak punya, hilang sejak ditilang setahun lalu, dan malas mengurus lagi. Sempat saya utarakan kekuatiran soal SIM, tapi teman saya keukeuh agar saya saja yang menyetir. Sebelumnya para suami sudah mewanti-wanti agar lewat tol saja, tetapi para istri ini merasa jalan lewat arteri juga sepi, buat apa lewat tol?
Kesalahan fatal adalah kami keasyikan mengobrol sehingga tidak memperhatikan di perempatan Grogol itu cuma ada 2 pilihan belok kiri atau kanan, sementara kami mau lurus. Otomatis dong p*lisi yang sudah menanti di seberang sana, langsung seperti ketiban duren runtuh melihat mangsa masuk perangkap
Kami pun digiring untuk minggir.
Taraaaaa………saya cuma menggeleng ketika diminta menunjukkan SIM. Akhirnya teman saya yang mengikuti langkah petugas itu untuk urusan lebih lanjut. Karena terlalu lama, akhirnya saya datangi mereka, eh ternyata sedang terjadi negosiasi. Petugas itu meminta 100rb tapi teman saya menawar 50rb. Kesepakatan tidak terjadi sehingga terbitlah surat tilang. Saya yang biasanya sukses mengelabui petugas setiap dicegat di jalan, kali ini mati kutu, karena tidak ada persiapan sama sekali. Asli kaget ketika melihat tangan polisi melambai memberi tanda pada kami untuk menghampiri mereka.
Suami teman yang sudah berpengalaman bilang lebih baik ditilang daripada bayar ke petugas itu. Dan jadual sidang untuk urusan tilang ditetapkan tanggal 15Juli. Berhubung saya dan suami tidak tahu persis Pengadilan Negeri Jakarta Barat sebelah mana, maka kami berangkat pagi, maksudnya sih kalau pun harus cari-cari tempatnya setidaknya tidak akan terlambat dari jadual sidang jam 09.00. Saya bahkan sudah bilang kalau nanti bayarnya harus jutaan sebagaimana yang diucapkan petugas di lapangan, saya lebih baik masuk penjara deh, paling juga berapa lama hehehe … pas dengan kata suami 2 bulan menciut juga sih
Yang jelas saya excited sekali ingin mengetahui jalannya persidangan tilang itu seperti apa?!
Persiapan mental buyar ketika melihat lokasi sidang. Benar-benar seperti pasar. Tidak masuk di akal sih bagaimana itu para calo bertebaran, jika di tempat sebermartabat P*ngadilan Negeri saja calo berkeliaran, apalagi di tempat lain seperti terminal bus atau stasiun kereta ???? Seorang calo menghampiri saya dan menanyakan mana surat tilangnya, dan belakangan dari hasil obrolan dengan terpidana yang lain, baru saya ketahui bahwa justru TIDAK BOLEH memperlihatkan surat tilang kepada para calo karena sekali surat itu di tangan mereka, maka jangan harap surat itu bisa kembali ke tangan anda. OMG!!! Untuuuuung saya memang tidak memegang surat tilang itu, siapa tau para calo dibekal ilmu hipnotis dan tiba-tiba saya menyerahkan begitu saja, kan tidak begini cerita yang ditulis jadinya hehehehe Dan tau ga berapa uang yang diminta si calo untuk pelanggaran 2pasal??? SERATUS TUJUH PULUH RIBU saja dong!
Sempat juga saya mengobrol dengan seorang terpidana yang sudah telanjur menggunakan jasa calo dan membayar 100rb, padahal kalau dia urus sendiri cuma membayar 21rb (SIM Motor). Rupanya dia baru di Jakarta, dan masih lugu, sudah takut duluan hehehe
Setelah menyerahkan surat tilang di sebuah loket berlokasi di dekat tempat parkir yang semrawut itu, kami disuruh naik ke lantai 1 di mana para terpidana berkumpul. Kembali suasana pasar pindah ke sini, jauh dari nuansa manusia bermartabat dan berbudaya. Pintu masuk disesaki manusia yang kebanyakan calo. Calo lebih galak ketimbang terpidana. Calo terlihat saling lempar senyum dengan petugas. Calo lebih terlihat sebagai kepanjangan tangan petugas saja layaknya. Petugas galak terhadap terpidana, terutama ketika saya mencoba mengambil gambar suasana persidangan eh petugas perempuan berbadan besar itu membentak saya hohoho …
Ok, saya coba mengilustrasikan ruang persidangan itu. Di depan meja panjang ada 4 kursi yang di tengah seorang hakim bertoga, kiri kanan berpakaian biasa. Ruangannya berAC tentu saja, ditambah ada kipas pula. Sejuk! Di depan hakim bergerombol lah terpidana yang sebagian duduk manis di kursi-kursi kayu yang dijejer rapi di depan hakim, yang tidak kebagian duduk ya silahkan berdiri saja. Dengarkan baik-baik, jika nama anda dipangsuratgil, silahkan maju, terserah mau loncat atau gimanalah caranya menerobos kerumunan manusia itu, yang penting cepat ke depan hakim. Setelah itu surat tilang ditumpuk dan si terpidana boleh pindah ke ruang sebelah, tempat menuntaskan pembayaran. Ini pun model pasar juga, sepertinya berkerumun itu memang yang terbaik, sehingga ketika nama seseorang dipanggil malah susah merangsek ke depan. Giliran kami membayar ternyata 71rb saja untuk kesalahan menyetir tanpa SIM dan melanggar rambu-rambu. Untung mau ditilang, kalau tidak, uang 100rb sudah masuk kantong petugas dong hehehe …
Oiya, bagi siapapun yang kena tilang, terus tidak sempat datang ke sidang, juga karena malas antri dalam kerumunan yang panas, tenang saja, beberapa hari kemudian datang saja ke kantor PN/kejaksaan setempat, nanti langsung bayar dan sim/stnk akan dikembalikan. Dengan begitu tidak perlu berpanas-panas dan berjubel, juga tidak perlu repot melayani para calo yang bolak balik menawarkan jasa yang kelamaan membuat yang sabar pun bisa naik pitam
Pengalaman ini sangat berharga buat kami, jika selama ini rada ciut setiap berpapasan dengan petugas berseragam, sekarang sudah tenang, yah kalau dihentikan, tinggal minta surat tilang saja. Tak usah ada kata DAMAI, karena uang dari perdamaian di tempat tidak jelas uangnya ke mana. Lagipula ada yang mengganjal nih, pada surat tilang ada tertera angka 100rb, 200rb dan seterusnya, yang menurut petugas boleh memilih mau bayar nominal yang mana di tempat. Kenapa angka itu berbeda dengan angka di pengadilan? Ada yang pernah cari tahu tentang ini? Dan keanehan yang lain, sepertinya denda untuk pelanggaran apapun sama aja deh besarnya, karena saya dengar pada bayar 21rb, 51rb, dan 71rb????
NiQue … apa yg kamu tulis ‘betoollll – jadi nostalgia deh…
saya malah pernah ngotot2an sama polisi yg mau nilang. Temen pernah bilang kalau elo ga merasa salah, jangan pernah kasih stnk dan sim kita. Karena saya ga merasa salah, semua argumen polisi saya patahkan, akhirnya dengan marah2 saya disuruh pergi….hehehe
tulisan ini saya share di twitter dan ada teman yg terinspirasi..
beberapa hari kemudian, ponakannya kena tilang. si teman berkeras agar sang ponakan jangan bayar uang damai dan lebih memilih bayar di pengadilan..
hasilnya..?
kalo uang damai yg ditawarkan “cuma” 100 ribu, ponakan si teman bayar denda di pengadilan sebesar : RP. 700 ribu..
hahahaha..
hlooo? kok lebih mahal gitu????? pasalnya kaliya? kesalahannya apa sih? kan harus hati2 sama pasal yg ditulis polisi lho, suka2nya aja kan.
iya, bisa jadi..
karena polisinya kesal gak dapat “tambahan” dari uang damai akhirnya digunakanlah pasal yang tidak2
**su’udzon bukan ya..? hihihi**
waduh, apa enga dicari tau tuh, kesalahannya apa cocok ga sama pasal yg dikenakan sama polisi gitu lho … *jd gw yg gregetan????*
hahahaha..gak tau tuh, belum ketemu lagi ama si teman.
tar deh saya tanyakan..
deeuu gak punya sim>?
mbikin sim yuukk
sim ku habis nih agustus ini mbak..
Salam Takzim
Pengalaman adalah guru yang tak tercatat
Mari hindari Calo dan yang berbau korup
Salam Takzim Batavusqu
wah seru :O saya juga pengen nyoba disidang, kirain kayak persidangan artis2 di tv, ternyata kayak pasar ya, mana banyak calo :O ckck
Aku dulu waktu SMA kelas 1 pernah deh ditilang gitu. Inget bener disuruh bayar 60 ribu! Padahal tahun 2003 itu kan besar banget! Apalagi bagi anak SMA kayak aku dulu.. Euh bener2 dah, semenjak itu sangat gak suka sama petugas tilang
wah aku blom pernah kena tilang…jadi tau nih, klo suatu saat apes & kena tilang mesti nerima saja daripada ‘berdamai’ dengan petugas ya…
Ternyata sifat pak p*lisi dimana saja sama ya pals…
kan ada opsi lain slip biru? tapi katanya kalo minta slip biru justru lebih mahal ya bayarnya?!
sepertinya slip biru sudah rubuh bersama tenda biru
udah lah, ditilang jg ga seberapa duitnya, kecuali mau dikasi 20rb xixixixi
aku kasih senyum aja pak polisinya..eh malah tetep ditilang…
Kepedean..Hahahaha
aku tiga kali ditilang, tapi cuman sekali yang aslinya salah, malah pernah muka ini ditampar pakai segepok uang, (habis setelang menyetop, malah ceramah sambil bentak bentak nggak selesai selesai ya aku tawarin ya udah ditilang saja pak…., SCHEDULE LAGI PADAT NIHHH…. OOOO… KAMU MAU NYOGOK YAAAA!!!! UANGKU SUDAH BANYAKKKK…) Wahhhh wiro sableng tuhhhh… uang dari mana tuh pak…?
Kalo saya sih gak pake calo mbak.
Tinggal telpon kakak saya aja yang di kepolisian, wkwkwkwk…
*calo atau bukan ya namanya?
Niiiikk………..apa kabar?
kangeeeen……. miss u Nik…….dah lama gak baca2 tulisan Nik yg selalu menyenangkan dan informatif
tentang tilang menilang ini, gak pernah ngalami, wong kendaraan sehari2nya bunda ojek en angkot heehhe….

jadi tau semua prosedur dan thethek bengek ttg si tilang ini disini
selalu sehat ya Nik ……..
salam
makin sukses aja nih. salut.
informasinya menarik..
penting banget nih buat saya yang sudah masuk tahun keenam berkendara tanpa surat ijin mengemudi..
**keplaki kepala sendiri**
hahaha … baiklah, setidaknya saya tau bahwa suami saya tidak sendirian dalam hal berkendara tanpa SIM
Yang ngga disadari memang bayaran tilang, bayar ditempat saya jamin lebih mahal. Tapi sayanganya bangsa kita lebih suka jalan ringkas dan tak mau report, atau malas ngurusin?
menurut saya sih bukan malas ngurusin, tapi KURANG INFORMASI, jadi yang mind-set nya sudah sedemikian terpola bahwa urusan dengan mereka hanya akan merugikan dan mengerikan.
Oh, jadi sama seperti saya yang sudah ter-mindset
Alhamdulillah, belum pernah ditilang. Pernah sekali distop pak polisi, tapi saat itu saya yakin saya tidak melanggar apapun dan surat-suratpun lengkap,hasilnya bisa ditebak, pak polisi segera ‘membebaskan’ saya dengan ekspresi yang tidak bisa saya pastikan, entah beliau bangga ataukah kecewa. Hhehehhe sepertinya beliau bangga dengan pengguna jalan yang patuh peraturan, bukan kecewa karena kehilangan kesempatan menambah ‘penghasilan’, betul kan Pak?
kalo disini kenal tilang tinggal bayar online. kecuali kalo mau banding (gak terima) baru kudu ke pengadilan…
Iya emang lebih murah dikenai tilang, cuma boros diwaktu aja kalo ikut sidang. Pilihannya tergantung kita: mau nyetor ke oknum aparat atau mau menyisihkan waktu ke pengadilan. Saya bertanya, emang yakin duit yang disetor di pengadilan itu masuk kas negara?
oh jadi klo lebih murah damai, mending damai aja gitu? hmmm
Sering juga ditilang, coz SIM motor sudah lama mati.
Kalo uang damainya murah saya lebih memilih damai, cuma kalo mahal mending ditilang aj deh.
Pengalaman dua kali kepengadilan (ngambil STNK) Cuma lebih memilih datang siang, gag perlu ikut sidang, tinggal ambil STNK diloket / bagian administrasi.
Salam.. .
iya, pengalaman juga buat saya agar klo ditilang lagi *amit2* mending datang siangan atau besok2 aja, tgl bayar ga usah umpel2an
wahaha.. polisi lalu lintas, dari dulu kayak gitu mbak.. gak sah diherani lagi.. hehe..
saya juga tidak sedang heran kok
Saya sudah pernah Mbak..memang ditilang lebih murah dari pada DAMAI,,mungkin kita harus siap mental aja ketika distop sama p*lisi karena ditakut²i pasal² yang aneh hehehe
Waduh, sama kayak cerita Mbak Eka dulu waktu ketilang. PAs sidang, katanya rameeee banget, banyaaaak banget orang yang sidang.
Udah gitu di luar gedung calo bertebaran. Ck ck ck…
nah iya, calonya itu yang paling menyebalkan!
Clara juga pernah cerita di blognya soal urusan tilang ini…..
Mungkin sebaiknya kita ikuti aja tilang ya….agar calo itu hilang dengan sendirinya.
Ehh atau Eka ya…lupa
Paling deg2an deh klo berurusan dgn polisi… Kadang kesalahan dicari2 saja… >.<
Ternyata ditilang lebih murah ya… Makasih berbagi pengalamannya Mbak..
kapan mau diulang lagi?
Kan udah pengalaman…
Alhamdulilah saya belom pernah ketilang. padahal nekat waktu itu nyetir belom punya SIM. mungkin karena jalannya saya kaya siput. kekeke
Iy Mbak Niq kalo ketilang mending disidang. eman2 uangnya kalo buat p*lisinya. hehehe
Saya pernah ketilang juga dengan kasus yang sama….
Tapi karena motor yang saya pakai itu minjem temen akhirnya milih bayar ditempat.. Hmmmm
Kalau di Jepang pakai sistem point, tergantung kesalahannya. (Aku lupa brp point) tapi kalau jatah point itu habis, ya harus bayar tilang. besarnya sudah sama di mana-mana. musti bayar 15.000 yen, jadi waktu Gen salah parkir (parkir tidak di tempat parkir, di pinggir jalan) kena 7500. Dengan kertas itu langsung bayar di kantor pos. selesai! NGGa ada diambil SIM dsb nya:D. Di LN sih tilang muahal dan tidak bisa damai
EM
EM
Ya, kalau bisa, jangan sampai kena tilang lah
.
tulll … amit2 *ketok2 meja*
bener2 pengalaman yg bermanfaat bagi saya ni bu,, karena saya blm prnah berurusan dengan tilang-menilang,, hihi
y siapa tau nanti kena tilang, jadi sudah tau bagaimana prosedurnya dari pengalaman ibu ini.. hehe
Menarik, maklum belum pernah berurusan dengan polisi
jangan sampe!
Aku dulu sering banget ditilang karena aku malas ganti SIM dan ogah bayar STNK
Tapi dari semua tilang itu hanya satu yang bener-bener kuurus sampe ke pengadilan, itupun gara2 dulu waktu mahasiswa ngga punya uang ready to use waktu ketangkap…
Sejujurnya aku ngga suka disidang karena prosesnya berbelit-belit dan makan waktu lama. Aku yakin kalau mereka mau memangkas waktu sidang bisa kok, masalahnya BARANGKALI mereka memang sengaja bikin supaya orang kapok sidang dan mending DAMAI saja?
Ah saya bersu-udzon
wah bisa jadi pelajaran berharga nih.
Kalo saya sering minta damai aja soalnya nggak sempet ngurusin buat ikut sidang dan karena takut ngebayangin sidang tuch kayak apa tentunya.hehe
Saya pernah ikut sidang tilang di pengadilan …
dan saya rasa … lancar-lancar saja …
stay cool … ikut arus … cepat selesai … dengan harga sesuai ketentuan …
Bagaimanapun … yang namanya salah … tetap salah …
Lampu belakang mobil saya mati waktu itu …
Salam saya
iya, saya juga ngaku salah kok Om, makanya mau ditilang
saya juga suka takut kalau kena tangkap polisi, maklum saya pakai Alat Bantu Dengar, di keramaian susah mendengar
dan saya nyetir motor itu pakai feeling lho bukan pendengaran
iya sih, feeling lebih berperan yah di jalan raya itu.
Aku pernah ditilang Kak, SIM ditarik, ga mau bayar uang damai, tanggal sidang kelewat, lupa pula ngambil di PN, akhirnya malah nembak buat SIM baru *ups* hihihihi
hahahah sama dunk, sampai sekarang sim nya malah blom dibikin lagi
Saya pernah lho Mbak, naik sepeda BMX terus diberhentikan sama Bapak Petugas. Ya soalnya saya yang salah, mau memaksa lewat Suramadu, hiyahaha..
Di jember juga gitu. Kawan2 saya yang kena cegatan dan kebetulan nggak bawa surat2, lebih memilih surat tilang. Lebih murah, gitu katanya.
yep! ditilang lebih murah. makanya pas kita maunya ditilang, petugasnya jadi bete, cenderung tidak besahabat gitu deh
Hehehe…
assalamu’alaikum sodariku,
saya tiga kali kena tilang dan semua saya jalani dengan sidang. dan inipun sempat saya posting.
yang menjadi permasalahan adalah ketika terjadi proses ‘transaksi’ di tkp kita harus jelas dan waspada terhadap pasa-pasal yang tertulis di surat tilang dan kalo perlu ditanyakan agar kejadian tidak menimpa saya. Kesalahan satu karena kendaran MPV saya isi barang, kenyataannya di pengadilan kesalahan saya ada 2.
Sidang pelanggaran lalin memang begitu mbak bikin kepala nyut-nyutan
Eh, bisa lolos dengan cara itu? Xixixi….
Enaknya….
Kebetulan sih ga pernah ketilang karena belum pernah menyetir motor/mobil sendiri. Suami mana percaya istrinya nyetir sendiri. Pasti narik sopir sembarangan.
*sopir = adek/sepupu/pegawai*
setahu saya uang yang harus dibayar tidak sesuai dengan denda pada tabel
pernah ada terpidana yang melanggar dan menawar denda di persidangan
sering sih keluar masuh PN
soal tilang menilang, umm . .
ya biasalah . . entah kita yg salah atau mereka yg salah, atau malah semuanya salah, nah lho ga jelas –”
saya paling deg degan kalo ditilang di luar kota
Sampai sekarang, klau lagi nyetir sendiri dan lihat polisi lagi razia…wuih, deg-degan abis, niQue…
xixixi sudah lewat masa itu bagi saya mba
sekarang mah gagah beranilah
NiQue…saya tawarin dengan resmi nih, kapan niQue dan suami mau nginep di Garut…hehe, beneeeer, ditunggu kabarnya lewat inbox fb ya, siapa tau pulang dari Garut nanti, yang dinanti itu akan segera dimiliki…
Ditunggu kabarnya ya!