Pada Satu Sore

Dejavu-kah?
Mungkin ya, mungkin tidak. Yang pasti, ini semua bukanlah sesuatu yang kebetulan. Pasti DIA yang mengatur ini terjadi hari ini, di waktu yang berdekatan.

Tadi siang, saya dan suami mencari sesuatu di mal, karena yang dicari tidak ketemu, kami bermaksud untuk duduk sebentar sekalian googling, mencari tahu tempat terdekat yang menjual barang yang kami cari. Dengan tergesa kami mengarah pada satu kursi panjang yang memang disediakan di depan sebuah toko buku besar di mal itu. Dan, sungguh kaget saya melihat seseorang yang sama sekali tidak saya duga akan bertemu di tempat itu. Seharusnya dia ada di kantor jam ini. Hmm …

Jelas dia pun tak dapat menyembunyikan rasa kaget di wajahnya yang sedikit pucat. Serta merta saya menghampirinya, dan langsung duduk di sebelahnya. Kami bertukar kabar, dan saya baru tahu kalau dia ijin tidak bekerja karena kemarin baru sakit. Saya merasakan sesuatu, dan merasa harus tinggal untuk menemaninya sejenak. Suami saya minta pulang duluan, karena memang harus ke bandara menjemput satu lagi karyawan impor yang baru datang sore ini.

Instingku mengatakan, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi padanya, pasti! Ku tanyakan apakah dia sudah makan, dan dia cuma menggeleng lemah. Kami berjalan menuju gerai penjual makanan yang ada di mal itu, dan ketika seporsi makanan tersedia di hadapan kami, ceritanya mulai bergulir, bahwa dia sempat memikirkanku, tepatnya berharap seandainya aku bisa muncul di tempat itu. Inilah kenapa ku sebut dejavu?

Ku lirik jam yang sudah lewat dari jam 3, kutanyakan apakah dia mau mengobrol saja di sini atau mau menghibur diri sejenak menonton film di bioskop? Dan tepat 15.45 tadi kami duduk manis di dalam bioskop menonton film “PUPUS”, film yang sama sekali tak ingin ku tonton jika harus berbayar. Tetapi demi melipur hati yang sedang galau, tak ada salahnya ‘kan?!  Hampir jam 5pm tontonan tuntas, tapi hati ini masih belum tenang, karena belum mengetahui kegalauan yang menyebabkan mendung di wajah sahabat ini. Ku ajak dia mampir ke rumah, dan ceritanya pun berlanjut.

Tentang pekerjaannya yang belum permanen, padahal usianya pun sudah tidak muda lagi, bahkan dia tidak yakin bisa bertahan dengan pekerjaan yang sekarang. Suaranya terdengar putus asa. Hidup sebatang kara, pekerjaan belum terjamin, usia yang tidak bertambah muda, semua itu menjadi beban pikirannya. Sebenarnya sih tidak benar-benar sebatang kara karena dia punya 2 kakak dan 1 adik, tetapi semuanya sudah menikah dan tentu saja sibuk dengan urusan keluarga masing-masing. Yeah, aku paham maksudnya, bahwa dia pasti tidak ingin seperti benalu yang bisa saja malah menjadi bibit permasalahan di dalam keluarga saudara kandungnya. Memang tidak mudah ya …

Ceritanya, mengingatkan saya pada postingan Usagi tentang pertanyaan-pertanyaan yang seringnya dilontarkan dengan maksud baik (mungkin?), tetapi justru menjadi momok yang menakutkan bagi perempuan-perempuan yang telah berusia matang dan masih sendiri. Karena bagaimanapun, tanpa ditambah beban untuk mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan-pertanyaan itu, perempuan sepertinya sudah punya beban sendiri yang mautak mau harus ditanggungkan. Menjalani hidup dalam kesendirian, pasti bukanlah pilihan yang dipilih dengan sukarela. Jika boleh memilih, pasti kebanyakan akan memilih hidup berpasangan dengan orang yang memang mau menerimanya apa adanya, demikian sebaliknya, daripada hidup dalam kesendirian. Duh, nelangsa jadinya!

Lidah ini terasa kelu, tak tahu harus berkata apa, walau saya tahu dia butuh kata-kata penghiburan dari saya, tapi bagaimana lagi? Saya sendiri merasa setiap kalimat yang hendak saya ucapkan, sepertinya kok tak bernyawa? Mungkin saya terlalu larut pada curahatan hatinya yang terdalam, yang selama ini dipendam, disimpan tanpa harus tahu bercerita pada siapa. Dan saya tahu rasanya yang menyesakkan dada, bahkan saya mengira kesehatannya terganggu karena dia terlalu memikirkan hal itu.

Saya cuma diam sambil menggenggam tangannya, menatap tepat pada kedua bola mata sambil berkata agar sering-sering datang ke sini, saya toh selalu ada di rumah. Saya tak ingin melihat dia duduk lagi di salah satu bangku di mal, terkantuk-kantuk hanya menunggu waktu sore tiba. Dia memang tipe orang yang introvert, dulu bahkan dia tak pernah berani pergi ke mana-mana seorang diri, selalunya harus ditemani. Saya juga katakan agar dia berbesar hati menerima semua yang Tuhan berikan, karena pasti itu yang terbaik menurutNya. Manusia, selalu merasa mengetahui apa yang dia inginkan, tapi Tuhan lebih tahu apa yang paling dibutuhkan umatNya. Di usianya, saya tahu tak perlu saya menasehati dia untuk lebih aktif di gereja, tak perlu pula menyarankan dia untuk mengikuti komunitas ini dan itu untuk menambah luasnya pergaulan.

Hampir jam 9malam dia berpamitan, dan sekali lagi saya mengingatkannya agar tidak perlu sungkan untuk datang lagi dan lagi, pintu rumah ini selalu terbuka untuknya. Sepotong doa saya lafazkan mengiringi langkahnya, semoga dia diberi kekuatan menjalani hari-hari. Sampai bertemu lagi, sahabat!

31 thoughts on “Pada Satu Sore

  1. kasiaan ya.. emang pertanyaan ” udah menikah belom?” adalah pertanyaan yang seakan memojokkan atau mengejek padahal g seperti itu yaa mungkin sensi aja ya karena belum berjodoh :D

    jika sebuah percakapan selesai ketika pertanyaan itu dijawab, mungkin tidak memojokkan yang dirasa, tetapi biasanya justru percakapan berkembang dari situ, dan ujung2nya akan menyalahkan si perempuan yang terlalu begini ato begitu.

  2. Top Guest Start in This Week sakjane artine opo to mbak

    hahaha yo embuh Pak, protes ya namanya udah ga ada di sana? xixixi … yo wes tar protesnya tak sampein mr. hubby :P

    marsudiyanto recently posted… » Sepertigabelas

  3. duch…
    ngapain top guestnya dibikin mingguan?
    ini sich kembali ke jaman kolonial, jaman pulsa HP hangus manakala masa aktif habis dan kagak dikomulatif.
    knapa metode ini keluar lagi ya

    xiixixi pak’eeeeeeee….. wes to, protes kok ping loro :P iyaaaa nanti tak bilangnya ke bojoku yoooo :P

    marsudiyanto recently posted… » Sepertigabelas

  4. Sahabat sejati memang selalu ada di waktu susah dan senang. Dan sampean pas hadir pada waktu gundah gulana menghampiri sahabat tersebut.

    Semoga sang sahabat bisa menjalanai hidupnya dengan senyum ceria lagi :lol:

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
    Sugeng recently posted… » Juni 17 Ngelantur

  5. hmmmm,semoga cepat mendapat solusi y mbak,..
    menjalani hidup yg berat dlam kesendirian, penuh tuntutan dan tekanan,..
    mari bangkit, karena hanya diri kita sendiri yg mampu merubah nasib kita. semangat!! :D

  6. Persoalan sering beda imbasnya ketika dihadapi orang… Kita bisa bilang “Temanmu ngga bs bersyukur” atau “Teman kamu lebih beruntung karena meski ngga tetap tapi dapet kerja”… tapi aku suka dengan apa yang kamu lakukan, tak perlu banyak pertimbangan, yg penting kamu selalu menyediakan diri dan hari untuknya…

    mungkin karena saya pun pernah merasakan apa yang dia rasakan ya mas, sehingga rasa empati ini bisa sedemikian besar, sehingga saya tahu persis dia hanya butuh genggaman tangan untuk menguatkan hatinya.

    DV recently posted… » Blog kenapa harus ngga serius – ide- ide dan ide 1 dari 2 tulisan

  7. Sepertinya masalah yang di hadapi sahabatnya cukup berat sehinggai ia bermuram durja.. Saat Keluarga sudah sibuk dg dunia nya masing2.. Harapan dari Seorang sahabat adalah ia bisa berbagi dengan sahabat2 lainya…..

  8. teman yang baik akan selalau berempati dalam duka maupun suka. untung dibayarin, kalau tidak malas juga nontonnya..

    hehehe kan perlu tempat untuk diam2an, klo diam2an di bangku foodcourt nanti dikira lagi berantem, terkadang ketika sedang galau, butuh yang sunyi2 sekedar menentramkan hati.

    komuter recently posted… » touring bersepeda ke bandung

  9. Kakakku single, janda cerai, umurnya hampir 50 tahun.
    Pekerjaannya bagus.
    Dia milih hengkang dari rumah, lalu ngekost, dan piara kucing empat ekor buat pelipur lara kalau pulang dari kantor.
    Kurasa dia bahagia.
    Kadang-kadang dia kencan dengan cowok-cowok yang lebih muda usianya, putus nyambung, tapi kulihat dia nggak pernah putus asa.
    Mungkin penyebabnya, karena dia ikut komunitas ini itu, jadi banyak temannya. Pendek kata, dia nggak pernah kesepian.

    Sebenarnya posting ini ngomongin apa sih, Mbak Nique? Tentang cewek single atau cewek yang nggak happy?

    tentang cewek single yang tadinya happy,tapi karena ada emak2 rempong yang usil dengan kesendirian dia, malah jadi kepikiran, mpe sakit :D … emang sengaja soal emak2nya tidak saya perjelas,karena Usagi sudah menuliskannya dengan sangat jelas dan lugas hehehe sudah mampir ke sana blom?

  10. waah, Nik… syukur banget ya temenmu ketemunya dgn Nik, paling gak walau blm bisa menyelesaikan masalah, dia msh bisa ngeluarin uneg2nya dan ada yg mendengarkan.
    ini yg paling penting, krn udah susah sekarang ketemu orang yg mau mendengarkan uneg2 kita, krn kan hampir semua orang punya kesibukan dan masalah sendiri2, jd gak sempet lagi utk mendengarkan keluh kesah orang lain.
    mungkin pd saat down kayak gini, kita cuma bisa berharap, agar dia bersyukur dgn apa yg dia peroleh saat ini, lihat segi positifnya aja, gak mudah memang, tapi bukan gak mungkin. krn kalau dibiarkan berlarut2 down nya , malah bisa bahaya utk dirinya sendiri.
    salam

    saya yang bersyukur bertemu dengannya Bun, dia menjadikan saya lebih mensyukuri apa yang sekarang saya punya, terutama pasangan hidup saya. saya rasa para singles, se-happy apapun dia, pasti ada si satu masa mengalami seperti dia bun, dan saya yakin kok dia akan pulih begitu mengalami sesuatu yang baru. itu sebab saya rasa para emak2 rempong mengurangi melontarkan pertanyaan yang sangat menohok bagi para singles hehehe

    bundadontworry recently posted… » Kalah Dari Semut

  11. Masalah tiap orang itu berbeda ya, niQue…yang satu kesedihannya di ini, yang satu ada di itu…

    Titip doa aja, smoga teman niQue tadi bisa menjalani hari dengan penuh syukur sehingga berkah lain tak enggan untuk datang :)

  12. Benar Niq, kadang kita susah mau kasih komen kalau orangnya sendiri nggak butuh dikomentarin curhatannya.
    Setuju sama Arman, apapun yang terjadi kita harus mensyukuri hidup, karena tidak semua orang jalan hidupnya sama dengan yang lainnya. Haiisssh, kenapa sok bijak gini ya :D
    IndahJuli recently posted… » Istana Maimun Kini

  13. nique, kayaknya temen lu harus disadarkan. kalo dia itu lupa bersyukur. bayangkan aja… dia tuh punya pekerjaan (well ya pekerjaannya gak enak, tapi berapa orang sih yang bisa bener2 suka ama pekerjaannya? namanya kerja ya pasti ada gak enaknya… :D ), dan dia punya kesehatan, dikasih tubuh sempurna tak kurang apapun dari Tuhan. plus masih punya keluarga (kakak dan adik).

    emang berat kalo menjadi single di usia yang gak muda lagi. tapi itu bukan berarti the end of the world kan?

    menjadi single atau gak single, namanya kehidupan itu gak ada yang sempurna. masalah pasti akan selalu ada. tapi kita yang harus stay positive. harus bisa enjoy dan happy. dengan mensyukuri apa yang kita udah diberi sama Tuhan…

    betul gak? :D

    Man, ada saatnya seseorang itu down, dan terkadang penyebabnya yah dari faktor eksternal. Gw sih, lebih memilih dia mengendapkan semua permasalahannya, semua ocehan orang2, nanti juga semangatnya datang lagi. Emang sih being single is not the end of the world, tapi menurut gw, tetep aja wajar kok dia galau begitu, asal jangan keterusan aja hehehe

    arman recently posted… » The Tours

    • iya wajar sih wajar lah.. namanya juga manusia ya. pasti ada masa2nya down. cuma ya kayak yang lu bilang, asal jangan sampe keterusan aja…

      makanya perlu dibantuin inget… untuk jangan ngeliat yang gak enak-gak enak nya aja… tapi juga mensyukuri apa yang udah dikasih ama Tuhan yang orang lain gak punya… :)

      yah moga2 temen lu bisa segera semangat lagi ya… :)
      arman recently posted… » The Tours

  14. wah kalo gitu mbak kenalin aja ama temen nya. siapa tau ada yang cocok dan menikah. itu lebih membantu kayak nya.

    klo ada yang bisa dikenalin mah mau aja saya bantuin, masalahnya kan ga segampang itu juga bay :)

    bayu recently posted… » The One with Our Love Story

  15. betul, itu selalu menjadi pikiran wanita single. Dan aku bahkan sempat terkesiap waktu adikku yg single memutuskan membeli rumah di Jepang. Dia jauuuh lebih siap dariku menghadapi masa pensiun. Aku belum apa-apa :(

    EM

    I did the same thing :D sampai2 manusia2 di sekitar saya berkomentar begini, klo kamu sudah beli rumah dan mobil, enak bener tuh yang jadi suami kamu, tinggal bawa badan! ga sopan sekali ‘kan komentar begitu? Usil menurut saya! Atau ada lagi yang komentarnya lebih parah : wah ngapain beli rumah dan mobil, nanti laki2 jadi pada takut lhoooo …! Eh so what emang klo laki2 pada takut? Doooh … emang seperti kata Usagi, banyak emak2 rempong di luar sana :D

    Ikkyu_san recently posted… » Dara-dara

  16. Untung temennya ketemu sama Mbak sehingga bisa mencurahkan kegalauan hatinya dengan lepas. Coba kalau ketemunya sama orang yang sama-sama galau, bisa-bisa perang dunia ketiga.

    blum tentu juga mas, klo yang galau cowo, siapa tau malah terjadi pernikahan hehehe *ngayal lagi*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge