Saat ini saya sedang berusaha menjadi menantu yang baik
Setidaknya, baik menurut saya. Semoga saja, apa yang saya anggap baik ini diterima juga dengan baik oleh mertua saya hehehe Dan saya berharap dapat menjalin hubungan yang harmonis antara mertua dan menantu, agar tidak seperti cerita-cerita di sinetron itu lho, yang selalunya menggambarkan menantu vs mertua seperti kucing vs tikus saja layaknya.
Kehadiran mertua memang sudah diagendakan sejak kepulangan kami ke Sumedang beberapa waktu yang lalu, niatnya sih ibu mertua saya ingin sekali mengunjungi PRJ. Jadi ya udah deh sekalian saja, plesir ke Jakarta. Dan, Senin tengah malam mertua sudah tiba di rumah diantar travel langsung dari Sumedang. Alhamdulillah, perjalanan lancar jaya.
Berhubung hari biasa PRJ baru dibuka sore hari, maka hari Selasa kemarin kami putuskan untuk nyekar terlebih dulu, setelahnya baru deh ke PRJ. Sebetulnya hati saya sudah rada ciut melihat antrian manusia, apalagi saya tahu tidak akan menemukan apa-apa di dalam sana, tetapi demi menyenangkan mertua, hiyuuk mariii kita bergabung dengan kerumunan manusia itu
Rada bingung juga kenapa ya masuk saja pakai tiket masuk, mahal pula, Rp 20.000,-/ orang. Lalu, sebagai ganti uang itu kita mendapatkan kartu magnetic untuk diserahkan di pintu masuk, plus selembar kertas yang ada tulisan KUPON.
Sejak saya mengerti apa arti KUPON, maka ketika KUPON ada di tangan, tentu yang saya bayangkan adalah bisa membeli sesuatu dengan harga spesial. Apakah betul begitu? Ya, itu mah cuma di mimpi saja rupanya. Harga yang tertera di kupon itu, menurut saya sama saja dengan ‘menipu’, maaf! Kenapa begitu? Yah, karena harga yang di sana emang harga barang sih, tanpa ada potongan sama sekali. Entahlah, apakah jika pembelian dilakukan tanpa kupon, maka harganya akan menjadi lebih mahal??? Jika ya, pantaslah itu disebut kupon. Sayangnya, ketika berbelanja, saya serahkan tugas itu kepada suami, karena saya kuatir nanti kelepasan omong sama pedagangnya
Lalu, ada apa di dalam PRJ? Menurut pengamatan saya, isinya ya pameran-pameran doang ya? Atau saya kurang luas dalam menjelajahi setiap sudut dari lokasi PRJ? Entahlah! Saya juga rada bingung ketika melihat serombongan anak kecil yang sepertinya dikoordinir oleh pihak sekolah untuk mengunjungi PRJ, emangnya anak-anak bisa lihat apa di sana yah???
Apakah harga barang jauh lebih murah di PRJ? Pengalaman kami sihberbeda, karena ketika seorang teman hendak membeli handphone yang dari luar kami sudah cek harganya, di dalam sana ya segitu juga harganya, eh tapi ada bonusnya ding, bonus ketawa! Haahaha …. Begini ceritanya.
TS (temen saya) : mba, ada S*msung G*alaxy Mini, ga?
SPG: ada mas … ini … *sambil diangsurkannya satu unit ke hadapan TS*
TS: bisa GPS kan mba?
SPG: bisa, mas! *yakin!*
TS: pake pulsa ga nih klo akses GPS?
SPG: iya mas, ada pulsa GPS *gubrak*
TS: apa mba? pulsa GPS? mahal dong …
SPG: iya mas, pulsa GPS.
TS: klo ga pake pulsa, emang ga bisa ya mba? *penasaran*
SPG: ga bisa mas. emang gitu dari sononya.
TS: tapi kok ini temen saya pake dan katanya ga pake pulsa sih? yang bener yang mana nih, saya beli 1 lho klo beneran ga pake pulsa untuk GPS nya.
SPG: aduh mas, dari tadi kan saya sudah bilang, untuk GPS juga pake pulsa. *mulai sewot*
TS: ya udah deh, ga jadi aja, soalnya maunya GPS nya yang ga pake pulsa mba *ngeloyor pergi*
Di luar kami ngakak sampai keluar air mata, masalahnya seharian pakai GPS sementara pulsa di HP itu Rp 0,-. doh, itu dapat SPG dari mana yak, kasihan deh produk itu yang nawarin malah ga ada ilmunya.
Kejadian kedua di counter media cetak yang nawarin paket berlangganan berhadiah. Ceritanya, suami dan teman saya kompakan untuk mendapatkan sepeda dan yang berlangganan koran adalah kantor istrinya. Negosiasi yang terjadi kira-kira sebagai berikut. O ya, teman saya ini sudah lihai karena dia sudah berhasil kecele ketika mendapatkan hadiah satu unit sepeda yang tidak sesuai dengan yang di brosur, berhubung diantar ke rumah hadiahnya, maka sulit untuk komplen, sehingga kali ini dia mau mencoba peruntungan lagi di tempat, yang katanya berlangganan di situ langsung bisa bawa sepedanya.
TS: Saya mau ambil yang paket C tapi mau hadiah yang ada di paket D, boleh ga?
SPG: boleh, asal ambil 2.
TS: iya, saya emang mau ambil 2 kok.
SPG: ya udah klo gitu. *transaksi pun berlangsung*
Temen saya langsung dengan senang menjajal sepeda yang diberikan sebagai hadiah, tetapi ketika dia mau ambil sepeda yang ke-2 langsung dihadang oleh petugasnya.
SPG: Pak, sepedanya cuma 1.
TS: Lho? Tadi katanya dapat 2, gimana sih?
SPG: iya, langganannya 2, tapi sepedanya cuma 1 dong.
TS: kok bisa gitu?? Klo langganan 2, ya sepedanya juga 2 dong, gimana sih ?
SPG : Kalau mau dapat 2 sepeda, barangnya bukan yang itu pak.
TS: Hlo? tadi katanya bisa *mulai sewot*
SPG: bisa, kalau bapak berlangganan 2.
Rupanya terjadi kesalah-pahaman di antara mereka. Ketika SPG berkata “boleh jika ambil 2″ maksudnya dapat 1 sepeda dengan berlangganan 2. Sementara pesan yang ditangkap teman saya, boleh dapat hadiah sepeda yang dimaksud jika sekaligus berlangganan 2. Hahahaha …. masih sama-sama pakai bahasa Indonesia saja, bisa salpeng gitu yah hihihi
Eh iya, saya juga ketipu, untungnya barang murah. Saya beli peniti yang lagi trend itu lho, yang ada batu-batunya. Yang biasa saya beli lima ribu 1pc, kok di sana diletakkan dalam 1 kotak isi 3 peniti = 5.000. siapa yang tidak tergiur coba? Saya kan masih normal, sehingga dengan serta merta berpindah tanganlah uang selembar 5.000 dari dompet saya ke laci penjualnya
Begitu saya coba itu peniti, ampuuuun dah, ternyata kualitasnya jauhhh, masak sih penitinya bisa meleot gitu, beda banget dengan yang 5rb / pc itu. Walaahh …. ketepu dah saya!
Sebelum maghrib datang, kami putuskan untuk meninggalkan PRJ. Tak ada gunanya berlama-lama deh di sana. Wong mau beli apa-apa saja mahal rek. Jika bukan karena mertua, tak mungkin saya ke sana, seperti tahun-tahun yang lalu, PRJ selalu berlalu begitu saja. Sampai saat ini saya masih belum habis pikir, apa ya yang membuat orang berduyun-duyun ke sana? Apakah temans blogger ada yang sudah berkunjung ke sana?