Boys or girls, sama susahnya?

Menonton film “TRUST” membuat saya teringat pada beberapa tahun silam, di mana saya sering menjadi teman diskusi mamak+bapak soal mendidik anak. Saya adalah anak nomor 2, tetapi entah bagaimana terkondisikan seperti anak pertama saja layaknya. Urusan sekolah adik-adik yang akan melanjut ke jenjang lebih tinggi, dipastikan melewati proses screening dari saya. Dan saya yang merasa bukan ahlinya, tentu melibatkan seorang psikolog untuk menentukan apakah si adik tepat mengambil jurusan yang dia inginkan atau bahkan tidak punya minat terhadap dunia belajar (karena sudah kenal indahnya mencari uang, misalnya) ?

Dalam masa itu, saya sering juga menguping dari pembicaraan para emak-emak itu bahwasanya mendidik anak perempuan jauh lebih susah ketimbang anak laki-laki. Apa sebab? Apa lagi bukan kekuatiran jika salah anak perempuan salah langkah, justru bisa menyumbang aib bagi keluarga, karena hamil di luar nikah misalnya. Jarang sekali saya mendengar para emak-emak itu menguatirkan anak laki-lakinya yang sangat mungkin menjadi pelaku penyebab hamilnya anak perempuan orang lain? Sekarang, tersenyum miris saya mengingat itu semua.

Kenyataannya, walaupun saya belum mempunya seorang anakpun, saya yakin sekali bahwa para emak-emak jaman sekarang pasti akan bilang mendidik/menjaga anak perempuan sama susahnya mendidik/menjaga anak laki-laki. Walaupun, memang jaman ini sudah aneh, anak perempuan yang hamil di luar nikah dianggap aib besar, tapi jika anak laki-laki yang menghamili anak perempuan orang lain dianggap biasa saja, padahal bukankah  keduanya sama tidak bermoralnya? Tidak tahulah saya pola pikir macam apa ini, tetapi memang begitulah yang setidaknya saya lihat di lingkungan mana saya tumbuh sampai hari ini.

Contoh sederhana : anak perempuan yang hamil di luar nikah, pasti diberhentikan dari sekolah dan oleh pihak keluarga langsung diungsikan ke satu tempat agar tidak ada orang yang tahu, sementara anak laki-laki yang menghamili anak perempuan itu tetap bebas melenggang bersekolah dan beraktivitas seperti biasa.

Ops! Saya sudah melenceng dari topik awal saya ya hehehe … ok BTT deh …

Menurut hemat saya, mendidik/menjaga anak perempuan sama beratnya dengan mendidik/menjaga anak laki-laki, terlebih di jaman teknologi canggih seperti sekarang ini. Maraknya informasi dan eksploitasi tentang kehidupan para gay/lesbian, juga tak jarang patut diwaspadai para orang tua agar setidaknya jangan sampai anak-anak mereka terkena virus yang satu ini. Terlepas dari kenyataan bahwa banyak juga yang mengakui bahwa menjadi gay/lesbian atau tidak itu karena adanya faktor genetik, tapi saya sendiri belum tahu pasti apakah betul begitu, tapi setidaknya para orang tua harus berpikir keras agar anak-anaknya tidak terkena virus yang belum ditemukan penyembuhnya sampai hari ini. Belum lagi narkoba, yang tidak hanya mengincar anak laki-laki tapi juga anak perempuan. Pergaulan bebas? Apalagi!

Di dalam sebuah keluarga yang memiliki beberapa orang anak, dididik dengan cara yang sama oleh orangtua yang sama, di lingkungan yang sama, tapi dapat menghasilkan kualitas anak yang berbeda-beda. Paling besar sih memang faktor lingkungan yang membuat perolehan hasil melenceng secara signifikan. Belum lagi karakter asli yang memang dibawa dari lahir, yang tentunya juga punya andil sekian persen dalam pembentukan pribadi sang anak. Dan pernahkah kita memperhatikan, dalam satu keluarga seringnya dari sekian anak bersaudara, terkadang ada satu anak yang tumbuh tidak biasa.

Momen yang paling menyedihkan adalah ketika orang tua melulu dijadikan sebagai kambing hitam, dijadikan sebagai tertuduh penyebab utama maka seorang anak tumbuh tidak biasa, diberi label anak nakal dan lain sebagainya, atau ada juga yang menyebutnya produk gagal.

Saya punya cerita sendiri tentang ini nanti, tapi bagaimana menurut temans blogger?

gambar diambil di sini!

26 thoughts on “Boys or girls, sama susahnya?

  1. Kalau melihat berita di TV malah anak laki-;ali malah lebih rawan dengan tindak kekerasan seksual bu. Dulu anak perempuan saja yang di takutkan sekarang malah seperti gunung es.
    Solusinya kita beri kebebasan dan keteebukaan antar orang tuan dan anak. Jadi setiap ada permasalahan kita bisa sharing, tentunya itu di mulai dari kita sendiri memperlakukan anak kita. Kalau mereka sudah bisa menganggap kita sebagai teman tentunya akan mudah bagi mereka untuk sharing :lol:

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
    Sugeng recently posted… » Juni 17 Ngelantur

  2. wah..saya masih blank masalah mendidik anak nih..tapi insyaallah saya akan memberikan pendidikan dan pengawasan terbaik bwt anak2 saya..masalah teknologi dan perkembangan ya nanti kita sebagai orang tua memang harus selalu mengontrolnya

  3. Tiap jaman tentu punya dinamika masing-masing. Mendidik anak dijaman teknologi canggih begini seharusnya memudahkan untuk mendidik anak gak peduli cewek atau cowok.
    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

  4. hhhm…. iya, katanya mendidik anak perempuan lebih susah…
    mungkin karena harus dijaga ekstra ketat kali ya Mbak….
    tapi jaman sekarang ,sama aja
    Elsa recently posted… » Write for me

  5. Saya belum punya anak Mbak, apalagi nikah. Karena itu, saya tidak ingin gegabah mendidik anak saya kelak. Apalagi sudah banyak contoh baik atau buruk yang bertabur di hadapan mata, baik perempuan atau laki-laki.

    iya, sebagai calon ibu sebaiknya kita terus menambah wawasan buat bekal mendidik anak kelak.

    Marchei Riendra recently posted… » Help! Saya Menunda Pekerjaan Lagi

  6. CERDAS, setuju banget sama artikel ini ..
    sulit atau tidaknya kita mengurus anak, tergantung ke ikhlasan juga :)
    tapi perlu koreksi sedikit, dulu sewaktu sma ada teman sekelas saya menghamili pacarnya dan di keluarkan kok dari sekolahnya :)
    itu aja #CMIIW

    terima kasih untuk koreksinya :)

    ichsan recently posted… » lukisan

  7. anak lelaki atau anak perempuan, sama saja mudah dan juga sulitnya , wong sama2 manusia dgn keunikan masing ya Nik :)
    ttg segala macam tantangan bagi perkembangan anak, memang ortulah terutama ibu, sebagai orang yg pertama kali dicontoh oleh anak, mereka peniru yg hebat.
    semoga saja dgn pengertian dan pengetahuan agama yg kuat, komunikasi yg efektif antar anggota keluarga , semua kesulitan dlm mendidik dan membesarkan anak, bisa dijalani dgn mudah.
    walaupun lingkungan sangat besar pengaruhnya, tetap saja ,bila ada ikatan yg solid antar anak -ortu, semua bisa dilalui dgn baik, semoga :)
    salam

    begitu ya Bun? Hmm … mungkinkah ada kasus2 tertentu yang menyimpang? Seperti cerita saya berikutnya …

  8. Hehehe..
    Baca ini aku jg berfikir ulang..
    Knapa ada (hadist yah) yg mengatakan bahwa Rasulullah berkata mendidik perempuan lebih sulit..? Ooh mungkin begini Mba Nique, bukan masalah hamil dan menghamili, mgkn krn tanggungjawab mjd Ibu..? Walau Ayah jg berperan penting, namun setujukah sahabat2 kalau peran Ibu lebih dekat kpd pendidikan anak2, sejak dlm kandungan? Hmm.. *just my opinion* :-)

    Tapii.. Anak dibilang produk gagal? Dan ortu jd kambing hitam? Bagaimana dgn kasus Nabi Nuh? Berarti orang2 yg mengkambing hitamkan orangtua yg dikaruniai anak2 yg tdk biasa, mereka jauh lebih baik drpd seorang Nabi Nuh? *just wondering*
    Lyliana Thia recently posted… » Daun Gedi dan Tinutuan

  9. setahu saya, emang anak tidak pernah salah.. anak tumbuh menjadi apa yang dia jalani adalah berkat peranan orang-orang disekitarnya terutama orang tua.. anak pendiam, karena ortunya menekannya.. anak jadi nakal, karena orang tua tidak tegas.. anak jadi manja karena orang tua selalu menuruti.. yaa begitulah, semua ada sebab dan akibatnya.
    Gaphe recently posted… » Bali – The Land Of Statue

  10. Kalau mau tanya soal susah ngga nya , ya pasti sama-sama susah. Tapi kalau di Jepang bertanya soal mahal tidaknya, lebih mahal membesarkan girls deh… buset itu pernak-pernik baju aja muahalnya minta ampun. Anak laki masih bisa berhemat deh

    EM
    Ikkyu_san recently posted… » Ibiki

  11. membayangkan masa-masa yang akan datang tentu lebih sulit dalam membesarkan anak-anak, rintangannya makin berat.

    jadi memang seharusnya orang tua lebih kompak dalam mempersiapkan diri menjaga anak-anaknya
    iPul dg.Gassing recently posted… » Silariang

  12. Yup, boys or girls sama susahnya, ini pengalaman pribadi. Bahkan setiap tingkatan umur ada masalahnya masing-masing. Yang aku percaya, kuncinya di pendidikan agama yang kuat (bukan teori agama) mulai dini.
    Vitta recently posted… » Perfect Day

  13. sama-sama beratnya kok mbak Niq.. wong sama-sama manusianya.. karena mungkin kita ini ada di Timur yang menganggap jika anak perempuan adalah sebuah kehormatan di rumah tangga, maka terlihat berat didik anak perempuan ketimbang laki-laki..

    *ehehe sok pernah jadi orang tua aja diriku
    lozz akbar recently posted… » Stop Di Sini Kawasan Suaka

  14. Bener banget mba, sama sama susah hehe…tapi kalau kitanya gigih cari cara yang jitu pasti bisa, cuma ya itu harus tekun :)

  15. hehehe..saya juga belum punya anak :lol:
    *
    jadi teringat pada salah satu teman saya yang akan cenderung menyukai lawan jenis, namun dia masih sadar akan dirinya bahwa ia seorang laki-laki. dan untungnya juga dia rajin ngaji. akhirnya di suruh segera menikah sama ustadnya.. :(
    kok bisa begitu ya? aku juga bingung bu..
    Mudah2an kita bisa terhidar dari segala yg buruk..
    tunsa recently posted… » Download Yahoo! Messenger 11

  16. blom jadi orang tua, blom nikah pula hehehehe…. cuman mo komen aja, memiliki anak adalah amanat, jadi perlakukanlah amanat itu dengan sebagai mana mestinya jika kita diserahi amanat, hanya saja amanat yg ini langsung dari Alloh SWT, so…akan lebih berat dan perlu tingkat kehati2an yg luar biasa

    ahhh…sok tau gw *plak* :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge