Hancur! Dunia seperti kiamat saja rasanya. Beginikah akhirnya? Beginikah??? Anak perempuan saya diperkosa! Dia diperkosa, di saat usianya baru saja 14tahun. Baru kemarin kami merayakan ulang tahunnya, dan aku menghadiahinya MacBook! Dan dari sanalah bencana ini berawal. MacBook dan telpon genggam yang kubelikan untuknya justru merampas masa depannya. Demikian sang ayah merutuki diri tiada henti. Penyesalan yang selalu datang terakhir, justru menjadi awal sebuah malapetaka.
Ya, malapetaka yang tak pernah diperkirakan datangnya. Anak gadis yang rupawan terjebak pada cinta maya. Tidak tanggung-tanggung karena cinta itu untuk seorang pria yang usianya justru 20tahun lebih tua dari usianya. Cinta yang hadir terlalu cepat diusianya yang baru 14tahun. Cinta yang mampu membunuh akal sehat dan logikanya. Cinta yang justru mengajarinya berani berbohong pada orang tuanya. Cinta yang membius seluruh kesadaran dirinya. Cinta yang membuatnya tega menghempaskan persahabatan yang telah dia bina sekian lama dengan Brittany. Dan cinta laki-laki itu menjadi satu-satunya alasan bagi Annie untuk bersemangat menjalani hari-harinya.
Hanya butuh dua bulan, dan Annie terpedaya. Cukup dua bulan, dan keperawanannya diserahkan tanpa perlawanan. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Padahal Annie tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, walau ibu bapaknya bekerja, tetapi semua anggota keluarga wajib berkumpul saat makan malam tiba dan saat itulah semua cerita dibagi. Normal bukan? Sehingga sekali lagi pertanyaan “Bagaimana mungkin hal itu terjadi pada Annie?” terus bercokol dalam benak saya.
Hey! Bukankah tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Begitu juga dengan Annie, berani bermain api, maka bersiaplah terbakar. Berani berbohong, maka tanggung sendiri akibatnya. Bahkan, sang ayah pun tak percaya membaca hasil chatting-an anak gadisnya yang masih bau kencur itu dengan seorang pria yang nyata-nyata berdusta tentang usianya. Ibunya bahkan tak sanggup melihat bukti percakapan anaknya dengan laki-laki itu sebanyak ratusan halaman.
Momen yang paling menghentak kesadaran saya adalah ketika Annie justru lebih percaya pada pria jadi-jadian yang jelas-jelas telah memperkosanya. Inikah yang dinamakan proses pencucian otak? Jika ya, saya kok malah tidak paham? Percakapan demi percakapan, rayuan demi rayuan dilancarkan pria jadi-jadian itu, semestinya menjadikan Annie tetap waspada. Banyak sekali peluang bagi Annie untuk berbalik dan menghindari malapetaka itu. Banyak sekali pertanda yang Tuhan sudah berikan padanya agar tidak serta merta mengikuti lelaki itu. Tetapi, memanglah ketika cinta sudah merasuki jiwa, maka tahi kucing pun terasa coklat! Dan dengan mudahnya, rasa percaya tanpa syarat diberikan pada laki-laki itu.
Peluang pertama, ketika tiba-tiba pria itu mengaku telah berdusta tentang usianya dari 15tahun menjadi 20tahun. Peluang kedua, ketika berubah lagi usianya menjadi 25tahun. Peluang ketiga, ketika pria itu mengajaknya bertemu, seharusnya dia tidak pergi sendiri, tapi apa lacur, otak Annie telah penuh oleh sanjungan pria itu, tentang kecantikannya, tentang ketergantungannya pada Annie, tentang Annie adalah segalanya baginya. Peluang ke-4, ketika pada kenyataannya Annie melihat pria itu bahkan jauh lebih tua dari pada 25tahun, dan sangat memungkinkan baginya untuk pergi karena pertemuan itu di sebuah mal. Peluangnya sudah habis karena dia berani memasuki mobil pria yang baru 2 bulan dikenalnya. Catat : 2 bulan! Dan terjadilah malapetaka itu di sebuah motel.
Jalinan cerita di atas yang dikemas dengan apik oleh David Schwimmer sudah sering kita baca di media cetak yang menimpa anak-anak gadis di negeri ini. Selalunya yang dipersalahkan adalah jejaring sosial, teknologi, komputer, internet dan handphone. Padahal semua itu adalah sarana semata, bukan? Adalah kita, manusia yang seharusnya mengontrol semua sarana itu agar dapat membawa manfaat baik, bukan sebaliknya.
Sesungguhnya berita yang mirip dengan yang digambarkan film ini sudah membuat hati ini galau, membuat saya berpikir bagaimana ya caranya mendidik anak agar tidak mudah percaya pada orang lain, apalagi yang cuma dikenal lewat dunia maya. Bagian terburuknya, saya kemudian menjelma menjadi sosok tante yang dianggap tidak gaul, ketika melarang para keponakan berakrab-ria dengan jejaring sosial itu. Atau, jika pun membiarkan mereka boleh punya akun facebook/twitter, pasti saya akan minta untuk berbagi password
I know it’s not good, but what else can I do? Any suggestion, please?
gambar diambil di sini
Tak ada kebebasan mutlak. Begitu pun tak ada kemerdekaan mutlak. Semua memiliki dua sisi yang saling berseberangan. Parameternya?
DM recently posted… » 0º
Wah, review film, tapi kok gak ada gambar sampul film-nya?
Rating di imdb berapa?
Terus, gak ada cuplikan gambar?
Asop recently posted… » Mesin Pencetak Tiket Antrean di Telkom Plasa
Revieuw-nya bikin penasaran niQue, bagussss!
Saya sampe merinding bacanya
Saran saya kayaknya ngga ada deh, karena semua teori itu harus dipraktekkan dan disertakan dengan doa pada Sang Pencipta…
sebetulnya salah orang tua juga karena tidak mewanti-wanti kemungkinan buruk. Bagiku lebih baik banyak “menakut-nakuti” daripada “diam”. Nah kebanyakan keluarga Indonesia memilih diam (dan berdoa). Padahal kalau diberi contoh dan pengertian, pasti akan bisa terhindar. Tidak hanya masalah perkosaan loh, masalah narkoba pun sama.
Soal jejaring sosial? Aku pun tidak setuju untuk batas waktu tertentu. Dan mungkin segala cara akan aku lakukan pada anakku utnuk mengetahui pergaulan mereka jika suatu saat mereka memulainya. Termasuk memasukkan pembaca password dalam komputer atau camera survelaince hahaha.
Aku sendiri sudah berkali-kali membuka kedok chatters sih hihihi. Waktu bercakap denganku pasti aja ketahuan kapan org itu berbohong, sampai akhirnya ketahuan semua latar belakangnya. Oh ya kalau perlu aku malah minta org di kota itu utk investigasi. Gampang kok, minta saja nomor telepon
(harus menjadi detektif utk diri kita sendiri)
EM
Ikkyu_san recently posted… » Kertas vs Batu
Kabarnya, mendidik anak perempuan jauh lebih sulit daripada mendidik anak laki2 yah?
Ini diakui sama istrinya Will Smith, diacaranya Oprah..
dan Rasulullah pun pernah berkata (bener nggak Mba?) bahwa orangtua yang berhasil mendidik anak perempuannya, di akhirat mereka akan sangat dekat dengan Rasulullah SAW..
memang berat… bismillah…
Lyliana Thia recently posted… » Daun Gedi dan Tinutuan
Ternyata komunikasi yang baik saja tidak menghalangi kejahatan itu terjadi. Perlu infomasi yang memadai yang diperlukan untuk benteng bagi anak yang sedang dalam pertumbuhan. Kita berharap kejadian buruk yang sering jadi tontonan di tv dan dibaca di media cetak akibat side effect dari dunia maya dan jejaring sosial tidak menimpa kita. Maka harus waspada terus…
sebagai orang tua kita memang dituntut makin awas dengan perkembangan anak2 kita..
tapi Insya Allah, dengan kedekatan yang terjaga plus bekal agama yang kuat, kita bisa melewatinya..
meskipun, yaaa..khawatir juga

iPul dg.Gassing recently posted… » Family Gathering di Pulau Kodingareng Keke
Sarana yang digunakan malah menjebak, apalagi utk anak seusia annie yg memang masih labil..
Smoga anak-anak kita dan keluarga kita terhindar dari hal semacam itu.
Inda Rozalia recently posted… » Meluncur
speechless, memang ngga mudah jadi orang tua, dari zaman ke zaman tantangan jadi orang tua bak menaiki tangga
jarwadi recently posted… » Koran Rp 1000 -an
Saleum,
mbak ijin tukaran link ya, supaya lebih memudahkan bersilaturahmi
saleum dmilano
Saleum.
sudah sangat sering terjadi peristiwa seperti itu diindonesia, sebaiknya orang tua cepat tanggap dengan pesatnya dunia maya saat ini. sehingga bisa memback up anak gadisnya dari perbuatan tak senonoh akibat perkenalan didunia maya. begitu dulu dari saya
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Hadiah Sepeda dan Rangking
memang sebaiknya kita sebagai ortu ikut mengawasi anak2 ketika mereka berselancar di jejaring sosial, paling gak dgn memberikan pengetian pd mereka , bahwa dunia maya ini benar2 maya, orang bisa berwujud menjadi siapa saja yg mereka inginkan, termasuk jadi penjahat sekalipun

kalau bunda malah ikutan jadi temen dari temen2 anak2 di fb, jadi paling gak bisa tau, aktivitas mereka disana, tentu saja dgn kesukarelaan dr mereka.
jadi, tetap saja kuncinya , komunikasi yg baik antara ortu dan anak, Nik
salam
bundadontworry recently posted… » Kalah Dari Semut
emang harus lebih hati2 ya kalo anak udah beranjak remaja. karena internet dan jejaring sosial itu emang bersisi 2. di satu sisi emang penting dan berguna, tapi di sisi lain bisa menimbulkan efek negatif.
dari temen2 gua yang anak2 nya udah pada remaja, mereka semua jadi kudu ikutan punya account facebook/twitter, dan jadi friend/follow anaknya. dan mesti sering2 ngebacain status anaknya, dari situ mereka mencoba untuk lebih waspada dan bisa ngikutin apa yang terjadi sama anaknya…
arman recently posted… » The Tours
Kalau saya, berbagi password dan memperhatikan siapa saja teman mereka di facebook.
Dan, karena saya yang membuat, account si sulung dibuat private. Selain itu, paling sering diberitahu untuk tidak mudah berbicara dengan orang asing yang belum dikenal sama sekali.
indahjuli recently posted… » KIMCHI 2011
Masalah dapat merubah manusia, tetapi manusia tidak dapat merubah masalahnya. kita hanya dapat terus belajar menghadapai masalah dengan hati yang jernih dan pikiran yang jernih.
Sukses selalu
Salam
Ejawantah’s Blog
R. Indra Kusuma Sejati recently posted… » MENIKMATI HARTA GAIB YANG BERTEBARAN MELALUI BANK GAIB
itulah orang yang belum mampu mengendalikan hawa nafsu,hanya dengan sanjungan kehormatan hilang.
riez recently posted… » I Love U Brother
well…pertama mungkin…anak si anak perlu rajin membaca buku ttg kebejatan fb/para pria…dan cara mengatasinya….
yah…mirip2…
Man for Dummies ato
FB for Dummies
Prihatin ya.
Film tentu bukan sebagai ungkapan imajinasi kosong belaka, tp ia berlatar peristiwa yang hidup di luar sana, di jalanan, di trotoar, hingga di halaman depan rumah kita.
Semoga ke depan dunia akan lebih baik, khususnya Indonesia. Amin!
Maslahnya bukan peran orang tua saja yang turut ikut campur. Ada baiknya mengenalkan anak dengan bahaya tekno, atau beragam kriminalitas yang sempat marak belakangan. Setidaknya itu melatih mereka agar lebih tanggap dengan keadaan sekitar
Kaget recently posted… » SIM City Kota Ku
tak hanya pengawasan dari ortu semata, tpi juga dari para sesama untuk terus saling mengingatkan agar selalu waspada dan hati2 dalam bergaul di dunia maya…
Mabruri recently posted… » BREBES yang tak lagi BERHIAS
semua memang harus dikontrol orang tua ya demi kebaikan anak