“Buruan, Bu.” kata yang diucapkan Borneo, anak tokoh utama pada novel ini, teramat sangat mengganggu buat saya. Kata itu bukan kata biasa bagi seorang anak yang dibesarkan di tengah hutan. Dari seluruh isi novel ini, pas di bagian ini yang membuat saya berhenti sejenak. Kata itu diucapkan Borneo, ketika mendesak Jaleswari agar segera menyarangkan anak panahnya ke seekor babi hutan perburuan mereka hari itu.
Membaca novel ini, mengingatkan saya pada buku cerita yang pernah saya baca ketika masih kecil dulu, tapi sayang saya lupa judulnya, cara mengintimidasi orang lain yang dijalankan Otiq dan antek-anteknya persis deh. Buku cerita itu dulu menceritakan tentang jalan yang akan dibangun membelah hutan kecil untuk memudahkan akses satu desa untuk menjual hasil panen raya, demi menghindari para tengkulak yang sudah terkenal suka membanting harga dan membuat petani tak berkutik, karena adanya cuma mereka. Dan pada buku cerita itu, tokoh utamanya juga seorang perempuan, namanya saya lupa
Bisa jadi kemiripan cerita 2 buku ini tidak identik, dan saya pun tidak berani mengatakan itu dengan tegas, kecuali saya masih menyimpan buku cerita itu, atau setidaknya saya mengingat judulnya. Saya belum menonton film BATAS, tapi dari membaca novelnya pun saya kira saya tak menyesal jika tak menonton film itu, karena ceritanya ya biasa saja. Apa yang diperjuangkan Jaleswari bukan sesuatu yang baru, apalagi dengan kemudahan yang mendukung kehadirannya di satu tempat nun jauh di sana. Sama sekali tidak ada yang istimewa.
Cerita tentang suap menyuap di perbatasan yang bahkan mampu membuat seseorang bisa punya tabungan sebanyak 5M, saya kira bukan sesuatu yang baru. Bukankah hampir pada setiap lini kehidupan ini kasus suap menyuap lebih sering terjadi, kita bahkan tidak pernah tahu jumlah tabungan yang berhasil mereka kumpulkan? Sosok Otiq, Arifin yang intel, Adeus yang jadi guru setengah hati tapi punya hati terhadap Jaleswari, dan sosok-sosok lain di dalam buku BATAS, membuat saya didera kebosanan membaca buku ini, kurang cepat rasanya membuka lembar demi lembar agar lekas tamat.
Entahlah …. mungkinkah saya harus membaca ulang buku ini, dan siapa tau merasakan sesuatu yang lain? Atau, mungkin lebih baik menonton filmnya agar merasakan sesuatu yang berbeda? *ini mah saya yang doyan nonton ya hihihi*
Bisa jadi betul. Namun bisa jadi karena kita belum fokus sehingga kurang menikmati. Ada kalanya aku pun begitu. Ketika membaca atau menonton film tertentu, rasanya kok biasa-biasa aja. Setelah beberapa tahun kemudian aku simak lagi, atau ada yang membuatku harus mengulang lagi, baru aku bisa memahami maksud yang sebenarnya. Ya, barangkali pada saat awal aku kurang fokus.
saya belum pernah denger novel dan film ini *haduu kagak gaul nih saya hehe
Puan recently posted… » Ketika Hidup Tak Selamanya Ideal
gpp. bukan ukuran gaul gak nya kok hehehe
udah liat filmnya mbak dan saya akui filmnya “datar”, mungkin karena bukan spesialis film yang mengangkat derajat masyarakat pinggiran dan lagi pula bahasanya terlalu berat.
hanif mahaldy recently posted… » Design Fixie-mu
hehehe… kalau masalah suap menyuap di berita saban hari ada yah Mba…
Lyliana Thia recently posted… » Niatkan Semua Karena Allah
nonton lebih ringkes
best regards
HAN
Duluan mana yang dibuat, film atau novelnya? Kalau duluan filmnya, tak heran novelnya akan ‘kurang menarik’.. Entah kenapa aku susah mengapresiasi novel yang diadaptasi dari film
Semacam kemunduran.. menurutku, bagiku
DV recently posted… » Vivid Festival 2011
Mmm..jadi begitu ya Kak. ga jadi baca ah *ups*
Orin recently posted… » Mimpi dan Sepatu
Jadilah saya nggak pengen baca buku ini, niQue…hehehe, saya juga sama, kalo baca buku yang nggak seru, pengennya cepet tamat…padahal nggak usah ditamatin juga kan nggak apa-apa ya…tapi memang penasaran dengan endingnya…
saya abis beli buku yang judulnya ampir sama..
“Garis Batas”
tapi buku yg saya beli ini keren bangettt..catatan perjalanan ke Asia Tengah yang ditulis oleh Agustinus Wibowo
keren…
iPul dg.Gassing recently posted… » 127 Hours Sebuah Pelajaran Tentang Perjuangan
Saleum
agak kurang suka baca novel yang serius jalan ceritanya, saya malah pingen banget baca wiro sableng lagi….
saleum dmilano
dmilano recently posted… » “Pasti Pas”
belum baca sih tp kalo testomoni yg biasa aja jd ga kepengen memiliki..:)
aan recently posted… » Implementasi IT Siapa Takut
aku malah penasaran pengen baca novel ini, mba… siapa tahu sesuatu yang dianggap biasa itu di hatiku malah luar biasa, hehe…
Novelnya menarik juga … ikutan ah, berburu di toko buku terdekat – ada gak ya?
Kadang suka curiga sama yang bikin referensi sesuatu. Seperti pesanan, dibikin sebagus mungkin dengan harapan orang berduyun menonton filmnya. Tapi setelah menonton filmnya malah berbuah kekecewaan.
Ini yang kemarin disimpan lagi dalam draft?
tapi asik juga kalo gk da yg laen .. hehe
ya udah, ku nonton film nya aja .. hehe
saya mencoba mencari filmnya dulu ah..
lozz akbar recently posted… » Matur Nuwun Vania
biasanya kalau baca novelnya dulu lalu nonton suka membanding2an kan ya hasilnya. oops itu sih aku
kalau membaca buku yang rasanya berisikan isu2 lama yg udah ada , jadi membosanakan ya Nik

lain kalau kita baca buku yg sama sekali berisi isu baru ,atau paling gak punya ciri khas pengarangnya , mungkin beda, apalagi jika pengarang favorit.
bunda juga belum baca buku ini dan juga blm nonton filmnya …heheheh…
salam
bundadontworry recently posted… » Kalah Dari Semut
namanya Borneo ? Borneo tuh sebenarnya kata bahasa Indonesia atau julukan orang luar buat Kalimantan sih ?
Tiara Putri recently posted… » My Life Keep Go On
Salah pilih buku dong kalo gitu,
untuk penulis lokal saya cuma berani beli bukunya ayu utami, so far
vitta recently posted… » Sahabat Sejati
Hmmm kalaupun nonton filmnya saya gak yakin akan lebih seru, biasanya di Indonesia ini film-film yang diadopsi dari novel selalu mengecewakan walapun novelnya bagus
baca juga buku Istana Negara selalu menghadap ke timur…
keren sekali…ndak bosan bacanya
coba baca buku setelah 7 wanita menamparku… keren
klo kaya gitu mendingan beli filmnya ae btw film dah ada di youtube pa blum ya… maklum perantauan susah klo mau nonton film Indonesia.
baha andes recently posted… » Pembunuhan dan Pembuangan Bayi