Lihatlah foto di bawah ini. Ada empat bocil yang sedang menikmati semangkuk mie ayam di sebuah kedai. Mereka pun makan dengan santun, nyaris tak bersuara. Mereka mengobrol tapi dengan suara pelan, dan kelihatan sangat menikmati sekali sendok demi sendok mie ayam yang mereka masukkan ke mulut masing-masing.
Kenapa mereka menarik perhatian saya? Tentu ada sebabnya dong
Pertama, mereka berempat berambut panjang, persis seperti saya dulu, tidak pernah merasakan rambut pendek, karena kami anak perempuan adalah korban obsesi orang tua, terutama Bapak. Saya takkan mungkin bisa lupa, ketika didiamkan Bapak setelah rambut saya dibabat habis, padahal itupun ada sebabnya, yaitu karena rambut panjang saya sudah menipis gegara tipus yang menyerang. Rambut panjang itu tak mungkin dibiarkan, karena memang akar rambut yang sudah tidak kuat, sehingga bisa menyebabkan botak jika tetap mempertahankan panjangnya. Sehari lumayanlah didiamkan
Kedua, keberanian mereka makan di tempat, yang mana tidak pernah saya lakukan ketika masih seumuran mereka dulu. Di samping itu, di Medan dulu memang tidak lazim sih anak-anak makan di kedai, kecuali datang bersama orang tua / dewasa. Sepertinya anak-anak jaman sekarang, sudah biasa banget masuk ke gerai fastfood dan memilih makanan yang mereka sukai, dan melahap makanan mereka layaknya orang dewasa melakukannya. Ckckck ..Atau jangan-jangan ada juga yang sudah mulai berani serombongan datang ke kafe? Hehehe … hebatlah anak-anak sekarang
Bicara tentang kehebatan anak-anak sekarang, tentu sudah tidak diragukan lagi. Di sini, di warnet ini, ada sekitar 10% dari seluruh pelanggan yang usianya kisaran 5-6tahun. Bayangkan! Anak sekecil itu udah bisa dan diijinkan pula oleh orang tuanya untuk nge-net. Aturan tertulis yang kami buat bahwa anak kecil tidak boleh masuk warnet, terpaksa dipatahkan oleh para orang tua yang memang sengaja nenteng anaknya ke warnet. Mereka asyik nge-net dan anak di sebelah juga ikut maen game on line.
Warnet di sini juga hampir mirip tempat penitipan anak, karena tak jarang, ibu-ibu yang mau pergi entah kemana, sengaja menitipkan anaknya, 2-3jam, langsung membelikan billing untuk 2-3jam itu, tentu saja dibekali juga uang jajan, agar tidak cuma kebagian nelen air liur jika melihat bilik sebelah jajan terus
Tak jarang juga, nenek/kakek yang menitipkan cucunya, karena mereka mau pergi berobat, caranya pun sama, dibelikan billing untuk1-2jam, nanti dijemput sekembalinya mereka berobat.
Benang merahnya adalah, saya jadi menghitung, berapa sih uang jajan yang di-budgetkan para orang tua untuk anak-anak mereka? Saya bertanya demikian, karena keponakan saya, si abang dan si dede itu cuma diberi uang jajan Rp 2,000,- setiap mereka berangkat sekolah. Apakah setelah di rumah masih dapat jatah uang jajan? Tentu saja tidak! Kecuali, ada tante/om/mama nya di rumah, baru deh bisa jajan, semangkuk baso yang lewat, misalnya. Atau jika tantenya ini sedang berbaik hati,s engaja datang ke rumahnya dengan menenteng beragam jajanan kecil di dalam kantong plastik.
Saya juga sering terkesima, ketika melihat anak-anak yang bisa membeli vocer game on line sampai ratusan ribu rupiah. Sering saya dengan nada menuduh apakah mereka mencuri uang tersebut, tetapi jawabannya TIDAK, mereka mendapatkannya dari orang tua, om, tante, nenek, uwak dan lain sebagainya. Kemudian saya membandingkannya dengan keponakan saya sendiri, yang jika menerima uang dari mana pun, pasti langsung digiring ke celengan agar menabungkan uang mereka di sana,bukan membelanjakannya.
Pernah seorang ibu datang membeli sendiri vocer game on line dalam nominal yang lumayan menurut saya, saya memang kurang kerjaan sehingga saya menanyai ibu itu, buat siapa vocer nya? Buat anak saya, begitu katanya, jika tak dibelikan,nanti anaknya ngambek dan tidak mau belajar. What????????? Jadi masih kecil sudah bisa mengancam orang tua yah? Hmm … Tentu tidak begitu reaksi saya ketika berhadapan dengan si ibu, melainkan saya berkata: beruntung sekali anak Ibu punya orang tua seperti itu
Memang saya belum punya anak, tetapi setidaknya pada ponakan pun saya membuat sistem reward dan punishment. Tidak ada yang gratis! Jika mau bermain game, bayarlah dengan belajar dengan jumlah waktu yang sama, harus berbanding lurus. Jika tak mau, ya sudah, menangislah kau sana, saya takkan dengar. Jika nilai bagus, boleh meminta sesuatu, dan range-nya tentu sudah ditentukan, tapi jika nilai jelek berarti no game on line at all! Bisa jadi cara saya belum tepat, sehingga saya ingin tahu dari temans blogger yang sudah punya putra/i, bagaimanakah sistem reward/punishment yang kalian terapkan untuk anak-anak di rumah? Bagaimana pula dengan jumlah uang jajan, serta penggunaannya? Bebas bertanggung jawab? Atau bebas sesuka hati mereka, toh itu sudah jadi jatah jajan mereka? Please share, thank you:)
setuju dg reward dan punishment. tapi jamanku dulu juga mana berani jajan ke kedai sendirian atau sama temen2. lebih banyak sama ortu deh kalo makan di luar.
fanny recently posted… » THE VALLEY OF SORROW
hmmmmm,menakutkan,…
orangtua skrg maunya instan, g mw repot,masa bodo…
smg ktika saatnya tiba, kita mjd orgtua yg lebih baik
citra w hapsari recently posted… » Hanya untuk hari ini
keren ya mbak blognya.. salam kenal n’ tetap semangat…
MentariWeb recently posted… » MentariWebcom
Hehe,belum punya anak aku sobbb
hhmm..aku blom punya anak mbak, tapi aku punya adek yg berusia 10 taun..wuihh jajannya ampun deh, kesekolah 6 ribu (sebagian ditabung) trus ntar siang kalo dia pergi ngaji dikasi lagi 2rb..
bandingin,aku aja dulu waktu sma cuma jajan 3000 sehari..
heuheu…jadi inget zaman dulu aku dikasih uang jajan 100 perak sama mamah
Orin recently posted… » Dear Pals…
Asslm Mba Nique…
wah.. hehehe… anakku msh kecil sih Mba.. tapi aku liat adikku aja…
adikku dua, laki2, sifat & temperamen kayak kutub utara & selatan…
penanganannya oleh Mama pun beda2…
satu adikku penurut, nggak macem2.. lurus2 aja…
satu dituruti agar mau belajar… misalkan games2 tadi.. sambil sedikit2 dicuci otaknya, pelan pelaaan sekali… krn klo dibiarkan menangis dipojok, dikerasin, ada bbrp anak yg malah berontak… dan ujung2nya narkoba…
tentu bukan salah orangtua saya dlm pengasuhan, krn kami bertiga memiliki orangtua yg sama, namun krn sudah ujian dari Yg Diatas, sifat anak akan berbeda2… dan penanganannya pun beda2… alhamdulillah adik saya itu skrg udah jauh lebih dewasa…
just sharing Mba…
Lyliana Thia recently posted… » Review Buku- The Lost Symbol
tidak semua anak bisa dibuat sistem reward and punishment. Metode ini hanya cocok untuk Nafis saja, sedangkan untuk si kakak dan si bungsu menggunakan sistem yg sedikit berbeda. Metode untuk anak2 harus dilihat juga karakter mereka. Yang penting kita bisa memotivasi mereka untuk bisa mengembangkan potensi yang ada di dalam diri mereka. Sedangkan untuk uang jajan, kita memberikan sesuai dengan kebutuhan aja.
Necky recently posted… » Blogger & Positive Attitude
Kalo saya dulu waktu SMP uang jajannya cuma 5rb, itupun mesti dipotong 2rb buat naik angkot

Jadi ya 3rb cuma bisa dipake buat beli kue 2 biji + es lilin 1
Tapi bener sih, anak2 jaman sekarang uang jajannya gede2, gak kayak jaman dulu
Zippy recently posted… » Mahasiswa Aktif dan Kreatif
“sehingga saya ingin tahu dari temans blogger yang sudah punya putra/i, bagaimanakah sistem reward/punishment yang kalian terapkan untuk anak-anak di rumah?”
Walah… Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab karena belum punya anaaakkk…
Tetapi betul juga ya. Anak sekarang memang tampak lebih berani dan biasa jalan sendiri atau dengan teman-temannya meski usia dini. Mungkin atmosfer pergaulan juga yang memungkinkan hal-hal seperti itu menjadi hal yang lumrah. Media dan fasilitas pun menjadi penyokong atas habit semacam itu. Ya nggak buruk-buruk amat sih. Sejauh bisa membentuk karakter kemandirian pada si anak. Meski yang harus dikedepankan tentu soal uang jajan. Karena bagaimana pun ia belum lagi bisa mencari uang sendiri alias sumber uangnya masih dari orangtuanya. Lagi-lagi orangtua?
Ya mau bagaimana lagi. Lingkaran itu kan nggak semata dan selesai pada anaknya saja. Orangtua, lingkungan, pendidikan saling berkelindan dalam hal ini.
DM recently posted… » Potala
Mbaaak Nik! message ku udah kebaca kan yah?
*gak yakin, hehehehehe
ngomongin soal Reward dan punishment, jadi katanya punishment itu lebih baik dikurangi mbak, lebih baik menggunakan Reward demi mengurangi tindakan yang tidak diinginkan.
karena, reward jauh lebih efektif mbak.
eh tapi ini menurut teori yang aku pelajari yah mbak. belon ada kesempatan mempraktekkannya. hihihihihihi..
ais ariani recently posted… » dulu namanya apa
Betul juga yah, berapa duit jajannya anak2 sekarang..? Jadi ngeri membayangkan kalo punya anak banyak…
zaman sekarng semakin canggih,, anak2 udah diberi kebebasan memilih ..
heheh qu belom punya anak,, tapi melihat adekku yg udah punya anak berumur 5 th, ketika ibunya gk nurutin keinginan anak, ayahnya yg nuruti dg alasan nyari duit buat siapa kalo bukan buat anak .. hehehe
reward and punishment sering diterapkan bapakku dulu.. efektif jg sih..
saya emang suka gak abis pikir betapa gampangnya mereka ngabisin duit ratusan ribu cuma buat beli muka, beli baju sama rambut di Ayodance. Apalagi PB, Lyto, fiuhhhh.
Jaman saya dulu mah beli es sama roti sepotong aja udah seneng banget
indobrad recently posted… » The ‘Killer’ Teacher
Masalah uang jajan untuk anak, terus terangsaya memang agak sedikit ketat soal ini. Tak lebih dari 3ribu rupiah, dan itupun benar2 dihabiskan didepan mata saya. Bukan melepasnya dan membiarkannya membeli apapun yang menurut saya belum pantas, terlebih lagi ke Warnet. (Untungnya putraku belum tahu menahu soal Warnet
)
Kaget recently posted… » Satu Jam- Satu Post
Dulu waktu kecil saya nggak pernah dikasih sangu sama ortu saya, soalnya pulang pergi dijemput, terus gak boleh makan makanan sembarangan, hahaha, jadi setelah punya duit itu kaya’ sebuah balas dendam xD *alasan lapar mata*
Fenty recently posted… » Lapar mata
Kami memberikan uang jajan sesuai kebutuhan. Reward dan punishment memang diperlukan untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab. Beri uang jajan lebih? Gak lah yawww…karena duit gak metik dari pohon, coy.
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
Hmm.. Lebay juga orang tua masa kini yang ngasi uang jajan segitu banyaknya ya..
Tapi yg bikin pusing, ada keponakan saya yg sering minta uang Rp 2000 buat main PS di rmh tetangga. Trus kalo gak dikasi, ngamuk stengah mati sampai2 ngamburin isi kamar
anak-anak sekarang emang keren… kalah para orangtua… tapi bandelnya juga nggak tanggung-tanggung. Makin berani…
rave recently posted… » Untuk 31 Mei 2011
enak ya jadi anak jaman sekarang…
tpi sya tak menyesal dilahirkan lebih awal dari mereka toh saya dulu juga merasakan kebahagian yang mungkin tidak didapat pada anak2 sekarng:p
ude baha recently posted… » Final Liga Champions 2011 Stop Caci Maki
wah kalo jaman saya dulu uang jajan mash dikit banget
lah kalo dibandingin sama anak jaman sekarang ya kalah jauh
apalagi sampe dibela-belain beli voucher game untuk anaknya
ckck
@helgaindra recently posted… » Sekilas Sepakbola
Saleum
sebisa mungkin saya sesuaikan dengan kebutuhan dan pertumbuhan anak mbak, gak lebih gak kurang, insya Allah, anak saya menerima semua itu dengan lapang dada,
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Mencari Perhatian Ala Pin Tail
Kalau saya, memberi uang jajan sesuai dengan tingkatan umur anak saya.
Yang sulung saya berikan seminggu sekali. Jumlahnya sudah kami sepakati sebelumnya dengan menghitung kebutuhan pokoknya selama seminggu, seperti makan di kantin sekolah, pulsa, dsb. Dengan memberi perminggu itu, kami berharap ia dapat belajar bagaimana cara memenej uang yang dimilikinya dan bahkan kalau bisa ia memiliki saldo di akhir minggu untuk ditabungkan..
Kalau untuk adik-adiknya, masih kami beri perhari, dan tentu tidak banyak, yakni tidak lebih dari Rp. 5.000 per hari.
Reward dan Punishment bisa diterapkan jika ortu dapat memberi tauladan kepada anak-anaknya. Misalkan, jika punya uang lebih, ya ditabung, jangan asal beli yang tidak karuan dan tidak terencana…
wah, kalau menurut saya, perilaku orang tua menitipkan anak dibawah usia 12 tahun ke warnet merupakan perbuatan nekad. TITIK
jarwadi recently posted… » Yogyakarta- Segera Berlakukan e KTP
UAng jajan tetap harus dibatasi, dan usia tertentu tidak diperbolehkan jajan sendiri atau makanan atau jajan yg dibeli termasuk yg sudah masuk list diperbolehkan oleh ortu.lbh baik lagi semua makanan yg disukai si anak ortu yg membelikan, krn skr byk beredar makanan tdk sehat utk anak2
aan recently posted… » Ketika Penyedia Produk Selalu Menjadi Tertuduh
saya belum punya anak juga. Tapi kalo udah punya, terus anaknya jajan ke warung mie ayam harus sama saya. enak aja makan sendirian,saya ga diajak. hihihi
saya belum punya anak mbak, dan kelak kalau punya, anak saya kalau ngenet musti bareng ortunya
biar bisa diawasi
r10 recently posted… » Hati-Hati Pasang Foto Di Jejaring So Sial
hohoho saya masih minta uang jajan dari emak,ckikik
Uang jajan yang saya berikan ke anak saya juga sesuai umur, niQue…biasanya sih dibawah rata-rata uang jajan anak sekelas…hehe, apa itu artinya nggak sayang sama anak?
Oho, justru karena sayang, kita nggak mau anak jadi meremehkan uang. Bener kan?
Memeberi anak kebebasan dan kegembiraan itu tidak harus berupa materi atau hal-hal yang berbau kesenangan. Bukan apa-apa, dia juga harus dikenalkan kepantasan dan tanggung jawab untuk masa depannya nanti. Memang tidak gampang, tapi bukankah kita bisa belajar dari lingkungan, anak seperti apa yang biasanya berhasil di masa depan…
*komen saya kok puuaannjaang banget to*
kalo gw dulu agak beda dididik nya. jadi gw ngak di kenal kan ama video game. hmmm emang beda sendiri gw. jadi gw di kasi segala macam peralatan olahraga, sepeda dan lain lain. tapi tidak game. karna ortu masi berpikir game nga ada gunanya.
bayu recently posted… » Hangover Part 2 dan makan di Lazy Dog Cafe
sampe sekarang sih kita belum ngasih uang jajan rutin ke andrew. tapi once in a while emang kita suruh andrew beli makan di sekolah. tapi kalo disini harga makanan di kantin udah fixed sih. jadi kalo emang mau beli lunch di sekolah ya $1. udah pasti.
dan gak ada tukang jualan/jajanan di sekolah. jadi yah kalo dikasih uang juga gak bisa beli apa2. huahahaha.
untuk beli2 mainan sih tergantung sikon. ada kalanya emang sebagai reward. tapi ada kalanya ya kita emang beliin aja. kalo terlalu strict apa2 harus jadi reward kok rasanya kasian juga anaknya ya. tapi ya kita terapkan aja bukan berarti tiap kali kita ke mal dia harus beli sesuatu.
arman recently posted… » Bulan Mei Ini
Saya belum punya anak Mbak, hehe..
Tapi secara imajiner, Insya Allah saya akan mencari jalan keluar yang lebih manis daripada harus selalu memanjakannya dengan materi.
Salam ronda Mbak niQue..
Sistem reward/punishment terhadap anak-anak, baru saya lakukan ketika bulan puasa, dihitung dari jumlah hari puasanya x Rp 10.000.
Uang jajan untuk anak yg kls 6 ke sekolah Rp 7.500, di rumah lain lagi bolak-balik 1.000 atau 2.000.
Untuk anak yg kelas 1 Rp 4.000, waktu istirahat diantar makanan.Sampai di rumah juga begitu bolak-balik 1.000 atau 2.000. Keduanya naik mobil jemputan. Bahkan keduanya ketika di rumah kadang minta ketoprak/bakso/mie ayam/somai.
kalau sy dulu cuma dikasi buat ongkos sm jajan sekedarnya itu juga kadang sy g jajan n malah menabungkannya untuk beli kaset musik
loh sama aja wakaka
saat SD uang jajanku 200 rupiah, pas SMP 1 ribu, SMK 3 Ribu: buat naik angkot PP 2 ribu sisanya buat makan, hehe..
*curcol
tunsa recently posted… » Apakah Anda Orang Yang Sibuk
pascal baru 5 thn ga ada uang jajan. ga pernah ke warnet kalau main game dirumah supaya bisa diawasi
Pingback: Penghargaan untuk Sahabat « Batavusqu
anak2ku bru 5,5 dan 3,5 thn.
dah tau jajan gr2 kakek nenekx yg
ngebiasain. tpi cm skali2 sj.
hmm, siap2 nih, saat mreka smkin besar
dan mlai nglirik tman2x
yg rata2 dmanjain brlebihan dgn uang jajan
fantastis untk seumuran mreka.
salam hangat
Soal rambut panjang, saya nggak pernah ngerasain, Mbak dari kecil.
Soal reward and punishment, susah juga ya. Soalnya kalo anak ngambek, orang tua cari gampangnya aja: biar diem, turutin aja deh keinginannya.
Saya sendiri, entahlah. Belom punya anak sih. *sedih*
Jaman saya kecil malah jarang dapat uang jajan. Soal anak, keknya belum bisa jajan sendiri. Masih sama mamanya terus.
alamendah recently posted… » Mars dan Hymne Jambore Nasional IX 2011
Aku belum memberikan uang saku pada Riku. Selama ini kalau dia mau dia minta, baru kami pikirkan utk kabulkan atau tidak. Tapi sedikit demi sedikit aku ajarkan dia bahwa uang hrs didapat dgn bekerja. Dulu pernah dia mau membeli sesuatu, dan aku bilang, “Buang sampah 1 x 5 yen” Jadi dia rajin … untuk 2-3 kali saja
Tapi dia memang harus melakukan sesuatu utk bisa mendapatkan uang/barang keinginannya. Termasuk dgn “puasa” jajan
Aku sendiri baru terima uang saku wkt SMA, karena harus praktikum dan pulang sendiri. s/d SMP ada antar jemput dan bawa bekal, sehingga tidak perlu uang saku.
Uang itu susah didapat, bukan petik dari pohon. Dan itu perlu diketahui anak-anak sejak kecil. Harus jaga barang, tidak buang barang juga termasuk menghargai uang itu.
EM <<mama yang galak
Ikkyu_san recently posted… » 30 orang 31 kaki
Alhamdulillah sih anak2 saya masih bisa diatur kalo soal jajan.
sehari-hari saya hanya ngasih Rp. 2000 buat ke sekolah.
itu thok, meski sesekali juga si sulung saya ajak ke warung dan persilakan mau ambil apa.
tapi biasanya dia juga ngambil seperlunya, bahkan kadang saya yang ngomong : itu sudah cukup ? ambil lagi sanah..
dulu pas SD saya juga dikasih uang jajan kalau sekolah aja, kalau dirumah ya lebih baik makan karena lebih sehat kata mama.
eh tapi saya kenal seorang teman yang bebas bange mau maen game on line selama apapun dan berapapun dengan alasan mamanya gg bakal marah selama nilainya gg turun dan dia ini salah satu penghuni tetap 5 besar dikelas :O
Tiara Putri recently posted… » Train Your Train System
Dua orang anakku yang di SD, beda-beda jajannya.
Yang kelas satu Rp 1000, yang kelas V, Rp 2000.
Nggak banyak dikasih jajan, karena mereka bawa bekal dari rumah. Uang jajan dikasih buat pegangan kalau minuman habis atau mereka pengen ngemil
di rumah sudah nggak jajan lagi.
Kenapa nggak dikasih jajan banyak? saya bilang ke anak-anak, biar kita bisa nabung dan punya duit terus, hehehe.
Cara jitu buat anak-anak yang pengen orangtuanya punya duit terus.
IndahJuli recently posted… » Bekam
zaman sudah berubah….
anak kecil bisa ditemukan di banyak tempat yang tak terduga… di tower BTS misalnya
jadi Niq…
ente di medan juga?
wadhuh, sama dong dengan anak2ku..
sedj
Belum punya anak, jadi kurang tahu.
Tapi saya sih ga heran dengan kelakuan anak jaman sekarang.
Dulu saya sekolah di daerah Menteng, Jakarta. Waktu SD aja saya udah nongkrong di Grand Indonesia bareng teman-teman tanpa ditemani orang tua. Nah apalagi anak jaman 2011
Saya punya sepupu masih kelas 2 SD, jajannya sehari bisa sampai 5.000, hmm itu sama aja kayak uang jajan saya waktu SMA. Hehehe.
Sya recently posted… » Jangan Jadi Egois dengan Merokok!
karena anak2 bunda dah besar2 keduanya biasa bunda berikan uang jajan bulanan sekalian utk bayar kost dan foto copi,itupun hanya utk si bungsu, krn si abang alhamdulillah, sudah bergaji.
sewaktu mereka masih kecil, warnet msh jarang, jadi mereka banyak main dirumah, membaca atau sesekali bersepeda dgn teman2nya , ada juga sih mereka main Atari waktu itu PS masih mahal harganya, dan itu dirumah juga.
Bingung juga ya Nik, jadi ortu jaman sekarang banyak tantangannya.
Semoga anak2 ini gak sekedar main inet saja, namun ortu nya juga bisa menerapkan reward en punishment dgn layak ,dan anak2 ini ber inet ria sambil menambah ilmu , semoga.
salam
bundadontworry recently posted… » Grooming Anda Adalah Segalanya
Wah msh belum px anak sih kak hehe..tpi ad se2orng bilang boleh qt memberi reward pd mreka asalkan terlalu ‘wah’ hnya sbtas motivasi untk smgat belajar aja..
Benar. .
Memberi reward merupakan solusi mendidik anak sesuai hobi ..
ada-akbar.com recently posted… » Saatnya Menghemat Listrik
Wah anakku belum bisa jajan sendiri hehehe tapi pengalamanku dulu waktu kecil, mama selalu ngasi uang jajan ngepas meski Papa (alm) selalu ngasih lebihnya hehehe..
DV recently posted… » Pencuri kemuliaan
aduuh, anak sekarang emang gitu, uang jajannya bisa seabrek,, nda tau karena orang tuanya yang sengaja atau gimana.
Saya malah jadi lebih mikir, gimana suatu saat nanti ya kalau saya jadi ortu, jika melihat uang jajan anak2 skarang saja sudah segitu, fuuh,, harus lebih giat bekerja nih..
Mabruri recently posted… » Asal-usul Sirampog