Simpati pada si “Lemah”?

Sepertinya satu postingan sambung menyambung dari Om NH ke Mba Imelda, dan sekarang giliran saya yang mengutip postingan Mba Imelda, tetapi berbeda topik. Inilah cuplikannya :)

“Dan … saat itu papa melihat! Seorang pemuda meraba-raba p*nt*t pemudi, padahal si pemudi tidak suka. Papa tegur pemuda itu, dan untung pemuda itu tidak belagu, meskipun juga tidak meminta maaf. Untung pemuda itu tidak memukul papa, dan tidak menjadi keributan di sana.”

Kenangan masa lalunya Mba Imelda, mengingatkan saya pada satu insiden yang saya alami sendiri, yang menurut saya ini sih sudah pelecehan seksual yah?! Saya salut dengan respon Papanya Mba Imelda yang walaupun yang menjadi korban bukan anaknya, tapi langsung bereaksi seolah-olah yang diperlakukan tidak senonoh itu adalah anaknya sendiri. Berbeda dengan yang saya alami di satu ketika beberapa tahun yang lalu.

Ketika itu sudah lewat Maghrib, saya baru sampai di terminal dan mau naik angkot pulang ke rumah bersama seorang teman perempuan. Saya berpakaian yang sopan, rok lebar di bawah lutut dan blazer yang tertutup rapat. Dalam gelap kami melenggang santai sambil mengobrol, dan berpapasan dengan seorang laki-laki  ………. saya berteriak kaget, karena laki-laki itu menjawil ‘saya’, tentu bukan pipi atau pundak saya yang dijawil. Kemudian dia berlalu seolah tidak melakukan apa-apa, tapi karena dia satu-satunya laki-laki yang berpapasan dengan kami, maka saya yakin dialah pelakunya.

Refleks saya berbalik, langsung menitipkan tas pada teman itu  dan mengejar laki-laki itu … buk! Kepalanya saya hantam pakai hak sepatu 7cm itu. Dia mengaduh, teriak-teriak bertanya ada apa! Tapi saya tidak gentar, karena haqqul yaqin dialah pelakunya. Saya mau geret dia ke kantor polisi tetapi akhirnya tarik-tarikan sampai kemudian dia terpojok hampir masuk got, dan berpegangan kuat pada sepotong kayu. Penuh emosi saya hajar terus, entah dari mana kekuatan itu datang, padahal kalau dari fisik jelas laki-laki itu bisa melawan saya hanya sekali kibas. Apakah dia menikmati amukan saya??? Atau dia sudah terbiasa berakting lemah, dan yakin akan dibela oleh orang banyak yang sudah mengelilingi kami saat itu?

Tangis saya baru pecah ketika seorang Bapak yang menghampiri malah berkomentar begini.

“ini perempuan ganas bener! sama orang laki kasar sekali.”

“apakah Bapak tahu apa yang dia lakukan pada saya?” sudah histeris saya.

“emang diapain? ga diapa-apain kan? Buktinya bisa mukulin orang begitu?”

“tanyakan pada orang ini,kenapa dia saya pukuli.”

Laki-laki itu bilang, saya cuma nowel ‘itu’nya kok. Plak! Sekali lagi saya tampar mulutnya. Dan bapak itu?

“halah … digituin doang …”

“Apa???? Jadi kalau anak gadis bapak yang digituin, bapak akan terima. Apakah harus diperkosa orang dulu baru orang-orang mau bersimpati??? dan bilang kasihan???” masih berderai airmata saya melangkah pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang cuma menonton. Entah apa yang di kepala mereka semua, tapi gara-gara saya adu-mulut sama Bapak itu, laki-laki itu kabur entah ke mana. Tinggal saya yang lemas, sedih tak terkira, karena merasa dipersalahkan padahal saya merasa sebagai korban. Saya kok tidak yakin, ada orang tua yang bisa terima jika anak gadisnya dibegitukan orang.

Terbukti, begitu sampai di rumah, melihat saya yang kusut masai, pertama Bapak mengira saya ‘dikerjain’ orang. Langsung mengutus adik laki-laki dan mamak yang mendatangi TKP, pastinya mencari bapak-bapak yang tidak bersikap sebagai orang tua. Bagusnya tidak ketemu, karena jika ketemu saya malah yakin urusan menjadi panjang.

Sejak itu, saya selalu ingatkan diri untuk tidak pernah berharap pada pertolongan manusia. Apalagi persepsi setiap orang pasti berbeda dalam memandang satu kasus yang sama sekalipun. Dan seringnya, orang-orang lebih bersimpati pada seseorang yang diposisikan lemah, seperti laki-laki yang saya hajar itu.

Pernah saya membaca entah di mana kasus towel menowel seperti ini, tapi yang disalahkan lagi-lagi perempuannya. Yang pakaiannyalah mengundang hasrat, yang kenapalah keluar malam-malam, yang ini lah yang itu lah … padahal, kalau laki-laki sang pelaku tidak beraksi towel menowel, pasti tidak ada masalah ‘kan??? Itu sebab pada awal tulisan ini sudah saya tegaskan model pakaian saya seperti apa, sehingga menurut saya sangat tidak pantas saya diperlakukan demikian. Sampai sekarangpun, jika mengingat insiden itu, darah ini masih menggelegak, padahal sudah bukan darah muda lagi lho … :D

Semoga di antara temans sekalian tidak ada yang pernah mengalami pelecehan seksual seperti itu yaaa …. :)

gambar dari sini

27 thoughts on “Simpati pada si “Lemah”?

  1. Kalo udah bejad mah ya bejad aja. Pelecehan jelas tindakan yang menunjukkan moral siapa pelakunya. Lha, wong anggota yang terhormat yang dipanggil ustad aja bisa berprilaku tidak senonoh. Namanya juga manusia: ada sifat malaikat, ada perilaku binatang juga. Gimana mempergunakan akal waras aja, coy….

    ok coy … jangan emosi ya coy :D

    Alris recently posted… » Terdamparku Disini

  2. Sudah baca tulisan di atas kali pertama di-posting, tetapi baru bisa datang dan berkomentar saat ini. Maafkan.

    Dan ya, sikap si bapak tersebut sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang lelaki. Dan sepertinya ada banyak sekali bapak-banyak lainnya seperti si bapak itu di luaran sana. Yang melihat persoalan hanya dari segi praktisnya saja.

    Ada baiknya juga pengalaman-pengalaman semacam itu dituliskan seperti ini. Paling tidak efeknya bisa memberikan pencerahan bagi pembaca dalam mengambil sikap dan melihat dengan sudut pandang yang fair ketika mendapati kejadian semacam itu. Karena kita toh nggak pernah bisa menjami kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang lagi kan. Minimal kita masih bisa berseru-seru, melalui tulisan.

    ealah … dimaafkan. kok yakin saya tungguin komentarnya? :P

  3. aarrrgghhh……….. :evil:
    itu jelas bukan kelakuan laki2 sejati
    itu kelakuan laki2 pengecut !!
    dan si bapak yg berkata,” ah, cuma digituin aja kok” adalah sebuah contoh kebobrokan moral yg tak tanggung2, tak punya pikiran, seandainya anak perempuannya yg dilecehkan, apakah dia akan berkata seperti itu juga?
    Bunda paling benci dgn laki2 macam begini, dan mereka seharusnya diberi pelajaran yg takkan mereka lupakan seumur hidup :evil:
    salam
    bundadontworry recently posted… » Grooming Anda Adalah Segalanya

  4. Alhamdulillah, meski dulu waktu kerja sering pulang malam, belum pernah diperlakukan tak senonoh.
    Orang-orang yang bertabiat seperti itu bukan laki-laki sejati.
    Perempuan harus berani seperti Niq kalau diperlakukan tak baik.
    IndahJuli recently posted… » Bekam

  5. Saya koq tiba-tiba merasa emosi juga ya membaca reaksi si bapak itu..

    coba kalo dibalik, anak gadisnya yang digituin orang, apa beneran dia bisa ngomong ” ah, cuma digituin doang ”

    errrr…

  6. Menyalahkan wanita dengan dalih “mereka pakai pakaian minim bikin nafsu” adalah sama sadisnya dengan kita membakar penjual makanan hanya karena kita tak sanggup membelinya di saat lapar…

    can’t agree more, mas Donny :) begitulah, dalam kehidupan ini selalunya ada yang berpikiran picik, seperti membakar penjual makanan di saat lapar, sebuah perumpamaan yang sangat tepat menurut saya :) terima kasih!

    DV recently posted… » Pencuri kemuliaan

  7. Aku pernah mba, pernah ku posting malah kejadiannya :)
    cuma waktu itu gak terlalu aku hiraukan, karena udah magrib dan di pinggir rel kereta, aku langsung pulang aja.
    nyesel sih knpa gak aku lempar tuh anak sekolah ke rel kereta yg udah berani melakukan pelecehan.

  8. Di luar sana …
    di jalanan sana …
    banyak sekali orang yang “sakit” jiwanya …
    Dia itu menurut saya tidak pantas disebut laki-laki …
    laki laki sejati tidak begitu lakunya

    salam saya

  9. kalau demi membela diri sendiri apalagi itu pelecehan seksual gak ada salahnya wanita jadi ganas,saya pun akan begitu.
    dulu waktu kuliah pernah tuh bapak2 menggesek2an Mr.X nya kelengan baju saya ya marah2 lah saya

  10. :( ….
    ceritamu bikin aku ingat pengalaman pribadiku mbak…
    aku pernah mengalaminya juga, waktu itu kelas 1 SMA.. sendirian di jalan yg sangat sepi walau siang hari dan berpapasan dgn sekelompok anak2 cowok and they did “IT” to me too! :(
    ketika aku sampai di rumah aku sangat marah karena aku cm berani membentak,.. gak berani ambil resiko untuk memberi “pelajaran” lebih karena mereka lebih dr 5 org…
    hicks .. pengen rasanya kembali n ngelempar kursi ke mereka ..
    yhosie recently posted… » now!

  11. Nique, aku baca tulisan kamu ini dan aku ingat akan satu cerita. Boleh ya aku copas di sini aja. Sebuah sharing yg kudapat dari milis :)

    Suatu Kebetulan??

    Suatu sore saya berjalan di jalanan yang lampunya tidak begitu terang ketika saya mendengar teriakan yang lirih dari balik semak belukar. Saya terkejut dan memperlambat jalan saya dan mendengarkan suara tersebut dan panik ketika saya mengetahui bahwa suara tersebut tidak salah adalah suara orang sedang menangis panik dan bunyi pakaian dirobek. Hanya beberapa yar dari dimana saya berdiri, seorang perempuan sedang diserang. Apakah saya harus terlibat? Saya khawatir akan keselamatan saya, dan menyumpahi diri saya sendiri yang tiba-tiba memutuskan untuk mengambil rute perjalanan pulang baru pada malam itu.

    Bagaimana kalau saya akan menjadi statistik korban yang baru? Apakah tidak sebaiknya saya berlari ke telepon terdekat dan memanggil polisi?

    Meskipun sepertinya lama, tetapi pergumulan di kepala saya hanya memakan waktu beberapa detik, tetapi tangisan gadis itu semakin menjadi lemah. Saya tahu saya harus bertindak cepat. Bagaimana saya dapat pergi dari ini? Tidak, akhirnya saya memutuskan, saya tidak dapat meninggalkan kejadian tragis yang dialami wanita ini, meskipun itu artinya saya harus mengorbankan diri saya.

    Saya bukan seorang yang berani, atau seorang yang atletis. Saya tidak tahu dimana saya menemukan keberanian dan kekuatan fisik tersebut, tetapi tepat pada saat saya memutuskan untuk menolong gadis tersebut, tiba-tiba saya berubah. Saya berlari dibalik semak-semak dan menarik penyerang wanita tersebut. Bergelut, kami jatuh ke tanah, kami bergelut lagi untuk beberapa menit sampai si penyerang itu tiba-tiba melarikan diri.

    Dengan tersengal-sengal, saya berdiri dan mendekati gadis itu, yang membungkuk dibalik pohon, menangis. Di dalam kegelapan, saya hampir tidak dapat melihat sosoknya, tetapi yang pastinya saya dapat merasakan bahwa dia dalam keadaan shock. Tidak ingin menakuti dia lebih jauh, saya berkata dari jarak jauh.

    “Tidak apa-apa sekarang,” saya berkata menenangkan.” Pria itu telah pergi. Anda aman sekarang”

    Tidak ada suara untuk beberapa saat… dan kemudian saya mendengar suara berbisik dengan kaget.

    “Ayah, apakah itu Anda?”

    Dan kemudian dari balik pohon, muncullah gadis kecil ku, Katherine.

    Anda tidak akan pernah tahu…

    ******************
    EM

    And, it’s not about how the girl dressed up, right? Ketidakberuntungan bisa saja terjadi pada orang terdekat kita, yeah seperti yang dialami Katherine itu … nice share, mba. Tidak ada yang kebetulan, saya percaya setiap cerita yang dibagi dapat memberi penguatan pada yang lain.

    Ikkyu_san recently posted… » 30 orang 31 kaki

    • Saya terkesiap begitu sampai dibagian akhir cerita Mba Imelda…
      bagaimana rasanya bapak itu?
      semoga anak2 laki2 qta dijauhkan dari sifat demikian,.. dan semoga anak2 perempuan qta dijauhkan dari keadaan yg demikian… semoga Tuhan melindungi.. Amin…

      aamiin :)

      Lyliana Thia recently posted… » Kelinciku Oh Kelinciku

    • Saya opernah mengalamai kejadian yang hampir sama namaunpada kasus berbeda.

      Ceritanya saya sedang pulang kerja shift sore, sekitar jam 23:30 malam. DAn jalan yang saya lalui dengan berjalan kaki itu sangat gelap. Kebetulan juga bulan mati, jadi tidak ada penerangan sam sekali.

      Pas saya jalan dan melalui satu titik yang banyak semak belukarnya saya mendengar suara wanita menangis tersedu-sedu (namun tidak ada suara robekan baju). Saat itu saya ragu untuk berhenti mencari tahu ataukah meneruskan perjalanan pulang. Namun naluriku berkatam aklaupun si wanita itu di bawah ancaman dan paksaan pastia akan berteriak saat ada orang (aku) lewat.
      Namun anehnya suara itu malah berhenti dan hilang menjadi keheningan padahal saya tahu ada orang di sekitar sana. Akhirnya perjalanan pulang ku aku teruskan tanpa mencari tahu berasal dari mana sumber usra itu.

      Malah aku pikir itu perbuatan suka sama suka yang tidak punya modal untuk cari penginapan.
      Asem…. !!!
      Sugeng recently posted… » Korban Lagi

  12. Kapok koen !!!
    :lol: rupanya orang itu salah cari mangsa, masa juara karate se bekasi koq di jawil begitu. Hajar terus bu, karena hajaranmu membuat mata mereka bisa melihat keadaan sekeliling ;)

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    No, saya bukan salah seorang yang menguasai bela diri, tetapi semata2 naluri yang saya yakin ada pada setiap orang, hanya saja kadarnya berbeda2. I’m not proud doing that at all! Saya lebih mengharapkan adanya seseorang seperti Papanya Mba Imelda, saya jauh menginginkan laki-lakilah yang melindungi perempuan.

    Sugeng recently posted… » Korban Lagi

  13. mantaaaap… saya suka kalau tau perempuan bisa bertindak langsung, bahkan melalui tindakan fisik langsung. perempuan harus punya kemampuan itu juga. harus berani.

    kalau takut melakukan tindakan fisik, minimal dengan suara, omeli sepuasnya, tapi dengan catatan, harus di depan orang banyak, biar pelakunya macam dicuci mukanya.

    itu bapak² yg sampai hati & mulut ngomong begitu, mungkin karena hobinya juga memperlakukan perempuan begitu.

    tapi… kalau yg ditowel itu tak macam mba niQue yg berpakaian sopan, melainkan berpakaian “mengundang”, ya apa daya, dua² pihak salah kalau menurut sayanya, satu mengundang, satunya kurang ajar.

    Emang klo perempuan berpakaian mini, pantes ya diperlakukan seperti? Bukannya laki2 juga di sekolah diajari untuk menjaga syahwat, mas? Menurut saya sih, biarkan saja perempuan telanjang bersliweran di depan mata, justru itu menjadi ujian si iman di dada, sudah kuat belum pondasinya. Kalau dasarnya si iman yang di dada udah bobrok, perempuan berhijab pun di’hajar’ kok?! Buktinya banyak tuh berita tentang perempuan berhijab dibegitukan. Pasti nanti, panjang deh :D bilangnya, iyalah, wong berhijabnya seperti itu, masih menunjukkan lekak lekuk tubuh. Oh please deh …..

    Mhd Wahyu NZ recently posted… » Setelah Sekian Lama Memburu Maaf 1

    • Emang klo perempuan berpakaian mini, pantes ya diperlakukan seperti itu?
      poinnya bukan soal pantas atau tidaknya diperlakukan begitu, tapi asap & api itu jadi satu. karena itulah, saya tak menyalahkan si perempuan yg berpakaian mengundang semata, tapi kedua pihaknya yg keliru.

      Bukannya laki2 juga di sekolah diajari untuk menjaga syahwat, mas?
      dan bukankah perempuan (muslim) juga diajarkan untuk menutup auratnya?
      sekalipun saya tetaplah menghargai mereka yang belum berjilbab, sebablah urusan hati bukanlah urusan pakaian.

      biarkan saja perempuan telanjang bersliweran di depan mata, justru itu menjadi ujian si iman di dada, sudah kuat belum pondasinya
      dan benarlah bahwa perempuan menjadi salah satu ujian dan anugerah bagi para lelaki. tapi karang yg kuat akan terkikis secara perlahan, sedikit demi sedikit jika terus²an didera deburan ombak. dan barulah saya tau, ternyata mungkin posisi perempuan itu adalah penguji iman lelaki semata, bukanlah pasangan yang saling melengkapi dan mengingatkan, tadinya saya berpikiran, bahwa jangan² itu perempuan yang berpakaian mini ditowel mungkin karena sedang diingatkan oleh Tuhan. Sementara perempuan yg berpakaian rapi ditowel adalah musibah.
      dan sulitlah sudah jika bicara soal iman di dada, ukurannya tak terlihat dan berada diluar kuasa manusia, bahkan seorang pelacurpun ada yang masuk surga hanya karena memberikan minum untuk seekor anjing yg akan mati. bagaimanalah mungkin saya bisa tau kadar iman seorang perempuan seksi atau lelaki penowel? sedangkan seorang pelacur saja bisa meraih cinta Tuhan.

      Kalau dasarnya si iman yang di dada udah bobrok, perempuan berhijab pun di’hajar’ kok?
      dan jika semua persolan seperti itu dikembalikan pada iman lelaki masing, maka habislah sudah semua argumen, sebab memang itulah pokok persoalan. kalau sudah bicara soal itu, jangankan yang berjilbab, perempuan yang jauh lebih tertutup dari pada sekedar berjilbabpun (jika ada) tetap ada kemungkinan jadi korban.

      demikian, dan jika ada salah, saya mohon maaf yang sebesarnya.
      dan apa yang saya utarakan bukanlah sebuah kebenaran mutlak, itu hanyalah sebatas kemampuan saya untuk memahami sesuatu.
      :)

      terima kasih mas wahyu, atas penjelasannya, semoga menjadi pencerahan bagi kita semua :)

  14. Waduuh… koq bisa begono yah?.. yaa gantian aja ditowel “itu”nya si cowok.

    *apaan coba?..
    #saran Gila.

    kena bullying, atau sexual harrassment gitu emang wajib lapor. Tapi kudu ada saksii juga. Parah, kalo itu dianggap biasa.. ckckck.

    jaga diri baik-baik, jangan terlalu “mengundang” lah kalo make pakaian

    See! Donn’t you read about how I dressed up at that time, Gaphe? Selalu saja, yang dipersalahkan cara berpakaian perempuan ‘kan? hahaha …. Oh my my ….. ckckck …

    Gaphe recently posted… » Dibalik Cerita Perjalanan Para Pencerita

  15. Huh … belum tahu si bapak/pemuda bahwa yang dia hadapi adalah anak Karo! Kalau aku yang jadi victim, cuma bisa diam nangis. Ngga berani sama sekali, dan ….sering mengalami pelecehan begitu Nique. Pernah ngalami sp*rm nya si cowo yang berdiri di belakang (dia berdiri, aku duduk) membasahi pundakku…. Aku langsung turun dari bus. Takut :( Kalau sekarang mungkin aku liatin tuh orang, dulu aku penakut sih.

    EM

    what???? Sampai ada yang begitu, mba??? Aduuh! Klo aku sih udah pasti berantem lagi tuh :( Gila! Kebanyakan perempuan memang seperti itu sih, diem aja, karena takut, sehingga laki2 yang model begitu merajalela.

    Ikkyu_san recently posted… » 30 orang 31 kaki

  16. haaaaaaaa… udah gila itu bapak2. masa komentarnya cuma begitu doang.

    begini ini gawatnya kalo moral udah bergeser. yang gak bener dianggep biasa aja. udah kaco kalo bapaknya kayak begitu, coba bayangin anaknya kayak apa? yang begini ini yang bikin generasi penerus bangsa jadi ancur!

    makanya gak heran kalo bapak2 terhormat di DPR sana dengan tanpa malunya browsing porn pas lagi sidang, atau main game. dan gak merasa bersalah. *eh kok jadi malah ke DPR ya*. hehee. yah tapi emang semua itu udah jadi lingkaran setan. ya gak…

    gua salut ama lu yang bisa membela diri sendiri. harus begitu tuh. harus speak up. biar mereka at least kena hantem dikit…

    sense of survival, Man! Jarang orang bisa respect, dan ketika para perempuan *di sekliling saya* diajari buat speak-up, yang ada dikira saya mengajari mereka untuk bersikap kasar. Padahal, setau saya, dimana2 perempuan itu sejatinya ya halus, tetapi juga bisa garang seperti seekor macan. Tergantung pada kondisi apa dia ditempatkan. Terlebih mungkin, orang tua ‘terlalu’ menekankan pada anak2nya tentang bagaimana bersikap dan berperilaku agar tidak diperlakukan semena2, termasuk cara berpakaian, walaupun cara berpakaian itu adalah hak pribadi, dan para pria di luar sana mestinya bisa menjaga diri toh?! Itu adalah 2 hal yang berbeda, jadi tidak bisa melulu perlakuan tidak senonoh karena cara berpakaian, tapi emang laki2nya aja yang bedjat!

    arman recently posted… » Bulan Mei Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge