“Kuantar ke Gerbang”

“Kuantar ke Gerbang” adalah judul buku karangan Ramadhan KH. Jika saya membaca buku ini yang tebalnya 431 halaman ini, bukan karena saya nge-fans sama Bung Karno :) Dan andaikan saya tidak pernah membaca buku ini, saya pasti tidak pernah tahu siapa sesungguhnya perempuan yang menanam saham paling banyak atas keberhasilan Presiden ke-1 republik ini, selain ibu kandung tentu saja. Setelah membaca buku ini, menurut hemat saya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada istri-istri Bung Karno yang lainnya, maka  sosok Ibu Inggitlah yang berperan paling besar mengawal perjalanan seorang Sukarno.

Hati ini sempat tertanya-tanya bagaimana mungkin fakta sepenting ini baru dicetak Maret 2011 yang lalu? Ah, rupanya beda kulit dengan cetakan yang pertama terbit Mei 1981. Juga merasa ‘terkelabui’ karena selama ini beranggapan bahwa jasa Ibu Fatma yang paling besar, juga sering mencoba meraba tentang perasaan Ibu Fatma kala mengetahui suaminya menjalin hubungan khusus dengan beberapa perempuan lainnya. Dan dari buku ini saya baru ketahui bahwa justru Bu Fatma adalah orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Ibu Inggit dan Bung Karno. Bahkan, jika tak mengingat sopan santun, saya mungkin akan berkata Bu Fatma layaknya pagar makan tanaman, dia anak perempuan yang dititipkan tinggal di rumah Bu Inggit dan Bung Karno, malah kemudian memadu kasih dengan tuan rumah?

DUA PULUH TAHUN lamanya Ibu Inggit jatuh bangun mendampingi perjuangan Sukarno, dan ketika sosok yang digadang-gadangnya hampir mencapai tujuan utamanya, justru saat itulah dia harus  terhempas, bagi orang yang tak beriman, bisa saja akan berkat : “habis manis sepah dibuang?” Yah, persis seperti itu, tak kurang tak lebih. Jika hati sudah tertambat pada perahu lain, segala alasan bisa dicari, jika masalah keturunan tak pernah menjadi soal, maka kini dipersoalkan, dan kalimat ini sungguh menyakitkan, selembut apapun menyampaikannya.

“Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia (Fatma).” begitu yang diucapkan Bung Karno mengharap belas kasihan anak perempuannya, Ratna Djuami.

Tak terasa air mata saya berjatuhan, tak sanggup membayangkan betapa sakit rasanya, perjalanan saya menjadi seorang istri belum seujung kuku Bu Inggit, bahkan usia pernikahan ini baru akan memasuki tahun ke-2, bagaimana pula Bu Inggit yang mengetahui ini dari anaknya???? Bukankah dulu sewaktu hendak menikahi Bu Inggit pun Bung Karno sudah tahu bahwa Bu Inggit itu mandul, dan berusia selusin lebih tua darinya? Sungguh Bu Inggit sosok perempuan tangguh berhati baja, jika itu terjadi pada perempuan sekarang, tak kurang sumpah serapah pasti akan keluar. Ucapan-ucapan tak senonoh pun akan bertebaran. Duh, Gusti!

“Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!… Kalau mau kawin dengannya, boleh. Tetapi, ceraikan dahulu aku!” dengan tegas Bu Inggit mengucapkan kalimat itu. Berdesir hati ini sambil mengucap naudzubillah, jangan sampai diberi cobaan seperti Bu Inggit. Tentu saja, Bu Inggit tidak sendirian mengalami hal ini di muka bumi ini, karena pernah  seorang Ibu yang sama sekali tak saya kenal bahkan pernah curhat sampai bercucuran air mata, menceritakan bagaimana dia berpisah dengan suaminya, setelah dia berdarah-darah mendukung suaminya dari nol sampai menjadi sosok yang sukses. Wajah ibu itu tak lepas dari benak saya di saat membaca kisah Bu Inggit. Menyedihkan!

Sama sekali tak ada maksud untuk mendiskreditkan Bung Karno perihal perselingkuhannya dengan Ibu Fatmawati, dan jika sepertinya saya lebih menyoroti tentang hal ini bukan maksud saya menutup mata atas hal-hal lain yang dipaparkan di buku ini. Tentang bagaimana welas asihnya Bung Karno terhadap anak angkatnya Omi, tentang kesantunan dan sikap menghargai istri yang diikutsertakannya dalam banyak perjalanannya, menjadikan istri sebagai teman diskusi dan tak sekalipun menganggap istrinya tak tahu apa-apa, dan masih banyak lagi yang baik-baik yang saya kira patut juga diteladani. Mungkin di lain kesempatan, saya mau menyempatkan mengulas buku ini dari sudut pandang yang berbeda.

Sungguh saya kesulitan dalam memilih kata, agar tetap terbaca santun, karena saya juga sejujurnya sama sekali tidak bermaksud merendahkan Bu Fatma, lagipula pendapat saya ini semata-mata berdasarkan apa yang saya baca di buku ini. Dan terlepas dari siapa yang memulai, terlepas dari kenapa dia mau, yang pasti beginilah memang Tuhan mengatur perjalanan hidup orang-orang besar ini, tinggal kita-kita yang sekarang tahu kisah ini, kiranya dapat memetik pelajaran, yang baik menurut kita ya kita tiru, tapi jika sebaliknya ya abaikan saja.

66 thoughts on ““Kuantar ke Gerbang”

  1. Bung Karno adalah pencinta sejati, bukan begitu Mba Nique…?

    Beliau cinta rakyat Indonesia…
    Beliau cinta seni…
    Beliau cinta wanita…

    hmm.. lupa kata2 ini pernah kubaca dimana, mgkn Mba Nique inget…?

    btw, Mba, udah pernah ke museum Bung Karno di Jl. Proklamasi JakPus blm…? Wah, lukisannya…. widiiih… *tutup mata*
    Lyliana Thia recently posted… » Sahabat Yang Bercerita

  2. jadi penasaran ama isi buku “kuantar Kau ke Gerbang” … tentang sosok Bu Inggit sebagai istri yang luar biasa… mesti beli atau pinjem bukunya :)

  3. saya baru tau cerita ini.. makasih ya sudah review bukunya jadi ga harus beli dan baca bukunya.
    Ditunggu dari sudut pandang yang lainnya mengenai sukarno.. ya

  4. Jika ada Asmanadia saat itu. mungkin cerita ini bisa masuk dalam buku Catatan harian seorang istri :)
    Insyallah akan beli buku ini, tentunya atas ijin istri :)

  5. oh, ternyata kisah segetir itu ya? sebelumnya aku malah bersimpati sama ibu fatma, rupanya ada yang lebih terluka hatinya ketimbang dia. bu inggit, baru pertama kali inilah aku mengenal sosoknya.

  6. Reviewnya bagus banget mbak… Pengen nyari buku ini jadinya. Kebetulan saya lagi keranjingan baca buku (bukan pelajaran sekolah maksudnya) hihihi

  7. Berat gak bukunya mbak?
    Kalau sejarah kadang berat, tapi kalau menarik dibaca… aku mau juga. :)

    engga kok, malah ga berasa seperti membaca buku sejarah. enak dan menghanyutkan :) seperti fiksi, kalau saja tidak ada tulisan diceritakan langsung oleh bu Inggit didampingi Ratna Djuami, mungkin akan mengira itu fiksi belaka. sok atuh dibeli :)

  8. saya jarang membaca buku sejarah. tapi kali ini pengen mencobanya..

    saya baca buku ini, jujur karena nama besar Ramadhan KH, dan tentu saja bukan buku sejarah hehehe …. coba deh, pasti mau lagi dan lagi :D

  9. Ehm, ada pengungkapan tentang bu inggit, ada bu fatma. Oh Bung Karno, masih banyak yg belum kita ketahui dari orang yg kita kagumi ini.

    Jadi ngebayangin Sahaja Cinta dikupas juga di sini :D

    hihihi mestinya begitu kelar baca waktu itu lgs ditulis, tp klo udah lama euforianya udah ilang kang …. kudu baca ulang hehehe ….

  10. aku baru tau tentang bu Inggit ini nique
    jadi sedih :(

    saya kira setiap perempuan sih pasti sedih ya jika mengetahui apa yang dialami Bu Inggit. Dan saya bahkan tidak yakin, ada perempuan yang setangguh alm. sekarang ini.

  11. Saleum,
    saya belum bisa menentukan sikap atas review buku itu, belum ngebaca soalnya, :)
    saya lebih suka baca wiro sableng mbak,..
    tapi saya bisa simpulkan isi buku tersebut bagus sehingga mbak aniq mau me review nya disini.
    saleum dmilano
    dmilano recently posted… » Harus Nama Gaul

  12. eleh sama koq sya juga baru tahu yaa sisi lain bung karno wakakaka.. saya rasa bung karno termasuk presiden soekarno termasuk presiden yang fenomenal juga dalam kisah rumah tangganya :D semoga kita mah langgeng2 aja yaaa.. saya belum niat sih poligami wakaka

  13. Besar hanya menjadi kisah, sayangnya ‘besar’ tak penjadi cermin bagi kebanyakan pemimpin sekarang. Toh, kita hanya menonton sandiwara belaka.
    Ngomong2 soal kontes buku, kapan ya? *ngareppengenbaca* :D

    eh??? kok begitu??? kisah besar tentang BK sesungguhnya patut menjadi cermin, terkecuali masalah perempuan, BK sangat sangat patut menjadi panutan, dalam lingkup terkecil pun yaitu sebagai Bapak, saya pun mau kok jadi anak perempuannya. Perjalanan perjuangan dia TULUS, tanpa sekalipun berpikir tentang materi. Perjalanan perjuangan dia dibiayai dari uang-uang halal yang memang dikumpulkan oleh orang-orang yang bersimpati pada perjuangannya (yang mengalir lewat istrinya, Bu Inggit). Setidaknya begitulah yang diceritakan Bu Inggit. Sangat-sangat berbeda dengan pemimpin setelahnya lhoo..

    .
    Kaget recently posted… » Wanita Dan Zaman Batu

  14. Hmm… saya asli baru tau kisah rumah tangga mereka. Boleh saya pinjam bukunya??? dikirimin yang baru juga boleh kok

    tunggu aja nanti ada kontes berhadiah buku itu ya :)

  15. terima kasih atas review ini Niq, paling tidak aku bisa memburu buku ini untuk menyandingkan dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang udah jadul

    *nunggu review berikutnya biar tambam seru :) jangan ditunggu mas :)

    Karena sekrang saya sedang tidak baca buku, engga tau besok2 hehehe …. pernah baca buku itu, tapi udah lupa isinya.

    namakuananda recently posted… » Now More Than Ever- Just Write

  16. kalau enggak salah bu Inggit itu puteri dari pahlawan HOS Cokroaminoto.. ehm saya punya kok buku tentang istri-istri Bung Karno. tapi ya gitu deh napa cuma bu Fatmawati aja ya yang diekspos..

    SALAH, mas :) Bu Inggit anaknya Bu Amsi, ibu yang mengiringi mereka ketika dibuang ke Flores, adalah Bu Utari yang anak HOS Tjokroaminoto, tapi BK dan Bu Utari bercerai lalu menikahi Bu Inggit.

    lozz akbar recently posted… » Di Balik Tembok Pembatas Itu

    • oh ya ding aku sing keliru, hahaha isin aku.. Bu Utari itu yang enggak disentuh sama sekali ma BK saat nikah kan?

      betul! Bu Utari masih perawan ting ting ketika dikembalikan BK kepada HOS Tjokroaminoto waktu itu :) mas lozz keliru apa ngetest aku hehehe

  17. saya bersikap netral saja atas review ini, karena belum baca bukunya, sementara tak tau persis bagaimana bung karno menjalani kehidupan keluarganya.

    cuma paling tidak, adalah sebuah tips bagi para lelaki/suami yg ingin ngetes aseli tidaknya madu,
    yakni bawa pulang ke rumah sekitar jam 2-3 dini hari, kalau isteri di rumah marah², maka madu itu dapat dipastikan asli! *plakk…*

    monggo dibaca dulu bukunya mas. saya juga tidak berharap adanya pro kontra. apalagi di buku itu sangat transparan diceritakan langsung oleh Bu Inggit, jadi saya percaya cerita di buku itu adalah jujur adanya.

    cobain sendiri dulu aja mas, dan liat reaksi istrinya nanti seperti apa, terus bikin postingannya, kasi link nya ke sini yah hehehehe

    Mhd Wahyu NZ recently posted… » Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997

  18. Ternyata ada rahasia dibalik rahasia tentang sejarah Bung Karno yah… saya tahu istri beliau ada beberapa, tetapi yang palng terkenal memang Fatmawati. Malah baru tahu ternyata Ibu Inggit lah yang berperan banyak juga dalam hidup Bung KArno. sepertinya layak untuk dibaca juga ^_^

    Mungkinkah ketenaran Bu Fatma karena lahirnya anak2 di tengah2 kehidupan rumahtangganya dengan BK? Atau semua ini cuma permainan media belaka? Suka-sukanya media saja siapa yang mau diekspose, begitukah? Atau ada satu dalang yang sudah mengatur ini, agar jerih payah Bu Inggit tidak dikenal rakyat Indonesia? Jadi serba tanya tanya tanpa jawab begini saya Phe :D

    Gaphe recently posted… » Dos and Dont Dalam Mendidik Anak Sebuah Tips Anak Kos Dodol

  19. Sedih baca postingan Mba Niq. Saya baru tahu tentang Bu Inggit ini. Benar2 wanita yang tegar ya? namanya tidak pernah disinggung dibuku sejarah sekolah. Maka tidak heran anak Indonesia (termasuk saya) hanya mengenal Ibu Fatmawati yang menjahit bendera merah putih.

    saya juga tidak mengerti, kenapa sampai seolah-olah tak ada arti Bu Inggit dalam perjalanan BK, padahal …………. ah … baca bukunya deh, akan lebih bisa mengerti sendiri kok. Mungkin ulasan saya terlalu personal ….

    Marchei Riendra recently posted… » 10 Penyakit Paling Aneh di Dunia

  20. Wah, bagi saya yang kurang mengenal sosok Sukarno memang selama ini lebih sering mendengar nama bu Fatma daripada bu Inggit… ternyata….

    saya pun d ulu begitu….dan buku ini benar2 memberi pencerahan pada saya.

    Irawan recently posted… » 100K

  21. kalo saya memang sudah tau lama kalo Ibu Inggit itu istri pertama Bung Karno, awalnya dari bertanya-tanya kenapa ada Jl. Inggit Ganarsih di Bandung. Tapi lewat postingan ini saya baru tau rada jelas sejarahnya. Berarti mesti baca bukunya kan :D

    sok atuh dibeli :D biar ga cuma rada, biar jadi jelas xixixi

    indobrad recently posted… » Catatan Pinggir Novel ‘Sahaja Cinta’

  22. niQue … gitu yah … saya kurang teliti membaca postinganmu – maaf deh :P
    truss… kenapa tampilan blogmu di layar monitor ku jadi berobah sih? hikss :(

    berubah menjadi apa? jadi gambar perempuan cantik semuanyakah? :D

    abrus recently posted… » @ku selingkuh

  23. Bung Karno – tokoh proklamator NKRI yg tiada tandingannya sampai kini – alangkah jelinya niQue mengulas sang proklamator ini … nice :P

    biasa aja kok, maaf jika kurang berkenan, sebagai proklamator tentu saja saya menghormati BK, tapi bukankah tak ada gading yang tak retak? Begitu juga BK :)

  24. wah ini review yang menarik. seorang tokoh besar dengan segala masalah percintaanya yang sangat kompleks.
    cobaan yang besar buat seorang ibu negara.

  25. Saya se7 sosok Ibu Inggit ikut berperan … tapi yang paling besar adalah peran ORTU Bung Karno…. itu tidak akan terbantahkan … ayo gimana? Enak aja *orangtua* dilupain … wkwkwk :(

    hmm … berarti tulisan di atas tidak dibaca baik2 :( karena pada paragraph pertama baris ke-5 sangat jelas saya tuliskan TERKECUALI IBU KANDUNG, yang artinya tentu saja peran orang tua BK tidak boleh dibandingkan dengan perempuan yang melahirkannya. Sampai kapanpun, takkan pernah bisa dibandingkan besaran peran seorang istri dan ibu dalam kehidupan seorang laki2.

    abrus recently posted… » @ku selingkuh

  26. aku baru tau, kalau Bung Karno punya istri bernama Inggit :D
    aku cuma tau istrinya Ibu Fatma dengan yg orang Jepang itu? siapa ya namanya?
    lupa deh..hhehe..

    Dewi Soekarno namanya, yang pernah nerbitin buku yang kontroversial juga, klo ga salah judulnya Madame de Syuga. nama anaknya Kartika Dewi Soekarno. yeaahh …. aku sih udah tau Inggit istrinya, cuma engga tau begitu sejarahnya. kirain dari awal perjuangan ya ama Bu Fatma itu, makanya syok saya pas tau malah sebaliknya. hiks…

    • aku sempat juga terpikir menulis kisah itu waktu mengulas rumah BK di Bengkulu…he..he..nggak jadi..kupikir toh semua orang sudah tau…, tp ternyata dikau lebih to the point dek he..he..

      istri BK bukan cuma 3 itu, sebelum bu Inggit ada , setelah bu Fat ada bu Hartini dan beberapa nama lain

      sebelum bu Inggit ada Bu Utari, anaknya HOS Tjokroaminoto, tapi BK sudah cerai dengan Bu Utari baru menikahi Bu Inggit. hla? Kita orang Medan, bukannya suka tembak langsung kak? :D Setelah Bu Fat, aku ga tau lagi kak, dan ku rasa, ga pengen tau lagi lah, apalagi ibu-ibu yang lain tidak lamanya usia pernikahan mereka dengan BK.

      monda recently posted… » Hadiah Milad

  27. saya malah baru tau kalau ada buku ini.. :D

    saya juga pernah jadi curhat ibu2 yg mau dijadiin istri pertama…
    anehnya yg laki2 juga curhat ke saya dan itu istrinya juga curhatnya ke saya… lucunya lagi, saya masih bau kencur ga ada pengalaman sama sekali dalam urusan mereka..

    hehehe… ternyata saya tidak sendiri ya hihihihi … sempat ge er bener saya waktu baca cetakan pertama, eh pas googling tibak’e bukutnya malah udah ada sejak 30 tahun yang lalu ckckck …. mungkin abis ini saya mo borong buku itu, terus dijadiin kado bikin giveaway ya? Hahahaha ….
    eh iya tuh, pasti ada maksud tertentu makanya Tuhan mempertemukan kita dengan orang2 yang curhat seperti itu … paling tidak agar lebih mawas diri aja, setuju Ruri?

    Mabruri recently posted… » Pelepasan kelas IX SMP Negeri 2 Sirampog Tahun 2011

  28. seperti novel ya? asyik berarti kalau baca, sejarah yang didongengkan. hehe, jadi pengen beli, ntar deh di liat2 dulu isi dompet #melirik ke dompet.

    menurutku sih bukan didongengkan ya, tapi memang Ramadhan KH pandai meraciknya sehingga dibacanya tidak seperti membaca buku sejarah :D

    hanif mahaldy recently posted… » Penertiban Penumpang Atap

  29. Sosok BK adalah sosok yang fenomenal, revolusioner namun sekalinya menyentuh sisi “jumlah istri” beliau cukup kontroversial :)

    Saya dulu cukup sering baca referensi ttg beliau dan memang benar, BK itu mengawali semuanya dengan istri pertama yang usianya jauh lebih tua, Bu Inggrid.

    Kalau tak salah ingat beliau juga yang mati2an nganterin makanan buat BK waktu beliau dipenjara di Sukamiskin, sesaat sebelum beliau akhirnya ngetop karena pledoinya, Indonesia Menggugat.

    betul sekali mas Donny, jika mengingat bagaimana ‘maksa’nya Bu Inggit untuk rutin mbesuk BK 2x dalam seminggu, padahal dalam keadaan tak punya apa2, saya masih saja merinding. Sebagai istri, dia sudah menunjukkan baktinya, tak yakin saya perempuan lain sanggup menderita seperti itu. Sekarang, saya punya teladan baru, dialah Bu Inggit yang pantas menjadi panutan para istri, juga menjadi cermin bagi para suami agar lebih menghargai istri mereka. btw, saya akan cari buku Indonesia Menggugat, kira2 susah ga ya nemuinya?

  30. masih percaya dgn pepatah yg mengatakan bahwa kesuksesan seorang lelaki krn ada wanita kuat dibelakangnya ,Nik?
    bunda masih sangat percaya pepatah ini, terbukti dgn Bung Karno,krn Bu Inggit lah sebenarnya Beliau menjadi besar, dgn segala jerih payah dan penderitaannya Bu Inggit ternyata harus lebih menderita lagi, dan bunda salut dgn ketegasan Beliau sebagai seorang istri dan perempuan.
    Satu hal Nik, ketika kita mereview sebuah buku tentu sah2 saja, jika kita ulas dr hal yg paling menarik hati kita ketika kita membacanya.
    Suka banget dgn ulasan Nik ttg Bung Karno ini :)
    Ditunggu ulasan2 buku2 yg lain berikutnya ya Nik :)
    salam

    iya Bun, dan sekarang saya HARUS belajar menerima komen2 yang tidak sejalan :D pro dan kontra itu biasa. apalagi ini menyangkut orang2 besar. saya sebetulnya ingin mengatakan ini pelajaran penting agar kita (siapapun!) jangan sampai seperti kacang lupa kulit. dan ingat Tuhan ora sare, segala sesuatu dapat saja terjadi pada kita, bukankah kita akan menuai apa yang kita tanam?

    bundadontworry recently posted… » Cinta Non Verbal

  31. Beberapa waktu yang lalu di Bandung diadakan semacam napak tilas perjuangan Ibu Inggit selama mendukung Bung Karno. Di Bandung, nama Ibu Inggit begitu harum, berdampingan dengan nama Dewi Sartika. Itulah mengapa di Bandung hanya ada nama jalan Ibu Inggit, bukan Fatmawati seperti di Jakarta … ^_^

    No wonder :) Ibu Inggit deserved for it, Bang.

    Bang Aswi recently posted… » Cinta Sepasang Angin

  32. wah sepertinya menarik sekali ya….karena selama ini saya belum pernah membaca buku seperti ini

    parah banget ya saya

    biasa aja kok, ga parah2 amat :D setiap orang kan punya minat buku yang berbeda hehehe

    choirul recently posted… » MASJID bukan TEMPAT AMAN

  33. Niiiique…
    memang dalam membuat review..apa pun itu…sebagai penulis kita berhak melihatnya dari sudut yang menurut kita paling berkesan…dan sebagai perempuan dan seorang istri…aku setuju 100% ama pendapatmu itu…
    Menurutku…itulah satu satunya kelemahan bung Karno…perempuan…

    Dan aku sangat suka dengan tulisan yang memberikan sentuhan emosi didalamnya…
    *berasa diri sendiri selalu biki tulisan yang emosional gak jelas…hihihi..*

  34. saya yg udah bangkotan gini jg baru tahu kalau ada istrinya Bung Karno yg namanya Bu Inggit…wkwkwk…bener2 ga tahu sejarah :lol:

    sedih saya ….. :( jika generasi kita saja sudah bilang tidak tau, gimana generasi masa depan?

  35. menurut aku penilaian yg wajar kok mbak..aku juga menilai begitu *dari yg aku baca dpostingan ini..

    pasti sakit banget buat bu inggit di perlakukan begitu ya mbak..

  36. pernah membaca wanita-wanita dibalik kesuksesan Bung Karno, tetap menaruh hormat ke semuanya, karena yang paling tahu konstribusi mereka bagi Bung Karno adalah mereka masing-masing :)

    saya juga cuma mengulas buku yang saya baca dari sudut pandang saya kok jeng :)

    ysalma recently posted… » Cucu- Anak- Istri

  37. Belum baca buku ini. Tapi aku tahu dari bukunya Cindy Adam, dan menurutku sih yang patut dihargai hanyalah bu Inggit :D .

    EM

    saya belum baca sejarah yang lainnya, dan ulasan saya juga tidak bermaksud untuk tidak menghargai yang lainnya :) bisa jadi saya masih terlalu kaget karena baru mengetahui sejarah ini.

    Ikkyu_san recently posted… » Berhemat bagaimana

  38. “Mungkin di lain kesempatan, saya mau menyempatkan mengulas buku ini dari sudut pandang yang berbeda.”

    Dan aku merasa ulasan di atas memang sangat perempuan sekali. Meski demikian pun tak apa. Namanya juga opini. Sah-sah saja :)

    Sudah siap nonton film-nya? “Kuantar ke Gerbang” ;)

    saya hanya mencoba jujur dengan apa yang saya rasakan. emang mo ada filmnya? mau dong nonton :) apalagi klo bisa nonton premier hehehe

    DM recently posted… » It’s Only A Beginning

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge