Peluru itu (hampir) Merenggut Nyawa Anakku!

Percakapan singkat ini terjadi pada saat saya menunggui adik seorang teman menjalani operasi mioma di RSCM Rabu lalu. Saya memperhatikan sepasang suami istri yang ‘maaf’ kumal bin dekil dengan wajah digelayuti awan gelap, tanpa sendal lari ke sana ke mari, sesekali duduk di bangku penunggu dalam keadaan bingung, dan rasa ingin tahu pun menggelitik tajam sehingga saya mencari kesempatan untuk saling tatap mata dengan si ibu.

Tidak saya pungkiri bahwa hampir semua wajah yang di ruang tunggu digelayuti mendung, bahkan satu dua khusyuk melafazkan doa-doa ditemani uraian airmata dalam pelukan orang-orang terkasih mereka. Bisa jadi hanya kami, saya dan suami, yang roman mukanya datar, tidak senang tapi tidak juga kuatir, mungkin karena yang menjalani operasi bukan keluarga kandung atau mungkin karena ‘cuma’ operasi kecil saja. Walau sempat dapat bocoran kalau diagnosa dokter mengarah pada pengangkatan rahim, maka saya diamanahkan untuk menanda tangani surat persetujuan. Well, untuk ini saya sudah berdoa agar tidak terlibat sejauh itu, dan alhamdulillah akhirnya memang tidak diperlukan :)

Back to the Ibu yang menyita perhatian saya sejak ada di ruang tunggu ini, dari matanya saya merasa dia membutuhkan ruang untuk bercerita, setidaknya agar ruang di dadanya sedikit longgar.

“maaf, ibu, siapa yang sakit?”

“anak saya, baru 2thn.” airmatanya turun.

“yang tadi nangis itu anak ibu? Emang sakit apa?

“kena peluru … “

“Ha……??? Kok bisa? Gimana ceritanya? Duhhhh ….” Serta merta mulut ini menyela perkataan ibu itu.

“iya, padahal dia baru saja dari pangkuan saya, dia cuma ke arah itu untuk mengambil mainannya yang tergeletak, dan tiba-tiba DOOORRR….. anak saya masih sempat berjalan balik sambil berkata MAAAAAK …. dan ambruk dalam pelukan saya …. ” menangislah si ibu, dan saya terdiam dalam istigfar.

“Memanglah, sudah berapa waktu anak saya itu minta main ke rumah neneknya yang sedang panen rambutan, cuma karena letaknya jauh kami tunda terus. Dan kemarin ini yah kami sempatkanlah ke sana … makanya tidak menduga akan begini.”

(Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, jika sudah digariskan mendapat musibah, maka hanya Allah yang mampu mengubah sebuah bencana.)

“padahal anak itu, lebih kecil dari anak saya. yang salah orang tuanya, kenapa membiarkan senapa dalam keadaan terisi peluru dan sudah dikokang. sudah 5hari bu saya tidak enak makan tidak enak tidur. 2 anak saya tinggalkan di Bangka. sejak peristiwa saya bahkan tidak sempat ke rumah. langsung dari rumah sakit bangka kami berangkat ke jakarta. 3hari di rs. bangka tapi akhirnya dirujuk ke sini, kata dokter di sana, pelurunya ada di dekat jantung sementara fasilitas di rumah sakit bangka belum memadai sehingga harus dibawa ke jakarta. saya berangkat tanpa bawa apa-apa. bahkan baju pun baru beli setelah di sini di pasar dekat rumah sakit.”

“tapi orang tua anak yg menembak anak ibu bertanggung jawab ‘kan?”

“iya bu, semua biaya ditanggungnya.”

“alhamdulillah, setidaknya ibu tidak perlu memikirkan biaya saat ini. sehingga ibu bisa fokus mengurusi anak saja,banyak-banyak berdoa ya bu.”

“iya bu, cuma itu yang bisa saya lakukan. tidak tega rasanya melihat anak saya menderita.”

“tidak ada yg tega bu melihat anak terkapar, cuma sakit biasa saja kita sudah merasa pilu, bagaimana pula seperti ini … saya bisa memahami kesedihan ibu.”

“iya bu, saya juga bersyukur, di jakarta ini kami kan tidak kenal siapapun, tidak ada saudara eh kok ada ketemu sama orang bangka juga yang anaknya juga dirawat di sini, sudah berbulan-bulan malah. anaknya sakit kanker mata, menunggu dioperasi masih lama. itu yang badannya kecil-kecil tadi, orangnya baik sekali.”

“subhanallah ya bu, Tuhan memberi banyak pertolongan dalam kesulitan ibu.”

“iya bu, kalau tidak ada dia, entah bagaimana jadinya, kami kan tidak paham seluk beluk rumah sakit ini. dialah semua. mana lagi suami saya juga cacat, ibu liat itu tangan suami saya lumpuh sebelah….”

“ya Allah bu, berat sekali cobaan ibu, lebih bersabar ya bu … “ nelangsa saya jadinya.

Kemudian saya mendengar suara panggilan untuk keluarga adik teman yang sedang dioperasi, saya masuk, rupanya operasi sudah selesai, dan dokter menunjukkan daging yang telah diambil tadi, ada 2 sebesar baso :( tidak habis pikir juga bagaimana daging itu menimbulkan pendarahan hebat sampai menggumpal-gumpal :( Alhamdulillah, setidaknya tidak perlu operasi pengangkatan rahim, cukuplah sampai di sini deritanya, Tuhan angkat semua penyakit dan memberi kesembuhan, aamiin!

Sambil menunggu pasien keluar, saya kembali ke ruang tunggu, duduk di sebelah ibu itu lagi. Saya merasa ibu itu butuh seorang teman, ingiin sekali rasanya mendampingi sampai tuntas, tapi saya pun punya tanggung jawab lain. Kami berpisah di ruang tunggu, dan saya mengikuti langkah suami dan porter yang mendorong brankar menuju rawat inap di gedung A.

Saya melangkah dalam diam, tercenung memikirkan kejadian barusan, mencoba berempati membayangkan reaksi saya jika berada dalam posisi ibu itu, tak yakin saya sanggup, duh Gusti! Seorang anak yang dikandungnya selama 9bulan, dibawanya kemana-mana dan di usianya belum genap 2tahun harus meregang nyawa di meja operasi. Doa keselamatan untuknya, semoga anak itu dipulihkan seperti sediakala dengan kuasa Tuhan yang tiada berbatas, aamiin!

Gambar di ambil di sini.

Kisah Sepotong KUE PEPE

Pertengkaran itu memekakkan telinga, dan aku cuma duduk mematung. Seribu kalimat berjejalan mencoba keluar dari mulut ini, tetapi alarm mengingatkan bahwa diri ini bukan siapa-siapa, dan sebaiknya kunci mulut rapat-rapat. Mata bulatku sibuk melihat dua sosok itu hilir mudik saling memaki. Suara barang berterbangan dan mendarat seirama dengan amarah yang tumpah. Meluap seperti air bah. Meledak bak gunung merapi. Tumpah tanpa sisa. Seolah keduanya diberi dopping untuk terus melampiaskan semua. Lagi-lagi saya cuma bisa merutuki diri, merasa tak berguna. Saya tahu ini semua harus dihentikan sebelum semakin banyak kata yang menikam bak sebilah pedang tajam yang berkelebat ke sana ke mari, tetapi kemana nyali itu pergi???

Saya memang bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi apa yang mereka pertengkarkan itu, saya pernah ada dalam situasi itu. Ingin saya berbagi cerita yang pernah saya tuliskan di sini, tapi saya tahu malam itu bukan momen yang tepat. Ingin saya meneriakkan satu kalimat saja agar mereka berhenti bertengkar saling melempar kata hujatan, tapi kenyataannya saya cuma terdiam. Tak pelak malam itu menjadi malam terpanas yang pernah saya rasakan. Dan dua kata ini tetap lekat dalam benak sampai hari ini : ORANG LUAR!

Sebagai orang yang usia pernikahannya baru mau menginjak angka 2, pengalaman saya sudah dipastikan masih cetek. Itu sebabnya tulisan ini saya buat, karena saya ingin meluruskan persepsi yang ada di kepala saya, atau setidaknya saya jadi tahu bagaimana sih sesungguhnya pengertian dari ORANG LUAR itu.

Ya, malam itu dua kata ini menari-nari di udara, karena istri sang kakak merasa dia tidak perlu ikut bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada saudara iparnya  - adik suaminya – yang masih sendiri tapi sedang sakit – sementara mereka sudah lama menjadi anak yatim piatu, sejak mereka masih kecil sekali, sehingga sewajarnya (menurut saya!) kakak laki-laki satu-satunya yang mereka punya plus kakak ipar maka secara otomatis dianggap sebagai pengganti ayah-ibu yang telah tiada. Tetapi kenapa si kakak terus menerus berkata bahwa si kakak ipar merasa cuma sebagai orang luar??? Betulkah begitu? Jika dia merasa sebagai orang luar, lalu anak-anaknya jadi keponakan dalam setengah dan setengah lagi keponakan luar oleh adik-adik suaminya? Begitukah? Buat saya ini aneh, bukan masalah salah atau benar, karena saya juga tidak tahu tentang salah dan benarnya tentang pengertian orang luar ini.

Dalam pemahaman saya, jika sepasang manusia sudah mengikatkan diri dalam tali  pernikahan, maka secara otomatis seluruh anggota keluarga menjadi keluarganya pula. Saya tahu, saya cuma meniru apa yang pernah dilakukan mamak saya di jaman dulu, ketika adik iparnya (adik perempuan bapa-biuda ku) sekarat dan ketika mamak melihat tidak ada yang memegang kendali, tidak  suami si adik ipar, tidak juga kakak tertua (abang bapa), sehingga mamak memutuskan mengurus segala sesuatunya sampai Biuda sehat seperti sedia kala. Sampai akhir hayat mamak, Biuda bukan lagi menganggapnya cuma sebagai seorang kakak ipar semata, tetapi sudah seperti IBU – yang tidak diketahuinya sosoknya sejak dia kecil. Iya, biuda menganggap mamak kami sebagai ibu keduanya, karena perhatiannya yang sedemikian rupa ketika dia meregang nyawa. Bisa jadi, apa yang diperbuat mamak begitu membekas dalam benak ini sehingga ketika melihat ada seorang kakak ipar teriak-teriak merasa diri sebagai ORANG LUAR, maka saya cuma bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Memang, sejak dulu saya sudah sering mendengar sepak terjang miring si kakak ipar, tetapi sejak dulu selalu saya katakan pada yang mengadu bahwa merekalah yang harus tahu diri, karena mereka yang menumpang di rumah kakak ipar. Ketika mereka yang waktu masih duduk di bangku SMA bercerita tentang telur yang dinomori oleh si kakak ipar, saya anggap sebagai sebuah cerita yang dilebih-lebihkan demi mendapatkan simpati kami, teman-teman kakaknya. Ketika dulu saya mendengar tentang televisi yang dimasukkan ke kamar ketika si kakak ipar pergi keluar rumah, saya pikir adik-adik teman saya itu cuma sedang mengekspresikan kebencian mereka terhadap si kakak ipar.

Tetapi malam itu, saya tertegun, ketika mengetahui amarah yang meluap itu disebabkan sepotong KUE PEPE. Yah, sepotong kue pepe lah yang menjadi biang kerok. Sepotong kue pepe yang didapat si kakak ipar dari sebuah perayaan, dan didapatinya kotak kue itu kosong sepulang dari pasar, maka mengamuklah dia. Semua jadi sasaran, ya suami, ya anak, apalagi cuma adik ipar, dihajar semua oleh pedang tajam berwujud lidah tak bertulang itu. Duh! Nelangsa hati ini, ketika dalam sedu sedannya adik iparnya yang sedang sakit itu mengadukan tentang ini. Ingin saya jejalkan sekotak kue pepe ke mulutnya, tapi siapa saya? Seletih apapun dirinya yang baru pulang dari pasar, tak sebanding rasanya amarah yang diluapkan untuk sepotong kue pepe yang dihabiskan oleh anggota keluarga, bukan?

Ketika tak mampu lagi menahan sesak di dada, saya beranjak keluar rumah dan mencoba membaur dengan para tetangga yang pastinya sedang menguping. Entahlah, dalam hati saya masih ada ketidak percayaan, mosok sih di dunia ini ada orang yang sepelit itu? Lalu dalam bisik saya tanyakan kepada seorang ibu tentang sosok si kakak ipar, dan sejenak saya cuma bisa mematung ketika ibu itu menyahut dengan mimik yang sedemikian rupa dan mulutnya melukiskan sepotong kata :  PELIT! Ouh!

Saya tahu bahwa kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tetapi, lagi-lagi saya kok kesulitan, bisa jadi karena dari kecil saya dicekoki tentang bagaimana menolong orang lain, terutama saudara sendiri. Masih belum lekang dalam ingatan saya bagaimana mamak berbagi dengan orang sekitar. Buat saya, berbagi makanan dengan orang lain bukanlah sesuatu yang luar biasa, apalagi buat saudara sendiri??? Dan sepotong kue pepe? Duh, Gusti, gara-gara sepotong kue pepe, orang bersaudara saling hujat, dan menorehkan luka yang teramat dalam di hati mereka.

Ramadhan akan tiba dalam hitungan jam, dan sepertinya Tuhan sungguh Maha Baik terus menerus memberi pesan peringatan pada saya agar menjaga hati dan bersikap lebih baik lagi, dengan mempertontonkan sebuah drama kehidupan yang diperankan oleh orang-orang yang sebagian saya kenal dengan baik. Kisah sepotong kue pepe ini sebuah kisah nyata, agar menjadi pengingat buat saya bilamana satu hari saya sampai lupa diri menomori setiap barang di kulkas di rumah saya, naudzubillah …


Catatan :
Kejadian di atas BUKAN terjadi pada keluarga saya, tetapi pada keluarga orang lain yang mana saya tanpa sengaja berada di tempat kejadian ketika peristiwa itu berlangsung. Dituliskan untuk menjadi cermin dan pengingat bagi diri.

RAHASIA

Kemarin, ketika saya baru selesai memasak, begitu buka pintu, di saat yang bersamaan Egi menyongsong saya dengan tangis tertahan dan baru meledak ketika berada dalam pelukan saya. Tangisnya bertambah kencang ketika semakin ditanya ada apa. Di benak saya sudah segala macam rupa mungkin begini mungkin begitu, paling kuatir ada yang isengin dia. Itulah salah satu sebab saya lebih suka mereka ada nanny di rumah, karena kalau di sini bercampur dengan warnet, yang artinya banyak orang asing yang lalu lalang.

Kalau menangis pasti tutup mata, katanya sih malu :D

Berdua suami kami mencoba menenangkannya, sedikit tenang ketika mengetahui bilik tempat dia bermain komputer tadi cuma ada dia sendiri. Selidik punya selidik saya perhatikan jalannya rada pincang dan tangisnya makin kencang ketika menjejakkan kaki. Saya menebak lagi apakah kakinya keseleo, siapa tahu ‘kan ketika menjejakkan kaki tidak pas, bisa keseleo di mata kaki? Yang bikin panik adalah dia terus menangis.

Karena Habis pikir saya mau bawa ke rumah Bapa, karena kalau keseleo Bapa bisa mengobati. Eh, makin kencang tangisnya, sambil teriak-teriak tidak mau ke rumah bolang (kakek). Egi memang paliiiiiiing susah sama obat, apapun, obat luar sekalipun, yang cuma oles-oles saja masalahnya seperti orang mau disakiti saja. Egi semakin melawan tubuhnya ketika mau digendong ke rumah bolangnya. Akhirnya saya perhatikan lagi kakinya, kok kayaknya ga ada yang aneh? Tapi kenapa ini anak belum bisa diam juga pertanda sangat kesakitan? Saya lihat kuku di jempol kaki kanannya agak mengelupas, apakah itu? Memang jempol itu pernah bermasalah kepentok pintu, dan waktu itu kuku jempol itu sudah dicabut oleh dokter dan sekarang sudah tumbuh lagi. Hmm … inikah masalahnya?

Egi bilang obatinya ditiup-tiup aja, dan cuma mau dipelukan kilanya. Gemas juga sih, bagaimana bisa tiup-tiup bikin sembuh coba? Doh! Tapi ini kok dia sambil teriak-teriak jangan dicabut! Hm, paku kah? Periksa ulang telapak kaki sampai betis, ga ada kok?! Terus apa? Mungkinkah ‘cuma’ kuku di jempol kaki kanan tadi?

Egi mau bobo aja, begitu katanya. Wah! Tumben, biasanya paling susah disuruh tidur siang. Ya udah, diikutin dulu deh. Di kamar dia minta kakinya ditutupin dan tidak boleh siapapun melihat lagi. Saya biarkan dia tertidur, nanti saja ditanyai lagi kalau sudah bangun.

Lumayan lama tidurnya, dan ketika bangun, dia langsung duduk dan melihat kakinya.

“Biuda udah cabut ya?”

“Cabut apanya dedek?”

“Itu kaki Egi?”

“Hlo, biuda kan ga tau kamu kenapa, masak mau dicabut kakinya. emang kenapa? Udah ga sakit lagi?”

“Iya, udah sembuh, berarti biuda udah cabut ya.”

“Engga, biuda biarin Egi tidur aja, ga diapa-apain kok. ceritain dong kenapa tadi.”

Dia tarik guling menutup wajahnya sambil bilang, jangan cerita ke Mama ya. Aneh lagi?

Biuda ga akan cerita ke mama, tapi Egi ceritakan dulu kenapa tadi sampai nangis seperti itu. Biuda masih bingung ini, apa ada yang ganggu, apa Egi kesetrum, apa Egi keseleo, apa kena paku. Atau kuku jempolnya ya nyangkut tadi?”

“Iya …”sahutnya pelan.

“doh dedek, lain kali diceritain dulu dong, kan biuda panik, dedek nangis seperti itu.”

“tapi sekarang udah ga sakit lagi kok. biuda janji ya jangan ceritain ke mama.”

“emang kenapa mama ga boleh tau?”

“nanti mama bawa egi ke dokter, terus kukunya dicabut lagi nanti.”

“ooo … karena itu, maka tadi teriak jangan dicabut?”

Dia mengangguk pelan. Dan pelan juga saya berkata : “jadi ini RAHASIA kita berdua eh bertiga sama kila?”

Dia mengangguk lagi. Aihhh … sepertinya saya punya senjata baru :D *tersenyum licik* Yap! Sejak itu, tambah manis lagi dia. Tidak susah disuruh makan atau tidur siang. Jadi lebih suka menemani biudanya di kamar. Apalagi coba kalau bukan takut RAHASIAnya diceritain ke mamanya hehehe ..

Sudah segar lagi setelah mandi, langsung disodorin jus stroberi sama Biuda :)

Baidewai, saya ‘kan belum berpengalaman niy, buat para orang tua, boleh ga sih main rahasia-rahasiaan seperti ini? dan karena saya pegang rahasianya, dia ‘kan jadi lebih patuh, saya kok kuatir juga cara saya menangani dia TIDAK TEPAT? Bantu saya ya … :)

Edisi Galau di Penghujung Juli

Dari kemarin keliling banyak ‘rumah’ eh banyak yang sedang galau ternyata. Saya pikir ga bakalan kebagian menuliskan sesi galau di sini, jadi deh inggalin jejak cengengesan di setiap rumah. Maaf ya :D Sekarang giliran saya yang galau nih. Entah karena efek flu yang bertambah parah, entah emang udah sampai di titik klimaks setelah disimpan berbulan-bulan lamanya.

Ini cerita tentang salah seorang yang dulu bersahabat dengan saya. Entah apa yang terjadi di antara kami, yang jelas setelah melalui satu perjalanan bersama, tiba-tiba semua berbeda. Dia tidak lagi seperti biasa. Jika sebelumnya sebuah pesan singkat saja sudah cukup mengawali sebuah curhatan tentang apa saja. Berulang kali saya coba flash-back, terutama setiap momen dalam perjalanan waktu itu, saya belum cukup beruntung karena belum juga menemukan clue yang tepat sehingga kebersamaan di antara kami harus retak??? Sejak itu, tidak ada lagi sesi-sesi curhat ga penting di YM, memang begitu biasanya kami berbagi cerita, sesekali ketemu juga, dan dalam 4 bulan ini semua seperti raib bersama perjalanan yang lalu. Jika saya punya mesin waktu, dan jika saya tahu setelah perjalanan itu hubungan akan menjadi seperti ini, mungkin saya akan memilih tidak ikut dalam perjalanan itu. Eh tapi ini perkataan orang yang tidak beriman ya? Bukankah tidak baik menyesali yang telah terjadi? Hmm …

Ini sudah memasuki bulan ke-4, cukup lama juga ya?! Awal-awal pastilah terasa ada yang hilang, tetapi apa yang bisa saya lakukan untuk mengembalikan semua seperti semula? Meninggalkan pesan permintaan maaf – mungkin ada kekhilafan yang saya tidak sengaja – yang tidak berbalas. Mungkin dia tidak baca pesan singkat itu? Satu-satunya upaya yang belum saya lakukan adalah menemuinya, dan sepertinya tidak perlu saya lakukan. Mungkin lebih baik membiarkan sang waktu yang akan menjawab ada apa dengan semua ini. Yang artinya, saya harus bersabar, atau melupakannya. Toh, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap menjadi sahabat kita, bukan?

Baiklah, Ramadhan akan tiba dalam hitungan hari, saya hanya memanfaatkan momen yang tepat ini untuk menuliskan kegalauan hati saya di sini, pertanda saya masih manusia normal, yang punya hati yang bisa galau tidak melulu karena belum punya Chelsea Junior :) Semoga Tuhan mengampuni dosa yang telah saya perbuat sehingga membuat dia menganggap saya tidak pantas lagi menjadi salah seorang sahabatnya, dan saya harus belajar menerima kenyataan ini, sudah lelah saya mereka ulang kejadian demi kejadian, tetapi sungguh, saya begitu bodohnya karena tetap dalam kebuntuan sampai detik ini.

Selamat datang, Ramadhan, semoga hadirmu melembutkan hati yang mengeras, dia boleh pergi meninggalkan saya, saya memaafkan dia jika memutuskan tali silaturahim ini disebut sebagai kesalahan, tetapi Ramadhan, perkenankan saya bersamamu selama waktu yang diberikanNya untukku, aamiin! Kesempurnaan mutlak milik Tuhan, dan saya hanyalah manusia biasa tempat salah dan khilaf bersemayam.

Edisi Galau Usai

Fesbuk Bapak Mana, Ma?

Seharian ini adek Egi maniiisss banget, engga rewel sama sekali. Segala sesuatu berjalan sangat menyenangkan. Biasanya juga ga rewel sih, cuma hari ini lebih terasa kekalemannya. Tidak ada insiden ngambek or mewek, yang sering bikin Biudanya senewen :D

Adek Egi cerita bagaimana tadi dia mengikuti upacara di sekolah. Ketika disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya eh masak langsung loncat ke refreinnya? Saya nyanyikan dari awal, eh katanya salah dong? Gaswat :D Tapi biar deh, toh masih banyak acara upacara di sekolah yang akan dia lalui, dan pastinya lambat laun dia akan hapal lagu Indonesia Raya secara keseluruhan, bukan refrein aja :D

Jadual tidur siang hari ini diabaikan, Biudanya yang kasih dispensasi, dengan syarat makan sayuran. Saya pikir biarlah tidak tidur siang, toh nanti malam jadi cepet tidurnya ‘kan? Yang penting mau makan tanpa sibuk menyingkirkan segala macam asesoris yang ada pada makan siangnya.

Barusan tadi saya menggoreng ayam buat lauk malam ini, tiba-tiba adek Egi ke belakang memanggil mamanya yang sedang mengobrol dengan Biudanya. Rupanya dia minta untuk bukain fesbuk mamanya, mau maen game yang di fesbuk katanya. Mamanya bilang fesbuk mama sedang rusak, jadi maen game yang lain saja. Eh bukan adek Egi dong namanya kalau menyerah begitu saja. Dia masih terus merayu mamanya. Dan akhirnya …

“Ya udah deh, bukain fesbuk bapak aja!”

Melongo! Iya, asli melongo! Saya dan mamanya saling menatap, tidak tahu mesti bilang apa. Pelan saya tanya dia.

“Emang Egi kira di surga ada fesbuk yah?”

“Lho emangnya ga ada????”

Speechless! Tapi cuma sebentar, kami tidak boleh menjadi sedih, karena dia pasti belum paham dengan yang diucapkannya. Semua itu serba spontan. Dia pasti belum paham sepenuhnya. Dia masih sibuk dengan dunia khayalnya? Seperti mengatakan bidadari yang memberi makanan kepada Bapaknya? Ah …

Pikiran polos seorang anak kecil memang seringnya mengejutkan, lain kali pasti akan ada lagi kejadian seperti sore ini. Kejutan apalagi ‘kah yang akan kami dapatkan setelah ini?

Menjelang Suit Sepentin

Menulis atau nge-blog baru saya geluti 2 tahun terakhir ini, sejak saya menikah dengan seorang laki-laki yang full-time blogger, yang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian melalui blog. Awalnya sering bete melihat suami anteng di depan laptop, padahal kami masih pengantin baru. Biasa deh, istri centil ‘kan maunya disayang-sayang toh?! Eh ini kok siang malam yang dikeloni cuma laptop saja :D

Suami yang blogger itu kemudian menulari virus nge-blog dan sukses dong dia, karena sampai hari ini saya masih anteng nge-blog walau sempat vakum di awal-awal 2010. Mungkin karena profesi suami yang blogger membuat suasana ayem tentrem, nge-blog kapan saja tidak masalah. Tapi apakah saya kemudian melupakan tugas sebagai Ibu Rumah Tangga? Tentu tidak! Kami berkolaborasi menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, senangnya melakukan ini  karena membuat setiap detik waktu yang berlalu sangat berkualitas.

Sampai hari ini, rutinitas keseharian saya kurang lebih masih sama, yeah ada perubahan sedikit sih, sejak kami mengurus sendiri usaha ini, dan sejak punya asisten yang tinggal di dalam, juga sejak sering ketitipan duo bocil maka tugas memasak menjadi WAJIB. Tugas memasak, pasti ada lanjutannya yaitu tugas ke pasar. Saya beruntung karena memang suka memasak, sehingga walau sudah kecapekan masih punya semangat nge-blog, buat apa coba kalau bukan pamer masakan hehehe …

Kira-kira seperti inilah 24jam yang saya punya itu dibagi. Lepas subuh bersiap memasak sarapan para asisten, lanjut belanja ke pasar, memasak, menyiapkan abang berangkat sekolah jam 12 siang, rehat – saat ini bisa fokus bewe sambil menunggu abang pulang sekolah jam 3, dan memastikan mereka tidur siang. Lewat maghrib mereka baru dijemput ibunya, setelah itu kalau tidak ada acara keluar, biasanya langsung full kegiatan on line, entah itu menulis – bewe, pastinya diseling nonton BBI jam 19-20 :D Rutinitas seperti ini tak jarang berubah total, jika ada kegiatan offline, ke bioskop misalnya. Fleksibel saja seperti karet, bisa diatur-atur sesuai kebutuhan :D

Begitulah, ngeblog dan bewe  selalu dilakukan kapan saja di sela-sela waktu luang, pasti keadaan ini akan berbeda jika satu hari nanti Chelsea wannabe sudah ada. Bisa jadi kesempatan menulis malah berkurang, tapi sepertinya sih tidak mungkin hiatus, karena sesungguhnya saya ‘kan sangat narsis. Jika foto masakan saja sering tayang di sini, sudah pasti dong kegiatan bersama Chelsea juga dipajang disini hehehe ….

Fiuhhh …. ! Panjang juga ya tulisan saya, padahal sedari kemarin saya masih bingung bagaimana akan mengawali tulisan untuk mengikuti kontes SUIT SEPENTIN-nya mas Djangan Pakies, eh alhamdulillah pagi ini bisa mengalir selancar air sungai di Pasir Mukti :D Hmmm, karena menulis ini saya jadi tercenung, menjelang Suit Sepentin yang masih 15 tahun lagi buat kami berdua, bagaimana ya kami melewatinya nanti? Kami tentu berharap bisa mengikuti jejak pasangan Djangan Pakies yang akan merayakan Suit Sepentin, terus sampai tahun-tahun berikutnya.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai bingkisan dari kami berdua untuk ulang tahun pernikahan Mas Djangan Pakies, dan tentu saja sebait doa kami lafazkan untuk kelanggengan rumah tangga mas Djangan Pakies, agar awet sampai aki nini, dilimpahi kesehatan dan kemurahan rejeki, dan dipanjangkan umur agar dapat mengawal anak-anak sampai mentas, juga tetap nge-blog pastinya :)  Aamiin!


Photobucket

Giveaway : 2nd Wedding Anniversary

Bulan Agustus adalah bulan yang sangat spesial buat kami berdua. Eits, tidak ada kaitannya dengan hari kemerdekaan lho :P Bulan Agustus menjadi bulan yang istimewa karena tanggal 10 suami berulang tahun (enaknya ngasi kado apa yaaaa?:D) dan enam hari kemudian adalah perayaan hari pernikahan kami yang ke-2. Dua momen yang pantas untuk dirayakan bukan? Bagi yang mau mengirimkan kado inilah saat yang paling dinantikan, jangan sungkan ya *ngelunjak.com*

Continue reading

Tilang, Please?

Masih ingat tentang cerita tilang saya pada postingan ini? Sengaja saya pending karena mau diceritakan tersendiri berikut penyelesaiannya. So, here we go :D

Setelah para suami memasuki pelataran parkir KOMDAK tempat peserta funbike berkumpul, kami para istri segera menuju Ancol. Nah, di sini masalahnya bermula. Teman saya sedang malas menyetir mobil, sehingga mau tak mau saya yang menyetir, padahal SIM sedang tak punya, hilang sejak ditilang setahun lalu, dan malas mengurus lagi. Sempat saya utarakan kekuatiran soal SIM, tapi teman saya keukeuh agar saya saja yang menyetir. Sebelumnya para suami sudah mewanti-wanti agar lewat tol saja, tetapi para istri ini merasa jalan lewat arteri juga sepi, buat apa lewat tol?

Kesalahan fatal adalah kami keasyikan mengobrol sehingga tidak memperhatikan di perempatan Grogol itu cuma ada 2 pilihan belok kiri atau kanan, sementara kami mau lurus. Otomatis dong p*lisi yang sudah menanti di seberang sana, langsung seperti ketiban duren runtuh melihat mangsa masuk perangkap :D Kami pun digiring untuk minggir.

Taraaaaa………saya cuma menggeleng ketika diminta menunjukkan SIM. Akhirnya teman saya yang mengikuti langkah petugas itu untuk urusan lebih lanjut. Karena terlalu lama, akhirnya saya datangi mereka, eh ternyata sedang terjadi negosiasi. Petugas itu meminta 100rb tapi teman saya menawar 50rb. Kesepakatan tidak terjadi sehingga terbitlah surat tilang. Saya yang biasanya sukses mengelabui petugas setiap dicegat di jalan, kali ini mati kutu, karena tidak ada persiapan sama sekali. Asli kaget ketika melihat tangan polisi melambai memberi tanda pada kami untuk menghampiri mereka. :D

Suami teman yang sudah berpengalaman bilang lebih baik ditilang daripada bayar ke petugas itu. Dan jadual sidang untuk urusan tilang ditetapkan tanggal 15Juli. Berhubung saya dan suami tidak tahu persis Pengadilan Negeri Jakarta Barat sebelah mana, maka kami berangkat pagi, maksudnya sih kalau pun  harus cari-cari tempatnya setidaknya tidak akan terlambat dari jadual sidang jam 09.00. Saya bahkan sudah bilang kalau nanti bayarnya harus jutaan sebagaimana yang diucapkan petugas di lapangan, saya lebih baik masuk penjara deh, paling juga berapa lama hehehe … pas dengan kata suami 2 bulan menciut juga sih :P Yang jelas saya excited sekali ingin mengetahui jalannya persidangan tilang itu seperti apa?!

Persiapan mental buyar ketika melihat lokasi sidang. Benar-benar seperti pasar. Tidak masuk di akal sih bagaimana itu para calo bertebaran, jika di tempat sebermartabat P*ngadilan Negeri saja calo berkeliaran, apalagi di tempat lain seperti terminal bus atau stasiun kereta ???? Seorang calo menghampiri saya dan menanyakan mana surat tilangnya, dan belakangan dari hasil obrolan dengan terpidana yang lain, baru saya ketahui bahwa justru TIDAK BOLEH memperlihatkan surat tilang kepada para calo karena sekali surat itu di tangan mereka, maka jangan harap surat itu bisa kembali ke tangan anda. OMG!!! Untuuuuung saya memang tidak memegang surat tilang itu, siapa tau para calo dibekal ilmu hipnotis dan tiba-tiba saya menyerahkan begitu saja, kan tidak begini cerita yang ditulis jadinya hehehehe Dan tau ga berapa uang yang diminta si calo untuk pelanggaran 2pasal??? SERATUS TUJUH PULUH RIBU saja dong!

Sempat juga saya mengobrol dengan seorang terpidana yang sudah telanjur menggunakan jasa calo dan membayar 100rb, padahal kalau dia urus sendiri cuma membayar 21rb (SIM Motor). Rupanya dia baru di Jakarta, dan masih lugu, sudah takut duluan hehehe

Kerumunan di depan pintu masuk ruang sidang

Setelah menyerahkan surat tilang di sebuah loket berlokasi di dekat tempat parkir yang semrawut itu, kami disuruh naik ke lantai 1 di mana para terpidana berkumpul. Kembali suasana pasar pindah ke sini, jauh dari nuansa manusia bermartabat dan berbudaya. Pintu masuk disesaki manusia yang kebanyakan calo. Calo lebih galak ketimbang terpidana. Calo terlihat saling lempar senyum dengan petugas. Calo lebih terlihat sebagai kepanjangan tangan petugas saja layaknya. Petugas galak terhadap terpidana, terutama ketika saya mencoba mengambil gambar suasana persidangan eh petugas perempuan berbadan besar itu membentak saya hohoho …

Ok, saya coba mengilustrasikan ruang persidangan itu. Di depan meja panjang ada 4 kursi yang di tengah seorang hakim bertoga, kiri kanan berpakaian biasa. Ruangannya berAC tentu saja, ditambah ada kipas pula. Sejuk! Di depan hakim bergerombol lah terpidana yang sebagian duduk manis di kursi-kursi kayu yang dijejer rapi di depan hakim, yang tidak kebagian duduk ya silahkan berdiri saja. Dengarkan baik-baik, jika nama anda dipangsuratgil, silahkan maju, terserah mau loncat atau gimanalah caranya menerobos kerumunan manusia itu, yang penting cepat ke depan hakim. Setelah itu surat tilang ditumpuk dan si terpidana boleh pindah ke ruang sebelah, tempat menuntaskan pembayaran. Ini pun model pasar juga, sepertinya berkerumun itu memang yang terbaik, sehingga ketika nama seseorang dipanggil malah susah merangsek ke depan. Giliran kami membayar ternyata 71rb saja untuk kesalahan menyetir tanpa SIM dan melanggar rambu-rambu. Untung mau ditilang, kalau tidak, uang 100rb sudah masuk kantong petugas dong hehehe …

Ruang tempat membayar denda tilang

Oiya, bagi siapapun yang kena tilang, terus tidak sempat datang ke sidang, juga karena malas antri dalam kerumunan yang panas, tenang saja, beberapa hari kemudian datang saja ke kantor PN/kejaksaan setempat, nanti langsung bayar dan sim/stnk akan dikembalikan. Dengan begitu tidak perlu berpanas-panas dan berjubel, juga tidak perlu repot melayani para calo yang bolak balik menawarkan jasa yang kelamaan membuat yang sabar pun bisa naik pitam :D

Pengalaman ini sangat berharga buat kami, jika selama ini rada ciut setiap berpapasan dengan petugas berseragam, sekarang sudah tenang, yah kalau dihentikan, tinggal minta surat tilang saja. Tak usah ada kata DAMAI, karena uang dari perdamaian di tempat tidak jelas uangnya ke mana. Lagipula ada yang mengganjal nih, pada surat tilang ada tertera angka 100rb, 200rb dan seterusnya, yang menurut petugas boleh memilih mau bayar nominal yang mana di tempat. Kenapa angka itu berbeda dengan angka di pengadilan? Ada yang pernah cari tahu tentang ini? Dan keanehan yang lain, sepertinya denda untuk pelanggaran apapun sama aja deh besarnya, karena saya dengar pada bayar 21rb, 51rb, dan 71rb????

Looking for A Nanny Urgently!

Here we go! Memulai episode ke-2 menjadi nanny buat si abang dan dedek Egi. Hayulah, selagi Chelsea Maulana belum lahir :) sangguplah jadi full-time aunty hehehe

Duh! Sungguh tidak mudah ya membuat seseorang awet bekerja dengan kita. Bukan, saya bukan mau bercerita tentang para asisten. Mereka baik-baik saja sampai hari dan semoga sampai waktu yang lebih lama. Ini mau cerita tentang nanny-nya si abang dan Egi yang asli Kebumen itu, yang tiba-tiba minta berhenti sejak 2minggu  yang lalu :( Sempat saya bujuk sih untuk kembali lagi, tetapi sepertinya bujukan saya tidak mempan.

Nanny yang baru berhenti itu, sebetulnya punya kinerja yang buruk, sepanjang hari tak bisa lepas dari hape, sering kabur-kaburan pulang ke rumah kakaknya, dan cenderung membiarkan anak-anak bermain sendiri. Namun begitu tetap dipertahankan agar ada yang menjaga anak-anak ketika ibunya bekerja. Ternyata begitupun tidak juga membuat dia bisa betah bekerja. Iming-iming bonus dari saya juga tidak menarik minatnya. Rayuan pulau kelapa saya pun tidak digubrisnya. Cuma ada satu kata : berhenti!

Setelah itu, sempat 2 hari anak-anak dititipkan, tetapi kemudian mamanya menitipkan anak-anak di tetangga. Baru satu hari, tetapi saya kuatir jika terjadi apa-apa pada mereka, pasti saya akan menyesalinya seumur hidup. Lagipula, saya sudah berjanji pada almarhum dulu untuk membantu menjaga anak-anak mereka ‘kan?! Jadi saya minta mamanya untuk mengantar anak-anak sebelum dia berangkat ke kantor. Jadi mulai minggu kemarin kami memasuki episode ke-2 kisah saya mengurus 2 bocil itu :D Kisah pertama ada di sini.

Begitulah, sudah seminggu lebih anak-anak bersama kami lagi, kecuali Sabtu-Minggu. Kembali ke rutinitas yang dulu, bedanya sekarang mestinya lebih fokus karena sudah ada para asisten. Cuma, ada yang saya cemaskan. Kalau ada nanny-nya di rumah, anak-anak bisa mengikuti jadual mengaji, tetapi jika di sini tentu tidak bisa. Terkecuali kami mau sedikit repot mengantarkan ke rumah mereka. Atau lebih ekstrim lagi, kami yang justru tinggal di rumah mereka, sambil menunggu ibunya pulang. Tetapi, jika pilihan terakhir ini, bagusnya saya bisa fokus membaca, tetapi kesulitan on line :( Kalaupun memaksakan on line, pasti biaya pulsa jadi bengkak.

Entahlah, mesti dirembukkan lagi dengan suami, enaknya bagaimana. Tapi yang jelas, anak-anak sebaiknya berada dalam asuhan kami, sambil menunggu nanny yang baru, yang saya sudah reka-reka baru mungkin baru bisa didapat selepas Lebaran nanti, itupun jika kami cukup beruntung.

Oya, dalam kesempatan ini, barangkali ada di antara temans yang mengenal ada nanny yang mau bekerja menjaga si abang dan dedek Egi, boleh dong hubungi saya. Atau mungkin ada yang tahu informasi penyalur nanny yang bertanggung jawab? Tugasnya cuma mengurus anak-anak saja kok, tidak lebih. Urusan rumah tangga menjadi urusan ibunya. Mereka anak-anak yang manis kok, penurut dan tidak nakal, tutur bahasanya pun santun. Kalau saja tempat tinggal kami kondusif untuk anak-anak, pastilah kami tidak berkeberatan anak-anak bersama kami selama dibutuhkan. Sayangnya, lingkungan warnet sangat jauh dari layak bagi anak-anak seusia mereka :(

Jika sudah begini, terkadang saya berharap ada yang melamar ibunya, sehingga ada sosok lain yang menggantikannya menjadi bread-winner, dan ibunya tak usah bekerja agar bisa mengurus anak-anak saja. Semoga Allah mengijabah doa ini, jika ini memang terbaik :)