Pertengkaran itu memekakkan telinga, dan aku cuma duduk mematung. Seribu kalimat berjejalan mencoba keluar dari mulut ini, tetapi alarm mengingatkan bahwa diri ini bukan siapa-siapa, dan sebaiknya kunci mulut rapat-rapat. Mata bulatku sibuk melihat dua sosok itu hilir mudik saling memaki. Suara barang berterbangan dan mendarat seirama dengan amarah yang tumpah. Meluap seperti air bah. Meledak bak gunung merapi. Tumpah tanpa sisa. Seolah keduanya diberi dopping untuk terus melampiaskan semua. Lagi-lagi saya cuma bisa merutuki diri, merasa tak berguna. Saya tahu ini semua harus dihentikan sebelum semakin banyak kata yang menikam bak sebilah pedang tajam yang berkelebat ke sana ke mari, tetapi kemana nyali itu pergi???
Saya memang bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi apa yang mereka pertengkarkan itu, saya pernah ada dalam situasi itu. Ingin saya berbagi cerita yang pernah saya tuliskan di sini, tapi saya tahu malam itu bukan momen yang tepat. Ingin saya meneriakkan satu kalimat saja agar mereka berhenti bertengkar saling melempar kata hujatan, tapi kenyataannya saya cuma terdiam. Tak pelak malam itu menjadi malam terpanas yang pernah saya rasakan. Dan dua kata ini tetap lekat dalam benak sampai hari ini : ORANG LUAR!
Sebagai orang yang usia pernikahannya baru mau menginjak angka 2, pengalaman saya sudah dipastikan masih cetek. Itu sebabnya tulisan ini saya buat, karena saya ingin meluruskan persepsi yang ada di kepala saya, atau setidaknya saya jadi tahu bagaimana sih sesungguhnya pengertian dari ORANG LUAR itu.
Ya, malam itu dua kata ini menari-nari di udara, karena istri sang kakak merasa dia tidak perlu ikut bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada saudara iparnya - adik suaminya – yang masih sendiri tapi sedang sakit – sementara mereka sudah lama menjadi anak yatim piatu, sejak mereka masih kecil sekali, sehingga sewajarnya (menurut saya!) kakak laki-laki satu-satunya yang mereka punya plus kakak ipar maka secara otomatis dianggap sebagai pengganti ayah-ibu yang telah tiada. Tetapi kenapa si kakak terus menerus berkata bahwa si kakak ipar merasa cuma sebagai orang luar??? Betulkah begitu? Jika dia merasa sebagai orang luar, lalu anak-anaknya jadi keponakan dalam setengah dan setengah lagi keponakan luar oleh adik-adik suaminya? Begitukah? Buat saya ini aneh, bukan masalah salah atau benar, karena saya juga tidak tahu tentang salah dan benarnya tentang pengertian orang luar ini.
Dalam pemahaman saya, jika sepasang manusia sudah mengikatkan diri dalam tali pernikahan, maka secara otomatis seluruh anggota keluarga menjadi keluarganya pula. Saya tahu, saya cuma meniru apa yang pernah dilakukan mamak saya di jaman dulu, ketika adik iparnya (adik perempuan bapa-biuda ku) sekarat dan ketika mamak melihat tidak ada yang memegang kendali, tidak suami si adik ipar, tidak juga kakak tertua (abang bapa), sehingga mamak memutuskan mengurus segala sesuatunya sampai Biuda sehat seperti sedia kala. Sampai akhir hayat mamak, Biuda bukan lagi menganggapnya cuma sebagai seorang kakak ipar semata, tetapi sudah seperti IBU – yang tidak diketahuinya sosoknya sejak dia kecil. Iya, biuda menganggap mamak kami sebagai ibu keduanya, karena perhatiannya yang sedemikian rupa ketika dia meregang nyawa. Bisa jadi, apa yang diperbuat mamak begitu membekas dalam benak ini sehingga ketika melihat ada seorang kakak ipar teriak-teriak merasa diri sebagai ORANG LUAR, maka saya cuma bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir.
Memang, sejak dulu saya sudah sering mendengar sepak terjang miring si kakak ipar, tetapi sejak dulu selalu saya katakan pada yang mengadu bahwa merekalah yang harus tahu diri, karena mereka yang menumpang di rumah kakak ipar. Ketika mereka yang waktu masih duduk di bangku SMA bercerita tentang telur yang dinomori oleh si kakak ipar, saya anggap sebagai sebuah cerita yang dilebih-lebihkan demi mendapatkan simpati kami, teman-teman kakaknya. Ketika dulu saya mendengar tentang televisi yang dimasukkan ke kamar ketika si kakak ipar pergi keluar rumah, saya pikir adik-adik teman saya itu cuma sedang mengekspresikan kebencian mereka terhadap si kakak ipar.
Tetapi malam itu, saya tertegun, ketika mengetahui amarah yang meluap itu disebabkan sepotong KUE PEPE. Yah, sepotong kue pepe lah yang menjadi biang kerok. Sepotong kue pepe yang didapat si kakak ipar dari sebuah perayaan, dan didapatinya kotak kue itu kosong sepulang dari pasar, maka mengamuklah dia. Semua jadi sasaran, ya suami, ya anak, apalagi cuma adik ipar, dihajar semua oleh pedang tajam berwujud lidah tak bertulang itu. Duh! Nelangsa hati ini, ketika dalam sedu sedannya adik iparnya yang sedang sakit itu mengadukan tentang ini. Ingin saya jejalkan sekotak kue pepe ke mulutnya, tapi siapa saya? Seletih apapun dirinya yang baru pulang dari pasar, tak sebanding rasanya amarah yang diluapkan untuk sepotong kue pepe yang dihabiskan oleh anggota keluarga, bukan?
Ketika tak mampu lagi menahan sesak di dada, saya beranjak keluar rumah dan mencoba membaur dengan para tetangga yang pastinya sedang menguping. Entahlah, dalam hati saya masih ada ketidak percayaan, mosok sih di dunia ini ada orang yang sepelit itu? Lalu dalam bisik saya tanyakan kepada seorang ibu tentang sosok si kakak ipar, dan sejenak saya cuma bisa mematung ketika ibu itu menyahut dengan mimik yang sedemikian rupa dan mulutnya melukiskan sepotong kata : PELIT! Ouh!
Saya tahu bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tetapi, lagi-lagi saya kok kesulitan, bisa jadi karena dari kecil saya dicekoki tentang bagaimana menolong orang lain, terutama saudara sendiri. Masih belum lekang dalam ingatan saya bagaimana mamak berbagi dengan orang sekitar. Buat saya, berbagi makanan dengan orang lain bukanlah sesuatu yang luar biasa, apalagi buat saudara sendiri??? Dan sepotong kue pepe? Duh, Gusti, gara-gara sepotong kue pepe, orang bersaudara saling hujat, dan menorehkan luka yang teramat dalam di hati mereka.
Ramadhan akan tiba dalam hitungan jam, dan sepertinya Tuhan sungguh Maha Baik terus menerus memberi pesan peringatan pada saya agar menjaga hati dan bersikap lebih baik lagi, dengan mempertontonkan sebuah drama kehidupan yang diperankan oleh orang-orang yang sebagian saya kenal dengan baik. Kisah sepotong kue pepe ini sebuah kisah nyata, agar menjadi pengingat buat saya bilamana satu hari saya sampai lupa diri menomori setiap barang di kulkas di rumah saya, naudzubillah …
Catatan :
Kejadian di atas BUKAN terjadi pada keluarga saya, tetapi pada keluarga orang lain yang mana saya tanpa sengaja berada di tempat kejadian ketika peristiwa itu berlangsung. Dituliskan untuk menjadi cermin dan pengingat bagi diri.
padahal cuma soal kue ya. duh duh…
Oot, Jangan sebut2 nama kue ini di Medan sana ya
hahahahaha …. kakak ini …. xixixi … aku hampir aja ga ngeuh
Ck ck ck.. untung tidak terjadi di keluargamu ya…
Anyway, selamat berpuasa!
Pertengkaran kecil kadang jadi bumbu pemanis dalam rumah tangga. Tapi kalo udah berlebihan itu mah bencana…
Selamat menjalankan ibadah puasa, ya. Maaf lahir dan batin. Salam.
maafkan juga saya
mosok sih ada orang yg spt itu?! *masih nggak percaya krn belm pernah liat*…
hmmmm.. anyway… kisah spt itu patut dijadikan cermin utk diri kita sendiri… makasih sharingnya Mbak Nique…
Mohon maaf lahir batin ya.. selamat menunaikan ibadah puasa utk Mbak Nique dan keluarga.. ^_^
Komen saya ko’ masuk Spam ya?
ga kok, tuh udah tayang komennya
Hanya karena sepotong roti? Tapi saya rasa bukan Mbak. Itu memang luapan masa lalu yang mungkin tak terlampiaskan. Setiap orang berbeda, dan karena perbedaan itu yang membuat kita terkadang berkata “Oh,.. kenapa begitu?” Padahal bagi dirinya itu bukan hal besar. Manusia memang aneh2 ya?
saya pikir memang mesti ada yang seperti itu agar yang tidak seperti itu jadi mengerti bahwa yang seperti itu tidak boleh ditiru *mbingungi ga ya kalimatnya?*
Mbingungi sekali, *7 x mbaca*
nah begitulah bingungnya saya ketika di te ka pe
Jangan2 ini kisah keluarga saya…
hayoo buat yang ngerasa … monggo unjuk gigi
Kondisinya mungkin sudah lama dan meluap-luap tak tertahankan, puncaknya terjadigara-gara kue pepe itu.. ah, saya tidak tahu harus berbuat apa kalo urusan keluarga dan rumah tangga. prinsip saya sih, whatever happens in the family stays in family, biarlah diselesaikan oleh pihak yang bertikai.. kita mungkin kasih saran aja
saya mah nonton sajah, tidak berani juga kasih saran, wong mereka lebih tua jeee
ora ilok ikut2 hehehe
Astagfirullah…nique, semoga Allah membukakan pintu hidayah kepada saudaramu. Memang di dunia ini tidak selamanya semua ada seperti yg kita inginkan. Damai, tidak ada pertengkaran, dll. Menjadi cermin yang baik bagi kita untuk tidak mencontohnya. Mohon maaf apabila saya menyalahkan suaminya karena dia belum berhasil mendidik istrinya sesuai dengan ajaran agama….yakni berbagi…
hapunten mas Necky, kejadian di atas bukan pada saudara saya kok, iya sih saudara seiman hehehe.
hmm … saya sih tidak berani juga menyalahkan suami hehehe karena kita kan tidak tau persis bagaimana rumah tangga mereka selama ini. bisa juga memang si istri keras kepala, gimana?
Ya emang dasarnya sifat manusia beda2 ya, ada yg baik, ada juga yg kurang baik. Klo aku seh mikir klo emang sifat yg susah buat dirubah, yg ada hanya jadi pelajaran kita aja buat diri sendiri jangan jadi seperti itu kan yak
nah itu dia, klo udah mo usia 50 masih kayak gitu sih emang udah sifat kali yah, jadi jangan berharap dia yg berubah tapi orang2 yg disekitarnya saja yang berubah dan memaklumi sifatnya yang seperti itu. saya sih mungkin sudah tidak berani ketemu, takut tidak bisa menjaga hati hehehe cukup sekali deh.
ya ampun.. cuma gara2 kue pepe sampe marahnya segitunya ya…
tapi ya emang sifat orang berbeda2 ya. yah moga2 aja bisa tersadarkan..
iya, semoga orang itu diterangi hati dan pikirannya. aamiin
penyakit hati yang harus kita hilangkan, teringat waktu kecil kalau ada teman yang pelit, saya suka berujar orang pelit kuburan nya sempit.hehe
yah mari menjaga hati
Maaf mau tanya tapi jangan marah ya… kue pepe itu yang seperti apa ya?
Kok sampai marah segitu-gitunya sih?
itu yg kayak di gambarlah
padahal khan bisa kita beli lagi di pasar tuh…ngapain juga sampai marah2 yah?….udh kayak anak saya nique
iya, miris sih ngeliatnya.
Astagfirullah…
Semoga di bulan Ramadhan yang pelit berubah jadi dermawan.
aamiin, semoga ya mba
saya sependapat dengan pernyataan, menikah itu juga mengikatkan dua keluarga menjadi satu, bukan hanya dua pasang manusia saja.
Ah, itulah pesan orang tua yang diamanahkan untuk saya dalam mencari jodoh,, hihihi.
Membaca cerita di atas, ko ya sampai segitunya ya, hanya sepotong kue saja bisa mau terjadi Perang Dunia,, yang penting bagi kita, bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian untuk bisa berbuat yg lebih baik.
saya pun takkan pernah percaya jika tidak melihat sendiri Brur, bertahun2 saya pikir adik2nya itu yang tidak pandai membawa diri di rumah kakak mereka, saya jadi malu hati karena selama ini selalu menyalahkan adik2nya itu. sungguh menjadi satu pelajaran berharga buat saya, agar lain kali dalam menyikapi satu permasalahan harus lebih hati2!
sepertinya si kue pepe ini hanya sebagai trigger dr urutan2 kejadian sebelumnya yg tertahan, hingga begitu kasus kue pepe datang, maka meledak lah bom yg sudah lama tersimpan dan menunggu meletus
semoga kita semua bisa menarik pelajaran berharga dr kisah ini ,aamiin
salam
iya kali ya Bun …
kue pepe cuma jadi trigger, cuma karena saya ga pernah liat ada yg begitu segitunya, jadi rada shocked juga
aamiin, semoga kita tergolong orang2 yang memanusiakan manusia
Saya ingat nasehat ibu…..ketiga anakku, saya kenal baik hati..namun dalam perkawinan, maka ipar bisa berbeda budayanya, terantung dari cara lingkungan mendidiknya.
Agar tak menjadi lebih repot, mungkin sebaiknya, yang jadi ipar juga harus menjaga…..apapun jika terpaksa tinggal di rumah kakak, kalau sudah bersuami atau beristeri, yang ikut harus mengikuti aturan rumah tsb.
Mudah2an kakak ipar, dibukakan hatinya…didoakan saja, agar menjadi lebih baik.
benar sekali bu, semestinya memang begitu, atau lebih baik lagi kedua bilah pihak yang harus pandai2 menempatkan diri, ya begitu bu, saya juga menyarankan demikian, agar mereka mendokan kakak iparnya semoga dilembutkan hatinya. aamiin!
ya ampun..speechless bacanya mbak..ga tau mo ngomen apa..
kisah yang pernah saya saksikan dalam kehidupanku bu tapi bukan sodara saya loooo..
Klo saya prinsipnya, bisa menyenangkan orang lain apalagi bisa menolong itu suatu kebanggaan.
itu juga bukan sodara saya
saya cuma figuran yang numpang lewat, makanya saya menganggap sebagai pesan Tuhan agar menjadi lebih arif lagi. bukankah kita pun bisa belajar dari pengalaman orang lain
sebagai pelajaran buat diri kita, apapun yang kita miliki semua adalah titipan-NYA.
semoga sang kakak ipar segera dibukakan pintu hatinya. amin.
aamiin … semoga setiap doa untuknya segera diijabah Allah ya mba
Iya ya Kak, walopun teramat sangat aneh sekali bagi kita (dan banyak orang2 lain di sekitar) hal yg seperti ini masih saja terjadi. Aamiin…semoga kita tidak terjangkiti ‘virus’ bernama pelit itu..
iya jauh2 deh