“BATAS” yang Membosankan!

“Buruan, Bu.” kata yang diucapkan Borneo, anak tokoh utama pada novel ini, teramat sangat mengganggu buat saya. Kata itu bukan kata biasa bagi seorang anak yang dibesarkan di tengah hutan. Dari seluruh isi novel ini, pas di bagian ini yang membuat saya berhenti sejenak. Kata itu diucapkan Borneo, ketika mendesak Jaleswari agar segera menyarangkan anak panahnya ke seekor babi hutan perburuan mereka hari itu.

Membaca novel ini, mengingatkan saya pada buku cerita yang pernah saya baca ketika masih kecil dulu, tapi sayang saya lupa judulnya, cara mengintimidasi orang lain yang dijalankan Otiq dan antek-anteknya persis deh. Buku cerita itu dulu menceritakan tentang jalan yang akan dibangun membelah hutan kecil untuk memudahkan akses satu desa untuk menjual hasil panen raya, demi menghindari para tengkulak yang sudah terkenal suka membanting harga dan membuat petani tak berkutik, karena adanya cuma mereka. Dan pada buku cerita itu, tokoh utamanya juga seorang perempuan, namanya saya lupa :(

Bisa jadi kemiripan cerita 2 buku ini tidak identik, dan saya pun tidak berani mengatakan itu dengan tegas, kecuali saya masih menyimpan buku cerita itu, atau setidaknya saya mengingat judulnya. Saya belum menonton film BATAS, tapi dari membaca novelnya pun saya kira saya tak menyesal jika tak menonton film itu, karena ceritanya ya biasa saja. Apa yang diperjuangkan Jaleswari bukan sesuatu yang baru, apalagi dengan kemudahan yang mendukung kehadirannya di satu tempat nun jauh di sana. Sama sekali tidak ada yang istimewa.

Cerita tentang suap menyuap di perbatasan yang bahkan mampu membuat seseorang bisa punya tabungan sebanyak 5M, saya kira bukan sesuatu yang baru. Bukankah hampir pada setiap lini kehidupan ini kasus suap menyuap lebih sering terjadi, kita bahkan tidak pernah tahu jumlah tabungan yang berhasil mereka kumpulkan? Sosok Otiq, Arifin yang intel, Adeus yang jadi guru setengah hati tapi punya hati  terhadap Jaleswari, dan sosok-sosok lain di dalam buku BATAS, membuat saya didera kebosanan membaca buku ini, kurang cepat rasanya membuka lembar demi lembar agar lekas tamat.

Entahlah …. mungkinkah saya harus membaca ulang buku ini, dan siapa tau merasakan sesuatu yang lain? Atau, mungkin lebih baik menonton filmnya agar merasakan sesuatu yang berbeda? *ini mah saya yang doyan nonton ya hihihi*

 

27 thoughts on ““BATAS” yang Membosankan!

  1. Bisa jadi betul. Namun bisa jadi karena kita belum fokus sehingga kurang menikmati. Ada kalanya aku pun begitu. Ketika membaca atau menonton film tertentu, rasanya kok biasa-biasa aja. Setelah beberapa tahun kemudian aku simak lagi, atau ada yang membuatku harus mengulang lagi, baru aku bisa memahami maksud yang sebenarnya. Ya, barangkali pada saat awal aku kurang fokus.

  2. udah liat filmnya mbak dan saya akui filmnya “datar”, mungkin karena bukan spesialis film yang mengangkat derajat masyarakat pinggiran dan lagi pula bahasanya terlalu berat.
    hanif mahaldy recently posted… » Design Fixie-mu

  3. Duluan mana yang dibuat, film atau novelnya? Kalau duluan filmnya, tak heran novelnya akan ‘kurang menarik’.. Entah kenapa aku susah mengapresiasi novel yang diadaptasi dari film :)

    Semacam kemunduran.. menurutku, bagiku ;)

    kayaknya sih duluan film deh mas, wong udah ada foto pemain utamanya di situ?

    DV recently posted… » Vivid Festival 2011

  4. Jadilah saya nggak pengen baca buku ini, niQue…hehehe, saya juga sama, kalo baca buku yang nggak seru, pengennya cepet tamat…padahal nggak usah ditamatin juga kan nggak apa-apa ya…tapi memang penasaran dengan endingnya…
    :D

  5. Kadang suka curiga sama yang bikin referensi sesuatu. Seperti pesanan, dibikin sebagus mungkin dengan harapan orang berduyun menonton filmnya. Tapi setelah menonton filmnya malah berbuah kekecewaan.

  6. kalau membaca buku yang rasanya berisikan isu2 lama yg udah ada , jadi membosanakan ya Nik :)
    lain kalau kita baca buku yg sama sekali berisi isu baru ,atau paling gak punya ciri khas pengarangnya , mungkin beda, apalagi jika pengarang favorit.
    bunda juga belum baca buku ini dan juga blm nonton filmnya …heheheh… :(
    salam
    bundadontworry recently posted… » Kalah Dari Semut

  7. namanya Borneo ? Borneo tuh sebenarnya kata bahasa Indonesia atau julukan orang luar buat Kalimantan sih ?

    ga tau juga yah, tapi setau ku sih emang Borneo julukan untuk pulau Kalimantan;

    Tiara Putri recently posted… » My Life Keep Go On

  8. Salah pilih buku dong kalo gitu,
    untuk penulis lokal saya cuma berani beli bukunya ayu utami, so far

    umm … ga salah pilih juga sih, ceritanya baca review film nya kok bagus, makanya jd pengen tau. krn blom sempat ke bioskop, ya beli bukunya aja dulu :D ha? saya juga penggemar ayu utami sih, tetapi masih banyak juga penulis Indonesia lainnya yang saya suka dan bukunya emang bagus2, klo satu dua engga yah relatiflah

    vitta recently posted… » Sahabat Sejati

  9. Hmmm kalaupun nonton filmnya saya gak yakin akan lebih seru, biasanya di Indonesia ini film-film yang diadopsi dari novel selalu mengecewakan walapun novelnya bagus :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge