“Kuantar ke Gerbang” adalah judul buku karangan Ramadhan KH. Jika saya membaca buku ini yang tebalnya 431 halaman ini, bukan karena saya nge-fans sama Bung Karno
Dan andaikan saya tidak pernah membaca buku ini, saya pasti tidak pernah tahu siapa sesungguhnya perempuan yang menanam saham paling banyak atas keberhasilan Presiden ke-1 republik ini, selain ibu kandung tentu saja. Setelah membaca buku ini, menurut hemat saya, tanpa mengurangi rasa hormat kepada istri-istri Bung Karno yang lainnya, maka sosok Ibu Inggitlah yang berperan paling besar mengawal perjalanan seorang Sukarno.
Hati ini sempat tertanya-tanya bagaimana mungkin fakta sepenting ini baru dicetak Maret 2011 yang lalu? Ah, rupanya beda kulit dengan cetakan yang pertama terbit Mei 1981. Juga merasa ‘terkelabui’ karena selama ini beranggapan bahwa jasa Ibu Fatma yang paling besar, juga sering mencoba meraba tentang perasaan Ibu Fatma kala mengetahui suaminya menjalin hubungan khusus dengan beberapa perempuan lainnya. Dan dari buku ini saya baru ketahui bahwa justru Bu Fatma adalah orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga Ibu Inggit dan Bung Karno. Bahkan, jika tak mengingat sopan santun, saya mungkin akan berkata Bu Fatma layaknya pagar makan tanaman, dia anak perempuan yang dititipkan tinggal di rumah Bu Inggit dan Bung Karno, malah kemudian memadu kasih dengan tuan rumah?
DUA PULUH TAHUN lamanya Ibu Inggit jatuh bangun mendampingi perjuangan Sukarno, dan ketika sosok yang digadang-gadangnya hampir mencapai tujuan utamanya, justru saat itulah dia harus terhempas, bagi orang yang tak beriman, bisa saja akan berkat : “habis manis sepah dibuang?” Yah, persis seperti itu, tak kurang tak lebih. Jika hati sudah tertambat pada perahu lain, segala alasan bisa dicari, jika masalah keturunan tak pernah menjadi soal, maka kini dipersoalkan, dan kalimat ini sungguh menyakitkan, selembut apapun menyampaikannya.
“Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia (Fatma).” begitu yang diucapkan Bung Karno mengharap belas kasihan anak perempuannya, Ratna Djuami.
Tak terasa air mata saya berjatuhan, tak sanggup membayangkan betapa sakit rasanya, perjalanan saya menjadi seorang istri belum seujung kuku Bu Inggit, bahkan usia pernikahan ini baru akan memasuki tahun ke-2, bagaimana pula Bu Inggit yang mengetahui ini dari anaknya???? Bukankah dulu sewaktu hendak menikahi Bu Inggit pun Bung Karno sudah tahu bahwa Bu Inggit itu mandul, dan berusia selusin lebih tua darinya? Sungguh Bu Inggit sosok perempuan tangguh berhati baja, jika itu terjadi pada perempuan sekarang, tak kurang sumpah serapah pasti akan keluar. Ucapan-ucapan tak senonoh pun akan bertebaran. Duh, Gusti!
“Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu!… Kalau mau kawin dengannya, boleh. Tetapi, ceraikan dahulu aku!” dengan tegas Bu Inggit mengucapkan kalimat itu. Berdesir hati ini sambil mengucap naudzubillah, jangan sampai diberi cobaan seperti Bu Inggit. Tentu saja, Bu Inggit tidak sendirian mengalami hal ini di muka bumi ini, karena pernah seorang Ibu yang sama sekali tak saya kenal bahkan pernah curhat sampai bercucuran air mata, menceritakan bagaimana dia berpisah dengan suaminya, setelah dia berdarah-darah mendukung suaminya dari nol sampai menjadi sosok yang sukses. Wajah ibu itu tak lepas dari benak saya di saat membaca kisah Bu Inggit. Menyedihkan!
Sama sekali tak ada maksud untuk mendiskreditkan Bung Karno perihal perselingkuhannya dengan Ibu Fatmawati, dan jika sepertinya saya lebih menyoroti tentang hal ini bukan maksud saya menutup mata atas hal-hal lain yang dipaparkan di buku ini. Tentang bagaimana welas asihnya Bung Karno terhadap anak angkatnya Omi, tentang kesantunan dan sikap menghargai istri yang diikutsertakannya dalam banyak perjalanannya, menjadikan istri sebagai teman diskusi dan tak sekalipun menganggap istrinya tak tahu apa-apa, dan masih banyak lagi yang baik-baik yang saya kira patut juga diteladani. Mungkin di lain kesempatan, saya mau menyempatkan mengulas buku ini dari sudut pandang yang berbeda.
Sungguh saya kesulitan dalam memilih kata, agar tetap terbaca santun, karena saya juga sejujurnya sama sekali tidak bermaksud merendahkan Bu Fatma, lagipula pendapat saya ini semata-mata berdasarkan apa yang saya baca di buku ini. Dan terlepas dari siapa yang memulai, terlepas dari kenapa dia mau, yang pasti beginilah memang Tuhan mengatur perjalanan hidup orang-orang besar ini, tinggal kita-kita yang sekarang tahu kisah ini, kiranya dapat memetik pelajaran, yang baik menurut kita ya kita tiru, tapi jika sebaliknya ya abaikan saja.
Bung Karno adalah pencinta sejati, bukan begitu Mba Nique…?
Beliau cinta rakyat Indonesia…
Beliau cinta seni…
Beliau cinta wanita…
hmm.. lupa kata2 ini pernah kubaca dimana, mgkn Mba Nique inget…?
btw, Mba, udah pernah ke museum Bung Karno di Jl. Proklamasi JakPus blm…? Wah, lukisannya…. widiiih… *tutup mata*
Lyliana Thia recently posted… » Sahabat Yang Bercerita
Sisi lain dari kehidupan Bung Karno, saya yakin cerita ini sangat menarik untuk dibaca.
Salam.. .
jadi penasaran ama isi buku “kuantar Kau ke Gerbang” … tentang sosok Bu Inggit sebagai istri yang luar biasa… mesti beli atau pinjem bukunya
Saya pernah baca buku dengan judul ini…tapi sudah lama sekali…atau ini cetakan baru ya.
Bukunya menarik…..saya juga suka.
edratna recently posted… » Setelah libur panjang
Saya terenyuh baca postingannya mba’.
Jadi penasaran baca bukunya.
faizalramadhsan recently posted… » Menjadi Sosial Itu Baik
saya baru tau cerita ini.. makasih ya sudah review bukunya jadi ga harus beli dan baca bukunya.
Ditunggu dari sudut pandang yang lainnya mengenai sukarno.. ya
Jika ada Asmanadia saat itu. mungkin cerita ini bisa masuk dalam buku Catatan harian seorang istri
Insyallah akan beli buku ini, tentunya atas ijin istri
oh, ternyata kisah segetir itu ya? sebelumnya aku malah bersimpati sama ibu fatma, rupanya ada yang lebih terluka hatinya ketimbang dia. bu inggit, baru pertama kali inilah aku mengenal sosoknya.
agak bangga kalo tau kalo ibuk soekarno dari Bali. hehehehe
TUKANG CoLoNG recently posted… » Ini Bukan Pagi biasa
Wah wah wah…. baru tahu ini..
sing a song, “Nothin last forever… and we both know heart can change… ”
jreng… jreng… jreng…
wuih sepertinya cerita yang belum terkuak ya, jadi tertantang untuk membacanya mbak..
*boleh pinjem
muhamaze recently posted… » Ah terlambat…!
sejarah yg tak banyak kita tahu.. semoga mnjd pelajaran bg kita..
jujur,,sy br tahu ttg ibu Inggit..^^
irfanandi recently posted… » Liburan Mengesankan
tinggalkan yg jelek, ambil yg bagus. tapi jgn ambil sandal bagus di masjid yak? hehe
tunsa recently posted… » Pekerjaan Wanita
klo saya udah lama nyari2 buku “bung hatta menjawab”, buku lama.. soalnya saya fan buang Hatta
tp smp skrg blom ketemu ..
segala yang berbau Bung Karno selalu menarik
cari ah…
sedj
Reviewnya bagus banget mbak… Pengen nyari buku ini jadinya. Kebetulan saya lagi keranjingan baca buku (bukan pelajaran sekolah maksudnya) hihihi
Ulasannya bagus banget mbak nic.. jadi penasaran sama bukunya..
membaca dari postingan ini sangat membawa ilmu pengetahuan bagi saya dan masih banyak lagi lainnya yang belum saya ketahui dari banyaknya cerita sperti ini.
salam sejaterah dan adem ayem
andipeace recently posted… » My Slide Gallery Mercusuar Leadership Training 2011
Jadi pengen baca Kak..
Orin recently posted… » Chocolate
habis manis sepah dibuang. hmmm kasian yah. tapi banyak juga sih sosok bung karno yang belum d ketahui. ahh tapi kita liat kehebatan dia aja lah.
Bayu recently posted… » Hurricane Simulator- uhhhh grrrrrrrrrrr Dingin
Berat gak bukunya mbak?
Kalau sejarah kadang berat, tapi kalau menarik dibaca… aku mau juga.
saya jarang membaca buku sejarah. tapi kali ini pengen mencobanya..
Ehm, ada pengungkapan tentang bu inggit, ada bu fatma. Oh Bung Karno, masih banyak yg belum kita ketahui dari orang yg kita kagumi ini.
Jadi ngebayangin Sahaja Cinta dikupas juga di sini
aku baru tau tentang bu Inggit ini nique
jadi sedih
Saleum,
saya belum bisa menentukan sikap atas review buku itu, belum ngebaca soalnya,
saya lebih suka baca wiro sableng mbak,..
tapi saya bisa simpulkan isi buku tersebut bagus sehingga mbak aniq mau me review nya disini.
saleum dmilano
dmilano recently posted… » Harus Nama Gaul
eleh sama koq sya juga baru tahu yaa sisi lain bung karno wakakaka.. saya rasa bung karno termasuk presiden soekarno termasuk presiden yang fenomenal juga dalam kisah rumah tangganya
semoga kita mah langgeng2 aja yaaa.. saya belum niat sih poligami wakaka
Besar hanya menjadi kisah, sayangnya ‘besar’ tak penjadi cermin bagi kebanyakan pemimpin sekarang. Toh, kita hanya menonton sandiwara belaka.
Ngomong2 soal kontes buku, kapan ya? *ngareppengenbaca*
.
Kaget recently posted… » Wanita Dan Zaman Batu
Hmm… saya asli baru tau kisah rumah tangga mereka. Boleh saya pinjam bukunya??? dikirimin yang baru juga boleh kok
terima kasih atas review ini Niq, paling tidak aku bisa memburu buku ini untuk menyandingkan dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang udah jadul
*nunggu review berikutnya biar tambam seru
jangan ditunggu mas
namakuananda recently posted… » Now More Than Ever- Just Write
kalau enggak salah bu Inggit itu puteri dari pahlawan HOS Cokroaminoto.. ehm saya punya kok buku tentang istri-istri Bung Karno. tapi ya gitu deh napa cuma bu Fatmawati aja ya yang diekspos..
lozz akbar recently posted… » Di Balik Tembok Pembatas Itu
oh ya ding aku sing keliru, hahaha isin aku.. Bu Utari itu yang enggak disentuh sama sekali ma BK saat nikah kan?
saya bersikap netral saja atas review ini, karena belum baca bukunya, sementara tak tau persis bagaimana bung karno menjalani kehidupan keluarganya.
cuma paling tidak, adalah sebuah tips bagi para lelaki/suami yg ingin ngetes aseli tidaknya madu,
yakni bawa pulang ke rumah sekitar jam 2-3 dini hari, kalau isteri di rumah marah², maka madu itu dapat dipastikan asli! *plakk…*
Mhd Wahyu NZ recently posted… » Kerusuhan Banjarmasin 23 Mei 1997
Ternyata ada rahasia dibalik rahasia tentang sejarah Bung Karno yah… saya tahu istri beliau ada beberapa, tetapi yang palng terkenal memang Fatmawati. Malah baru tahu ternyata Ibu Inggit lah yang berperan banyak juga dalam hidup Bung KArno. sepertinya layak untuk dibaca juga ^_^
Gaphe recently posted… » Dos and Dont Dalam Mendidik Anak Sebuah Tips Anak Kos Dodol
Sedih baca postingan Mba Niq. Saya baru tahu tentang Bu Inggit ini. Benar2 wanita yang tegar ya? namanya tidak pernah disinggung dibuku sejarah sekolah. Maka tidak heran anak Indonesia (termasuk saya) hanya mengenal Ibu Fatmawati yang menjahit bendera merah putih.
Marchei Riendra recently posted… » 10 Penyakit Paling Aneh di Dunia
Wah, bagi saya yang kurang mengenal sosok Sukarno memang selama ini lebih sering mendengar nama bu Fatma daripada bu Inggit… ternyata….
Irawan recently posted… » 100K
kalo saya memang sudah tau lama kalo Ibu Inggit itu istri pertama Bung Karno, awalnya dari bertanya-tanya kenapa ada Jl. Inggit Ganarsih di Bandung. Tapi lewat postingan ini saya baru tau rada jelas sejarahnya. Berarti mesti baca bukunya kan
indobrad recently posted… » Catatan Pinggir Novel ‘Sahaja Cinta’
niQue … gitu yah … saya kurang teliti membaca postinganmu – maaf deh
truss… kenapa tampilan blogmu di layar monitor ku jadi berobah sih? hikss
abrus recently posted… » @ku selingkuh
Bung Karno – tokoh proklamator NKRI yg tiada tandingannya sampai kini – alangkah jelinya niQue mengulas sang proklamator ini … nice
wah ini review yang menarik. seorang tokoh besar dengan segala masalah percintaanya yang sangat kompleks.
cobaan yang besar buat seorang ibu negara.
ternyata istri2 Bung Karno, hebat2 ya…
nice review, jenk… thanks for sharing
Saya se7 sosok Ibu Inggit ikut berperan … tapi yang paling besar adalah peran ORTU Bung Karno…. itu tidak akan terbantahkan … ayo gimana? Enak aja *orangtua* dilupain … wkwkwk
abrus recently posted… » @ku selingkuh
aku baru tau, kalau Bung Karno punya istri bernama Inggit
aku cuma tau istrinya Ibu Fatma dengan yg orang Jepang itu? siapa ya namanya?
lupa deh..hhehe..
aku sempat juga terpikir menulis kisah itu waktu mengulas rumah BK di Bengkulu…he..he..nggak jadi..kupikir toh semua orang sudah tau…, tp ternyata dikau lebih to the point dek he..he..
istri BK bukan cuma 3 itu, sebelum bu Inggit ada , setelah bu Fat ada bu Hartini dan beberapa nama lain
monda recently posted… » Hadiah Milad
saya malah baru tau kalau ada buku ini..
saya juga pernah jadi curhat ibu2 yg mau dijadiin istri pertama…
anehnya yg laki2 juga curhat ke saya dan itu istrinya juga curhatnya ke saya… lucunya lagi, saya masih bau kencur ga ada pengalaman sama sekali dalam urusan mereka..
Mabruri recently posted… » Pelepasan kelas IX SMP Negeri 2 Sirampog Tahun 2011
Wah… saya kok sedih… padahal baru baca review-nya saja..
Kakaakin recently posted… » Naik Kapal ke Hulu Mahakam
Ibu Inggit …
Ya … ini sering terlupakan
(no further comments)
Salam saya
buku berat nih..
tapi lebih berat autobiografinya Bung Karno lho
giewahyudi recently posted… » Ngeblog Keren dengan LG Smart TV
seperti novel ya? asyik berarti kalau baca, sejarah yang didongengkan. hehe, jadi pengen beli, ntar deh di liat2 dulu isi dompet #melirik ke dompet.
hanif mahaldy recently posted… » Penertiban Penumpang Atap
Sosok BK adalah sosok yang fenomenal, revolusioner namun sekalinya menyentuh sisi “jumlah istri” beliau cukup kontroversial
Saya dulu cukup sering baca referensi ttg beliau dan memang benar, BK itu mengawali semuanya dengan istri pertama yang usianya jauh lebih tua, Bu Inggrid.
Kalau tak salah ingat beliau juga yang mati2an nganterin makanan buat BK waktu beliau dipenjara di Sukamiskin, sesaat sebelum beliau akhirnya ngetop karena pledoinya, Indonesia Menggugat.
masih percaya dgn pepatah yg mengatakan bahwa kesuksesan seorang lelaki krn ada wanita kuat dibelakangnya ,Nik?

bunda masih sangat percaya pepatah ini, terbukti dgn Bung Karno,krn Bu Inggit lah sebenarnya Beliau menjadi besar, dgn segala jerih payah dan penderitaannya Bu Inggit ternyata harus lebih menderita lagi, dan bunda salut dgn ketegasan Beliau sebagai seorang istri dan perempuan.
Satu hal Nik, ketika kita mereview sebuah buku tentu sah2 saja, jika kita ulas dr hal yg paling menarik hati kita ketika kita membacanya.
Suka banget dgn ulasan Nik ttg Bung Karno ini
Ditunggu ulasan2 buku2 yg lain berikutnya ya Nik
salam
bundadontworry recently posted… » Cinta Non Verbal
Terus terang saya belum pernah membaca buku ini.
hikhikhik
alamendah recently posted… » Kucing Bakau Prionailurus viverrinus Bisa Menyelam
Beberapa waktu yang lalu di Bandung diadakan semacam napak tilas perjuangan Ibu Inggit selama mendukung Bung Karno. Di Bandung, nama Ibu Inggit begitu harum, berdampingan dengan nama Dewi Sartika. Itulah mengapa di Bandung hanya ada nama jalan Ibu Inggit, bukan Fatmawati seperti di Jakarta … ^_^
Bang Aswi recently posted… » Cinta Sepasang Angin
wah sepertinya menarik sekali ya….karena selama ini saya belum pernah membaca buku seperti ini
parah banget ya saya
choirul recently posted… » MASJID bukan TEMPAT AMAN
aku kira diantar ke bantar gebang hehehe.thanks ya kunjungannya
btw Nique…
komen mu gak ada yang ketangkep di aki koooook..emang dikau komen berapa kali siiih???
*dengan noraknya minta dikomen lagi…hihihi..*
Niiiique…
memang dalam membuat review..apa pun itu…sebagai penulis kita berhak melihatnya dari sudut yang menurut kita paling berkesan…dan sebagai perempuan dan seorang istri…aku setuju 100% ama pendapatmu itu…
Menurutku…itulah satu satunya kelemahan bung Karno…perempuan…
Dan aku sangat suka dengan tulisan yang memberikan sentuhan emosi didalamnya…
*berasa diri sendiri selalu biki tulisan yang emosional gak jelas…hihihi..*
Sependapat,,
Ibu Inggit orang yang tegas, salut untuk pendiriannya yang kukuh.
Alris recently posted… » Terdamparku Disini
saya yg udah bangkotan gini jg baru tahu kalau ada istrinya Bung Karno yg namanya Bu Inggit…wkwkwk…bener2 ga tahu sejarah
Hmm … jadinya ini fiksi atau non-fiksi?. Wah saya baru tau kalau Bu Fatma itu bukan istri pertama :O
menurut aku penilaian yg wajar kok mbak..aku juga menilai begitu *dari yg aku baca dpostingan ini..
pasti sakit banget buat bu inggit di perlakukan begitu ya mbak..
pernah membaca wanita-wanita dibalik kesuksesan Bung Karno, tetap menaruh hormat ke semuanya, karena yang paling tahu konstribusi mereka bagi Bung Karno adalah mereka masing-masing
ysalma recently posted… » Cucu- Anak- Istri
Saya pernah membaca cerita ini sekitar tahun 80-an di Harian Kompas, dimuat menjadi sebuah artikel berturut-turut selama beberapa hari…
ded recently posted… » KISRUH KONGRES PSSI
Belum baca buku ini. Tapi aku tahu dari bukunya Cindy Adam, dan menurutku sih yang patut dihargai hanyalah bu Inggit
.
EM
Ikkyu_san recently posted… » Berhemat bagaimana
“Mungkin di lain kesempatan, saya mau menyempatkan mengulas buku ini dari sudut pandang yang berbeda.”
Dan aku merasa ulasan di atas memang sangat perempuan sekali. Meski demikian pun tak apa. Namanya juga opini. Sah-sah saja
Sudah siap nonton film-nya? “Kuantar ke Gerbang”
DM recently posted… » It’s Only A Beginning