Kado Pernikahan Orang Karo

KADO PERNIKAHAN – bagi setiap yang mendengarnya pastilah terbayang benda-benda yang pantas dan cocok diberikan kepada pasangan yang akan menempuh hidup baru. Tetapi kemudian kebiasaan memberikan kado pernikahan dalam bentuk benda sudah tidak umum lagi. Semua sudah ‘dikonversi’ dalam bentuk mata uang.

Di Tanah Karo, khususnya oleh masyarakat suku Karo di  mana pun mereka berada, kebiasaan memberikan uang tunai pada perayaan pernikahan  sudah dilakukan sejak lama bahkan justru dilakukan dengan sangat terbuka dan transparan. Entah sejak kapan kebiasaan ini dimulai, tetapi yang jelas sampai hari ini pemberian uang tunai sebagai KADO PERNIKAHAN masih berlangsung dengan cara yang sama, walau di kota besar sekalipun, walau perayaan itu dilaksanakan oleh orang kaya sekalipun, kado pernikahan dalam bentuk uang tunai itu diberikan secara transparan.

Caranya? Bagi yang pernah menghadiri acara pernikahan orang Karo, pasti pernah menatap heran ketika menjelang pintu masuk sebuah gedung dan menemukan 2 meja di sisi kiri dan kanan, di sana ada kotak besar tempat anda memasukkan kado pernikahan yang dijaga gadis-gadis cantik berkebaya seragam. Mirip-mirip pagar ayu, tetapi yang di meja ini bertugas memastikan setiap tamu undangan yang datang untuk mampir ke meja ini terlebih dulu sebelum melenggang masuk ke dalam gedung. Kedua meja tersebut masing-masing diperuntukkan untuk kerabat dari keluarga pengantin pria (SIEMPO) dan wanita (SINEREH). Tulisan ini akan dipampang jelas di salah satu pojok di dekat meja itu agar para tamu tahu meja mana yang harus mereka tuju. Jangan sampai salah, karena nantinya anda merugi karena nama anda tidak tercatat di buku tamu yang mengundang anda. Sudah keluar uang, eh dikira tidak datang pula oleh si pengundang, dan kemudian malah jadi saling tidak enak, karena dikira tidak menghargai.

Pada meja tamu itu, anda akan menemukan beberapa buku tamu yang diletakkan berjejer plus spidol berwarna demi memudahkan para tamu untuk menuliskan nama, alamat, dan JUMLAH UANG yang diberikan. Ingat, jangan lupa mencatat jumlah uang yang diberikan. Aneh Hehehe … begitulah tradisinya. Istilah kado pernikahan seperti ini disebut PERTAMA (berasal dari kata TAMA – taruh, sulit bagi saya menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia dengan benar dan tepat, maaf :( )

kotak uang berupa rumah adat Karo, buku tamu + spidol, souvenir dan air mineral

Penggunaan meja tamu seperti gambar di atas, sebetulnya bukan pemandangan yang baru, karena dari dulu memang sudah begitu, hanya saja lebih sederhana, yah meja dan bukunya lebih sederhana (bukunya cuma buku tulis biasa). Dulu tidak ada pemberian souvenir, jadi setelah menuliskan nama dan menyerahkan sejumlah uang, sang tamu akan dipersilahkan masuk ke dalam tempat perayaan dilaksanakan.

Jangan membayangkan nominal yang fantastis yang tertera di buku itu, sebut saja nominal terkecilnya Rp 10.000,- dan paling besar Rp 100.000,-. Pengalaman saya sebagai penjaga buku tamu pada beberapa pernikahan para sahabat, jarang sekali menemukan tamu yang menulis jumlah besar. Biasanya jika tamu pertama memberi Rp 25.000,-, maka tamu berikutnya biasanya akan memberikan kurang lebih senilai itu. Dan jangan heran pula jika ada tamu yang meminta uang kembalian, ya semisal si tamu hendak memberikan Rp 20.000,- sementara uangnya Rp 50.000,-, maka adalah tugas si penerima tamu untuk mempersiapkan uang kembalian. Lucu ya :D

Apakah “PERTAMA” itu saja sudah cukup? Belum! Di dalam ruangan sudah dipersiapkan Kado Pernikahan dalam bentuk barang oleh pihak laki-laki berupa kasur, bantal (yang 2 ini biasanya dibalut dengan tikar anyaman berwarna putih), kompor, panci, peralatan ke ladang dan masih ada lagi yang lainnya. Sering saya bertanya-tanya sampai kapan ya pemberian Kado Pernikahan seperti itu akan berlangsung? Akankah dipertahankan oleh generasi muda mendatang??? Saya sungguh meragukannya. Kenapa? Karena sesungguhnya kado pernikahan itu tidak terpakai semua, memang dianggap sebagai simbolis belaka sih :)

O iya, saya sering juga sih ingin memberikan kado pernikahan yang unik dan cantik, tetapi atas nama kepraktisan maka saya lebih suka memberikan uang tunai. Dan walau saya orang Karo, saya tetap risih lho untuk mengikuti tata cara memberikan kado pernikahan dalam bentuk uang yang nominalnya dicatat sehingga banyak orang bisa membacanya :D

Ah, saya kira cerita tentang kado pernikahan cukup sampai di sini saja dulu, nanti di postingan yang berbeda saya mau membahas lebih detil dan lengkap lagi, insya Allah jika tidak lupa :)

Artikel ini saya tulis sebagai  Wedding Anniversary Gift  bagi para sahabat yang mensyukuri hari ulang tahun pernikahannya pada bulan Juli 2011 ” 

43 thoughts on “Kado Pernikahan Orang Karo

  1. Waktu saya nikah dulu cuma nulis nama doang di buku tamun Lalu uang dalam amplop dimasukin kotak yg sudah disediakan. Bahkan amplop pun gak dikasih nama.

  2. Mbak, saya pengen ngejar bintang komentar nih. :D Saya baru bintang dua, pengen nambahin jumlah bintang saya ah. Maap saya nge-junk. :)

    Cara cepat. :D

  3. Salut buat Kak Niq, yang rajin nulis tentang budaya Karo.
    Mau ikutan juga tapi masih buntu mau nulis tentang apa, mungkin cepera jong muda atau nurung kerah kali ya?

    • ada yang begitu, dan terserah tamunya mo ngasi 2 2 nya, ato ke salah satu aja.
      klo gw, sering curang juga sih, gw pasang muka tembok klo yang nikah temen deket, gw bilang aja mo ngasi langsung,
      emang ga lazim, tapi karena udah tau duit2 itu bukan buat penganten, makanya gw mending lgs selipin dong ke temen gw tp di amplopin hehehehe

  4. hehe, nulis nominal? gimana yah?
    klo di sulawesi selatan sih hampir sama. bedanya, nanti setelah selesai acara, sang pembuat pesta resepsi biasanya ibu dan ayah dari pihak wanita yang menghitung uang amplop dari undangan yang datang, menuliskan satu persatu nama beserta nominalnya.

    jadi nggak malu-maluin undangannya. mau ngisi amplop berapa pun hanya satu atau dua orang yang bakal tahu, hehe

    sukses ADUKnya mba

    • husss…. jangan bilang2 malu2in dong
      bisa tersinggung saya dan orang Karo lainnya
      itu sudah tradisi, dan tidak pake rasa malu.
      saya kira positif juga, jadi ga usah pake gengsi2an
      biasa aja ..
      toh yang kaya2 juga ngasinya ga jor2an

    • iya, klo ga yah siap2 aja sibuk cari kembalian.
      tapi biasanya sih ada ‘pintu’ masuk ke box itu dari sisi lain,
      jadi bisa nuker ke dalem hehehe

  5. Wah begitu ternyata sejarahnya PERTAMA… fair juga sih Mba… suka2 yg mau ngasih berapa, malah enak ada kembaliannya yah.. hehe… tulis nominal itu jg bagus, krn berarti gak akan ada yg ngasih “amplop kosong” fuih!

    • yoi Thia, ga akan ada yang ngasi amplop kosong, dan souvenir pun jadi terarah, yang nulis nama saja yang diberi souvenir :D jadi mirip barter deh hehehe

    • hahaha yo gpp sih
      paling isin dewe xixixi …
      ato jalannya ngikutin pasangan orang tua, jadi dikira anaknya hahaha
      jadi mending ga usah nulis sekalian …

  6. widih..sampe nominalnya harus ditulis ya..?

    sebenarnya ada kemiripan sih dengan pesta perkawinan di Makassar ( kecuali bagian menulis nominalnya itu )

    ah kapan2 mau posting juga ah..

  7. lain adat lain cara ya Nik,
    tapi kalau kado berupa barang itu kita sama ya, untungnya semua kado barang itu masih terpakai sampai sekarang

    • kadang diserahkan ke tangan penerima tamu untuk dimasukkan ke dalam kotak.
      penerima tamu juga ga bisa nakalan, wong udah ditulis nominalnya hehehe

    • kenapa harus malu mba, klo emang adanya segitu :D
      justru malu klo kita ngasi gede, orang pasti langsung tau kita maksain diri hehehe

  8. Saya telah membaca artikel diatas dengan cermat
    Akan langsung saya catat
    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Dari Surabaya saya kirim salam hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge