Peluru itu (hampir) Merenggut Nyawa Anakku!

Percakapan singkat ini terjadi pada saat saya menunggui adik seorang teman menjalani operasi mioma di RSCM Rabu lalu. Saya memperhatikan sepasang suami istri yang ‘maaf’ kumal bin dekil dengan wajah digelayuti awan gelap, tanpa sendal lari ke sana ke mari, sesekali duduk di bangku penunggu dalam keadaan bingung, dan rasa ingin tahu pun menggelitik tajam sehingga saya mencari kesempatan untuk saling tatap mata dengan si ibu.

Tidak saya pungkiri bahwa hampir semua wajah yang di ruang tunggu digelayuti mendung, bahkan satu dua khusyuk melafazkan doa-doa ditemani uraian airmata dalam pelukan orang-orang terkasih mereka. Bisa jadi hanya kami, saya dan suami, yang roman mukanya datar, tidak senang tapi tidak juga kuatir, mungkin karena yang menjalani operasi bukan keluarga kandung atau mungkin karena ‘cuma’ operasi kecil saja. Walau sempat dapat bocoran kalau diagnosa dokter mengarah pada pengangkatan rahim, maka saya diamanahkan untuk menanda tangani surat persetujuan. Well, untuk ini saya sudah berdoa agar tidak terlibat sejauh itu, dan alhamdulillah akhirnya memang tidak diperlukan :)

Back to the Ibu yang menyita perhatian saya sejak ada di ruang tunggu ini, dari matanya saya merasa dia membutuhkan ruang untuk bercerita, setidaknya agar ruang di dadanya sedikit longgar.

“maaf, ibu, siapa yang sakit?”

“anak saya, baru 2thn.” airmatanya turun.

“yang tadi nangis itu anak ibu? Emang sakit apa?

“kena peluru … “

“Ha……??? Kok bisa? Gimana ceritanya? Duhhhh ….” Serta merta mulut ini menyela perkataan ibu itu.

“iya, padahal dia baru saja dari pangkuan saya, dia cuma ke arah itu untuk mengambil mainannya yang tergeletak, dan tiba-tiba DOOORRR….. anak saya masih sempat berjalan balik sambil berkata MAAAAAK …. dan ambruk dalam pelukan saya …. ” menangislah si ibu, dan saya terdiam dalam istigfar.

“Memanglah, sudah berapa waktu anak saya itu minta main ke rumah neneknya yang sedang panen rambutan, cuma karena letaknya jauh kami tunda terus. Dan kemarin ini yah kami sempatkanlah ke sana … makanya tidak menduga akan begini.”

(Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, jika sudah digariskan mendapat musibah, maka hanya Allah yang mampu mengubah sebuah bencana.)

“padahal anak itu, lebih kecil dari anak saya. yang salah orang tuanya, kenapa membiarkan senapa dalam keadaan terisi peluru dan sudah dikokang. sudah 5hari bu saya tidak enak makan tidak enak tidur. 2 anak saya tinggalkan di Bangka. sejak peristiwa saya bahkan tidak sempat ke rumah. langsung dari rumah sakit bangka kami berangkat ke jakarta. 3hari di rs. bangka tapi akhirnya dirujuk ke sini, kata dokter di sana, pelurunya ada di dekat jantung sementara fasilitas di rumah sakit bangka belum memadai sehingga harus dibawa ke jakarta. saya berangkat tanpa bawa apa-apa. bahkan baju pun baru beli setelah di sini di pasar dekat rumah sakit.”

“tapi orang tua anak yg menembak anak ibu bertanggung jawab ‘kan?”

“iya bu, semua biaya ditanggungnya.”

“alhamdulillah, setidaknya ibu tidak perlu memikirkan biaya saat ini. sehingga ibu bisa fokus mengurusi anak saja,banyak-banyak berdoa ya bu.”

“iya bu, cuma itu yang bisa saya lakukan. tidak tega rasanya melihat anak saya menderita.”

“tidak ada yg tega bu melihat anak terkapar, cuma sakit biasa saja kita sudah merasa pilu, bagaimana pula seperti ini … saya bisa memahami kesedihan ibu.”

“iya bu, saya juga bersyukur, di jakarta ini kami kan tidak kenal siapapun, tidak ada saudara eh kok ada ketemu sama orang bangka juga yang anaknya juga dirawat di sini, sudah berbulan-bulan malah. anaknya sakit kanker mata, menunggu dioperasi masih lama. itu yang badannya kecil-kecil tadi, orangnya baik sekali.”

“subhanallah ya bu, Tuhan memberi banyak pertolongan dalam kesulitan ibu.”

“iya bu, kalau tidak ada dia, entah bagaimana jadinya, kami kan tidak paham seluk beluk rumah sakit ini. dialah semua. mana lagi suami saya juga cacat, ibu liat itu tangan suami saya lumpuh sebelah….”

“ya Allah bu, berat sekali cobaan ibu, lebih bersabar ya bu … “ nelangsa saya jadinya.

Kemudian saya mendengar suara panggilan untuk keluarga adik teman yang sedang dioperasi, saya masuk, rupanya operasi sudah selesai, dan dokter menunjukkan daging yang telah diambil tadi, ada 2 sebesar baso :( tidak habis pikir juga bagaimana daging itu menimbulkan pendarahan hebat sampai menggumpal-gumpal :( Alhamdulillah, setidaknya tidak perlu operasi pengangkatan rahim, cukuplah sampai di sini deritanya, Tuhan angkat semua penyakit dan memberi kesembuhan, aamiin!

Sambil menunggu pasien keluar, saya kembali ke ruang tunggu, duduk di sebelah ibu itu lagi. Saya merasa ibu itu butuh seorang teman, ingiin sekali rasanya mendampingi sampai tuntas, tapi saya pun punya tanggung jawab lain. Kami berpisah di ruang tunggu, dan saya mengikuti langkah suami dan porter yang mendorong brankar menuju rawat inap di gedung A.

Saya melangkah dalam diam, tercenung memikirkan kejadian barusan, mencoba berempati membayangkan reaksi saya jika berada dalam posisi ibu itu, tak yakin saya sanggup, duh Gusti! Seorang anak yang dikandungnya selama 9bulan, dibawanya kemana-mana dan di usianya belum genap 2tahun harus meregang nyawa di meja operasi. Doa keselamatan untuknya, semoga anak itu dipulihkan seperti sediakala dengan kuasa Tuhan yang tiada berbatas, aamiin!

Gambar di ambil di sini.

51 thoughts on “Peluru itu (hampir) Merenggut Nyawa Anakku!

  1. Harusnya kan senjata seperti itu tak boleh berisi, sudah sering terjadi kecelakaan karena lalai seperti ini. Btw, di rumah2 sakit banyak orang mencoba nipu dengan pura2 ada keluarga sakit, tp ujung2nya minta duit. Sudah banyak yang kena. Hati2 aja.

    • iya kak, tapi ibu ini emang lagi sama2 nungguin yg operasi di ruang tunggu kamar operasi rscm.
      aku liat kok anaknya masuk, jadi perhatianku karena anaknya lucu dgn rambut ikalnya.
      juga sosok ibunya yang entah kenapa bikin aku pengen ajak ngobrol.
      dan dia tidak minta apapun, malah aku yg bingung ibu ini mampu apa engga,
      tapi kalimat yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak ada kalimat mengeluh ga ada dana ato apa.

  2. waduh, sedih sekali ceritanya ya. coba yang cerita beginian ini cuma di sinetron aja ya? realita justru lebih mengenaskan. tapi ibu itu cukup beruntung juga ya, ada saja orang yang menolong di saat sulit. tangan Tuhan memang tidak kurang panjang untuk menolong umat-Nya. semoga anak ibu itu cepat pulih.

  3. Ya ampun, memang musibah gak bs diprediksi datangnya. Kalau udh kejadian ada aja alasan yg bisa dibuat oleh اَللّهُ, emang kita harus ttp berdoa dan berserah ya mbak..

  4. cerita yang menegangkan dan mengharukan.
    saya jadi teringat masa laluku. dan yg jadi
    korbannya adl diri saya sendiri.
    marhaban ya ramadhan ya sob.

  5. hai mbak,..maaf br sempat main kesini..saya ikut bersimpati atas kejadian di atas,..saya pun tdk bs membayangkan bgmn jk saya di posisi ibu itu..hidup memang tdk bisa ditebak ya? hari ini sehat tiba2 seketika terkapar tanpa bisa menghindar..semoga kita selalu eilindungi olehNYA,..MET PUASA mbak,..:)

  6. semoga Allah swt selalu memudahkan ibu ini ya ,Nik
    hebat sekali ibu ini, ketika melihat penderitaan orang lain, beliau masih bisa bersyukur walaupu dlm keadaan pilu di hati, dan tetap berbesar hati utk bisa memaafkan pelaku ‘penembakan’ anaknya.
    banyak sekali hikmah dan pelajaran yg didapat dr kejadian ini.
    1.kita, sebagai ortu, agar lebih berhati2 .
    2.dgn melihat penderitaan orang lain, kita tetap bisa bersyukur dgn derita yg kita alami.
    3.memaafkan adalah cara ampuh utk meningkatkan kesabaran dlm menghadapi musibah.
    salam

  7. Ya Allah nique, pas anak gw patah tangan aja rasanya ngilu di tangan gw sendiri gimana kalau kena tembak gitu… mungkin gw marah banget kali yah???

    • nah itu. reaksi yang saya jugatidak tahu akan bagaimana jika saya di posisi ibu itu
      tapi mereka tidak sempat marah, cuma memikirkan bagaimana anaknya biar ga kesakitan :(

  8. Miris membaca ceritanya.

    Mbak, maaf ya barusan mampir di sini. Kemaren2 masih ngurusi perut hehehe..

    Selamat menyambut puasa ya Mbak. Maap lahir dan bathin..

  9. bawa senjata harus hati2, aku ga tahu dgn senapan angin, tapi senjata api modern, umumnya ada pengaman untuk mencegah meletus mendadak

  10. Innalillahii,,
    semoga diberi ketabahan dan smoga si kecil lekas sembuh.
    Itulah, musibah siapa sangka datang begitu saja. Sebagai manusia hanya bisa berhati-hati dan waspada. Peringatan buat semua saja, untuk lebih berhati-hati lagi. Pengawasan terhadap anak perlu ditingkatkan.

    • iya Brur, aku salut juga sama orang tua korban, ga kalap, fokus sama keselamatan anak ….
      ga tau deh klo orang lain, bisa2 malah terjadi pertumpahan darah antar orang tua dulu …

  11. hah?? jadi yang nembak itu juga anak kecil??
    itu orang tua nya itu anak harus dipenjara kali tuh!! kok bisa senapannya dipegang anak kecil??

    moga2 si anak ibu itu cepet sembuh ya…

    • kayaknya siih klo udah jalan damai dan ngebiayain semua biaya rumah sakit ga diproses tuh Man
      kecuali orang tua korban tetap melaporkan ya …
      dan klo melihat profil orang tuanya sih gw aja kaga yakin mereka mau melapor.

      • tipe masyarakat kita sebagian besar adalah memaafkan….apalagi kalau orang tua si pelaku adalah salah seorang pejabat atau tokoh masyarakat….malah ga akan sampai ke permukaan… kita aja tahu masalah ini karena nique khan??

  12. masih ada langit di atas langit
    masih banyak saudara kita hidupnya lebih menderita dari kita.
    Semoga Alloh segera memberi kesembuhan.

  13. Aaddduuuhhh …
    kenapa bisa itu senapan beneran dimainin anak-anak …

    Ini peringatan untuk kita semua … untuk selalu berhati-hati menyimpan barang-barang yang tidak seharusnya dimainkan anak-anak

    Salam saya Nike

  14. Ikut pilu bacanya Mbak…
    si Vania pun pernah operasi kecil diusia 1,5 tahun… rasanya…. Ya Allah… gak bisa dijelaskan..
    ternyata cobaan ibu itu jauh lebih berat…
    semoga Allah melindungi mereka selalu…

  15. Saya secara pribadi meminta maaf apabila selama ii ada perkataan tulisan yang kurang berkenan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang banyak kurang nya.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  16. Syafakallah bagi yang masih menderita sakit. Memang antara untung dan buntung malang hanya setipis kulit ari. Lewat garis batas untug semuanya buyar menjadi buntung begitu sebalknya.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  17. Kasihan sekali sikecil itu…keteledoran orang tua meletakkan barang² berbahaya sangat fatal akibatnya,,namanya anak² masih belum tau apa²…
    Semoga diberikan kesabaran pada Ibu dan semoga si anak cepat sembuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge