Sabtu kemarin, baru saja usai membaca postingan Bu Enny tentang rumah sakit, eh kok ya hari itu juga saya dapat kabar kalau ‘adik’nya teman yang saya antar ke rumah sakit bulan lalu, terpaksa diboyong ke rumah sakit lagi setelah dia sempat terjatuh pingsan di kamar mandi. Sepertinya memang sedang musim pancaroba, satu asisten dan suami diserang flu dan pilek, bahkan suami sampai demam
Namun begitu, saya memaksakan diri untuk menemani mereka ke rumah sakit malam itu.
Sesuai dengan prosedur asuransi yang diberikan padanya, maka kami menyambangi RS. Suliyanto Saroso untuk mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang lain. Sempat hampir terjadi insiden, tapi untung ingat kalau saya tidak mau gagal ujian lagi. Permasalahannya ketika cek HB, menurut si petugas akan butuh waktu 1jam. Sementara saya jelaskan, jika 1jam lagi maka dokter yang dituju di rumah sakit lain, sudah akan pulang, padahal pasien sudah lemah sekali. Apalagi dokter jaga di UGD sudah wanti-wanti ini pasien harus diopname segera. Tapi petugas itu tidak memberi pilihan. Saya tak habis akal, teringat seorang kenalan yang sudah bekerja sebagai perawat senior di sana. Ketika dia menghampiri saya di UGD, saya beritahukan kalau yang di UGD sangat kooperatif, kecuali di bagian Lab. Tanpa ba-bi-bu, dia balik badan dan dalam hitungan menit dia sudah kembali dengan selembar kertas hasil tes Lab di tangannya, yang menunjukkan angka 4 pada HB pasien. Bergegas dia memaksa kami langsung berangkat ke rumah sakit lain, agar si adik segera mendapat penanganan yang lebih intesif.
Terkait masalah bulan lalu, saya masih harap-harap cemas, jika sampai ditolak lagi seperti tempo hari. Untunglah, petugas yang berjaga malam itu lebih mengerti daripada petugas yang kami temui bulan lalu. Tidak butuh waktu lama, dan si adik sudah bisa langsung masuk kamar. Sebenarnya mulut saya sudah gatal untuk menanyakan tentang petugas yang berjaga bulan lalu, yang menolak merawat orang yang sama, tapi sekarang kok sah-sah saja? Sempat juga sih saya singgung tapi dalam konteks yang berbeda.
“Hebat deh petugas yang jaga malam ini, kami beruntung karena mba lebih cekatan dan paham tentang asuransi yang diambil adik ini. Beda banget dengan bulan lalu, kami sampai pulang tanpa dirawat lho karena asuransinya tidak bisa dipakai.” tentu saja pujian ini berhasil membuat cuping hidung si petugas kembang kempis
“Lho? Mestinya sama saja kok bu, memangnya bulan lalu dengan siapa?”
“Kan di situ kelihatan nama petugas yang menangani ketika pertama datang toh? Tapi ya sudah, yang penting hari ini kami sudah merasa dilayani secara maksimal. Yang lalu, ya udah biarin aja …
”
Tuhan sungguh Maha Baik, karena kekuatiran kesulitan mendapatkan darah tidak terbukti, 4kantong darah ternyata tersedia semua di rumah sakit, padahal tadi oleh perawat senior kenalan saya itu sudah memberikan tips rahasia cara cepat mendapatkan darah di gudangnya sana, dan kami sudah kasak kusuk akan mengikuti saja walau kurang etis rasanya, tapi demi si adik, tidak apalah. Dua hari ini, 4 kantong sukses mengalir ke dalam tubuhnya. Sempat sih dia kuatir, karena banyaknya informasi negatif yang sliweran di telinganya bahwa transfusi itu bisa menambah penyakit dari yang punya darah. Halah! Ada-ada saja!
Alhamdulillah, tadi HB nya sudah 8.7, belum normal, tetapi sudah lumayan. Tinggal disuruh makan yang banyak dan bergizi, begitu kata dokter. Tetapi, dia belum boleh pulang, karena pendarahannya belum berhenti. Apalagi belum pasti apakah yang terlihat pada saat USG adalah miom atau bukan. Rada kesel juga sih, masak sudah 2kali USG belum kelihatan juga? Berhubung kakaknya harus masuk kerja karena ada audit di kantornya selama seminggu ini, dan berhubung saudaranya yang lain pun tak ada yang bisa menyempatkan diri untuk menyambanginya di rumah sakit, maka tadi saya yang menemui dokter untuk mengetahui hasil USG-nya. Yang bikin kesal adalah karena si adik disarankan untuk di-MRI agar lebih pasti melihat keberadaan miom itu. Maksud saya, ‘kan sudah tahu nih si adik keterbatasan dana, mbok ya dari awal dikasih tahu kalau mau lebih jelas harus lewat MRI. Atau memang begitu prosedurnya????? Cuma ‘kan jadi double-cost, ya toh? Tapi ya sudahlah, memang sudah begini jalannya, semoga si adik dan keluarganya mendapatkan jalan keluar tentang pembiayaan untuk tes MRI yang memang tidak murah itu.
Baidewe baswei, panjang-panjang saya cerita dari atas itu, sebenarnya saya mau cerita tentang kualitas makanan yang tersedia di sana. Sama sekali tidak bermaksud mencela makanan, karena saya tahu setiap makanan itu pasti berkat dari Tuhan, tetapi kembali lagi ke manusia yang diberi tanggung jawab untuk mengolahnya. Saya sadar bukan kapasitas saya mengomentari kualitas makanan di satu rumah sakit, tetapi sebagai orang sehat yang mencoba mencicipi makanan yang disediakan untuk para pasien di sana, sulit buat saya untuk bisa mengerti bagaimana mereka bisa mendapatkan gizi dengan kualitas makanan yang seperti itu. Memang ada tahu, tempe, daging dan sayuran berwarna, tetapi semua tanpa rasa. Bahkan daging yang disediakan itu, kalau buat nimpuk bayi dijamin bayinya gegerungan, saking kerasnya. Saya mencoba menggigit daging yang entah disemur entah direndang-tidak jelas, aduh gigi palsu saya bisa mencelat kalau dipaksakan *LOL*.
Oleh karenanya, jadilah saya koki dadakan buat si adik
Setiap malam sebelum pulang, saya tanyakan menu yang dia inginkan, tentu saja saya tanyakan terlebih dulu kepada suster memastikan makanan apa yang menjadi pantangan untuk penyakit yang dia derita. Saya senang-senang saja menuruti keinginannya, karena bukankah masih lebih baik dia punya napsu makan ketimbang tidak mau apapun sama sekali? Hehehe …
Barangkali di antara temans blogger ada yang pernah jadi koki di rumah sakit, atau mungkin bekerja di rumah sakit, tolong dong jawab pertanyaanku ini, apa iya menu makanan para pasien di rumah sakit itu sudah melewati proses screening dari dokter gizi? Benar-benar ingin tahu saya …… please?
seenak apapun biasanya saya kurang minat makanan yang ada dirumahsakit dan biasanya saya cuma makan buahnya doang. klo bisa janganlah sakit biarlah orang2 kaya aja yang sakit.
Nik …
perkenankan saya berkomentar mengenai foto ilustrasinya …
Gambar itu mengingatkan saya … puluhan tahun yang lalu ketika saya di opname di RS Fatmawati …
Tempat makannya persis seperti itu …
terbuat dari alumunium …
hehehe
Salam saya Nik
(semoga adik temanmu itu cepat sembuh nya)
wait …
“aduh gigi palsu saya bisa mencelat kalau dipaksakan …”
Elu nyindir gua yak ???
Hahahahahah
(trainer ngaku)
kalau aku gak pernah kerja jadi koki dimanapun sih Mbak, tapi si mamah pernah kerja di rumah sakit, dan aku sering diajak ke dapur buat minta makanan, dan enak kok makanannnya. terlepas dari gizinya gemanah yah mbak, secara aku jug agak gitu paham. hehehehehe.
keknya tahu deh rumah sakit besar yang punya cabang di daerah situ
*soktahu, pegang-pegang dagu*
jadi inget waktu sakit DB setaun lalu. sama sekali gak niat makan gara2 makanannya gak menggugah selera, jadinya di beliin nasi goreng deh
Harusnya orang sakit disuguhi makanan yang menggugah selera ya niQue, namanya juga lagi sakit, pasti nafsu makannya menguap entah kemana…
Maaf, berhubung nggak punya temen yang biasa masak di rumah sakit, saya jadi nggak tau deh gimana standar makanan sehat, enak dan bagus buat pasien-pasien yang sedang dirawat…hehe
Hihihi. Ada kosakata ‘gegerungan’
Aku nggak bisa menjawab pertanyaannya. Nggak pernah jadi koki di rumah sakit. Nggak pernah bekerja di rumah sakit. Kalau pacaran sama dokter, sering :p
Iya, tau. Cuma lucu aja ketika mendapati istilah ‘gegerungan’
Kontak? Oh, tentu saja masih. Mau yang spesialis apa? :p
Saleum
saya malah gak begitu suka dengan makanan dari rumah sakit, bau obat,,,
terpaksa deh keluarga masakin bubur dari rumah.
saleum dmilano
kalau bunda kok ya masih heran, bisa2nya hasil lab. yg katanya butuh waktu 1 jam, lantas ternyata bisa segera diambil hasilnya , setelah ada kenalan seorang suster disana ,Nik.
lha, kalau ndak punya kenalan, bagaimana?
dan, sebenarnya bisa cepat hasilnya, kok ya malah hrs menunggu lama?
ttg makanan di rumah sakit,kayaknya tergantung catering yg dipakai oleh RS tsb,Nik.
soal gizinya, mungkin sudah diperhatikan, hanya cateringnya saja mungkin yg kurang mendengarkan saran dr RS nya 
ada yg penampilannya saja, bisa menggugah selera, ada jg yg baru lihat, kok ya langsung terasa kenyang ,krn begitu buruknya
semoga Adiknya Nik segera sehat kembali
salam
alhamdulilllah nggak pernah sakit sampe harus dirawat, masuk RS itupun RS bersalin waktu mau ngelahirin aja dan alhamdulilllah, makanannya sehat dan enak.
sehat selalu yah
salam hangat ^_^
Biasanya ada ahli gizinya kok di setiap rumah sakit. Cuma kalo masalah rasa…entahlah, apakah mereka cicipi atau tidak

Yang parah di puskesmasku, kami gak nyediain makanan buat pasien rawat inap, karena sesuatu dan lain hal
Kakaakin recently posted… » Peringatan Pada Kemasan Produk
di rumah sakit 2X, makanannya lumayan,
teman saya yang keluarganya langganan rumah sakit, saya perhatikan makanannya juga sesuai untuk pasiennya deh, mungkin beda rumah sakit, beda pelayanan kali ya.
ysalma recently posted… » Ocehan Anak SD
untuk menu pasien sangat tergantung RSnya.untuk penyakit tertentu ada catatan dari ahli gizi termasuk pengolahannya seperti apa yang diperbolehkan.biasanya yg tdk ada pantangan khusus disamakan dengan pasien lain yg penting memenuhi asupan gizi yg dibutuhkan tp pengolahannya (cara memasaknya) tergantung koki RS.
aan recently posted… » Profesional dan Entrepreneur
Tiga kali saya menjaga orang tua nginap dirumah sakit, selama itu mencicipi makanan RS. Dijamin,…. ngga bakal selera mencicipi makanan lain krena lidah sudah terlanjur pedar.
Tapi bener juga sih, saya lalu lalang di dapur ngga pernah lihat sang dokter. Jadi makanan itu cuma screening dari perawat
Kaget recently posted… » Anak Jalanan Aset Negara
wah namanya sakit, makanan enak aja rasanya nggak ada yang enak dimakan, apalagi makanan yang diberikan rumah sakit… hue hue hue… nggak enakkkkk….
Sriyono Suke recently posted… » Ikan Bakar Cianjur Teuku Umar
Setahu saya di setiap rumah sakit ada ahli gizinya. Beda kelas beda pelayanannya. Apalagi di RSU. Kalau di rumah sakit swasta saya tidak tahu.
Semoga teman dan saudara yang sakit cepat sembuh dan keluarga yang merawat diberi ketabahan. Amin.
Puspita recently posted… » Bahagia Itu Menular Benarkah
Saya dirawat inap baru sekali. Makanannya standard aja. Ya, standar rumah sakit ybs,
Nah kalo yang dialami Nique berarti itulah standardnya, sesuai yang dibayar barangkali. Kalo bayar mahal pasti dikasih makan yang sesuai dengan harganya. Kan prinsipnya ada uang ada barang, wakakaka….. Rumah sakit sekarang, -apalagi rs swasta- berprinsip dagang.
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
makanan rumah sakit sih emang gak akan pernah seenak restoran, tapi dari yang pernah gua icip2 sih biasanya selalu eatable kok. dan harusnya mereka ada standard gizinya dong…
kalo sampe dagingnya sekeras itu, harus dikomplein kali ya… masa sih orang sakit dikasih makanannya kayak gitu, mana bisa napsu makan….
moga2 adiknya cepet sembuh ya!
arman recently posted… » Andrew’s Graduation & Father’s Day Celebrations
dulu waktu teman saya sakit juga gitu makanan dari rumah sakit malah nggak dimakan, katanya hambar dan nggak mengundang selera. dia malah makan nasi padang jadinya
wah tempat makannya aja kayak tempat makan untuk narapidana di film Barat :O
waktu saya di opname makanannya kata mama enak dan memang penampilannya menarik tapi ya sayanya lagi sakit mana nafsu, eh itu di rs swasta sih.
hhihhi gegerungan tuh apa Tante ?
Tiara Putri recently posted… » Mother- Mother- Mother and Then Father
meskipun gizinya terjaminpun, makanan RS tidak ada yang enak. Itu karena kitanya sedang sakit+suasana tidak enak untuk makan
Dulu mama suka buat puding kalau anak2nya sakit, krn mengandung susu, bisa menguatkan
EM
Ikkyu_san recently posted… » Papaku Ultraman
Hmm… setau aku memang menu rumah sakit itu ya dari katering biasa… dan dokter/ ahli gizi biasanya hanya kasih poin2 spt.. “nggak boleh makan ini, dianjurkan makan itu”
tapi kadang2 lewat dari perhatian deh…
pernah tante saya yang darah tinggi disajikan makanan yang assiiiiin banget.. makanya RS perlu dikasih masukan deh… komplain aja klo perlu Mba ..
sama kayak mbak lidya…aku juga ngerasain makanan di RS waktu melahirkan aja….makanannya enak2 koq….bervariasi dari pagi sampai malam, 3 kali makan besar, 2 kali cemilan…..abis semua aku makan hehehe…….
nia/mama ina recently posted… » Cara mendapatkan penghasilan tambahan
Kalo saya sih belum pernah masuk RS (gak pengen juga) makanya gak pernah ngerasain makanan rumah sakit.. tapi klo liat nenek saya waktu itu makananya ya gitu2 aja
aku merasakan makanan rumah sakit pada saat melahirkan aja. Allhamdulillah enak
laper mungkin ya
Lidya recently posted… » 10 Things about Me
kalau RS yang pernah merawat keluargaku, makanannya sih bagus semua , malah karena si sakit seringkali tak nafsu makan, makanan diembat sama kami2 yang jaga he..he..,
yang kutau sih ada konsultan gizinya di RS
monda recently posted… » Ditegur Malah Ngotot
Dulu saya kalau jenguk teman atau kerabat sakit juga ngerasa ngga nyaman aja ngeliat ‘penampilan’ makanannya..
Aku sih menyarankan MenKes untuk mendekati RCTI supaya sekali kali Masterchef diajak shooting dan masak beneran di RS jadi pasien2 itu bisa benar2 pernah makan enak
DV recently posted… » Vakansi ke Canberra- Why Canberra 1
Salam Takzim
Kalau di RS FATMAWATI waktu saya dirawat menunya memang benar-benar hasil screnning dokter gizi, apapun yang disuguhkan saya lalap habis,
jadi menurut saya tergantung RS nya mbak
Salam Takzim Batavusqu
Batavusqu recently posted… » Tradisi khitanan masyarakat sunda
waduh, kalau masalah itu saya nda tau,,,,
saya ikut mendoakan aja semoga si adik lekas sembuh. aamiin
Mabruri recently posted… » Bapak dan Semiliar Cinta untuk Ayah
saya termasuk orang yang beberapa kali masuk RS, makanan buat saya memang gak ada rasa sih, itu karena penyakit yang saya idap gak boleh makanan yg mengandung garam
Tapi makanannya bagus2 kok, dagingnya juga empuk. Apa beda RS beda makanannya ? Karena yg saya tau, di RS tempat saya sering opname, mereka masak sendiri.
beda kamar rawat beda makan mungkin mbak, hehe, jadinya ya begitu, setau saya ransum kualitas 4 sehat 5 sempurnanya masuk kok, cuma porsinya emang untuk orang sakit.
waah.. ga bs bantu.. ga tau jg apa udah melewati proses.
Tapi dulu waktu calon suamiku rawat inap, makanannya pada enak dan bergizi.. ya cuman namanya org sakit, ga enak makan. Lah penjaganya yg demeeen.. hehe
Inda Rozalia recently posted… » Terbengkalai
hehehe,,kebetulan rumah saya pas didpean RS. Umum di kota saya,,yang namanya makanan di RS itu memang gak masuk kategori sehat sama sekali, bahkan makanan yang disediakan jarang dimakan dan malah dimakan kucing,,diRS tersebut mengunkana jasa PT untuk memasak…
Waktu aku dirawat, ‘ransum’nya cukup enak dan bergizi lho Kak Niq…
Orin recently posted… » Weekly Photo Challenge – Worn