Percakapan singkat ini terjadi pada saat saya menunggui adik seorang teman menjalani operasi mioma di RSCM Rabu lalu. Saya memperhatikan sepasang suami istri yang ‘maaf’ kumal bin dekil dengan wajah digelayuti awan gelap, tanpa sendal lari ke sana ke mari, sesekali duduk di bangku penunggu dalam keadaan bingung, dan rasa ingin tahu pun menggelitik tajam sehingga saya mencari kesempatan untuk saling tatap mata dengan si ibu.
Tidak saya pungkiri bahwa hampir semua wajah yang di ruang tunggu digelayuti mendung, bahkan satu dua khusyuk melafazkan doa-doa ditemani uraian airmata dalam pelukan orang-orang terkasih mereka. Bisa jadi hanya kami, saya dan suami, yang roman mukanya datar, tidak senang tapi tidak juga kuatir, mungkin karena yang menjalani operasi bukan keluarga kandung atau mungkin karena ‘cuma’ operasi kecil saja. Walau sempat dapat bocoran kalau diagnosa dokter mengarah pada pengangkatan rahim, maka saya diamanahkan untuk menanda tangani surat persetujuan. Well, untuk ini saya sudah berdoa agar tidak terlibat sejauh itu, dan alhamdulillah akhirnya memang tidak diperlukan
Back to the Ibu yang menyita perhatian saya sejak ada di ruang tunggu ini, dari matanya saya merasa dia membutuhkan ruang untuk bercerita, setidaknya agar ruang di dadanya sedikit longgar.
“maaf, ibu, siapa yang sakit?”
“anak saya, baru 2thn.” airmatanya turun.
“yang tadi nangis itu anak ibu? Emang sakit apa?
“kena peluru … “
“Ha……??? Kok bisa? Gimana ceritanya? Duhhhh ….” Serta merta mulut ini menyela perkataan ibu itu.
“iya, padahal dia baru saja dari pangkuan saya, dia cuma ke arah itu untuk mengambil mainannya yang tergeletak, dan tiba-tiba DOOORRR….. anak saya masih sempat berjalan balik sambil berkata MAAAAAK …. dan ambruk dalam pelukan saya …. ” menangislah si ibu, dan saya terdiam dalam istigfar.
“Memanglah, sudah berapa waktu anak saya itu minta main ke rumah neneknya yang sedang panen rambutan, cuma karena letaknya jauh kami tunda terus. Dan kemarin ini yah kami sempatkanlah ke sana … makanya tidak menduga akan begini.”
(Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, jika sudah digariskan mendapat musibah, maka hanya Allah yang mampu mengubah sebuah bencana.)
“padahal anak itu, lebih kecil dari anak saya. yang salah orang tuanya, kenapa membiarkan senapa dalam keadaan terisi peluru dan sudah dikokang. sudah 5hari bu saya tidak enak makan tidak enak tidur. 2 anak saya tinggalkan di Bangka. sejak peristiwa saya bahkan tidak sempat ke rumah. langsung dari rumah sakit bangka kami berangkat ke jakarta. 3hari di rs. bangka tapi akhirnya dirujuk ke sini, kata dokter di sana, pelurunya ada di dekat jantung sementara fasilitas di rumah sakit bangka belum memadai sehingga harus dibawa ke jakarta. saya berangkat tanpa bawa apa-apa. bahkan baju pun baru beli setelah di sini di pasar dekat rumah sakit.”
“tapi orang tua anak yg menembak anak ibu bertanggung jawab ‘kan?”
“iya bu, semua biaya ditanggungnya.”
“alhamdulillah, setidaknya ibu tidak perlu memikirkan biaya saat ini. sehingga ibu bisa fokus mengurusi anak saja,banyak-banyak berdoa ya bu.”
“iya bu, cuma itu yang bisa saya lakukan. tidak tega rasanya melihat anak saya menderita.”
“tidak ada yg tega bu melihat anak terkapar, cuma sakit biasa saja kita sudah merasa pilu, bagaimana pula seperti ini … saya bisa memahami kesedihan ibu.”
“iya bu, saya juga bersyukur, di jakarta ini kami kan tidak kenal siapapun, tidak ada saudara eh kok ada ketemu sama orang bangka juga yang anaknya juga dirawat di sini, sudah berbulan-bulan malah. anaknya sakit kanker mata, menunggu dioperasi masih lama. itu yang badannya kecil-kecil tadi, orangnya baik sekali.”
“subhanallah ya bu, Tuhan memberi banyak pertolongan dalam kesulitan ibu.”
“iya bu, kalau tidak ada dia, entah bagaimana jadinya, kami kan tidak paham seluk beluk rumah sakit ini. dialah semua. mana lagi suami saya juga cacat, ibu liat itu tangan suami saya lumpuh sebelah….”
“ya Allah bu, berat sekali cobaan ibu, lebih bersabar ya bu … “ nelangsa saya jadinya.
Kemudian saya mendengar suara panggilan untuk keluarga adik teman yang sedang dioperasi, saya masuk, rupanya operasi sudah selesai, dan dokter menunjukkan daging yang telah diambil tadi, ada 2 sebesar baso
tidak habis pikir juga bagaimana daging itu menimbulkan pendarahan hebat sampai menggumpal-gumpal
Alhamdulillah, setidaknya tidak perlu operasi pengangkatan rahim, cukuplah sampai di sini deritanya, Tuhan angkat semua penyakit dan memberi kesembuhan, aamiin!
Sambil menunggu pasien keluar, saya kembali ke ruang tunggu, duduk di sebelah ibu itu lagi. Saya merasa ibu itu butuh seorang teman, ingiin sekali rasanya mendampingi sampai tuntas, tapi saya pun punya tanggung jawab lain. Kami berpisah di ruang tunggu, dan saya mengikuti langkah suami dan porter yang mendorong brankar menuju rawat inap di gedung A.
Saya melangkah dalam diam, tercenung memikirkan kejadian barusan, mencoba berempati membayangkan reaksi saya jika berada dalam posisi ibu itu, tak yakin saya sanggup, duh Gusti! Seorang anak yang dikandungnya selama 9bulan, dibawanya kemana-mana dan di usianya belum genap 2tahun harus meregang nyawa di meja operasi. Doa keselamatan untuknya, semoga anak itu dipulihkan seperti sediakala dengan kuasa Tuhan yang tiada berbatas, aamiin!
Gambar di ambil di sini.