Oleh-oleh dari PRJ

Saat ini saya sedang berusaha menjadi menantu yang baik :D Setidaknya, baik menurut saya. Semoga saja, apa yang saya anggap baik ini diterima juga dengan baik oleh  mertua saya hehehe Dan saya berharap dapat menjalin hubungan yang harmonis antara mertua dan menantu, agar tidak seperti cerita-cerita di sinetron itu lho, yang selalunya menggambarkan menantu vs mertua seperti kucing vs tikus saja layaknya.

Kehadiran mertua memang sudah diagendakan sejak kepulangan kami ke Sumedang beberapa waktu yang lalu, niatnya sih ibu mertua saya ingin sekali mengunjungi PRJ. Jadi ya udah deh sekalian saja, plesir ke Jakarta.  Dan, Senin tengah malam mertua sudah tiba di rumah diantar travel langsung dari Sumedang. Alhamdulillah, perjalanan lancar jaya.

Berhubung hari biasa PRJ baru dibuka sore hari, maka hari Selasa kemarin kami putuskan untuk nyekar terlebih dulu, setelahnya baru deh ke PRJ. Sebetulnya hati saya sudah rada ciut melihat antrian manusia, apalagi saya tahu tidak akan menemukan apa-apa di dalam sana, tetapi demi menyenangkan mertua, hiyuuk mariii kita bergabung dengan kerumunan manusia itu :D Rada bingung juga kenapa ya masuk saja pakai tiket masuk, mahal pula, Rp 20.000,-/ orang. Lalu, sebagai ganti uang itu kita mendapatkan kartu magnetic untuk diserahkan di pintu masuk, plus selembar kertas yang ada tulisan KUPON.

Sejak saya mengerti apa arti KUPON, maka ketika KUPON ada di tangan, tentu yang saya bayangkan adalah bisa membeli sesuatu dengan harga spesial. Apakah betul begitu? Ya, itu mah cuma di mimpi saja rupanya. Harga yang tertera di kupon itu, menurut saya sama saja dengan ‘menipu’, maaf! Kenapa begitu? Yah, karena harga yang di sana emang harga barang sih, tanpa ada potongan sama sekali. Entahlah, apakah jika pembelian dilakukan tanpa kupon, maka harganya akan menjadi lebih mahal??? Jika ya, pantaslah itu disebut kupon. Sayangnya, ketika berbelanja, saya serahkan tugas itu kepada suami, karena saya kuatir nanti kelepasan omong sama pedagangnya :D

Lalu, ada apa di dalam PRJ? Menurut pengamatan saya, isinya ya pameran-pameran doang ya? Atau saya kurang luas dalam menjelajahi setiap sudut dari lokasi PRJ? Entahlah! Saya juga rada bingung ketika melihat serombongan anak kecil yang sepertinya dikoordinir oleh pihak sekolah untuk mengunjungi PRJ, emangnya anak-anak bisa lihat apa di sana yah???

Apakah harga barang jauh lebih murah di PRJ? Pengalaman kami sihberbeda, karena ketika seorang teman hendak membeli handphone yang dari luar kami sudah cek harganya, di dalam sana ya segitu juga harganya, eh tapi ada bonusnya ding, bonus ketawa! Haahaha …. Begini ceritanya.

TS (temen saya) : mba, ada S*msung G*alaxy Mini, ga?

SPG: ada mas … ini … *sambil diangsurkannya satu unit ke hadapan TS*

TS: bisa GPS kan mba?

SPG: bisa, mas! *yakin!*

TS: pake pulsa ga nih klo akses GPS?

SPG: iya mas, ada pulsa GPS *gubrak*

TS: apa mba? pulsa GPS? mahal dong …

SPG: iya mas, pulsa GPS.

TS: klo ga pake pulsa, emang ga bisa ya mba? *penasaran*

SPG: ga bisa mas. emang gitu dari sononya.

TS: tapi kok ini temen saya pake dan katanya ga pake pulsa sih? yang bener yang mana nih, saya beli 1 lho klo beneran ga pake pulsa untuk GPS nya.

SPG: aduh mas, dari tadi kan saya sudah bilang, untuk GPS juga pake pulsa. *mulai sewot*

TS: ya udah deh, ga jadi aja, soalnya maunya GPS nya yang ga pake pulsa mba *ngeloyor pergi*

Di luar kami ngakak sampai keluar air mata, masalahnya seharian pakai GPS sementara pulsa di HP itu Rp 0,-. doh, itu dapat SPG dari mana yak, kasihan deh produk itu yang nawarin malah ga ada ilmunya.

Kejadian kedua di counter media cetak yang nawarin paket berlangganan berhadiah. Ceritanya, suami dan teman saya kompakan untuk mendapatkan sepeda dan yang berlangganan koran adalah kantor istrinya. Negosiasi yang terjadi kira-kira sebagai berikut. O ya, teman saya ini sudah lihai karena dia sudah berhasil kecele ketika mendapatkan hadiah satu unit sepeda yang tidak sesuai dengan yang di brosur, berhubung diantar ke rumah hadiahnya, maka sulit untuk komplen, sehingga kali ini dia mau mencoba peruntungan lagi di tempat, yang katanya berlangganan di situ langsung bisa bawa sepedanya.

TS: Saya mau ambil yang paket C tapi mau hadiah yang ada di paket D, boleh ga?

SPG: boleh, asal ambil 2.

TS: iya, saya emang mau ambil 2 kok.

SPG: ya udah klo gitu. *transaksi pun berlangsung*

Temen saya langsung dengan senang menjajal sepeda yang diberikan sebagai  hadiah, tetapi ketika dia  mau ambil sepeda yang ke-2 langsung dihadang oleh petugasnya.

SPG: Pak, sepedanya cuma 1.

TS: Lho? Tadi katanya dapat 2, gimana sih?

SPG: iya, langganannya 2, tapi sepedanya cuma 1 dong.

TS: kok bisa gitu?? Klo langganan 2, ya sepedanya juga 2 dong, gimana sih ?

SPG : Kalau mau dapat 2 sepeda, barangnya bukan yang itu pak.

TS: Hlo? tadi katanya bisa *mulai sewot*

SPG: bisa, kalau bapak berlangganan 2.

Rupanya terjadi kesalah-pahaman di antara mereka. Ketika SPG berkata “boleh jika ambil 2″ maksudnya dapat 1 sepeda dengan berlangganan 2. Sementara pesan yang ditangkap teman saya, boleh dapat hadiah sepeda yang dimaksud jika sekaligus berlangganan 2. Hahahaha …. masih sama-sama pakai bahasa Indonesia saja, bisa salpeng gitu yah hihihi

Eh iya, saya juga ketipu, untungnya barang murah. Saya beli peniti yang lagi trend itu lho, yang ada batu-batunya. Yang biasa saya beli lima ribu 1pc, kok di sana diletakkan dalam 1 kotak isi 3 peniti = 5.000. siapa yang tidak tergiur coba? Saya kan masih normal, sehingga dengan serta merta berpindah tanganlah uang selembar 5.000 dari dompet saya ke laci penjualnya :D Begitu saya coba itu peniti, ampuuuun dah, ternyata kualitasnya jauhhh, masak sih penitinya bisa meleot gitu, beda banget dengan yang 5rb / pc itu. Walaahh …. ketepu dah saya!

Sebelum maghrib datang, kami putuskan untuk meninggalkan PRJ. Tak ada gunanya berlama-lama deh di sana. Wong mau beli apa-apa saja mahal rek. Jika bukan karena mertua, tak mungkin saya ke sana, seperti tahun-tahun yang lalu, PRJ selalu berlalu begitu saja.  Sampai saat ini saya masih belum habis pikir, apa ya yang membuat orang berduyun-duyun ke sana? Apakah temans blogger ada yang sudah berkunjung ke sana?

 

gambar diambil di sini.

Rest In Peace, We’ll always pray for you! (5)

Sejak duduk di bangku SMA memang sudah kelihatan kelihaiannya mengumpulkan rupiah. Kepintarannya bersilat lidah membuat orang percaya dan membeli barang apa saja yang ditawarkannya. Temannya banyak karena dia murah hati dan royal. Dan satu yang takkan pernah saya lupakan, jika dia marah maka napsu belanjanya akan menggila. Pernah satu ketika dia menyimpan uangnya di saya, dan karena satu pertengkaran dengan saudara yang lain, dia meminta paksa uangnya dan pulang-pulang sudah menenteng tas plastik berisi baju dan celana. Berapapun uang di tangan, jika dia sedang marah pasti akan habis dibelanjakannya. Cocok memang dengan penampilannya yang perlente. Dari 3 adik laki-lakiku, cuma dia yang patut digolongkan pria metroseksual. Cuma dia yang berkenalan dengan salon untuk membersihkan wajah dan memotong rambutnya. Terkadang dia malah mau jika ditawari  meni-pedi. Dia selalu tampil harum mewangi, sehingga kami tak heran jika dia bisa berjam-jam di kamar mandi untuk melepas hajat bersih-bersihnya. Saya yang perempuan saja tak sampai seperti itu. Dialah adik saya satu-satunya yang paling resik, tidak sedikitpun suka melihat yang kotor-kotor. Kefasihannya berbahasa Sunda dan Jawa makin memperluas pergaulannya. Perempuan mana yang tidak termehek-mehek berhadapan dengan pria yang wangi, perlente, dan royal pula. Ah, rasanya akan semakin panjang saja tulisan ini jika saya tuliskan semua tentangnya. Saya sempat kuatir dia akan memperistri perempuan yang cuma cinta dengan dompetnya saja, tetapi beruntunglah dia karena perempuan yang akhirnya dia pilih  menjadi ibu anak-anaknya adalah perempuan yang berbudi luhur, dan bertanggung jawab, sehingga sampai hari ini sanggup menjadi single-parent bagi kedua anaknya.

Saya, insya Allah ikhlas harus kehilangan seorang adik, walau pada detik-detik terakhir hubungan kami sedang tidak baik, tapi saya yakin dia tahu bagaimana saya mengurusnya selama di rumah sakit, dan semua itu saya lakukan karena rasa sayang saya padanya. Dan sampai hari ini, sulit buat saya membendung air mata jika berziarah ke makamnya, selalu saja teringat pada kedua bocah tak berdosa itu. Bagaimana nanti kami menjawab jika mereka menanyakan keberadaan Bapaknya? Bisakah mereka menerima kenyataan ini kelak?

Dalam kesedihan, saya masih merasa beruntung, karena si adik sempat berpesan yang penting-penting pada istrinya, dan alhamdulillah sampai hari ini anak-anak tetap dididik dalam keimanan yang sama dengan  Bapaknya. Anak-anak sudah bisa diajari berdoa untuk mendoakan Bapaknya. Setiap orang yang menanyakan di mana Bapaknya, maka mereka dengan tersenyum bilang : “Bapakku di surga.” Tak jarang jawaban mereka membuat si penanya jadi tertegun, karena tak mengira jawaban itu  yang akan mereka dengar. Semoga saja anak-anak tetap setegar itu mengatakan tempat di mana ayah mereka berada sampai mereka dewasa nanti.

Kepergian si adik sore itu, membuat kesehatan Mamak semakin drop dan menyusulnya 3bulan kemudian. Hanya dalam tiga bulan, kami kehilangan 2 orang yang kami kasihi. Sungguh berat! Tetapi harus dijalani. Tak bisa dihindari. Penghiburan demi penghiburan harus dilakukan sediri agar tetap waras menjalani hidup. Lagipula bukankah semua yang hidup pasti akan kembali pada Sang Pemilik Kehidupan?

28 Juni 2011

Lima tahun sudah sejak kepergian si adik, tetapi rasanya semua baru saja terjadi kemarin. Satu permintaan almarhum yang sulit kami tepati, menaburkan bunga setiap hari di makamnya :( Bukan maksud hati sengaja mengabaikannya, tetapi keadaanlah yang membuat permintaannya sulit dilaksanakan. Dulu, 2x dalam sebulan saya sempatkan untuk menyambanginya, tetapi sekarang semakin jarang :( Hanya waktu-waktu tertentu yang kami pasti ke sana, sedikitnya 4x dalam setahun sudah pasti. Tetapi permintaannya yang lain, alhamdulillah terpenuhi dengan baik.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar, juga belum terlalu lama, dan masih akan ada terus tahun-tahun mendatang yang akan menjadi saksi perkembangan anak-anak, dan insya Allah saya menepati janji yang pernah terucap di depan almarhum, kalau saya akan terus mendampingi keduanya sampai keduanya mentas kelak.

 

Rest In Peace, We’ll always pray for you! (4)

27 Juni 2006

Melihat kondisi keuangan yang sudah menipis, maka saya dan ipar memutuskan membawa si adik pulang ke rumah. Kami memesan seorang perawat dan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk oksigen dan alat penyedot air liur. Hari itu, Selasa, kami pulang dengan ambulans menjelang siang. Saya masih berharap ada keajaiban, walaupun berulang kali saya mempersilahkannya untuk beristirahat dengan damai, tak perlu memikirkan anak-anaknya, karena saya pasti tidak akan menelantarkan mereka. Berulang-ulang kalimat itu saya ucapkan, agar dia berketetapan hati memilih alam mana yang mau dia tuju. Jika mau hidup, bangunlah, tak banyak uang kita membayar rumah sakit ini, tapi jika sudah tak sanggup, pulanglah.

28 Juni 2006Posts

Pagi-pagi perawat memandikannya dan keadaannya masih sama. Saya pikir mau pergi sebentar melihat tukang yang bekerja di Bekasi. Sempat saya membuat janji dengan seorang ustadz untuk mendoakan si adik setelah magrib, tetapi tiba-tiba menjelang sore Ustadz itu menelpon dan bilang mau datang sekarang. Saya bimbang antara tetap ke Bekasi atau mendampingi si Ustadz. Eh tau-tau ustadznya sudah di depan mata, rupanya ketika menelpon mereka sudah di jalan. Urung berangkat ke Bekasi, saya mendampingi mereka ke rumah si adik. Seperti tadi pagi, kali ini perawat pun sedang memandikan si adik ditemani istrinya. Ketika hendak membersihkan punggungnya, selang yang di hidung muncrat dan cairan hitam berhamburan membasahi bantal.

Tiba-tiba sang ustadz memberi tanda untuk menyingkir kemudian dengan pelan berkata kalau si adik sudah berpulang. Saya masih tak percaya karena badannya masih hangat, apalagi melihat senyumnya yang mengembang. Tak bisa dibendung, tangis kami pun pecah. Dalam benak saya melulu dihantui bayangan si abang dan Egi, mereka masih terlalu kecil, Tuhan :( Abang yang baru 26 bulan dan egi yang 6bulan, mereka bahkan belum mengenal Bapak mereka.

Sempat saya perhatikan sekujur tubuhnya, masih terlihat gempal, 2minggu koma tidak membuat tubuhnya susut. Wajahnya pun tidak seperti orang kesakitan, dia bahkan tersenyum, tampak seperti orang sedang tidur saja. Setiap handaitaulan yang datang dan melihatnya tidak percaya dia pergi dalam waktu sesingkat itu. Bahkan Mamak yang sejak 1999 bolak balik keluar masuk rumah sakit saja masih sanggup bertahan, sementara dia? Hanya butuh satu bulan, dan dia pergi untuk selama-lamanya.

Satu per satu kenangan bersamanya bersliweran di depan mata. Masa-masa kami berdua melanjutkan sekolah di kota gudeg tentu punya cerita sendiri. Dia adik yang persis di bawahku. Kami tak selalu akur, dan pola pandang kami pun sangat bertolak belakang.  Pernah di satu masa dia begitu membenci saya, bahkan mungkin sampai akhir hayatnya dia masih membenci saya tentang satu ini? Dia ingin sekali kuliah, tetapi saya menyarankan orang tua untuk mengirimkan ke psikolog untuk mencari tahu minat dan bakatnya. Ketika sang psikolog menyatakan si adik tidak akan bisa fokus belajar karena sudah cinta dengan uang, maka orang tua urung mengirimnya ke universitas, dan dia menganggap saya yang menyebabkan keputusan orang tua seperti itu.

bersambung …

Rest In Peace, We’ll always pray for you! (3)

Kami, saya dan ipar, harus mengambil keputusan sendiri ketika dokter mengatakan kesempatan selamatnya 50:50. Sementara Bapak masih keukeuh meminta kami membawa adik ke rumah. Terpaksa kami mengabaikan Bapak dan mengijinkan dokter untuk merawat si adik yang saat itu juga dikirim ke ICU. Bapak sempat datang, tetapi cuma sebentar, Bapak langsung pulang, dan kami tahu Bapak marah. Tetapi, bagaimana lagi? Bukankah logikanya orang sakit harus dibawa ke rumah sakit, bukan ke rumah?

Sepertinya Bapak punya masalah sendiri dengan rumah sakit :( saya masih ingat ketika 2x pernah diutus Bapak untuk membawa pulang si adik yang sedang dalam penanganan dokter, padahal dokter sudah memvonis kalau si adik harus segera operasi hernia. Memang waktu itu dia dibawa ke rumah sakit oleh temannya dalam keadaan muntah-muntah setelah menaiki satu wahana di Ancol. Bapak mengobati sendiri si adik, dan sembuh tanpa perlu dioperasi. Kali ke-2, ketika si adik yang sedang membawa bemo ditabrak metromini sampai terpental dan bemonya hancur. Semua mengira si adik akan meninggal melihat hancurnya bemo, dan lagi-lagi saya diutus Bapak untuk membawa pulang si adik, padahal dokter sedang menangani bahkan sudah sempat menyelesaikan satu jahitan di hidungnya. Bapak marah besar, karena Bapak tahu bekas jahitan itu akan permanen. Di rumah, lagi-lagi diobatinya sendiri si adik sampai pulih dan sehat seperti sediakala.

Mungkin, Bapak mengira hal yang sama terjadi pada si adik, sehingga ngotot meminta kami membawa adik pulang ke rumah. Bapak mengira kalau Bapak bisa mengatasi penyakitnya. Mungkin saja begitu, tetapi saya dan ipar mungkin terlalu panik sehingga lebih percaya pada dokter di rumah sakit, dan masih percaya walau si adik tetap koma sampai saat dia berpulang.

Satu malam di ICU, saya dapat informasi dari hasil bisik-bisik dengan seorang perawat yang merupakan teman baik sahabat saya. Katanya si adik sempat ‘hilang’ ketika transfusi sedang berlangsung, memang cuma sekian detik, tetapi lumayan fatal. Si perawat bilang kemungkinan sembuh sudah kecil jika seperti itu, tetapi dokter yang menangani masih optimis. Dua malam di ICU sungguh menguras kantong, dan kami berdua memutuskan untuk mengeluarkannya dari ICU dan masuk ke ruang perawatan biasa. Jika memang Tuhan berkehendak si adik untuk terus hidup, di ruang perawatan pun dia bisa sembuh, begitu pikir kami.

Sebelas hari, saya dan ipar bergantian menjaga si adik yang koma. Tak ada komunikasi lagi di antara kami, terakhir cuma bertukar pandang ketika di RS. Cikini. Walau dilarang dokter, sayasempat membawa si abang dan Egi menemui Bapaknya, dan merekam momen itu dengan handycam. Setidaknya, satu hari nanti, ketika mereka sudah besar, mereka tahu bahwa detik-detik terakhir mereka sempat bersama Bapaknya.

Beberapa hari di rumah sakit, sempat terjadi perseteruan, ketika Bapak dan saudara yang lain menghendaki pindah ke rumah sakit yang lain. Tetapi saya serahkan semua keputusan pada sang ipar, karena menurut saya, dialah yang mutlak yang boleh memutuskan suaminya mau diobati di mana. Dan dia memilih meneruskan pengobatan di rumah sakit ini.

Ujian tidak pernah datang sendirian. Pasti ada ujian lain di saat seseorang menjalankan satu ujian. Demikian pula kami, khususnya sang ipar yang memang sebelum menikah bukan beragama Islam. Berdatanganlah serombongan orang Karo yang dengan tega berkata : ini hukuman Tuhan buat dia karena berpaling dari Tuhan yang sebelumnya. Mereka ‘menculik’ sang ipar dari ruangan adik saya dirawat dan rupanya mereka membawa sang ipar ke satu pojokan dan mengajaknya berdoa dengan cara mereka di sana. Saya tahu, karena saya keliling rumah sakit mencari keberadaan mereka, yang tadinya saya kira cuma keluar ruangan. Karena terlalu lama, saya bermaksud memanggilnya masuk, dan sungguh kaget ketika saya menemukan lorong rumah sakit yang kosong.

Ketika mereka datang lagi keesokan harinya, dengan tegas saya suruh mereka pergi, mereka boleh mengajak ipar saya juga jika tujuan mereka cuma mengembalikan keimanan sang ipar. Mereka beranjak pergi, tapi sang ipar tinggal. Mulai dia bercerita tentang pesan-pesan si adik ketika masih di RS.Cikini.

“Jika saya tidak panjang umur, tolong jangan kuburkan saya di BudiDharma, karena di sana banjir.
Jika saya tidak ada, kamu boleh kembali ke agamamu, tapi tolong ijinkan anak-anak tetap dalam Islam, karena hanya doa anak-anak yang kelak menghapus dosa-dosa saya.  Jika saya sudah dikuburkan, saya berharap kamu rajin menabur bunga di makam saya. ……. “

Kalau saya punya 10jempol, makanya semuanya saya acungkan kepada sang ipar, karena dia begitu tegar melalui semua ini. Usia pernikahannya yang belum genap 3tahun, tetapi sudah terancam menjadi janda dengan 2 anak yang masih batita. Saya yakin tidak akan setegar dia jika saya yang harus mengalami hal yang sama. Dia tetap bekerja, seolah penyakit suaminya adalah penyakit biasa saja. Salut!

Ujian tidak pernah datang sendirian. Ketika masih di RS.Cikini, kami mengijinkan Mamak untuk menjenguk si adik, padahal kondisi Mamak pun tidak baik karena diabetes yang dideritanya. Sejak koma, kami tak mengijinkan Mamak datang, karena tidak ingin Mamak pun drop jika mengetahui kondisi anaknya. Tetapi naluri seorang ibu terlalu peka, mamak tahu anaknya tidak baik-baik saja, bahkan Mamak tahu ketika si adik berpulang, dia melambaikan tangan padaku, begitu kata Mamak yang saat itu dirawat di RSCM.

 

bersambung ….

Rest In Peace, We’ll always pray for you! (2)

17Juni2006

Lewat jam 6 sedikit saya menjemput si adik untuk ke rumah sakit. Sempat curiga melihat posisinya yang tidak berubah-ubah, dan matanya tidak berkedip, tetapi kata iparku memang begitu. Dengan kecepatan tidak biasa, akhirnya tiba di JEC dan langsung ke ruangan dokter mata. Tetapi, sang dokter malah menyuruh kami secepatnya ke rumah sakit, karena matanya tidak apa-apa tetapi kondisi si adik justru drop. Panik! Keringat dingin mulai mengalir.

Buru-buru kami meninggalkan rumah sakit, dan kami mulai dalam perdebatan. Saya dan ipar bermaksud membawanya ke dokter, tetapi Bapak minta kami bawa ke rumah. Menjelang flyover di Kemayoran, mata saya melihat plang rumah sakit Mitra Kemayoran, dan saya sarankan ke ipar agar mampir sekedar memeriksa kondisi si adik. Kalau disuruh opname, kita minta pulang saja, usul ini disetujui iparku.

Rumah sakit sudah di depan mata, tetapi tetap saja ada insiden :( ketika sebuah sedan menyalip dan hampir saja kami terjun bebas kalau saya tak sigap menahan setir. Dalam keadaan panik, emosi pun memuncak. Apesnya sedan itu memasuki parkiran rumah sakit yang sama, dan secepat kilat saya hentikan paksa sedan itu, dan selanjutnya bisa ditebak apa yang terjadi, karena saya turun dengan memegang kunci pengaman setir mobil di tangan siap menghajar penyalip yang hampir membahayakan nyawa kami berempat. Sekarang  saya sadari bahwa sikap saya itu justru membuat saya dalam bahaya 2x, karena jika orang itu mati karena pentungan saya, apa bukannya saya akan dipenjara???  Memanglah saya masih mujur, walau si penyalip itu bonyok, dan hampir saja istrinya juga kena hantaman kunci pengaman itu, ketika saya mendengarnya berkata : “hajar aja Pa, perempuan kok sok jagoan …. ” Satu kalimat dari satpam yang berusaha melerai menyadarkan saya pada kepentingan yang jauh lebih penting daripada meladeni mulut comel istri si penyalip itu. “Mba, sebaiknya cepat urus saudaranya yang di UGD, biarkan kami mengurus yang ini.”

Setelah memarkirkan mobil pada tempatnya, cepat saya susul sang ipar di UGD. Bapak, masih tidak menyetujui untuk opname. Kami bingung. Lebih bingung lagi ketika dokter memanggil kami masuk, dan menanyai pasien dari mana? Bahkan dokter itu sempat memvonis si adik terserang virus aneh karena cairan hitam yang mereka sedot dari perut si adik. Tadiya saya sengaja menyuruh ipar untuk tidak jujur soal diagnosa dokter di rumah sakit Cikini, karena ingin mereka punya diagnosa sendiri. Tetapi kami putuskan untuk jujur setelah diagnosa aneh yang disampaikan dokter, secepatnya si adik di-usg dan ginjalnya sudah parah berlubang. Dan saya tahu apa sebenarnya cairan hitam itu, apalagi kalau bukan obat dari tabib yang diminum si adik. Jika belum dalam kondisi separah itu, memang obat si tabib manjur, dan cairan itu harus dikeluarkan melalui air kencing. Tapi si adik sudah terlalu lemah sehingga tak sanggup lagi untuk kencing sekalipun, dan menumpuklah semuanya di dalam perutnya. Itulah cairan hitam yang dikeluarkan berliter-liter oleh dokter di UGD.

Rupanya si adik sering minum jamu untuk mengganjal rasa sakit yang mendera ketika asam uratnya naik. Belakangan kami tahu bahwa jamu yang diminumnya itu ada di acara Kupas Tuntas TransTV yang mana jamu itu mengandung bahan kimia yang berbahaya, sehingga tak heran jika ginjal si adik kelihatan berlubang. Memang tidak ada bukti, tetapi menurut iparku, si adik memang cuma minum jamu dari tukang jamu gendong setiap kesakitan karena asam urat itu.

 

bersambung ….

Rest In Peace, We’ll always pray for you! (1)

Bulan Juni adalah bulan berkabung bagi kami sekeluarga, karena pada bulan Juni adik tengah saya berpulang di usianya yang masih muda. Tulisan ini saya persembahkan untuk kedua keponakan tersayang, sengaja saya tuliskan secara terinci, karena kuatir semakin lama setiap kenangan terkikis dan saya pun tidak tahu bila ajal akan menjemput. Dan tulisan ini saya bagi menjadi 5 bagian, karena terlalu panjang jika dijadikan satu.

2 Juni 2006

Lewat tengah malam adik bungsuku datang meminjam mobil, mau antar abang ke rumah sakit, begitu katanya. Tanpa banyak tanya saya angsurkan kunci mobil, kemudian menutup pintu dan melanjutkan tidur. Tidak ada firasat apapun, saya pikir paling sakit biasa. Beberapa hari kemudian, si bungsu mengingatkan saya untuk membesuk. Saya baru datang keesokan harinya, sendiri saja. Kekakuan meliputi kehadiran ku di sana. Hubungan kami memang sedang tak baik sebelum dia jatuh sakit, sehingga tak banyak percakapan di antara kami selama kunjunganku di sana.

Istrinya, iparku, yang mamanya si abang dan dede Egi, bercerita tentang kondisi si adik, yang ginjalnya rusak parah dan harus menjalani proses cuci darah. Lumayan kaget! Apalagi melihat tubuh gempalnya, dan kegemarannya menenggak air mineral membuatku tak percaya tentang diagnosa dokter itu. Sehingga ku sarankan mereka untuk konsul ke dokter lain dan berharap diagnosanya akan berbeda. Dia diam saja ketika saya berpamitan, mungkin masih marah pikirku.

Kemudian ku dengar si adik dibawa pulang dan Bapak memanggil tabib dari kampung untuk mengobatinya, karena si adik bersikeras tak mau cuci darah, begitu juga Bapak. Keduanya sependapat bahwa sekali si adik menjalani cuci darah, maka seumur hidupnya dia harus menjalani proses itu :( Daripada jadi drakula, aku lebih baik mati, katanya. Bagaimana proses pengobatan alternatif itu, sama sekali luput dari perhatian ku karena percaya Bapak bisa mengurusnya dengan baik.

16 Juni 2006

Saat itu saya sedang berada di jalan tol menuju Bekasi bermaksud memantau tukang yang merenovasi rumah yang baru dibeli, tiba-tiba ada telpon dari iparku mengabarkan kalau si adik minta diantar ke dokter mata yang dulu pernah menangani matanya. “Mata kanannya sama sekali tidak bisa melihat apapun.” begitu kata iparku. Cepat saya iyakan, dan dalam kondisi masih menyetir langsung menelpon dokter mata di JEC yang memang orang Karo. Biasanya susah sekali menghubungi dokter ini, tapi pagi itu begitu mudah dan dia menyuruh kami datang sebelum jam prakteknya dimulai.

bersambung…

Cerita Wiken di Akhir Juni

Banyak cerita yang mau dibagi, tapi tak mungkin semua sekali tuang, karena bisa tumpah ruah hehehe …
Dan saya mulai dari yang teranyar saja yah :D

Ceritanya hari ini suami mengikuti acara Gowes Sepeda bareng media cetak Kompas; berkaitan erat dengan iklan jor-joran mereka tentang paket-paket yang mereka sediakan bagi orang-orang yang mau berlanggangan Kompas plus hadiah yang menggiurkan (orang yang punya duit nganggur itu!). Keikutsertaan suami adalah karena suami sahabat saya yang mendaftarkan, dan kami menyambut baik ide itu untuk memberi satu warna baru dalam kehidupan rumahtangga ini *halah*.

Walau start acara ini ada di Jakarta, tapi kami mengawalinya dari Cikupa, Tangerang. Jauh ya dari Utara Jakarta hehehe Justru di situlah seninya *lebay* Sebetulnya ada maksud terselubung kami melakukan hal ini, apalagi kalau bukan sekalian melihat lagi penampakan rumah yang pernah saya beli sekian tahun yang lalu, dan yang karena bank yang memberikan kredit dilikuidasi maka rumah itu terbengkalai begitu saja. Lokasinya tidak jauh dari rumah sahabat saya itu, sehingga bersemangatlah kami menuju kota Tangerang, dengan harapan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Janji menginap saat wiken, tapi kehebohan sudah terjadi dari hari Jumat. Apa pasal? Apalagi kalau bukan karena sahabat saya minta dibawakan gulai ayam kentang seperti yang pernah saya aplot fotonya di sini. Sahabat saya ini kombinasi keluarga Cina dan Menado, tetapi entah kenapa mereka begitu ngefans dengan hasil racikan mamak saya dari dulu, yang untungnya saya bisa sedikit-sedikit meniru rasa masakan made in si mamak. Saya sudah sempat memasakkan gulai 2ekor ayam, dan kali ini memilih kentang yang kecil-kecil sebagai teman si ayam, tetapi setelah pikir punya pikir, repot juga ya bawa gulai berkuah ini. Bisa sih jika dipaksakan, tetapi saya kuatir nanti malah jadi ketar ketir terjadi kebocoran sepanjang perjalanan, maka bernegosiasilah saya agar sang sahabat mau sedikit bersabar agar nanti kami masak bersama saja. Sogokannya saya akan bawakan dia sambel ikan teri hehehe *berhasil dong – bangga!*

Gulai Ayam Kentang

 

Sambal Teri Kacang sebagai sogokan :D

Sejak jam 4 subuh Sabru kemarin sudah heboh di sini. Para asisten kebingungan melihat duo majikan yang heboh sendiri wira wiri mempersiapkan ini itu. Memeriksa daftar yang akan dibawa, termasuk bumbu-bumbu yang sudah diracik dan diblender. Tepat jam 8 kami sudah berada di WTC Mangga 2 menantikan bus yang akan membawa kami ke Cikupa. Tujuan memang jauh, tapi jarak tempuh cuma 45menit, selain karena lewat jalan tol, tetapi memang faktor ketepatan waktu bis dan lalu lintas yang lancar membuat kami begitu menikmati perjalanan. Selalu menyenangkan, bukan, perjalanan tanpa kemacetan? Hehehe …

Tadinya saya mau posting live dari lokasi, apalagi fasilitas juga lengkap di sana, tetapi apa daya, saya terlalu capek, ditambah lagi rasanya terlalu banyak topik yang mau dibahas bersama sang sahabat, sehingga niat nge-blog pun dengan ikhlas saya urungkan *gaya yah* Selagi para istri (saya dan sahabat) mempersiapkan gulai di dapur, para suami berkutat dengan 2 laptop milik sang sahabat untuk dioprek suamiku. Biasa deh, kemanapun pergi sepertinya spesialisasi suami sebagai tukang oprek komputer membuatnya selalu ‘dimanfaatkan’, tak pernah sekalipun sahabat-sahabat saya rela membiarkan suami tercinta itu menganggur hihihi

Seperti hari Sabtu, kehebohan yang kurang lebih sama juga terjadi Minggu subuh tadi. Berempat kami wira wiri membereskan segala sesuatunya dan memastikan tidak ada yang tertinggal demi mengawal aktivitas para suami dalam acara Gowes Bareng. Para istri sibuk dengan perbekalan yang menunya apa adanya – ayam goreng dan mie goreng ala niQue. Sempat sih suami sahabat meminta dibuatkan telor dadar ala resto Padang yang tebal itu, tetapi sayang stok telur tidak memadai, dan sudah tak ada tenaga yang sanggup membelinya keluar rumah :D Tapi, kalau hati sedang senang, menu sederhana pun membuat perut kenyang, bukan?! Eitsss….sudah menu sederhana, masih harus disederhanakan lagi, karena apa? Karena ayam goreng yang cuma 5potong itu pun tertinggal huaaaa …

Memang dasar deh tuh ayam goreng, sudah digoreng saja masih bisa ketinggalan. Rupanya karena si ayam goreng masih ditiriskan oleh sahabatku, dan saya yang merasa sudah membungkus apa saja yang di atas meja makan, tidak lagi melihat kiri dan kanan, jadi weh lupa sama si ayam goreng, padahal ya tangan ini yang mbejek tuh ayam dengan jeruk nipis dan sedikit garam, juga tangan ini yang membolak-baliknya di penggoreng, tapi kok ya bisa lupa kalau dalam sekian kotak makanan itu belum ada ayam goreng :( *kecewa* Ya sudahlah, tak mungkin dong kami putar balik demi 5 potong ayam goreng? Bisa-bisa acara gowes bareng cuma tinggal kenangan doang hehehe

Jam 05.16 kami start dari Cikupa, meleset dari 16menit dari waktu yang kami sepakati, tapi cincailah, 16menit sih  masih bisa ditolerir dan beberapa menit menjelang jam 07.00 kami sudah tiba di depan Komdak. Para suami buru-buru bongkar muatan, dan langsung repot memasangkan roda 2 sepeda yang sengaja dilepas agar muat di dalam mobil.

Dipasang dulu ya rodanya :D

Usai melepas dua suami, kami meluncur ke lokasi finish yaitu Ancol, sempat ada insiden kena tilang gara-gara salah jalur, dan selanjutnya kami duduk manis di bak belakang mobil menunggu para suami tiba di lokasi. Dengan modal biaya pendaftaran empat puluh ribu perak, para suami begitu bersemangat mengharapkan door-prize 1 unit rumah akan digondol pulang hahaha para istri tentu lebih bersemangat mengompori dong, tetapi apa daya, walau sudah setia menanti pengumuman di tengah teriknya matahari, rumah itu malah melayang kepada peserta lain.

Sudah? Belum! Walau keletihan nggowes sepeda tergambar jelas di wajah para suami, tetapi mereka masih bersemangat pada aktvitias lain. Mau tau apa? Nantikan di reportase selanjutnya yah hahaha ….

 

***Pssst…. tulisan di atas sempat ganti judul, jadi jangan pada bingung yah hihihi

Rapel Cerita

Fiuhhh ….. !

Saya kira, sejak para asisten sudah bisa melaksanakan pekerjaan yang didelegasikan dengan lumayan baik, maka saya akan punya waktu lebih banyak untuk kegiatan nge-blog ini. Tapi kok malah sebaliknya yah? Kegiatan offline malah memberangus nafsu nge-blog yang sedemikian membaranya ketika mengerjakan segala sesuatunya cuma berdua suami di sini. Aneh! Saat ini pun  sebetulnya tenaga sudah tinggal sisa, dan matapun sudah dalam kondisi liem-mang-hwat, tapi hasrat menulis begitu bergelora sehingga saya masih ada di sini mencoba menuntaskan satu postingan malam ini, dengan target posting sebelum jam 00:00 (yang ternyata gagal karena baru posting jam 00:15 hiks).

Bicara tentang para asisten, saya baru saja menerapkan satu aturan baru yang selama ini belum pernah saya terapkan sama sekali, dan terus terang aturan ini saya tiru plek dari apa yang pernah diceritakan seorang teman yang bekerja sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah tentang tata cara penilaian kinerja pegawai. Bahwa menjelang masa-masa kenaikan gaji, para atasan akan memberikan nilai para bawahannya untuk disetorkan ke bagian kepegawaian. Sekarang, mereka pun saya buatkan sistem penilaian yang akan menghasilkan sekian jumlah poin, dan yang mendapat poin tertinggi maka mendapatkan bonus setiap bulan. Iya, setiap bulan, karena kalau tahunan saya kurang yakin bisa memacu adrenalin kerja mereka hehehe Tetapi jika selama 3bulan berturut-turut malah jumlah poinnya paling rendah maka orang tersebut akan didenda sejumlah bonus yang diterima :D Saya buat demikian agar tidak ada yang sengaja bermalas-malasan karena bisa saja dia tidak tergiur dengan uang bonus ‘kan?

Alhamdulillah, ketiga asisten melaksanakan pekerjaan mereka dengan semangat, bahkan saking semangatnya belum masuk jam shiftnya pun sudah standby, padahal sebelum saya sampaikan sistem penilaian seperti ini, ada satu asisten yang sudah mulai membuat saya cemas karena pilih-pilih pekerjaan. Semoga saja suasana kerja yang harmonis dan penuh kekeluargaan ini dapat terus terbina, agar saya dan suami berkesempatan jalan-jalan dari satu kota ke kota lain, sekalian mengunjungi temans blogger. *gaya hahaha*

Back to topic, kegiatan offline yang pertama adalah ndadak mudik ke kampung suami, Rabu yang lalu. Lumayan sedih saya, karena mau mengikuti kontes ASKAT-nya Pakde yang selalu digelar setiap hari Rabu. Askat ke-1 saya belum beruntung, dan saya masih begitu bersemangat mencoba peruntungan sekalian mengasah kemampuan menulis pada askat-askat berikutnya. Tapi apa daya? Rabu jam 12.00 minggu lalu, saya sudah dalam perjalanan ke Sumedang dan baru kembali ke Jakarta pada hari Kamisnya. Dalam perjalanan sempat juga sih mencoba untuk membuat satu tulisan, eh tapi saya tidak begitu bersemangat menulis pakai hape :( apalagi kan tulisan di sini, kudu ada gambarnya, nah gimana tuh? Jadi weh, batal ajalah hiksss…..

Jumat mestinya bisa menulis, sekalian mau pamer foto-foto narsis saya di tengah hamparan padi yang hampir menguning. Tapi, lagi-lagi hari itu benar-benar tidak ada kesempatan duduk manis di depan komputer. Huh!  Dan Sabtu-Minggu-Senin-Selasanya saya malah sibuk dengan urusan adiknya seorang sahabat yang dipaksa mendekam di rumah sakit karena satu penyakit  yang hari ini dapat kabar kalau ternyata pendarahan yang dia derita itu karena pra-kanker serviks. Besok pun saya masih akan mendampingi dia ke Yayasan Kanker Indonesia untuk memastikan penyakit itu benar-benar pra-kanker atau apa?

Bagaimana dengan Rabu hari ini? Tadi pagi saya sudah baca dan Askat ke-3 memulai tulisan berkaitan dengan kata Peringatan, tetapi terhalang lagi karena harus menuntaskan pesanan customer yang di Menado, dan tidak bisa ditunda sama sekali. Halaaah …. susah bener yak mo ikutan Askat :D

Well, ada yang saya mau update juga dari yang pernah saya posting tentang SEPEDA atau SEPEDAH. Hmm … saya curiga di antara yang mampir ke sini ada yang bekerja di mal itu :D karena kemarin ke sana ternyata huruf H-nya sudah ditutupi kertas putih, seperti yang terlihat di gambar hehehe …Tapi baguslah, setidaknya kekeliruan yang sepele itu tidak bikin sakit mata :D *dasar saya emang usil kali yah*

So, dalam kesempatan ini, saya mohon maaf kepada temans sekalian yang hampir seminggu ini tidak sempat saya sambangi. Terima kasih yah masih mampir ke sini :)

 

Makanan Sehat atau Ransum?

Sabtu kemarin, baru saja usai membaca postingan Bu Enny tentang rumah sakit, eh kok ya hari itu juga saya dapat kabar kalau ‘adik’nya teman yang saya antar ke rumah sakit bulan lalu, terpaksa diboyong ke rumah sakit lagi setelah dia sempat terjatuh pingsan di kamar mandi. Sepertinya memang sedang musim pancaroba, satu asisten dan suami diserang flu dan pilek, bahkan suami sampai demam :( Namun begitu, saya memaksakan diri untuk menemani mereka ke rumah sakit malam itu.

Sesuai dengan prosedur asuransi yang diberikan padanya, maka kami menyambangi RS. Suliyanto Saroso untuk mendapatkan rujukan ke rumah sakit yang lain. Sempat hampir terjadi insiden, tapi untung ingat kalau saya tidak mau gagal ujian lagi. Permasalahannya ketika cek HB, menurut si petugas akan butuh waktu 1jam. Sementara saya jelaskan, jika 1jam lagi maka dokter yang dituju di rumah sakit lain, sudah akan pulang, padahal pasien sudah lemah sekali. Apalagi dokter jaga di UGD sudah wanti-wanti ini pasien harus diopname segera. Tapi petugas itu tidak memberi pilihan. Saya tak habis akal, teringat seorang kenalan yang sudah bekerja sebagai perawat senior di sana. Ketika dia menghampiri saya di UGD, saya beritahukan kalau yang di UGD sangat kooperatif, kecuali di bagian Lab. Tanpa ba-bi-bu, dia balik badan dan dalam hitungan menit dia sudah kembali dengan selembar kertas hasil tes Lab di tangannya, yang menunjukkan angka 4 pada HB pasien. Bergegas dia memaksa kami langsung berangkat ke rumah sakit lain, agar si adik segera mendapat penanganan yang lebih intesif.

Terkait masalah bulan lalu, saya masih harap-harap cemas, jika sampai ditolak lagi seperti tempo hari. Untunglah, petugas yang berjaga  malam itu lebih mengerti daripada petugas  yang kami temui bulan lalu. Tidak butuh waktu lama, dan si adik sudah bisa langsung masuk kamar. Sebenarnya mulut saya sudah gatal untuk menanyakan tentang petugas yang berjaga bulan lalu, yang menolak merawat orang yang sama, tapi sekarang kok sah-sah saja? Sempat juga sih saya singgung tapi dalam konteks yang berbeda.

“Hebat deh petugas yang jaga malam ini, kami beruntung karena mba lebih cekatan dan paham tentang asuransi yang diambil adik ini. Beda banget dengan bulan lalu, kami sampai pulang tanpa dirawat lho karena asuransinya tidak bisa dipakai.” tentu saja pujian ini berhasil membuat cuping hidung si petugas kembang kempis :D

“Lho? Mestinya sama saja kok bu, memangnya bulan lalu dengan siapa?”

“Kan di situ kelihatan nama petugas yang menangani ketika pertama datang toh? Tapi ya sudah, yang penting hari ini kami sudah merasa dilayani secara maksimal. Yang lalu, ya udah biarin aja … :)

Tuhan sungguh Maha Baik, karena kekuatiran kesulitan mendapatkan darah tidak terbukti, 4kantong darah ternyata tersedia semua di rumah sakit, padahal tadi oleh perawat senior kenalan saya itu sudah memberikan tips rahasia cara cepat mendapatkan darah di gudangnya sana, dan kami sudah kasak kusuk akan mengikuti saja walau kurang etis rasanya, tapi demi si adik, tidak apalah. Dua hari ini, 4 kantong sukses mengalir ke dalam tubuhnya. Sempat sih dia kuatir, karena banyaknya informasi negatif yang sliweran di telinganya bahwa transfusi itu bisa menambah penyakit dari yang punya darah. Halah! Ada-ada saja!

Alhamdulillah, tadi HB nya sudah 8.7, belum normal, tetapi sudah lumayan. Tinggal disuruh makan yang banyak dan bergizi, begitu kata dokter. Tetapi, dia belum boleh pulang, karena pendarahannya belum berhenti. Apalagi belum pasti apakah yang terlihat pada saat USG adalah miom atau bukan. Rada kesel juga sih, masak sudah 2kali USG belum kelihatan juga? Berhubung kakaknya harus masuk kerja karena ada audit di kantornya selama seminggu ini, dan berhubung saudaranya yang lain pun tak ada yang bisa menyempatkan diri untuk menyambanginya di rumah sakit, maka tadi saya yang menemui dokter untuk mengetahui hasil USG-nya. Yang bikin kesal adalah karena si adik disarankan untuk di-MRI agar lebih pasti melihat keberadaan miom itu. Maksud saya, ‘kan sudah tahu nih si adik keterbatasan dana, mbok ya dari awal dikasih tahu kalau mau lebih jelas harus lewat MRI. Atau memang begitu prosedurnya????? Cuma ‘kan jadi double-cost, ya toh? Tapi ya sudahlah, memang sudah begini jalannya, semoga si adik dan keluarganya mendapatkan jalan keluar tentang pembiayaan untuk tes MRI yang memang tidak murah itu.

Baidewe baswei, panjang-panjang saya cerita dari atas itu, sebenarnya saya mau cerita tentang kualitas makanan yang tersedia di sana. Sama sekali tidak bermaksud mencela makanan, karena saya tahu setiap makanan itu pasti berkat dari Tuhan, tetapi kembali lagi ke manusia yang diberi tanggung jawab untuk mengolahnya. Saya sadar bukan kapasitas saya mengomentari kualitas makanan di satu rumah sakit, tetapi sebagai orang sehat yang mencoba mencicipi makanan yang disediakan untuk para pasien di sana, sulit buat saya untuk bisa mengerti bagaimana mereka bisa mendapatkan gizi dengan kualitas makanan yang seperti itu. Memang ada tahu, tempe, daging dan sayuran berwarna, tetapi semua tanpa rasa. Bahkan daging yang disediakan itu, kalau buat nimpuk bayi dijamin bayinya gegerungan, saking kerasnya. Saya mencoba menggigit daging yang entah disemur entah direndang-tidak jelas, aduh gigi palsu saya bisa mencelat kalau dipaksakan *LOL*.

Oleh karenanya, jadilah saya koki dadakan buat si adik :D Setiap malam sebelum pulang, saya tanyakan menu yang dia inginkan, tentu saja saya tanyakan terlebih dulu kepada suster memastikan makanan apa yang menjadi pantangan untuk penyakit yang dia derita.  Saya senang-senang saja menuruti keinginannya, karena bukankah masih lebih baik dia punya napsu makan ketimbang tidak mau apapun sama sekali? Hehehe …

Barangkali di antara temans blogger ada yang pernah jadi koki di rumah sakit, atau mungkin bekerja di rumah sakit, tolong dong jawab pertanyaanku ini, apa iya menu makanan para pasien di rumah sakit itu sudah melewati proses screening dari dokter gizi? Benar-benar ingin tahu saya …… please?