Kematian, pasti tak banyak orang yang suka jika berbicara tentang kematian. Terlebih-lebih di dalam keluarga, biasanya menghindari pembicaraan tentang kematian. Kalaupun ada yang mau membahas, mungkin sekedarnya saja, atau mungkin ada yang pernah sampai terbawa perasaan? Pertanyaan SIAPKAH KITA? yang saya baca di blognya mas Necky, mengingatkan saya tentang masa lalu, masa ketika mamak masih ada, dan bagaimana di rumah sering kisruh gara-gara seringnya saya mengangkat topik tentang kematian di rumah.
Sayapun, entah kenapa, seringnya iseng, bisa jadi saya penasaran, atau malah ingin mempersiapkan diri? Sudah lupa juga persisnya alasan saya ketika mengangkat topik sensitif itu ke permukaan. Mungkin yang tepat sih tentang persiapan diri, mungkin lho
Bagi orang Karo kematian seseorang biasanya ada upacara adat yang harus dijalankan, nah, saya yang merasa tidak punya pengetahuan tentang hal ini, dan berhubung kami hidup di tanah perantauan, membuat saya merasa perlu menanyai orang tua saya, apa yang harus kami lakukan bilamana mereka berpulang satu hari nanti. Biasanya sih, sebelum melontarkan pertanyaan ini, saya pasti akan memulai dengan kata “la totoon” (=tanpa bermaksud mendoakan).
“Mak, adi rempetlah kam pagi idilo Dibata, kira-kira uga pagi ban kami?”
“Mak, kalau nanti tibat-tiba makak dipanggil Tuhan, kira-kira kami harus bagaimana?”
Biasanya mamak masih menanggapi dengan bercanda. “Ya, kuburken anak … ” (ya dikubur dong … “) ketawalah si mamak.
“uwei me, ikuburken, saja sope i kuburken, me biasana pulung kari kade-kade kerina, uga me ningkami kari?”
“Iya dong, dikubur, hanya sebelum dikubur, ‘kan biasanya berkumpul semua saudara-saudara, bagaimana kami bilang nanti?”
“cara Islam saja ban, me la kap kena repot.”
“(kuburkan) secara Islam saja, ‘kan kalian tidak usah repot.”
“bage saja dage? Tuhu? adi ban adatna nina kari kade-kade uga ningkami?”
“udah gitu aja? bener? Terus nanti kalau ditanya sodara-sodara gimana adatnya, kami bilang apa?”
Percakapan ini sudah terlalu jauh menurut adik-adik saya, dan biasanya mereka sudah pasti protes, merasa saya terlalu jauh bertanya, tapi saya ‘kan sudah ada stempel keras kepala di jidat yang tidak jenong ini, jadi mana mungkin saya berhenti bertanya ‘kan? Hehehe … Di lain kesempatan, pertanyaannya bisa berbeda lagi.
“Pa, adi la totoon kena pagi lawes, ija kuburken? I kuta tah jenda saja?”
“Pak, ga bermaksud ngedoain sih, tapi kalau nanti Bapak sama Mamak pergi, dimana kami kuburkan?Di kampung atau di sini saja?”
“Jenda saja. Lo (labo) rekai ka ku kuta, maka mesera pagi kap kena ndahisa?”
“Di sini saja. Ngapain juga ke kampung, nanti susah kalian rasa mendatangi kami?”
Dan dalam beberapa kesempatan, sering juga saya menginterogasi mamak berdua saja, agar tidak ada yang protes, dan kemudian saya tahu bahwa Bapa sudah memberitahu Mamak kalau bapa duluan yang akan berpulang, sehingga ketika lima tahun yang lalu mamak duluan yang berpulang, spontan saya bertanya begini.
“Nina mamak mbarenda, kam leben Pa, kok malah mamak?” (Kata mamak dulu, bapa yang akan duluan,tapi ini kok malah mamak?Sungguh! Ini pertanyaan ga sopan, tapi ketika menanyakannya saya tidak bermaksud bahwa saya lebih menginginkan mamak ketimbang bapa lho. Atau malah begitu dari alambawah sadar tapi saya tidak mau mengakui? Entahlah …
Pembicaraan seperti ini menenangkan hati saya yang gusar, dan entah kenapa sedari kecil bayangan ditinggal orang tua bisa sampai terbawa ke dalam mimpi. Satu kali mimpi ketika masih SD dulu, saya menangis ketika bangun tidur, langsung mencari mamak keliling rumah, dan ketika tidak menemukan satu orangpun di dalam rumah, saya terus menangis, sampai menyelesaikan urusan hajatpun masih berderai air mata, dan baru berhenti ketika mamak datang entah dari mana. Aneh memang, saya juga heran bisa sampai segitunya
Bicara tentang kematian, mengingatkan saya pada sepotong kalimat dari seseorang di upacara kematian Biuda saya bulan lalu, saya bersyukur karena tidak terprovokasi oleh ucapan orang tersebut, apalagi saya toh bukan orang Arab seperti yang dikatakan orang itu. Begini kurang lebih kalimat yang disampaikan saat itu.
“Upacara adat seperti ini harus dijalankan terus, karena kami kuatir satu hari nanti orang Karo akhirnya cuma dikuburkan mengikuti cara-cara orang Arab……………”
Sesungguhnya, jika pun upacara adat itu sampai tergerus ditelan jaman satu hari nanti, saya percaya bukan karena semua manusia di bumi ini mengikuti cara-cara orang Arab dikebumikan, tetapi lebih karena menuju kepraktisan semata, apalagi jika menjalankan satu adat itu membutuhkan berhari-hari dan sangat menguras tenaga dan waktu, juga tak sedikit biaya. Jika masih tinggal di kampung, tentu masih memungkinkan, sementara di kota besar, saya kira berat yah. Apalagi seperti di Jakarta, yang orang-orangnya selalu sibuk dan tempat tinggalnya pun berjauha-jauhan. Ya sudahlah, terserah orang itu mau membuat pernyataan apa saja
Oya, belakangan yang seringpula menjadi obrolan sambil lalu adalah, tentang pasangan yang terlalu dekat, maka masa berpulangnya pun akan dekat, dan yang kami tahu bahwa mamak dan bapa adalah pasangan yang selalu berdua kemana-mana. Sehingga ketika beberapa orang mengatakan bahwa saking cintanya Bapa ke mamak, bisa saja Bapa akan menyusul dalam waktu dekat. Tetapi itu tidak terjadi, karena Oktober nanti sudah lima tahun mamak berpulang, dan Bapa masih sehat wal’afiat bersama kami. Semoga Bapa dipanjangkan umurnya, setidaknya sampai berkesempatan menimang cucu dari kami, aamiin
Adakah di antara temans blogger yang sering mengobrol berandai-andai tentang kematian di rumah?
Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Panjang Umur – Umur Panjang
Kalau membicarakan, sepertinya tidak dan nyaris tidak pernah. Tetapi karena terbiasa menghadapi kematian, rasa-rasanya sudah tau bakal bagaimana dan mesti bagaimana.
Kematian sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Dari kematian normal maupun kematian yang menyesakkan. Jadi, membicarakan kematian bagiku tak begitu menjadi soal. Yang masih menjadi soal: jika membicarakannya di rumah.
DM recently posted… » Dan Tibalah Hari yang Dinanti
Siyap!
DM recently posted… » 0º
hei topik yang menarik. Kalau kami di Jepang HARUS membicarakan kematian, karena justru makam itulah warisannya
Anak tertua harus mengurus makam turun temurun, dan satu keluarga besar akan masuk satu makam yang sama. Aku pun sering kok bertanya pada ibu/bapak mertua soal ini.Meskipun ibu mertua sering berkata “Sebarkan saja abuku ke laut”, tapi mereka sudah terjamin makamnya
Kalau pada ibu/bapakku, karena kami kristen, kami tidak mempunyai cara khusus, jadi bisa apa saja termasuk dikremasi. Setahuku orang islam jarang (kalau tidak terpaksa) tidak mau dikremasi kan? Kami juga tidak mempunyai makam keluarga, jadi bisa dimana saja.
Ikkyu_san recently posted… » Kertas vs Batu
ahhhh… di keluarga kita belum cukup terbuka berdiskusi yang kayak gitu… maklum kita ini generasi pertama dari keluarga kita yang sekolah… ngeri nggak…
Sriyono Suke recently posted… » Izzamedia- Web Desain & SMS Gateway
yap, membahas soal kematian sebenarnya memang banyak manfaatnya..
setidaknya membuat kita siap kapanpun dia datang..
iPul dg.Gassing recently posted… » Family Gathering di Pulau Kodingareng Keke
Anda dapat buku tali asih. silahkan klik disini
http://newblogcamp.com/kuis/fitri-melinda-sang-model
Salam hangat dari Surabaya
dialog yang khas sumatera
jadi ingat masalalu Niq
sedj
Saya ngga mau ditanya soal berandai andai, apalgi soal kematian. Masalah adat yang biasanya berhari2 memang tak gampang dikota, sudah pasti nguras! Itu susahnya tinggal ditanah kelahiran, biaya kematian lebih mahal ketimbang biaya hidup
Kaget recently posted… » SIM City Kota Ku
Sing penting absen disik, mocone mengko bengi wae
marsudiyanto recently posted… » Goyang Tjap Koepoe Biroe
Membahas masalah kematian sudah biasa di keluarga saya, namun tidak demikian halnya di keluarga suami. Bahkan calon rumah masdep (Kuburan) sudah disiapkan selagi masih muda-muda. kami memiliki yayasan pemakaman meskipun pesan tempat harus membayar pajak namun semua itu jadi ladang amal kami saja.
Bahkan kami sudah memiliki persiapan kain mori sendiri-sendiri. Dicuci setahun sekali.
Puspita recently posted… » Rendam Kaki dan Pemijatan Atasi Sulit Tidur
tak jarang juga kok mbak dengan kremasi, karena biasanya di tanah eropa dan amerika, dimana tanah pemakaman mahal harganya, itu baru tanahnya saja, belum segala prosesinya, sehingga memilih di kremasi menjadi trend, namun itu kembali kepada kepercayaan dan agama kita masing-masing. hehe.
hanif mahaldy recently posted… » Tanggapan Libur 3 Juni
madin erandai-andai jadi kalak baya bi…heheheh Mjjh
pri crimbun recently posted… » Area 51 Photo
klo menurut saya, ini bagus karena akan mengingatkan kita kepada kematian, dgn begitu akan menimbulkan kesadaran diri utk membekali diri dgn amal kebaikan yg akan bermanfaat kelak nanti nyawa kita dipanggil
diarykudiblog recently posted… » Android Honeycomb Terbaik Murah atau Honeycomb Android Terbaik Murah
Sampai kedua orang tuaku meninggal tidak pernah sekalipun kami bicara kematian. Takut aja menyinggung perasaannya.
Bagaimanapun topik ini mengingatkan kita untuk selalu siap setiap saat.
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
wah serem amat topiknya…
gua paling gak berani berandai2 tentang kematian…
arman recently posted… » The Tours
Selalu mengingat kematian akan membawa kita ingat kekuasaan Tuhan…
Salam Kenal
Makasih telah mengingatkan…
Salam kenal ya?
top markotob nih…langsung dibuat tulisannya. Saya pernah mimpi belum lama ini. Dalam mimpi itu, anak bungsu saya dinyatakan meninggal dunia…. rasanya sediiihhh banget. Begitu bangun tidur, saya ciumin, pelukin hingga main terus sama dia. Sampai dia minta mainan pun langsung saya belikan, padahal biasanya tidak mudah saya membelikan mainan tanpa ada alasannya. Hikmahnya dari mimpi itu, saya jadi ingin lebih dekat lagi dengan anak2 sebelum merasa menyesal di belakangan hari…
Necky recently posted… » Blogger & Positive Attitude
boleh kita mengingat mati, agar hidup kita selalu dalam jalur yang benar…
Mabruri recently posted… » BREBES yang tak lagi BERHIAS
Saleum
sebenarnya saya sering juga dengan teman2 berandai andai tentang kematian, bahkan salah satu teman berkata kalau saya duluan, tolong jangan ada yang nangis, beuh,,,satu sisi ada kengerian jika ingat simalaikat maut datang dan disatu sisi lainnya saya malah ingin cepat2 menghadap sang khalik.. hehehe..
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Hadiah Sepeda dan Rangking
saya takut mati
saya dikuburkan secara islam saja, ga perlu adat.. mahal booo
r10 recently posted… » Akhir Sedih Khalid Bin Walid
Terima kasih sudah mengingatkan … ^_^
Bang Aswi recently posted… » Rayuan Cuanki Serayu
berandai-andai kematian bisa bikin kita waspada dan akhirnya menjalani kehidupan yang baik2 saja..
tunsa recently posted… » Polantas Wanita
Selamat malam mbak Reni,
Eyangkung kembali berkunjung untuk menyapa dalam persaudaraan.
Membaca artikelmu tentang kematian ini membuat saya tersenyum sendiri. Berbicara soal kematian tidaklah hal yang sensitif. Ini untuk bahan refleksi. Pertanyaan2 mbak Renai sangat wajar. Dipandang dri manajemen itu pertanyaan yang sistematis, methodis dan efisien. Alasannya?? Tulis saja dalam satu artikel.
Saya pernah dengar kakek saya mengatakan sendiri di depan saya bahwa beliau bila akan meninggal dunia bisa tahu. Lalu ibu saya usul: Nanti kami diberi tahu, ya?? Saya lihat kakek saya menganggukkan kepala kurang yakin.
Tapi apa yang terjadi?? Kakek terserang stroke koma 9 hari dan tidak mampu bicara apa2 sampai wafatnya di RS!
Lalu saya waktu itu masih muda baru masuk kuliah dan samp-ai sekarangpun tetap- timbul pertanyaan di hati. Apa bisa seorang manusia mengetahui kalau sampai saatnya akan mati??
Apakah perlu dan ada manfaatnya seseorang bisa tahu kapan dan dengan cara bagaimana ia harus mati??
Saya pribadi berpendapat: TIDAK
Bagaimana menurut pendapat mbak Reni??
itu senjata mama saya deh kalau nyuruh anak2nya, “mama lebih tua kalian nurut sama mama supaya nanti gg nyesel” begitu kata beliau.
tapi kadang saya berharap saya duluan aja deh T.T
Tiara Putri recently posted… » Every Living Things Have Signature
iya orang Batak memang ada acara2 adatnya gitu yah tapi kan nggak harus dilakukan segera,
kalau aku nggak membicarakan sih, cuma pas lihat foto keluarga kami dulu sempat terlintas siapa yang akan perg duluan, ternyata papaku
monda recently posted… » KIMCHI
setuju, hanya Tuhan yang tahu kapan kita kembali padaNya ..
toh gak semua kematian itu menakutkan !
ichsan recently posted… » Setahun
maaf mba, hehe mba orang Batak ya?
kalau yang cara kematian ada tuh, suku apa ya lupa deh, yg diletakkan di pinggir tebing itu suku apa mba?
hmm..masalah kematian memang hanya Tuhan yg tau ya mba, kita cuma bisa bersiap diri.
Kematian pasti akan menyambangi setiap dari kita. Namun tidak satupun yang akan tahu kapan dan bagaimana kepastian itu datang.
>>>Nitip pesan buat semua:
Saya ada tantangan buat para blogger Indonesia, ki. Yang siap bisa langsung ceck TKP di blog saya (alamendah.wordpress.com/2011/06/03/tantangan-untuk-para-blogger-indonesia/)
Kematian pasti akan menyambangi setiap dari kita. Namun tidak satupun yang akan tahu kapan dan bagaimana kepastian itu datang.
pernah juga kami sekeluarga berbincang tentang kematian ini ,Nik.


dengan egoisnya bunda selalu bilang, bunda pingin duluan mati …hahahahhaha…emang siap yg ngatur panjang pendeknya umur?
bukan apa2, sepertinya kalau bunda yg ditinggal duluan, gak kuat menahan kesedihan, kalau bunda yg mati duluan, bunda yakin yg ditinggalkan, akan bisa lebih kuat menerimanya
( emak2 egois banget ya )
salam
bundadontworry recently posted… » Kalah Dari Semut
setuju ama bunda, pkiranku juga gitu.. tapi umur siapa yg tau.. ah, moga2 khusnul khotimah
well…
mungkin ini bisa jadi agenda topik obrolan nanti
kalau saya yg mati sih siap tapi kalau ditinggal itu yang bikin sedih
Lidya recently posted… » Black and White