Dua hari yang lalu saya menjenguk seorang kenalan yang terkena stroke sejak awal tahun. Sebetulnya sudah cukup lama saya mengenal pasangan ini, dan posisi kami selalu berubah-ubah
Pertama kenal dia adalah marketing di perusahaan supplier tempat saya mengambil barang, kemudian dia buka usaha sendiri eh malah saya yang menjadi supplier buat dia, sampai di satu ketika saya yang waktu itu masih menjadi agen di satu perusahaan asuransi, menawarkan produk yang menurut saya bagus kepada mereka. Sayangnya, tidak mendapat respon yang positif, walaupun salah satu dari mereka akhirnya mengambil produk yang saya tawarkan, tapi saya tahu mereka tidak konsisten dan tidak serius.
Setahun setelah itu, dan saya pun sudah tidak dapat ijin lagi dari suami untuk meneruskan pekerjaan sebagai agen, saya dapat kabar kalau kenalan saya itu kena stroke. Too bad, heh?! Komunikasi kami yang cuma via sms setiap dia memesan barang, atau setiap saya menanyakan pembayaran, samasekali tidak pernah memulai sms dengan kalimat : “apa kabar?”; selalu straight to the point. Sehingga saya terkaget-kaget ketika satu kali karyawannya yang sms ke saya membuat saya bertanya:
“mba-nya kemana? kok tumben kamu yang sms?”
“Loh? Kan si mba udah lama sakit, kena stroke, sekarang cuma bisa berbaring di tempat tidur.”
“What? Gimana suaminya? Njagain ga? aduh …. ” sorry, bukan apa-apa, saya sedikit tahu kisah mereka, sehingga pertanyaan itu spontan keluar dari mulut eh di pikiran saya.
“alhamdulillah, njagain dong, malah ga kemana-mana sekarang, di rumah terus bersama anak-anak, ngasi support, ya ngurusin juga, walau ada susternya.”
“syukur deh…..” di dalam hati saya berkata Tuhan selalu saja punya cara untuk menguji satu pasangan.
Dan setelah sekian bulan, baru kemarin saya menyempatkan diri mengunjunginya, kebetulan memang karyawannya pesan barang, jadi yah sekalian deh. Sebelumnya adiknya sudah mewanti-wanti saya agar tidak membicarakan tentang penyakit apapun di depannya, tapi dasar deh, sempat kepleset juga saya, untung saja suaminya langsung kasih kode. Saat itu dia sedang diterapi oleh suster dari rumah sakit, raut wajahnya segar, tidak terlihat seperti orang yang sedang sakit. Saya yang super cerewet ini meluluhlantakkan keheningan, kwek kwek kwek …. terus nyerocos dan senang melihatnya tertawa-tawa. Keceriaan yang sesaat itu tidak dapat menghapus kekalutan yang sejak datang sudah bergelayutan di hati ini.
Suaminya berkeluh kesah tentang penyesalan mereka karena tidak meneruskan asuransi yang sudah mereka mulai, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hal yang sama juga menimpa adik kandungku, yang cuma mau mengasuransikan anak dan istrinya, tapi tidak dirinya. Dia pikir dia paling sehat, dan dia lupa bahwa segala sesuatu dapat terjadi kapan saja pada siapa saja, tak terkecuali dirinya. Dia tidak pernah menduga dia harus berpulang dua tahun kemudian, bahkan harus meninggalkan beban utang biaya rumah sakit untuk dilunasi istri dan keluarga yang ditinggalkannya. Masih banyak orang berpendapat, nyawa tidak bisa diganti dengan materi, tetapi materi yang sedikitpun bisa membantu kelangsungan hidup orang-orang yang ditinggalkan.
Lalu, jika memang berkemampuan, kenapa merasa rugi menyisihkan uang sekian ratus ribu untuk membeli asuransi? Kenapa seringnya malah sibuk menghitung keuntungan si agen/marketing jika kita mengambil produk yang mereka tawarkan? Saya juga menyadari keengganan orang untuk membeli produk asuransi seringnya disebabkan oleh agen asuransi yang tidak santun, ataupun kesulitan ketika mereka mengklaim setelah terkena musibah. Untuk hal ini, saya cuma bisa menyarankan, pilihlah perusahaan asuransi yang betul-betul dapat dipertanggungjawabkan kredibilitas, tak usah malu untuk mencari informasi tentang mereka sedetil-detilnya. Saya sendiri bahkan butuh waktu satu tahun lebih sebelum saya memutuskan membeli produk asuransi dari satu perusahaan asuransi. Wajar kalau kita cerewet, karena hubungan yang terjalin nanti tidak cukup satu atau dua tahun. Dan satu lagi, jika membeli produk asuransi, pastikan kita mengetahui produk itu dengan baik, dan jangan manja, jangan menyerahkan segala sesuatunya pada agen yang menguruskan pertama kali, karena mereka belum tentu selamanya bekerja di sana. Jadilah nasabah mandiri, yang mengerti semua prosedur, terutama prosedur klaim, agar tidak kecewa dan saling menyalahkan ketika satu hari harus mengajukan klaim.
Eh? Kok tulisan saya jadi seperti mau berjualan asuransi begini? Hahaha … padahal swear terkewer-kewer saya tidak jualan asuransi lagi lho hehehe … anyway, lebih baik sedia payung sebelum hujan, toh?!
ganti jas ujan kalo ga ada payung.. hehehe
maseko cahyo recently posted… » Mengatasi file RAR eror CRC Failed
aku…
kok anti sama asuransi yaaa
mungkin karena berkali kali ditawari agen asuransi yang datang dengan senyum tapi menawarkan produknya sambil maksa maksa gitu….
aku awalnya tidak tertarik dg asuransi. tapi dulu waktu masih kerja kantoran, aku merasakan pentingnya asuransi saat sakit. jadi sekarang aku dan suamiku tetap beli asuransi.
krismariana recently posted… » Karena Tak Ada Kenek
Kita memang harus selalu punya cadangan. Jika tak kerja di kantor yang dicover biaya sakitnya, ya harus beli asuransi….
Ini saya tekankan juga pada anakku sejak dia mulai berumahtangga, karena kita tak pernah tahu kapan tiba-tiba menjadi sakit. Semoga temanmu cepat sembuh…
edratna recently posted… » Setelah libur panjang
Di sini jualan asuransi selalu laris karena semua orang sadar akan “hujan” yang bisa saja tiba2 datang
Tulisan yang menarik, Mbak
Kapan njenguk saya?
marsudiyanto recently posted… » Pohon Ilmu
hahaha saya kapok ah maen asuransi..ah enggak deng bagaimana y menghilangkan ksan jelek asuransi..mungkin karena saya belum bs atau lebih tepatnya ikhlas untuk menyisihkan uang untuk bayar premi
Saya pernah ikut product perbankan tabungan merangkap asuransi. Begitu saya gak setor selama tiga bulan, -kena phk krisis 2008- secara otomatis product yg saya ikuti itu langsung diputus sama bank-nya. Saya nanti mau ikut yang pembayaran preminya secara konvensional face to face, tidak otomatis debet rekening.
Ternyata bank, mungkin juga asuransi, memang gak ada rasa tenggang rasa. *wong masih “pusing” abis di phk main putusin aja…hiks
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
saya hanya punya ‘askes … hikss
niQue betoll … sedia payung sebelun hujan …saya ikut 2 asuransi, ‘biolife n bumi putra
abrus recently posted… » Perokok berat
kalau asuransi kesehatan di sini wajib, otomatis diikutkan asuransi nasional. Asuransi jiwa yang terserah kita memang. Gen sudah sedangkan aku belum (sudah tapi aku cabut) aku hanya ikut asuransi kalau masuk RS dan operasi. Ada pula asuransi mobil dan kecelakaan. Juga asuransi dari kartu kredit jika membeli tiket pakai kartu kredit. Asuransi memang penting sih ya. Tanpa asuransi tidak akan bisa hidup di negara asing
EM
Ikkyu_san recently posted… » 2 hari 2 jam 2 kg
memasyarakatkan asuransi gak gampang ya Nik,
krn masih banyak yg blm memahami banget gunanya asuransi, terutama kesehatan, walaupun tentunya kita selalu berharap utk sehat.
mungkin cara menawarkan asuransi lebih dahulu utk menyadarkan masyarakat bukan utk ”kejar poin setoran”
ini hanya pendapat bunda aja, dan bisa juga salah, Nik
salam
bundadontworry recently posted… » Kado Untuk Tuhan
Pencerahan tentang asuransi penting karena kita masih belum begitu peduli tentang asuransi.
Saya pernah ikut asuransi pendidikan dan kesehatan lho.
Salam hangat dari Surabaya
Pakde Cholik recently posted… » Adsense Camp adsense arek Indonesia
Temenku ada tuh, kl diasuransi itu seperti ngarep sakit atau ngarep mobil ilan. Ya sudahlah aku juga bukan agen ngapain juga jelasin panjang lebar, malah ngototan dia.
Saleum
Kalau dipikir pikir asuransi kesehatan itu memang perlu, soalnya kita kan gak tau kapan kita sakit dan memerlukan itu semua. oke deh mbak trims atas info dan pencerahannya
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Knalpot Puntong
Aku setuju dengan kalimat ‘segala sesuatu dapat terjadi kapan saja pada siapa saja’. Dan asuransi memang salah satu dari sekian solusi yang bisa ditawarkan pada manusia dalam hidup di dunia ini.
Jadi, ada paket apa saja, Mbak, dari asuransi yang Mbak tawarkan… (Lho?!
)
DM recently posted… » It’s Only A Beginning
bener banget.. asuransi itu penting banget ya, karena usia manusia gak bisa ditebak…
arman recently posted… » LDR Survival Guide
Kena Stroke itu penyakit emang agak lama pneyembuhannya, kita harus sejak dini untuk mengetahui penyakit dan asuransikan diri kita
Kamal Hayat recently posted… » Es kelapa Muda
Disini memang lagi musim hujan, jadi saya sedia payung selalu
Kalau asu, eh… asuransi saya ngga punya. Kemana2 cuma dgn doa
Kaget recently posted… » Tunggu Kisanak …
memang benar, sering kali menghadapi agen yang maksa-masa itu membuat ga enak, bawaannya langsung ingin nolak, apalagi calon pelanggannya macam saya yg sudah terpengaruh keras sama pelem SiCKO, tentang asuransi kesehatan itu
namun, sepakat, sekarang banyak pilihan, tinggal ambil mana yg rasa enak dihati dan bisa dipercaya. terlepas dari soal umur siapa tau. mau tak pakai pun tak masalah, tp, saya ikut kok. hehehe…
Mhd Wahyu NZ recently posted… » Sales Selang & Regulator yang Kurang Ajar!
wah saya suka sama kalimat ini “…tetapi materi yang sedikitpun bisa membantu kelangsungan hidup orang-orang yang ditinggalkan.”
oh saya kira posting-an tentang payung yang sebenarnya hhehhe ^^
Nggak spt jualan asuransi kok Mba…
malahan ini berguna bgt, krn emang aku lg cari asuransi utk anak..
wah makasih bgt masukannya Mba Nique.. kita hrs jd nasabah mandiri… itu penting ternyata…
Lyliana Thia recently posted… » Museum Layang-layang
ihik.. Aku termasuk nasabah yang manja, Mbak. Semua diurusi oleh si agen yang notabene teman SMP suamiku.
Membaca artikelmu iki, Mbak, aku jadi mencemaskan asuransiku…
Terima kasih sudah mengingatkan daku… Aku berjanji tak kan manja lagi. Suer tekewer-kewer deh…
dewifatma recently posted… » Emakku Kesurupan Jin Subuh
Benar juga, ya?
Aduh.. ngeri sekali.
Lebih baik beli payung dulu sebelum hujan.
Susindra recently posted… » Keceriaan Destin – Binbin dan Jajan Bolang-Baling Khas Kudus
Paradigma yang tidak bagus yang selama ini terjadi terhadap perusahaan asuransi, haruslah dijawab oleh mereka dengan membuktikan bahwa dugaan-dugaan itu salah. Oleh karenanya, ketika terjadi klaim, si perusahaan harus membuktikan bahwa urusannya tidak berbelit-belit dan cenderung mempersulit.
Saya sendiri mengalaminya, dan asuransi yang saya pakai juga sangat terkenal serta mengaku sudah berpengalaman sejak puluhan tahun lalu. Tapi nyatanya, kesulitan klaim benar-benar terjadi…
So, sebagai konsumen, wajar saja bila masyarakat skeptis dengan perusahaan asuransi… Lho, kok jadi curcol…? hahaha….